Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Hipotiroid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada salah satu
tingkat dari aksis hypothalamus-hipofisis-tiroid end organ, dengan akibat terjadinya
defisiensi hormon tiroid ataupun gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid.1
2.2 Fisiologi Tiroid
Hormon tiroid adalah satu-satunya zat yang mengandung iodine signifikansi fisiologis
pada vertebrata. sel tiroid aktif ekstrak dan berkonsentrasi iodida dari plasma. Thyroxin
(T4) sebuah prohormon, diubah menjadi triido-thyronine (T3), bentuk aktif dari hormon
tiroid, di jaringan perifer oleh 5'-deiodinasi. Pada awal proses penyakit, mekanisme
kompensasi mempertahankan tingkat T3.
Tiroid normal menghasilkan semua T4 beredar dan sekitar 20% dari T3 beredar.
Sebagian besar aktivitas biologis hormon tiroid adalah karena efek selular dari T3, yang
memiliki afinitas yang lebih besar untuk reseptor hormon tiroid dan sekitar 4 sampai 10
kali lebih kuat dari T4.
Setelah T4 dan T3 dilepaskan ke dalam sirkulasi, mereka terikat oleh thyroxinebinding globulin (TBG), transthyretin (tiroksin mengikat prealbumin), dan albu-min.
Tiroksin-binding globulin memiliki afinitas tertinggi untuk T4 dan T3 dan kapasitas
terendah, sedangkan albumin memiliki afinitas terendah dan kapasitas tertinggi. Hanya
gratis (terikat) fraksi T4 dan T3 mampu mengikat reseptor hormon tiroid yang ada di
jaringan perifer dan memiliki aktivitas biologis. Biasanya, sekitar 0,03% dari T4 dan
0,5% dari T3 bebas.
Perubahan kapasitas pengikatan hormon tiroid protein transportasi secara signifikan
dapat mempengaruhi ukuran-ment konsentrasi hormon tiroid total dan dengan demikian
menyulitkan diagnosis hipotiroidisme. Diagnosis yang akurat dari penyakit tiroid lebih
sulit pada pasien dengan beberapa kelainan pada tiroid hormon binding protein.3
2.3 Patofisiologi
Penyakit lokal dari kelenjar tiroid yang menghasilkan produksi hormon tiroid
menurun adalah penyebab paling umum dari hipotiroidisme. Di bawah circum-sikap
normal, tiroid melepaskan 100 sampai 125 nmol T4 sehari-hari dan hanya sejumlah kecil
3

T3. penurunan produksi T4 menyebabkan peningkatan sekresi TSH oleh kelenjar


hipofisis. TSH merangsang hipertrofi dan hiper-plasia kelenjar tiroid dan tiroid T4-5'aktivitas deiodinase. Hal ini pada gilirannya menyebabkan tiroid untuk melepaskan lebih
banyak T3. Kekurangan hormon ini memiliki berbagai macam efek, karena semua sel
yang aktif secara metabolik membutuhkan hormon tiroid. Efek sistemik adalah karena
baik de-rangements dalam proses metabolisme atau efek langsung oleh infiltrasi
myxedematous (yaitu, akumulasi glu-cosaminoglycans dalam jaringan).
Selanjutnya, efek dari kekurangan hormon tiroid pada pertumbuhan dan
perkembangan, pada metabolisme perantara, pengembangan sistem saraf pusat dan
fungsi, dan kardiovaskular, tulang, pencernaan, dan aktivitas sistem reproduksi telah
charac-terized. Mereka secara singkat diringkas selanjutnya.3
2.4 Epidemiologi3
Dalam bentuk yang jelas secara klinis nya, hipotiroidisme adalah kondisi relatif
umum, dengan prevalensi perkiraan 2% pada wanita dewasa dan 0,2% pada laki-laki
dewasa meningkat menjadi 15% pada usia 75 tahun. Hypothyroidism adalah yang paling
umum pada populasi lanjut usia, dengan 2 sampai 20% dari kelompok usia yang lebih
tua memiliki beberapa bentuk hipotiroidisme. orang dewasa yang lebih tua, terutama
yang lebih dari 60 tahun, memiliki insiden yang lebih tinggi dari penyakit subklinis bila
dibandingkan dengan orang dewasa muda dengan prevalensi 6% pada wanita yang
lebih tua dan 2% pada pria yang lebih tua. Studi Framingham ditemukan hipotiroidisme
(TSH> 10 mIU / L) dalam 5,9% dari perempuan dan 2,4% dari pria yang lebih tua dari
60 tahun.
Terjadinya bervariasi dengan genetika dengan prevalensi tinggi di Kaukasia, dan
penyakit ini lebih sering terjadi pada populasi dengan asupan yodium yang tinggi.
Prevalensi PPTD di daerah yodium-cukup adalah 5 sampai 10%. Dalam Kesehatan dan
Gizi Ujian Survey Nasional, kemungkinan memiliki hipotiroidisme adalah 5 kali lebih
besar pada orang usia 80 dan lebih tua dari pada individu usia 12-49. Hypothyroidism
lebih sering terjadi pada wanita dengan ukuran tubuh yang kecil saat lahir dan indeks
massa tubuh rendah selama masa kanak-kanak. Tabel 1 daftar beberapa faktor yang
terkait dengan peningkatan risiko untuk mengembangkan hipotiroidisme.

2.5 Gambaran Klinis


Manifestasi klinis dan hipotiroid tergantung dari penyebab maupun derajat
keparahannya. Perlu diketahui bahwa pada hipotiroid didapatkan variasi individual.
Sebagian pasien dapat memberikan gambaran klinis hipotiroid yang ringan walaupun
secara biokimiawi fungsi tiroid mereka menunjukkan gambaran hipotiroid berat,
sebaliknya sebagian pasien juga dapat memberikan manifestasi klinis hipotiroid yang
full-blown walaupun secara biokimiawi fungsi tiroid mereka menunjukkan gambaran
hipotiroid ringan. Beberapa gejala yang tidak spesifik pada hipotiroid antara lain lemah
badan, konstipasi, kulit kering serta peningkatan berat badan. Hipotiroid juga dapat
memiliki gejala yang spesifik terkait usia maupun jenis kelamin pada setiap penderita
misalnya : gangguan pertumbuhan pada anak - anak, menoragia pada wanita subur,
gangguan kognisi pada enderita usia lanjut.4
a. Pada Neonatus :
- Ikterus fisiologik persisten
- Tangisan parau
- Konstipasi
- Somnolen
b. Pada anak :
- Tubuh pendek
- Pubertas terlambat
c. Pada orang dewasa :
- Tidak spesifik dan muncul tiba-tiba
d. Pada pasien lanjut usia :
Gejala :
- Rasa kelelahan
- Letargi
- Konstipasi
- Intoleransi dingin
- Kram otot
- Aktivitas intelektual dan motorik melambat
5

- Nafsu makan berkurang


- Berat badan meningkat
- Rambut menjadi kering dan cenderung mudah lepas
- Kulit menjadi kering
- Suara menjadi lebih berat dan parau
- Ketepatan pendengaran menurun
Gambaran klinis :
a. Miksedema kemerahan nampak
b. Rambut tumbuh jarang
c. Bengkak periorbital
d. Lidah yang besar dan pucat
e. Kulit yang dingin terasa kasar dan berbenjol benjol5
2.6 Etiologi
a. Tiroiditis Kronik Autoimun (Hashimoto's Thyroiditis)
merupakan kelainan kronik dimana terjadi destruksi autoimun dari kelejar
tiroid yang ditandai dengan adanya infiltrasi limfosit, pembesaran kelenjar tiroid serta
ditemukannya antibodi terhadap tiroglobulin ANti-Tg dan tiroid peroksidase (AntiTPO).
b. Defek genetik
Spektrum dari defek genetik yang menyebabkan hipotiroid pada manusia
terdiri dari defek pada kelenjar tiroid, hipofise ataupun hipotalamus, defek sintesis
dari T4 maupun TSH, defek membran dari sel transporter hormon tiroid maupun
defek dari reseptor dijaringan perifer, defek dari daur ulang yodium pada kelenjar
tiroid maupun jaringan perifer, hipotiroid merupakan bagian dari sindroma genetik.
c. Akibat Radioterapi
Radioterapi untuk mengobati penyakit-penyakit tiroid seperti Grave's, toksik
nodular goiter, non toksik nodular goiter serta penyakit-penyakit non tiroid seperti
limfoma non hodgkin maupun tumor solid daerah kepala leher dapat menimbulkan
kondisi hipotiroid.

d. Akibat obat-obatan
Obat anti tiroid yang digunakan pada penderita tirotoksitosis, human
recombinant cylokin seperti interferon- serta interleukin-2, amiodarone tyrosin
kinase inhibitors serta litium karbonat merupakan obat-obatan yang dapat
menyebabkan hipotiroid.
e. Penyakit Infiltratif
Suatu kelainan yang sangat jarang dimana jaringan kelenjar tiroid serta
jaringan-jaringan disekitarnya termasuk otot digantikan oleh jaringan fibrotik
sehingga kelenjar tiroid membesar dengan konsistensi yang keras. Kelainan ini
dikenal dengan nama Rindel's thyroiditis. Selain itu penyakit infiltratif seperti
amlioditis, sarkoidosis, skleroderma, hemokromatosis serta sistinosis juga dapat
menyebabkan gangguan pada kelenjar tiroid.4
f. Pengaruh Obat Farmakologis6
Dosis OAT (Obat Anti Tiroid) berlebihan dapat menyebabkan hipotiroidisme.
Dapat juga terjadi pada pemberian litium karbonat pada pasien psikosis, terlebih kalau
AM/AT ANtibodi pasien (+). Hati-hatilah menggunaan fenotoin dan fenobarbital
sebab meningkatkan metabolisme tiroksin dihepar. kelompok kolestiramin dan
kolestipol dapat mengikat hormon tiroid diusus. Defisiensi yodium berat serta
berlebihan yodium kronis menyebabkan hipotiroidisme dan gondok, tetapi sebaliknya
kelebihan akut menebabkan IIT (Iodine Induced tyrotoxcisos). Penyebab lain : sitokin
(IF-, IL-2), aminoglutamid, etioamida, sulfonamid, sigaret, lingual tiroid. Untuk ini
kasus dengan hepatitis virus C yang diobati dengan IF- perlu diperiksa status
tiroidnya.
Bahan farmakologis yang menghambat sintesis hormon tiroid yaitu tionamid
(MTU, PTU, karbimazol), perklorat, sulfonamid, yodida (obat batuk, amiodaron
media kontras Ro, garam litium) dan yang meningktkan katabolisme/penghancuran
hormon tiroid : fenitoin, fenobarbital, dan yang menghambat jalur enterohepatik
hormon tiroid : kolestipol dan kolesteramin).

Tabel 1. Faktor yang terkait dengan peningkatan risiko hipotiroidisme3


S/N
1
2
3
4
5
6
7

Faktor
Usia di atas 60 tahun
Jenis kelamin perempuan
Gondok
Penyakit nodular tiroid
Sejarah hipotiroidisme, hipertiroidisme, tiroiditis
riwayat keluarga penyakit tiroid
Sejarah radioterapi untuk kanker kepala dan leher

8
9

(radiasi eksternal dan yodium 131)


Penyakit autoimun non-tiroid
Obat-obatan (lithium, amiodaron)

2.7 Tanda Dan Gejala Penyebab Hipotiroid6

Gejala

Tanda

a. tidak tahan udara


dingin
(cold intolerance)
b. kulit kering
c.berat badan meningkat
d. nafsu makan menurun
e. konstipasi
f. depresi
g. mudah mengantuk
h. suara menjadi parau
i. gangguan menstruasi
j. lemah badan

a. gerakan lambat
b. bicara lambat
c. wajah bengkak
d. bradikardia
e. hiporefleksia

Tabel 2 gejala dan tanda penyebab hipotiroid4


Temuan
Pembesaran kelenjar gondok yang difus

Penyebab hipotiroid
Tiroiditis autoimun kronik (Hashimoto's

tanpa disertai nyeri

Tiroiditis) konsumsi obat-obatan anti tiroid


8

Pembesaran kelenjar gondok yang difus

Tiroiditis de Quervain's

disertai nyeri
Nyeri kepala, gangguan visual

Tumor hipofise atau tumor hipotalamus

2.8 Diagnosis
2.8.1 Anamnesis
a. Rasa capek
b. Sering mengantuk
c. Tidak tahan dingin
d. Lesu, lamban
e. Rambut alis mata lateral rontok
f. Rambut rapuh
g. Lamban bicara
h. Berat badan naik
i. Mudah lupa
j. Dispnea
k. Suara serak
l. Otot lembek
m. Depresi
n. Obstipasi
o. Kesemutan
p. Reproduksi : oligomenorea, infertil, aterosklerosis
q. Tipe sentral : gangguan visus, sakit kepala, muntah1
2.8.2 Pemeriksaan fisik
a. Kulit kering, pucat, dingin, kasar
b. Gerakan lamban
c. Edema wajah
d. Refleks fisiologis menurun
e. Lidah tebal dan besar
f. Otot lembek, kurang kuat
g. Obesistas
h. Edema ekstremitas
i. Bradikardia1
9

2.9 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan penunjang pada kasus hipotiroid diantaranya :
a. Darah perifer lengkap
b. Kreatin fosfokinase
c. Antibodi TPO
d. Anti Tg-Ab
e. Pemeriksaan TSH, T3, FT4
f. Profil lipid
g. Biopsi aspirasi jarum halus bila terdapat struma
h. Elektrokardiogram (untuk mencari komplikasi jantung)
Pada hipotiroidisme subklinis, TSH naik, namun kadar hormon tiroid dalam batas
normal. gejala dan tanda tidak ada atau minimal.1
2.10 Diagnosis Banding1
Diagnosis banding penyakit hipotiroid :
a. Eutyroid sick syndrome
b. Insufisiensi adrenal
c. Gagal hati
d. Efek obat-obatan
e. Depresi
f. Sindrom lelah kronik
2.11 Tatalaksana
2.11.1 Non Farmakologis
a. Edukasi
b. Pemantauan fungsi tiroid berkala

2.11.2 Farmakologis
1. levotiroksin : pagi hari dalam keadaan perut kosong. dosis rata-rata substitusi L-T
adalah 112 g/hari atau 1,6g/kgBB atau 100-125 g sehari. untuk L-T adalah 2550 g. sebagian besar kasus membutuhkan L-T 100-200 g/hari. untuk pasien -

10

pasien kanker tiroid pasca tiroidektomi, dosis T4 rata-rata adalah 2,2 g/kgBB/hari/
target TSH disesuaikan dengan latar belakang kasus.
2. untuk hipotiroidisme subklinis tidak dianjurkan memberikan terapi rutin apabila
TSH <10 mU/L. Subtitusi tiroksin diberikan untuk memperbaiki keluhan dan
kelainan objektif jantung. Terapi diberikan dengan levotiroksin dosis rendah (25-50
g/hari) hingga mendapatkan kadar TSH normal.1
ukur kadar TSH

meningkat

normal

ukur kadar fT4

kecurigaan kelainan

hipotiroidisme subklinis

hipotiroidisme

TPOAb+ simtomatik TPOAb asimtomatik

rendah

tidak

hipotiroidisme
tidak memerlukan pemeriksaan lanjutan
ukur kadar fT4

TPOAb+

TPOAb+

hipotiroidisme primer
singkirkan penyebab lain

terapi T4

follow up tahunan

ya

rendah

normal

tidak memerlukan pemeriksaan lanjutan

11 fungsi hipofis
terapi T4 singkirkan efek obat, sick euthyroid syndrome, evaluasi

Algoritma penatalaksanaan pasien hipotiroidisme : 1


2.12 Komplikasi1
a. Koma miksedema
b. Depresi
c. Kelainan neuropsikiatri
12

d. Penyakit jantung
2.13 Hipotiroidisme Pada Kehamilan
WHO merekomendasikan intake iodium sebesar 200 g.hari selama kehamilan untuk
mempertahankan produksi hormon tiroid yang adekuat. Hipotiroidisme pada kehamilan
berbahaya bagi ibu, maupun bayi. Hipotiroidisme berat pada ibu dapat menyebabkan
anemia, miopati, gagal jantung kongestif, pre-eklampsia, abnormalitas plasenta, berat
bayi lahir rendah, dan perdarahan post partum. Hipotiroidisme ringan dapat bersifat
asimtomatik pada kehamilan. bagi bayi, hipotiroidisme pada ibu dapat menyebabkan
hipotiroidisme kongenital yang dapat menyebabkan abnormalitas fungsi kognitif,
neurologik dan gangguan perkembangan. karena itu, semua bayibaru lahir hendaknya
dilakukan penapisan untuk mengetahui ada tidaknya hipotiroidisme kongenital
sehingga bayi dapat segera diberikan terapi. abnormalitas ringan pada perkembangan
otak bayi dapat timbul pada wanita hamil dengan hipotiroidisme ringan yang tidak
diterapi. karena itu, beberapa ahli merekomendasikan untuk memeriksa kadar TSH
wanita sebeum hamil atau segera setelah kehamilan ditegakkan, terutama apabila
wanita tersebut beresiko tinggi memiliki kelainan tiroid. kadar TSH >2,5 IU/L dapat
dianggap abnormal. kadar TSH 2,5-10 IU/L dianggap sebagai hipotiroidisme primer
tanpa melihat ada tidaknya penurunan kadar fT4.
Wanita dengan riwayat hipotiroidisme harus memeriksa kadar TSH pada awal
kehamilan. apabila TSH normal, maka tidak perlu dimonitor lebih lanjut. Namun
apabila dapat diketahui hipotiroidisme, maka terapi dengan levotiroksin diperlukan
untuk mencapai kadar TSH (0,1-2,5 IU/L pada trimester 1, 0,2-0,3 IU/L pada
trimester 2, 0,3-3,0 IU/L pada trimester 3) dan fT4 normal. Terapi hipotiroidisme pada
kehamilan sama dengan pasien yang tidak hamil, hanya saja kebutuhan levotiroksin
saat kehamilan meningkt 25 - 50%. Tes fungsi tiroid dapat diulang selama 6-8 minggu
selama kehamilan. Apabila terdapat perubahan pada dosis levotiroksin, maka tes fungsi
tiroid harus dilakukan 4 minggu kemudian. Setelah melahirkan, maka dosis levotiroksin
kembali seperti tidak hamil.. Suplemen kehamilan yang mengandung zat besi dapat
menurunkan absorpsi hormon tiroid pada saluran cerna sehingga harus dikonsumsi
dengan jarak minimal 23 jam dari konsumsi levotiroksin.1
2.14 Prognosis

13

Bila dilakukan terapi sejak dini maka terjadi perbaikan gejala klinis maupun fungsi
mental penderita secara nyata. Relaps dapat terjadi jika pengobatan mengalami
interupsi. Secara umum, respon terhadap pengobatan memberikan hasil yang
memuaskan.3

14