Anda di halaman 1dari 75

FORUM PENELITI ACEH

Pemerintah Kabupaten Bener Meriah

PANDUAN

Pendampingan
Perencanaan
Pembangunan Daerah

Pembelajaran dari Metode


Pendampingan Penyusunan RPJMD
Kabupaten Bener Meriah oleh
Forum Peneliti Aceh

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah
Pembelajaran dari Metode Pendampingan Penyusunan
RPJMD Kabupaten Bener Meriah oleh Forum Peneliti Aceh

Kerjasama Consolidating Peaceful Development in Aceh (CPDA), Forum


Peneliti Aceh (FPA), Pemerintah Kabupaten Bener Meriah,
Disosialisasikan bersama Bappeda Provinsi Aceh

Dipublikasikan 2013

iii

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Penyusun:
Marzi Afriko
Kontributor:
Elly Sufriadi
Mahidin Thalib
Muslahuddin Daud
Nurjannah
Renaldi Safriansyah
Rita Khatir
Sri Wahyuni
T. M. Iqbalsyah
Taufik A Rahim
Wahjuddin Sumpeno
Penyelaras Tata Letak:
Yohanes taman ide
Banda Aceh-Indonesia
Tel: +62 0651 755 1176
Fax: +62 0651 755 1178
Email: sekretariatforumpenelitiaceh@gmail.com
Milist: Forum_Peneliti_Aceh@yahoogroups.com
Website: http://forumpenelitiaceh.org/
Forum Peneliti Aceh 2013
iv

Daftar Istilah dan Singkatan

1. RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) adalah dokumen


perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahun yang
memuat penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang
penyusunannya berpedoman pada hasil musyawarah perencanaan
pembangunan daerah, RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan
daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan program
Satuan Kerja.
2. Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) untuk periode 5 (lima) tahun yang memuat visi, misi,
tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang
disusun berdasarkan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta
berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif.
3. Renja SKPD adalah dokumen perencanan Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) untuk periode 1 (satu) tahun yang memuat kebijakan, program dan
kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah
daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
4. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
Pemerintah Daerah dan DPRD dalam mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang
diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat APBD adalah
rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui
bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, yang ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

6. Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah


Kabupaten/Kota, atau di Provinsi Aceh saat ini disebut dengan Qanun.
7. RTR (Rencana Tata Ruang), adalah dokumen yang memuat hasil perencanaan
tata ruang.
8. RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), adalah dokumen yang memuat hasil
perencanaan tata ruang wilayah. Wilayah adalah ruang yang merupakan
kesatuan geografis beserta unsur terkait yang melekat padanya, dimana
batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau
aspek fungsional.
9. Visi adalah rumusan umum berupa gambaran mental berkaitan keadaan
yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.
10. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya yang akan dilaksanakan oleh
seluruh perangkat organisasi untuk mewujudkan visi.
11. Agenda pembangunan adalah penerjemahan visi ke dalam tujuan jangka
panjang (strategic goals) yang dapat mempedomani dan memberikan fokus
pada penilaian dan perumusan strategi, kebijakan, dan program.
12. Strategi pembangunan adalah langkah-langkah yang akan ditempuh
oleh seluruh perangkat organisasi yang berisi program indikatif untuk
mewujudkan visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan.
13. Kebijakan pembangunan adalah arah/tindakan yang diambil oleh
Pemerintah di tingkat Pusat, Propinsi, dan Kabupaten untuk mencapai
tujuan pembangunan.
14. Program pembangunan adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau
lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk
mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau
kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.
15. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah
dicapai secara terukur baik kuantitas maupun kualitas berkaitan dengan
penggunaan anggaran.
16. Indikator kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau
kualitatif untuk masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau
dampak yang menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu program atau
kegiatan.

vi

Daftar Istilah dan Singkatan

17. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau
keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.
18. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan
yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan
program dan kebijakan.
19. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya
keluaran dari kegiatan dalam satu program.
20. SiLPA adalah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran, yaitu selisih lebih realisasi
penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran.
21. Sedangkan SILPA adalah Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenan,
yaitu selisih antara surplus/defisit anggaran dengan pembiayaan netto.
Dalam penyusunan APBD, angka SILPA ini seharusnya sama dengan nol.
Artinya bahwa penerimaan pembiayaan harus dapat menutup defisit
anggaran yang terjadi.

vii

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahiim
Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, saya atas nama Pemerintah
Kabupaten Bener Meriah sangat berbangga hati dengan tersusunnya buku
panduan pendampingan penyusunan rencana pembangunan daerah ini. Buku
panduan ini sangat khas, karena memuat pengalaman kerjasama dalam
rangkaian proses penyusunan RPJMD Kabupaten Bener Meriah periode 20122017. Besar harapan kami agar panduan ini dapat dijadikan referensi oleh
berbagai pihak dalam menyusun rencana pembangunan di berbagai tingkatan,
baik jangka panjang, menengah, pendek maupun tahunan, yang kurang lebih
prosesnya hampir sama.
Pemerintah Kabupaten Bener Meriah pertama sekali mengucapkan terimakasih
kepada tim pendamping dari Forum Peneliti Aceh (FPA), yang telah mau berbagi
pengalaman serta dengan komitmen yang tinggi membantu merencanakan
pembangunan daerah kami hingga lima tahun mendatang. Untuk itu kami
berharap agar FPA terus berupaya ditengah tingginya dinamika pembangunan
di daerah saat ini. Dedikasi yang telah diberikan tidak mudah dilupakan oleh
kami dan banyak pihak di Kabupaten Bener Meriah. Selanjutnya secara khusus
terimakasih kami ucapkan kepada Ibu Sri Wahyuni yang telah dengan besar hati
memboyong teman-teman FPA untuk bersama-sama membangun daerah kita.
Selanjutnya, terimakasih kami kepada program Consolidating Peaceful
Development in Aceh (CPDA) yang telah membantu memfasilitasi kerjasama ini.
Atas dorongannya kepada FPA dan juga fasilitas yang diberikan dalam berbagai
pertemuan pembahasan RPJMD kami, itu semua sangat berharga. Sulit kami
temukan program donor seperti ini, yang berupaya keras menghubungkan
antara dunia akademisi dengan dunia birokrasi, sehingga terwujud dalam
proses penyusunan kebijakan seperti yang telah terlaksana ini. Terimakasih
juga kami ucapkan kepada seluruh konsultan program CPDA yang ada di Aceh,

ix

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Jakarta, serta sederetan donor yang mendukung, seperti AusAID. Menurut kami
kerjasama ini dapat diterapkan di banyak tempat, bukan hanya di Aceh, bahkan
di derah lain di Indonesia.
Kami juga berharap ini bukan kerjasama yang terakhir, semoga legacy yang
ditinggalkan ini, juga kepada FPA tidak berhenti hingga di sini. Berbagai
gagasan cemerlang dan sumberdaya lainnya masih kami harapkan. Demikian
harapan dari kami segenap Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, dan selamat
menggunakan buku panduan ini.

Wassalam,

Ruslan Abdul Gani


Bupati Kabupaten Bener Meriah

Kata Pengantar

Program Consolidating Peaceful Development in Aceh (CPDA), The World Bank


hadir di Aceh guna mendukung pembangunan perdamaian yang berkelanjutan.
Program ini berupaya membantu pemerintah Aceh untuk mengintegrasikan
pembangunan perdamaian kedalam pembangunan yang bersifat reguler.
Untuk itu CPDA menekankan pada pentingnya pelaksanaan pembangunan yang
efektif serta memberi manfaat bagi masyarakat sebagai upaya mewujudkan
perdamaian itu sendiri. Salah satu pilar dari pembangunan perdamaian yang
berlanjutan, yaitu transparansi. Dibawah pilar ini pemerintah Aceh dibantu
memperkuat kinerja perencanaan pembangunan daerah agar pembangunan
yang dijalankan memberi dampak yang luas pada kondisi masyarakat pasca
konflik. Untuk mencapai kesinambungan perdamaian maka Program CPDA
menempatkan upaya perbaikan kinerja perencanaan dan penganggaran
pembangunan daerah sebagai tema strategis untuk dilakukan.
Program CPDA telah mendorong peran peneliti dan akademisi yang tergabung
kedalam Forum Peneliti Aceh (FPA) untuk terlibat aktif dalam pembuatan
kebijakan pembangunan. Salah satu yang telah sukses berjalan, yaitu
pendampingan terhadap Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dalam menyusun
dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode
2012-2017. Pendampingan ini sendiri telah menempatkan peneliti dan
akademisi pada posisi yang strategis untuk melakukan sharing of knowledge
bersama pemerintah. Bahkan, seluruh pengalaman proses pendampingan
tersebut telah terekam dengan baik didalam buku panduan ini. Sejumlah
penjelasan dan metode khusus yang dilaksanakan antara FPA dan Bappeda
Kabupaten Bener Meriah, telah termuat dalam buku ini.
Program CPDA mengucapkan terimakasih dan sukses kepada FPA dan namanama terlibat sebagai tim pendamping, atas dedikasinya dalam mendampingi
Pemerintah Kabupaten Bener Meriah. Semoga terus sukses dapat melakukan
hal yang terbaik di Aceh saat ini dan di masa yang akan datang. Terimakasih

xi

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

banyak juga kepada Bapak Ruslan Abdul Gani sebagai Bupati Kepala Daerah
Kabupaten Bener Meriah, dan Bapak Khairun Aksa, Bapak Misdal, dan Bapak
Billah Harun beserta tim Bappeda Kabupaten Bener Meriah, atas keterbukaan
untuk memperoleh masukan dalam penyusunan RPJMD. Semoga kerjasama
ini akan terus berlanjut guna mewujudkan pembangunan yang lebih baik dan
memberikan dampak nyata bagi masyarakat di Kabuapten Bener Meriah, bahkan
Aceh secara umum. Bagi pihak lain yang menjadi target pengguna panduan
ini, semoga dapat mengambil pembelajaran dan sukses dalam melakukan
pendampingan.
Terimakasih,

Adrian Morel
Coordinator of Consolidating Peacefull
Development in Aceh (CPDA) Program,
The World Bank

xii

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahiim
Forum Peneliti Aceh (FPA) dengan suatu kebanggaan mempersembahkan buku
Panduan Pendampingan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Aceh untuk
dijadikan pedoman oleh berbagai pihak. Panduan ini adalah salah satu hasil
kerja FPA, dalam rangka mendorong peran strategis peneliti dalam upaya
penyusunan kebijakan pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Bener
Meriah telah membuka kesempatan agar para peneliti dapat terlibat secara
proporsional dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Kabupaten setempat. Untuk itu kami ucapkan terimakasih atas
sambutan Bapak Ruslan Abdul Gani, selaku Bupati kepala Daerah Kabupaten
Bener Meriah periode 2012-2017, dan Bapak Khairun Aksa beserta tim penyusun
RPJMD di kantor Bappeda Kabupaten Bener Meriah yang telah menindaklanjuti
kerjasama ini hingga selesai.
Dalam kesempatan ini kami ucapkan selamat kepada Pemerintah Kabupaten
Bener Meriah yang telah selesai menyusun acuan rencana pembangunan daerah
untuk periode 5 (lima) tahun mendatang (2012-2017). Namun kami sangat
berharap agar dokumen yang telah disusun ini benar-benar menjadi acuan
dalam penyusunan kegiatan pembangunan hingga lima tahun mendatang.
Kami sangat mengerti bahwa pelaksanaan rencana pembangunan ini butuh
kerja keras dan dukungan dari semua pihak, mulai sejak penyusunan RPJMD,
pelaksanaan pembangunan tahunan, hingga melakukan evaluasi untuk melihat
hasilnya. Semoga suka dan duka selama penyusunan dokumen RPJMD dapat
menjadi motivasi dalam menyelenggarakan pembangunan yang lebih baik.
Untuk itu komitmen semua pihak mutlak diperlukan.
Buku panduan ini mengetengahkan sejumlah pengalaman yang menurut
kami sangat penting untuk dipelajari oleh banyak pihak untuk menyukseskan
perencanaan pembangunan daerah. Sistematika pendampingan penyusunan

xiii

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

RPJMD yang telah dilakukan tidak terlepas dari panduan yang disediakan oleh
Pemerintah, salah satunya adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54
Tahun 2010, pada lampiran III. Namun bagaimana teknis pelaksanaannya, dapat
dilihat melalui panduan ini. Banyak metode dan langkah-langkah praktis yang
dilakukan antara tim pendamping dengan tim penyusun RPJMD, semuanya
dituangkan dalam panduan ini. Bahkan, panduan ini juga memberikan sejumlah
rekomendasi baik kepada para pengguna nantinya dan juga kepada pemerintah
daerah dan pusat agar memperhatikan sejumlah hal yang penting pengaruhnya
bagi mewujudkan pembangunan daerah yang lebih baik.
Untuk itu kami sangat menghargai apa yang telah dilakukan oleh tim
pendamping yang terdiri dari sejumlah peneliti dengan berbagai kualifikasi
keilmuan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan Kabupaten Bener Meriah
saat ini. Di tengah semakin pudarnya semangat pengabdian dan idealisme
ternyata FPA memiliki sekelompok peneliti yang memiliki komitmen dan mampu
melihat dampak kerjasama ini secara jauh kedepan. Kepada sederat nama
di lampiran buku ini, patut diucapkan terimakasih atas dedikasi yang telah
dipersembahkan. Semoga hasil kerja ini akan terus berkembang, bahkan oleh
pihak lain di berbagai daerah.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada pihak Bank Dunia, melalui program
Consolidating Peaceful Development in Aceh (CPDA) yang didanai oleh AusAID,
atas bantuannya untuk kelancaran kerjasama antara FPA dan Pemerintah
Kabupaten Bener Meriah. Tidak itu saja, bahkan terhadap beberapa kegiatan
yang didukung selama ini oleh program CPDA dalam rangka menggalang
semangat dan kerjasama yang kuat untuk menghubungkan dunia penelitian
dengan pembuatan kebijakan. Semoga buku panduan pendampingan
perencanaan pembangunan daerah ini, dapat membantu tidak hanya pihak
pemerintah bahkan banyak non-pemerintah lainnya untuk saling bekerjasama
dalam melahirkan rancangan pembangunan yang berkualitas.

Terimakasih,

Saleh Sjafei
Koordinator Forum Peneliti Aceh

xiv

Daftar Isi

iii

Daftar Istilah dan Singkatan


Kata Pengantar
Daftar Isi

vii

xiii

Bagian 1. Pendahuluan

1
1

A. Sekilas mengenai Dokumen RPJMD


B. Struktur RPJMD

C. Pilkada dan Dokumen RPJMD

2
3

D. Signifikansi Panduan Pendampingan


5

E. Maksud dan Tujuan

F. Sasaran Penggunaan

Bagian 2. Penjajakan Komitmen Kepala Daerah Terpilih


A. Komunikasi Awal

B. Pengumpulan Informasi Pembangunan Daerah


Bagian 3. Persiapan Pendampingan
A. Prinsip dan Mekanisme
B. Tahapan Pendampingan

11

11
13

C. Pembentukan Tim Pendamping RPJMD


D. Orientasi RPJMD

16

xv

14

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Bagian 4. Evaluasi Tahap Satu: Gambaran Umum Kondisi Pembangunan


dan Keuangan Daerah
19
19

A. Tinjauan: Gambaran Umum Kondisi Daerah

B. Tinjauan: Gambaran Pegelolaan Keuangan Daerah

21

C. Mengelola Workshop Kondisi Pembangunan dan Keuangan Daerah

23

Bagian 5. Evaluasi Tahap Dua: Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran


Pembangunan 27
A. Perumusan Visi dan Misi Pembangunan

28

B. Mengelola Workshop Penguatan Visi dan Misi Pembangunan

29

32

C. Memformulasikan Strategi Pembangunan

Bagian 6. Evaluasi Tahap Tiga: Program dan Indikator Kinerja


Pembangunan 35
A. Memeriksa Rumusan Program dan Indikator Kinerja Pembangunan

35

B. Mengelola Workshop Pembahasan Program dan Indikator Kinerja


Pembangunan
38
Bagian 7. Evaluasi Tahap Akhir: Pemeriksaan Konsistensi Pembahasan
RPJMD
41
A. Pemeriksaan Rangkaian Uraian RPJMD

41

B. Mengelola Workshop Pembahasan Tinjauan Akhir


Profil Tim Pendamping

47

Profil Forum Peneliti Aceh (FPA)

53

xvi

45

Bagian 1
PENDAHULUAN

A. Sekilas mengenai Dokumen RPJMD


Dokumen RPJMD pada dasarnya disusun oleh pemerintah daerah sebagai acuan
pelaksanaan pembangunan lima tahun sesuai dengan periode pemerintahan
kepala daerah terpilih. Dalam dokumen RPJMD tergambar kondisi kekinian
pembangunan daerah, yaitu capaian pembangunan yang telah dilaksanakan
sebelumnya. Berdasarkan data dan informasi tersebut selanjutnya diidentifikasi
berbagai masalah untuk diselesaikan, tentunya dengan mempertimbangkan
aspek waktu, kemampuan daerah, serta berbagai faktor penunjang lainnya.
Kemudian disusunlah langkah-langkah penanganannya secara sistematis melalui
kerangka kerja pembangunan.
RPJMD merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan yang telah ditetapkan
melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Rencana
jangka menengah ini nantinya akan dijabarkan kedalam Rencana Strategis
pembangunan yang akan dilaksanakan oleh setiap Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD). SKPD selanjutnya akan merincikan rencana pembangunan
tersebut kedalam rencana kerja tahunan dinas, yang kemudian akan dibahas
hingga terdapat kegiatan dan pembiayaan dalam bentuk dokumen Rencana
Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Dengan demikian pemerintah daerah
dengan mudah dapat mengevaluasi capaian pembangunan yang dilaksanakan.
Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 setidaknya telah menyediakan pedoman
melakukan perencanaan dan evaluasi kinerja pembangunan daerah.

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

B. Struktur RPJMD
Bab I

Pendahuluan

Bab II

Gambaran Kondisi Umum Daerah

Bab III

Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah serta Kerangka Pendanaan

Bab IV

Perumusah Masalah Pembangunan Daerah dan Isu-isu Strategis


Pembangunan

Bab V

Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan

Bab VI

Strategi dan Arah Kebijakan

Bab VII

Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah

Bab VIII

Penetapan Indikator Kinerja Daerah

C. Pilkada dan Dokumen RPJMD


Proses pemilihan kepala daerah belum memberi jaminan pada membaiknya
pembangunan satu daerah. Kepala Daerah terpilih pada dasarnya harus
menyusun dokumen RPJMD sebagai acuan pembangunan yang akan
dilaksanakan, selambat-lambatnya enam bulan setelah dilantik. Meski demikian
jadwal pemilihan hingga pelantikan sering berdampak pada waktu penyelesaian
RPJMD. Jadwal Pilkada dan pelantikan yang berlangsung di pertengahan
tahun pembangunan berdampak pada singkatnya waktu penyusunan RPJMD.
Kecenderungan kepala daerah baru menyusun RPJMD setelah dilantik, jikapun
ada draft sebelumnya, selalu harus disusun versi yang baru, sehingga sulit bagi
mereka untuk mengejar waktu perencanaan dan penganggaran pembangunan
tahun berikutnya yang sudah dekat. Belum lagi tuntutan Permendagri Nomor
54 Tahun 2010 agar dokumen RPJMD disepakati bersama eksekutif dan legislatif
daerah, kemudian diberi payung hukum berupa Peraturan Daerah. Kendala ini
dialami sendiri oleh Kabupaten Bener Meriah, sehingga solusinya adalah dengan
mengesahkan sementara RPJMD menggunakan Peraturan Bupati agar dapat
digunakan dalam pembahasan anggaran pembangunan berjalan. Untuk itu,
idealnya waktu pemilihan kepala daerah harus dilakukan enam bulan sebelum
pembahasan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RPKD) satu daerah.
Masalah kedua adalah belum idealnya interval waktu pemilihan antar tingkatan
kepala daerah. Seharusnya untuk mendukung sinkronisasi dan harmonisasi
perencanaan antara provinsi, kabupaten dan kota, bahkan nasional kebawah,

Bagian 1
Pendahuluan

jadwal pemilihan Gubernur harus memiliki masa tenggat yang cukup, tidak
bisa dilakukan bersamaan dengan Bupati dan Walikota. Pemilihan Gubernur
Aceh Tahun 2012 telah dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan 17 bupati
dan walikota, sehingga sulit bagi pemerintah kabupaten/kota melakukan
penyelarasan rencana pembangunan mereka dengan arah dan kebijakan
provinsi. Saat pemerintah kabupaten dan kota membahas perencanaan
pembangunan, disaat itu pemerintah provinsi masih sedang membahas rencana
pembangunannya. Meski tim penyusun RPJMD provinsi melakukan road show
serap pendapat di beberapa regional daerah, tetap saja pemerintah kabupaten
dan kota belum memiliki pedoman yang final terhadap kebijakan yang akan
ditetapkan oleh pemerintah provinsi.1
Catatan
Pengalaman pendampingan ini ingin mendorong para pemangku kebijakan
di bidang politik dan institusi pelaksana pesta demokrasi daerah, terutama
pihak Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk meninjau kembali
proses pemilihan kepala daeah. Idealnya terdapat harmonisasi antara
mekanisme pesta demokrasi dengan perencanaan pembangunan daerah
sebagai tujuan utama dari pesta demokrasi itu sendiri.

D. Signifikansi Penyusunan Panduan


Panduan ini dikembangkan sebagai dokumentasi terhadap kerjasama
pendampingan yang telah dilakukan antara pemerintah Kabupaten Bener Meriah
dan Forum Peneliti Aceh dalam menyusun RPJMD. Panduan ini menyajikan
pengalaman dalam proses perumusan rencana pembangunan, sehingga sangat
membantu bagi aparatur pemerintah dalam melakukan penyusunan rencana
pembangunan. Panduan ini juga menyajikan metode bagaimana data dan
informasi kondisi sosial, ekonomi, politik, budaya dan keamanan disajikan dan
kemudian dianalisa sebagai dasar penentuan visi, misi, strategi serta program
pembangunan daerah lima tahun ke depan.
Bagi Forum Peneliti Aceh, kegiatan pendampingan yang telah dilakukan
merupakan bagian dari visi organisasi, yaitu menguatnya kualitas dan
kemanfaatan dunia penelitian di Aceh, yang selanjutnya didukung oleh misi
1
Pemerintah Provinsi Aceh hingga panduan ini disusun belum mensahkan dokumen RPJMD Provinsi Aceh periode
2012-2017 menggunakan Peraturan Daerah (Qanun) bersama legislatif daerah. Hingga saat ini dokumen RPJMD Provinsi Aceh
baru memperoleh pengesahan menggunakan Peraturan Gubernur Nomor 70 Tahun 2012, guna dapat dilakukan pembahasan
anggaran pembangunan tahun 2013 di saat itu.

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

mengadvokasi hasil-hasil penelitian serta memfasilitasi keterlibatan kalangan


akademisi dalam penyusunan rencana pembangunan yang berbasis data dan
fakta (Evidence Based Planning).
Panduan ini diharapkan dapat membantu pengguna dalam mempelajari secara
sederhana dan menerapkan pentahapan perencanaan dan penganggaran sesuai
kebutuhan dan kondisi lokal. Panduan ini bahkan sangat diarahkan kepada
pengguna yang akan berperan sebagai narasumber pendamping perencanaan
pembangunan satu daerah. Dengan penduan ini diharapkan akan terjadinya
peningkatan keterampilan teknis antara kedua belah pihak dalam merumuskan
langkah pembangunan yang berkualitas dan berkesinambungan.
Buku panduan ini telah mendapat masukan banyak pihak melalui satu workshop,
terutama dari pihak Bappeda Provinsi Aceh yang memiliki tanggungjawab untuk
melakukan pengarahan dan pengendalian pembangunan daerah. Workshop
tersebut juga mengundang Direktorat Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah,
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk memperkenalkan
pengalaman pendampingan yang telah dilakukan dan agar Bappenas juga
dapat menyampaikan masukan terhadap buku panduan ini. Workshop juga
mengundang pihak Bappeda Kabupaten dan Kota lainnya di Aceh agar dapat
mempertimbangkan langkah penyusunan rencana pembangunan daerah masingmasing, kedepan.
Catatan
Workshop itu sendiri memiliki tujuan untuk:
1. Mendiseminasikan pengalaman pendampingan penyusunan rencana
pembangunan yang telah dilakukan antara Pemerintah Kabupaten Bener
Meriah dengan Forum Peneliti Aceh;
2. Bappeda Provinsi agar menyusun strategi dan mekanisme baku untuk
mengarahkan dan mengendalikan pembangunan di tingkat Kabupaten
dan Kota agar mengacu pada rencana pembangunan provinsi;
3. Pengalaman dan buku pedoman pendampingan ini agar dapat diacu
oleh kabupaten lainnya di Aceh, bahkan provinsi dan kabupaten lainnya
di Indonesia untuk melakukan kerjasama dalam penyusunan rencana
pembangunan daerah.

Bagian 1
Pendahuluan

E. Maksud dan Tujuan


Secara khusus tujuan disusunnya penduan pendampingan ini, yaitu untuk:
1. Meningkatkan kualitas proses, kinerja dan keluaran dari penyusunan RPJMD.
2. Mengupayakan tercapainya keterpaduan dan keselarasan antara RPJMD
dengan arah kebijakan nasional, provinsi dan rencana pembangunan jangka
panjang daerah.
3. Meningkatkan efektifitas peran, fungsi dan keterlibatan lembaga pemerintah
(SKPD), legislatif (DPRD) dan organisasi masyarakat sipil (OMS) dalam proses
penyusunan RPJMD.
4. Meningkatkan kemampuan daerah melalui proses perencanaan
pembangunan untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat.

F. Sasaran Penggunaan
Panduan ini disusun secara praktis agar dapat dipedomani oleh siapa saja
yang ingin memahami mekanisme kerja yang relatif ideal dalam mendampingi
penguatan rencana pembangunan daerah. Forum Peneliti Aceh menjadikan
panduan ini sebagai salah satu produk pengetahuan yang disarikan dari
pengalaman lapangan selama mendampingi penyusunan RPJMD Kabupaten
Bener Meriah sejak tahun 2012 hingga 2013. Kegiatan ini bahkan telah
terlaksana berkat inisiatif pemerintah kabupaten tersebut untuk melibatkan
peneliti serta akademisi sebagai pendamping.
Panduan ini dapat digunakan oleh individu, kelompok, maupun organisasi yang
mendapat kesempatan melakukan pendampingan perencanaan pembangunan.
Birokrat saat ini masih membutuhkan banyak ahli untuk membantu memikirkan
dan menata pembangunan daerah. Panduan ini diharapkan dapat menjadi
alternatif, meski tetap terbuka untuk dikembangkan oleh pihak lain sesuai
dengan perkembangan pengalaman di lapangan. Panduan ini juga dapat
digunakan oleh organisasi non-pemerintah lainnya, bahkan pihak donor
sekalipun yang ingin terlibat dalam proses penguatan tatakelola pemerintahan
lokal (provinsi, kabupaten, dan kota) di Indonesia.

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Catatan
1. Forum Peneliti Aceh mengedepankan metode pendampingan agar
sekaligus dapat membangun kapasitas aparatur dan kapasitas peneliti
dan akademisi sendiri tentang dunia perencanaan pembangunan
(Sharing Knowledge).
2. Langkah kerja pendampingan dalam panduan ini telah berpedoman
pada Lampiran III, Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 tentang
pedoman teknis dalam penyusun RPJMD.

Panduan ini menonjolkan teknik praktis dan juga formula sederhana yang
berhasil dirancang oleh tim Forum Peneliti Aceh selama proses pendampingan
berlangsung. Logika pemaparan dalam setiap bagian penduan ini hanya
menekankan pada tiga hal sederhana, yaitu bagian idealitas, pengalaman, serta
diperkuat oleh catatan pembelajaran terhadap pengalaman pendampingan
itu sendiri. Setiap tahapan kegiatan dirancang dengan baik, termasuk
pelaksanaan workshop untuk memaparkan dan memperoleh masukan terhadap
dokumen rencana pembangunan. Meski demikian Forum Peneliti Aceh sangat
menganjurkan inovasi dan improvisasi yang dianggap baik sesuai dengan
kebutuhan, sehingga tidak tertutup kemungkinan untuk dikombinasikan dengan
pengalaman pendampingan di tempat lain.

Bagian 2
Penjajakan Komitmen Kepala Daerah Terpilih

A. Komunikasi Awal
Hal pertama yang penting dilakukan tim pendamping adalah upaya membangun
komunikasi dengan kepala daerah baru terpilih berserta jajarannya. Komunikasi
ini sangat membantu untuk mengetahui komitmen kepala daerah untuk
menata pembangunan, melihat ketersediaan sumberdaya perencana, sekaligus
mengidentifikasi kemungkinan serta metode kerjasama yang efektif untuk
dilakukan.
Forum Peneliti Aceh pada dasarnya memiliki anggota (Focal Point) yang
dapat berkomunikasi langsung dengan Bupati terpilih di Kabupaten Bener
Meriah. Focal Point ditugaskan menjelaskan pengalaman dan keinginan untuk
membantu memperkuat penyusunan RPJMD, sehingga Focal Point dapat
membantu menjadwalkan pertemuan ramah-tamah (courtesy meeting) antara
calon tim pendamping dengan kepala daerah.

B. Pengumpulan Informasi Pembangunan Daerah


Sekali lagi, pertemuan awal dengan kepala daerah sangat penting dalam satu
rangkaian proses pendampingan untuk melahirkan sebuah komitmen. Komitmen
kepala daerah untuk terlibat penuh, keterbukaan berdiskusi dan menerima
masukan sangat diharapkan, mengingat proses pendampingan nantinya akan
membahas lebih dalam tentang visi dan misi pembangunan daerah yang akan
dijalankan. Setiap kepala daerah biasanya sudah pernah memiliki visi dan
misi pembangunan yang disusun saat kampanye pemilihan kepala daerah, dan
pernah disampaikan dihadapan legislatif daerah sebagai tanda dimulainya
proses Pilkada. Akan tetapi sekali lagi penting dilakukan pembahasan ulang agar
lebih akurat.

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Berikut beberapa pertanyaan yang dapat disampaikan dalam diskusi bersama


kepala daerah dan jajarannya.

Apa visi dan misi pemerintahan Kabupaten


saat ini?

Bidang pembangunan apa yang akan


menjadi fokus pembangunan kabupaten?

Apa peran akademisi untuk membantu


memperkuat pembangunan kabupaten
melalui proses penyusunan RPJMD?

Berdasarkan pengalaman Forum Peneliti Aceh, diskusi awal dengan kepala


daerah berhasil menggali tiga masalah utama dalam pembangunan Kabupaten
Bener Meriah, yaitu:
1. Tatakelola pemerintah masih lemah;
2. Pendapatan daerah masih rendah; dan
3. Tingkat kemiskinan masyarakat yang masih tinggi.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi sejumlah akar masalah
pembangunan, dan selanjutnya kepala daerah diminta untuk menyampaikan
beberapa prioritas pembangunan yang akan ditangani kedepan, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Reformasi birokrasi;
Perdagangan dan peningkatan nilai tambah petani;
Infrastruktur energi terbarukan;
Tata-kehidupan sosial dan keberagamaan;
Kualitas sumberdaya manusia;
Tata ruang kabupaten; dan
Sinergitas pembangunan kabupaten dan provinsi.

Bagian 1
Penjajakan Kepala Daerah Terpilih

Selama diskusi berlangsung, calon tim pendamping agar berupaya mendalami


visi dan misi pembangunan yang dipaparkan oleh kepala daerah, sektor
pembangunan yang menurut kepala daerah merupakan prioritas untuk
ditangani. Di akhir diskusi calon tim pendamping agar menegaskan komitmen
untuk terlibat sebagai pendamping yang melakukan tinjauan terhadap proses
penguatan penyusunan dokumen rencana pembangunan daerah, sementara
tanggungjawab pengerjaan tetap berada pada pemerintah, dalam hal ini
Bappeda.

Bagian 3
Persiapan Pendampingan

A. Prinsip dan Mekanisme


Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menyepakati bahwa bentuk pendampingan
yang diberikan Forum Peneliti Aceh adalah melakukan tinjauan kritis (critical
review). Keputusan Forum Peneliti Aceh untuk mengambil peran tersebut
dilandasi oleh beberapa hal, yaitu:
1. Telah tersedianya pedoman penyusunan RPJMD dalam lampiran III,
Permendagri Nomor 54 Tahun 2010;
2. Agar terjadinya peningkatan kapasitas aparatur pemerintah sebagai
perencana pembangunan daerah;
3. Menjaga independensi dan integritas peneliti;
4. Mengefisienkan pengerjaan RPJMD oleh aparatur pemerintah.
Setelah menyepakati batas keterlibatan dan peran masing-masing pihak,
kemudian tim pendamping bersama Bappeda membahas mekanisme dan agenda
kerja bersama. Namun untuk itu juga penting didiskusikan bersama mengenai
logika praktis peninjauan sejalan dengan sistematika dokumen RPJMD saat ini,
berikut penjelasannya.

11

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Langkah 1

Langkah 2

Apakah draft memenuhi


ketentuan Permendagri 54/2010
dan sejalan dengan draft RPJM
Provinsi?

Apakah Bab II updated dan


konsisten dengan Bab IV?
Apakah Bab III sudah
komprehensif?

Langkah 5

Langkah 4

Langkah 3

Apakah Bab V konsisten


dengan Bab IV?

Apakah Bab VI konsisten


dengan Bab V?

Apakah Bab III komprehensif?

Draft Awal RPJMD


dari Bappeda

Langkah 6
Apakah Bab VIII konsisten
dengan Bab VII dan Bab III?

Draft Awal RPJMD dari


Bappeda

Gambar: Mekanisme Review RPJMD

Catatan
Rangkaian tinjauan ini terdiri dari enam tahapan dasar, namun dalam kasus
seperti keterbatasan waktu, peninjauan beberapa bagian dari draft dapat
dilakukan secara bersamaan. Misalnya tinjauan terhadap kesesuaian antara
Bab II dan IV, serta review terhadap Bab III dilakukan secara bersamaan.
Umpan balik yang disampaikan tim pendamping kepada tim penyusun
juga dapat dilakukan bersamaan antara beberapa bagian. Setelah
memberikan umpan balik secara tertulis, tim pendamping dan tim penyusun
merencanakan untuk melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) untuk
membahas umpan balik yang telah diberikan.

12

Bagian 3
Persiapan Pedampingan

B. Tahapan Pendampingan
Agar hasil kerja pendampingan dan penyusunan dapat lebih terukur, maka
disusunlah jadwal kerja penyusunan sekaligus pelaksanaan tinjauan oleh tim
pendamping, sebagai berikut:
Tahapan Proses Pendampingan Penyusunan RPJMD
Bulan Ke-I

KEGIATAN

A.

Persiapan pendampingan penyusunan RPJMD

Bulan Ke-II

Bulan Ke-III

Bulan Ke-IV

II

III

IV

II

III

IV

II

III

IV

II

III

IV

1.

Pembentukan tim pendamping, orientasi


RPJMD dan penyusunan agenda kerja

2.

Pengumpulan data dan informasi


mengenai kondisi pembangunan daerah
oleh tim pendamping

1.

Penyampaian draft rancangan awal


RPJMD oleh tim penyusun kepada tim
pendamping

2.

Pemeriksaan Bab II dan Bab III oleh tim


pendamping

3.

Workshop pembahasan Bab II dan Bab


III, dengan melibatkan seluruh SKPK

4.

Perbaikan draft Bab II dan Bab III oleh


tim penyusun dengan berkoordinasi
dengan SKPK

5.

Penyampaian hasil perbaikan Bab II


dan Bab III oleh tim penyusun kepada
tim pendamping, sekaligus dengan
rancangan Bab IV dan Bab V untuk
ditinjau.

6.

Pemeriksaan Bab IV dan Bab V oleh tim


pendamping

7.

Workshop pembahasan Bab IV dan Bab


V bersama Kepala Daerah dan SKPK

8.

Perbaikan Bab IV dan Bab V oleh tim


penyusun

9.

Penyampaian hasil perbaikan Bab IV,


dan Bab V oleh tim penyusun kepada
tim pendamping, sekaligus dengan draft
Bab VII, Bab VIII, dan Bab IX

10.

Pemeriksaan Bab VII, Bab VIII, dan Bab


IX oleh tim pendamping

11.

Workshop pembahasan Bab VII, Bab


VIII, dan Bab IX

12.

Penyampaian hasil perbaikan


keseluruhan Bab RPJMD oleh tim
penyusun kepada tim pendamping

13.

Pemeriksanaan hasil perbaikan


keseluruhan Bab oleh tim pendamping

14.

Workshop pembahasan keseluruhan


Bab RPJMD

15.

Penyempurnaan RPJMD berdasarkan


hasil rekomendasi workshop

B.

Konsultasi dan Proses Pembahasan RPJMD

13

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Catatan
Jadwal review ini disusun mengikuti alur proses yang diinginkan oleh
Permendagri 54/2010, tapi dalam perjalanannya telah terjadi perubahan
kecil seperti:
1. Belum tersedianya Renstra setiap SKPK untuk dijadikan pedoman awal
penyusunan RPJM oleh Bappeda Kabupaten Bener Meriah.
2. Jadwal Musrenbang RPJMD harus mengikuti jadwal persidangan
anggaran pembangunan daerah di DPRK, meski secara akademis,
sistematika dan beberapa data dan informasi di dalam draft RPJMD
masih ada kekurangan.
3. Pemberian legalitas hukum terhadap RPJMD sempat dalam bentuk
Peraturan Bupati agar pembahasan anggaran pembangunan 2013
daerah di DPRK dapat dilakukan, dan setelah mendapat perbaikan
selanjutnya RPJMD dapat diberi legalitas Peraturan Daerah.

C. Pembentukan Tim Pendamping RPJMD


Setelah dapat memastikan bentuk dan metode pendampingan, langkah
selanjutnya adalah mengidentifikasi para peneliti yang mampu dan berkeinginan
terlibat dalam bantuan teknis ini. Oleh Forum Peneliti Aceh (FPA), setiap bidang
(peer group) diminta mengusulkan satu orang anggota yang mampu menjadi
narasumber untuk bidang tersebut. FPA menegaskan agar para penelitinya
mengedepankan semangat volunteerism dalam kerjasama ini. Hal ini juga yang
membuat pengalaman pendampingan ini sangat penting, bahkan kemudian
dapat dilakukan oleh kalangan peneliti maupun akademisi lainnya.
Gabungan beberapa orang peneliti dan akademisi tersebut kemudian menjadi
tim pendamping RPJMD. Tim pendamping kemudian harus menunjuk salah
seorang yang dilihat mampu diantara mereka untuk menjadi koordinator,
dengan tanggungjawab sebagai berikut:
1. Sebagai narasumber internal di tim pendamping;
2. Mengontrol kinerja dan jadwal penyampaian output tim pendamping;
3. Melaporkan kemajuan proses tinjauan kritis; dan
4. Membantu memecahkan kendala dalam proses tinjauan kritis.
Berikut komposisi tim pendamping yang pernah dibentuk oleh FPA untuk
mendampingi penyusunan RPJMD Kabupaten Bener Meriah (profil anggota
tim pendamping sebagaimana terlampir). Sejumlah peneliti dan akademisi

14

Bagian 3
Persiapan Pedampingan

dilibatkan berdasarkan kepakaran masing-masing yang dibutuhkan menurut


prioritas pembangunan yang disampaikan sebelumnya.

Reformasi
Birokrasi
Dinul Islam

Pertanian

Keuangan
Daerah

Kesehatan

FPA

Infrastruktur
Energi

Pendidikan

Kehidupan
Sosial dan
Keperempuanan

Ekonomi dan
Perdagangan

Gambar: Komposisi Tim Review RPJMD

Catatan
Tim reviewer beranggotakan satu orang peneliti yang menguasai bidang
keuangan daerah untuk membantu memperkuat pengelolaan pendapatan
dan rancangan belanja daerah. Sistematika RPJMD memiliki satu bagian
khusus yang membahas gambaran keuangan daerah dan kerangka
pendanaan pembangunan. Peneliti dibidang keuangan publik akan
membantu menghitung kemampuan keuangan daerah dengan melihat
pengalaman pembangunan daerah sebelumnya, proyeksi penerimaan
daerah, peluang peningkatan penerimaan daerah, kebijakan yang
dibutuhkan, hingga memperkirakan proporsi penggunaan keuangan daerah
dalam pembangunan lima tahun mendatang

15

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

D. Orientasi RPJMD
Setiap anggota tim pendamping tentunya harus memahami dengan baik
mengenai dokumen rencana pembangunan daerah beserta sistematikanya. Bagi
FPA hal ini merupakan kemampuan lanjutan yang harus dimiliki setiap peneliti
maupun akademisi untuk terlibat dalam penyusunan kebijakan. Pemahaman
terhadap sistematika RPJMD akan memperkuat proses pendampingan itu
sendiri, dimana peneliti dapat membantu pemetaan kondisi pembangunan
daerah dan membantu pemerintah menyusun strategi penanganannya.
Berikut gambaran sinergisasi antara peran akademisi dan proses pengambilan
kebijakan yang menjadi misi dari organisasi FPA.

Penyusunan
Kebijakan

Kepakaran

Gambar: Hubungan Penyusunan Kebijakan dengan Kepakaran

Tim pendamping selanjutnya mengadakan satu workshop orientasi dan


penyamaan persepsi terhadap dokumen RPJMD, dengan dapat mengacu pada
Permendagri Nomor 54 Tahun 2010. Berikut beberapa topik penting yang
didiskusikan dalam workshop tersebut:
1. Apa signifikansi dokumen RPJMD dalam pembangunan?
2. Apa saja substansi pembahasan masing-masing bab dalam dokumen
RPJMD?
3. Bagaimana hubungan (sequence) antar bab yang dibahas?
4. Siapa saja komponen stakeholder yang harus terlibat dalam proses
penyusunan RPJMD?
5. Bagaimana prosedur umum dalam menyusun RPJMD?
6. Bagaimana peran strategis peneliti dan akademisi dalam proses
penyusunan RPJMD?

16

Bagian 3
Persiapan Pedampingan

Workshop dilaksanakan untuk menjawab sejumlah petanyaan diatas. Agar


workshop berjalan efektif, berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh
setiap anggota tim pendamping:
1. Membaca beberapa dokumen utama, seperti:
a. Lampiran III, Permendagri Nomor 54 Tahun 2010;
b. RPJM Nasional;
c. RPJP dan RPJM Provinsi dan Kabupaten;
d. RTRW Provinsi dan Kabupaten;
e. RPJMD kabupaten periode pemerintahan sebelumnya, dan
f. Membaca juga sejumlah dokumen RPJMD daerah lain sebagai
perbandingan.
2. Mencari, membaca dan mendiskusikan kembali resume pihak lain
mengenai struktur dan sistematika RPJMD;
3. Menemukan, membaca dan mendiskusikan kembali pengalaman yang
pernah ditulis oleh pihak lain yang pernah mendampingi penyusunan
rencana pembangunan daerah, ataupun mengajak narasumber yang
berpengalaman untuk dapat berbagi pengalaman dengan tim pendamping
yang sedang mempersiapkan diri;
4. Penting sekali setiap anggota tim pendamping mencari dan menguasai
informasi dasar mengenai kondisi pembangunan daerah yang akan
didampingi.
Dengan demikian, tim pendamping sudah cukup memiliki pemahaman untuk
melakukan pendampingan terhadap penyusunan RJMD satu daerah. Selanjutnya
tim pendamping dan tim penyusun mengagendakan jadwal pengiriman draft
awal untuk ditinjau oleh tim pendamping.

17

Bagian 4 EVALUASI TAHAP SATU:


Gambaran Umum Kondisi Pembangunan
dan Keuangan Daerah

A. Tinjauan: Gambaran Umum Kondisi Daerah


Bagian gambaran umum kondisi daerah merupakan data dan informasi dasar
tentang kondisi pembangunan terkini yang telah dilaksanakan sejak lima
tahun sebelumnya, persisnya termuat dalam Bab II dan Bab III dokumen
RPJMD. Keduabagian tersebut diatur oleh Permendagri 54 Tahun 2010 agar
menggambarkan aspek-aspek penting, seperti: aspek geografi dan demografi,
aspek kesejahteraan sosial, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing
daerah.
Setelah memperoleh draft Bab II dan Bab III dari tim penyusun, kemudian tim
pendamping memeriksa ketersediaan data dan informasi dasar pembangunan
yang diperlukan. Kecukupan data sangat penting, tanpa data dan informasi
maka pembahasan tidak bisa berlanjut untuk menyusun isu-isu strategis
pembangunan daerah dan tantangannya, demikian juga untuk menyusun visi
dan misi pembangunan. Berikut contoh formula yang telah terisi, yang dapat
digunakan oleh tim pendamping untuk melakukan tinjauan terhadap Bab II draft
RPJMD.

19

20

Aspek Daya
Saing Daerah

Fokus Layanan
Wajib:
Pendidikan

Aspek
Pelayanan
Umum

FOKUS
PEMBAHASAN

ASPEK
PEMBAHASAN

Syariat Islam

Pendidikan

BIDANG

Tabel

Tabel

Tabel

Tabel

Siswa usia SD yang


lulus Madrasah Diniyah
(5 tahun terakhir)
Jumlah masjid per
kecamatan tahun 2011
Ketersediaan TPA &
TQA per kecamatan
tahun 2011
Pelanggaran syariat
(5 tahun terakhir)

Tabel/Grafik

Rasio guru dan murid


per kecamatan (semua
jenjang PAUD, dasar
dan menengah dalam
5 tahun terakhir)

Tabel/Grafik

Tabel/Grafik

Rasio ketersediaan
sekolah dan penduduk
usia sekolah per
kecamatan tahun 2011
(semua jenjang PAUD,
dasar dan menengah)

Rasio guru bidang


studi dan murid per
kecamatan (jenjang
pendidikan menengah
dalam 5 tahun terakhir)

Tabel/Grafik

CARA
PENYAJIAN
DATA YANG
DISARANKAN

APS, APK, APM


perkecamatan (semua
jenjang dasar dan
menengah dalam
5 tahun terakhir)

DATA YANG
DIPERLUKAN

Analisis trend pelanggaraan syariat (naik,


turun, konstan)

Analisis jumlah TPA dan TQA per


kecamatan (naik, turun, konstan)

Analisis jumlah masjid per kecamatan


(naik, turun, konstan)

Analisis trend siswa SD lulus Madin (naik,


turun, konstan)

Analisis trend rasio guru bidang studi:


murid (naik, turun, konstan). Bandingkan
per kecamatan. Bandingkan dengan data
Aceh dan Nasional dan jelaskan jika ada
kesenjangan.

Analisis trend rasio guru: murid (naik,


turun, konstan). Bandingkan per
kecamatan. Bandingkan dengan data
Aceh dan Nasional dan jelaskan jika ada
kesenjangan.

Analisis per kecamatan untuk melihat


kesenjangan. Bandingkan dengan data
Aceh dan Nasional.

Analisis trend APS, APK, APM (naik,


turun, konstan). Bandingkan per
kecamatan. Bandingkan dengan data
Aceh dan Nasional dan jelaskan jika ada
kesenjangan.

BENTUK ANALISIS YANG DISARANKAN

Data belum tersedia

Data belum tersedia

Data belum tersedia

Data tidak tersedia

Depag/Dinas
Syariat Islam

Depag/Dinas
Syariat Islam

Depag/Dinas
Syariat Islam

Depag/Dinas
Syariat Islam

Disdik

Disdik

Data rasio guru


SD & SMP per
kecamatan.
Interpretasi kurang
tepat

Data belum tersedia

Disdik

Disdik

SUMBER
DATA

Data belum tersedia

Data APS, APK,


APM agregat SD,
SMP, SMA tahun
2006-2011

DATA YANG
SUDAH TERSEDIA

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Bagian 4 Evaluasi Tahap Satu:


Gambaran Umum Kondisi Pembangunan dan Keuangan Daerah

B. Tinjauan: Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah


Gambaran mengenai pengelolaan keuangan daerah dan proyeksi penerimaan,
belanja serta pembiayaan daerah untuk lima tahun ke depan diatur dalam
Permendagri Nomor 54 Tahun 2010. Penyusunan Bab III RPJMD harus dapat
menyajikan kondisi keuangan daerah dengan baik dalam rangkaian proses
perumusan rencana pembangunan daerah. Bab III harus dapat memberikan
gambaran tentang kinerja keuangan daerah di masa lalu (sekurang-kurangnya
5 tahun) berikut upaya-upaya peningkatan yang sudah dilakukan, dan kemudian
proyeksi keuangan daerah ke depan (untuk periode 5 tahun ke depan). Berikut
beberapa hal yang perlu diperhatikan saat tim pendamping meninjau bagian ini:
1. Sudahkah dalam Bab ini tersaji datadata (dalam Tabel) realisasi
penerimaan daerah masa lalu dari: (i) penerimaan asli daerah, (ii) dana
perimbangan, dan (iii) pendapatan lain yang sah.
2. Sudahkan tersaji datadata realisasi belanja daerah (dalam Tabel) berikut
persentase belanja daerah untuk sektor sektor utama yang alokasinya
telah ditentukan dalam perundangan-undangan. Misalnya: minimal 20
persen untuk sektor pendidikan dan 10 persen untuk sektor kesehatan.
3. Sudahkah dalam Bab ini tersaji perhitungan kebutuhan pengeluaran
pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama, dan
perhitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah untuk 5 tahun ke
depan, beserta analisa ketersediaan dana misalnya persentase celah fiskal
(fiscal space) untuk pembangunan?
4. Sudahkan ada data tentang rata-rata realisasi penerimaaan PAD, termasuk
persentase pertumbuhan lima tahun sebelumnya (dalam Tabel) dan
didukung dengan analisis perbandingan dengan daerah lain? Misalnya:
rata-rata realisasi pertumbuhan PAD meningkat sebesar xx% sejak periode
tahun xxxx hingga tahun xxxx;
5. Sudahkah terpetakan trend penerimaan dari transfer pemerintah pusat
dan trend penerimaan dari PAD serta persentase kontribusi PAD terhadap
ABBK (disajikan dalam Tabel dan narasi)?
6. Sudahkan terdapat gambaran perbandingan antara target dengan
realisasi penerimaan PAD selama kurun waktu 5 tahun yang lalu? Disertai
analisis terhadap sumbersumber potensial penerimaan PAD dan strategi
peningkatannya ke depan.

21

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

7. Sudahkah ada proyeksi dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SilPA) dan
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenan (SILPA) serta nominal
untuk rencana pembiayaan daerah untuk 5 tahun ke depan (Tabel dan
narasi), hal ini penting untuk pengambilan keputusan jika anggaran
diperkirakan surplus/defisit2?
Pada bagian Kebijakan Keuangan Daerah ini, sebaiknya ada data-data sebagai
berikut:
1. Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap APBD;
2. Kontribusi dana perimbangan terhadap APBD;
3. Kontribusi SILPA terhadap APBD;
4. Proyeksi PAD;
5. Proyeksi penerimaan dana perimbangan;
6. Proyeksi penerimaan lainlain pendapatan yang sah;
7. Proyeksi penerimaan pembiayaan;
8. Rasio belanja aparatur dengan belanja publik;
9. Perkembangan belanja aparatur dan belanja publik;
10. Proyeksi belanja daerah lima tahun sebelumnya.
Catatan
Evaluasi tahap pertama biasanya banyak menemui kekurangan, seperti:
1. Ketatabahasaan
2. Visualisasi data (Gambar, tabel, grafik, diagram, chart, dan
sebagainya)
3. Perbandingan kinerja keuangan daerah dengan daerah daerah lain
atau secara nasional.
4. Paraphrase, dan
5. Signifikansi data dan informasi yang disajikan.
Untuk itu pengalaman akademik sangat penting untuk memperkuat fase
tinjauan awal ini. Pada tahap ini komentar tertulis pada draft dari tim
pendaping sangat dibutuhkan sebagai bagian dari pembangunan kapasitas
aparatur, yang kemudian akan dipaparkan saat workshop pembahasan.
2 Reviewer perlu duduk bersama dengan eksekutif; membahas rencana pemanfaatan surplus anggaran, apakah
surplus ini akan dimanfaatkan untuk pengeluaran pembiayaan (penyertaan modal, menutup defisit & dana cadangan? Pemerintah
daerah boleh saja melakukan penyertaan modal sepanjang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)-nya diprediksi
surplus, Pemda lebih dulu harus memenuhi kewajibannya untuk melayani masyarakat dan membangun daerah melalui APBD
(Permendagri No.52/2012).

22

Bagian 4 Evaluasi Tahap Satu:


Gambaran Umum Kondisi Pembangunan dan Keuangan Daerah

C. Mengelola Workshop Kondisi Pembangunan dan Keuangan Daerah


Hasil tinjauan tahap pertama oleh tim pendamping disampaikan dalam satu
forum workshop yang difasilitasi oleh Bappeda dan dihadiri oleh seluruh
SKPD (kepala dinas, kepala bidang perencanaan dan program, dan operator),
termasuk mengundang kantor Kementerian dan Lembaga (K/L) yang ada di
daerah. Workshop ini dilaksanakan dengan tujuan:
1. Agar semua pihak dapat mengetahui dan terlibat dalam penyusunan
RPJMD;
2. Agar semua SKPD menyampaikan data dan informasi pembangunan yang
dinilai belum memadai;
3. Memastikan komitmen semua pihak untuk menyelesaikan penyusunan
dokumen RPJMD.
Berikut agenda workshop tahap pertama:
No

Kegiatan

1.

Pembukaan

Pelaksana/
Anggota

Tema/Materi

Waktu

Kepala
Bappeda

Sambutan dan penyampaian progress


penyusunan RPJMD

15 menit

15 menit

2.

Pembukaan

Koordinator tim
pendamping

a. Penjelasan metode melakukan


tinjauan
b. Penjelasan hasil tinjauan awal
c. Penjelasan mengenai metode
pelaksanaan workshop tahap
pertama

3.

Istirahat

Panitia

10 menit

a. Bappeda
b. SKPD
c. Tim
pendamping

a. Workshop kemudian dibagi menjadi


beberapa Kelompok FGD
b. Pembagian didasarkan pada tujuh
isu pembangunan daerah;
c. Setiap kelompok terdiri dari
beberapa SKPD terkait dengan tema
pembangunan setiap kelompok;
d. Setiap kelompok juga
beranggotakan staf Bappeda dari
bidang perencanaan terkait tema
pembangunan setiap kelompok.

10 menit

4.

Pembagian
kelompok
FGD

23

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Pelaksana/
Anggota

Tema/Materi

4.

FGD
perbidang

a. Bappeda
b. SKPD
c. Tim
pendamping

a. Setiap tim pendamping


menyampaikan hasil tinjauan tahap
pertama terhadap Bab II pada FGD
masing-masing bidang;
b. Anggota tim pendamping memimpin
diskusi untuk mengonfirmasi SKPD
dan Bappeda terhadap ketersediaan
sejumlah data dan informasi yang
belum lengkap;
c. Menugaskan Bappeda dan SKPD
untuk bekerjasama melengkapi data.

5.

Istirahat

Panitia

FGD
lanjutan

a. Bappeda
b. SKPK
c. Tim
pendamping

a. Melanjutkan diskusi mengenai


ketersediaan data dan narasi
terhadap data;
b. Menentukan tugas dan
tanggungjawab melengkapi data.

120 menit

Bappeda
selaku tim
penyusun
RPJMD

a. Meminta agar semua SKPD proaktif


membantu tim penyusun melengkapi
data dan informasi perkembangan
pembangunan.
b. Menyepakati jadwal penyampaian
tinjauan tahap kedua kepada tim
pendamping.

30 menit

a. Bappeda
b. Tim
pendamping

a. Mendiskusikan catatan hasil FGD


selama workshop berlangsung.
b. Memandatkan tim penyusun untuk
memperbaiki draft.
c. Menyepakati penyelesaian perbaikan
dan pengiriman kepada tim peninjau
untuk ditinjau kembali.

60 menit

No

6.

Kegiatan

Penutup

Refleksi
hasil
workshop

Waktu

120 menit

90 menit

24

Bagian 4 Evaluasi Tahap Satu:


Gambaran Umum Kondisi Pembangunan dan Keuangan Daerah

Catatan
Dapat digambarkan kondisi peserta workshop tinjauan pertama ini, sebagai
berikut:
1. Aparatur pemerintah banyak yang belum memahami fungsi strategis
dokumen RPJMD.
2. Manajemen pengelolaan data pembangunan pada setiap SKPK masih
lemah.
3. Kapasitas aparatur dalam melakukan perencanaan pembangunan
masih rendah.
Workshop pertama ini mendorong SKPK untuk memahami pentingnya
manajemen pengelolaan data pembangunan. Manajemen data yang baik
akan sangat membantu SKPK sendiri untuk merancang pembangunan
daerah.

25

Bagian 5 EVALUASI TAHAP DUA:


Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan

Tim pendamping tentunya telah mengetahui gambaran visi dan misi


pembangunan daerah sejak diskusi awal dengan kepala daerah. Terlepas apakah
telah mengacu kepada data dan informasi yang akurat, tugas tim pendamping
selanjutnya menguji kembali keakuratan visi dan misi-misi yang telah termuat
dalam draft RPJMD menggunakan data dan informasi pembangunan yang telah
dilengkapi melalui workshop sebelumnya.
Tim penyusun RPJMD mengirimkan draft Bab IV dan Bab V RPJMD kepada
tim pendamping untuk ditinjau. Selanjutnya tim penyusun mempersiapkan
workshop kedua sebagai media untuk mendiskusikan masukan tim pendamping
terhadap kedua bab tersebut.
Proses ini telah diyakinkan sejak awal kepada kepala daerah bahwa visi dan
misi kepala daerah adalah dimungkinkan untuk ditinjau kembali. Visi dan
misi pembangunan sangat menentukan pembahasan bagian berikutnya dalam
dokumen RPJMD, hingga pada akhirnya pembahasan RPJMD menghasilkan
sejumlah program pembangunan yang solid untuk memecahkan tantangan
pembangunan daerah.
Berdasarkan pengalaman dan beberapa sumber bacaan, tim pendamping dapat
menyarankan agar formulasi visi dan misi pembangunan mengacu kepada
beberapa prinsip berikut:
1. Visi dan misi-misi pembangunan didefinisikan dengan baik dan bersifat
operatif;
2. Penjelasan visi dan setiap misi agar mengemukakan dengan lugas
permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi oleh daerah;

27

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

3. Masing-masing misi pembangunan memperlihatkan fokus dan penekanan


pada bidang pembangunan yang akan ditangani ke depan;
4. Harus dijaga agar kandungan antar misi-misi pembangunan tidak saling
tumpangtindih, dan
5. Dipastikan agar antara visi, misi, tujuan, dan sasaran pembangunan saling
berhubungan dalam pembahasan selanjutnya dalam RPJMD.

A. Perumusan Visi dan Misi Pembangunan


Salah satu catatan penting saat pelaksanaan workshop pengumpulan
masukan terhadap buku panduan ini, bahwa forum diskusi mengharapkan
pemerintah terkait memperhatikan hubungan antara Pilkada dan pembangunan
daerah. Saat ini banyak calon kepala daerah yang menawarkan visi dan misi
pembangunan tanpa berpedoman kajian kondisi pembangunan daerah, sehingga
tantangan tersendiri untuk membahas kembali visi dan misi tersebut saat
terpilih. Sikap resistensi kepala daerah dan tim sukses akan mempertahankan
apa yang telah mereka rancang untuk kampanye kepala daerah.3
Beruntung jika kepala daerah terpilih adalah orang yang paham perencanaan,
sehingga visi dan misi pembangunannya sudah terarah sejak awal untuk
memecahkan masalah pembangunan daerah dan juga terbuka untuk diuji secara
akademis. Berdasarkan draft visi dan misi-misi pembangunan yang telah ada,
dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan metode berikut:
Visi

Misi

Tujuan

Sasaran

3
Penguatan visi dan misi pembangunan provinsi Aceh periode 2012-2017 mengalami kebuntuan setelah gubernur
terpilih dari Partai Aceh, sehingga tim penyusun RPJMD Provinsi Aceh harus menggunakan visi dan misi pembangunan yang telah
ditulis sebelumnya dalam Buku Merah pada saat kampanye Pilkada 2012.

28

Bagian 5 Evaluasi Tahap Dua:


Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan

Metode pemeriksaan ini menekankan agar visi pembangunan terdefinisikan


dengan baik, demikian juga dengan misi-misi penunjang yang akan dijalankan.
Selanjutnya, agar saling berhubungan, maka setiap misi harus jelas tujuan
dan sasaran pelaksanannya. Untuk itu antara visi, misi, tujuan dan sasaran
pembangunan harus dirumuskan dengan akurat.
Keseluruhan isi dalam formula ini kemudian dapat ditampilkan langsung dalam
pembahasan Bab V RPJMD. Dengan demikian, pihak lain dengan mudah dapat
memahami sistematika pembahasan RPJMD, bahkan setiap SKPD juga dengan
mudah dapat mengidentifikasi beban kerja serta tanggungjawab pembangunan
yang mereka pikul dalam lima tahun kedepan.
Catatan
Visi dan misi pembangunan harus disusun berdasarkan kondisi dan
masalah pembangunan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya
dalam RPJMD. Untuk itu visi dan misi pembangunan harus menggambarkan
strategi kerja pemerintah untuk menanganinya. Visi dan misi-misi
pembangunan akan diuraikan secara runut satu-persatu hingga pada
akhirnya menghasilkan program pembangunan yang tepat untuk kondisi
daerah.

B. Mengelola Workshop Penguatan Visi dan Misi Pembangunan


Pada tahapan ini penting dilaksanakan workshop kedua untuk membahas
temuan tim pendamping dalam draft pembahasan visi, misi, tujuan dan sasaran
pembangunan daerah. Workshop ini harus dihadiri sendiri oleh Bupati, Wakil
Bupati dan Sekretaris Daerah untuk bersama-sama ikut berdiskusi dengan tim
penyusun, SKPD, dan tim pendamping RPJMD.
Kendati demikian untuk workshop ini dapat dibatasi jumlah SKPD yang diundang
untuk hadir, terutama yang terkait dengan bidang-bidang utama pembangunan
saja, sebagaimana dalam draft misi-misi pembangunan.

29

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Catatan
Harus diakui, bahwa ini adalah fase yang sangat sulit dimana belum tentu
semua kepala daerah merasa penting untuk terlibat dalam penyusunan
RPJMD. Seringkali upaya bantuan teknis penguatan penyusunan rencana
pembangunan daerah mengalami kegagalan atau biasanya tidak berjalan
sesuai harapan akibat rendahnya minat kepala daerah untuk mengikuti
proses penyusunan RPJMD.

Dalam workshop ini, tim pendamping menjelaskan bahwa proses penguatan visi
dan misi pembangunan telah terakomodir dalam Permendagri Nomor 54 Tahun
2010. Kepala Daerah terpilih sebaiknya melakukan pembahasan kembali visi
dan misi sebelumnya hingga menjadi visi dan misi pembangunan daerah. Sering
ditemukan bentuk visi dan misi pembangunan yang panjang-lebar, berbelit,
tidak fokus, dengan istilah yang sulit dipahami. Untuk itu, workshop dapat
menjadi media untuk membahas masalah-masalah dalam penyusunan visi dan
misi pembangunan daerah.
Catatan
1. Visi pembangunan daerah haruslah singkat, rasional, operatif dan fokus,
sebagaimana telah banyak dipandu oleh berbagai manual pelatihan
perencanaan pembangunan;
2. Setiap misi pembangunan yang disusun agar mencakup keseluruhan
lini pembangunan, meski ada sektor yang ditonjolkan (leading sector);
3. Bobot komprehensif setiap misi pembangunan dapat menjamin semua
lini pembangunan dapat tertangani.
4. Visi dan Misi pembangunan mencerminkan beberapa hal:
a. Bobot kegiatan pembangunan daerah kedepan;
b. Kemampuan dan pengalokasian anggaran daerah, serta
c. Menggambarkan Susunan Organisasi dan Tata Kelola (SOTK)
daerah yang akan diperhabarui untuk menjalankan program dan
kegiatan pembangunan.

30

Bagian 5 Evaluasi Tahap Dua:


Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan

Berikut gambaran urutan kegiatan yang dapat dilakukan saat workshop


pembahasan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan daerah:
No.

1.

2.

Kegiatan

Pembukaan

Istirahat

Pelaksana/Anggota

Tema/Materi

Waktu

a. Kepala
Bappeda

Penyampaian kemajuan RPJMD

15 menit

b. Kepala
Daerah

a. Penjelasan visi dan misi


b. Persetujuan penguatan visi dan misi

30 menit

c. Tim
pendamping

a. Penyampaian catatan hasil tinjauan


terhadap visi dan misi pembangunan
b. Pemaparan metode pembahasan visi,
misi, tujuan, sasaran, strategi, dan
kebijakan pembangunan

15 menit

Panitia

15 menit

10 Menit

3.

Pembagian
kelompok
FGD

a. Bappeda
b. SKPK
c. Tim pendamping

a. Pembagian kelompok berdasarkan tujuh


misi pembangunan kabupaten.
b. Setiap kelompok terdiri SKPK terkait
setiap misi pembangunan.
c. Setiap kelompok beranggotakan satu
orang staf Bappeda dari Bidang
Perencanaan terkait dan juga tim
pendamping untuk membantu memandu
jalannya diskusi.

4.

FGD
kelompok

a. Bappeda
b. SKPK
c. Tim pendamping

a. Pembahasan visi pembangunan


b. Pembahasan masing-masing misi
pembangunan

120 menit

5.

Istirahat

Panitia

90 menit

a. Bappeda
b. SKPK
c. Tim pendamping

a. Presentasi catatan pembahasan


kelompok berdasarkan setiap misi
pembangunan yang dibahas.
b. Mendiskusikan dan memperkuat visi dan
misi pembangunan
c. Mendiskusikan strategi untuk mencapai
tujuan dan sasaran pembangunan

120 menit

a. Tim penyusun
b. Tim pendamping

a. Presentasi singkat catatan perjalanan


workshop oleh tim peninjau
b. Mendiskusikan mekanisme kerja tim
penyusun untuk memperbaiki draft
RPJMD
c. Mengagendakan pengiriman hasil
perbaikan kepada tim peninjau

30 menit

6.

7.

Diskusi
tindaklanjut
hasil FGD

Wrap up hasil
workshop

31

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Berikut visi dan misi pembangunan kabupaten Bener Meriah yang telah
dirumuskan dan sedang digunakan untuk pembangunan kabupaten periode
2012-2017.
Visi

TERWUJUDNYA
BENER MERIAH
MENJADI KABUPATEN
MADANI

Misi-Misi
1.

Mewujudkan masyarakat yang berkualitas dan


sejahtera dilandaskan keimanan dan ketaqwaan
kepada Allah SWT

2.

Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan


bersih

3.

Mengembangkan tata kelola pertanian yang terpadu

4.

Mengembangkan aktivitas sektor agroindustri

5.

Meningkatkan akses dan jaringan perdagangan


global

6.

Mengembangkan kemandirian dan usaha


pemanfaatan sumber daya energi

7.

Mengembangkan pemeliharaan dan pemanfaatan


hutan yang berkelanjutan

C. Memformulasikan Strategi Pembangunan


Setelah selesai menyusun visi dan misi, workshop kemudian membahas strategi
pembangunan dalam forum FGD masing-masing. Pembahasan mengenai strategi
ini penting untuk membantu pemerintah memilih program pembangunan yang
akan dijalankan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan tadinya.
Untuk itu tim pendamping menyarankan agar menggunakan metode SWOT
untuk membantu menghasilkan strategi yang tepat untuk mencapai sasaran
pembangunan. Berikut contoh salah satu analisis yang telah dilakukan dalam
RPJMD Kabupaten Bener Meriah.
Sasaran: Meningkatnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran
agama bagi masyarakat.

32

Bagian 5 Evaluasi Tahap Dua:


Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan

(O)
Peluang

SWOT

(S) Kekuatan

(W) Kelemahan

a. Mayoritas
masyarakat
muslim.
b. Dukungan
Kepala Daerah.
c. Adat Gayo yang
Islami.
a. Kondisi dan
fungsi Sarana
dan prasarana
keagamaan.
b. Sumberdaya
aparatur dan
tenaga teknis
keagamaan.

a. UUPA.
b. Qanun-qanun
Provinsi tentang
Syariat Islam.
c. Institusi
pemerintahan
kabupaten.
d. Fasilitas
keagamaan.

(T)
Ancaman
a. Derasnya arus
teknologi dan
informasi.
b. Masyarakat
yang masih
rentan
provokasi.

Rumusan strategi-strategi pembangunan:


1. Penguatan koordinasi dan organisasi
perangkat daerah pelaksana
pembangunan syariat Islam.
2. Penanaman keimanan dan ketaqwaan
melalui pendidikan.
3. Penguatan kualitas informasi keagamaan
di masyarakat.
4. Meningkatkan kegiatan-kegiatan sosial
keagamaan di kelompok masyarakat.

33

Bagian 6 EVALUASI TAHAP TIGA:


Program dan Indikator Kinerja Pembangunan

A. Memeriksa Rumusan Program dan Indikator Kinerja Pembangunan


Setelah selesai tahapan pemeriksaan sejumlah strategi pembangunan,
selanjutnya dilakukan peninjauan terhadap program pembangunan serta
indikator kinerja masing-masing program yang sudah disusun oleh tim penyusun
dalam draft RPJMD. Setelah draft dikirimkan, tim pendamping akan memeriksa
keakuratan program pembangunan yang akan dilaksanakan untuk mencapai
tujuan dan sasaran pembangunan.
Perumusan indikator pembangunan haruslah memperhitungkan kemampuan
daerah melaksanakan pembangunan secara bertahap lima tahun mendatang.
Sering tim penyusun RPJMD hanya menebak-nebak karena tidak dapat
menghitung kemampuan pembangunan untuk mencapai indikatornya, dengan
data awal yang tidak akurat dan tidak juga memperhitungkan kemampuan
daerah untuk mencapainya. Berikut formula yang dapat digunakan oleh tim
pendamping untuk memeriksa keakuratan program dan indikator kinerja
pembangunan daerah.

35

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

a. Isu Kependidikan:

Arah
Kebijakan

Program
Pembangunan

Indikator
Kinerja

Memberikan
jaminan
pendidikan
bagi
masyarakat
miskin dan
berkebutuhan
khusus

Program
Wajib Belajar
Pendidikan 12
Tahun

Rata-rata
lama
sekolah
(Tahun)

Capaian
Kinerja
Awal

Akhir

8,77

10,20

Bidang
Urusan

Pendidik
an

SKPK
Penanggung
jawab
Disdikpora

b. Isu Kesehatan:

Arah
Kebijakan

Program
Pembangunan

Indikator
Kinerja

Memberikan
dukungan
penyediaan
jaminan
kesehatan
bagi
masyarakat
miskin

Program
Upaya
Kesehatan
Masyarakat

Umur
harapan
hidup
(Tahun)

36

Capaian
Kinerja
Awal

Akhir

67,63

68,1

Bidang
Urusan

Kesehatan

SKPK
Penanggungjawab
Dinkes

Bagian 6 Evaluasi Tahap Tiga:


Program dan Indikator Kinerja Pembangunan

Untuk meningkatkan ketajaman visi dari satu perencanaan, tim pendamping


mengarahkan agar tim penyusun menemukan indikator yang bersifat impact/
outcome daripada indikator biasa yang bersifat aktifitas (activity) atau
perkiraan (proxy). Indikator impact ditetapkan melalui serangkaian pembahasan
sehingga jangkauan indikator kinerja program dapat dinilai lebih jauh. Untuk
itu tim pendamping mengusulkan penggunaan formula untuk memeriksa
ketepatan program dan indikator kinerja pembangunan.
Penyusunan dan pengisian formula diatas dapat melanjutkan tinjauan terhadap
rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan sebelumnya. Formula ini
sengaja menampilkan bidang urusan dan SKPD penanggungjawab setiap program
pembangunan dengan tujuan agar Bappeda bersama SKPD dengan mudah
memilah program masing-masing, dan sekaligus RPJMD mudah dijadikan alat
kontrol untuk penyusunan rencana kerja lima tahunan dan tahunan SKPD, dan
kemudian dapat dituangkan dalam Kontrak Kinerja Pembangunan masing-masing
SKPD bersama kepala daerah.

Catatan
Dalam melakukan peninjauan terhadap program dan indikator kinerja
pembangunan perlu memeriksa beberapa hal berikut:
1.
2.
3.
4.

Ketepatan program dan nama program;


Nama SKPD pelaksana program;
Kelengkapan data kondisi awal (tahun nol) pembangunan;
Data kondisi awal harus selaras dengan data kondisi umum
pembangunan daerah yang terdapat pada Bab II dan juga gambaran
keuangan daerah pada Bab III;

37

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

B. Mengelola Workshop Pembahasan Program dan Indikator Kinerja


Pembangunan
Pada tahapan ini perhatian dan intensitas diskusi antara tim penyusun dan
tim pendamping akan lebih meningkat. Setiap program pembangunan yang
dirancang harus dapat menjawab visi dan misi pembangunan daerah. Proses ini
harus melibatkan SKPD. Sebagai pihak yang mengetahui lebih banyak tentang
kondisi pembangunan dibidangnya, demikian juga kebijakan kementerian/
lembaga untuk daerah yang harus mereka akomodir saat menyusun Rencana
Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Untuk itu sangat dianjurkan kepada setiap
SKPD untuk menyusun terlebih dahulu draft Rencana Kerja lima tahunan
mereka, dan dijadikan sebagai bahan dasar dalam penyusunan RPJMD.
Workshop ini tidak lagi dilakukan secara formal seperti dua workshop
sebelumnya, akan tetapi lebih menggunakan metode klinik yang dilakukan
antara tim penyusun, tim pendamping, dan juga kepala daerah. Workshop ini
harus dilakukan secara intensif mengingat ini adalah puncak dari penyusunan
RPJMD. Untuk mengatur proses konsultasinya, tim pendamping menyusun dan
mengajukan jadwal konsultasi masing-masing kepada tim penyusun untuk
datang membahas program dan indikator kinerja pembangunan masing-masing.
Berikut gambaran jadwal konsultasi yang dapat dilakukan antara tim penyusun
dan pendamping.

Hari
&
Jadwal

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Pagi

Pendidikan

Reformasi
Birokrasi

Pertanian

Dinul Islam

Keuangan

Gabungan

Siang

Kesehatan

Infrastruktur

Perdagangan

Hukum dan
Sosial

Keuangan

Gabungan

38

Bagian 6 Evaluasi Tahap Tiga:


Program dan Indikator Kinerja Pembangunan

Catatan
Dalam proses konsultasi intensif ini, Bupati selaku kepala daerah diminta
mengunjungi tim penyusun dan turut berdiskusi selama proses pembahasan
berlangsung. Pengalaman Forum Peneliti Aceh dan Bappeda Kabupaten
Bener Meriah dapat berdiskusi langsung bersama Bupati dan Sekretaris
Daerah, dan juga Kepala Bappeda untuk merumuskan program dan
indikator kinerja pembangunan daerah.

Hingga tahap ini, tentunya masih banyak tugas lanjutan yang harus diselesaikan
oleh tim penyusun, seperti kelengkapan dan keakuratan data yang mesti
dikoordinasikan bersama SKPD. Demikian juga dengan perbaikan kecil
terhadap tata-bahasa. Sering deskripsi tulisan bersifat uraian terhadap data
kondisi pembangunan, sehingga tim peninjau menyarankan agar melakukan
analisis komparatif dalam mendeskripsikan kondisi pembangunan, seperti
dengan kondisi nasional dan provinsi disaat membahas kondisi pembangunan
kabupaten. Tim penyusun juga memperhatikan masukan Bappeda Provinsi
selaku pihak yang telah mengevaluasi proses penyusunan RPJMD Kabupaten dan
Kota, dan juga memperhatikan masukan dari DPRD.

39

Bagian 7 EVALUASI TAHAP AKHIR:


Pemeriksaan Konsistensi Pembahasan RPJMD

A. Pemeriksaan Rangkaian Uraian RPJMD


Pada tahap akhir penting dilakukan pemeriksaan yang bersifat menyeluruh
oleh tim pendamping terhadap draft RPJMD. Hasil perbaikan draft yang
telah disampaikan oleh tim penyusun perlu ditinjau kembali. Sekali lagi tim
pendamping akan memeriksa saran perbaikan yang telah dilakukan oleh tim
penyusun, hubungan bab perbab barangkali masih butuh penguatan, disamping
tim pendamping tetap fokus pada keakuratan indikator dan nilai indikator
kinerja pembangunan daerah yang dibahas sebelumnya.
Ini merupakan tahapan akhir dari serangkaian komitmen untuk mendampingi
proses penyusunan RPJMD. Pemeriksaan ketepatan indikasi pendanaan program
dilakukan oleh pakar keuangan daerah dalam tim peninjau, serta dibantu oleh
anggota tim pendamping lainnya sesuai bidang masing-masing. Dengan demikian
rencana pembiayaan pembangunan untuk lima tahun mendatang benar-benar
fokus pada permasalahan dan strategi yang telah direncanakan pada Bab-bab
sebelumnya dalam draft RPJMD. Berikut dapat dilihat formula pemeriksaan
yang digunakan untuk memeriksa konsistensi pembahasan keseluruhan dokumen
RPJMD.

41

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Berikut penjelasan penggunaan formula pemeriksaan:


Petunjuk Penggunaan Formula Pemeriksaan Akhir Draft RPJMD
I. Bukalah file Bab II, Bab VII, Bab VIII, dan Bab IX secara bersamaan.
II. Mulai melihat dari Bab VII: lihatlah setiap indikator kinerja program dengan
teliti, lalu periksalah:
a. Apakah nama setiap program sudah tertulis dengan benar.
b. Setelah itu, lalu periksalah indikator kinerja setiap program apakah sudah
tertulis atau belum.
c. Jika sudah ada, maka nilailah apakah indikator tersebut bersifat activity,
proxy, atau impact?
d. Jika tidak, maka catatlah dan tim penyusun bersama SKPK terkait untuk
melengkapinya, termasuk mendorong tim penyusun untuk menggunakan
indicator yang bersifat outcome.
e. Tuliskanlah pada kolom pemeriksaan nomor halaman dimana indikator dan
nilai indikator kinerja yang harus diperbaiki tersebut terletak pada Bab VII,
hal ini untuk membantu tim penyusun menemukannya.
f. Berikutnya, periksalah data pendukung indikator tersebut apakah sudah
tercantum pada Bab II dengan tepat.
III. Bukalah Bab II;
a. Periksalah dimana data pendukung tersebut harus berada dengan tepat
pada aspek dan fokus pembangunan apa?
b. Jika belum terdapat, maka tuliskanlah nomor halaman dimana data
tersebut harus ditambahkan pada Bab II.
c. Setelah menuliskan direksi tersebut, lalu kembali melihat ke bab VII untuk
melanjutkan pemeriksaan kesesuaiannya dengan Bab VIII.
IV. Bukalah Bab VIII:
a. Periksalah apakah program pembangunan, indikator, dan nilai indikator
kinerja yang tertulis pada Bab VIII sudah sesuai dengan yang sudah
tertulis pada bab VII tadinya.
b. Jika belum, maka tugaskanlah tim penyusun untuk melengkapinya
c. Tuliskanlah nomor halaman dimana seharusnya indikator dan nilai indikator
kinerja tersebut harus dilengkapi pada Bab VIII.
d. Pemeriksaan konsistensi ini kemudian dilanjutkan pada Bab IX
V. Bukalah Bab IX
a. Sebagai Bab yang memuat penetapan indikator kinerja daerah, maka
periksalah kembali konsistensi indikator kinerja yang terdapat pada Bab IX
ini dengan yang telah tertulis pada bab VII tadinya.
b. Jika belum sesuai, maka tugaskanlah tim penyusun untuk melengkapinya.
c. Tulisakanlah nomor halaman dimana indikator tersebut seharusnya berada
pada Bab IX.

42

Bagian 7 Evaluasi Tahap Akhir:


Pemeriksaan Konsistensi Pembahasan RPJMD

43

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

PADA BAB VII


Program Pembangunan

Indikator

PADA BAB

Jenis indikator

Perlu
perbaikan
Indikator
(Ya/Tidak)

Saran Perbaikan

Impact

Ya

Sebaiknya
gunakan indikator
Angka Melek
Huruf

Hal. 5/6 (ada


kesalahan
penomoran
halaman)

Ya

Cakupan
imunisasi Desa/
kelurahan
(Universal Child
Immunization =
UCI)

VII-7

Cakupan imunisasi Desa/


kelurahan (Universal Child
Immunization = UCI) tahun
2008-2012

VII-16

Karena memang dari dulu


pengukuran terhadap
parameter ini belum pernah
dilakukan, maka dibenarkan
bila data terkait tidak
disajikan di BAB II

No. halaman
pada dokumen
Bab VII

Data Bab II yang harus


dilengkapi

1. Bidang Pendidikan
Pengembangan Budaya Baca dan
Pembinaan Perpustakaan

Rata-rata nilai
UN SD

2. Bidang Kesehatan

Program Pencegahan dan Penanggulangan


Penyakit Menular

Cakupan Desa/
kelurahan
Universal

Impact

3. Reformasi Birokrasi

Program peningkatan pengembangan


sistem pelaporan capaian kinerja dan
keuangan

Indeks Kepuasan
Pelayanan
Aparatur

Impact

Ya

Sebaiknya karena
disebut indeks,
maka rentang
nilainya dari 0-1

lahan kopi
bermasalah

Impact

Ya

Penurunan
luas lahan kopi
bermasalah

22

Deskripsi luas lahan kopi


bermasalah

Jumlah PLTMH,
PLTM, PLTA,
PLT Panas Bumi
(Geotermal),
PLT Biomassa
yang telah
dimanfaatkan
secara komersil

Impact

Tidak

Pertumbuhan
PDRB sektor
energi

29

Tabel 2.8 harus memuat data


peranan sektor energi, bukan
hanya listrik dan air minum

VII-3

Harus diinformasikan jumlah


Muzakki dan bahkan Muzakki
potensial yang bisa berzakat

VII-111

Nilai eksport kabupaten


Bener Meriah sejak lima
tahun sebelumnya

4. Bidang Pertanian
Program revitalisasi perkebunan kopi
berbasis masyarakat
5. Bidang Energi Terbarukan

Memperbesar peran Perusahaan Daerah


dlm mengembangkan energi terbarukan
secara komersil

6. Bidang Dinul Islam

Program Peningkatan Pelayanan Zakat

Jumlah muzakki
yang membayar
zakat mal

Impact

Ya

Isikan angka
persisnya dari
Baitul Mal, bukan
persentase.
KONFIRMASIKAN
BERSAMA
BADAN BAITUL
MAL

Nilai ekspor
bersih

Impact

Ya

Belum ada
angka awal,
isikan indikator
pembangunan ini

7. Bidang Perdagangan
Program peningkatan dan pengembangan
ekspor

44

Bagian 7 Evaluasi Tahap Akhir:


Pemeriksaan Konsistensi Pembahasan RPJMD

II

PADA BAB VIII


Halaman
penempatan yang
disarankan

II-25

Tidak ada

PADA BAB IX

Konsisten dengan
indikator pada
Bab VII

Jika TIDAK, saran perbaikan

Ya

Sebaiknya gunakan indikator


Angka Melek Huruf

Tidak

Cakupan imunisasi Desa/


kelurahan (Universal Child
Immunization = UCI),
namanya aja di rubah, angka
udah

VIII-12

Tidak

Pada BAB II disebutkan


angka capaian 40%,
sedangkan pada BAB VIII
capaian 2013 0,2 dan 2017
0,85. Selain itu, Terdapat nilai
pada baseline sebesar 0,1.
Bila memang nilai ini ada,
maka harus ditampilkan data
di BAB II

belum ada data


awal

Konsisten dengan
indikator pada
Bab VII

Jika TIDAK, saran


perbaikan

No. halaman pada


dokumen Bab IX

Tidak

Indikator ini dimasukkan


dalam tabel 9.1

Program Pengembangan
Budaya Baca dan
Pembinaan Perpustakaan

Ya

Cakupan imunisasi
Desa/kelurahan
(Universal Child
Immunization = UCI),
namanya aja di rubah,
angka udah

IX-4

VIII-35

Ya

tidak ada saran

IX-9

YA

45

ya

No. halaman pada


dokumen Bab VIII

Hal. 37-38
(ada kesalahan
penomoran
halaman)

17

Tidak

Pertumbuhan PDRB sektor


energi

50

Tidak

Pertumbuhan PDRB
sektor energi

16

II-30

Tidak

Isikan angkanya

VIII-40

Tidak

Isikan angnya, jangan


gunakan persen

IX-2

Tidak

isikan indikator
pembangunan ini, jangan
menggunakan prosentase,
dan lengkapi atarget tahunan
yang ingin dicapai.

VIII-52

Tidak

Pada bagian ini belum


terdapat program
dan indikator kinerja
program

IX-15

II-31

45

Bagian 7 Evaluasi Tahap Akhir:


Pemeriksaan Konsistensi Pembahasan RPJMD

B. Mengelola Workshop Pembahasan Tinjauan Akhir


Hasil tinjauan akhir ini selanjutnya disampaikan kepada tim penyusun dalam
workshop ketiga. Berikut gambaran agenda workshop yang dapat dilakukan.
No.

Kegiatan

Pelaksana/
Anggota

1.

Pembukaan

Kepala Bappeda

2.

Pembukaan

Tim penyusun

3.

Istirahat

Panitia

Tema/Materi
Penyampaian progress perbaikan
keseluruhan RPJMD
Pemaparan metode melakukan
tinjauan
Penjelasan hasil tinjauan

-
-

4.

FGD kelompok

5.

Istirahat

Panitia

Melengkapi indikator dan nilai


indikator kinerja pembangunan.
Mengakuratkan data kondisi
pembangunan
Melibatkan SKPK dalam
merumuskan indikator kinerja
program pembangunan yang
akan mereka laksanakan

-
-

6.

Diskusi Wrapup hasil FGD

30 menit

120 menit

90 menit
Presentasi catatan hasil diskusi
oleh tim peninjau kepada tim
penyusun RPJMD
Tindaklanjut kekurangan
data dan informasi oleh tim
penyusun
Menyarankan kepada
Pemerintah Kabupaten
Bener Meriah untuk membuat
kontrak pencapaian kinerja
pembangunan bersama seluruk
SKPK

a. Tim penyusun
b. Bappeda
c. Tim
pendamping

15 menit

15 menit
-

a. Tim Penyusun
b. Bappeda
c. SKPK
d. Tim
pendamping

Waktu

-
-

45

120 menit

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

Sebagai catatan, tim pendamping harus menekankan kepada tim penyusun


untuk menuntaskan beberapa perbaikan yang masih dibutuhkan, serta dikawal
penuh oleh Kepala Bappeda. Segera setelah perbaikan selesai dilakukan, draft
RPJMD dapat disampaikan kepada legislatif untuk dibahas dan diberi payung
hukum. Disamping itu tim pendamping juga dapat mengingatkan kepada
Bappeda dan semua SKPK agar menyelesaikan penyusunan Rencana Strategis
(Renstra) setiap SKPD yang mengacu kepada RPJMD Kabupaten Bener Meriah
2012-2017. Segera setelah itu, Kepala Daerah juga diminta menerbitkan surat
edaran kepala daerah kepada seluruh SKPKD agar menyelesaikan penyusunan
Rencana Strategis limatahunan SKPD masing-masing, yang kemudian dilanjutkan
dengan penyusunan Rencana Kerja tahunan sebelum akhirnya menyusun
Rencana Kerja Pembangunan Daerah tahun pertama yang mengacu kepada
RPJMD yang baru.

46

Profil Tim Pendamping

1. Teuku M. Iqbalsyah (Koordinator, Bidang Kependidikan)


Dr. Iqbalsyah telah bekerja sebagai dosen Universitas Syiah
Kuala (Unsyiah) Banda Aceh selama lebih dari lima belas
tahun. Setelah memperoleh gelar PhD dari University of
Manchester UK pada tahun 2005, Dr. Iqbalsyah banyak terlibat
dalam manajemen di perguruan tinggi, diantaranya sebagai
Ketua Jurusan Kimia (2006-2008), Pembantu Dekan Akademik
FMIPA (2008-2012) dan Ketua Career Development Centre
Unsyiah (2013 sekarang). Dengan keahlian teknis dalam
bidang manajemen dan quality control sektor pendidikan,
khususnya pendidikan tinggi, dia telah terlibat sebagai education specialist
dalam beberapa aktivitas misalnya dalam penyusunan Renstra Pendidikan
Aceh 2013-2017, feasibility study pendirian Politeknik Aceh, dan penyusunan
Aceh Public Expenditure Analysis 2004. Selain itu, dia juga sering diminta
untuk menjadi pembicara pada workshop pengembangan proses pendidikan
baik internal maupun eksternal Unsyiah. Dr. Iqbalsyah, dalam wadah Forum
Peneliti Aceh, juga aktif mendorong penerapan praktik evidence based planning
bagi pemerintah daerah, misalnya sebagai ketua tim asistensi pengembangan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bener Meriah tahun 2012.

47

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

2. Taufiq A. Rahim (Bidang Perdagangan)


Taufiq, PhD., saat ini sebagai Tenaga Pengajar Luar Biasa pada
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah). Setelah menyelesaikan studi dan mendapatkan
gelar PhD (Philophy of Doctor) pada Universiti Kebangsaan
Malaysia (UKM), mengambil Program pendidikan Sains
Politik dan melakukan penelitian tentang Ekonomi Politik
Internasional, berkaitan dengan liberalisasi perdagangan
bebas ASEAN. Taufiq, PhD selama ini aktif pada beberapa
kegiatan yang bersifat relawan dan membantu beberapa
LSM (NGO) lokal dalam aktivitas yang bersifat akademis dan
penelitian. Sejak menyelesaikan studi di UKM tahun 2012 kembali ke Banda
Aceh, ini dilakukan setelah studi program Doktor Falsafah (PhD) selama lebih
kurang sepuluh tahun (sejak tahun 2002-2012), sebuah perjalan panjang usaha
menempuh pendidikan dengan tekat dan semangat ber-ilmu pengetahuan.
Dengan berbekal latar pendidikan ekonomi studi pembangunan pada S1 dan
S2 di Fakultas Ekonomi Unsyiah, melanjutkan pendidikan S3 bidang ilmu
politik, juga sering mengikuti workshop dan seminar pada tingkat nasional
serta internasional, mencoba memahami ilmu yang dipadukan antara ekonomi
dan politik sebagai suatu bidang ilmu yang cenderung semakin berkembang
pada saat ini. Taufiq, PhD pada Forum Peneliti Aceh, juga aktif terlibat dalam
usaha mendorong penerapan praktik evidence based planning bagi pemerintah
daerah, misalnya sebagai anggota tim asistensi pengembangan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bener Meriah tahun 2012 untuk
bidang Ekonomi dan Perdagangan.

3. Elly Sufriadi (Reformasi Birokrasi)


Selain menjadi Dosen di Program Studi Kimia Fakultas MIPA
Universitas Syiah Kuala, Elly Sufriadi sangat perhatian
dengan dinamika demokrasi di Aceh, baik pada masa
konflik maupun di era damai. Sejak bergulirnya reformasi,
pasca menyelesaikan pendidikan Magister Kimia di Institut
Teknologi Bandung, Tahun 1999, terlibat aktif dalam Forum
Rektor Indonesia (FRI) yang saat itu merupakan komponen
masyarakat sipil yang secara nasional berperan dalam
mengawal dimulainya era reformasi, yang dibuktikan
dengan keterlibatan FRI sebagai pemantau Pemilu Legislatif

48

Profil Tim Pendamping

Tahun 1999. Keterlibatan dalam FRI diteruskan sampai ditunjuk menjadi


Koordinator FRI Simpul Aceh pada Tahun 2004. Pada tahun tersebut FRI Aceh
merupakan satu-satunya FRI yang melakukan pemantauan pemilu legislatif dan
pemilu presiden di masa Darurat Militer Aceh. Sebagai bagian dari masyarakat
sipil, pada Tahun 2006 menjadi Koordinator Pemantauan Pilkada Aceh pasca
konflik Tahun 2006. Selain melakukan pemantauan dalam bentuk Paralel Vote
Tabulation (PVT) atau yang lebih dikenal dengan Quick Count, juga melakukan
Audit Daftar Pemilih (ADP) dan Voter Attitude Survey (VAS). Keterlibatan dalam
dunia demokrasi dan pembangunan Good Governance tidak berhenti sampai
disitu. Tahun 2009 juga menjadi Koordinator Pemantauan Pemilu Legislatif
yang pertama sekali melibatkan partai lokal sebagai peserta pemilu. Metode
pemantauan yang dilakukan disebut dengan Sample based Observation Election
Monitoring (SBOEM), dimana hasil pemantauan kekerasan yang dilakukan oleh
kontestan dapat dihubungkan dengan perolehan suara dari kontestan tersebut.
Sejak 2012, bersama para peneliti lain di Aceh telah bergabung dalam Forum
Peneliti Aceh (FPA). Bersama forum ini ikut terus mendorong penguatan
kapasitas birokrasi dalam membangun perencanaan pembangunan dan
implementasi yang lebih baik. Motto dalam hidup: Kepekaan terhadap situasi
lingkungan menjadi energi yang besar dalam melakukan perubahan.

4. Nurjannah (Bidang Kesehatan)


Nurjannah menamatkan pendidikan dokter pada Fakultas
Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada tahun
2004 dan memperoleh gelar Master of Public Health (MPH)
pada The University of Sheffield, The UK di tahun 2008.
Selain menjadi staf pengajar di bagian Ilmu Kedokteran
Komunitas/ Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran
Keluarga di FK Unsyiah, ia juga bekerja sebagai konsultan
public health dan aktif dalam melakukan penelitian
yang berkaitan dengan public health seperti masalah
kesehatan ibu dan anak, penyakit menular dan tidak
menular, kebijakan kesehatan dan pembiayaan kesehatan. Nurjannah juga ikut
bergabung dalam Forum Peneliti Aceh (FPA) untuk bidang kesehatan dalam
rangka memperkuat peran FPA dalam dalam pembangunan di propinsi Aceh.

49

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

4. Renaldi Safriansyah (Bidang Keuangan dan Belanja


Publik)
Renaldi Safriansyah menyelesaikan studi magisternya di
Queensland University of Technology, Australia (2010) dan
International Islamic University Malaysia (2007). Renaldi
telah bekerja di beberapa lembaga internasional termasuk
IFC/World Bank (2006 2009) dalam program technical
assistant and advisory services (TAAS) bagi pembangunan
ekonomi daerah. Saat ini, aktif mengajar di Unsyiah dan UIN Arraniry dan juga
bekerja sebagai peneliti senior pada Public Expenditure Analysis and Capacity
Strengthening Program (PECAPP), program kerjasama antara Bank Dunia/CPDA
dan Universitas Syiah Kuala untuk peningkatan kapasitas pemerintah daerah
dalam pengelolaan keuangan publik. Bersama Forum Peneliti Aceh, ia ikut
mendorong perencanaan dan pembangunan daerah yang lebih baik.

5. Sri Wahyuni (Pembangunan Sosial, Keperempuanan dan Anak)


Menamatkan studi S1 Bidang Hukum Syariat, Jinayah wa
alsiyasah (Pidana dan Politik Islam) di IAIN Ar Raniry, Banda
Aceh. Aktif di beberapa lembaga swadaya masyarakat di
Aceh, antara lain pernah menjadi pendamping anak jalanan,
Manager Internal KONTRAS Aceh, Kepala Bagian Investigasi
dan data Gerakan Anti Korupsi (GERAK) Aceh, staff Satuan
Kerja Perempuan BRR NAD Nias, sempat pula bergabung
dengan Tim Development and Peace World Bank 20062009. Bersama tim ini banyak belajar mengenai seluk beluk
penelitian, terutama memperkuat bidang Politik dan Pemilu Paska Damai di
Aceh. Sangat tertarik pada isu perempuan dan politik. Penelitian tentang isu
ini pernah dilakukan pada tahun 2010 paska dengan judul Peran dan Posisi
Perempuan dalam Politik, study kasus Pemilu di Pidie dan Pidie Jaya tahun
2009. Bersama FPA menjadi focal point dalam membangun komunikasi dengan
Bupati terpilih tahun 2012 dan aktif dalam proses pendampingan RPJMD Kab
Bener Meriah. Lebih Baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan,
adalah motto hidup yang mendorong untuk terus berbuat demi kebaikan
ummat.

50

Profil Tim Pendamping

6. Rita Khathir (Bidang Pertanian)


Rita Khathir telah menyelesaikan Program Doktor dalam bidang
Teknik Pertanian Pasca Panen dari Georg-August Universitaet
Goettingen, Jeman pada tahun 2011. Sejak tahun 2002 telah
bekerja sebagai dosen pada Fakultas Pertanian Unsyiah.
Kepeduliannya pada pembangunan masyarakat dibuktikan
dengan partisipasi aktifnya bersama tim Forum Peneliti Aceh,
terutama dalam program asistensi penyusunan Rancangan
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Bener
Meriah tahun 2012-2017. Selalu merasa tidak tahu apa-apa
adalah senjatanya untuk terus memperkaya ilmu dan pengalaman. Cita-citanya
adalah mengimplementasikan kemandirian dalam rangka memberikan manfaat
kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

7. Mahidin A. Taleb (Sektor Energi Terbarukan)


Mahidin A. Taleb menyelesaikan pendidikan sarjana di
Unsyiah, Banda Aceh pada tahun 1994 dan magister di
ITB, Bandung Humaniora pada tahun 1999. Keduanya
dalam bidang Teknik Kimia. Selanjutnya pada tahun 2003
memperoleh gelar doktor dalam bidang sumberdaya dan
energi pada Universitas Kobe, Jepang. Bekerja sebagai staf
pengajar di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Unsyiah
sejak tahun 1995. Disamping mengajar, yang bersangkutan
juga aktif meneliti dalam bidang sumberdaya energi baru
dan terbarukan, dan sejak tahun 2005 mulai menekuni
bidang kebijakan dan perencanaan energi. Sejak 2012, bersama para peneliti
lain di Aceh telah bergabung dalam Forum Peneliti Aceh (FPA). Bersama forum
ini ikut terus mendorong untuk tumbuh-kembangnya kesadaran kalangan
akademis tentang perannya yang luas dalam dunia pembangunan di Provinsi
Aceh. Motto hidup yang dipegang adalah Belajar dan mengajarkan ilmu untuk
kemuliaan dunia dan akhirat.

51

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

8. Marzi Afriko (Bidang Dinul Islam)


Marzi Afriko memperoleh gelar Magister Humaniora pada
Program Pascarsarjana Ilmu Hukum, Universitas Syiah
Kuala, Banda Aceh tahun 2004. Selain aktif meneliti isu-isu
sosial, politik, dan hukum terutama di bidang keislaman,
juga bekerja sebagai konsultan penguatan perencanaan
pembangunan daerah bersama program Consolidating
Peaceful Development in Aceh (CPDA), Bank Dunia. Bersama
para peneliti di Aceh telah turut memperkuat jaringan antar
peneliti dibawah payung Forum Peneliti Aceh (FPA). Bersama
forum ini juga terus mendorong tumbuhkembangnya kesadaran kalangan
akademis akan perannya yang luas dalam dunia pembangunan. Salah satu motto
hidup yang dipegang yaitu Berfikir inovatif adalah modal menjadi khalifah
Allah yang amanah dan menabur kebajikan.

52

PROFIL
FORUM PENELITI ACEH (FPA)

1. Latar Belakang
Forum ini merupakan gabungan peneliti dan juga institusi yang bergerak di
bidang penelitian. Melalui forum ini ingin didorong agar penelitian dapat
menjadi lebih baik, hasilnya lebih bermanfaat, terdokumentasi dengan baik,
dan jaringan antar penelitinya menjadi lebih kuat. Melalui forum ini juga
diupayakan agar dunia penelitian dapat berkontribusi kuat terhadap proses
penyusunan kebijakan atau perencanaan pembangunan Aceh.

2. Visi
Meningkatnya kualitas dan kemanfaatan hasil-hasil penelitian.

3. Misi
a.
b.
c.
d.

Membangun jaringan yang sinergis antar peneliti dan lembaga penelitian;


Mengontrol kualitas dan penggunaan hasil-hasil penelitian;
Mempromosikan penelitian sebagai salah satu basis penyusunan kebijakan;
Mendokumentasikan hasil-hasil penelitian tentang Aceh.

4. Keorganisasian
a. Tim koordinasi FPA
FPA memiliki seorang koordinator yang tugas utamanya adalah mengontrol
kegiatan-kegiatan FPA agar berjalan dengan baik. Seorang koordinator

53

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

diangkat dan dipilih dari kalangan member FPA sendiri sebagai hasil
kesepakatan bersama. Seorang coordinator memiliki masa kerja selama
dua tahun, atau dengan beberapa kondisi tertentu dia tidak dapat
melanjutkan tugasnya. Koordinator juga berhak menghadiri berbagai
pertemuan atas nama FPA, atau dapat mewakilkannya kepada anggota tim
koordinasi.
Koordinator FPA dibantu oleh seorang sekretaris untuk melaksanakan
tugas-tugas kesekretariatan, disamping juga dibantu oleh seorang
bendahara untuk melakukan pencatatan pengelolaan keuangan organisasi
FPA.
b. Humas
Kegiatan FPA juga dilakukan oleh sejumlah tenaga kehumasan, baik untuk
mensosialisasikan maupun menciptakan kerjasama baru. Untuk itu tenaga
kehumasan memiliki mandat untuk menciptakan kerjasama antar peneliti
dan antar institusi penelitian, termasuk antara dunia penelitian dan
penyusunan kebijakan.
c. Anggota
Anggota FPA berasal dari para peneliti dan institusi penelitian berikut
para penelitinya. Hingga saat ini FPA belum menetapkan kualifikasi
keanggotaannya, berkut bidang keilmuan masing-masing. Untuk itu forum
ini masih terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung, termasuk para
peneliti dari luar Aceh yang meneliti tentang Aceh, kalangan akademisi,
praktisi, aktivis maupun pekerja sosial-kemanusiaan lainnya yang tertarik
dengan kegiatan penelitian.

5. Prinsip
a. FPA adalah forum peneliti yang bersifat independen dan tidak berbias;
b. FPA bukan organisasi formal, tetapi sejenis jaringan peneliti dan lembaga
penelitian;
c. FPA dapat bekerjasama dengan pihak lain sepanjang itu disepakati oleh
anggota dan tidak bertentangan dengan hukum.

54

Profil Forum Peneliti Aceh (FPA)

6. Hubungan kerjasama
a. FPA bekerjasama dengan setiap peneliti dan lembaga penelitian untuk
menjalankan kegiatannya.
b. FPA juga dapat bekerjasama dengan lembaga nasional maupun
internasional untuk mengelola suatu kegiatan yang dengan terkait visi dan
misinya;
c. FPA dapat menerima dukungan teknis dan finansial yang memungkinkan
dari berbagai pihak dengan mengedepankan peran anggotanya;
d. FPA dapat bekerjasama dengan pemerintah terkait proses pembangunan;
e. FPA juga bermitra dengan institusi penelitian kampus yang dalam hal ini
dapat memperkuat eksistensi FPA sendiri.
f. FPA bukan organisasi politik dan tidak dapat mengaitkan kegiatannya
dengan hal-hal yang berbau politis.

7. Peer Group
Nama Peer Group

No.
1.

Lingkungan dan Kebencanaan

2.

Ekonomi dan Sumberdaya Alam Aceh

3.

Pendidikan

4.

Kesehatan

5.

Gender dan Anak

6.

Pembangunan Perdamaian

7.

Hukum dan Syariah

8.

Good Governance

9.

Seni dan Konservasi Budaya Aceh

10.

Infrastruktur dan Pembangunan

11.

Demokrasi

55

Panduan Pendampingan
Perencanaan Pembangunan Daerah

8. Pengalaman dan Kegiatan


No.

Kegiatan

Penguatan
RPJM Provinsi
Aceh

Kerjasama
Kajian Tacid
Knowledge of
Democracy in
Aceh

Penguatan
RPJM
Kabupaten
Bener Meriah

Dukungan
Pengkajian
Kebutuhan
Penguatan
Institusi
Kelitbangan
Provinsi Aceh

Periode
Kegiatan

Peer Group/
Bidang

Pelaksana

Dukungan
Pelaksanaan

November
2011-Mei
2012

Gabungan
Peer Group

Gabungan Peer Group


Kesehatan (Nurjannah,
Tilaili, Rachmat
Suhanda, Cut Dian Teo),
Kependidikan (Mustanir, T.
M. Iqbalsyah, T. Zulkhairi,
Shabri Abdul Madjid),
Infrastruktur (Abdullah,
M. Isa, Izarul Machdar,
Masimin), Sosial dan
Budaya (Inayatillah, Eka
Srimulyani, Merduati, T.
Saiful, Damanhur Abbas),
Ekonomi (Harry Masyrafah,
Riswandi Hendratno,
Ichsan, Shabri Abdul
Madjid),

Des-11

Peer Group
Good
Governance

Elly Sufriadi dan Fuad


Mardhatillah

JICA,
Kementerian
Luar Negeri, dan
ICAIOS

Gabungan
Peer Group

Kependidikan (T. M.
Iqbalsyah), Kesehatan
(Nurjannah), Keuangan
dan Belanja Publik (Renaldi
Safriansyah), Perdagangan
(Taufik Rahman), Pertanian
(Rita Khatir), Infrastruktur
Energi (Mahidin), Dinul
Islam (Marzi Afriko),
Keperempuanan dan Anak
(Sri Wahyuni), Reformasi
BIrokrasi (Elly Sufriadi)

Bappeda
Kabupaten Bener
Meriah dan CPDA
The World Bank

Peer Group
Kelitbangan

Marzi Afriko, Fahmi Abduh,


Izarul Machdar, Abdullah,
Arif Arham, Bulman Satar,
Elly Sufriadi, Teuku Zulfikar,
Addy Saputra

Subbid Litbang
Bappeda Provinsi
Aceh, Lembaga
Administrasi
Negara, CPDA
The World Bank

September
2012 Maret 2013

2012

56

Bidang P2EP
Bappeda
Provinsi Aceh,
CPDA The World
Bank dengan
mengotrak
ICAIOS

Profil Forum Peneliti Aceh (FPA)

Peer Group/
Bidang

Kegiatan

Periode
Kegiatan

Assessment
Kondisi CSO
Aceh

Oktober Desember
2012

Kehumasan
FPA

Dara Adilla, Fakhruddin,


Ilhamsyah Siregar

LOGICA

Pelatihan
Penyusunan
Rencana
Strategis Dinas

Des-12

Gabungan
Peer Group

Sekretariat FPA

CPDA The World


Bank

Pendampingan
Evaluasi
Kondisi Balai
Latihan Kerja
se-Provinsi
Aceh

Jul-13

Peer Group
Ekonomi

Ichsan

Bidang P2EK
Bappeda Provinsi
Aceh

April - Juli
2013

Gabungan
Peer Group

Kependidikan (T. M.
Iqbalsyah), Kesehatan
(Nurjannah), Keuangan
dan Belanja Publik (Renaldi
Safriansyah), Perdagangan
(Taufik Rahman), Pertanian
(Rita Khatir), Infrastruktur
Energi (Mahidin), Dinul
Islam (Marzi Afriko),
Keperempuanan dan Anak
(Sri Wahyuni), Reformasi
BIrokrasi (Elly Sufriadi)

Bappeda
Kabupaten Bener
Meriah dan CPDA
The World Bank

2013

Gabungan
Peer Group

Gabungan Peer Group


(Tim Peninjau RPJMD
Kabupaten Bener Meriah)

CPDA The World


Bank, Bidang
P2EP Bappeda
Provinsi Aceh

No.

Pendampingan
Penyusunan
Rencana
Strategis SKPK
Kabupaten
Bener Meriah

Penyusunan
Pedoman
Praktis
Pendampingan
Penyusunan
Rencana
Pembangunan
Daerah

57

Pelaksana

Dukungan
Pelaksanaan