Anda di halaman 1dari 31

PENGEMBANGAN MODUL PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA KELAS XI BERBASIS

KONSTRUKTIVISME PADA POKOK BAHASAN TERMOKIMIA

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh:
Siti Mardliya
NIM : 06101281320016
Program Studi Pendidikan Kimia

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
I.

PENDAHULUAN..................................................................................................... 1
1.1

Latar Belakang................................................................................................... 1

1.2

Identifikasi Masalah............................................................................................. 3

1.3

Rumusan Masalah............................................................................................... 3

1.4

Tujuan Penelitian................................................................................................ 3

1.5

Manfaat Penelitian............................................................................................... 4

II.

TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................. 5
2.1

Praktikum Kimia................................................................................................. 5

2.2

Modul.............................................................................................................. 5

2.2.1

Langkah Penyusunan Modul............................................................................ 6


Konstruktivisme.................................................................................................. 9

2.3
2.3.1

Ciri-Ciri Pembelajaran Konstruktivisme............................................................10

2.3.2

Penerapan Teori Konstruktivisme di Kelas.........................................................11

2.4

Model Pengembangan Rowntree........................................................................... 12

2.5

Kerangka Berfikir.............................................................................................. 14

III.

METODOLOGI PENELITIAN................................................................................ 15

3.1

Jenis Penelitian................................................................................................. 15

3.2

Subjek Penelitian.............................................................................................. 15

3.3

Waktu dan Tempat Penelitian................................................................................ 15

3.4

Teknik Pengumpulan Data...................................................................................15

1.

Wawancara (interview)....................................................................................... 15

2.

Uji Pakar......................................................................................................... 15

3.

Angket........................................................................................................... 15

4.

Tes Hasil Belajar............................................................................................... 16

3.5
3.5.1

Teknik Analisa Data........................................................................................... 16


Validasi Modul Pembelajaran.........................................................................16
2

3.5.2

Analisa Data Angket.................................................................................... 17

3.5.3

Analisis Data Tes Hasil Belajar.......................................................................18

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 19

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014
dijelaskan bahwa proses

pembelajaran

menyenangkan, menantang,

inspiratif,

diselenggarakan
memotivasi

secara

peserta

interaktif,

didik

untuk

berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,


kreativitas,

dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan

perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu, menurut Amin
(2012) siswa perlu difasilitasi melalui proses pembelajaran sehingga secara aktif
mengkonstruksi

pengetahuan

dan

keterampilan

yang

dipelajari.

Proses

pembelajaran di sekolah terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu kegiatan belajar dan
mengajar. Pada mata pelajaran IPA kegiatan belajar dapat dilakukan di kelas
ataupun di laboratorium. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di
laboratorium disebut praktikum. Menurut Utami (2012), praktikum yang
dilaksanakan disekolah dapat memberikan gambaran yang konkrit tentang suatu
peristiwa kimia yang terjadi dikarenakan peserta didik terlibat langsung dalam
proses mengamati sehingga hasil belajar akan bertahan lama dalam ingatan siswa.
Dalam pelaksanaan praktikum selain membutuhkan alat dan bahan, praktikum
juga membutuhkan bahan ajar yang relevan sebagai pegangan peserta didik.
Bahan ajar yang dibutuhkan untuk praktikum yakni buku panduan praktikum yang
berisikan tentang percobaan yang akan dilakukan disertai teori penunjang, lembar
pengamatan dan lembar pertanyaan untuk bahan diskusi siswa terkait pelaksanaan
praktikum. Menurut Ariningsih, Nawawi dan Hartono dalam Jurnal Pendidikan
Kimia menyatakan bahwa kegiatan eksperimen di laboratorium memerlukan
panduan praktikum yang mengarahkan agar siswa dapat bekerja dengan prosedur.
Penelitian tentang bahan ajar yang berbasis konstruktivis telah banyak
dilakukan oleh para peneliti. Hasil penelitian yang relevan dalam penelitian ini
antara lain penelitian yang dilakukan oleh Astuti Muh. Amin pada tahun 2012
yang berjudul Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Berbasis
Konstruktivisme Berdasar Teori Sosial Vygotsky di Sekolah Menengah Atas.

Hasil penelitian tersebut menyatakan kevalidan, kepraktisan dan keefektifan dari


perangkat pembelajaran tersebut sehingga

ketuntasan hasil belajar mencapai

88.89 %. Penelitian relevan yang lain juga dilakukan oleh Maratus Sholihah,
Endang Purwaningsih dan Winarto yang berjudul Pengembangan Bahan Ajar
Berbasis Konstruktivisme dengan Mengoptimalkan Kecerdasan Majemuk untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Prestasi Belajar Siswa SMP Bab
Bunyi. Hasil penelitian tersebut menyatakan nilai validasi bahan ajar 100 % yang
menunjukkan bahan ajar sangat valid dan dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis dan prestasi belajar. Adapun penelitian relevan yang lainnya
dilakukan oleh Muhammad Habibi yang berjudul Pengembagan Modul Pecahan
Berbasisis Konstruktivisme dengan Sisipan Karikatur untuk Kelas IV Sekolah
Dasar. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa modul yang dikembangkan
tersebut praktis dan efektif digunakan sebagai media pembelajaran matematika.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Supriyono pada tahun 2013 yang
berjudul Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Konstruktivisme Pada Mata Kuliah
Telaah Kurikulum FIsika II (TKF II) untuk Mahasiswa Kelas Internasional di
Jurusan Fisika UNESA. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa buku ajar
tersebut sudah cukup baik dan layak digunakan. Dari hasil penelitian tersebut
dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang berbasis konstruktivisme layak
digunakan sebagai bahan ajar untuk siswa.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti di SMA
Muhammadiyah 1 Palembang, peneliti mendapatkan informasi tentang modul
panduan praktikum yang digunakan sekolah tersebut. Selama praktikum guru
menggunakan 2 sumber bahan ajar sebagai panduan praktikum siswa yakni
menggunakan buku paket Kimia yang berasal dari penerbit dan Lembar Kerja
Siswa yang telah tersedia dipasaran. Terdapat kekurangan dari bahan ajar yang
digunakan untuk praktikum tersebut, baik pada buku paket maupun Lembar Kerja
Siswa yakni pada desainnya yang kurang menarik juga pada konten buku/LKS itu
sendiri yang belum mendukung siswa untuk membangun konsep yang sudah
dimiliki. Ketika praktikum siswa tidak tertantang karena cara kerja sudah
disiapkan sehingga siswa hanya tinggal bekerja saja. Sehingga dapat dikatakan
bahwa praktikum dengan menggunakan buku paket ataupun LKS belum dapat
2

memfasilitasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Oleh karena itu,


peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul, Pengembangan
Modul Praktikum Kimia Kelas XI Berbasis Konstruktivisme pada Pokok
Bahasan Termokimia.
I.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diidentifikasi beberapa
permasalahan yang dijadikan acuan dalam penelitian yakni sebagai berikut :
1. Buku paket Kimia dan LKS yang dipakai sebagai pegagangan praktikum
siswa masih terdapat kekurangan pada design dan kontennya.
2. Belum tersedianya modul panduan praktikum yang dapat memfasilitasi
peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan.
I.3 Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana mengembangkan modul panduan praktikum Kimia Kelas XI
berbasis konstruktivisme pada pokok bahasan Termokimia yang valid?
2. Bagaimana mengembangkan modul panduan praktikum Kimia Kelas XI
berbasis konstruktivisme pokok bahasan Termokimia yang praktis ?
3. Bagaimana efektivitas modul panduan praktikum Kimia Kelas XI
berbasis konstruktivisme pada pokok bahasan Termokimia ?
I.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menghasilkan modul panduan praktikum Kimia Kelas XI berbasis
konstruktivisme pada pokok bahasan Termokimia yang valid
2. Menghasilkan modul panduan praktikum Kimia Kelas XI berbasis
konstruktivisme pada pokok bahasan Termokimia yang praktis
3. Mengetahui efektivitas modul panduan praktikum Kimia Kelas XI
berbasis konstruktivisme pada pokok bahasan Termokimia

I.5 Manfaat Penelitian


Penelitian ini bermanfaat untuk:
3

1. Siswa
Modul panduan praktikum Kimia Kelas XI berbasis konstruktivisme pada
pokok bahasan Termokimia dapat membantu siswa dalam menbangun
konsep/pengetahuan yang telah dimiliki siswa
2. Guru
Penggunaan modul panduan praktikum Kimia Kelas XI berbasis
konstruktivisme ini dapat digunakan untuk meningkatkan profesionalisme
guru dan diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran pada
pokok bahasan Termokimia
3. Sekolah
Modul panduan praktikum Kimia Kelas XI berbasis konstruktivisme pada
pokok bahasan Termokimia dapat digunakan sebagai bahan masukan bahan
ajar untuk pelaksanaan praktikum di sekolan
4. Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan
dan pengalaman peneliti dalam mengembangkan modul panduan praktikum
kimia

II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Praktikum Kimia
Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari konsep-konsep dasar kimia yaitu sifat-sifat
dan perubahan materi/zat secara mikroskopik dan makroskopik. Pada hakikatnya ilmu kimia
merupakan ilmu pengetahuan alam yang berlandaskan eksperimen (Munika, 2014).
Eksperimen diartikan sebagai keterampilan untuk mengadakan pengujian terhadap ide-ide
yang bersumber dari fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan sehingga dapat diperoleh
informasi yang menerima atau menolak ide-ide tersebut (Dimyati & Mudjiono, 2009).
Eksperimen dalam ilmu kimia sebagian besar dilakukan di dalam laboratorium yang disebut
dengan praktikum (Munika, 2014).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan praktikum sebagai


bagian dari pengajaran yang bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk
menguji dan melaksanakan dalam situasi nyata materi pelajaran yang telah
diperoleh

dalam teori. Pelaksanaan praktikum dalam pembelajaran memiliki

beberapa keuntungan, diantaranya (Arifin, 2003):


1. Siswa dapat menggambarkan keadaan yang konkret tentang suatu
peristiwa
2. Siswa dapat mengembangkan keterampilan inkuiri
3. Siswa dapat mengembangkan sikap ilmiah
4. Membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih efektif
dan efisien.

II.2 Modul
Modul dapat dikatakan sebagai salah satu alat atau sarana yang
efektif dalam pembelajaran. Modul adalah salah satu bentuk dari bahan ajar
yang disusun secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat
pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta
didik menguasai tujuan belajar yang spesifik. Secara umum memuat tujuan
pembelajaran, materi pembelajaran dan evaluasi (Jonuarti dkk, 2014). Menurut
Suharjono (1995), modul merupakan materi yang disusun dan disajikan
secara tertulis sedemikian rupa sehingga pembaca diharapkan dapat menyerap
sendiri materi tersebut, dengan tujuan sebagai bahan pembelajaran mandiri
siswa. Menurut Jonuarti dkk (2014), penggunaan modul pada saat praktikum
5

diharapkan dapat memotivasi siswa dan menimbulkan rasa ingin tahu, sehingga
dapat membantu guru menciptakan dan mewujudkan pembelajaran yang
berkualitas. Modul merupakan bahan ajar yang disusun secara utuh dan sistematis
dengan tujuan untuk membantu siswa dalam pembelajaran (Munika, 2014).

II.2.1 Langkah Penyusunan Modul


Menurut Dikmenjur (2004), penulisan modul dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut:
a. Analisis Kebutuhan Modul
Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis silabus dan
RPP untuk memperoleh informasi modul yang dibutuhkan peserta didik dalam
mempelajari

kompetensi yang telah diprogramkan. Nama atau judul modul

sebaiknya disesuaikan dengan kompetensi yang terdapat pada silabus dan RPP.
Pada dasarnya tiap satu standar kompetensi dikembangkan menjadi satu modul
dan satu modul terdiri dari 2-4 kegiatan
pembelajaran. Perlu disampaikan bahwa yang dimaksud kompetensi disini adalah
standar kompetensi dan kegiatan pembelajaran adalah kompetensi dasar.Tujuan
analisis kebutuhan modul adalah untuk mengidentifikasi dan menetapkan jumlah
dan judul modul yang harus dikembangkan dalam satu satuan program tertentu.
Satuan program tersebut dapat diartikan sebagai satu tahun pelajaran, satu
semester, satu mata pelajaran atau lainnya. Analisis kebutuhan modul sebaiknya
dilakukan oleh tim, dengan anggota terdiri atas mereka yang memiliki keahlian
pada program yang dianalisis. Analisis kebutuhan modul dapat dilakukan dengan
langkah sebagai berikut:
1. Tetapkan satuan program yang akan dijadikan batas/lingkup kegiatan.
Apakah merupakan program tiga tahun, program satu tahun, program
semester atau lainnya.
2. Periksa apakah sudah ada program atau rambu-rambu operasional untuk
pelaksanaan
program tersebut. Misal program tahunan, silabus, RPP, atau lainnya. Bila
ada, pelajari program-program tersebut.

3. Identifikasi dan analisis standar kompetensi yang akan dipelajari, sehingga


diperoleh materi pembelajaran yang perlu dipelajari untuk menguasai
standar kompetensi tersebut.
4. Selanjutnya, susun dan organisasi satuan atau unit bahan belajar yang
dapat mewadahi materi-materi tersebut. Satuan atau unit ajar ini diberi
nama, dan dijadikan sebagai judul modul.
5. Dari daftar satuan atau unit modul yang dibutuhkan tersebut, identifikasi
mana yang sudah ada dan yang belum ada/tersedia di sekolah.
6. Lakukan penyusunan modul berdasarkan prioritas kebutuhannya.
b. Peta Modul
Setelah kebutuhan modul ditetapkan, langkah berikutnya adalah membuat
peta modul. Peta modul adalah tata letak atau kedudukan modul pada satu satuan
program yang digambarkan dalam bentuk diagram. Pembuatan peta modul
disusun mengacu kepada diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam
Kurikulum. Setiap judul modul dianalisis keterkaitannya dengan judul modul
yang lain dan diurutkan penyajiannya sesuai dengan urutan pembelajaran yang
akan dilaksanakan.
c. Desain Modul
Desain penulisan modul yang dimaksud di sini adalah Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru. Di dalam RPP
telah memuat strategi pembelajaran dan media yang digunakan, garis besar materi
pembelajaran dan metoda penilaian serta perangkatnya. Dengan demikian, RPP
diacu sebagai desain dalam penyusunan/penulisan modul.Namun, apabila RPP
belum ada, maka dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Tetapkan kerangka bahan yang akan disusun.
2. Tetapkan tujuan akhir (performance objective),yaitu kemampuan yang
harus dicapai peserta didik setelah selesai mempelajari suatu modul.
3. Tetapkan tujuan antara (enable objective),yaitu kemampuan spesifik yang
menunjang tujuan akhir.
4. Tetapkan sistem (skema/ketentuan, metoda dan perangkat) evaluasi.
5. untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu komponen-komponen:
kompetensi (SK-KD), deskripsi singkat, estimasi waktu dan sumber
pustaka. Bila RPP-nya sudah ada, maka dapat diacu untuk langkah ini.

6. Materi/substansi yang ada dalam modul berupa konsep/prinsip-prinsip,


fakta penting yang terkait langsung dan mendukung untuk pencapaian
kompetensi dan harus dikuasai peserta didik.
7. Tugas, soal, dan atau praktik/latihan yang harus dikerjakan atau
diselesaikan oleh peserta didik.
8. Evaluasi atau penilaian yang berfungsi untuk mengukur kemampuan
peserta didik dalam menguasai modul
9. Kunci jawaban dari soal, latihan dan atau tugas
d.Implementasi
Implementasi modul dalam kegiatan belajar dilaksanakan sesuai dengan
alur yang telah digariskan dalam modul. Bahan, alat, media dan lingkungan
belajar yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran diupayakan dapat dipenuhi
agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Strategi pembelajaran dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan
skenario yang ditetapkan.
e.Penilaian
Penilaian hasil belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan
peserta didik setelah mempelajari seluruh materi yang ada dalam modul.
Pelaksanaan penilaian mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan di dalam
modul. Penilaian hasil belajar dilakukan menggunakan instrumen yang telah
dirancang atau disiapkan pada saat penulisan modul.

f. Evaluasi dan Validasi


Modul yang telah dan masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran,
secara periodik harus dilakukan evaluasi dan validasi. Evaluasi dimaksudkan
untuk mengetahui dan mengukur apakah implementasi pembelajaran dengan
modul dapat dilaksanakan sesuai dengan desain pengembangannya. Untuk
keperluan evaluasi dapat dikembangkan suatu instrumen evaluasi yang didasarkan
pada karakteristik modul tersebut. Instrumen ditujukan baik untuk guru maupun

peserta didik, karena keduanya terlibat langsung dalam proses implementasi suatu
modul. Dengan demikian hasil evaluasi dapat objektif.
Validasi merupakan proses untuk menguji kesesuaian modul dengan
kompetensi yang menjadi target belajar. Bila isi modul sesuai, artinya efektif
untuk mempelajari kompetensi yang menjadi target berlajar, maka modul
dinyatakan valid (sahih). Validasi dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan
ahli yang menguasai kompetensi yang dipelajari. Bila tidak ada, maka dilakukan
oleh sejumlah guru yang mengajar pada bidang atau kompetensi tersebut.
Validator membaca ulang dengan cermat isi modul. Validator memeriksa, apakah
tujuan belajar, uraian materi, bentuk kegiatan, tugas, latihan atau kegiatan lainnya
yang ada diyakini dapat efektif untuk digunakan sebagai media mengasai
kompetensi yang menjadi target belajar. Bila hasil validasi ternyata menyatakan
bahwa modul tidak valid maka modul tersebut perlu diperbaiki sehingga menjadi
valid.

II.3 Konstruktivisme
Menurut pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses
pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si pembelajar.
Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan member
makna tentang hal-hal yang dipelajari (Budiningsih, 2005:58). Keberhasilan
belajar bergantung bukan hanya pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga
pada pengetahuan awal siswa. Trianto (2007:13) menyatakan bahwa belajar
menurut teori konstruktivis adalah suatu proses pembentukan pengetahuan.
Pada dasarnya, pengetahuan dibentuk pada diri manusia
berdasarkan pengalaman nyata yang dialaminya dan hasil
interaksinya dengan lingkungan sosial di sekelilingnya. Belajar
adalah perubahan proses mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan
pengalamannya yang dialami pra siswa sebagai hasil interaksinya
dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan yang mereka peroleh
itu adalah hasil interpretasi pengalaman tersebut yang disusun
dalam pikiran/otaknya (Halimah, 2013:12).

II.3.1 Ciri-Ciri Pembelajaran Konstruktivisme


Perbedaan Kelas tradisional dan konstruktivis (Hanafiah dan
Suhana, 2012: 63)
Kelas Tradisional
Kelas Konstruktivis
Kurikulum disajikan secara linier
Kurikulum disajikan secara fleksibel
Kurikulum disajikan sebagai acuan Permasalahan sehari-hari sebagai
yang harus diikuti

acuan dan dapat mendorong rasa

ingin tahu siswa


Aktivitas pembelajaran terikat pada Aktivitas pembelajaran di arahkan
buku pegangan
Guru bertindak
informasi
Siswa
banyak

sebagai
bekerja

pada penggunaan data mentah


pusat Guru bertindak sebagai moderator
dan fasilitator
secara Siswa lebih banyak bekerja secara

individual
kelompok
Asrori (2009:28) dalam Halimah (2013:17) menyatakan bahwa ada sejumlah cirriciri dari proses pembelajaran yang sangat ditekankan dalam teori konstruktivisme,
a.
b.

yaitu:
Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa
c. Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin
dicapai
d. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan
e.
f.
g.
h.

menekankan pada hasil


Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan
Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar
Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa
Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dalam pemahaman

siswa
i. Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip teori kognitif
j. Banyak menggunakan terminologi kognitif untuk menjelaska proses
pembelajaran; seperti: prediksi, inferensi, kreasi dan analisis
k. Menekankan pentingnya bagaimana pada siswa belajar
l. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi
m.
n.
o.
p.

dengan siswa lain dan guru


Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif
Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata
Menekankan pentingnya konteks dalam belajar
Memperhatikan keyakinan dalam sikap siswa dalam belajar

10

q. Memberikan

kesempatan

kepada

siswa

untuk

membangun

pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman


nyata
II.3.2 Penerapan Teori Konstruktivisme di Kelas
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme, menurut Asrori (2009) dalam
Halimah (2013), penerapan teori konstruktivisme di kelas adalah sebagai berikut:

a. Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar


Dengan menghargai gagasan-gagasan atau pemikiran siswa serta
mendorong siswa berpikir mandiri, berarti guru membantu siswa menemukan
identitas intelektual siswa. Para siswa yang mermuskan pertanyaan-pertanyaan
dan kemudian menganalisa serta menjawabnya berarti telah mengembangkan
tanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri serta menjadi pemecah
masalah.
b. Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan
beberapa waktu kepada siswa untuk merespon
Cara-cara guru mengajukan pertanyaan dan cara-cara siswa merespons
akan mendorong siswa mampu membangun keberhasilan dalam melakukan
penyelidikan.
c. Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi
Guru yang menerapkan proses pembelajaran konstruktivisme akan
menantang para siswa untuk menjangkau hal-hal yang berada di balik responrespon factual yang sederhana. Guru mendorong siswa untuk menghubungkan dan
merangkum konsep-konsep.
d. Siswa terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru dan
siswa lainnya
Dialog dan diskusi yang merupakan interaksi social dalam kelas yang
bersifat intensif sangat membentu siswa untuk mampu mengubah atau
menguatkan gagasan-gagasannya. Jika mereka memiliki kesempatan untuk
mengemukakan apa yang mereka pikirkan dan mendengarkan gagasan orang-lain,
maka mereka akan mampu membangun pengetahuannya sendiri yang didasarkan
atas pemahaman mereka sendiri
e. Siswa terlibat dalam pengalaman yang menantang dan mendorong
terjadinya diskusi

11

Jika diberi kesempatan untuk membuat berbagai prediksi, seringkali siswa


menghasilkan berbagai hipotesis tentang fenomena alam. Guru yang menerapkan
konstruktisme dalam pembelajaran memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada siswa untuk menguji hipotesis yang mereka buat terutama melalui diskusi
kelompok dan pengalaman nyata.
II.4 Model Pengembangan Rowntree
Menurut Kustandi, model Rowntree adalah salah satu model pembelajaran
yang

berorientasi

untuk

menghasilkan

suatu

produk

tertentu

(product

oriented). Model ini memiliki tiga tahapan pokok dimana masing-masing tahapan
memiliki beberapa sub tahapan. Berikut tiga tahapan pokok dan sub tahapan dari
model ini yaitu:
Tahap 1: Perencanaan tentang penjabaran pembelajar yang terdiri atas:
a. Rumuskan tujuan umum dan khusus,
b. Susun garis besar isi,
c. Tentukan media,
d. Rencanakan pendukung belajar,
e. Pertimbangkan bahan ajar yang ada.
Tahap 2: Pengembangan (persiapan penulisan) dengan mempertimbangkan
sumber-sumber dan hambatannya:
a. Urutkan ide atau gagasan penulisan,
b. Susun garis besar isi,
c. Tentukan contoh-contoh terkait,
d. Tentukan gambar atau grafis,
e. Tentukan peralatan yang dibutuhkan,
f. Rumuskan bentuk fisik yang ada.
Tahap 3: Penulisan dan penyuntingan yaitu:
a. Mulailah membuat draft,
b. Lengkapi draft tersebut dan suntinglah,
c. Tulislah assesment belajar,
d. Ujicobakan dan perbaiki bahan belajar.
Model pembelajaran yang dikembangkan oleh Rowntree ini memiliki
beberapa kelebihan yaitu kejelasan pelaksanaan seluruh kegiatan desain
pembelajaran, terkonsentrasi atas produksi bahan ajar tertentu sehingga
mudah diikuti setiap langkahnya serta model dan cara kerjanya relatif
sederhana tanpa melibatkan komponen (supra) sistem. Disamping memiliki
kelebihan, model ini juga memiliki kelemahan yaitu tidak menjelaskan
tentang bagaimana proses belajar terjadi karena model ini hanya terkonsentrasi
untuk menghasilkan produk tertentu.

12

Model-model

pembelajaran

tersebut

berbeda

satu

sama

lainnya.

Namun semuanya mengandung tiga tahap, yaitu tahap definisi, tahap analisis
dan pengembangan sistem dan tahap evaluasi. Perbedasaan antara model satu
dengan yang lain terletak pada empat factor, yaitu: tingkat penggunaan,
penggunaan istilah, jumlah langkah pada setipa tahap, dan lengkap tidaknya
konsep dan prinsip yang digunakan.
II.5

Kerangka Berfikir

Kerangka berpikir dalam penelitian ini disajikan pada gambar berikut.


Praktikum yang menggunakan buku paket
kimia dan LKS sebagai panduan siswa

Baik buku paket kimia maupun LKS belum dapat


memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi konsep

Perlunya pembentukan konsep/pengetahuan pada


siswa untuk memfasilitasi siswa pada saat
praktikum

Perlunya pembentukan konsep/pengetahuan pada


siswa untuk memfasilitasi siswa pada saat praktikum

Modul panduan praktikum berbasis konstruktivisme

Penggunaan modul panduan praktikum berbasis


konstruktivisme

13

III.

METODOLOGI PENELITIAN
III.1

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengembangan

(Develoment Research) dengan model penelitian pengembangan Rowntree. Pada


model pengembangan ini terdiri dari tiga tahapan yaitu perencanaan,
pengembangan, dan evaluasi. Pada tahap evaluasi menggunakan model evaluasi
formatif Tessmer.
III.2

Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA
Muhammadiyah 1 Palembang
III.3

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMA Muhammadiyah 1 Palembang pada tahun


ajaran 2016/2017
III.4

Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara (interview)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden yaitu guru kimia kelas XI
SMA Muhammadiyah 1 Palembang.
2.

Uji Pakar
Uji pakar meliputi proses validasi yang dilakukan oleh tiga ahli yaitu ahli

desain, ahli pedagogik dan ahli materi. Proses validasi terhadap produk bertujuan
untuk mengetahui kevalidan modul panduan praktikum kelas XI berbasis
Konstruktivis di SMA Muhammadiyah 1 Palembang.

14

3. Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab
(Sugiyono, 2013:199). Angket diberikan kepada siswa untuk mengetahui
efektifitas modul panduan praktikum Kimia Kelas XI berbasis konstruktivis pada
pokok bahasan Termokimia modul yang telah dikekmbangkan dengan melihat
tanggapan siswa terhadap angket yang diberikan.
4. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang
menjadi responden dari penelitian. Data tes diperoleh dari pre test dan post test
yang dilakukan pada tahap field test.
III.5

Teknik Analisa Data


Teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri dari :

III.5.1 Validasi Modul Pembelajaran


Teknik yang digunakan untuk menganalisis data hasil validasi modul
pembelajaran adalah menggunakan persentase persepsi validator. Jenis data yang
diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa nilai
persentase persepsi validator yang diperoleh dari lembar validasi, sedangkan data
kualitatif berupa saran, kritik, dan tanggapan dari validator. Sebelum menghitung
persentase persepsi validator, terlebih dahulu menentukan jumlah skor kriterium
yaitu menggunakan rumus :
SK = n . p . r
Dengan :
SK = skor kriterium (bila setiap butir item pernyataan mendapat skor tertinggi)
n = skor tertinggi
p = jumlah item pernyataan
r = jumlah validator
Setelah mendapatkan skor kriterium, langkah selanjutnya yaitu menghitung
jumlah skor hasil pengumpulan data yang diperoleh dengan cara menjumlahkan
keseluruhan jawaban validator untuk setiap item pernyataan.
Setelah jumlah skor hasil pengumpulan data diperoleh maka persentase
persepsi validator dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

15

Persentase persepsi validator =

jumla h skor h asil pengumpulan data


jumla h skor kriterium

x 100%

Untuk menentukan modul pembelajaran tersebut apakah tergolong dalam kategori


sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik dan tidak baik dapat dilakukan dengan
mencocokkan jumlah skor hasil persentase persepsi validator ke dalam tabel
kriteria validasi, dengan rentang persentase sebagai berikut :
persentase maksimum
Rentang persentase =
skor tertinggi
Tabel 1 Kriteria validasi

(Sugiyono, 2008)
Keterangan :
x = Hasil persentase persepsi validator
III.5.2 Analisa Data Angket
Data yang diperoleh melalui angket tentang tanggapan siswa dianalisis
menggunakan rating scale. Pada tahap ini siswa diminta untuk memberikan
tanggapan atau komentar terhadap bahan ajar yang digunakan dengan cara
mengisi lembar kepraktisan. Analisis jawaban pada lembar kepraktisan yang diisi
responden dapat dihitung dengan cara berikut.
Nilai kepraktisan =

Jumla h skor responden


Jumla h butir

Tabel 2. Kategori Skor Kepraktisan


Rerata Skor
>4,2 s.d 5,0
>3,4 s.d 4,2
>2,6 s.d 3,4
>1,8 s.d 2,6
>1,0 s.d 1,8

Kategori Penilaian
Sangat praktis
Praktis
Cukup Praktis
Kurang Praktis
Tidak Praktis

16

(Modifikasi Widoyoko, 2012)

III.5.3

Analisis Data Tes Hasil Belajar


Analisis data tes hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan terlebih
dahulu memberikan skor terhadap jawaban siswa sesuai skor patokan yang telah
ditentukan sebelumnya, kemudian dikonversikan ke dalam rentang 1-100
Nilai =

skor yang diperole h


skor benar

x 100%

(Arikunto, 2010:235-236)
Tabel 3. Kategori Hasil Belajar Siswa
Nilai Siswa
80 100
66 79
56 65
40 55
0 39

Keterangan
Baik sekali
Baik
Cukup
Kurang
Gagal
(Arikunto, 2010:245)

Untuk mengehtaui keefektifan media pembelajaran yang dibuat, maka digunakan


gain yang dinromalisasikan N-gain (Hake, 2000). Nila gain dapat dihitung
menggunakan rumus berikut.
g=

G
Gmax

( postpre)
( 100 pre)

Keterangan :
g = gain
Pre = rata-rata tes awal
Post = rata-rata tes akhir
Kategori nilai gain menurut Hake dapat dilihat pada tabel 3 berikut
Tabel 4 Kategori Nilai Gain
G
Kategori Nilai
g>0,7
Tinggi
0,3 < g < 0,7
Sedang
g < 0,3

Rendah

17

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Astuti Muh., 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi
Berbasis Konstruktivisme Berdasar Teori Sosial Vygotsky di Sekolah
Menengah Atas. Jurnal Sainsmat, (Vol.1, No. 2) : 109-124.
Arifin, M, 2003. Common Textbook Strategi Belajar Mengajar Kimia, Jurusan
Pendidikan Kimia FPMIPA UPI, Bandung.
Ariningsih, I., Nawawi, E dan Hartono. Pengembangan Panduan Praktikum
Berbasis Inkuiri Tersturktur di Kelas XII SMAN 1 Indralaya Utara,
Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Unsri.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Asrori, Mohammad. 2009. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima.
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Dikmenjur. (2004). Kerangka Penulisan Modul. Jakarta: Dikmenjur, Depdiknas.
Dimyati & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rhineka Cipta.
Habibi,

Muhammad.

Pengembagan

Modul

Pecahan

Berbasisis

Konstruktivisme dengan Sisipan Karikatur untuk Kelas IV Sekolah


Dasar. (Jurnal dari Universitas Pendidikan Indonesia).
Hake, Richard R. 1998. Interactive-engagement Versus Traditional Methods: A
Six-Thousand-student Survey of Mechanics Test Data For Introductory
Physics Courses. Am. J. Phys, 66 (1): 67-74
Halimah.

2013.

Pengaruh

Penggunaan

LKS

Eksperimen

Berbasis

Konstruktivisme Terhadap Hasil Belajar Siswa. Skripsi, Jakarta: Fakultas


Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah.
Hanafiah, Nanang dan S, Cucu. 2012. Konsep dan Strategi Pembelajaran.
Bandung: PT Refika Aditama.

18

Jonuarti, R, dkk. Efektivitas Pengetahuan Laboratorium dan Substansi Bahan


Ajar terhadap Pengetahuan Guru Membuat Modul Praktikum IPA SMP
dalam Menyambut Kurikulum 2013. (Jurnal Program Studi Pendidikan
Fisika FMIPA Universitas Negeri Padang).
Munika. 2014. Pengembangan Petunjuk Praktikum Larutan Asam Basa
Berbasis Inquiry Pada Mata Kuliah Praktikum Kimia Dasar II di FKIP
Universitas Sriwijaya. Skripsi, Inderalaya: FKIP Universitas Sriwijaya.
Sholihah, M., Purwaningsih, E., Winarto.,. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis

Konstruktivisme dengan Mengoptimalkan Kecerdasan Majemuk untuk


Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Prestasi Belajar Siswa
SMP Bab Bunyi. (Jurnal dari Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri
Malang).
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung : Alfabeta.
Supriyono. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Konstruktivisme Pada

Mata Kuliah Telaah Kurikulum FIsika II (TKF II) untuk Mahasiswa


Kelas Internasional di Jurusan Fisika UNESA. Jurnal Pendidikan Fisika
dan Aplikasinya (JPFA), (Vol. 3 No.1).
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Utami, Sekar. 2012. Kontribusi Praktikum Kimia Skala Kecil Terhadap Hasil
Belajar Siswa Pada Subpokok Materi Alkuna. Skripsi, Bandung : Universitas
Pendidikan Indonesia.

Widoyoko, E.P., 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta :


Pustaka Belahar.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Nama Sekolah

: SMA Muhammadiyah 1 Palembang

19

Mata Pelajaran

: Kimia

Kelas/Semester

: XI/Ganjil

Alokasi Waktu: 2 x 45 menit


Kompetensi Dasar
3.4.

Membedakan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm berdasarkan

hasil percobaan dan diagram tingkat energi.


4.4. Merancang, melakukan, menyimpulkan serta menyajikan hasil
percobaan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.
Indikator:
3.4.1 Menghubungkan energi, kalor, dan entalpi reaksi.
3.4.2 Mengidentifikasi sistem dan lingkungan dari suatu reaksi kimia.
3.4.3 Membedakan reaksi yang melepas kalor (eksoterm) dengan reaksi
yang menerima kalor (endoterm) melalui diagram entalpi reaksi.
3.4.4 Menuliskan persamaan reaksi termokimia.
4.4.1 Merancang pecobaan mengenai reaksi eksoterm
4.4.2 Menyimpulkan hasil percobaan reaksi eksoterm
Metode Pembelajaran : Eksperimen
Media
: Modul panduan praktikum berbasis konstruktivisme,
papan tulis, spidol dan peralatan praktikum
Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Alokasi waktu : 90 menit
No.

1.

Kegiatan Pembelajaran
Guru
Pendahuluan:
a. Guru mengkondisikan siswa

Alokasi
waktu

Siswa
10 menit
a. Siswa duduk bersama
kelompok yang telah dibagi
pada pembelajaran
sebelumnya

b. Guru menyampaikan tujuan


praktikum

b. Menyimak informasi yang


disampaikan guru

20

c. Guru memberikan pertanyaan


c. Mendengarkan dan berusaha
untuk memotivasi siswa. Mengapa
menjawab pertanyaan tersebut
tangan kita terasa panas ketika
berdasarkan pengalaman dan
memegang detergen?
pengetahuan awal yang telah
dimiliki siswa
2.

Inti:
d. Guru membagikan modul panduan d. Membaca materi pada modul
praktikum berbasis
tersebut
e.
Siswa
mengerjakan bagian
konstruktivisme
e. Meminta siswa mengerjakan bagian
pendahuluan modul yaitu
pendahuluan modul
pertanyaan tentang mengapa
tangan terasa panas ketika
memegang detergen dan terasa
dingin ketika memegang air es

65 menit

f. Siswa melakukan praktikum


reaksi eksoterm dan endoterm
f. Guru meminta siswa mengerjakan
secara berkelompok dengan
praktikum tentang reaksi eksoterm
modul panduan praktikum
dan endoterm secara berkelompok
berbasis konstruktivisme
dengan modul panduan praktikum
berbasis konstruktivisme
g. Siswa memaksimalkan
perannya dalam membangun
g. Guru memaksimalkan perannya
pengetahuan berdasarkan
dalam memfasilitasi siswa
pengalaman yang pernah
dialami dengan kenyataan
ketika praktikum
h. Guru menanyakan hasil praktikum
yang dikerjakan siswa dalam
kelompoknya
h. Siswa mempresentasikan hasil
praktikumnya di depan kelas
3.

Penutup:
a. Guru menanyakan kembali kepada
siswa pertanyaan di awal
pertemuan
b. Guru menyampaikan review dan
umpan balik
c. Guru menyampaikan kesimpulan
praktikum

21

15 menit
a. Siswa menjawab pertanyaan
tersebut
b. Siswa mendengarkan
penjelasan guru
c. Siswa mendengarkan
penjelasan guru

Pertemuan Kedua
Alokasi waktu : 90 menit
No.

1.

Kegiatan Pembelajaran
Guru
Pendahuluan:
i. Guru mengkondisikan siswa

Siswa
10 menit
a. Siswa duduk bersama
kelompok yang telah dibagi
pada pembelajaran
sebelumnya

j. Guru menyampaikan tujuan


praktikum

b. Menyimak informasi yang


disampaikan guru

k. Guru memberikan pertanyaan


untuk memotivasi siswa.
Perubahan apa yang terjadi pada
proses pelarutan?

2.

Alokasi
waktu

c. Mendengarkan dan berusaha


menjawab pertanyaan tersebut
berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan awal yang telah
dimiliki siswa

Inti:
d. Guru membagikan modul panduan l. Membaca materi pada modul
praktikum berbasis konstruktivisme
tersebut
e. Meminta siswa mengerjakan bagian
pendahuluan modul
m. Siswa mengerjakan bagian
pendahuluan modul yaitu
perubahan apa yang terjadi
pada proses pelarutan

f. Guru meminta siswa mengerjakan n. Siswa melakukan praktikum


dengan modul panduan
praktikum dengan modul panduan
praktikum berbasis
praktikum berbasis konstruktivisme
konstruktivisme
g. Guru memaksimalkan perannya
dalam memfasilitasi siswa
o. Siswa memaksimalkan
perannya dalam membangun
pengetahuan berdasarkan
pengalaman yang pernah

22

65 menit

h. Guru menanyakan hasil praktikum


yang dikerjakan siswa dalam
kelompoknya

3.

Penutup:
q. Guru menanyakan kembali kepada
siswa pertanyaan di awal
pertemuan
r. Guru menyampaikan review dan
umpan balik
s. Guru menyampaikan kesimpulan
praktikum

dialami dengan kenyataan


ketika praktikum
p. Siswa mempresentasikan hasil
praktikumnya di depan kelas
15 menit
i. Siswa menjawab pertanyaan
tersebut
j. Siswa mendengarkan
penjelasan guru
k. Siswa mendengarkan
penjelasan guru

Sumber Belajar
Sunarya, Yayan. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Jakarta: Pusat Perbukuan.

Penilaian Hasil Belajar


Jenis Tagihan

: Pre test dan Post test

Bentuk Instrumen

: Essay

Palembang, Mei 2016


Guru Mata Pelajaran
Peneliti

Siti Mardliya

Lampiran Penilaian Praktek


23

Penilaian kompetensi keterampilan

: Penilaian Praktek

Satuan Pendidikan

: SMA

Mata Pelajaran

: Kimia

Kelas/Semester/Tahun Pelajaran

: XI/Ganjil / 2016/2017

Kompetensi Dasar

3.5.

Membedakan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm berdasarkan


hasil percobaan dan diagram tingkat energi.
Merancang, melakukan, menyimpulkan serta menyajikan hasil

4.5.

percobaan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.


Indikator:
3.4.1 Menghubungkan energi, kalor, dan entalpi reaksi.
3.4.2 Mengidentifikasi sistem dan lingkungan dari suatu reaksi kimia.
3.4.3 Membedakan reaksi yang melepas kalor (eksoterm) dengan reaksi
yang menerima kalor (endoterm) melalui diagram entalpi reaksi.
3.4.4 Menuliskan persamaan reaksi termokimia.
4.4.1 Merancang pecobaan mengenai reaksi eksoterm
4.4.2 Menyimpulkan hasil percobaan reaksi eksoterm
Tugas Praktek :
1. Lakukan percobaan termokimia reaksi eksoterm dan endoterm dengan
menggunakan alat-alat dan bahan- bahan kimia yang telah disiapkan.
2. Lakukan tugas praktek ini secara berkelompok untuk mengetahui
perkembangan konsep termokimia.
3. Laporkan hasil yang diperoleh.
4. Jawab pertanyaan dan buat kesimpulan

Format penilaian Praktek


24

Nama Peserta Didik

Nomor Absen

Kelas

Hari /Tanggal Praktek :


No

Aspek
Baik
(skor 3)

Hasil Penilaian
Cukup
Kurang
(skor 2)

Perencanaan
a. Menyebutkan tujuan praktikum
b. Menyebutkan alat dan bahan yang
digunakan

c. Menyebutkan langkah-langkah kerja


Pelaksanaan
a. Penggunaan alat dan bahan
b. Urutan kegiatan/langkah-langkah kerjan

c. Kebersihan dan kerapihan


Hasil Praktikum
a. Analisis data / kemampuan menjawab
pertanyaan
b. Penarikan kesimpulan
Skor Maksimum

24

Lembar Kerja Siswa


Judul Praktikum

: Reaksi Eksoterm Endoterm

Tujuan Praktikum

: Membedakan Reaksi Eksoterm Endoterm dalam suatu

reaksi kimia

25

(skor 1)

Alat dan Bahan


-

Gelas Kimia

Air Panas

Air Es

HCl 1 M

Pita Mg

Detergen

Air

Cara Kerja

Pengamatan 1
1. Siapkan gelas kimia yang berisi dengan air panas
2. Amati apa yang terjadi dan pegang gelas kimia rasakan suhunya.
Pengamatan 2
1. Siapkan gelas kimia yang berisi air es.
2. Amati apa yang terjadi dan pegang gelas kimia rasakan suhunya.
Pengamatan 3
1. Masukkan 5 ml larutan HCl kedalam tabung reaksi dan tambahkan pita
Mg.
2. Amati apa yang terjadi dan pegang gelas kimia rasakan suhunya.
Pengamatan 4
1. Masukkan bubuk detergen kedalam 50 ml air kedalam gelas kimia
kemudian aduk.
2. Amati suhu larutan setelah beberapa saat diaduk

Hasil Pengamatan
No
1
2
3
4

Perlakuan
Gelas kimia yang berisi air panas
Gelas kimia yang berisi air es
HCl + Mg
Detergen + Air

26

Hasil

Pertanyaan

1. Mengapa tangan kita akan terasa panas apabila menyentuh gelas berisi
minuman panas?
2. Mengapa gelas akan terasa dingin apabila tangan kita menyentuh gelas
berisi minuman dingin?
3. Jelaskan yang terjadi jika HCl ditambahkan dengan pita magnesium ?
4. Jelaskan yang terjadi pada detergen yang dilarutkan dalam 50 ml air?
5. Manakah yang termasuk reaksi eksoterm?
6. Manakah yang termasuk reaksi endoterm?
Kesimpulan:

SOAL PRE TEST


1. Jelaskan dengan contoh reaksi eksoterm dan endoterm
2. Apa yang anda rasakan bila mengenggam detergen? Mengapa demikian

27

3. Identifikasilah kasus berikut, Sepotong es dimasukkan ke dalam botol


plastik dan ditutup. Dalam jangka waktu tertentu es mencair, tetapi di
dinding botol sebelah luar ada tetesan air. Dari manatetesan air itu?

SOAL POST TEST


1. Jelaskan dengan contoh reaksi eksoterm dan endoterm
2. Apa yang anda rasakan bila mengenggam detergen? Mengapa demikian
3. Identifikasilah kasus berikut, Sepotong es dimasukkan ke dalam botol
plastik dan ditutup. Dalam jangka waktu tertentu es mencair, tetapi di
dinding botol sebelah luar ada tetesan air. Dari manatetesan air itu?

28