Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Amerika Serikat Merupakan Negara adi kuasa. Kekuasaannya dalam


menentukan kebijakan-kebijakan politik internasional sangat berperan aktif. Salah
satu contoh peran serta Amerika Serikat dalam dunia internasional adalah konflik-
konflik yang berada di Negara-negara Timur Tengah, khususnya Negara Israel,
Pakistan, Afghanistan dan Irak. Tetapi sebenarnya Amerika Serikat mempunyai
kepentingan nasional tersendiri mengapa mereka melibatkan diri dari konflik-konfilk
yang terjadi di negara-negara Timur Tengah tersebut.

Amerika saat ini tergantung atas impor minyak sebesar 12 juta barel per hari
untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya yang konsumsinya sudah mencapai 22
juta barel per hari. Dan 35 % dari angka impor minyak tersebut berasal dari Negara
Negara Islam. Dengan mencermati kondisi ini, rakyat Amerika sangat tergantung
sekali (highly dependence) atas suplai minyak untuk pertumbuhan ekonomi dan
operasi militernya dari Negara Negara yang berpenduduk Islam. Sebanyak 63 %
cadangan minyak dunia berada pada Negara yang mayoritas penduduknya beragama
Islam.

Tidaklah mengherankan kalau Henry Kissinger sebagai Secretary Of State


pada tahun 1974 pernah mengatakan “Oil is much too important a commodity to be
left in the hands of Arabs”. Amerika Negara yang adikuasa menjadi lumpuh
ekonominya ketika diembargo suplai minyak oleh Arab Saudi pada tahun 1973, dan
Iran pada tahun 1979.

Berkaitan dengan itu, yaitu memahami tingginya ketergantungan Amerika


atas minyak impor, maka tidaklah mengherankan kalau Amerika menerapkan

1
kebijakan luar negerinya yang mengutamakan akses ke sumber energi – it is a matter
of survival. Kebijakan luar negeri suatu Negara merupakan refleksi atau extension
dari kondisi politik dan ekonomi di dalam negeri.

Ketergantungan atas impor komoditi minyak inilah yang membuat kebijakan


luar negeri Amerika sangat agresif, proaktif dan reaktif terutama terhadap Negara-
negara yang mempunyai sumber energi. Jadi apakah presidennya berasal dari partai
Republik atau Demokrat, akan tetap sama saja menjalankan kebijakan luar negerinya
yang memprioritaskan energy security.

Inilah simbol kepentingan nasional Amerika dan kalau simbol itu sampai
terusik, semua elemen pada struktur organisasi pemerintahan, anggota kongres,
akademisi dari Ivy league sekalipun, akan langsung bereaksi untuk mendukung dan
melindungi. Tentu kalangan dunia usaha perminyakan tidak akan pernah lupa ketika
perusahaan minyak Unocal akan dibeli perusahaan Cina dengan tawaran US$ 18,5
miliar dan langsung dibatalkan oleh pihak Amerika dengan alasan dapat mengancam
national security.

I.2. Perumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini, masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :

1. Apa sajakah faktor-faktor yang membuat Amerika Serikat ikut berperan


terhadap konflik yang terjadi di Negara-negara timur tengah ?
2. Seberapa besar pengaruh Amerika Serikat di wilayah Negara-negara Timur
Tengah ?
3. Sejauh manakah peran serta Amerika Serikat terhadap negar-negara timur
tengah ?
4. Seberapa besar pengaruh Negara-negara Timur Tengah terhadap kepentingan
Nasional Amerika Serikat ?

2
I.3. Tujuan Penulisan

Secara umum, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membuka wawasan
penulis dan pembaca mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi mengapa
Amerika Serikat berperan aktif terhadap Konflik-konflik yang terjadi di Negara-
negara timur tengah . Secara khusus, penulisan makalah ini bertujuan sebagai berikut:
1. Menguraikan berbagai aspek yang mempengaruhi Amerika Serikat berperan
dalam konflik Negara-negara di Timur Tengah
2. Menjelaskan secara singkat hubungan Kepentingan Nasional Amerika Serikat
kepada Negara-negara di wilayah Timur Tengah

1.4 Metode Penulisan


Penyusunan makalah ini dilakukan dengan metode studi kepustakaan.
Berbagai sumber bacaan, terutama artikel dari jurnal-jurnal pada beberapa situs
internet, menjadi bahan rujukan penulis dalam menyusun makalah ini. Penulis
menemukan berbagai referensi mengenai hal yang berhubungan dengan Konflik-
konflik yang ada di Wilayah Timur Tengah yang berkaiatan dengan kepentingan
Nasional Amerika Serikat.

3
BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Ketergantungan Amerika Serikat Terhadap Negara-Negara di wilayah


Timur Tengah

Amerika saat ini tergantung atas impor minyak sebesar 12 juta barel per hari
untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya yang konsumsinya sudah mencapai 22
juta barel per hari. Dan 35 % dari angka impor minyak tersebut berasal dari Negara
Negara Islam. Dengan mencermati kondisi ini, rakyat Amerika sangat tergantung
sekali (highly dependence) atas suplai minyak untuk pertumbuhan ekonomi dan
operasi militernya dari Negara Negara yang berpenduduk Islam. Sebanyak 63 %
cadangan minyak dunia berada pada Negara yang mayoritas penduduknya beragama
Islam.

Salah satu Negara penghasil minyak yang perpenduduk Islam dikawasan


Timur Tengah yaitu Irak, yang telah menjadi korban tindakan unilateralisme dan
pelanggaran hukum internasional Amerika Serikat. Penyerbuan Amerika ke Irak
sekalipun tidak mendapat persetujuan dari Dewan Keamanan PBB. Sebelum
penyerbuan ke Irak, Amerika memberi alasan karena disana diduga terdapat WMD
dan soal keterkaitannya Sadam Husein dengan jaringan teroris Al Qaeda.

4
Ternyata setelah menduduki negeri itu selama empat tahun, kedua alasan yang
dipakai untuk menyerbu Irak tidak terbukti sama sekali, dan itu diakui secara resmi
oleh George W Bush. Jadi yang harus menyelesaikan masalah Irak, sudah pastinya
Amerika itu sendiri beserta para sekutunya.

Mengapa Irak sebagai Negara yang berdaulat diserang oleh Amerika ? Untuk
menjawab pertanyaan itu, ada data fakta yang berkaitan dengan minyak. Menurut
data konsultan geologis terkemuka, Irak mempunyai cadangan minyak yang
mencapai 115 miliar barel. Letak geografis Irak sangat strategis, hasil minyaknya bisa
disalurkan melalui pipa menuju Laut Mediterenian untuk kebutuhan konsumen
Negara-negara Eropa melalui Syria dan Yordania dan juga langsung disalurkan ke
Teluk Hormuz untuk Negara konsumen di Asia Timur. Kualitas minyak Irak sangat
tinggi, light, dan kandungan sulphur sangat rendah.

Dalam perdagangan minyak, ada tiga unsur yang dipertimbangkan untuk penentuan
harga yakni, jenis berat minyak (API), kandungan sulphur dan lokasi. Ketiga unsur
pokok inilah berada di Irak. Belum lagi berbicara tentang potensi cadangan gas alam
Irak yang sangat besar.

Bila ditelaah secara mendalam, Amerika dan juga Negara maju lainnya seperti
Jerman, Prancis, Jepang sangat tergantung sekali atas impor dari Negara-negara
Islam. Oleh karena itu, untuk mengimbangi neraca perdagangannya bagi Amerika
dan Negara barat lainnya perlu mengekspor peralatan persenjataan militer dan
berbagai ragam teknologi. Tidak berupa hardware saja, ternyata juga mengekspor
software yaitu nilai-nilai demokrasi dan HAM ke Negara Negara penghasil minyak,
termasuk Indonesia.

II.2. Hubungan Antara Amerika Serikat dan Israel

5
Penyerangan Israel terhadap Palestina yang banyak memakan korban
membuat harapan perdamaian antara Israel– Palestina makin meredup. Pertikaian
berlarut-larut yang memakan waktu lama belum menunjukkan titik terang kepada
upaya nyata terhadap penuntasan konflik ini.

Menarik untuk dilihat peranan Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang
selalu mengaktualisasikan dirinya sebagai polisi dunia yang merasa bertanggung
jawab atas nama perdamaian dunia dalam pertikaian Israel– Palestina ini. Sikap yang
ditunjukkan AS dalam upaya penyelesaian permasalahan ini selalu setengah hati,
sangat berbeda dengan sikap AS dalam menyikapi pertikaian di Timur Tengah
lainnya, yang dianggap dapat mengganggu kepentingan nasional AS, seperti
pembelaan terhadap Kuwait atas invasi Irak, (yang akhirnya menjadi suatu sejarah
panjang yang penuh dengan muatan-muatan politik dan rekayasa AS) maupun
serangan “membabi buta” dengan tuduhan terorisme kepada kelompok-kelompok
Islam di berbagai negara.

Baru-baru ini Resolusi DK PBB yang mengutuk serangan Israel terhadap Palestina
yang memakan banyak korban tersebut diveto oleh AS. Dari hal ini menarik untuk
dilihat latar belakang, motivasi serta tinjauan kepentingan AS kepada Israel, yang
membuat Israel mempunyai tempat tersendiri di “hati” AS, serta menarik pula untuk
melihat kepentingan AS secara umum di kawasan Timur Tengah.

II. 3. Posisi Israel bagi Amerika

Mengapa Israel begitu “dianak-emaskan” oleh Amerika Serikat di antara


negara-negara Timur Tengah lainnya, ketika pada sisi lain justru Israel dengan
Zionisnya kerap kali dianggap sebagai “biang kerok” konflik oleh negara-negara di
kawasan Timur Tengah sendiri. Dari kaca mata Amerika Serikat sebenarnya tidak ada
motivasi atau alasan ekonomi yang khusus bagi hubungan kedua negara, tetapi lebih

6
merupakan hubungan strategis, sedangkan kepentingan Amerika Serikat secara
ekonomi lebih mengacu kepada negara-negara Arab di Timur Tengah, terutama sejak
tahun 1947 Amerika Serikat telah menjadi pengimpor minyak mentah dari kawasan
ini, baik untuk kepentingan nasional maupun untuk mendukung strategi globalnya.

Tanpa adanya suplai minyak yang memadai, baik perusahaan-perusahaan


Amerika Serikat maupun mesin-mesin perang (NATO) dan dukungan kepada Eropa
Barat tidak akan berfungsi secara efektif. Untuk pengamanan jalur-jalur tersebut,
Amerika Serikat memerlukan negara pendukung yang strategis. Karena negara-
negara Arab dan Timur Tengah pada awalnya tidak menyediakan fasilitas tersebut,
maka satu-satunya bantuan adalah dari Israel. Dalam kerangka strategi ini pula
Amerika Serikat memberikan bantuan ekonomi secara besar-besaran terhadap Israel,
agar Israel tumbuh menjadi sekutu yang tangguh.

Namun di sisi lain, latar belakang eratnya hubungan Amerika Serikat – Israel
sudah ada sejak dahulu, sejak negara Yahudi belum ada, yaitu kuatnya kelompok
Yahudi di Amerika. Mereka kemudian mendominasi pertimbangan-pertimbangan
kebijaksanaan Amerika terhadap Israel. Selain dari sisi pertimbangan strategi
globalnya di kawasan Timur Tengah yang membutuhkan sekutu yang tangguh di
kawasan tersebut, besarnya dukungan AS terhadap Israel sejak negara ini berdiri pada
tahun 1948 adalah juga dengan pertimbangan lainnya yaitu, Pertama, disebabkan
oleh prihatinnya AS dengan nasib bangsa Yahudi di masa Nazi-Jerman, kedua,
disebabkan oleh mayoritas persamaan agama.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut hingga saat ini Israel masih


sangat memanfaatkan posisi strategisnya tanpa takut yang berlebihan yang
disebabkan keyakinan akan mendapat legalitas dan bantuan negara superpower
tunggal AS.

7
II. 4. Amerika Serikat, Irak, dan Kawasan Timur Tengah

Irak sebenarnya adalah negara yang unik bagi AS terutama setelah negara ini
dipimpin oleh Saddam Hussein. Irak sebelumnya adalah pembeli tetap senjata-senjata
dari AS atau dengan kata lain Irak adalah konsumen yang potensial bagi perdagangan
senjata AS.

Hal ini sangat memungkinkan, sebab kebijakan luar negeri Irak memang
cenderung bersifat konfrontatif. Ini dapat dilihat paling tidak dalam dua dekade
terakhir Irak hampir tidak pernah lepas dari konfrontasi maupun konflik dengan
negara lain baik dalam satu kawasan maupun dengan di luar kawasan. Perang Iran –
Irak kemudian invasi Irak terhadap Kuwait yang berbuntut serangan bertubi-tubi dari
AS yang dilanjutkan embargo ekonomi terhadap Irak adalah bukti dari kebijakan luar
negeri Irak yang cenderung konfrontatif. Titik tolak keadaan yang sangat merugikan
Irak memang dipicu oleh invasi Irak ke Kuwait, di sini dapat kita lihat betapa
pentingnya negara-negara di kawasan Timur Tengah bagi AS.

Kebijakan AS di Timur Tengah pada dasarnya berkaitan dengan kepentingan-


kepentingan strategisnya dan berhubungan dengan politik globalnya. Lebih dari tiga
dekade, dahulu ketika Uni Soviet masih menjadi kompetitor berat AS, kepentingan
strategi AS di regional adalah merupakan tindakan preventif terhadap dominasi Uni
Soviet dengan menghindari konfrontasi langsung.

Usaha ini dilakukan dengan membawa negara-negara satelit AS di Timur Tengah.


Namun saat ini setelah Uni Soviet bubar kepentingan AS adalah mempertahankan
hegemoninya di kawasan ini dan menjaga eksistensi strategi globalnya yang banyak
memerlukan dukungan dari kawasan Timur Tengah.

Faktor geografis Timur Tengah memiliki arti strategis yang sangat penting
bagi AS. Kawasan yang meliputi Eropa, Asia dan Afrika menjadikannya sebagai

8
jembatan hubungan Laut Tengah, Teluk Persia dan Laut Hitam, telah lama menjadi
daerah lintas maupun transit kapal-kapal barang di AS. Terusan Suez sebagai jalan
pintas untuk membawa bahan bakar minyak dari negara Arab ke Eropa Barat, Jepang
dan AS menambah arti strategis kawasan ini.

Minyak sebagai sumber daya alam terbesar di Timur Tengah dan di dunia
juga merupakan kepentingan strategis bagi AS. Untuk mempertahankan keunggulan
ekonomi negara-negara Barat dan Jepang perlu disuplai bahan bakar minyak yang
memadai bagi kelangsungan industrinya, oleh karenanya setiap usaha menguasai,
mendominasi atau menyerang negara-negara di Timur Tengah yang produktif dalam
menghasilkan minyak bumi merupakan ancaman bagi kepentingan vital AS.

Hal inilah yang dialami oleh Irak ketika menginvasi Kuwait, AS sangat
berkepentingan dengan Kuwait sebab AS mempunyai kilang-kilang minyak di
Kuwait yang sangat besar pengaruhnya dalam menyuplai minyak untuk kepentingan
industrinya.

Selain itu, kawasan Timur tengah merupakan kawasan yang sangat potensial
bagi instrumen kebijakan luar negeri yang mengkomersialkan perdagangan senjata.
Kebijakan penjualan persenjataan AS di Timur Tengah selama ini sering dipandang
sebagai suatu cara untuk menciptakan, mempertahankan maupun meningkatkan
pengaruhnya terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah tanpa harus
menghadirkan kekuatan militer AS secara langsung.

Hal ini mengakibatkan perlombaan senjata berkembang di Timur Tengah. Keadaan


ini memang sangat dimungkinkan sebab secara historis negara-negara di kawasan
Timur Tengah dipenuhi sejarah konlik yang panjang sehingga banyak memerlukan
pasokan senjata yang memadai.

Dengan alasan-alasan yang disebutkan di atas tadi mulai dapat kita lihat
mengapa AS sangat berkepentingan di kawasan yang selalu panas ini. Dapat pula kita

9
lihat dikotomi permasalahan Irak dan Israel dalam sikap AS. Irak dianggap oleh AS
sebagai ancaman yang dapat merusak kepentingan strategi global mereka di kawasan
Timur Tengah. Dan juga bersikerasnya AS dalam usaha menyerang Irak adalah salah
satu dari upaya show of power.

AS yang ingin kembali menunjukkan dominasinya terutama sekaligus sebagai


ajang “promosi” untuk penjualan senjata-senjata canggihnya. Penyerangan terhadap
Irak adalah juga merupakan bagian dari strategi kepentingan George. W. Bush yang
selama ini belum mendapatkan “moment” untuk menunjukkan eksistensi dan prestasi
dirinya sebagai salah satu presiden AS yang cukup berpengaruh serta pula sebagai
bagian dari kampanye Bush dalam upaya mempertahankan kursi kepresidenan.

Sedangkan dalam kasus Israel, AS banyak sekali memberikan toleransi bahkan


dukungan terhadap negara Zionis ini karena memang secara strategis hanya Israel lah
yang menjadi sekutu paling loyal bagi AS (dan memang diciptakan menjadi sekutu)
di kawasan Timur Tengah yang memungkinkan AS “bermain” dengan aman dalam
kawasan ini. Sehingga wajar jika AS tidak pernah dapat bersikap tegas dalam
menyelesaikan konflik Israel–Palestina yang berkepanjangan.

Sekali lagi posisi AS sebagai negara adidaya tunggal memungkinkan mereka


melakukan apa saja demi merealisasikan kepentingan strategi global politik luar
negeri mereka. PBB sebagai lembaga yang paling berwenang untuk memberikan
aturan-aturan dalam menciptakan perdamaian di dunia juga tidak dapat bersikap
independen karena disebabkan sangat besarnya pengaruh AS dalam organisasi ini.

Oleh karena itulah keadilan dan perdamaian di dunia tampaknya masih akan menjadi
sebuah utopia selama sang adidaya tunggal ini tidak mempunyai batasan legalitas dan
moral dalam menjalankan strategi global kepentingan politik luar negerinya.

10
BAB III

UPAYA AMERIKA SERIKAT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK


PALESTINA – ISRAEL

Jalur Gaza biasa juga disebut Semenanjung Gaza adalah sebuah daerah kecil
di sebelah barat daya Israel. Pada akhir Perang Arab-Israel di tahun 1948, daerah ini
dikuasai oleh Mesir. Tetapi selepas Perang Enam Hari, daerah ini diambil paksa oleh
Israel.
Jalur Gaza masuk ke dalam wilayah Palestina. Nama Palestina berasal dari
nama “suku bangsa laut” yang diperkirakan berasal dari Pulau Kreta, yakni Filistin
yang pada suatu masa menduduki wilayah itu. Mereka menguasai Gaza (City),
Ashdod, Gath, dan Ekron. Wilayah yang ditinggali Filistin itulah yang oleh orang
Yunani kemudian disebut Palestina. Palestina adalah lafal Yunani dari bahasa Ibrani,
yakni Pleshet yang berarti “tanah suku Filistin”. Sebutan itu terus digunakan hingga
kini.
Penduduk Jalur Gaza saat ini diyakini bukan keturunan Filistin masa lalu.
Mereka sebagian besar adalah Arab-Palestina yang meninggalkan kampung halaman
saat pecah perang 1948 dari daerah yang kini masuk wilayah Israel. Sebagian kecil
adalah penduduk lokal yang disebutkan sebagai Arab-Mesir karena wilayah ini
pernah dikuasai Mesir, bahkan di zaman Firaun. Gaza berada dalam kepungan
wilayah Israel, sehingga harus melalui daratan Israel sejauh kira-kira 40 kilometer. Di
wilayah Gaza hampir 100% penduduknya pengikut Hamas. Hamas pernah meminta
agar seluruh wilayah Palestina dan Israel itu jadi satu Negara saja: Negara Palestina.
Tetapi Israel dengan tegas menolak ajakan ini.

11
Untuk melihat bagaimana Israel kemudian membelah Palestina menjadi
bagian-bagian kecil, bisa dilihat pada peta tahun 2000, di mana dan Tepi Barat
dibatasi oleh Israel. Di bulan Desember 1987, perselisihan di tenda pengungsi
Jabaliyah memicu pemberontakan warga Palestina, yang berakhir pada tahun 1993.
Kelompok militan Islam Hamas merupakan yang pertama kali muncul pada masa-
masa awal perjuangan. Selanjutnya di bulan September 2005, Israel menarik
pasukannya beserta 8.500 pendatang Yahudi dari Jalur Gaza. Namun, Israel tetap
menguasai wilayah udara, perairan di garis pantai, dan perbatasan. Hal ini
menyebabkan ahli-ahli hukum Palestina dan beberapa dari Israel menuduh Israel
masih menduduki Jalur Gaza. Selanjutnya pada bulan Juni 2008, kelompok militan
Hamas dan Israel sepakat untuk melakukan gencatan senjata untuk menghentikan
pertempuran atas prakarsa Mesir. Dan genjatan itu kemudian berakhir pada hari
Jumat, 19 Desember 2008. Hingga kemudian, Israel memulai babak baru dalam
serangannya ke Gaza pada tanggal 27 Desember 2008.
Konflik Israel-Palestina, merupakan sebagian dari konflik Arab-Israel yang
lebih luas, adalah konflik yang berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina.
Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-
olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan
Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina
memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan
kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas
yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi
menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah
Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur. Sejak Persetujuan
Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara resmi telah bertekad
untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah utama yang tidak
terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah:
Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur yang
mencakup wilayah-wilayah dari Negara Palestina yang diusulkan.
• Keamanan Israel.

12
• Keamanan Palestina.
• Hakikat masa depan negara Palestina.
• Nasib para pengungsi Palestina.
• Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan nasib para penduduk
pemukiman. itu.
• Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Bukit Bait
Suci dan kompleks Tembok (Ratapan) Barat.

Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948.


Masalah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari
Perang Enam Hari pada 1967. Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan,
dengan berbagai tingkat intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip
yang berada di balik semuanya. Pada kedua belah pihak, pada berbagai kesempatan,
telah muncul kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam berbagai
tingkatannya tentang penganjuran atau penggunaan taktik-taktik kekerasan, anti
kekerasan yang aktif, dll.
Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang
satu atau yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul taktik-taktik
yang telah digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-orang yang
merangkul sekurang-kurangnya sebagian dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak.
Dan menyebutkan "kedua belah" pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan: Al-
Fatah dan Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa
Palestina. Hal yang sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel,
meskipun misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.
Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas mengenai sifat
konflik ini pasti akan sangat sepihak. Itu berarti, mereka yang menganjurkan
perlawanan Palestina dengan kekerasan biasanya membenarkannya sebagai
perlawanan yang sah terhadap pendudukan militer oleh bangsa Israel yang tidak sah
atas Palestina, yang didukung oleh bantuan militer dan diplomatik oleh A.S. Banyak
yang cenderung memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi

13
Barat dan Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan
Piagam PBB. Sebagian memperluas pandangan ini untuk membenarkan serangan-
serangan, yang seringkali dilakukan terhadap warga sipil, di wilayah Israel itu sendiri.
Demikian pula, mereka yang bersimpati dengan aksi militer Israel dan langkah-
langkah Israel lainnya dalam menghadapi bangsa Palestina cenderung memandang
tindakan-tindakan ini sebagai pembelaan diri yang sah oleh bangsa Israsel dalam
melawan kampanye terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Palestina
seperti Hamas, Jihad Islami, Al Fatah dan lain-lainnya, dan didukung oleh negara-
negara lain di wilayah itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina, sekurang-kurangnya
oleh warga Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel. Banyak yang
cenderung percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh wilayah ini
demi keamanannya sendiri. Pandangan-pandangan yang sangat berbeda mengenai
keabsahan dari tindakan-tindakan dari masing-masing pihak di dalam konflik ini telah
menjadi penghalang utama bagi pemecahannya.
Sebuah poster gerakan perdamaian: Bendera Israel dan bendera Palestina dan
kata-kata Salaam dalam bahasa Arab dan Shalom dalam bahasa Ibrani. Gambar-
gambar serupa telah digunakan oleh sejumlah kelompok yang menganjurkan solusi
dua negara dalam konflik ini. Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju
perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan
Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun
dengan 14 "reservasi". Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana
pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon.
Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan
menyingkirkan seluruh "kehadiran sipil dan militer... yang permanen" di Jalur Gaza
(yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan
"mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan
mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan
kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza." Pemerintah Israel berpendapat
bahwa "akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah
wilayah pendudukan," sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila

14
pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel "akan diizinkan
untuk menyelesaikan tembok (artinya, Penghalang Tepi Barat Israel) dan
mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini".
Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa
rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air
dengan campur tangan Israel yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi
yang diyakininya terlalu mahal dan secara strategis tidak layak dipertahankan dalam
jangka panjang. Banyak orang Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud
-- hingga beberapa minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai Sharon,
khawatir bahwa kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan
meningkatnya kegiatan penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar Gaza. Secara
khusus muncul keprihatinan terhadap kelompok-kelompok militan Palestina seperti
Hamas, Jihad Islami atau Front Rakyat Pembebasan Palestina akan muncul dari
kevakuman kekuasaan apabila Israel memisahkan diri dari Gaza.
Dewan Keamanan PBB menggelar konsultasi darurat untuk membahas seruan
Libya untuk segera menghentikan serangan-serangan udara Israel terhadap Jalur
Gaza, sebagai balasan serangan-serangan roket para pejuang Palestina. Ke-15 utusan
Dewan Keamanan mengadakan pertemuan di balik pertemuan di balik pintu tertutup
untuk pertama-tama memutuskan, apakah merekan akan menyelenggarakan
pertemuan resmi mengenai serangan-serangan udara Negara Yahudi itu.
Bagaimana cara Amerika Serikat dalam menyelesaikan konflik Palestina
Israel tahun 2000-2008? (teori penyelesaian konflik atau management resolusi
conflict).
Mengapa konflik Palestina Israel dapat mengundang Amerika Serikat untuk
menyelesaikannya? (teori conflict).
Dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel tahun 2000-2008 yaitu 4
serangkai yang terdiri dari Amerika Serikat, Uni Eropa, PBB, dan Rusia melakukan
sebuah usul yaitu Peta menuju perdamaian yang dibuat pada tgl 17 September 2002.
Namun dalam menghahadapi konflik Israel-Palestina, hegemon AS seolah-olah tidak
berdaya melakukan tindakan tegas terhadap Israel. Meskipun dunia internasional,

15
baik Liga Arab, Negara-Negara OKI, Uni Eropa bahkan PBB, mengecam tindakan
Israel dibawah Ariel Sharon telah melakukan kebiadaban, barbarisme, pelanggaran
hukum internasional serta pelanggaran HAM berat. Menlu AS Colin L Powell gagal
membujuk Sharon menghentikan kekerasan militer terhadap rakyat Palestina. Bahkan
Sharon dan Bush meminta Arafat menghentikan aksi bom bunuh diri. Bagi mereka,
tindakan represif yang dilakukan adalah sebagai upaya pertahanan diri. AS sebagai
pihak yang mempunyai kompetensi tinggi tampak ragu-ragu dalam upaya
menyelesaikan konflik tersebut.
Dalam menghadapi masalah konflik Israel-Palestina dan masalah Timur
Tengah pada umumnya, ada dua aliran pemikiran yang di kalangan intelektual dan
politisi AS yakni (1) kelompok yang membela doktrin ‘Israel First’, (2) kelompok
‘evenhanded’ yang menginginkan AS ‘lebih adil’ bersikap Amerika Serikat dan
Penyelesaian Konflik Israel Palestina di Timur Tengah. Dari dua kelompok tersebut,
ternyata ‘Israel First’ lebih dominan karena dianut oleh orang-orang yang duduk
dalam posisi strategis di pemerintahan. Kelompok ini menginginkan dukungan
Washington terhadap posisi dominan Israel di kawasan tersebut guna menjamin
kepentingan AS di Timur Tengah. Di mata AS, Israel adalah sebuah asset strategis
yang secara dasar-dasar moral harus didukung penuh karena Israel adalah penganut
demokrasi sekuler dengan gaya hidup Barat. Israel juga diibaratkan tempat
perlindungan dan ‘pengganti kerugian’ bagi bangsa Yahudi yang telah mengalami
‘penderitaan historis’ pada masa Nazi. Henry Kissinger dan Madeline Albright adalah
beberapa pendukung kelompok ini. Penganut aliran ini lebih dominan dalam
mempengaruhi policy AS karena mereka menduduki posisi-posisi penting dalam
system pemerintahan AS seperti Dewan Keamanan Nasional (NSC), Departemen
Luar Negeri, Inteligen bahkan Konggres konsisten mendukungnya. Oleh karena itu
tidak seorangpun kandidat presiden AS berani mengambil resiko berkonfrontasi
dengan Israel. Bill Clinton dalam kampanyenya disumbang 23 juta dolar AS dan
sekitar 80% orang Yahudi berada di pihak demokrat. Selain itu, kuatnya lobi yahudi
juga sangat efektif meskipun jumlah orang Yahudi di AS hanya 6 juta orang pada
tahun 2001. Lobi yang efektif dan sistematis ini karena ada beberapa faktor yakni

16
Yahudi menguasai ekonomi-ekonomi strategi, intelektual Yahudi menguasai hampir
semua universitas di AS dan menguasai industri strategis media massa seperti TV
ABC, NBC, CBS, New York Times, Time Magazine dan News Week. Akibatnya
orang-orang palestina yang ada di AS dan Eropa mengalami kesulitan, sementara
orang-orang AS yang simpati dengan perjuangan palestina tidak berani terus terang
mengadakan kontak dengan lobi-lobi Timur Tengah. Contohnya : Andrew Young
(pernah menjadi walikota Atlanta kemudian duta besar di PBB masa pemerintahan
Carter) pernah mengadakan pertemuan khusus dengan orang-orang PLO tapi
kemudian diketahui pers AS, di bongkar habis-habisan akhirnya oleh Jimmy Carter
dicopot dari duta besar di PBB. Sementara itu penganut aliran ‘evenhanded’
berpendapat bahwa sikap yang mendukung Israel itu tidak menjamin kepentingan AS
di wilayah itu. Doktrin ‘Israel First” justru dapat menumbuhkan gerakan-gerakan
‘fundamentalis Islam Radikal’ yang mengancam keselamatan warga AS di kawasan
itu. Pendukung aliran ini posisinya lemah.
Bagi kepentingan AS, kawasan Timur Tengah sebagai prioritas ketiga karena
selain wilayah itu menguasai lalu lintas laut dan udara Eropa-Asia Pasifik-Afrika,
wilayah ini juga merupakan sumber utama energi bagi negara-negara sekutunya di
Eropa Barat dan Asia Timur (Jepang). Oleh sebab itu konflik Palestina-Israel yang
berkepanjangan, di kawasan Timur Tengah, dapat mengundang Amerika Serikat
karena Amerika Serikat mempunyai kepentingan nasional di wilayah Timur-Tengah.
Maka kepentingan nasional AS adalah sebagai berikut;
1. Menjaga kelangsungan impor minyak dari Timur Tengah, terutama dari
negara-negara Teluk,
2. Menjaga eksistensi Israel. Hal ini penting mengingat Israel adalah kawan
dekat AS di Timur Tengah yang dapat dijadikan kepanjangan tangan AS di
kawasan tersebut,
3. Untuk memperlancar dua kepentingan diatas, AS perlu menjaga stabilitas
politik dan keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut. Maka AS
menciptakan ketergantungan terhadap beberapa negara, mencegah rezim yang
cenderung radikal untuk berkuasa dengan jalan mendukung kelompok

17
minoritas yang menentang penguasa untuk berontak, mempersenjatai negara-
negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi guna mencegah timbulnya
dominasi politik maupun militer.
4. Menjadikan kawasan tersebut sebagai pangsa pasar industri senjata.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian, penjelasan, dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan
hal sebagai berikut :
1. Peran Amerika Serikat terhadap perdamaian di Negara-negara wilayah timur
Tengah
2. Ketergantungan Amerika Serikat Terhadap Negara-negara di kawasan Timur
Tengah.
3. Pemerintah Amerika Serikat Mempunyai Kepentingan Nasional tersendiri
dalam keikutsertaan atau turut campurnya ke dalam Masalah atau konflik-
konflik yang berada di wilayah timur tengah.
4. Faktor-faktor eratnya hubungan antara pihak Amerika Serikat dengan Negara
timur tengah khususnya Irael.

4. 2. Saran
Permasalahan yang timbul dalam setiap adanya pertikaian yang ada di
wilayah Timur Tengah sebenarnya mempunyai keuntungan tersendiri bagi pihak
Amerika Serikat. Ini dikarenakan Amerika Serikat mempunyai kepentingan Nasional
tersendiri atas Negara-negara timur tengah. Amerika Serikat mempunyai atau
membutuhkan pasokan minyak yang banyak untuk Negaranya. Ketergantungan atas
impor komoditi minyak inilah yang membuat kebijakan luar negeri Amerika sangat
agresif, proaktif dan reaktif terutama terhadap Negara-negara yang mempunyai
sumber energi yang besar.

18
DAFTAR PUSTAKA

Pramono, Arh Budi Artikel Kepentingan Nasional GOD, Kodam Jaya, Jayakarta,
2008

Darmadi, Andrias, Artikel Arti Penting Timur Tengah Bagi Kebijakan Luar Negeri
Amerika, Jakarta, 2004

Ibrahim, Firdaus. Dibalik Kekalahan LNG “suatu kajian geopolitik”,


http://www.migas-indonesia.com, Jakarta, 2003

Myerna, Menimbang Peran Loby Israel Bagi Kepentingan Nasional Amerika Serikat,
Jakarta, 2009

Guntur Romli, Mohamad, KOMPAS ; Obama, Palestina, Dan Timur Tengah, Jakarta,
2009

19
Basyuni, Muzammil. Perkembangan Aktual Politik Timur Tengah ; Perspektif
Suri’ah, Yogyakarta, 2009

20
21