Anda di halaman 1dari 5

Adakah Pesangon Bagi Karyawan Kontrak?

Selamat siang saya mohon informasi dan arahannya untuk kasus sebagai berikut : a. Terdapat
tenaga kerja dengan status kontrak (PKWT) b. Yang bersangkutan dikontrak setiap tahun
dengan masa kontrak lebih dari 3 tahun. c. Setiap[ kontrak berakhir yang bersangkutan
menerima kompensasi uang pesangon sebesar 1x gaji. Pertanyaannya : a. Apakah jika yang
bersangkutan tidak diperpanjang kontraknya maka yang bersangkutan masih berhak
mendapatkan uang pesangon lagi? b. Apa landasan (dasar) hukumnya? Mohon informasi dan
arahannya. Terima kasih
Jawaban :
Intisari:

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) pada dasarnya hanya boleh untuk pekerjaan tertentu dan jangka waktu 2
(dua) tahun, yang mana hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun. Atau
hanya dapat diperbaharui 1 (satu) kali untuk paling lama 2 (dua) tahun.

Jika pengusaha melanggar ketentuan tersebut, maka PKWT berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu
(PKWTT). Jika Anda sebenarnya adalah pekerja dengan PKWTT (karena pengusaha melanggar ketentuan UU
Ketenagakerjaan), maka jika terhadap Anda dilakukan pemutusan hubungan kerja, Anda berhak atas uang pesangon.
Akan tetapi jika PKWT dan kontrak berakhir, tidak ada pesangon untuk pekerja kontrak.

Penjelasan lebih lanjut, silakan baca ulasan di bawah ini.

Ulasan:
Kaidah PKWT
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha
untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerjaan tertentu.[1]

PKWT hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya
akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu:[2]
a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga)
tahun;
c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam
percobaan atau penjajakan.

PKWT tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap.[3]

PKWT ini dapat diperpanjang atau diperbaharui.[4] PKWT yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat
diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling
lama 1 (satu) tahun. [5] Jadi total adalah 3 (tiga) tahun. Pengusaha yang bermaksud

memperpanjang PKWT, paling lama 7 (tujuh) hari sebelum PKWT berakhir telah
memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada pekerja/buruh yang bersangkutan.[6]
Sedangkan mengenai pembaharuan PKWT, dilakukan dalam hal PKWT dibuat berdasarkan selesainya
pekerjaan tertentu namun karena kondisi tertentu pekerjaan tersebut belum dapat diselesaikan.[7] Pembaharuan
tersebut dilakukan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya perjanjian
kerja.[8] Selama tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari tidak ada hubungan kerja antara pekerja/buruh dan
pengusaha.[9]

Pembaharuan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang waktu 30
(tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu yang lama, pembaharuan perjanjian kerja waktu
tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua) tahun.[10]
Perhatikan kaidah PKWT di atas
Merujuk pada ketentuan di atas, Anda harus melihat kembali apakah pekerjaan Anda termasuk pekerjaan yang
pekerja dapat dipekerjakan dengan PKWT. Kemudian harus dilihat kembali apakah jangka waktu perjanjian
tersebut sesuai dengan ketentuan di atas. Jika pekerjaannya tidak untuk dilakukan oleh pekerja PKWT atau
jangka waktu perjanjiannya melebihi ketentuan di atas, maka menjadi Perjanjian Kerja untuk Waktu Tidak
Tertentu (PKWTT).[11]

Jika Anda sebenarnya adalah pekerja dengan PKWTT (karena pengusaha melanggar ketentuan UU
Ketenagakerjaan), maka jika terhadap Anda dilakukan pemutusan hubungan kerja, Anda berhak atas uang
pesangon.[12]

Akan tetapi jika PKWT dan kontrak berakhir, tidak ada pesangon untuk pekerja kontrak. Perjanjian kerja dapat
berakhir salah satunya adalah jika berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.[13] Mengenai pekerja
kontrak/PKWT, yang diatur adalah jika salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya
jangka waktu yang ditetapkan dalam PKWT, pihak yang mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar
ganti rugi kepada pihak lainnya sebesar upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu
perjanjian kerja.[14]

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.


Dasar Hukum:
1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP-100/MEN/VI/2004
Tahun 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.

Pasal 1 angka 1 Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia
Nomor KEP-100/MEN/VI/2004 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja
Waktu Tertentu (Kepmenaker 100/2004)
[1]

Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU
Ketenagakerjaan)
[2]

[3]

Pasal 59 ayat (2) UU Ketenagakerjaan

[4]

Pasal 59 ayat (3) UU Ketenagakerjaan

[5]

Pasal 59 ayat (4) UU Ketenagakerjaan

[6]

Pasal 59 ayat (5) UU Ketenagakerjaan

[7]

Pasal 3 ayat (5) Kepmenaker 100/2004

[8]

Pasal 3 ayat (6) Kepmenaker 100/2004

[9]

Pasal 3 ayat (7) Kepmenaker 100/2004

[10]

Pasal 59 ayat (6) UU Ketenagakerjaan

[11]

Pasal 59 ayat (7) UU Ketenagakerjaan

[12]

Pasal 156 UU Ketenagakerjaan

[13]

Pasal 61 ayat (1) huruf b UU Ketenagakerjaan

[14] Pasal 62 UU Ketenagakerjaan

PESANGON PEGAWAI KONTRAK


Created on Wednesday, 16 October 2013 04:06
Last Updated on Wednesday, 16 October 2013 04:06
Written by Agust
Saya ingin bertanya tentang kejelasan status saya, saya dikontrak untuk bekerja pada
sebuah bank swasta di jakarta, masa tugas saya sudah hampir berakhir pada bulan
agustus ini. Saya dikontrak dengan masa tugas selama 2 tahun dan telah diperpanjang
sekali selama 1 tahun, jadi apabila ditotal saya sudah bekerja pada bank tersebut selama
3 tahun. Yang ingin saya tanyakan ialah, apabila nantinya kontrak saya tidak
diperpanjang lagi, berapa jumlah pesangon yang bisa saya terima ? saya merasa masa
tugas saya tidak akan diperpanjang lagi nantinya karena manager saya tampaknya
sudah mulai tidak suka dengan saya. Terima kasih atas jawabannya.

Budi-Menteng

JAWABAN :
Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan ke kami, terkait dengan
permasalahan anda bisa saya jelaskan sebagai berikut, bahwa di dalam Undangundang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUKetenagakerjaan)
diatur mengenai status hukum dari pekerja. Sebuah hubungan kerja dapat terjadi karena

adanya perjanjian kerja antara pekerja dan pemberi kerja, sebagaimana yang diatur di
dalam pasal 50 UUKetenagakerjaan
Hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan
pekerja/buruh
Perjanjian kerja itu sendiri dapat dibagi menjadi perjanjian kerja waktu tertentu atau
yang sering disebut dengan pekerja kontrak, maupun perjanjian kerja untuk
waktu tidak tertentu atau pekerja tetap. Di dalam pasal 56 ayat (2) UU
Ketenagakerjaan menyatakan bahwa,
Perjanjian kerja untuk waktu tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
didasarkan
atas: a. Jangka waktu; atau b.selesainya sebuah pekerjaan tertentu
Dari penjelasan yang anda berikan ke kami, dapat kami simpulkan bahwa status anda
dalam bank tersebut ialah sebagai pekerja kontrak. Anda dikontrak selama 2 tahun dan
diperpanjang sekali selama 1 tahun, artinya disini anda telah bekerja selam 3 tahun.
UUKetenagakerjaan sendiri mengatur bahwa suatu perjanjian untuk waktu tertentu
hanya dapat dibuat untuk pekerjaan yang menurut sifat atau kegiatan
pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. Sayang sekali anda tidak
menyebutkan posisi / jabatan anda terakhir bekerja kepada kami, namun yang mesti
diingat ialah suatu perjanjian kerja yang didasarkan pada waktu tertentu (kontrak) hanya
boleh dilakukan terhadap jenis pekerjaan yang tidak bersifat tetap (pasal 59 ayat (2)
UU Ketenagakerjaan) yakni:
a. Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya ;
b. Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan
paling lama 3 (tiga) tahun;
c. Pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan
yang masih dalam percobaan atau penjajakan (pasal 59 ayat (1) UU Ketenagakerjaan)

Artinya apabila jenis pekerjaan yang anda jalankan di bank tersebut merupakan
jenis pekerjaan yang bersifat tetap atau tidak memenuhi ketentuan pasal 59
ayat (1) dan ayat (2) UUKetenagakerjaan, maka demi hukum perjanjian
tersebut harus berubah menjadi perjanjian kerja waktu tidak tentu, atau
dengan kata lain status kontrak dari pekerja tersebut harus berubah menjadi
pekerja tetap (pasal 59 ayat (7) UU Ketenagakerjaan)
Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak memnuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), ayat (6) maka demi
hukum menjadi
perjanjian kerja waktu tidak tertentu
Suatu perjanjian kerja waktu tertentu dapat dilakukan dengan masa kontrak paling lama
2 tahun, dan dapat diperpanjang 1 kali dengan jangka waktu paling lama 1 tahun, serta
dapat diperbaharui 1 kali lagi dengan jangka waktu paling lama 2 tahun (pasal 59 ayat
(4), ayat (6) UU Ketenagakerjaan)
Dapat saya jelaskan ke anda bahwa suatu perjanjian kerja waktu apabila diakhiri
sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan di dalam perjanjian
tersebut, maka pihak yang mengakhiri hubungan kerja wajib membayar ganti

rugi kepada pihak lainnya sebesar upah pekerja sampai dengan batas waktu
berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja. (pasal 62 UU Ketenagakerjaan)
Dalam kasus anda ini, dapat dikatakan bahwa sebenarnya masa kontrak anda telah habis
dan tidak lagi diperpanjang, sehingga dengan demikian anda tidak berhak untuk
memperoleh pesangon. Adapun pesangon hanya diberikan kepada pekerja yang memiliki
status kerja tetap.
Akan berbeda pengertiannya dengan kasus yang sedang anda hadapi jika misalnya
seorang pekerja tetap diberhentikan atau dengan kata lain di PHK, dimana terhadap PHK
tersebut pihak pengusaha diwajibkan untuk membayar komponen-komponen berupa
uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak sebagaimana
yang diatur di dalam pasal 156 UUKetenagakerjaan
Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan
membayar uang
pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang
penggantian hak yang
seharusnya diterima