Anda di halaman 1dari 14

Perencanaan Kapasitas

Produksi
Dr. Ir. Pudji Purwanti, MP
Mochammad Fattah, S.Pi, M.Si
Email : pudjipurwanti@gmail.com
1. PENDAHULUAN
- Pengantar
- Tujuan
2. Konsep Kapasitas

3. Perencanaan Kebutuhan
Kapasitas
4. Analisis Break-Even Dan
Kapasitas

1. PENDAHULUAN

9
SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION
DEVELOPMENT (SPEED)

1.1 Pengantar
Industri perikanan dalam menghasilkan produksi hasil
pengolahan, budidaya, dan penangkapan perlu memperhatikan
kapasitas fasilitas yang dimiliki suatu industry. Agar dapat
menyesuaikan tingkat kebutuhan kapasitas untuk menanggapi naik
turunnya permintaan pasar, perlu dilakukan forecast penjualan dan
merencanakan perubahan kapasitas yang dibutuhkan. Bila hal ini
tidak dilakukan, perubahan-perubahan cenderung terjadi tiba-tiba dan
drastik, sehingga akan lebih memakan biaya.
Kapasitas produksi secara umum diukur dalam bentuk unit-unit
phisik yang ditujukan berdasarkan keluaran maksimum yang
dihasilkan oleh proses produksi atau bisa juga berdasarkan jumlah
masukan yang tersedia pada setiap periode operasi.
Selain itu unit keluaran yang harus dihasilkan oleh industri agar
tidak rugi dengan pendekatan analisis break even point (titik impas).
Dari hasil perhitungan tersebut diketahui berapakah jumlah produksi
yang harus dihasilkan agar memperoleh keuntungan.
Langkah-langkah dalam penetapan kapasitas produksi adalah
penetapan kapasitas produksi yang diperlukan, formulasi alternative
untuk memenuhi kapasitas yang dibutuhkan mendatang, analisis &
evaluasi alternative, dan pilihan yang optimal dan implementasi.
Informasi dalam penentuan jumlah mesin yang dibutuhkan
adalah volume produksi yang dicapai, estimasi skrap pada setiap
proses operasi, waktu kerja standar.

SUB
MODU
L

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

1.2 Tujuan
Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai landasan dasar
Perencanaan dan pengendalian produksi diharapkan dapat :
Menjelaskan tentang konsep kapasitas
Menjelaskan tentang perencanaan kebutuhan kapasitas
Menjelaskan analisis break-even dan kapasitas

2. Konsep Kapasitas
Kapasitas suatu fasilitas adalah konsep yang mendua. Kapasitas adalah suatu
tingkat keluaran, suatu kuantitas keluaran dalam periode tertentu dan merupakan
kuantitas keluaran tertinggi yang mungkin selama periode waktu itu. Suatu kapasitas
organisasi merupakan konsep dinamik yang dapat diubah dan dikelola. Untuk berbagai
keperluan, kapasitas dapat disesuaikan dengan tingkat penjualan yang sedang
berfluktuasi yang dicerminkan dalam skedul produksi induk (master production
schedul).
Hubungan antara kapasitas dan skedul-skedul induk adalah sangat penting.
Karena skedul produksi mencerminkan apa yang akan diproduksi organisasi,
kemampuan untuk memenuhi rencana ini tergantung pada kapasitas yang tersedia
sekarang atau dalam jangka pendek diwaktu mendatang, atau tergantung pada
kemampuannya untuk memperluas kapasitas ini dalam jangka waktu lebih panjang.
Dalam konteks ini kapasitas juga berarti jumlah masukan sumberdaya-sumberdaya
yang tersedia relatif untuk kebutuhan keluaran pada waktu tertentu.
Unit keluaran
Salah satu masalah sehubungan dengan konsep kapasitas adalah unit (satuan)
keluaran. Unit-unit produksi pada umumnya tidak homogin. Atas dasar hal ini,
perusahaan penting mempertimbangkan konsep campuran produk (product mix) ketika
menyusun rencana untuk masa mendatang, yaitu dengan memerinci kapasitas masingmasing jenis dan ukuran produk secara individual.
Waktu
Waktu menimbulkan masalah lain dalam konsep kapasitas. Seorang manajer
yang membicarakan tentang kapasitas akan membicarakan kuantitas keluaran dalam
periode waktu tertentu. Setiap perusahaan akan berbeda-beda dalam menentukan
berapa lama tingkat keluaranyang harus dicapai. Sebagai contoh, suatu pabrik
mempunyai kapasitas X unit. Kita tidak mengetahui apakah kapasitas tersebut dicapai
dalam satu hari atau enam bulan. Untuk menghindari masalah ini, konsep "tingkat
pengoperasian terbaik" perlu digunakan. Ini merupakan tingkat kapasitas untuk mana
proses dirancang dan merupakan volume keluaran dimana biaya rata-rata per unit
adalah minimum seperti ditunjukkan dalam gambar 1.

Page 2 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

Biaya ratarata Per unit


keluaran

Tingkat pengoperasian
terbaik

Volume produksi

Gambar 1. Tingkat pengoperasian terbaik


Berbagai Definisi Kapasitas
Kapasitas adalah suatu ukuran kemampuan produktif suatu fasilitas per unit
waktu. Beberapa definisi kapasitas yang secara umum diterima, dapat diperinci sebagai
berikut :
1. Design capacity. Yaitu tingkat keluaran per satuan waktu untuk mana pabrik
dirancang.
2. Rated capacity. Yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang menunjukkan bahwa
fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya.
3. Standard capacity. Yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang ditetapkan sebagai
"sasaran" pengoperasian bagi manajemen, supervisi dan para operator mesin; dapat
digunakan sebagai dasar bagi penyusunan anggaran. Kapasitas standar, tingkat sisa
(scrap) standar, berhenti untuk pemeliharaan standar, cadangan untuk pengawasan
kualitas standar, dan sebagainya.
4. Actual dan atau operating capacity. Yaitu tingkat keluaran rata-rata per satuan waktu
selama periode-periode waktu yang telah lewat. Ini adalah kapasitas standarlebih
kurang cadangan-cadangan, penundaan, tingkat sisa nyata dan sebagainya.
5. Peak capacity. Yaitu jumlah keluaran per satuan waktu yang dapat dicapai melalui
maksimisasi keluaran, dan akan mungkiin dilakukan dengan kerja lembur menambah
tenaga kerja, menghapuskan penundaan-penundaan, mengurangi jam istirahat dan
sebagainya.
Kapasitas atau tingkat keluaran ini pada umumnya dinyatakan dalam satuansatuan sebutan persamaan, seperti ton, kilogram, meter, atau jam kerja yang tersedia.
Sedangkan satuan-satuan waktu yang sangat penting bagi perencanaan kapasitas,
dapat dinyatakan dalam satuan jam, hari, minggu datau bulan. Dalam praktek diantara
pengertian-pengertian kapasitas diatas, perusahaan biasanya menggunakan tingkat
kapasitas nyata atau perusahaan biasanya menggunakan tingkat kapasitas nyata atau
kapasitas pengoperasian yang ditentukan dari laporan-laporan atau catatan-catatan
pusat kerja. Bila informasi ini tidak tersedia, "rated capacity" digunakan dan dapat
diperkirakan dengan rumusan :
Rated =
[ jumlah ] [ [ Jam kerja ] [ persentase ]
[ efisiensi ]
Capacity
[ mesin ] [ [
mesin
] [ penggunaan] [ sistem ]
Sebagai contoh, suatu pusat kerja beroperasi 6 hari per minggu dengan basis dua " shift
" (8 jam per shift) dan mempunyai empat mesin dengan kemampuan sama. Bila mesinmesin digunakan 75 % dari waktu pada tingkat efisiensi sistem sebesar 90 %, tingkat
keluaran dalam jam kerja standar per minggu dapat dihitung sebagai berikut :
Page 3 of 14

Perencanaan kapasitas produksi


Rated Capacity

Brawijaya University 2012

= (4) (8 x 6 x 2) (0,75) (0,90) = 259 jam kerja standar/minggu

Kapasitas yang dinyatakan sebagai suatu " rated " tersebut (misal, jam
standar perminggu) dipengaruhi oleh berbagai faktor ; baik faktor-faktor yang
dikendalikan (controllable) seperti tanah, tenaga kerja, fasilitas, alternatif urutan
pengerjaan, pemeliharaan preventif, dan sebagainya, maupun faktor-faktor yang tidak
dapat dikendalikan (uncontrollable) seperti kerusakan mesin, tingkat absensi,
kekurangan bahan, pengerjaan kembali dan sisa produksi, prestasi tenaga kerja, dan
masalah-masalah peralatan yang tidak biasa.
Manajemen operasi juga menekankan pentingnya dimensi waktu kapasitas. Dari
sudut pandangan ini, kapasitas pada umumnya dibedakan antara perencanaan
kapasitas jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Secara lebih
terperinci, pembedaan perencanaan kapasitas atas dasar lama waktu dapat diuraikan
sebagai berikut :
1.
Perencanaan kapasitas jangka panjang (long range) lebih dari satu tahun. Di
mana sumber daya sumber daya produksi memakan waktu lama untuk
memperoleh atau menyelesaikannya, seperti bangunan, peralatan atau faslitas.
Perencanaan kapasitas jangka panjang memerlukan partisipasi dan persetujuan
manajemen puncak.
2.
Perencanaan kapasotas jangka menengah (intermediate range) rencana-rencana
bulanan atau kuartalan untuk 6 sampai 18 bulan yang akan datang. Dalam hal
ini, kapasitas dapat bervariasi karena alternatif-alternatif seperti penarikan
tenaga kerja, pemutusan kerja, peralatan-peralatan baru, sub contracting dan
pembelian peralatan-peralatan bukan utama.
3.
Perencanaan kapasitas jangka pendek kurang dari satu bulan. Ini dikaitkan pada
proses penjadwalan harian atau meingguan dan menyangkut pembuatan
penyesuaian-penyesuaian untuk menghapuskan
"variace" antara keluaran yang direncanakan dan keluaran nyata.
Keputusan perencanaan mencakup alternatif-alternatif seperti kerja lem bur, pemindahan personalia, penggantian routing produksi.

3. Perencanaan Kebutuhan Kapasitas


Peramalan terutama lebih penting bagi produk-produk yang diproduksi untuk
persediaan daripada untuk memenuhi pesanan langganan tertentu. Forecast ini
dilakukan untuk menyusun skedul produksi induk (master production schedule) dan
untuk mengerek permintaan kapasitas di waktu yang akan datang dibandingkan dengan
kapasitas yang tersedia. Dalam arti ini, kapasitas menetapkan batasan-batasan atas
bagi skedul-skedul produksi. Di samping itu, kapasitas juga memberikan batasanbatasan bawah, karena selama periode penjualan rendah adalah tidak ekonomik untuk
mengurangi kapasitas secara drastik.
Kapasitas Tenaga Kerja dan Kerja lembur untuk Perluasan Kapasitas
Bagi perusahaan biasanya adalah tidak ekonomik untuk menambah dan
mengurangi tenaga kerja dengan naik dan turunnya penjualan. Ini bukan berarti bahwa
jumlah karyawan adalah sumber daya kapasitas yang tetap, tetapi penyesuianpenyesuaian benar (substansial) dapat dibuat tanpa harus menarik lebih banyak orang
dan kemudian memutuskan hubungan kerja dengan mereka.
Sebagai contoh, anggap bahwa suatu perusahaan untuk membuat produknya
memerlukan karyawan yang bekerja normal 5 hari selama 40 jam dengan jumlah
sebagai berikut :
Juni

300
Page 4 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

Juli
400
Agustus
600
September
450
Oktober
400
Beban tenaga kerja dalam bulan Agustus adalah dua kali lipat bulan Juni.
Bagaimanapun juga, jumlah orang yang dibututuhkan adalah dalam artian "karyawan
ekuivalen" yang bekerja 40 jam satu minggu. Tetapi jumlah jam per minggunya dapat
diubah, dan kelebihan jumlah kerja dapat kita sub kontrakkan atau dengan penimbunan
persediaan.
Berikut tabel 1 merupakan sebuah rencana yang feasibel bagi jam kerja pabrik
untuk memenuhi kebutuhan penjualan dengan menggunakan tenaga kerja konstan :
Bulan
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober

Tabel 1 Rencana Feasibel bagi


Jumlah
Jumlah
jam
karyawan
per minggu
350
34
350
46
350
58
350
51
350
46

jam kerka Pabrik


Karyawan
ekuivalen
yang dikontrak dari luar
92
-

Penggunaan kerja lembut, subkontrak dari luar, atau penimbunan persediaan


merupakan keputusan-keputusan manajerial dan tergantung pada biaya-biaya relatif
masing-masing alternatif.
Khusus tentang kerja lembur yang direncanakan untuk menghadapi periodeperiode penjualan puncak mempunyai berbagai kebaikan dan kelemahan. Kebaikan
kerja lembur adalah
menaikkan upah karyawan sehingga akan membuat para
karyawan lebih senang. Kerja lembur meminimumkan kebutuhan penarikan lebih
banyak karyawan dan kemudian memberhentikan mereka. Perubahan jumlah karyawan,
naik atau turun, biasanya menghasilkan produktivitas rendah. Di samping itu, kadangkadang perusahaan tidak dapat memperoleh cukup orang dengan ketrampilanketrampilan yang disyaratkan.
Kerja lembur bukannya tanpa masalah. Salah satu masalah adalah bahwa
pendapatan para karyawan berfluktuasi karena kerja lembur tidak dilakukan secara
teratur dan terus menerus. Masalah lain adalah turunnya produktivitas bila pekerjaab
tidak didasarkan atas kecepatan mesin atau kecepatan tetap ban berjalan (conveyor).
Dan bila produksi menurun selama jam kerja lembur biaya-biaya tenaga kerja selama
berjam-jam tersebut menjadi penghalang. Turunnya upah karyawan bila kerja lembuir
dihentikan akan membuat para karyawan merasa "kehilangan", sehingga mereka
mungkin menurunkan kecepatan kerjanya agar perlu dilanjutkan dengan kerja lembur.
Satu lagi masalah adalah bila karyawan menolakj untuk melakukan kerja lembur, maka
manajer mungkin harus menarik karyawan dari bagian atau departemen lain yang
belum berpengalaman dan bukan bidangnya dengan konsekuensi menurunnya kualitas
atau kecepatan produksi.
Lebih lanjut, perencanaan tenaga kerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan
lain, seperti hilangnya produksi karena kelelahan, tingkat absensi dan perputaran
tenaga kerja. Disisi lain, karyawan tidak langsung yang mendukung pekerjaan para
karyawan langsung perlu juga direncanakan sebaik mungkin. Ini terutama karena
orang-orang "tidak langsung" mungkin merupakan karyawan teknik yang sulit
didapatkan dan karena sulit untuk melakukan estimasi berapa banyak karyawan tidak
langsung yang dibutuhkan. Banyak perusahaan menggunakan suatu jenis rasio antara
karyawan tidak langsung dengan karyawan langsung atau dengan beban kerja pabrik
untuk melakukan estimasi tersebut.
Penentuan Kebutuhan Kapasitas
Page 5 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

Pada dasarnya, penentuan jumlah unit kapasitas misalnya jam kerja karyawan
atau mesin, juga diperlukan selama periode waktu tertentu dibuat melalui perhitungan
rasio permintaan terhadap kapasitas satu unit sumberdaya. Jadi, bila 500 jam kerja
karyawan dibutuhkan untuk memenuhi permintaan selama satu bulan dan seorang
karyawan bekerja 160 jam per bulan, maka diperlukan 3,125 karyawan. Dalam praktek,
bagaimanapun juga sejumlah faktor-faktor tambahan harus dipertimbangkan dalam
penentuan kebutuhan kapasitas ini.
Dalam bentuk matematikal, persamaan-persamaan berikut ini menyatakan unitunit jam kerja dan sumberdaya yang dibutuhkan untuk memenuhi berbagai permintaan.
Tercakup dalam persamaan-persamaan adalah faktor-faktor seperti produktivitas dan
efisiensi. Persamaan pertama menghitung jam sumberdaya standar, kedua menghitung
jam sumberdaya nyata dan ketiga jumlah unit sumberdaya.
Jumlah total jam sumberdaya standar yang dibutuhkan untuk memenuhi
permintaan akan X produk-produk yang berbeda dengan Ni setiap jenis produk adalah
sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan dan memproduksi setiap
unit ditambah waktu untuk mempersiapkan setiap kumpulan atau :
Hstd

x
= [ 0I (Ti + Si) + Bi Ni ]
i=1

Dimana,
Hstd = Jumlah total jam sumberdaya yang dibutuhkan untuk memenuhi
permintaan
Oi
= Jumlah unit keluaran X yang diperlukan
Ti
= Waktu pengoperasian standar per unit X
Si
= Waktu persiapan standar per unit keluaran X
Bi
= Waktu standa untuk mempersiapkan sekumpulan X
Ni
= Jumlah kumpulan X yang diperlukan.
X
= Jumlah jenis produk sebagai contoh produk 1, produk 2, dst.
Jumlah sumberdaya nyata yang dibuthuhkan adalah jam sumberdaya standar dibagi
efisiensi dan produktivitas atau :

Dimana :
Hact = Jam sumberdaya nyata yang dibutuhkan
Eo
= Efisiensi organisasional
Pw = Produktivitas operator
Em = Efisiensi mesin, faktor pemeliharaan atau faktor mesin berhenti (rusak)
Jumlah unit sumberdaya yang dibutuhkan (peralatan, mesin atau karyawan)
adalah sama dengan jam sumberdaya nyata yang dibutuhkan dibagi jumlah jam yang
tersedia per unit sumberdaya.

Dimana :
Nr

= Jumlah unit sumberdaya yang dibutuhkan (peralatan, mesin atau


karyawan)
Havl = Jumlah jam yang tersedia per unit sumberdaya selama periode
Page 6 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

waktu tertentu
Contoh soal:
Sebuah perusahaan menghadapi permintaan produk sebesar 200 unit. Ada 22 hari kerja
per bulan, Waktu pengoperasian standar per unit sebesar 8 jam, dan iini memerlukan
waktu setengah jam untuk persiapan setiap unit, 200 unit produk akan diproses dalam
10 kumpulan. Pada akhir setiap kumpulan, mesin harus diuji dan disesuaikan kembali
sebelum kumpulan berikutnya diproses. Waktu penyiapan ini memerlukan 4 jam.
Efisienfi organisasional diperkirakan 95 % dari mesin-mesin beroperasi dengan efisiensi
90 %, berarti selama mesin-mesin dioperasikan dengan kecepatan wajar, diperlukan
waktu penundaan untuk pemeliharaan selama 48 menit per hari. Mesin-mesin
dijalankan 8 jam per hari dan para operator mesin bekerja sesuai tingkat standar
(1,00). Berapa jumlah mesin yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan bulanan ?
x
Hstd = [ 0I (Ti + Si) + Bi Ni ]
i=1
Hanya ada satu produk, sehingga X = 1, dan
Hstd = 200 (8 +0,5) + 4 (10) = 1.740 jam standar

Apakah hasil tersebut dibulatkan menjadi 12 mesin dengan terdapat waktu


menganggur atau 11 mesin dengan operator harus bekerja lembur tergantung pada
biaya-biaya setiap alternatif. Bila biaya-biaya yang diakibatkan mesin ke 12 (biaya
depresiasi, pemeliharaan, overhead dan sebagainya) lebih kecil daripada biaya-biaya
kerja lembur (atau biaya-biaya insentif untuk mendapatkan para operator dan mesinmesin bekerja lebih cepat), maka mesin ke 12 harus digunakan.
Economic of scale
"Economic" berarti penghematan biaya-biaya produksi atau kenaikan
produktivitas. Dalam perencanaan kapasitas, kita perlu mempertimbangkan faktorfaktor yang digolongkan dalam apa yang disebut economic of scale atau sering pula
dinamakan faktor-faktor yang mengakibatkan increasing return to scale. Faktor-faktor
increasing return to scale ini memungkinkan operasi-operasi perusahaan untuk
memproduksi produk secara massa. Bila perusahaan memperbesar skala pabrik dengan
menaikkan volume produksi melalui penambahan kapasitas pabrik, maka kita dapat
bayangkan adanya kemungkinan peningkatan produktivitas.
Sebagai contoh, dengan mesin-mesin yang lebih besar biaya produksi per unit
menurun; atau semakin besar skala perusahaan semakin besar kemungkinan
mengadakan pembagiankerja didalam perusahaan; dan sebagainya. Faktor-faktor ini
akan mengakibatkan kenaikan produktivitas atau penurunan biaya per unit keluaran.
Diseconomies of scale
Diseconomies of scale atau decreasing return to scale mencakup faktor-faktor
yang bekerja sebaliknya, yaitu bila skala perusahaan terus semakin besar mulai pada
Page 7 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

suatu tingkat produksi tertentu ada kemungkinan timbul penurunan produktivitas atau
kenaikan biaya-biaya produksi per unit keluaran. Penurunan produktivitas dan kenaikan
biaya produksi per unit ini biasanya disebabkan adanya ketidak-efisienan operasioperasi perusahaan.
Sebagai contoh, karena perusahaan "terlalu besar", pengawasan yang efektif dari
manajemen terhadap operasi perusahaan mulai sulit dilakukan, atau karena perusahaan
mendominasi pasar maka perusahaan menjadi lengah dalam memberikan tanggapan
terhadap perubahan-perubahan proses dan permintaan.
Salah satu pekerjaan penting para manajer produksi dan operasi adalah untuk
menemukan suatu keseimbangan antara economies of scale melalui perancangan dan
pengoperasian sistem-sistem produksi yang berskala tepat.

4. Analisis Break-Even Dan Kapasitas


Analisis break-even digunakan untuk menentukan berapa jumlah produk (dalam
rupiah atau unit keluaran) yang harus dihasilkan, agar perusahaan minimal tidak
menderita rugi. Analisis ini merupakan peralatan yang berguna untuk menjelaskan
hubungan antara biaya, penghasilan dan volume penjualan atau produksi, sehingga
banyak digunakan dalam penganalisaan masalah-masalah ekonomi manajerial. Analisis
break-even menunjukkan berapa besar laba perusahaan yang akan diperoleh atau rugi
yang akan diderita pada berbagai tingkat volume yang berbeda-beda diatas dan
dibawah titik break even.
Banyak perusahaan yang harus beroprasi diatas 60 % dari kapasitasnya untuk
mencapai break-even. Secara normal, hampir semua perusahaan beroperasi pada
kapasitas sekitar 85 %, walaupun banyak yang menginginkan untuk beroperasi pada 92
sampai 93 %. Tingkat kapasitas ini, sekali lagi dipengaruhi oleh situasi "economies of
scale" atau "diseconomies of scale".
Untuk menghitung titik break-even, perlu ditentukan terlebih dahulu biaya-biaya
tetap dan variabel untuk berbagai volume penjualan. Ini dapat dilakukan untuk operasi
keseluruhan atau proyek-proyek individual. Titik break-even merupakan titik dimana
penghasilan total sama dengan biaya total. Dalam bentuk rumus diformulasikn sebagai
berikut;
P x Q = F + (V x Q)
Dimana : P = harga per unit
Q = kuantitas yang dihasilkan
F = Biaya tetap total
V = biaya variabel per unit.
Karena Q (kuantitas) tidak diketahui padahal yang kita cari, kita dapat
menggunakan aljabar untuk merumuskan kembali persamaan ini sebagai berikut;
PQ = F + VQ
F = Q(P-V)

Contoh soal :
Harga penjualan produk A adalah Rp. 100.000,- per unit, dan biaya bahan
mentah dan tenaga kerja langsung sebesar Rp. 80.000,- per unit. Biaya tetap per bulan
Rp. 20.000.000,-. Titik break even dalam unit keluaran dapat dihitung :

Page 8 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

(dalam rupiah)

Biaya dan penghasilan

Secara grafik, analisis break-even dalam contoh dapat digambarkan seperti


terlihat pada gambar 2.

Laba

Biaya variabel
total

Break Even Point


20.000.00
0

Penghasilan total
Biaya total

Rugi
Biaya tetap total

10.000

Kuantitas

Gambar 2. Bagan break-even


Kontribusi laba
Istilah (P-V) disebut "kontribusi", yaitu jumlah kelebihan atau selisih harga jual
per unit diatas biaya variabel per unit (atau penghasilan total melebihi biaya variabel).
Dalam contoh kita, harga jual satu produk A memberikan kontribusi sebesar Rp.
20.000,- terhadp penutupan biaya tetap sampai titik break even tercapai. Diatas 1.000
unit, kontribusi Rp. 20.000,- akan berupa laba sebelum pajak.
Hubungan-hubungan ini dapat digunakan oleh para manajer dalam perencanaan
kapasitas mereka. Manajer dapat menentukan, pengeruh pada laba (atau rugi)
perubahan-perubahan kuantitas yang dihasilkan. Bila manajer ingin mengetahui pada
volume berapa laba akan sebesar Rp. 5.000.000,- maka cara termudah adalah
membagi Rp. 5.000.000,- dengan Rp. 20.000,-dan mendapatkan 250 unit diatas
volume break-even, atau 1.250 unit dalam total yang akan dihasilkan. Dalam bentuk
rumusan jumlah yang dihasilkan total adalah :

Page 9 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

Bagaimanapun juga, agar lebih realistik, manajer perusahaan perlu memasukkan


pajak pendapatan karena semua laba yang dihasilkan penjualn diatas titik break-even
adalah laba kena pajak. Oleh karena itu, rumusan untuk mencari volume yang
dihasilkan sekarang menjadi :

Misalkan dalam contoh kita, tingkat pajak adalah 40 %, maka jumlah yang harus
dihasilkan untuk memperoleh laba Rp. 5.000.000,- adalah :

Kita juga dapat melakukan manipulasi variabel-variabel dalam persamaan, bila


terjadi perubahan biaya variabel, harga jual dan biaya tetap atau perubahan-perubahan
yang terjadi bersamaan, untuk mencari titik break-even.
Rasio kontribusi
Untuk maksud perencanaan kapasitas, kita penting mengetahui "rasio kontribusi"
atau kadang-kadang disebut "variasi laba" untuk produk-produk individual.
Rasio ini mengukur kontribusi relatif produk sebagai persentasi harga per unit.
Rumusan perhitungannya adalah :

Dengan menggunakan contoh soal diatas, maka kita dapatkan :

Rasio-rasio kontribusi yang rendah sering diakibatkan tingginya biaya-biaya


bahan mentah dan tenaga kerja relatif dibanding harga yang dapat ditetapkan.
Perubahan-perubahan dalam volume total tidak akan berpengaruh banyak pada laba
atau rugi bila biaya-biaya variabel relatif tinggi dibanding harga jual. Sebaliknya, bila
biaya tetap merupakan bagian lebih besar dari biaya total maka rasio-rasio kontribusi
produk-produk individual akan lebih besar, dan perubahan-perubahan volume
memberikan pengaruh cukup besar pada laba dan rugi.
Hubungan-hubungan ini penting karena setelah manajer mengetahui besarnya
rasio kontribusi, dia dapat mempromosikan penjualan produk yang mempunyai
kontribusi paling besar dan barangkali menghentikannya dari garis produk bagi yang
mempunyai rasio kontribusi rendah, sehingga memperoleh opportunity cost tinggi.
Rasio-rasio ini juga dapat membantu manajer untuk memutuskan apakah melakukan
atau tidak pekerjaan-pekerjaan pada harga yang meliput biaya-biaya variabel tetapi
hanya sebagian biaya-biaya tetap.
Bagan-bagan Break-Even dan Penentuan Kapasitas
Bila pabrik beroperasi pada atau dibawah kapasitas, hubungan antara biaya,
Page 10 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

(dalam rupiah)

Biaya dan Penghasilan

penghasilan dan laba adalah seperti ditunjukkan dalam bagan break-even dalam
gambar 2. Tetapi sering juga terjadi permntaan melebihi kapasitas. Bila kelebihan
kapasitas ini timbul hanya sementara, kapasitas mungkin harus ditambah atau diperluas
melalui kerja lembur dengan biaya-biaya ekstra. Dalam kasus ini, baga break-even
perusahaan akan berubah dari yang ditunjukkan pada gambar 2 menjadi seperti yang
ditunjukkan dalam gambar 3. Seperti terlihat dalam gambar 3, selama laba baru "A"
lebih besar daripada laba lama "B" kegiatan penambahan kapasitas dengan kerja
lembur ini merupakan kegiatan yang menguntungkan.

A
Penghasilan
B

Biaya

Kapasitas
tambahan
dari kerja
lembur

Kuantitas

Gambar 3. Break-even dan perencanaan kapasitas


Bagaimanapun juga, bila volume penjualan lebih besar daripada kapsitas
permanen, maka barangkali kapasitas harus diperluas melalui penambahan lebih
banyak mesin dan tidak hanya menggunakan kerja lembur. Perubahan seperti ini akan
menghasilkan bagan break-even baru seperti ditunjukkan pada gambar 4. Tingkat biaya
tetap baru yang lebih tinggi akanmerubah titik break-even sedkit ke kanan (volume
lebih tinggi diperlukan). Keputusan penambahan kapasitas ini tentu saja harus
menghasilkan laba yang lebih besar daripada sebelumnya.
Bahkan bila permintaan diatas kapasitas di atas kapasitas normal hanya bersifat
musiman, mungkin masih menguntungkan untuk melakukan penambahan kapasitas
permanen yang ditunjukkan dalam gambar 4. Hal ini akan benar , sebagai contoh, bila
laba tambahan adalah lebih besar daripada pengurangan laba selama periode waktu di
mana operasi-operasi kembali ke tingkat kapasitas lama.
Apakah kapasitas harus ditambah secara permanen atau tidak dapat dihitung dengan
pedoman sebagai berikut :
Bila : Laba lama pada kapasitas lama adalah Po
: Laba baru pada kapasitas lama adalah Pn
Page 11 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

: Laba dengan kapasitas baru tetapi pada tingkat kapasitas lama adalah Pr
: Bagian dari periode waktu (misal, satu tahun (dimana operasi-operasi
akan pada tingkat kapasitas barau adalah F1
: Bagian dari periode waktu dimana operasi-operasi akan pada tingkat
kapasitas barau adalah F2
Maka kapasitas baru harus dipasang setiap kali.

Biaya dan penghasilan

[ Pn x F1 ] + [ Pr x F2 ] > Po

Penghasilan
Biaya dengan kapasitas
tambahan

Biaya dengan
kerja lembur

Kuantitas

Gambar 4.

Break Even dengan kapasitas tambahan

Hambatan-hambatan dalam penggunaan Analisis Break-Even


Analisis break-even harus digunakan dengan hati-hati karena banyaknya asumsi
yang dibuat. Pertama, sulit untuk memisahkan biaya-biaya tetap dari biaya-biaya
variabel dalam banyak operasi, sering hal ini hanya merupakan estimasi kasar. Kedua
biaya-biaya variabel tidak selalu konstan seoerti garis lurus, ditunjukkan bagan break
even diatas. Kadang-kadang economies of scale mengakibatkan biaya variabel per unit
turun dengan naiknya volume yang dihasilkan. Pada saat lain, diseconomies of scale
naik dengan naiknya volume. Begitu juga, biaya-biaya tetap mungkin tidak selamanya
konstan dengan berubahnya " range " volume. Volume yang semakin besar hanya
menurunkan harga dengan mempengaruhi margin konstribusi, tidak menaikkan laba.
Pada gambar 10-5 ditunjukkan biaya-biaya tetap mungkin naik sesuai kenaikan
volume karena ada kebutuhan untuk menambah kapasitas, misal membeli mesin
tambahan. Ini juga berlaku untuk penambahan "shift " kedua yang menaikkan upah
supervisi dan tenaga kerja tidak langsung.
Dalam gambar 5 juga ditunjukkan bahwa garis biaya-biaya variabel tidak
selamannya berupa garis lurus. Karena economies of scale biaya variabel total mungkin
naik lebih lambat daripada naiknya volume sampai kapasitas tertentu. Kemudian biayabiaya variabel total cenderung untuk meningkat lebih cepat daripada naiknya volume
Page 12 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

Biaya dan penghasilan

karena ketidak-efisienan "shift" kedua dan ketiga , kemacetan dan diseconomies of


scale lainnya.
Akhirnya, garis penghasilan total jarang berupa garis lurus. Sejalan dengan usaha
perusahaan untuk meningkatkan volumenya, mungkin harus menurunkan harga
barang-barangnya agar dapat menjual lebih banyak. Ini mempunyai pengaruh dengan
membuat garis penghasilan total melengkung pada sisi kana dari bagan. Bila kita
menganggap bentuk kurva biaya dan penghasilan seperti yang ditunjukkan pada
gambar 5, volume yang akan menghasilkan laba paling besar adalah titik tepat sebelum
titik A.

B
Biaya
total

Penghasilan
total

Biaya
tetap
Kapasitas

Kapasitas

Kapasitas

Kuantitas

Shift
Shift
Shift
kedua
pertama
ketiga
Gambar 5. Bagan break even dengan perubahan-perubahan
"tidak biasa

REFERENSI
Handoko. 1999. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. BPFE. Yogyakarta
Wignjosoebroto. 2009. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Guna Widya.
Surabaya

PROPAGASI
1.

Latihan dan Diskusi (Propagasi vertical dan Horizontal)


Pilihlah suatu produk industri perikanan, kemudian hitunglah kapasitas produksi
yang harus dihasilkan agar memperoleh keuntungan dan biaya yang dikeluarkan
minimum!

2.
1.

Pertanyaan (Evaluasi mandiri)


Bagaimana konsep kapasitas produksi?
Page 13 of 14

Perencanaan kapasitas produksi

Brawijaya University 2012

2.
3.
4.

Apakah manfaat menghitung kapasitas produksi?


Bagaimana cara menghitung kapasitas produksi?
Harga penjualan produk industri perikanan A adalah Rp. 200.000,- per
unit, dan biaya bahan mentah dan tenaga kerja langsung sebesar Rp. 110.000,per unit. Biaya tetap per bulan Rp. 30.000.000,-. Berapakah titik break even
dalam unit keluaran? dan jelaskan masksud dari nilai tersebut! Serta gambarlah
grafik titik impas tersebut!
5.
Apakah maksud dari hasil dari titik impas atas dasar kuantitas sebesar
1.437 unit?
3.
4.

QUIZ -mutiple choice (Evaluasi)


PROYEK (Eksplorasi entrepreneurship, penerapan topic bahasan pada
dunia nyata)

Page 14 of 14

Anda mungkin juga menyukai