Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mengingat semakin merajalelanya tindakan kriminal, dari skala
kecilsampai skala besar, seakan-akan warga negara Indonesia ini
begitu tidak gentar menghadapi hukum. Pejabat kebal hukum, rakyat
bebal

hukum.

Ya,tampaknya

seperti

itulah

karakteristik

orang

Indonesia.Hukum menjadi semacam alat untuk bermain bagi pihakpihak tertentu. Terang saja, tindakan kriminal skala kecil dibesarbesarkansedangkan

tindakan

kriminal

skala

besar

dikecil-

kecilkan.Untuk tindakan kriminal skala besar, banyak pihak yang ingin


agarpelakunya diganjar hukuman mati agar menciptakan efek takut
bagi oranglain.dalam hal ini berarti bernilai preventif
Namun, ada pihak-pihak tertentu yang tidak menyetujuinya
bersamaan dengan adanya HAM. Adayang mengatakan hukuman mati
bukan cara irasional, tidak manusiawi, tidak bijaksana, hanya
merupakan hak Tuhan. Tetapi ada juga yang mengatakanbahwa
tindakan

ini

kesempatan

tegas
ini,

dan

bisa

saya

menjaga

wibawa

akan

mencoba

negara.Dalam
mengulas

bagaimanakahsebaiknya tentang hukuman mati dikaji dengan dengan


filsafat hukum dansistem hukum.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah sebaiknya penerapan hukuman mati dalam
sistem hukum di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Hukum
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan
danpemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep
mendasar.[1] Berkaitan dengan hukum, beberapa ahli mendefinisikan
filsafat hukumsebagai berikut:
Menurut Soetikno:
Filsafat hukum adalah mencari hakekat dari hukum, dia ingin
mengetahuiapa yang ada di belakang hukum, mencari apa yang
tersembunyi di dalamhukum, dia menyelidiki kaidah-kaidah hukum
sebagai pertimbangan nilai,dia memberi penjelasan mengenai nilai,
postulat (dasar-dasar) sampai padadasar-dasarnya, ia berusaha untuk
mencapai akar-akar dari hukum.
Menurut Satjipto Raharjo:
Filsafat hukum mempelajari pertanyaan-pertanyaan dasar dari
hukum.Pertanyaan tentang hakekat hukum, tentang dasar bagi
kekuatan mengikat dari hukum, merupakan contoh-contoh pertanyaan
yang bersifat mendasaritu. Atas dasar yang demikian itu, filsafat
hukum

bisa

menggarap

bahanhukum,

tetapi

masing-masing

mengambil sudut pemahaman yang berbedasama sekali. Ilmu hukum


positif hanya berurusan dengan suatu tata hukumtertentu dan
mempertanyakan konsistensi logis asa, peraturan, bidang sertasistem
hukumnya sendiri.
Menurut Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto:
Filsafat hukum adalah perenungan dan perumusan nilai-nilai,
kecuali itufilsafat hukum juga mencakup penyerasian nilai-nilai,
misalnya penyelesaianantara ketertiban dengan ketenteraman, antara
kebendaan

dan

keakhlakan,dan

konservatisme dengan pembaruan.

antara

kelanggengan

atau

Menurut Lili Rasjidi:


Filsafat hukum berusaha membuat dunia etis yang menjadi
latar belakang yang tidak dapat diraba oleh panca indera sehingga
filsafat hukum menjadi ilmu normatif, seperti halnya dengan ilmu politik
hukum. Filsafat hukum berusaha mencari suatu cita hukum yang
dapat menjadi dasar hukum danetis bagi ber lakunya sistem hukum
positif suatu masyarakat (seperti grundnorm yang telah digambarkan
oleh sarjana hukum bangsa Jerman yangmenganut aliran-aliran
seperti Neo Kantianisme).
Menurut Darji Darmodiharjo dan Shidarta:
Ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis, jadi objek filsafat
hukumadalah hukum, dan objek tersebut dikaji secara mendalam
sampai pada intiatau dasarnya, yang disebut dengan hakekat.[3]
Secara garis besar filsafat hukum berupa suatu ilmu yang
mengkajihukum secara mendalam, penuh kebijaksanaan, berjangka
panjang danfleksibel sehingga hukum itu sendiri menjadi selaras
(keserasian nilai-nilai)dengan karakteristik masyarakat. Kajian filsafat
hukum sendiri tentumembutuhkan cabang-cabang ilmu lain yang
berkaitan dengan hukum,seperti: antropologi hukum, sosiologi hukum,
psikologi hukum dansebagainya. Dengan demikian kajian filsafat
hukum akan mampu mencakupsemua aspek dalam masyarakat.
B. Hukuman Mati dalam Sistem Hukum Indonesia
Pada dasarnya sistem hukum di Indonesia terdiri dari tiga jenis
sistemhukum. Yaitu hukum Eropa, hukum agama dan hukum adat.
Dari ketiganya, baik pidana maupun perdata sebagian besar hukum di
Indonesia bersistemhukum Eropa.Sedangkan sistem hukum agama
dan adat biasanya berlakupada urusan perkawinan, kewarisan dan
kekerabatan.
Namun kembali pada salah satu asas berlakunya undangundangyaitu: Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih

tinggimempunyai derajat yang lebih tinggi, sehingga apabila ada dua


macamundang-undang yang tidak sederajat mengatur objek yang
sama dan salingbertentangan, maka hakim harus menerapkan
undang-undang yang lebihtinggi dan menyatakan bahwa undangundang yang lebih rendah tidak mengikat (lex superior derogat legi
inferiori). Ini berarti apabila hukumanmati diberlakukan oleh negara,
maka hukum adat perda tidak berhak menentang. Sebaliknya, jika
hukum adat atau perda memberlakukanhukuman mati tetapi negara
tidak, maka tidak boleh ada hukuman mati.
Jika ditinjau dari segi hukum agama, faktanya terdapat
beberapaagama

yang

mengindikasikan

adanya

hukuman

mati

termasuk bagian yangtidak mendukungnya. Berikut saya sampaikan


indikasi pro dan kontrahukuman mati dari berbagai agama:
1. Agama Hindu
Di dalam kitab hukum Hindu salah satunya Manawa
Dharmastra memuat tentang tindakan yang dilarang beserta
sanksinya. Beberapaayat memuat hukuman mati untuk bentuk
kejahatan tertentu.Namun dalamnti Parva (Mahbharta) ada
sebuah

percakapanantara

pangeran

Satyavan

dengan

raja

Dyumatsena sebagai berikut:


Pangeran Satyavan : Terkadang kebajikan membuat kita
mengetahuidosa dan dosa membuat kita mengetahui bentuk
kebajikan. Dan tidak akan pernah mungkin membinasakan manusia
dapat dianggap suatuperbuatan yang bijak.
Raja Dyumatsena: Apabila mengecualikan mereka yang
harusdibunuh

adalah

bijak,

apabila

perampok

dikecualikan,

Satyavan, makaperbedaan antara kebajikan dan perbuatan dosa


akan samar.
Pangeran Satyavan : Tidak dengan membinasakan seorang
pelakukejahatan,

seorang

Raja

hendaknya

menghukum

dia

sebagaiseseorang yang ditakdirkan berdasarkan Kitab. Seorang

Rajahendaknya tidak berbuat sebaliknya, mengabaikan moral untuk


merendahkan martabat pelaku kejahatan. Dengan membunuh
seorangpelanggar, Raja membunuh banyak orang tidak berdosa.
Denganmembunuh seorang perampok tunggal, istri, ibu, bapa dan
anak yangbersangkutan semuanya ikut terbunuh. Ketika dirugikan
oleh seorangpelaku kejahatan, Raja oleh karenanya harus
merenungkan persoalanpenghukuman. Terkadang orang jahat
terlihat meniru kebaikan dariorang baik. Hal tersebut mencerminkan
anak yang baik berasal dariketurunan orang jahat. Maka dari itu
sebaiknya orang jahat tidak dimusnahkan. Pemusnahan seorang
jahat

tidak

sesuai

dengan

hukumkeabadian

dalam

agama

Hindu.Percakapan ini menjadi landasan bahwa hukuman mati tidak


diperlukan dalam agama Hindu.
2. Agama Kristen
Kalangan Kristen dari umat biasa sampai pendeta baik dari
KristenKatolik maupun Kristen Protestan memiliki pandangan yang
berbedamengenai hukuman mati.Surat Paulus kepada Jemaat di
Roma bab13 ayat 1-4 tentang keharus-patuhan rakyat terhadap
pemerintahmenjadi landasan berlakunya hukuman mati. Namun
bagi kalanganKristen yang menentang, mereka berlandaskan
Exodus bab 20 ayat 13, yang menuliskan: Kamu tidak boleh
melakukan pembunuhan..
Kemudian dalam Surat Yesaya ayat 5 dijelaskan: Beginilah
firman

Allah,

Tuhan

yang

menciptakan

langit

dan

membentangkannya, yangmenghamparkan bumi dengan segala


yang tumbuh di atasnya, yang memberi nafas kepada umat
manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang
hidup di atasnya
Kesimpulannya dalam Kristen ada ayat (dalam surat Exodus)
yangmenyatakan dengan tegas bahwa tidak boleh membunuh.

3. Agama Islam
Bentuk peraturan dalam ajaran Islam terdiri darihudud (suatu
bentuk peraturan yang bentuk pelanggaran dan sanksinya sudah di
atursecara pasti dan tazir suatu bentuk peraturan yang bentuk
pelanggarannya

sudah

di

atur tetapi

bentuk

sanksinya

di

serahkankepada negara). Dalam agama Islam dikenal apa yang


dinamakan kisas (memberikan perlakuan yang sama kepada
pelaku pidana sebagaimana ia melakukannya terhadap korban.
Dasar berlakunya kisas ini adalah berdasarkan firman Allah
SWT dalam surat Al-Baqarah, yakni surat kedua dari Al-Quran, ayat
178 yang artinya: Hai orang-orang yangberiman, diwajibkan atas
kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh;
orang merdeka dengan orang merdeka, hambadengan hamba dan
wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yangmendapat pemaafan
dari saudaranya, hendaklah yang memaafkanmengikuti dengan
cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diat
kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang
demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamudan suatu
rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu,maka
baginya siksa yang sangat pedih..
Dalam penjelasannya diterangkan bahwa, diat adalah suatu
ganti rugi yang dibayarkankepada ahli waris korban. Dalam hukum
Islam hukuman mati dapat diganti dengan pembayaran ganti rugi
kepada ahli waris korbanapabila sebelumnya ahli waris korban
telah memaafkan pelakukejahatan pembunuhan atas apa yang
dilakukannya. Selanjutnya dalam ayat 179 Allah SWT berfirman:
Dan dalam kisas itu adajaminan kelangsungan hidup bagimu, hai
orang-orang yang berakal,supaya kamu ber- taqwa.
Dalam Kitab Suci umat Islam ini terdapat surat yang isinya
sangat jelas menunjukan bahwa Islam sejalan dengan teori absolut,
yakni surat Al- Maaidah ayat 45 yang artinya:

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya


bahwasanya jiwa dibalas dengan jiwa,mata dengan mata, hidung
dengan hidung, telinga dengan telinga, gigidengan gigi, dan lukaluka pun ada qishaashnya. Barangsiapa yangmelepaskan hak
qishaashnya, maka melepaskan hak itu menjadipenebus dosa
baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkaramenurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim..
Surat ini dan surat -surat sebelumnya menunjukanbahwa
Allah SWT menetapkan bahwa hukuman mati merupakanhukuman
yang setimpal bagi tindak pidana pembunuhan karenabegitu
beratnya

akibat

dari

pembunuhan

tersebut.Adapun

untuk

diberlakukannya kisas terdapat beberapa syarat, yaitu:


a.
b.
c.
d.

Pelaku seorang mukalaf, yaitu sudah cukup umur dan berakal.


Pembunuhan itu dilakukan dengan sengaja.
Unsur kesengajaan dalam pembunuhan itu tidak diragukan lagi.
Pelaku pembunuhan tersebut melakukannya atas kesadaran
sendiri,tanpa paksaan dari orang lain.
Kisas tidak dapat diberlakukan apabila pembunuhan yang

terjadi melibatkan pelaku dan korban yang memiliki hubungan


keturunan. Mengenai kisas ini banyak terjadi perbedaan pendapat
di antara para pemuka agama Islam itu sendiri, di antaranya
mengenai cara pelaksanaan kisas.
Pendapat pertama mengatakan bahwa Kisas hanya bisa
dilakukan

dengan

pedang

atau

senjata,

terlepas

dari

pembunuhanyang telah dilakukan menggunakan pedang atau tidak.


Pendapat kedua mengatakan bahwa
Kisas itu dilakukan sesuai dengan cara danalat yang
digunakan pembunuh pada saat melakukan pembunuhan.Namun
terdapat kesepakatan di antara ahli agama Islam bahwaapabila ada
alat lain yang dapat lebih cepat menghabisi nyawaterpidana, maka
boleh digunakan, sehingga penderitaan dan rasa sakit yang
dirasakan terpidana tidak terlalu lama

Bagi penegak hukum dalam negara Islam terdapat prinsip


Lebih baik salah memaafkan dari pada salah menghukum. Prinsip
ini

menunjukan

bahwa

Islam

sangat

berhati-hati

dalam

menjatuhkanhukuman, khususnya hukuman mati.


Apabila

seseorang

dilakukannya

serta

mengakuikesalahan

bertaubat

dengan

yang

telah

sungguh-sungguh,

berdasarkan surat Al-Maidah ayat 34, maka ia akan diampuni atas


perbuatannya oleh Allah. Penegak hukum Islam juga berpedoman
pada ayat tersebut dalam menegakkan hukum Islam.
Maka apabila seorang pelaku kejahatan menyerahkan diri
lalu mengakui perbuatannya dan bertaubat, hendaknya menjadi
suatu pertimbangan bagi para penegak hukum dalam proses
penjatuhan hukuman.
4. Agama Buddha
Dalam agama Budha dikenal apa yang dinamakan dengan
Panca-sila. Panca-sila dalam agama Buddha ini adalah sebagai
prinsip dasar bagiumat Budha dalam pengembangan kepribadian
agar dapat berperikelakuan baik. Aturan pertama dalam Panca-sila
adalah larangan terhadap pencabutan nyawa. Aturan pertama ini
yang dijadikan dasar dalam menentang hukuman mati. Dalam kitab
umat

Buddha,

berhubungan

Dhamma

dengan

pada,

hukuman

juga
mati

terdapat
yaitu

pasal

pasal

10

yang
yang

menyatakan Setiap orang takut akan hukuman, setiap orang takut


akan kematian, sebagaimana kamu juga rasakan. Maka janganlah
kalian membunuh atau menyebabkan terjadinya pembunuhan.
Setiap

orang

takut

akanhukuman,

setiap

orang

mencintai

kehidupan, sebagaimana kamu jugarasakan. Maka janganlah


kalian membunuh atau menyebabkan terjadinya pembunuhan..
Selanjutnya dalam pasal terakhir dari

Dhammapada ini, pasal 26, menyatakan Dia Kami sebut


brahmin,

barangsiapa

yang

menanggalkan

senjatanya

dan

menghindarikekerasan terhadap semua umat. Dia tidak membunuh


atau membantu orang lain untuk membunuh.
Hal ini diinterpretasikan oleh sebagian besar umat Buddha,
terutamaumat Buddha di Barat, sebagai suatu dasar dalam
menentang hukuman mati. Namun ada pula interpretasi yang
berbeda dengan interpretasi umat Buddha di Barat tersebut,
misalnya Thailand yangkita ketahui bahwa Buddha sebagai salah
satu agama yang resmidiakui negaranya, tetapi menerapkan
hukuman mati. Begitu pula dengan Sri Lanka, Jepang, Taiwan yang
mayoritas warga negaranya menganut agama Budha, tetap
mempertahankan hukuman mati dalamsistem hukumnya. Teori
absolut yang dipandang sebagai alasanpembenar terkuat dalam
penerapan hukuman mati tidak sejalan dengan ajaran agama
Buddha sebagaimana tersirat dalam Panca-siladan Dhammapada.
Maka tidak heran apabila hampir semua umat Budha menentang
hukuman mati sebagai pembalasan, seperti dalamajaran absolut.
Dari polling atau pemungutan suara dan jajak pendapat dari
berbagai tokoh atau pakar hukum di indonesia berdasarkan
informasi dari berbagai sumber sebagai berikut:
a. Koresponden setuju dengan adanya hukuman mati di Indon
b. Koresponden tidak setuju dengan adanya hukuman mati
diIndonesia.
Beberapa koresponden mengatakan bahwa hukuman mati
perlu diadakanterutama bagi pelaku korupsi dan terorisme atau
pembunuhan massalberencana, alasan-alasannya sebagai berikut:
a. Karena hukuman mati merupakan salah satu efek jera bagi
parapelaku kejahatan;
b. Untuk memberikan efek rasa takut terhadap calon pelaku
kriminallainnya;

c. Hukuman penjara tidak cukup karena setelah bebas bisa korupsi


lagi;
d. Jika kasusnya sangat merugikan masyarakat dan negara;
e. Seperti pemerintah RRC yang berhasil menekan kasus korupsi
denganhukuman mati;
f. Pelaku tidak serta-merta dapat dilindungi HAM karena pelaku
sendirimelanggar HAM rakyat sipil berskala besar dengan
merenggut hak makan, hak pendidikan, hak kesehatan dan
sebagainya.Beberapa koresponden yang tidak setuju dengan
adanya hukuman mati diIndonesia mengemukakan beberapa
alasannya sebagai berikut:
g. Matinya seseoranga ada di tangan Tuhan;
h. Kurang menimbulkan efek jera, lebih baik diganti dengan
pemiskinan,hukuman mental dengan mempermalukan terdakwa
di publik dansebagainya;
i. Kurang manusiawi (melanggar HAM), sebaiknya hukuman
penjaraseumur hidup;
j. Bertentangan dengan UUD Pasal 28 tentang hak hidup;
k. Kematian terdakwa tidak menyelesaikan masalah;
l. Perlu diberi kesempatan ke-dua.Jika ditinjau dari segi hukum
adat, sebagaimana tertera dalam Pandecten van het Adatrecht
bagian X bahwa dalam berbagai hukum adat terdapat salah satu
reaksi adat yaitu hukuman badan, bahkan sampaihukuman mati.
C. Salah satu kasus hukum mati yang di terapkan di indonesia
Hukuman mati terhadap amrozi cs
Amrozi bin Nurhasyim (biasa dipanggil Amrozi; lahir di
Lamongan, 5 Juli 1962 meninggal di Nusa Kambangan, 9 November
2008 pada umur 46 tahun) adalah seorang terpidana yang dihukum
mati karena menjadi penggerak utama dalam Peristiwa Bom Bali
2002. Ia berasal dari Jawa Timur.
Amrozi disebut-sebut termotivasi ideologi Islam radikal dan antiBarat yang didukung organisasi bawah tanah Jemaah Islamiyah. Pada
7 Agustus 2003, ia dinyatakan oleh pengadilan bersalah atas tuduhan

10

keterlibatan dalam peristiwa pengeboman tersebut dan divonis


hukuman mati. Namun undang-undang yang digunakan untuk
memvonisnya ternyata kemudian dinyatakan tidak berlaku oleh
Mahkamah Agung pada Juli 2004. Awalnya dipenjara di Lembaga
Pemasyarakatan (LP) Kerobokan di Denpasar, ia lalu dipindahkan ke
LP Nusakambangan pada 11 Oktober 2005 bersama dengan Imam
Samudra dan Mukhlas, dua pelaku Bom Bali lainnya.
Sikap

Amrozi

yang

tampak

tidak

peduli

sepanjang

pengadilannya membuatnya sering dijuluki media massa The Smiling


Assassin (Pembunuh yang Tersenyum). Amrozi dihukum mati pada
hari Minggu, 9 November 2008 dini hari.
Pelaksanaan hukuman mati
Walaupun vonis hukuman mati telah berlaku tetap semenjak
2003,

pelaksanaan

hukuman

tertunda

berkali-kali

karena

tim

pengacara mereka berusaha mengajukan sejumlah keberatan.


Pertama kali yang dilakukan adalah melakukan Peninjauan Kembali
(PK) atas kasus ini. Setelah ditolak pada tahun 2008 awal, kembali tim
pengacara mengajukan uji terhadap keputusan MA ke Mahkamah
Konstitusi. Usaha terakhir adalah dengan mengajukan uji terhadap
pelaksanaan

hukuman

mati,

karena

ketiga

terpidana

tidak

menginginkan dihukum mati dengan ditembak, melainkan dengan


dihukum pancung sesuai syariat Islam.[1] Usaha ini ditolak kembali
oleh Mahkamah Konstitusi.
Sebelum

pelaksanaan

hukuman

tim

pengacara

sempat

menyatakan akan membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional.


Semula dinyatakan, pelaksanaan eksekusi dilakukan sebelum
bulan Ramadan tahun 2008, namun kemudian ditunda, diduga
dengan alasan belas kasihan. Pelaksanaan menjadi jelas sejak
tanggal 5 Nopember 2008 setelah ketiganya dipindah ke ruang
pengamanan maksimum dan diberitahu bahwa paling lama dalam 3
kali 24 jam akan segera dieksekusi.

11

Dalam seluruh proses mereka meminta agar mata mereka tidak


ditutup. Tidak ada perlawanan yang mereka lakukan. Iring iringan
mobil mulai berangkat dari LP Batu, Nusa Kambangan sejak pukul
23.15 WIB menuju lokasi eksekusi di bekas LP Nirbaya, sekitar 6km
ke arah selatan Lapas Batu. Ketiganya dinyatakan meninggal sekitar
pukul 00.15 WIB.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

12

Sampai saat ini hukuman mati masih berlaku di Indonesia yang


salahsatunya sebagaimana termuat di dalam Pasal 36 UU No. 26
Tahun 2000:
Setiap

orang

yang

melakukan

perbuatan

sebagaimana

dimaksud dalamPasal 8 huruf a, b, c, d, atau e dipidana dengan


pidana mati atau pidanapenjara seumur hidup atau pidana penjara
paling lama 25 (dua puluh lima)tahun dan paling singkat 10 (sepuluh)
tahun.
Dilihat dari aspek agama, hukuman mati tidak mutlak
ditentang.Begitu juga dalam beberapa hukum adat. Namun demikian,
beberapa

pihak

tertentu

ingin

agar

hukuman

mati

berhenti

diberlakukan di Indonesia. Setelah memaparkan beberapa kajian


mengenai tentang hukuman mati, darisegi agama sosial dan adat,
maka saya akan mengemukakan beberapakesimpulan. Apakah
hukuman mati perlu ditidiadakan? Apabila hukuman mati dihapus dari
sistem hukum di Indonesia laludigantikan dengan hukuman kurungan
penjara dan pemiskinan, jika dikajisecara filosofis, jika terdakwa yang
melakukan kejahatan berskala besarmisalnya terorisme, maka besar
kemungkinan

ia

akan

membunuh

lebihbanyak

lagi.

Dengan

pertimbangan ini, hukuman mati perlu diberlakukanagar tidak ada


korban yang berjatuhan lagi.
Tetapi hukuman mati bisa sajaditiadakan apabila aparat
penegak hukum mampu menjamin untuk memberantas tuntas seluruh
jaringan yang terkait dalam kasus itu.Kenyataannya, seorang
terdakwa bandar narkoba masih bisamelakukan akses dan menguasai
jalur transaksi penjualan narkoba berskalabesar di dalam lapas.
Apabila sulit mengawasi oknum lapas yang terlibat,maka hukuman
mati perlu diberlakukan. Hukuman mati bisa ditiadakan apabila
terjamin bahwa tardakwa bandar narkoba tidak bisa berkutik
samasekali di lapas di mana pegawai lapas benar-benar bertanggung
jawab. Alasan HAM dan otoritas Tuhan mengenai hukuman mati, juga

13

tidak sepenuhnya benar. Jika membunuh terdakwa sebagai hukuman


dikatakanmelanggar HAM, lalu mengapa militer membunuh penjajah
tidak dikatakanmelanggar HAM? Padahal keduanya sama-sama
membunuh.Hukuman mati dapat ditiadakan dengan digantikan
dengan hukumankurungan penjara seumur hidup di mana fasilitas
setiap narapidana tidak dibeda-bedakan. Selain itu harus ada jaminan
atau kepastian bahwaterdakwa benar-benar jera dikurung di penjara
dan akses narapidana dengankasus kriminal berskala besar ke dunia
luar benar-benar dijaga ketat,dibatasi dan diawasi. Setiap penjaga
lapas juga harus bertanggung jawab.Bagi kasus korupsi, pemiskinan
atas aset-aset hasil korupsi harus dilakukanoleh negara. Dengan
demikian efek jera benar-benar dapat dirasakan olehpelaku dan
menjadi bentuk preventif terhadap calon pelaku.
B. Saran
Bagaimanapun juga negara belum tentu bisa menjamin bahwa
setiapaparat penegak hukum dapat bertanggung jawab sepenuhnya
ataskewajibannya. Bagi terdakwa kasus luar biasa yang tidak dihukum
mati,melainkan dihukum penjara beberapa tahun atau seumur hidup.
Ada yangmengatakan penjara seumur hidup membuat negera
mengeluarkan biayakarena narapidana bisa makan gratis seumur
hidup. Letak permasalahanbukan di situ. Tetapi selalu saja ada oknum
aparat penegak hukum yangmencari kesempatan. Tujuan agar
narapidana yang dikurung penjara agarjera, malah dengan bekerja
sama dengan oknum tertentu, narapidanatersebut masih tetap bisa
melakukan kejahatannya di dalam penjara. Kami menyayangkan
hukuman mati dihapuskan.
Menurut kami, kita tidak perlu menuntut penghapusan hukuman
mati dengan alasan apapun. Hukuman mati tetap perlu diberlakukan,
namun dengan rumusan yang tepat. Kapan, kepada siapa, karena
kasus

apa,

dengan

alasan

14

apa

dan

sebagainya.

Dengan

pertimbangan sosiologi hukum yang matang. Hukuman mati sangat


tepat diberlakukan kepada pelaku kriminal berskala besar dan kepada
kepala jaringan kriminal, yang menyebabkan kerugian materil dan
imateril yang berskala besar pula. Namun demikian, hukum harus
tetap menyelidiki dan memberantas setiap orang yang terlibat di
dalamnya. Hukuman mati perlu dihapuskan apabila hukuman mati itu
diberlakukan tanpa alasan yang jelas atau kepada pelaku kriminal
berskala kecil

15

DAFTAR PUSTAKA

Mertokusumo, Sudikno. 2003. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Edisi kelima


cetakan pertama, Yogyakarta : LIBERTY.
Rasjidi, Lili. 2001. Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum. cetakan ke-VIII.
Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

16

MAKALAH
KAJIAN FILSAFAT HUKUM TERHADAP HUKUMAN MATI
DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA

OLEH
KHAERUL MUFTI
2011020473
SEMESTER VIII

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PAMULANG
2015

17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya


menyelesaikan

makalah

ini

dengan

penuh

kemudahan.

Tanpa

pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan


dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui bagaimana
kajian filsafat hukum terhadap hukum mati. Agar para pembaca sedikit
lebih paham tentang pelaksanaan hukum di Indonesia khususnya hukum
mati.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Jakarta,

April 2015

Penulis

ii
18

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................

KATA PENGANTAR ..............................................................................

ii

DAFTAR ISI .........................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
A Latar Belakang ................................................................
B Rumusan Masalah...........................................................

BAB II

1
1

PEMBAHASAN
A Pengertian Filsafat Hukum ............................................
2
B Hukuman Mati dalam Sistem Hukum Indonesia ...........
3
C Salah satu kasus hukum mati yang di terapkan di indonesia
Hukuman mati terhadap amrozi cs................................ 10

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan .....................................................................
B. Saran................................................................................

13
14

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................

16

iii

19