Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Posisi kerja merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh
terhadap timbulnya kejadian musculoskeletal disorders (MSDs) pada
pekerja. Pekerjaan mekanik bengkel motor merupakan salah satu
pekerjaan yang masih mengandalkan tenaga manusia dan beresiko untuk
menyebabkan MSDs. Hal ini dikarenakan mekanik bengkel motor bekerja
secara manual. Mesin motor yang berada dibawah membuat para mekanik
bengkel motor bekerja dengan duduk jongkok. Perawatan sepeda motor
dilaksanakan oleh mekanik bengkel resmi dan mekanik bengkel
konvensional. Mekanik bengkel resmi dengan sikap kerja berdiri (sikap
kerja standar), mekanik bengkel konvensional dengan sikap kerja
jongkok. Baik sikap kerja standar maupun sikap kerja jongkok disebut
sikap kerja statis, tidak memenuhi kaidah-kaidah kerja yang sehat.
Untuk mengetahui posisi dan sikap kerja standar diperlukan
penilaian sikap kerja. Oleh karena itu, disini kami melakukan praktikum
pemantauan posisi kerja dengan penilaian keluhan sistem muskuloskeletal
yaitu dengan metode OWAS, RULA, dan REBA.
1.2. Tujuan
1.2.1. Untuk mengetahui konsep dasar metode OWAS, RULA dan
REBA.
1.2.2. Untuk mengetahui penilaian posisi kerja pada pekerja bengkel
motor dengan metode OWAS, RULA, REBA.
1.2.3. Untuk mengetahui perbedaan antara metode OWAS, RULA dan
REBA.
1.2.4. Untuk mengetahui sikap kerja yang kurang standar penyebab risiko
keluhan sistem muskuloskeletal.
1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi Praktikan
1.3.1.1.
Sebagai referensi mahasiswa saat terjun ke dunia kerja
nantinya.
1

1.3.1.2.

Memperoleh

kemampuan

dan

keterampilan

dalam

menganalisa postur kerja yang benar tanpa menimbulkan


gangguan muskulusskeletal
1.3.1.3.
Mahasiswa dapat mengembangkan ide kreatif dalam
mendesigh tempat kerja yang sesuai standart
1.3.2. Bagi Program Diploma 3 Hiperkes & Keselamatan Kerja
1.3.2.1.
Dapat menambah referensi kepustakaan tentang menilai
resiko muskulus skeletal dengan metode OWAS, RULA dan
REBA.
1.3.2.2.
Meningkatkan kemampuan aplikatif bagi mahasiswa atau
praktik untuk mata kuliah pengukuran ergonomi.
1.3.2.3.
Membekali mahasiswa untuk dapat menerapkan disiplin
ilmu dalam kenyataan di lapangan.
1.3.2.4.
Meningkatkan kopetensi mahasiswa agar dapat bersaing
dalam dunia kerja.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka


2.1.1. Pengertian ergonomi
Istilah ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu Ergon (kerja) dan
Nomos (hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspekaspek manusia dalam lingkungan yang ditinjau secara anatomi, fisiologi,
psikologi,

engineering,

manajemen

dan

desain

atau

perancangan

(Nurmianto, 2008:7). Menurut Sutalaksana (1979:11), ergonomi adalah


suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasiinformasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk
merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada
sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui
pekerjaan itu dengan efektif, aman, dan nyaman.

Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk


menyerasiakan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang
digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan segala
kemampua, kebolehan dan keterbatasn manusia baik secara fisik
maupun mental sehingga dicapai suatu kualitas hidup secara
keseluruhan yang lebih baik (Tarwaka, 2010)
Secara umum tujuan dari penerapan ilmu ergonomi menurut Tarwaka
(2004), sebagai berikut:
2.1.1.1.
Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya
pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan
beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan
kepuasan kerja.
2.1.1.2.
Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan
kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja
secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama
kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif
2.1.1.3.
Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek,
yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis, dan budaya dari

setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas


kerja dan kualitas hidup yang tinggi
2.1.2. Musculoskeletal Disorders (MSDs)
Keluhan pada sistem musculoskeletal adalah keluhan pada bagianbagian otot rangka yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan
sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban
statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat
menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen, dan
tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasa di istilahkan
dengan keluhan musculoskeletal disorder (MSDs) atau cedera pada
sistem muskuloskeletal (Grandjean, 1993;Lemasters, 1996). Secara
garis besar keluhan otot dapat dikelompokan menjadi dua yaitu :
2.1.2.1.
Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang
terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian
keluhan tersebut akan segera menghilang apabila pemberian
beban dihentikan.
2.1.2.2.
Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan yang bersifat
menetap. Walaupun pemberian beban kerja telah dihentikan,
namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut.
2.1.3. Metode menganalisis postur kerja
Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam menganalisis
postur kerja, yaitu Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Rapid
Entire Body Assessment (REBA), dan Ovako Working Posture
Analysisi System (OWAS).
Rapid Upper Limb Assessment (RULA) adalah suatu metode yang
dikembangkan dalam bidang ergonomi yang menginvestigasi dan
menilai postur kerja yang dilakukan oleh tubuh bagian atas. Metode
penilaian postur kerja ini tidak memerlukan alat-alat khusus dalam
melakukan pengukuran postur leher, punggung, dan tubuh bagian
atas (McAtamney, 1993).
RULA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti khusus. Ini
memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan
pemeriksaan dan pengukuran tanpa biaya peralatan tambahan.
Pemeriksaan RULA dapat dilakukan di tempat yang terbatas tanpa
4

mengganggu pekerja. Pengembangan RULA terjadi dalam tiga tahap.


Tahap pertama adalah pengembangan untuk perekaman atau
pencatatan postur kerja, tahap kedua adalah pengembangan system
scoring dan ketiga adalah pengembangan skala level tindakan yang
memberikan suatu panduan terhadap level resiko dan kebutuhan akan
tindakan untuk melakukan pengukuran yang lebih terperinci.
Teknologi ergonomi ini mengevaluasi postur, kekuatan, dan
aktivitas otot yang menimbulkan cidera akibat aktivitas berulang
(repetitive strain injuries). RULA memberikan hasil evaluasi yang
berupa skor resiko antara satu sampai tujuh. Skor tertinggi
menandakan level yang mengakibatkan resiko yang besar atau
berbahaya untuk dilakukan dalam bekerja. Sedangkan skor terendah
juga tidak berarti menjamin pekerjaan yang diteliti bebas dari
ergonomic Hazards (Lueder, 1996).
OWAS (Ovako Working Posture Analysisi System) adalah suatu
metode ergonomi yang digunakan untuk mengevaluasi postural
stress yang terjadi pada seseorang ketika sedang bekerja. Metode
OWAS dibuat oleh seseorang yang bernama O. Karhu yang berasal
dari negara Finlandia pada tahun 1981 untuk menganalisa postural
stress pada bidang pekerjaan manual. Kegunaan metode OWAS
adalah untuk memperbaiki kondisi pekerja dalam bekerja. Sehingga
performansi kerja dapat ditingkatkan terus. Hasil yang diperoleh dari
metode OWAS, digunakan untuk merancang metode perbaikan kerja
guna meningkatkan produktifitas.
Metode OWAS merupakan

salah

satu

metode

yang

memberikan output berupa kategori sikap kerja yang beresiko


terhadap kecelakaan kerja pada bagian musculoskeletal. Metode
OWAS mengkodekan sikap kerja pada bagian punggung, tangan,
kaki, dan berat beban. Masing-masing bagian memiliki klasifikasi
sendiri-sendiri. Metode ini cepat dalam mengidentifikasi sikap kerja
yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Postur dasar OWAS
disusun dengan kode yang terdiri empat digit, dimana disusun secara

berurutan mulai dari punggung, lengan, kaki dan berat beban yang
diangkat ketika melakukan penanganan material secara manual.
RULA (Rapid Entire Body Assessment) adalah sebuah metode yang
dikembangkan dalam bidang ergonomic dan dapat digunakan secara
cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan,
pergelangan tangan, dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini
juga dipengaruhi oleh faktor coupling, beban eksternal yang ditopang
oleh tubuh serta aktivitas pekerja. Penilaian dengan menggunakan
REBA tidak membutuhkan waktu lama untuk melengkapi dan
melakukan

scoring

general

pada

daftar

aktivitas

yang

mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan


postur kerja operator (Hignett & McAtamney, 2000).
2.2. Kerangka Berfikir
Muskuloskeletal disorders (MSDs) atau keluhan muskuloskeletal
adalah serangkaian sakit pada otot, tendon, dan saraf. Aktivitas dengan
tingkat pengulangan tinggi dapat menyebabkan kelelahan pada otot,
merusak jaringan hingga kesakitan dan ketidaknyamanan. Ini bisa terjadi
walaupun tingkat gaya yang dikeluarkan ringan dan postur kerja
memuaskan. Oleh karena itu disini dinilai seberapa besar keluhan
muskuloskeletal yang terjadi pada pekerja mekanik bengkel motor dengan
menggunakan metode RULA, OWAS dan REBA.

BAB III

METODE PRAKTIKUM
A.

Pelaksanaan

1. Hari / Tanggal

: Selasa, 15 September 2015

2. Tempat

: Ruang Kuliah 2 D3 Hiperkes & KK Kampus Tirtomoyo

3. Peserta

: 40 orang mahasiswa kelas B D3 Hiperkes & KK


Tirtomoyo

4. Pengampu

: Tutug Bolet Atmojo, S.KM., M.Si

5. Objek Praktikum : Gambar pekerja yang sedang memotong kayu


6. Peralatan

: Laptop, Handphone, Buku Ergonomi Industri, Buku tulis,


Pulpen, Busur

7. Cara Pengambilan : Melakukan pencarian pada mesin pencari di google dan


referensi buku
8. Cara penyajian

: Editing (Gambar dipotong pada bagian tertentu) dan


Tabulating

9. Teknik Pengukuran: Gambar diukur dengan menggunakan metode OWAS,


RULA, dan REBA untuk dinilai seberapa parah tingkat
keluhan pada system muskuloskeletal

BAB IV
HASIL DAN ANALISA

4.1. Hasil
4.1.1. Metode OWAS

(a)
(b)
Gambar 1. (a) pekerja melakukan perbaikan motor disalah satu
bengkel resmi (b) analisis posisi kerja pada gambar dengan metode
OWAS
Tabel 1. Gambaran analisis posisi kerja menggunakan metode OWAS
pada pekerja bengkel motor
Anggota
tubuh
Punggung

Penjelasan postur tubuh


Punggung ditekuk memuntur
Badan dengan posisis fleksi dan rotasi

Skor
OWAS
4

(atau miring) secara simulan.

Lengan

Salah satu lengan di bawah dan salah


satunya di atas

Lengan pekerja pada saat bekerja yang


satu di bawah dan satunya diangkat di
atas ketinggian bahu
Kaki dengan posisi berlutut
Pekerja menopangkan kedua lutut di

Kaki

lantai
Beban/Forc

Berat beban <10 kg

4.1.2. Metode RULA

(a)
(b)
Gambar 2. (a) pekerja melakukan perbaikan motor disalah satu
bengkel resmi (b) analisis posisi kerja pada gambar dengan metode
RULA
Tabel 2. Gambaran analisis posisi kerja menggunakan metode RULA
pada pekerja bengkel motor
Group

Anggota

Penjelasan postur tubuh

tubuh

Skor
RULA

Group A

Lengan

kisaran sudut fleksi > 90

Atas*

Lengan menjauhi badan

+1

Lengan

Fleksi >100

Bawah*

Masih berada pada sisi tubuh

Fleksi 0 -15

Pergelangan
Tangan*

Pergelangan tangan mengalami


deviasi baik ulnar maupun radial

Pergelangan

Pergelangan tangan memuntir

memuntir

dalam kisaran tengah

Group B

Fleksi 0 -10

Posisi leher memuntir

+1

Fleksi 20 -60 dari titik lurus

Badan memuntir

+1

Leher

Badan

+1

Kaki dan telapak kakitidak


Kaki

tertopang dengan baik dan berat


bedan tidak terdistribusi dengan

seimbang
)*pada penilaian lengan dan tangan kami memutuskan untuk
menilai tangan kiri, karena pada gambar tersebut antara tangan
kanan dan tangan kiri berbeda posisi dan yang terlihat dalam
gambar tangan kiri yang sedang bekerja lebih.
4.1.3. Metode REBA

10

(a)
(b)
Gambar 3. (a) pekerja melakukan perbaikan motor disalah satu
bengkel resmi (b) analisis posisi kerja pada gambar dengan metode
REBA
Tabel 3. Gambaran analisis posisi kerja menggunakan metode REBA
pada pekerja bengkel motor
Group

Anggota

Penjelasan postur tubuh

tubuh

Group A
Group B

Kaki

RULA

Fleksi 0 -10

Posisi leher memuntir

+1

Fleksi 20 -60 dari titik lurus

Badan memuntir

+1

Kedua kaki tertopang dilantai

Kedua kaki ditekuk flrksi >60

+2

kisaran sudut fleksi > 90

Lengan menjauhi badan

+1

Leher

Badan

Skor

Lengan*

11

Lengan
Bawah*

Pergelangan
Tangan*

Fleksi >100

Fleksi 0 -15

Pergelangan tangan mengalami


deviasi baik ulnar maupun radial

+1

)*pada penilaian lengan dan tangan kami memutuskan untuk


menilai tangan kiri, karena pada gambar tersebut antara tangan
kanan dan tangan kiri berbeda posisi dan yang terlihat dalam
gambar tangan kiri yang sedang bekerja lebih.
4.2. Analisa
4.2.1. Metode OWAS
Tabel 4. Gambaran analisis pengklasifikasian kategori resiko kode
posisi pada kombinasi posisi menggunakan metode OWAS pada
pekerja bengkel motor

KAKI
PUNGG
UNG

LENG
AN

BEBA
N

BEBA
N

BEBA
N

BEBA
N

BEBA
N

BEBA
N

BEBA
N

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1

2 3 1 2 3

1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1

1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1

1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 3 2 2 3 1

1 1 1 1 3

12

2 2 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2

2 2 3 3 3

2 2 3 2 2 3 2 3 3 3 4 4 4 4 4 4

4 4 2 3 4

3 3 4 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4

4 4 2 3 4

1 1 1 1 1 1 1 1 3 3 3 3 4 4 4 1

1 1 1 1 1

2 2 3 1 1 1 1 1 3 4 4 4 4 4 4 4

4 4 1 1 1

2 2 3 1 1 1 2 2 3 4 4 4 4 4 4 4

4 4 1 1 1

2 3 3 2 3 3 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4

4 4 2 3 4

3 3 4 2 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4

4 4 2 3 4

4 4 4 2 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4

4 4 2 3 4

Dari pengkode-an tersebut diatas maka dengan menggunakan Tabel 4


tentang klasifikasi tingkat resiko pada kombinasi posisi didapatkan
Tingkat Resiko = 4. Berdasarkan tingkat resiko tersebut merupakan
kategori resiko Sangat Tinggi dengan efek sangat berbahaya pada
sistem muskuloskeletal. Dengan demikian, Tindakan korektif
diperlukan sesegera mungkin
Tabel 5. Klasifikasi tingkat resiko postur tubuh menurut frekuensi
relatif
Punggung
Punggung lurus

Punggung membungkuk

Punggung memuntir

Punggung ditekuk memutar

Lengan
Kedua lengan di bawah

Satu lengan di bawah dan


satunya di atas

13

Kedua tangan di atas bahu

Kaki
Duduk

Berdiri

Salah satu ditekuk

Kedua lutut agak ditekuk

Kedua lutut ditekuk

Berlutut

Berjalan

1
0
%

2
0
%

3
0
%

4
0
%

5
0
%

6
0
%

7
0
%

8
0
%

9
0
%

FREKUENSI RELATIF (%)

100
%

Tabel 5 yang tercantum diatas adalah tabel untuk menghitung jumlah


repetitif dari setiap posisi; punggung, lengan dan kaki yaitu dengan
mengamati frekuensi relatif pekerjaan.
Karena metode praktikum kami menggunakan metode pengamatan
dan/atau menganalisa gambar, jadi untuk saat ini kami tidak
mengetahui berapa frekuensi relatif yang ada pada pekerja bengkel
motor tersebut. Oleh sebab itu kami hanya menunjukkan tabel
pengklasifikasiannya saja.
4.1.2. Metode RULA
Perhitungan metode RULA diklasifikasikan menjadi dua group yaitu
group A dan group B yang selanjutnya skor kedua group itu di
kombinasi menjadi satu untuk menghasilkan grand skor.
Tabel 6. Skor Postur Group B
Leher

Badan (Trunk)

14

Kaki

kaki

kaki

kaki

kaki

kaki

Tabel 7. Skor Postur Group A


Pergelangan Tangan
Lengan
Atas

Lengan
Bawah

Pergelangan
tangan
memuntir

Pergelangan
tangan
memuntir

Pergelangan
tangan
memuntir

Pergelangan
tangan
memuntir

15

Dari kedua tabel (Tabel 6. Dan Tabel 7.) diatas dapat diketahui bahwa skor
postur group A adalah sebesar 4 dan skor postur group B adalah sebesar 5.
Sebelum dikombinasikan antar skor kedua group tersebut terlebih dahulu
kita mempertimbangkan skor penggunaan otot sebagai berikut:
Tabel 8. Pemberian skor berdasarkan penggunaan otot

keterangan

Penggunaan

Tidak

otot

menggunakan

Skor C

Skor D

Skor yang

( skor A +

( skor B +

ditambahkan

penambahan

penambahan

skor)

skor)

otot
pengerahan
tenaga selama

melakukan
pekerjaan
(pekerjaan
dinamis)
Tidak ada

resistensi atau
pembebanan
dan

16

pengerahan
tenaga secara
tidak menentu
<2 kg
Skor Tabel 8. Di atas akan diakumulasikan pada perhitungan grand skor
Tabel 9. Perkitungan Grand Skor Berdasarkan kombina si Skor C dan D
Skor D
Sko

7+

rC

Dengan penilaian Tabel 9. Diatas diperoleh skor akhir RULA yaitu 5, yang
berarti masuk pada tingkat risiko 2 dengan kategori risiko Tinggi oleh
karena itu diperlukan tindakan adanya investigasi dan perbaikan segera
4.1.3. Metode REBA
Perhitungan metode REBA hampir mirip dengan perhitungan RULA akan
tetapi dalam perhitungan REBA ini banyak terdapat skor pembebanan dan
penentuan jenis-jenis lainnya.

Tabel 10. Skor awal untuk Group A

17

TABEL A
LEHER
BADA

KAKI

KAKI

KAKI

Tabel 11. Skor awal untuk Group B


TABEL B
Lengan Bawah
1

Pergelangan Tangan

Pergelangan Tangan

Pada Gambar 3. Terlihat dengan jelas bahwa pekerja tidak membawa


beban kareana beban sudah bertumpu pada lantai. Dan pekerjaan yang
dilakukan pada Gambar 3. Tidak berupa pekerjaan yang memerlukan
pegangan kontainer sehingga dalam hal ini untuk skoring untuk beban atau
force dan jenis pegangan kontainer tidak perlu ditambahkan.

18

Tabel 11. Skor C (kombinasi antara skor A dan skor B)


TABEL C
SKOR B

SKO
RA

10

11

12

10

10

10

10

10

10

11

11

11

10

10

10

10

10

11

11

11

10

10

10

11

11

11

12

12

12

10

10

10

10

11

11

11

11

12

12

12

12

12

11

11

11

11

11

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

Penentuan skor akhir REBA yaitu hasil penambahan antara Skor TABEL
C dengan peningkatan jenis aktivitas otot. Karena jenis aktivitas otot
pada Gambar 3. Postur tubuh tidak setabil selama kerja maka skor
ditamnah 1 sehingga final skor reba untuk pekerja pada gambar 3. Adalah
(9+1=10). Dengan menggunakan petunjuk tabel standar kinerja yang
didasarkan pada final skor, maka Final skor 10 mempunyai tingkat risiko
Tinggi dan memerlukan tindakan perbaikan secepatnya dan/atau
sesegera mungkin.

19

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum diperoleh kesimpulan
bahwa penilaian musculus skeletal menggunakan metode OWAS, RULA,
dan REBA hasilnya adalah berbeda-beda, dan disetiap metode penilaian
mempunyai karakteristik baik kelebihan maupun kekurangannya masingmasing.
penilaian posisi kerja menggunakan metode OWAS, RULA, dan REBA
diperoleh simpulan bahwa posisi kerja yang dilakukan pekerja bengkel
motor sagat beresiko yaitu:
5.1.1. Tingkat resiko Sangat Tinggi dengan efek sangat berbahaya
pada sistem muskuloskeletal. Dengan demikian, Tindakan korektif
diperlukan sesegera mungkin (hasil penilaian dengan metode OWAS)
5.1.2. Kategori risiko Tinggi oleh karena itu diperlukan tindakan
adanya investigasi dan perbaikan segera (hasil penilaian dengan
metode RULA)
5.1.3. Tingkat risiko Tinggi dan memerlukan tindakan perbaikan
secepatnya dan/atau sesegera mungkin (hasil penilaian dengan
metode REBA)
5.2. Saran
5.2.1. Sesuai kesimpulan diatas sebaiknya dilakukan tindakan korektif
diperlukan sesegera mungkin
5.2.2. Dilakukan investigasi dan perbaikan secepatnya dan/atau sesegera
mungkin
5.2.3. Sebaiknya diperbaiki ruang kerja pada pekerja mekanik bengkel
motor dengan menambahan fasilitas agara posisi kerjanya lebih
standar seperti tempat duduk atau posisinya lebih dibuat ergonomis.
5.2.4. Sebaiknya dilakukan sosialisasi kepada pekerja.

20

Anda mungkin juga menyukai