Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

DOSIS OBAT DAN RESPON


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Farmakologi

Disusun Oleh :
IIS ISTIKOMAH

14330130

Kelas : D

FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Judul
Dosis Obat dan Respon
1.2 Latar Belakang
Mencit digunakan sebagai hewan model hidup dalam berbagai kegiatan penelitan terutama
yang akan diterapkan pada manusia. Hewan ini mudah didapat, mudah dikembangbiakkan dan
harganya

relatip murah, ukurannya

kecil sehingga mudah ditangani, jumlah anak

perperanakannya banyak. Sebagaimana makhluk hidup lainnya selama pertumbuhan dan


perkembangannya mencit tidak dapat lepas dari pengaruh berbagai faktor lingkungan hidupnya.
Dosis obat yang harus diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan
tergantung dari banyak faktor, antara lain usia, bobot badan, jenis kelamin, besarnya permukaan
badan, beratnya penyakit dan keadaan si pasien.
Righting reflex adalah reaksi tubuh pada hewan untuk kembali k e p o s i s i
semula

sehingga

kuku

dan

kakinya

menempel

ke

tanah

setelah

s e b e l u m n ya diposisikan pada posisi terlentang. Hal tersebut diuji dengan cara mengangkat
ekor mencitdan meletakkannya pada posisi terbalik.
Dilihat dari usia, dosis dapat memberikan efek-efek yang bervariasi. Pada anak-anak kecil
dan terutama bayi-bayi yang baru lahir (neonati) menunjukkan kepekaan yang lebih besar
terhadap obat, karena fungsi hati dan ginjal serta sistem-sistem enzimnya

belum lengkap

perkembangannya. Untuk orang-orang tua dengan usia di atas 65 tahun, lazimnya lebih peka
pula untuk obat, karena sirkulasi darahnya sudah berkurang begitu pula fungsi hati dan ginjalnya
hingga eliminasi obat berlangsung lebih lambat, sementara jumlah albumin darahnya lebih
sedikit maka pengikatan obat lebih berkurang. Hal ini berarti bahwa bentuk bebas dan aktif dari
obat-obat ini menjadi lebih besar dan bahaya keracunan bertambah. Akhirnya pada mereka tidak
jarang terjadi kerusakan-kerusakan umum (difus) pada otak yang mengakibatkan meningkatnya
kepekaannya untuk obat-obat dengan kerja sentral, misalnya obat-obat tidur (khususnya barbitalbarbital, nitrazepam), morfin dan turunannya, neuroleptika dan antidepresiva.
Untuk kebanyakan obat, keseragaman respons pasien terhadap obat terutama disebabkan oleh
adanya perbedaan individual yang besar dalam factor-faktor farmakokinetik; kecepatan

biotransformasi suatu obat menunjukkan variasi yang terbesar. Variasi dalam berbagai factor
farmakokinetik dan farmakodinamik ini berasal dari perbedaan individual dalam kondisi
fisiologik, kondisi patologik, factor genetic, interaksi obat dan toleransi. Fasefarmakokinetik
berkaitannya dengan masuknya zat aktif ke dalam tubuh. Pemasukan in vivo tersebut secara
keseluruhan merupakan fenomena fisiko-kimia yang terpadu di dalam organ penerima obat. Fase
farmakokinetik ini merupakan salah satu unsur penting yang menentukan profil keberadaan zat
aktif pada tingkat biofase dan yang selanjutnya menentukan aktivitas terapetik obat.
1.3 Tujuan
- Memperoleh gambaran bagaimana rancangan eksperimen untuk memperoleh DE50 dan
-

DL50.
Memahami konsep indeks terapi dan implikasi implikasinya.

BAB II
LANDASAN TEORI
Dosis obat yang harus diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan
tergantung dari banyak faktor, antara lain usia, bobot badan, jenis kelamin, besarnya permukaan
badan, beratnya penyakit dan keadaan si pasien.
Dilihat dari usia, dosis dapat memberikan efek-efek yang bervariasi. Pada anak-anak
kecil dan terutama bayi-bayi yang baru lahir (neonati) menunjukkan kepekaan yang lebih besar
terhadap obat, karena fungsi hati dan ginjal serta sistem-sistem enzimnya belum lengkap
perkembangannya. Untuk orang-orang tua dengan usia di atas 65 tahun, lazimnya lebih peka
pula untuk obat, karena sirkulasi darahnya sudah berkurang begitu pula fungsi hati dan ginjalnya
hingga eliminasi obat berlangsung lebih lambat, sementara jumlah albumin darahnya lebih
sedikit maka pengikatan obat lebih berkurang. Hal ini berarti bahwa bentuk bebas dan aktif dari
obat-obat ini menjadi lebih besar dan bahaya keracunan bertambah. Akhirnya pada mereka tidak
jarang terjadi kerusakan-kerusakan umum (difus) pada otak yang mengakibatkan meningkatnya
kepekaannya untuk obat-obat dengan kerja sentral, misalnya obat-obat tidur (khususnya barbitalbarbital, nitrazepam), morfin dan turunannya, neuroleptika dan antidepresiva.
Untuk kebanyakan obat, keseragaman respons pasien terhadap obat terutama disebabkan
oleh adanya perbedaan individual yang besar dalam factor-faktor farmakokinetik; kecepatan
biotransformasi suatu obat menunjukkan variasi yang terbesar. Variasi dalam berbagai factor
farmakokinetik dan farmakodinamik ini berasal dari perbedaan individual dalam kondisi
fisiologik, kondisi patologik, factor genetic, interaksi obat dan toleransi. Fasefarmakokinetik
berkaitannya dengan masuknya zat aktif ke dalam tubuh. Pemasukan in vivo tersebut secara
keseluruhan merupakan fenomena fisiko-kimia yang terpadu di dalam organ penerima obat. Fase
farmakokinetik ini merupakan salah satu unsur penting yang menentukan profil keberadaan zat
aktif pada tingkat biofase dan yang selanjutnya menentukan aktivitas terapetik obat.

1. Indeks Terapi
Hampir semua obat pada dosis yang cukup besar menimbulkan efek toksis dan pada
akhirnya dapat mengakibatkan kematian (dosis toksis = TD dan dosis letal = LD). Takaran pada
mana obat menghasilkan efek yang diinginkan disebut dosis terapeutik.
Untuk menilai keamanan dan efek suatu obat, dalam laboratorium farmakologi dapat
dilakukan percobaan-percobaan binatang dan yang ditentukan adalah khususnya DE50 dan
DL50 yaitu dosis yang menghasilkan efek pada 50% dari jumlah binatang dan dosis yang
mematikan 50% dari jumlah binatang. Perbandingan antara kedua dosis ini dinamakan indeks
terapi yang merupakan suatu ukuran untuk keamanan obat; semakin besar indeks terapi, semakin
aman penggunaan obat tersebut. Akan tetapi, hendaknya diperhatikan bahwa indeks terapi ini
tidak dengan begitu saja dapat dikorelasikan terhadap manusia, seperti halnya dengan semua
hasil dari percobaan binatang berhubung perbedaan-perbedaan metabolism.
Efek suatu senyawa obat tergantung pada jumlah pemberian dosisnya. Jika dosis yang
diberi dibawah titik ambang (subliminsal dosis), maka tidak akan didapatkan efek. Respon
tergantung pada efek alami yang diukur. Kenaikan dosis mungkin akan meningkatkan efek pada
intensitas tersebut. Seperti obat antipiretik atau hipotensi dapat ditentukan tingkat
penggunaannya, dalam arti bahwa luas (range) temperature badan dan tekanan darah dapat
diukur.
Hubungan dosis efek mungkin berbeda-beda tergantung pada sensitivitas indivdu yang
sedang menggunakan obat tersebut. Sebagai contoh untuk mendapatkan efek yang sama
kemungkina dibitihkan dosis yang berbeda pada individu yang berbeda. Variasi individu dalam
sensitifitas secara khusus mempunyai efek semua atau tak satupun sama.
Hubungan frekuensi dosis dihasilkan dari perbedaan sensitifitas pada individu sebagai
suatu rumusan yang ditunjukan pada suatu log distribusi normal. Jika frekuensi kumulatif (total
jumlah binatang yang memberikan respon pada dosis pemberian) diplotkan dalam logaritma
maka akan menjadi bentuk kurva sigmoid. Pembengkokan titik pada kurva berada pada keadaan
dosis satu-separuh kelompok dosis yang sudah memberikan respon. Range dosis meliputi
hubungan dosis-frekuensi memcerminkan variasi sensitivitas pada individi terhadap suatu obat.
Evaluasi hubungan dosis efek di dalam sekelompok subyek manusia dapat ditemukan
karena terdapat perbedaan sensitivitas pada individu-individu yang berbeda. Untuk menentukan
variasi biologis, pengukauran telah membawa pada suatu sampel yang representative dan
didapatkan rata-ratanya. Ini akan memungkinkan dosis terapi akan menjadi sesuai pada
kebanyakan pasien.

2.

Dosis respon obat


Jika dosis meningkat maka intensitas efek obat pada makhluk hidup juga meningkat.
Jika dosis berlebih maka akan menyebabkan over dosis bahkan kematian karena rentang
indeks terapinya terlalu rendah sehingga menimbulkan efek toksik.
Jika dosis kurang maka tidak akan menimbulkan efek teurapeutik.

BAB III
PERCOBAAN
3.1 Alat
- Sonde
- Spuit 1cc
- Alat Timbangan hewan
- Stopwatch
3.2 Bahan
- Mencit Jantan 5 ekor
- Phenobarbital
3.3 Prosedur Percobaan
-

Ambil mencit sebanyak 5 ekor.


Timbang masing masing mencit dengan timbangan.
Setiap mencit diberi tanda supaya mudah diketahui.
Hitung masing masing dosis phenobarbital.
Obat phenobarbital diberikan secara oral kepada setiap mencit.
Siapkan stopwatch pada saat mencit diberikan injeksi phenobarbital.
Amati perubahan mencit sampai kembali beraktivitas normal.

3.4 Hasil
Perhitungan Dosis
Diketahui :
Volume obat

= 100 ml

Mencit 1
Berat = 39 g
0,0026 x 100 mg = 0,26
x 0,26 = 0,51

Vol =

x 1 ml = 0,01 ml

Pengenceran 10 x = 0,01 x 10 = 0,1 ml


Mencit 2
Berat = 33 g
0,0026 x 200 mg = 0,52
x 0,52 = 0,86

Vol =

x 1 ml = 0,02 ml

Pengenceran 10 x = 0,02 x 10 = 0,2 ml


Mencit 3
Berat = 26 g
0,0026 x 400 mg = 1,04
x 1,04 = 1,4

Vol =

x 1 ml = 0,03 ml

Pengenceran 10 x = 0,03 x 10 = 0,3 ml


Mencit 4
Berat = 32 g

0,0026 x 600 mg = 1,56


x 1,56 = 2,5

Vol =

x 1 ml = 0,05 ml

Pengenceran 10 x = 0,05 x 10 = 0,5 ml


Mencit 4
Berat = 32 g
0,0026 x 800 mg = 2,08
x 2,08 = 3,3

Vol =

x 1 ml = 0,06 ml

Pengenceran 10 x = 0,06 x 10 = 0,6 ml


Menggunakan obat Phenobarbital secara oral
Hewan

Dosis
Perubahan

Mencit 1
Mencit 2
Mencit 3
Mencit 4
Mencit 5

0,1 ml
0,2 ml
0,3 ml
0,5 ml
0,6 ml

Aktivitas
1,21
2,45
3,17
2,49
3,11

Pengamatan (waktu timbul efek dalam menit)


RR+
Sedasi Hipnoti Anestesi
19,36
11,49
-

23,28
4,47
10,19
4,56
4,05

k
25,00
14,31
17,07
13,00
5,04

24,15
7,34
15,20
9,40
4,35

Normal
27,40
22,44
42,59
21,12
38,27

BAB IV
PEMBAHASAN
Percobaan dosis respon obat dan indeks terapi ini bertujuan untuk memperoleh (LD50)
dan (ED50) serta memahami konsep indeks terapi pada hewan percobaan, yaitu mencit dengan
berat sekitar 26-39 g. Sementara obat yang diujikan indeks terapinya adalah phenobarbital.
Pemberian dilakukan secara oral . Cara pemberian oral pada mencit yaitu diberikan
dengan alat suntik dilengkapi dengan jarum oral/sonde oral (berujung tumpul atau berbentuk
bola).sonde ini dimasukan kedalam mulut,ditempelkan pada langit-langit atas mulut
mencit,kemudian perlahan dimasukan memlalui tepi langit-langit kebelakang sampai esofagus.
Dalam praktikum ini digunakan injeksi Phenobarbital 50 mg / ml yang diberikan pada
hewan percobaan (mencit) untuk mengetahui onset dan durasi obat. Phenobarbital adalah
senyawa hipnotik yang digunakan sebagai antikonvulsan, anti epilepsi dan hipnotik / sedatif.
Tetapi karena yang akan dilihat adalah onset dan durasinya maka efek yang lebih diutamakan
adalah efek hipnotik sedativenya. Sediaan injeksi Phenobarbital terlebih dulu diencerkan
konsentrasinya hingga volume 10 mg/ml. Dosis yang disuntikkan pada mencit harus disesuaikan
dengan berat badan masing masing mencit.
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat yang relatif
tidak selektif, mulai dari yang ringan, yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan
hingga yang berat, yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma, dan mati bergantung
kepada dosis. Hipnotik dapat dibagi dalam beberapa kelompok yakni senyawa barbiturate dan
benzodiazepine, obat lain (seperti meprobamat dan opipramol), serta obat obsolet (seperti
kloralhidrat). Bila digunakan dalam dosis yang meningkat, suatu sedatif (misalnya fenobarbital),
akan menimbulkan efek berturut-turut peredaan, tidur, dan pembiusan total. Sedangkan pada
dosis yang lebih besar lagi, dapat menimbulkan koma, depresi pernapasan, dan kematian.
Penggunaan tiopental natrium sebagai hipnotik sedatif telah menurun karena efeknya yang
kurang spesifik terhadap sistem saraf pusat.
Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih. Hewan ini digunakan sebagai
hewan percobaan karena memiliki struktur dan sistem organ yang hampir mirip dengan struktur
organ yang ada di dalam tubuh manusia.Mencit memiliki karakteristik mudah ditangani dan
bersifat penakut, fotofobik, cenderung berkumpul dengan sesamanya, bersembunyi dan lebih

aktif beraktivitas pada malam hari. Mencit yang digunakan adalah mencit yang berjenis
kelamin jantan, karena mencit jantan tidak memiliki siklus menstruasi seperti mencit
betina.Perbedaan hormon saat mensturasi pada mencit betina dapat mempengaruhi efek obat
pada mencit ,dengan berat masing-masing 39 g,33 g, 26 g, 32 g,32 g. Berat badan mencit
digunakan untuk mendapatkan hasil konversi dosis. Setelah pemberian obat righting reflex
masing- masing mencit dicatat pada waktu yang telah ditentukan. Righting reflex atau disebut
juga static reflex adalah bermacam gerakan refleks untuk mengembalikan posisi normal badan
dari keadaan yang dipaksakan atau melawan tenaga yang membuat badan bergerak ke arah yang
tidak normal.
Sehari sebelum praktikum dilakukan, mencit harus dipuasakan terlebih dahulu agar
sistem / saluran pencernaannya kosong sehingga tidak akan mempengaruhi absorpsi obat. Saat
mengambilan larutan stock phenobarbital dengan menggunakan spuit, pastikan jangan sampai
terdapat gelembung udara pada larutan di dalam spuit karena dapat menyembabkan thrombo
emboli pada mencit.Onset (mula kerja obat) dihitung saat pada menit dimana mencit mulai diam,
tertidur atau tidak menunjukan respon / aktivitas. Sedangkan durasi (lama obat bekerja di dalam
tubuh) dihitung saat mencit mulai sad ar / terbangun dari tidur akibat hilangnya efek hipnotik
sedative dari phenobarbital.
Cara pemberian oral merupakan cara pemberian yang memiliki efek yang lama
bekerjanya dibandingkan cara pemberian obat secara intravena.Sehingga efek yang di rasakan
oleh mencit dari mulai ia sadar sampai tidur lalu normal kembali memiliki durasi yang lama
(berefek lama).

BAB V
PERTANYAAN

BAB VI
KESIMPULAN

Pada percobaan ini didapatkan hasil berbeda bermakna untuk onset dan berbeda tidak
bermakna untuk durasi.Cara pemberian obat sangat penting artinya karena setiap obat
berbeda penyerapannya oleh tubuh dan sangat bergantung pada lokasi pemberian. Rute
pemberian obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, terutama laju
penyerapan obat. Perbedaan rute pemberian obat mengakibatkan perbedaan jumlah obat yang
dapat mencapai tempat kerja yang akan berakibat pada perbedaan onset (mula kerja) dan

durasi (lama kerja) obat.


Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit jantan karena mencit jantan tidak memiliki
siklus menstruasi seperti mencit betina. Sehari sebelum praktikum dilakukan, mencit harus
dipuasakan terlebih dahulu agar sistem / saluran pencernaannya kosong sehingga tidak akan

mempengaruhi absorpsi obat.


Cara pemberian secara oral merupakan cara pemberian yang memiliki efek yang lama
dibandingkan cara pemberian yang lain.

BAB VII
DAFTAR PUSTAKA

Tjay, T.H., 2007, Obat-Obat Penting, Edisi VI, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta.
Anief M., 1994, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,

Jakarta.
Kee, Joyce L dan Evelyn R. Hayes. 1994. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan.

Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC


Schmitz, Gary Hans Lepper dan Michael Heidrich. 2003. Farmakologi dan Toksikologi.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC