Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH KEHADIRAN ORANG TUA DALAM TINDAKAN INVASIF

PEMASANGAN INFUS TERHADAP RESPON PENERIMAAN ANAK USIA PRA


SEKOLAH DI RUANG ANAK
RUMAH SAKIT HADJI BOEJASIN PELAIHARI

OLEH
NOVITA APRIANTI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN (NERS B)
2013
BAB 1
PEMDAHULUAN

KATA PENGANTAR
Hospitalisasi (rawat inap) pada pasien anak dapat menyebabkan kecemasan dan
stress pada semua tingkatan usia. Penyebab dari kecemasan dipengaruhi oleh
banyak faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter, dan tenaga kesehatan
lainnya), lingkungan baru, maupn keluarga yang mendampingi selama perawatan,
karena umumnya asuhan keperawatan pada pasien anak memerlukan tindakan
invasive seperti injeksi atau pmasangan infus. untuk mengatasi hal tersebut, perlu
dilakukan kinerja perawat, khususnya mengenai pendekatan psikologis terhadap
pasien yang mengalami distress hospitalisasi, dengan menekankan pada
pemenuhan perawatan aspek fisik, aspek pisikis (memfasilitasi koping yang
konstruktif) dan aspek sosial (menciptakan hubungan dan lingkungan yang
konstruktif dengan melibatkan keluarga dalam perawatan).
Luka pada tubuh dan rasa sakit (rasa nyeri) membuat anak akan bereaksi dengan
menyeringaikan wajah, menangis, mengatupkan gigi, menggigit bibir, membuka
mata dengan lebar atau melakukan tindakan agresif seperi menggigit, menendang,
memukul, atau berlari keluar. Dalam hal ini maka sangat diperlukan peran orang
tua, karena orang tua mengetahui bagaimana cara untuk membuat anaknya
nyaman.

Sakit dan dirawat di rumah sakit jauh dari menyenangkan bagi anak, hal ini
merupakan suatu stresor karena mereka tidak mengerti mengapa mereka dirawat

Lingkungan yang baru, perpisahan dengan keluarga, teman dan situasi yang tidak
dikenal dimana perawat dan dokter menguasai keadaan, prosedur tindakan medis yang
menimbulkan nyeri, berhadapan dengan anak-anak lain yang sakit dan hal-hal lain yang

menyebabkan perawatan di rumah sakit menjadi suatu yang menyakitkan, merupakan


pengalaman sensori emosional yang tidak menyenangkan (Smert Bart, 1997).
Rumah sakit merupakan tempat dimana anak terluka dan kadang-kadang mengalami
prosedur yang menyakitkan seperti pemasangan infus. Selain itu rumah sakit bisa sangat
membosankan (Eiser, 1990). Anak yang mengalami prosedur yang menimbulkan nyeri,
cenderung memperlihatkan reaksi-reaksi perilaku negatif diantaranya anak menjadi lebih
agresif dan tidak kooperatif atau bermusuhan dan apabila kondisi ini berlanjut, akan
menimbulkan gangguan tumbuh kembangnya juga mempersulit pelaksanaan prosedur
tindakan medis diantaranya pemasangan infus (Smert Bart, 1997).
Walaupun penelitian-penelitian terdahulu seperti halnya menurut laporan Platt
mengenai kesejahteraan anak di rumah sakit sejak tahun 1959 menunjukkan adanya
kemajuan pesat. Namun anak sebagai satu kepribadian holistik yang utuh dan unik sesuai
proses tumbuh kembangnya tetap merasakannya sebagai suatu pengalaman traumatis. Anakanak mungkin mempunyai cara pikir yang lain tentang apa yang sebenarnya terjadi di rumah
sakit. Demikian juga pemahaman perasaan sakit (Bush, 1987, Eiser 1990, Pruit & Elliot,
1990). Anak-anak memandang para dokter dan perawat berkaitan dengan tiga tahap
pemahaman progresif anak-anak tentang kesakitan (Eiser, 1990). Anak usia sekolah
berpendapat staf medis ingin melukai mereka (Smet Bart, 1997) sehingga timbul perasaan
takut, bermusuhan dan tidak percaya terhadap staf medis yang berakibat anak tidak
kooperatif sehingga seringkali perawat gagal melakukan tindakan invasif khususnya
pemasangan infus. Karena anak yang mengalami prosedur ini cenderung untuk
memperlihatkan reaksi negatif seperti menyepak, berteriak-teriak dan perlawanan sampai
tingkat diperlukan pengendalian fisik. Perilaku yang bersifat tidak kerjasama itu bahkan

dapat mempersulit pelaksanaan prosedur itu sehingga kecelakaan kadang terjadi juga yang
akan menambah ketegangan yang dirasakan oleh staf medis dan orang tua
(Smet Bart, 1997).
Kondisi-kondisi tersebut di atas yaitu suatu prosedur tindakan pemasangan infus dan
perpisahan dengan orang tua akan menumbuhkan suatu pengalaman traumatis bagi anak,
dampaknya anak tidak kooperatif sehingga perawat gagal melakukan tindakan dan lebih jauh
lagi situasi ini akan memberikan pengaruh bagi perkembangan anak selanjutnya. Penting
mempertimbangkan resiko psikologis anak pada opname dan prosedur tindakan medis yang
belum dikenal sampai pertengahan tahun 1950-an (La Gresa & Stone, 1985). Observasi
dilakukan sekitar tahun 1960 terhadap perilaku anak dan reaksi emosional dalam
menghadapi opname dan prosedur medis. Para psikolog menekankan pengaruh yang
permanen yang merugikan sebagai dampak dari prosedur tindakan medis dan kecemasan
anak karena pemisahan dari orang tua terhadap perkembangan pribadi anak selanjutnya
(Bowlby, 1960).
Untuk mengoptimalkan respon penerimaan anak terhadap prosedur tindakan medis
yang menimbulkan nyeri khususnya pemasangan infus dan meminimalkan dampak dari
perpisahan terutama pada anak usia pra sekolah, perlu ditumbuhkan perasaan aman pada
anak (Lewer, 1993). Hal ini mungkin bisa didapatkan dengan menghadirkan orang tua dalam
tindakan invasif khususnya pemasangan infus, dengan demikian anak akan menerimanya
(Kozier, 1991).
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti mencoba mengembangkan suatu penelitian
tentang Pengaruh Kehadiran Orang Tua pada Tindakan Invasif Pemasangan Infus Terhadap
Respon Penerimaan Anak Usia Pra Sekolah , dimana hasil dari penelitian ini dapat

digunakan oleh perawat untuk memfasilitasi kecemasan, ketakutan pada anak yang akan
dilakukan tindakan invasif khususnya pemasangan infus.