Anda di halaman 1dari 12

TK-4203 PERALATAN PROSES

TUGAS 05

Teknologi Produksi Garan dan Produksi Garam di Indonesia

Disusun oleh:
Alzrin Aulyna [13012031]

Dosen Mata Kuliah :


Dr. Ronny Purwadi
Dr. C.B.Rasrendra

SEMESTER II 2015/2016
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
MEI 2016

1.

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang keempat di dunia
(setelah Amerika seriat, Kanada, dan Rusia), yang mencapai 95.181 kilometer persegi. Luas
daratan Indonesia hanya sekitar 1.922.570 kilometer persegi sedangkan luas perairan laut
mencapai sekitar 7,9 juta kilometer persegi atau 81 persen dari luas keseluruhan. Salah satu
kekayaan alam yang melimpah akibat hal tersebut adalah potensi garam dari air laut yang
tinggi. Pada tahun 2012, luas lahan garam di Indonesia 2012 sekitar 34.000 ha, tetapi hanya
sekitar 20.000 ha (58%) yang dimanfaatkan untuk produksi garam. Luas lahan garam yang
produktif tersebut kurang mampu memenuhi kebutuhan garam di Indonesia. Selain itu, mutu
produksi garam di Indonesia masih banyak yang belum memenuhi standar apabila dilihat
dari kadar NaCl nya.
Saat ini, Indonesia memiliki daerah penghasil garam yang tersebar di sembilan provinsi, di
antaranya Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Timur (penghasil garam terbesar
di Indonesia), Jawa Tengah, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2013, produksi garam Indonesia
sebesar 1.319.607 ton, sementara itu kebutuhan garam dalam negeri mencapai 3 juta ton
per tahun dengan rincian 1,4 juta ton untuk garam konsumsi dan 1,6 juta ton garam untuk
industri. Tingginya kebutuhan garam ini dipicu oleh industri pangan nasional yang terus
meningkat. Dengan demikian, produksi garam Indonesia tersebut hanya dapat memenuhi
sebagian besar kebutuhan garam konsumsi nasional.
Salah satu penyebab fenomena tersebut adalah pemanfaatan lahan garam di Indonesia
yang masih rendah. Selain itu, kualitas garam yang dihasilkan pun masih rendah. Hal
tersebut dapat disebabkan proses refining atau pemurnian garam yang tidak memenuhi
syarat dan sistem pengelolaan pabrik yang masih kurang baik karena pengelolaan garam di
Indonesia yang terpusat pada skala-skala kecil. Umumnya, kualitas garam yang dikelola
secara tradisional harus diolah kembali untuk dapat membuhi kebutuhan garam konsumsi.
Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa metode untuk mencapai standar mutu
yang diharapkan. Hal ini terkait dengan sumber garam Di Indonesia, beberapa proses
pengolahan garam adalah penguapan dengan tenaga sinar matahari di ladang pembuatan
garam, penguapan dengan tenaga panas bahan bakar dalam suatu evaporator yang
dilanjutkan dengan kristalisasi dalam suatu crystalizer, pemisahan elektrokimia larutan
garam dengan proses elektrolisa kemudian kristalisasi dengan crystalizer.

2.

Isi

2.1

Garam

Garam didefinisikan sebagai suatu senyawa kimia yang bagian utamanya adalah Natrium
Klorida (>80%) dengan zat-zat pengotor terdiri dari CaSO 4, MgSO4, MgCl2, dan lain-lain.
Pengotor di dalam garam dibagi menjadi dua yaitu komponen mayor (K+ , Mg2+, Ca2+, H2O
dan/atau clay) dan komponen minor (logam berat dan bahan organik). Kristal garam
memiliki struktur kubus FCC (Face Cubic Center) yaitu setiap atom berikatan dengan enam
atom disekitarnya. Sruktur kristal NaCl dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur kristal NaCl


Umumnya, kristal garam berwarna putih dan dapat ditembus oleh cahaya. Tabel 2
menunjukkan sifat fisik garam berupa NaCl.
Tabel 2. Sifat fisik NaCl
Parameter
Massa molekul (g/mol)
Densitas (g/mL)
Titik leleh (oC)
Titik didih (oC)
Kapasitas panas (J/g.oC)
Kelarutan NaCl dalam 100 gram air

2.2

Nilai
58,44
2,165
801
1413
0,853
35,6 (0oC) ; 39,2 (100 oC)

Spesifikasi Garam

Kebutuhan garam dibedakan menjadi dua yaitu garam konsumsi dan garam industri. Garam
konsumsi adalah garam untuk keperluan konsumsi sedangkan garam industri adalah garam
yang digunakan sebagai bahan baku/penolong pada proses produksi. Berdasarkan SNI
(Standar Nasional Indonesia) 06-0303-1989, garam konsumsi memiliki kandungan NaCl
minimal 95% sedangkan garam industri memilik kandungan NaCl minimal 98,7 % atas dasar
persen berat kering (dry basis). Pada beberapa industri, dibutuhkan kadar NaCl yang
bervariasi.Pada industri perminyakan, tekstil, dan penyamakan kulit, dibutuhkan garam
dengan kandungan NaCl di atas 97,5%. Sementara itu, industri chlor alkali membutuhkan
garam dengan kadar NaCl di atas 98,5% sedangkan industri farmasi membutuhkan garam
dengan kadar NaCl di atas 99,5% (PT. Garam Persero, 2000).
Di Indonesia, garam yang diproduksi terutama adalah garam rakyat. Garam ini berasal dari
evaporasi air laut dan kristalisasi pada tambak-tambak garam. Berdasarkan kualitasnya,
garam rakyat dikelompokkan menjadi tiga jenis sebagai berikut.
a
b

Garam K-1 yaitu kualitas garam rakyat terbaik dengan kadar NaCl sekitar 97,1%.
Garam K-2 yaitu kualitas garam rakyat yang lebih rendah dari garam K-1. Secara
fisik, garam K-2 berwarna sedikit kecoklatan dan lembab. Kandungan NaCl dalam
garam ini sekitar 94,7%..

Garam K-3 yaitu kualitas garam rakyat terendah yang berwarna coklat dan
bercampur lumpur. Kandungan NaCl dalam garam ini kurang dari 94,7 %.

Gambar 3 menunjukkan perbandingan tingkatan kualitas garam rakyat yang diproduksi.

Gambar 3. Perbandingan tingkatan kualitas garam rakyat yang diproduksi di Indonesia


2.3

Sumber garam

Beberapa sumber garam adalah mineral hasil pertambangan, air laut, serta sumber air yang
mengandung garam. Setiap sumber garam memiliki proses pengolahannya masing-masing.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan sifat fisik garam di setiap sumber. Pada umumnya,
garam hasil produksi masih mengandung pengotor sehingga dibutuhkan proses lebih lanjut
untuk memurnikan garam. Berikut ini adalah penjelasan mengenai proses pembuatan garam
berdasarkan sumbernya menurut Turing dkk. (2006).
2.3.1

Rock salt

Rock salt merupakan garam yang dihasilkan dari mineral-mineral hasil pertambangan.
Proses pembuatan garam ini dilakukan melalui beberapa tahap yang dijelaskan sebagai
berikut. Gambar 4 menunjukkan pemrosesan rock salt.
a. Tahap pencarian
Rock salt biasanya ditemukan bersamaan dengan pencarian air atau minyak. Saat garam
terdeteksi dari suatu sumber pertambangan, maka dilakukan pengeboran pada sumber
tersebut. Selanjutnya, akan dilakukan analisis kandungan garam terhadap sampel yang
diambil dari sumber tersebut. Jika tambang garam tersebut mengandung mineral garam
yang cukup banyak, maka akan dilanjutkan pada tahap selanjutnya.
b. Tahap Undercutting
Pada tahap ini, sumber tambang garam dibor pada beberapa bagian membentuk lubanglubang. Kemudian, setiap lubang dimasukkan peledak untuk menghasilkan batuan-batuan
yang kemudian akan dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut.

c. Tahap akhir
Batuan yang telah dikumpulkan dipilah berdasarkan ukuran. Batuan yang masih berukuran
besar, di atas 23 cm, dihancurkan menjadi lebih kecil dan dikumpulkan bersama batuanbatuan kecil lainnya. Selanjutnya dilakukan proses penghancuran sekunder di mana ukuran
partikel direduksi menjadi sekitar 8 cm. Setelah itu, dilakukan proses picking di mana logamlogam yang terkandung dalam garam dipisahkan dengan magnet. Kemudian, garam
dihancurkan lagi hingga ukuran 2,5 cm. Jika dibutuhkan, garam dihancurkan menjadi lebih
kecil melalui proses grinding.

Gambar 4. Pemrosesan rock salt


2.3.2

Solar salt

Solar salt merupakan garam yang dihasilkan dari proses penguapan larutan brine, yang
disebut proses solar evaporation. Larutan brine dapat berasal dari air laut maupun sumber
air garam lain, seperti danau atau mata air yang mengandung garam. Pada proses ini,
larutan brine dialirkan ke wadah penguapan di mana terjadi proses penguapan air akibat
panas matahari. Proses pembuatan garam rakyat ini diawali dengan pemindahan air laut ke
dalam petak garam. Lalu, air laut diuapkan pada petak-petak tambak garam sehingga
kepekatan air laut dapat meningkat. Proses pemekatan air laut ini disebut sebagai proses
peminihan. Setelah kepekatan air mencapai 25oBe, air laut hasil peminihan siap untuk
proses kristalisasi. Skema pembuatan garam dari air laut ditunjukkan pada gambar 5.

Gambar 5. Pembuatan garam dari air laut

Berikut ini adalah tahapan salah satu pembuatan garam rakyat di NTT.
Dari kolam penampungan/bozem setelah kadar garam mencapai 5 0Be, air laut
langsung disalurkan ke kolam penguapan I (setelah 10-12 hari), larutan garam di
kolam penguapan I/peminihan I didiamkan selama 3-4 hari hingga kepekatan larutan
garamnya mencapai 70Be, kemudian dipindahkan ke kolam penguapan II/peminihan
II,
Larutan garam di kolam penguapan II/peminihan II didiamkan selama 2 hari sampai
kepekatan 10oBe, kemudian dipindahkan ke kolam penguapan III/peminihan III,
larutan garam di kolam penguapan III didiamkan selama 2 hari hingga kepekatan
mencapai 12oBe lalu dipindahkan ke kolam penguapan IV/peminihanIV
larutan garam di kolam penguapan IV/peminihan IV didiamkan hingga kadar
mencapai 17oBe lalu dipindahkan ke kolam penguapan V,
larutan garam di kolam penguapan V/peminihan V didiamkan selama 1 hari hingga
kadar mencapai 23oBe -24oBe lalu dipindahkan ke kolam pengkristalan, pada
kolam pengkristalan/meja garam, larutan garam diusahakan agar kadar tidak
melebihi 30oBe, garam siap dipanen untuk proses pencucian. Nilai kadar NaCl pada
tahap ini masih dibawah standar.
Proses pencucian garam dilakukan dengan cara dimasak selama 8 jam untuk
menaikkan kadar NaCl.Pencucian bertujuan untuk meningkatkan kandungan NaCl
dan mengurangi unsur Mg, Ca, SO4 dan pengotor lainnya. Air pencuci garam yang
semakin bersih dari pengotor akan menghasilkan garam cucian lebih baik atau
bersih. Persyaratan air pencuci adalah air garam (brine) dengan kepekatan 20
24Be dan kandungan Mg 10 g/liter.
Pada setiap tambak garam terjadi proses pengendapan pengotor-pengotor garam dengan
urutan pengendapan ditunjukkan oleh Gambar 6.

Gambar 6. Urutan pengendapan garam pada penguapan air laut

3.

Teknologi produksi garam

Kegunaan garam yang luas menyebabkan kebutuhan produksi garam tersebut tinggi. Untuk
memenuhi kebutuhan garam konsumsi dan garam industri, terdapat berbagai jenis teknologi
produksi garam industri yang berkembang hingga di dunia. Tabel 3 menunjukkan beberapa
teknologi yang digunakan pada produksi garam di dunia.
Tabel 3. Teknologi-teknologi produksi garam industri di dunia
Lokasi Pabrik
Polandia
(Debiensko)
Jepang, Korea,
Taiwan
Laut Mati,
Yordania
Spanyol
1. Sals Monzon
2. Torrevieja
Belanda
Italia (Magherita Di
Sovoia)
Amerika Serikat
(Louisiana)
Prancis
1. Varangeville
2. Aigues-Mortes
Algeria,
Bangladesh,
Jerman, Yunani,
Iran, dan Turki

Kapasitas
total
(ton/tahun)
109.500

1.722.990
25.000
120.000
700.000
1,2 x 106
550.000
820.000

Proses yang digunakan


Hibrid : Tahap pertama-pretreatment
dan RO dan tahap kedua adalahposttreatment dari permeat
ED (elektrodialisis) dengan membran
penukar ion dan MEE (multiple effect
evaporation)
Kristalisasi garam hasil penguapan
matahari
Proses SALEX
MEE
Kristalisasi garam hasil penguapan
matahari
Kristalisasi dengan brine pretreatment, MVR (muti vapour
recompression)

600.000
400.000

Hibrid :MVC-MSF
Penguapan matahari

260.000

Rekristalisasi mirip dengan MSF (multi


stage flash)

Referensi

Ericsson dan Hallmans,1996


Kobuchi et al.,1983, Kawate et
al., 1983, Noble and Srem, 1995
Tanaka, et al.,2003
Abu-Khader, 2006, Westphal et
al., 2010
Sedivy, 2000
Nolan, 2011
Westphal et al., 2010
Zeno, 2009
Westpal et al., 2010, Shintech
Inc, 2011
Westpal et al., 2010

Westpal et al., 2010

Berikut ini akan dijelaskan beberapa proses produksi garam dari air laut.
3.1

Multiple effect evaporator (MEE)

Proses MEE memiliki prinsip mengalirkan uap bertekanan tinggi dari satu penukar panas ke
penukar panas berikutnya yang tersusun secara seri untuk menguapkan air pada temperatur
dan tekanan rendah. Sebelum melalui tahap MEE, dilakukan pemrosesan terlebih dahulu
terhadap air laut hingga diperoleh larutan garam dengan konsentrasi tertentu. Gambar 7
menunjukkan proses MEE.

Gambar 7. Proses produksi garam melalui MEE (multiple effect evaporation)

Efek pertama dioperasikan pada tekanan mendekati atmosferik sedangkan efek terakhir
dioperasikan pada tekanan mendekati vakum sehingga titik didih dari larutan garam akan
menjadi lebih rendah. Larutan garam pada setiap evaporator dialirkan secara bersiklus
melalui penukar panas dengan media uap panas sehingga akan membentuk larutan garam
jenuh (supersaturated) yang kemudian akan mengkristal. Dengan siklus larutan garam yang
mendidih tersebut, sedikit demi sedikit kristal dalam suspensi akan terbawa dan membentuk
padatan yang semakin membesar sehingga kristal akan jatuh melalui ujung corong.Uap
bersuhu tinggi yang telah digunakan dari efek pertama akan dibawa ke alat penukar panas
efek kedua dan dari efek kedua akan dibawa ke penukar panas efek ketiga dan seterusnya
sehingga hal ini akan menghasilkan pemanasan yang ekonomis. Uap dari efek ketiga
melalui kondenser kontak langsung (direct contact condenser) dan panasnya diambil untuk
dimanfaatkan pada peredaran air menara pendingin.
Semakin lama, pengotor yang larut pada larutan garam akan tinggal dan tersisa dalam
evaporator sehingga dapat mengkontaminasi kristal garam. Untuk mencegah hal tersebut,
pada saat larutan garam mencapai ketinggian tertentu, larutan garam dalam evaporator
akan dikuras dan kristal garam akan dibersihkan dengan larutan garam yang baru. Kristal
garam yang terkumpul di ujung corong diambil dalam bentuk lumpur dan dikeringkan
dengan sentrifugasi dan pengering unggun fluida (fluid bed drier). Untuk mengatasi dampak
dari kelembaban lumpur yang tinggi, ke dalam garam ditambahkan pelapis tipis agen anticacking sebelum melalui pengering unggun fluida. Garam dari pengering unggun fluida
disebut dengan garam vakum kering murni (pure dried vacuum salt /PDV salt). Proses ini
dapat menghasilkan garam hingga kemurnian 99,97%. Kelemahan dari proses-proses ini
adalah biaya awal yang cukup tinggi pada penyediaan alat dan kebutuhan bahan kimia.
Pengontrolan yang tinggi juga diperlukanselama proses produksi garam berlangsung.
3.2

Mechanical vapour compression (MVC)

Dalam proses produksi garam menggunakan mechanical vapour compression, panas untuk
penguapan umpan air laut berasal dari evaporator. Proses ini beroperasi dengan prinsip
kompresi uap yang terdiri dari tahapan penguapan air laut, kompresi uap yang terbentuk dari
air laut, dan menggunakan uap hasil kompresi tersebut sebagai sumber panas untuk
menguapkan air laut tambahan. Proses ini menggunakan kompresor sebagai energi
masukan penguapan air laut. Sebelum umpan air laut memasuki evaporator, air laut ini
dipanaskan dalam sebuah penukar panas yang memperoleh panas dari kondensasi
sebagian uap bertekanan tinggi menjadi air suling. Selain itu, uap air dari larutan garam
ditransfer dari evaporator ke kompresor untuk meningkatkan tekanan uap dan suhu. Proses
MVC ini ditunjukkan oleh Gambar 8. sebagai berikut.

Gambar 8. Proses produksi garam menggunakan MVC

Setelah melalui MVC, larutan garam diolah secara kimia untuk menghilangkan pengotorpengotor yang masih terkandung dan kemudian dipanaskan hingga membentuk kristal
garam. Proses MVC ini biasanya digunakan pada produksi garam skala kecil. Salah satu
kelebihan proses ini adalah tidak membutuhkan sumber pemanas eksternal yang besar.
Meskipun demikian, proses ini memerlukan operator yang terampil dan biaya pemeliharaan
yang tinggi.
3.3

Electrodialysis (ED)

Electrodialysis/electrodialysis reverse adalah proses elektro-membran yang terdiri dari


beberapa susunan anoda dan katoda membran pertukaran ion. Membran ini selektif
terhadap ion positif dan ion negatif. Dengan adanya pengaruh beda potensial yang
diberikan, ion-ion dipaksa untuk bermigrasi menuju elektroda. Kation melewati membran
kation sedangkan anion melewati membran anion sehingga umpan air laut akan terpisah
menjadi dua aliran yaitu air garam pekat dan air tawar. Fouling yang terbentuk pada
membran pertukaran ion karena adanya kotoran terlarut diatasi dengan EDR, yaitu proses
membalikkan arah arus listrik yang diberikan pada membran. Proses ini berlaku untuk
prakonsentrasi brine di daerah kering yang tidak cocok untuk pembuatan kolam surya serta
tidak memiliki deposit batu garam (Bauschlicher et al, 1983). Gambar 9. menunjukkan
proses produksi garam dengan menggunakan ED.

Gambar 9. Proses produksi garam menggunakan ED/EDR


Kemurnian NaCl tertinggi yang dapat dicapai dari proses ini adalah 97,47 %. Teknologi ini
dapat diaplikasikan pada kapasitas produksi skala kecil hingga menengah. Salah satu
kekurangan dari teknologi ini adalah diperlukannya biaya modal dan operasi yang tinggi.
3.4

Proses SALEX (salt extraction)

Proses SALEX adalah proses produksi garam yang dikembangkan oleh Krebbs Swiss.
Proses ini menghilangkan pengotor pada garam menggunakan air dalam jumlah yang
sedikit untuk mencegah kehilangan garam terlarut. Proses ini juga menghilangkan pengotor
yang berada pada kristal garam. Kemurnian garam yang dapat dicapai melalui proses ini
melebihi 99,95%. Terdapat beberapa jenis proses SALEX yaitu SALEX-B (basic), SALEX-M
(hydromilling), dan SALEX RT (refined-table).

Proses SALEX-B digunakan untuk memurnikan garam surya yang baru dipanen. Pengaruh
dari natural purification dan kehilangan garam menjadi lebih kecil sehingga pembentukan
pengotor yang terperangkap dalam garam surya dapat dihindari. Keefektifan produksi garam
menggunakan proses ini cukup baik karena NaCl yang hilang dalam proses SALEX-B hanya
sekitar 1 - 2%. Proses SALEX-B ini menggunakan prinsip pemurnian dengan cara
hidroekstraksi. Secara sederhana, proses pemurnian garam ini memanfaatkan sifat
kelarutan NaCl sebagai komponen utama dari garam. Dalam proses ini, pengotor dalam
garam akan diesktrak keluar menggunakan pelarut berupa larutan garam jenuh. Larutan
garam jenuhakan melarutkan pengotor dalam kristal garam, sedangkan garam (NaCl) tidak
akan ikut melarut.
Proses SALEX-M merupakan proses hydromilling, yaitu metode untuk menghilangkan
pengotor yang terperangkan dalam kristal garam. Kemurnian yang dapat dicapai melalui
proses ini adalah 99,97%. Proses SALEX-M yang selanjutnya diikuti dengan pengeringan,
pengayakan, pencampuran aditif, dan pengemasan disebut sebagai proses SALEX-RT. Di
pasaran, garam hasil SALEX-RT memiliki kualitas yang mirip dengan garam hasil proses
vakum tetapi dengan biaya produksi yang lebih rendah. Gambar 10. menunjukkan proses
produksi garam teknologi SALEX.

Gambar 10. Produksi garam industri teknologi SALEX


Pada proses SALEX menggunakan prinsip hidroekstraksi yang meliputi proses
hidroklasifikasi dan elutriasi. Hidroklasifikasi dan elutriasi dapat memisahkan pengotor yang
ada pada permukaaan garam. Pada proses ini, pemisahan didasarkan pada jenis, ukuran,
bentuk, dan densitas masing-masing partikel garam. Pada proses ini, larutan garam
jenuhdialirkan berlawanan arah dengan turunnya kristal garam sehingga terjadi proses
fluidisasi yang akan memisahkan partikel garam dengan pengotor yang tidak larut. Hal inilah
yang disebut hidroklasifikasi. Selanjutnya, larutan garam jenuhdialirkan dengan kecepatan
tertentu sehingga diperoleh kondisi yang menyebabkan terpisahnya partikel-partikel sesuai
dengan beratnya. Proses inilah yang disebut elutriasi
3.5

Proses Richards

Proses Richards adalah proses pemurnian garam surya atau garam rakyat. Pengotor yang
perlu diperhatikan dan disingkarkan adalah kalsium sulfat. Hal ini disebabkan karena di atas
50 oC, kelarutannya mengecil jika temperatur meninggi sedangkan pada temperatur di atas
55 oC, mengendap pada permukaan-permukaan panas dalam bentuk tak berhidrat (anhidrit,
CaSO4) berupa kerak yang keras dan susah dikelupas. Sehingga sebelum kalsium sulfat

disingkirkan, pemanasan larutan garam surya tidak boleh dilakukan via permukaan
pemanas. Proses richard dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Proses richard


Sebuah pengumpan garam mentah ditambahkan secara sinambung ke dalam sebuah tangki
untuk dicampur dengan aliran larutan garam jenuh daur-ulang. Suspensi yang terjadi
dipanaskan via kontak langsung dengan kukus sehingga karena temperatur naik, ada
tambahan air (hasil kondensasi kukus) dan waktu yang disediakan menara penjenuh, semua
NaCl melarut sempurna. Zat-zat tak larut, sebagian besarnya adalah kalsium sulfat, disingkirkan di dalam pengendap dan saringan tekan. Larutan jenuh NaCl bebas pengotor
kemudian diuapkan di dalam evaporator utk memperoleh garam murni. Selain penyaringan
dengan filter putar (rotary-drum filter), pemisahan garam dari bubur garam dapat juga
dilakukan dengan sentrifugasi (centrifuge).
3.

Penutup

Terdapat berbagai jenis teknologi yang tersedia pada proses pemurnian garam baik dari air
laut maupun proses pemurnian garam untuk memperoleh spesifikasi garam yang
dibutuhkan. Realita mengenai produksi garam di Indonesia yang sebagian besar impor
padahal ketersediaan bahan baku berupa air laut melimpah disebabkan kurang
terintegrasinya proses produksi garam yaitu hanya berfokus pada petani garam dalam skala
kecil. Proses produksi ini pun cenderung sederhana sehingga kualitas garam yang
dihasilkan pun masih rendah. Dalam hal ini, pemerintah berperan sangat besar pada
produksi garam Indonesia untuk mengintegrasikan proses produksi tersebut sehingga dapat
diproduksi garam dengan skala besar dan kemurnian yang tinggi.

4.

Referensi

GEA Messo PT, GEA Crystallization(2009), 1-8.


Lubis, Mirna Rahmah, Desalination Using Vapour-Compression Distillation, Tesis Magister,
Texas A&M University, 2009.
Martina, A.; Witono, J.R., Pemurnian Garam dengan Metoda Hidroekstraksi Batch,
University Research Colloquium(2015), ISSN 2407-9189..
Masuzawa, T., Impurities Contained Inside the Crystals of Solar and Vacuum Evaporated
Salts,Fifth International Symposium on Salt (1979), Ohio-Amerika Serikat.
Rathnayaka, D.D.T. dkk., Development of a Process to Manufacture High Quality Refined
Salt from Crude Solar Salt, International Journal of Chemical, Nuclear, Materials and
Metallurgical Engineering7 (2013), 647-652.
Reid, J., Salt for New Zealand, Dominion Salt Limited, 1-9.
Rositawati, A.L.; Taslim, C.M.; Soetrisnanto, D., Rekristalisasi Garam Rakyat dari Daerah
Demak untuk Mencapai SNI Garam Industri,Jurnal Teknologi Kimia dan Industri 2(2013),
217-225.
Sedivy, V.M., Purification of Salt for Chemical and Human Consumption, Industrial
Minerals (1996), 1-20.
Sedivy, V.M., Upgrading and Refining of Salt for Chemical
Consumption,International Conference on Salt (2006), Ahmedabad-Gujarat.

and

Human