Anda di halaman 1dari 9

UPAYA PENINGKATAN KEGIATAN BONGKAR GANDUM CURAH DENGAN

MEMINIMALISASI WAKTU YANG TERBUANG (IDLE TIME)


PADA PT AMPEL JAYA SURABAYA 2016
Ahmad Zainur Rasyid, Yusron Bastian, Galih Satriyo, Program Studi Ketatalaksanaan
Pelayaran Niaga Dan Kepelabuhanan Program Diploma III (D-III) Akademi Kelautan
Banyuwangi.
ABSTRAK
PT Ampel Jaya merupakan perusahaan stevedoring terpadu yang bernaung dibawah kelompok
usaha Samudera Indonesia Group (SIG), bergerak dalam usaha bongkar muat. Dalam penulisan
karya tulis ini, penulis mengangkat masalah mengenai upaya peningkatan kegiatan bongkar gandum
curah dengan meminimalisasi waktu yang terbuang (Idle Time). Pada penelitian ini, penulis
menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder.
Pengujian dilakukan menggunakan uji Kredibilitas dengan uji keabsahan berupa bahan referensi,
analisis kasus negative dan member check. Hasil penelitian menunjukan upaya peningkatan
kegiatan bongkar gandum curah pada PT Ampel Jaya yaitu perlu meningkatkan koordinasi dengan
para pihak, meningkatkan pengawasan peralatan bongkar, serta perlu memiliki peralatan bongkar
sendiri. Upaya meminimalisasi idle time pada PT Ampel Jaya yaitu dengan selalu mempersiapkan
semua sarana dan prasarana yang diperlukan untuk kegiatan bongkar, melakukan pengawasan
terhadap perawatan armada truck yang digunakan dan memberikan sanksi kepada para tenaga kerja
yang tidak disiplin dalam bekerja dan melakukan penggantian peralatan yang sudah telah melewati
umur penggunaannya serta selalu memantau keadaan alam yang terjadi saat akan melaksanakan
kegiatan bongkar.
PT Ampel Jaya is a stevedoring company integrated the shelter under the business group
Samudera Indonesia Group (SIG), is engaged in the loading and unloading. In writing this paper,
the authors raised concerns about efforts to increase the loading of bulk wheat to minimize the time
wasted (Idle Time). In this study, the authors used a qualitative research method using primary data
and secondary data. Testing is done using a credibility test to test the validity of such a reference
material, negative case analysis and check. The results showed an effort to increase the loading of
bulk wheat at PT Ampel Jaya is need to improve coordination with the parties, to improve oversight
unloading equipment, as well as the need to have their own loading equipment. Efforts to minimize
idle time on PT Ampel Jaya is to always prepare all the infrastructure and facilities required for the
loading, monitoring the fleet maintenance truck used and give sanctions to workers who do not
discipline in work and the replacement of equipment that has been passed the age of the user and
always monitor the state of nature which occurs when will carry out the loading.
Kata Kunci : Kegiatan Bongkar, Peralatan Bongkar, Idle Time, Activity Unloading, Equipment
Unloading, Idle Time
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pelabuhan memiliki peranan yang
sangat
penting
dalam
meningkatkan
pertumbuhan perekonomian. Hal ini dapat
dilihat dari banyak sektor industri yang
berdiri di daerah pelabuhan, yang bertujuan
untuk
mempermudah
sektor
industri
mendatangkan dan mengirimkan produknya.
Sektor ini masih menggunakan kapal laut
dalam transportasinya terutama pengangkutan
barang atau muatan dalam skala besar.

Pelabuhan adalah tempat yang terdiri


dari daratan dan perairan dengan batas-batas
tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah
dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan
sebagai tempat kapal bersandar, naik turun
penumpang, dan bongkar muat barang, berupa
terminal dan tempat berlabuh kapal yang
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan
keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang
pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan
intra dan antar moda transportasi. (PP No. 61
Tahun 2009 tentang kepelabuhanan).

Bersasarkan UU No. 17 Tahun 2008


Pasal 31, terdapat beberapa kegiatan usaha
jasa di pelabuhan sebagai penunjang kegiatan
angkutan laut salah satunya yaitu bidang
usaha bongkar muat barang, Bongkar muat
adalah salah satu kegiatan yang dilakukan
dalam proses forwarding (pengiriman)
barang. Sedangkan kegiatan bongkar muat
barang dari dan ke kapal itu sendiri dapat
dirumuskan sebagai berikut: Suatu pekerjaan
membongkar barang dari kapal dan kemudian
menempatkannya atau menyusunnya di
dermaga atau langsung ke truk atau
sebaliknya.
PT Ampel Jaya berdiri pada Agustus
1993 dan merupakan perusahaan stevedoring
terpadu yang bernaung dibawah kelompok
usaha Samudera Indonesia Group (SIG),
bergerak dalam usaha bongkar muat. PT
Ampel Jaya memberikan pelayanan jasa
bongkar muat barang di pelabuhan Surabaya
dan Gresik. Pada saat ini kegiatan yang
sering ditangani oleh PT Ampel Jaya yaitu
kegiatan bongkar dan komoditi yang sering
dibongkar oleh perusahaan yaitu gandum
curah, Perusahaan ini mampu membongkar
muatan gandum curah kurang lebih 50.000
Ton per atau bulan.
Dari data kegiatan bongkar gandum
periode Bulan Januari sampai Maret 2016
pada PT Ampel Jaya Surabaya, diketahui
bahwa penyebab idle time ialah karena
trouble alat, menunggu dump truck, SDM
atau buruh dan cuaca atau hujan. Dari
beberapa penyebab idle time tersebut,
menunggu dump truck merupakan idle time
yang paling sering terjadi saat kegiatan
bongkar. Dari beberapa permasalahan tersebut
sehingga perlu adanya upaya untuk
meningkatkan kegiatan bongkar gandum
curah dan meminimalisai atau mengurangi
terjadinya waktu yang terbuang (idle time)
pada saat kegiatan bongkar gandum di
laksanakan.
Berdasarkan uraian latar belakang di
atas, penulis tertarik untuk memaparkannya
dalam bentuk tugas akhir dengan judul:
UPAYA PENINGKATAN KEGIATAN
BONGKAR
GANDUM
CURAH
DENGAN MEMINIMALISASI WAKTU
YANG TERBUANG (IDLE TIME) PADA
PT AMPEL JAYA SURABAYA 2016.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
diuraikan diatas, dapat diambil rumusan
masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana upaya peningkatan kegiatan
bongkar gandum curah pada PT. Ampel
Jaya Surabaya ?
b. Bagaimana upaya meminimalisasi waktu
yang terbuang (idle time) dalam kegiatan
bongkar gandum curah pada PT. Ampel
Jaya Surabaya ?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk
memecahkan masalah atau menjawab runusan
masalah yanag telah dirumuskan. Maka dari
itu tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui upaya peningkatan
kegiatan bongkar gandum curah pada PT.
Ampel Jaya Surabaya.
b. Untuk mengetahui upaya meminimalisasi
waktu yang terbuang (idle time) dalam
kegiatan bongkar gandum curah pada PT.
Ampel Jaya Surabaya.
Fokus Kajian Penelitian
Fokus kajian penelitian dimaksudkan
agar tidak terjadi penyimpangan yang
signifikan terhadap obyek penelitian. fokus
penelitian diarahkan untuk memahami :
a. Upaya peningkatan kegiatan bongkar
gandum curah pada PT. Ampel Jaya
Surabaya.
b. Upaya meminimalisasi waktu yang
terbuang (idle time) dalam kegiatan
bongkar gandum curah pada PT. Ampel
Jaya Surabaya.
Karena keterbatasan waktu, tenaga,
pemikiran, dan tempat penelitian maka
penulis hanya fokus pada alat yang digunakan
saat kegiatan bongkar.
Manfaat Penelitian
a. Bagi Penulis
Bagi penulis untuk menambah wawasan
dan pengetahuan serta pengalaman
mengenai upaya peningkatan kegiatan
bongkar
gandum
curah
dengan
meminimalisasi waktu yang terbuang (idle
time) pada PT Ampel Jaya Surabaya. dan
sebagai pematangan dari teori-teori yang
didapat dari perkuliahan.

b. Bagi Akademi Kelautan Banyuwangi


Bagi Akademi Kelautan Banyuwangi
Sebagai sumber kepustakaan dan tambahan
ilmu pengetahuan bagi taruna-taruni
Akademi Kelautan Banyuwangi dalam
ilmu kepelabuhanaan, khususnya dalam
masalah bongkar muat di pelabuhan.
c. Bagi Perusahaan
Bagi Perusahaan PT. Ampel Jaya
Surabaya Penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan evaluasi dan saran untuk
pengambilan keputusan atau kebijakan di
masa
yang
akan
datang
dalam
mengembangkan perusahaan.
LANDASAN TEORI
Kegiatan Bongkar
Menurut KM Perhubungan berdasarkan
UU No.21 Tahun 1992, KM No. 14 Tahun
2002, Bab I Pasal I, Bongkar adalah kegiatan
bongkar barang dari dan atau ke kapal
meliputi kegiatan pembongkaran barang dari
palka kapal ke atas dermaga di lambung kapal
ke gudang atau lapangan penumpukan.
Menurut Sudjatmiko, F.D.C (1997:348),
Pembongkaran adalah suatu pemindahan
barang dari suatu tempat ke tempat lain dan
bisa juga dikatakan suatu pembongkaran
barang dari kapal ke dermaga, dari dermaga
ke gudang atau sebaliknya dari gudang ke
gudang atau dari gudang ke dermaga baru
diangkut ke kapal.
Menurut R.P Suyono, (2000:203),
Dalam
suatu
pekerjaan
bongkar,
perlengkapan bongkar merupakan salah satu
faktor penentu kecepatan dan keselamatan
bongkar, alat-alat yang biasa digunakan untuk
kegiatan bongkar dibagi menjadi dua yaitu
alat mekanis dan non mekanis
Menurut Siagian Henri, (2013). Setiap
pekerjaan pasti ada kendala - kendala yang
dihadapi,. Adapun kendala - kendala yang
sering terjadi dalam proses bongkar sebagai
berikut:
a. Kurangnya armada Truck yang disediakan,
sehingga memperlambat proses muat atau
bongkar.
b. Kerusakan crane kapal atau darat.
c. Kerusakan pada alat bongkar atau muat
seperti; grab & bucket.

d. Cuaca yang kurang mendukung seperti;


hujan.
e. Ketersediaan barang yang kurang dari
kapasitas yang diinginkan
Ruang Lingkup Kegiatan Bongkar
Keputusan Menteri Perhubungan No.
KM.88/AL.305/Phb-85 tentang Perusahaan
Bongkar Muat Barang dari dan ke kapal
menegaskan bahwa ruang lingkup kegiatan
bongkar muat barang di pelabuhan meliputi:
a. Kegiatan Stevedoring,
b. Kegiatan Cargodoring,
c. Kegiatan Receiving atau Delivery.
Proses Bongkar
Menurut Utomo, Setyo Bambang,
(2013;59), Secara garis besar pelaksanaan
proses bongkar barang dapat dibagi dua yaitu
bongkar secara langsung dan bongkar operasi
penimbunan.
Idle Time
Menurut Suranto, (2004:140), Idle
Time yaitu waktu menganggur selama jam
kerja (berth working time), yang disebabkan
antara lain hujan, menunggu muatan,
menunggu dokumen, alat rusak, dan lainlain.
Menurut Asit, Ayiful Ramadhan, FE UI,
(2010), Idle Time adalah waktu yang terbuang
dalam melakukan bongkar muat kapal yang
disebabkan karena beberapa hal seperti
menunggu truk yang akan menerima muatan
dari kapal, kerusakan alat bongkar muatan,
serta terlambatnya proses penyelesaian
dokumen.
Menurut kamus pelayaran Indonesia
Idle time adalah Periode waktu dari saat kapal
mulai beroperasi tetapi belum menghasilkan
keuntungan.
Menurut Arwinas, Dirgahayu, (I999),
Faktor-faktor penyebab Idle Time Yaitu:
a. Keterlambatan saat mulai kerja.
b. Jam kerja selesai lebih lambat.
c. Menunggu kedatangan truk.
d. Menunggu perbaikan alat.
e. Pemasangan atau penyandaran posisi
kapal.
f. Menunggu muatan.
g. Keterlambatan dokumen muatan.
h. Cuaca Buruk atau Hujan\

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipilih penulis
sesuai dengan tujuan, obyek, prosedur dan
waktu yang tersedia, dalam pelaksanaan
penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
ini
dilakukan
mulai
pertengahan bulan Februari sampai akhir
bulan Juni tahun 2016 dan dilakukan di PT
Ampel Jaya yang terletak di jalan M. Nasir
no. 29 Blok B-8-Surabaya.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini berupa alat-alat untuk mencatat,
merekam dan mendokumentasikan yakni
kamera, note book, dan Handphone.
Teknik Pengambilan Informan
Teknik Pengambilan Informan dalam
penelitian ini direncanakan menggunakan
teknik Nonprobability sampling dengan
metode snowball sampling.
Teknik Pengumpulan Data
Sebagai pelengkap dalam pembahasan
ini maka diperlukan adanya data atau
informasi baik dari dalam perusahaan maupun
dari luar perusahaan. Penulis memperoleh
data yang berhubungan dengan menggunakan
metode sebagai berikut :
a. Metode Pengamatan
b. Metode Wawancara
c. Metode Dokumenter
Sumber Data
Untuk
menunjang
kelengkapan
pembahasan dalam penulisan karya ilmiah ini.
Penulis memperoleh data yang bersumber
dari:
a. Data Primer
b. Data Sekunder
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
adalah analisis data kualitatif. Terdapat tiga
jalur analisis data kualitatif, yaitu;
a. Reduksi Data,
b. Penyajian Data,
c. Penarikan Kesimpulan.

Rencana Pengujian Keabsahan Data


Dalam penelitian ini, penulis akan
menggunakan beberapa pengujian keabsahan
data, antara lain:
a. Menggunakan Bahan Referensi,
b. Analisis Kasus Negatif,
c. Member Check.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejarah Singkat Perusahaan
PT Ampel Jaya berdiri pada Agustus
1993 dan merupakan perusahaan stevedoring
terpadu yang bernaung dibawah kelompok
usaha Samudera Indonesia Group (SIG),
bergerak dalam usaha bongkar muat. Dimana
pada awalnya perusahaan ini hanya berupa
divisi bongkar muat yang berada dibawah
naungan PT Samudera Indonesia Tbk. Namun
dengan keluarnya Keputusan Presiden No. 4
Tahun 1985 yang mengatur tentang
pemisahan usaha bongkar muat dengan usaha
pelayaran,
maka
dengan
kebijakan
manajemen Samudera Indonesia Group divisi
bongkar muat tersebut dipisahkan. Kemudian
PT Ampel Jaya bergabung dengan PT
Perusahaan Pelayaran Nusantara Panurjwan
(PPNP) yang khusus menangani bongkar
muat petikemas dan non petikemas dan
lingkup usaha lainnya.
Visi dan Misi Perusahaan
a. Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan bongkar muat utama
dengan komitmen untuk menjadi penyedia
logistik nasional yang berintegrasi.
b. Misi Perusahaan
1) Memberikan pelayanan prima yang
konsisten, profesional dan berkualitas
tinggi.
2) Berorientasi untuk memenuhi kepuasan
pelanggan.
3) Untuk merangsang daya saing bongkar
muat nasional dengan biaya logistik
yang kompetitif serta meningkatkan
kemampuan
dan
kesejahteraan
karyawan.
Lokasi Perusahaan
PT Ampel Jaya mempunyai kantor
pusat (Head Office) di Jalan M. Nasir no. 29
Blok B-8 Surabaya.

Fasilitas Perusahaan
Fasilitas merupakan segala sesuatu yang
dapat memudahkan
dan melancarkan
pelaksanaan suatu usaha, baik berupa benda
maupun uang.
a. Sarana
Sarana yang dimiliki dan dioperasikan
untuk menunjang segala kegiatan PT
Ampel Jaya adalah :
1) Reach Stacker
2) Trailer Truck Volvo FL10
3) Trailer Truck Nissan CK-12
4) Forklift
5) Container Storage
b. Prasarana
Fasilitas yang dikelola oleh PT Ampel
Jaya meliputi :
1) Warehouse dengan luas 9000 m2
2) Domestik CFS
3) TallyMan
Data Penelitian
Data atau informasi dalam penelitian
yang telah di dapatkan dengan media
wawancara dan observasi langsung dimana
peneliti mengumpulkan data-data dengan
informan penelitian dan di konfirmasi ulang
dengan informan penelitian lainya serta
membandingkan dengan data-data pendukung
seperti foto ataupun dokumen.
Profil Informan Penelitian
Adapun informan dalam penelitian ini
adalah merupakan informan yang di anggap
mempunyai sumber data atau informasi yang
dapat menjawab permasalahan yang di teliti,
profil informan tersebut yaitu :
NO
Informan
Status
1 Dedy Tandiwali Spv. Stevedoring
2 Supriono
Foreman
3 Simon
Foreman
4 Hery Santosa
Staff Equipment
Pembahasan
Upaya Peningkatan Kegiatan Bongkar
Gandum Curah
Berdasarkan hasil wawancara dengan
informan yang telah dilakukan tentang upaya
peningkatan kegiatan bongkar gandum curah
dapat diketahui bahwa Dalam kegiatan
bongkar gandum curah membutuhkan
beberapa fasilitas peralatan di pelabuhan serta

di kapal yang digunakan baik peralatan


mekanis maupun peralatan non mekanis,
untuk peralatan mekanis antara lain sebagai
berikut:
1) Grapp digunakan untuk membongkar
barang jenis curah kering.
2) Crane digunakan untuk menurunkan
barang dari palka kapal dengan
kapasitas tertentu.
3) Hopper digunakan untuk memindahkan
gandum curah dari atas kapal ke
dermaga dengan alat bantu Crane Kapal
dan Grapp.
4) Loader
digunakan
untuk
mengumpulkan muatan di tengah palka
agar grabs dapat mengambil muatan.
5) Dump Truck digunakan sebagai alat
transportasi pengangkut muatan dari
kapal ke dermaga dan ke gudang
penumpukan
6) Timbangan
digunakan
untuk
mengetahui jumlah tonase muatan yang
sudah di bongkar dengan menggunakan
alat angkut dump truk.
Untuk peralatan non mekanis yang
digunakan untuk kegiatan bongkar gandum
curah, antara lain sebagai berikut:
a) Terpal digunakan untuk mencegah
muatan agar tidak jatuh kelaut.
b) Wire
Sling
digunakan
untuk
mengangkut alat berat seperti loader.
c) Segel digunakan untuk mengangkat alat
berat tetapi tidak boleh melebihi
kapasitasnya.
d) Sorok karet dan Sapu digunakan untuk
mengumpulkan muatan yang tercecer di
dermaga saat akan dimasukkan kedalam
dump truck melalui hoper.
e) HT (Hand Talky) digunakan untuk
berkoordinasi antara tenaga kerja yang
berada di atas kapal dengan stevedore.
Pernyataan dari informan diatas sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh R.P
Suyono. 2000, dalam bukunya yang berjudul
Shipping Pengangkutan Intermodal Ekspor
Impor Melalui Laut. Beliau menjelaskan
bahwa Dalam suatu pekerjaan bongkar muat,
perlengkapan bongkar muat merupakan salah
satu faktor penentu kecepatan dan
keselamatan bongkar muat, alat-alat yang
biasa digunakan untuk bongkar muat dibagi

menjadi dua yaitu : alat mekanis dan non


mekanis.
Pada setiap kegiatan bongkar alat yang
digunakan oleh PT Ampel Jaya Surabaya
bukan milik Perusahaan sendiri melainkan
menggunakan milik vendor atau pihak lain
yaitu peralatan milik PT Alam Sejati dan
milik Pelabuhan yang sudah ditunjuk sesuai
kesepakatan
yang
berlaku
mengenai
penyediaan
fasilitas
peralatan
guna
memperlancar proses kegiatan bongkar yang
berlangsung. Kerusakan fasilitas peralatan
yang tersedia sangat berpengaruh pada
kelancaran
proses
kegiatan
bongkar
khususnya grapp, loader dan dump truck
yang dapat merugikan perusahaan sekaligus
pemilik barang dikarenakan barang pada saat
dibongkar langsung jatuh ke dermaga
disebabkan grapp yang digunakan pada saat
proses bongkar mengalami kebocoran serta
loader yang mengalami trouble mesin dan
dump truck yang mengalami kerusakan
sehingga sering datang terlambat ke tempat
kegiatan bongkar. Kendala pada peralatan
yang digunakan untuk kegiatan bongkar
tersebut disebabkan karena kurangnya
perawatan dan kurangnya peninjauan serta
pengawasan dari perusahaan mengenai
peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan
bongkar.
Kendala kendala yang telah di
sampaikan oleh informan berdasarkan hasil
wawancara diatas sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Siagian, Henri. (2013).
Beliau menyampaikan bahwa Setiap
pekerjaan pasti ada kendala - kendala yang
dihadapi. Adapun kendala - kendala yang
sering terjadi dalam proses muat atau bongkar
sebagai berikut:
(a) Kurangnya
armada
Truck
yang
disediakan, sehingga memperlambat
proses muat atau bongkar.
(b) Kerusakan crane kapal atau darat.
(c) Kerusakan pada alat bongkar atau muat
seperti; grab & bucket.
(d) Cuaca yang kurang mendukung seperti;
hujan.
(e) Ketersediaan barang yang kurang dari
kapasitas yang diinginkan.
Adapun upaya perusahaan PT Ampel
Jaya Surabaya untuk meningkatkan kegiatan
bongkar gandum curah yaitu perusahaan perlu

meningkatkan koordinasi dengan para pihakpihak yang terkait dalam kegiatan bongkar
gandum, baik dari pihak perusahaan sendiri,
pihak pelabuhan, dan pihak lainnya, agar
proses kegiatan bongkar gandum bisa berjalan
dengan lancar. Perusahaan juga perlu
meningkatkan pengawasan terhadap peralatan
yang akan digunakan untuk kegiatan bongkar
gandum, mulai dari segi perawatan alat, umur
alat, dan kualitas atau kondisi alat yang
digunakan agar saat digunakan untuk kegiatan
bongkar tidak mengalami kendala. Selain itu
perusahaan PT Ampel Jaya Surabaya juga
perlu memiliki peralatan bongkar sendiri
seperti; Hopper, Grapp, dan Loader untuk
memaksimalkan pengawasan dan perawatan
alat yang digunakan untuk kegiatan bongkar.
Hal tersebut dilakukan guna untuk
meminimalkan terjadinya kendala pada
peralatan dan untuk memaksimalkan kegiatan
bongkar gandum curah pada perusahaan PT
Ampel Jaya Surabaya.
Upaya Meminimalisasi waktu yang
terbuang (Idle Time)
Berdasarkan hasil wawancara dengan
informan yang telah dilakukan tentang upaya
meminimalisasi waktu yang terbuang (Idle
Time) dapat diketahui bahwa perusahaan PT
Ampel Jaya Surabaya selalu melakukan
persiapan terlebih dahulu baik sarana dan
prasarana sebelum kegiatan bongkar dimulai,
mulai dari persiapan peralatan, tenaga kerja,
dan fasilitas pendukung lainnya, hal tersebut
dilakukan beberapa hari sebelum kegiatan
bongkar dilaksanakan untuk menghindari
terjadinya keterlambatan saat mulai kerja.
Akan tetapi walaupun perusahaan sudah
melakukan persiapan proses kegiatan bongkar
tidak selalu berjalan dengan lancar, pasti
terdapat faktor kendala - kendala yang
menyebabkan kegiatan bongkar harus
dihentikan sehingga terjadi waktu yang
terbuang (Idle Time), kendala tersebut
menyebabkan jam kerja yang telah ditentukan
selesai lebih lambat dari jam kerja yang telah
ditentukan sebelum kegiatan bongkar dimulai.
Sebagaimana
diungkapkan
oleh
Setiawan, Feri (2016;4) bahwa Penyebab
idle time dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa
faktor.
Faktor
idle
time
diklasifikasikan menjadi tiga, yang pertama

karena kesalahan manusia, kedua karena


kendala teknis, dan yang ketiga karena faktor
alam. kesalahan manusia diklasifikasikan lagi
menjadi beberpa faktor antara lain, menunggu
kedatangan truk, menunggu kedatangan
operator, menunggu kedatangan buruh, dan
ketarlambatan memulai pekerjaan atau
berhenti kerja lebih awal. Kendala teknis
diklasifikasikan lagi antara lain, menunggu
space kosong pada gudang, perbaikan karena
kerusakan alat, dan perbaikan kerusakan
kapal. Faktor alam meliputi hujan dan
pasang/surut. Upaya perusahaan untuk
meminimalisasi waktu yang terbuang (Idle
Time) yang disebabkan karena faktor kendala
tersebut yaitu dengan selalu mempersiapkan
semua sarana dan prasarana yang diperlukan
untuk kegiatan bongkar gandum curah di
pelabuhan, mulai dari persiapan dokumendokumen muatan, peralatan bongkar, tenaga
kerja atau buruh , dan fasilitas lainnya,
sehingga saat kegiatan bongkar berlangsung
tidak terjadi kendala-kendala yang dapat
menghambat kelancaran kegiatan bongkar
dan menyebabkan terjadinya idle time.
Alat angkut khususnya truck sangat
penting dalam kelancaran proses kegiatan
bongkar karena truck merupakan sarana
pemindahan muatan dari palkah kapal untuk
dibawa ke lokasi penimbunan atau ke gudang,
saat proses kegiatan bongkar berlangsung
sering terjadi waktu yang terbuang (Idle
Time) yang disebabkan karena truck yang
digunakan sering mengalami kerusakan atau
mogok di jalan dan supir truck yang tidak
disiplin dalam bekerja sehingga truck datang
terlambat ke tempat kegiatan bongkar. Hal ini
sesuai dengan teori yang disampaikan oleh
Asit, Ayiful Ramadhan, FE UI, 2010. Bahwa
Idle Time adalah waktu yang terbuang
dalam melakukan bongkar muat kapal yang
disebabkan karena beberapa hal seperti
menunggu truk yang akan menerima muatan
dari kapal, kerusakan alat bongkar muatan,
serta terlambatnya proses penyelesaian
dokumen.
Upaya
perusahaan
untuk
meminimalisasi waktu yang terbuang (Idle
Time) yang disebabkan karena armada truck
yang sering mogok dan tenaga kerja yang
tidak disiplin yaitu dengan melakukan
pengawasan terhadap perawatan armada truck
yang digunakan dan memberikan sanksi yang

tegas kepada para tenaga kerja yang tidak


disiplin dalam bekerja.
Perusahaan memproses perizinan ke
pihak pelabuhan mengenai pelayanan jasa
kapal dan bongkar muat barang sebelum
kapal tiba di pelabuhan, kemudian pihak
pelabuhan memberikan pelayanan terhadap
kapal yang akan sandar ke pelabuhan dan
melaksanakan
kegiatan
pembongkaran,
sehingga tidak terjadi masalah dalam hal
penyandaran kapal.
Pada saat kegiatan bongkar berlangsung
peralatan yang digunakan untuk kegiatan
bongkar ada yang mengalami kendala atau
kerusakan dan menyebabkan kegiatan
bongkar harus dihentikan dan menunggu
sampai peralatan selesai diperbaiki dan bisa
digunakan kembali, kerusakan peralatan
tersebut menyebabkan terjadinya waktu yang
terbuang (Idle Time). Hal ini sesuai dengan
teori yang disampaikan oleh Suranto
(2004:140) dalam bukunya yang berjudul
Manajemen Operasional Angkutan Laut Dan
Kepelabuhanan Serta Prosedur Impor
Barang. bahwa Idle Time yaitu waktu
menganggur selama jam kerja (berth working
time), yang disebabkan antara lain hujan,
menunggu muatan, menunggu dokumen, alat
rusak, dan lain-lain. Setiap peralatan yang
digunakan untuk kegiatan bongkar pasti
memiliki
umur
penggunaannya
atau
experiednya. Upaya perusahaan untuk
meminimalisasi waktu yang terbuang (Idle
Time) yang disebabkan karena terjadinya
kendala pada peralatan yang digunakan saat
kegiatan bongkar yaitu perlu dilakukan
adanya penggantian peralatan yang sudah
exsperied atau telah melewati umur
penggunaannya.
Muatan yang ada di kapal siap untuk
dibongkar setelah kapal sandar dan proses
bongkar dimulai, serta alat-alat bongkar telah
menempati posisinya masing-masing dan
sudah siap untuk digunakan. Pengurusan
dokumen muatan berjalan dengan lancar
karena Customer telah mengirim dokumendokumen muatan ke perusahaan beberapa hari
sebelum kegiatan bongkar dimulai dengan
tujuan agar perizinan bongkar di pelabuhan
bisa segera dilaksanakan dan berjalan dengan
lancar sehingga tidak menghambat saat proses
kegiatan bongkar berlangsung.

Faktor alam atau cuaca merupakan


salah satu faktor yang penting untuk
kelancaran kegiatan bongkar terutama hujan,
karena
apabila
terjadi
hujan
akan
menyebabkan terjadinya waktu yang terbuang
(Idle Time). hujan akan berdampak pada
muatan, sehingga apabila terjadi hujan
kegiatan bongkar harus dihentikan dan palkah
kapal harus ditutup sampai hujan berhenti, hal
tersebut dilakukan dengan tujuan untuk
melindungi muatan agar tidak basah dan
untuk menghindari komplain dari customer
atau pelanggan. Hal ini sesuai dengan teori
yang disampaikan oleh Arwinas, Dirgahayu
(1999:195) dalam bukunya yang berjudul
Petunjuk Penanganan Kapal dan Barang di
Pelabuhan bahwa Idle Time adalah
waktu yang terpakai oleh kapal selama
bertambat di dermaga yang tidak digunakan
untuk kegiatan bongkar muat dan berada
didalam jam kegiatan bongkar muat (misalnya
kegiatan yang terhenti karena hujan). Upaya
perusahaan untuk meminimalisasi waktu yang
terbuang (Idle Time) yang disebabkan karena
faktor alam atau hujan yaitu dengan selalu
memantau keadaan alam yang terjadi sebelum
melaksanakan kegiatan bongkar. misalnya
dengan menjalin hubungan dengan dinas
BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika).
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
penulis lakukan penulis dapat menyimpulkan
sebagai berikut:
a. Upaya peningkatan kegiatan bongkar
gandum curah pada PT Ampel Jaya yaitu
perlu meningkatkan koordinasi dengan
para pihak, baik dari pihak perusahaan
sendiri, pihak pelabuhan, pihak kapal dan
pihak lainnya, meningkatkan pengawasan
terhadap peralatan bongkar, mulai dari segi
perawatan alat, umur alat, dan kualitas atau
kondisi alat yang digunakan, Selain itu
perusahaan juga perlu memiliki peralatan
bongkar sendiri seperti; Hopper, Grapp,
dan Loader untuk memaksimalkan
pengawasan dan perawatan alat yang
digunakan untuk kegiatan bongkar.
b. Upaya meminimalisasi waktu yang
terbuang pada perusahaan PT Ampel Jaya
yaitu dengan selalu mempersiapkan semua

sarana dan prasarana yang diperlukan


untuk kegiatan bongkar, melakukan
pengawasan terhadap perawatan armada
truck yang digunakan dan memberikan
sanksi yang tegas kepada para tenaga kerja
yang tidak disiplin dalam bekerja dan
melakukan penggantian peralatan yang
sudah exsperied atau telah melewati umur
penggunaannya serta selalu memantau
keadaan alam yang terjadi saat akan
melaksanakan kegiatan bongkar
Saran
Berdasarkan
kesimpulan
tersebut,
penulis menyampaikan saran-saran untuk
kiranya dapat bermanfaat dan dijadikan
masukan yang positif bagi PT Ampel Jaya
Surabaya. Adapun saran-sarannya sebagai
berikut:
a. Perusahaan perlu mempunyai peralatan
berat sendiri seperti Hopper, loader, dan
grapp. mengingat komoditi yang sering di
bongkar yaitu komoditi gandum curah.
Selain itu perusahaan juga perlu
memaksimalkan
koordinasi
dengan
pemilik
peralatan
dan
melakukan
pengecekan serta pengawasan terhadap
peralatan yang akan digunakan untuk
kegiatan bongkar.
b. Sebaiknya perusahaan PT Ampel Jaya
Surabaya agar selalu memperhatikan
segala macam hambatan yang selalu terjadi
dalam kegiatan opersionalnya. misalnya:
1) Faktor Peralatan. Perusahaan harus
sering diadakan dingecekan atau
peninjauan terhadap alat bongkar yang
akan digunakan, jika perlu dibuatkan
jadwal servis berkala tiap bulan.
2) Faktor SDM. Perusahaan harus lebih
tegas dalam menegakkan peraturan
tentang disiplin kerja, jika perlu
diberikan sanksi yang tegas. Sehingga
para pekerja akan sadar pentingnya
disiplin dalam bekerja.
3) Angkutan darat atau truck. Perusahaan
perlu mengetahui bagaimana kondisi
dan perawatan truck yang digunakan
untuk memastikan truck dalam kondisi
baik dan siap untuk digunakan.
4) Faktor Alam, Sering Terjadinya hujan.
Perusahaan harus selalu memantau
keadaan alam yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Arwinas, Dirgahayu, 1999. Petunjuk
Penanganan Kapal dan Barang di
Pelabuhan, Cetakan Pertama, Penerbit
CV. Herindo Ergatama, Jakarta.
Asit, Ayiful Ramadhan, 2010. Identifikasi
Persepsi Pengguna Jasa Pelabuhan
Terhadap Pelayanan Pelabuhan
Tanjung Priok Dengan Menggunakan
Analisis Faktor, Tesis, Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Muryaningsih, Ika, 2006. Pelaksanaan
Bongkar Muat Barang Oleh PT.
Dharma Lautan Nusantara Di
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
Tinjauan Aspek Yuridis. Skripsi.
Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Hukum
dan Kewarganegaraan. Semarang.
R.P Suyono, 2000. Shipping Pengangkutan
Intermodal Ekspor Impor Melalui
Laut. Jakarta, PPM.
Setiawan, Feri, 2016. Identifikasi FaktorFaktor yang Mempengaruhi nilai Idle
Time (IT) dipelabuhan Dumai
(Dermaga A). Tesis, Fakultas Teknik
Universitas Riau, Pekanbaru.
Siagian, Henri, 2013. Penyelenggaraan
Bongkar Muat Sebagai Usaha
Penunjang Angkutan Laut, Jakarta.
Sudjatmiko, F.D.C., 1997. Pokok-Pokok
Pelayaran Niaga, Pustaka Jaya,
Jakarta.
Suranto, 2004. Manajemen Operasional
Angkutan Laut Dan Kepelabuhanan
Serta
Prosedur
Impor
Barang,
Gramedia Pustaka Utama.
Utomo, Setyo Bambang, ANT III., SH.,
M.Si., 2013. Port Terminal Operation.
Akademi Kelautan Banyuwangi.
Inpres No. 3 Tahun 1991, Tentang
Kebijaksanaan
Kelancaran
Arus
Barang untuk Menunjang Kegiatan
Ekonomi.
KM No. 14 Tahun 2002, Bab I Pasal I,
Tentang
Penyelenggaraan
dan
Pengusahaan Bongkar Muat Barang
dari dan ke Kapal.
Keputusan Menteri Perhubungan No.
KM.88/AL.305/Phb-85,
Tentang
Perusahaan Bongkar Muat Barang dari
dan ke kapal.

PP

No. 61 Tahun 2009, Tentang


Kepelabuhanan.
Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 Pasal 31,
Tentang Pelayaran.
Kamus Shipping Pelayaran Indonesia, Idle
Time, (Online), ( http://www.akpnbaht
era.ac.id/downlot.php?file=Kamus%20
Shiping%20Pelayaran%20Indonesia.do
cx. diakses 13 Juni 2016).
Ulwan, M Nashihun. 2014. Teknik
Pengambilan Sampel Dengan Metode
Purposive
Sampling.
(Online),
(http://portalstatistik.blogspot.com/2014
/02/teknik-pengambilan-sampel denganmetode.html, diakses tanggal 13
Juni 2016).