Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH AQIDAH AHLAK

AHLAK, ETIKA, MORAL


DAN BUDI PEKERTI
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
KELOMPOK 2
NAMA :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

SANTI
HARI
ADI
HALIDIN

GURU : WIRA, S .Pd


TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Persamaan dan Perbedaan serta Keterkaitan Akhlak, Etika, Moral,


Kesusilaan dan Kesopanan
A. PEMBAHASAN
1. Pengertian Akhlak
Dilihat dari sudut bahasa (etimologi), perkataan akhlak (bahasa Arab) adalah bentuk
jamak dari kata khulk. Khulk di dalam kamus Al-Munjid berarti budi pekerti, tingkah laku atau
tabiat. Di dalam Dairatul Maarif dikatakan:


Akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak
lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perkataan
baik, disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhlak yang tercela sesuai dengan
pembinaannya.
Prof. Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan kehendak. Ini berarti
bahwa kehendak itu bisa dibiasakan akan sesuatu maka kebiasaannya disebut akhlak. Contohnya,
bila kehendak itu dibiasakan memberi, maka kebiasaan itu ialah akhlak dermawan.
Di dalam Ensiklopedia Pendidikan dikatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak,
kesusilaan (kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa
yang benar terhadap Tuhannya dan terhadap sesama manusia.
Di dalam Al Mujam al-Wasit disebutkan defenisi akhlak sebagai berikut:



Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam
perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikirannya dan pertimbangan.
Senada dengan ungkapan di atas telah dikemukakan oleh Imam Gazali dalam kitabnya ihya-nya
sebagai berikut:





Al-Khulk ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan
dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Jadi, pada hakikatnya Khulk (budi pekerti) atau akhlak ialah sesuatu kondisi atau sifat
yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai
macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan
pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan
syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti mulia sebaliknya apabila yang lahir
kelakuan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti yang tercela.
Al-Khulk disebut sebagai kondisi atau sifat yang telah meresap dan terpatri dalam jiwa, karena
seandainya ada seseorang yang mendermakan hartanya keadaan yang jarang sekali untuk suatu
hajat dan secara tiba-tiba, maka bukanlah orang yang demikian ini disebut orang yang dermawan
sebagai pantulan dari kepribadiannya.
2. Pengertian Etika

Perkataan etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Dalam
pelajaran filsafat, etika merupakan bagian daripadanya. Di dalam Ensiklopedia Pendidikan
diterangkan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk. Kecuali
etika mempelajari nilai-nilai, ia merupakan juga pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri. Di
dalam Kamus Istilah Pendidikan dan Umum dikatakan bahwa etika adalah bagian dari filsafat
yang mengajarkan keluhuran budi (baik dan buruk).
Etika sebagai salah satu cabang dari filsafat yang mempelajari tingkah laku manusia
untuk menentukan nilai perbuatan tersebut, baik atau buruk, maka ukuran untuk menentukan nilai
itu adalah akal pikiran. Atau dengan kata lain, dengan akallah orang dapat menentukannya baik
atau buruk karena akal yang memutuskan . Dalam hubungan ini Dr. H. Hamzah Yaqub
menyimpulkan/merumuskan: Etika ialah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang
buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal
pikiran.
Abuddin Nata melihat ada empat segi yang dapat digunakan untuk mengetahui etika ini, yakni
melihat dari segi obyek pembahasannya, sumbernya, fungsinya dan terakhir dilihat dari segi
sifatnya.
Kalau dilihat dari segi pembahasan menurutnya, etika berupaya membahas perbuatan yang
dilakukan oleh manusia. Sedangkan bila dilihat dari segi sumbernya, maka etika bersumber pada
akal pikiran atau filsafat.
Sementara itu bila dilihat dari segi fungsinya maka etika berfungsi sebagai penilai,
penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu ia
berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Karena
ia sebuah konseptor, hasil produk pemikiran karena itu dilihat dari segi sifatnya ia dapat berubahubah sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan humanistis.
Etika dapat dibedakan menjadi tiga macam:
1. etika sebagai ilmu, yang merupakan kumpulan tentang kebajikan, tentang penilaian perbuatan
seseorang.
2. etika dalam arti perbuatan, yaitu perbuatan kebajikan. Misalnya, seseorang
dikatakansopan apabila orang tersebut telah berbuat kebajikan.
3. etika sebagai filsafat, yang mempelajari pandangan-pandangan, persoalan-persoalan yang
berhubungan dengan masalah kesusilaan.
3. Pengertian Moral
Perkataan moral berasal dari bahasa latin mores yaitu jamak dari mos yang berarti adat
kebiasaan. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral ialah suatu istilah
yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, kehendak, pendapat, atau perbuatan
yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik,buruk.Dengan demikian moral merupakan
istilah yang digunakan untuk memberikan batasan untuk memberikan terhadap aktivitas manusia
dengan nilai/hukum baik atau buruk, benar atau salah. Dalam kehidupan sehari-hari dikatakan
bahwa orang yang mempunyai tingkah laku yang baik sebagai orang yang bermoral.

Kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk
dengan tolak ukur akal pikiran, dalam penbahasan moral tolak ukurnya adalah norma-norma yang
hidup di masayarakat. Dalam hal ini Dr. Hamzah Yaqub mengatakan: yang disebut moral ialah
sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia mana yang baik dan wajar.
4. Pengertian Kesusilaan
Di dalam bahasa Indonesia untuk membahas buruk-baik tingkah laku manusia juga sering
digunakan istilah kesusilaan.
Kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Susila berasal dari
bahasa sansekerta, yaitu su dan sila. Berarti baik, bagus dan sila berarti dasar, prinsip,
peraturan hidup atau norma.
Pada dasarnya kesusilaan lebih mengacu kepada upaya membimbing, mengarahkan, memandu,
membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat juga menggambarkan orang yang selalu menerapkan nilai-nilai yang
dipandang baik. Ini sama halnya dengan moral.
Norma ini didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Kesusilaan adalah norma yang hidup
dalam masyarakat yang dianggap sebagai peraturan dan dijadikan pedoman dalam bertingkah
laku. Norma kesusilaan dipatuhi oleh seseorang agar terbentuk akhlak pribadi yang mulia.
Pelanggaran atas norma moral ada sanksinya yang bersumber dari dalam diri pribadi. Jika ia
melanggar, ia merasa menyesal dan merasa bersalah.
Norma kesusilaan bersifat umum dan universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia.
Sanksi bagi pelanggarnya, yaitu rasa bersalah dan penyesalan mendalam bagi pelanggarnya.
Contoh norma kesusilaan, antara lain:
a. jujur dalam perkataan dan perbuatan
b.

menghormati sesama manusia

c. membantu orang lain yang membutuhkan


d.

tidak mengganggu orang lain

e. mengembalikan hutang.
5. Pengertian Kesopanan
Menurut Bahasa, kesopanan adalah adat sopan santun, tingkah laku (tutur kata) yang
baik, tata karma, perbuatan itu dapat dianggap melanggar orang Timur. Norma sopan santun
adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok itu.
Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbedabeda di berbagai tempat, lingkungan, atau waktu.
Contoh-contoh norma kesopanan ialah:
1.

Menghormati orang yang lebih tua.

2.

Menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan.

3.

Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan sombong.

4.

Tidak meludah di sembarang tempat.

5.

tidak menyela pembicaraan.


Norma kesopanan sangat penting untuk diterapkan, terutama dalam bermasyarakat, karena

norma ini sangat erat kaitannya terhadap masyarakat. Sekali saja ada pelanggaran terhadap norma
kesopanan, pelanggar akan mendapat sanki dari masyarakat, misalnya cemoohan. kesopanan
merupakan tuntutan dalam hidup bersama. Ada norma yang harus dipenuhi supaya diterima
secara sosial.
6. Perbedaan dan Persamaan serta Keterkaiatan Akhlak, Etika, moral, Kesusilaan dan Kesopanan
Dilihat dari fungsi dan peranannya, dapat dikatakan bahwa akhlak, etika, moral,
kesusilaan dan kesopanan sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang
dilakukan manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama
menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tentram
sehingga sejahtera batiniah dan lahiriahnya. Objek dari akhlak, etika, moral, kesusilaan dan
kesopanan yaitu perbuatan manusia, ukurannya yaitu baik dan buruk .
Sedangkan perbedaan antara akhlak dengan etika, moral, kesusilaan dan kesopanan dapat kita
lihat pada sifat dan kawasan pembahasannya, di mana etika lebih bersifat teoritis dan memandang
tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila lebih bersifat praktis, yang
ukurannya adalah bentuk perbuatan. Serta sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan
baik dan buruk pun berbeda, di mana akhlak berdasarkan pada al-Quran dan al-Sunnah, etika
berdasarkan akal pikiran, sedangkan moral, kesusilaan dan kesopanan berdasarkan kebiasaan
yang berlaku pada masyarakat.
Hubungan antara akhlak dengan etika, moral, kesusilaan dan kesopanan ini bisa kita lihat
dari segi fungsi dan perannya, yakni sama-sama menentukan hukum atau nilai dari suatu
perbuatan yang dilakukan oleh manusia untuk ditentukan baik dan buruknya, benar dan salahnya
sehingga dengan ini akan tercipta masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tenteram serta
sejahtera lahir dan batin.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa antara akhlak dengan etika, moral, kesusilaan
dan kesopanan mempunyai kaitan yang sangat erat, di mana wahyu, akal dan adat adalah sebuah
teori perpaduan untuk menentukan suatu ketentuan, nilai. Terlebih lagi akal dan adat dapat
digunakan untuk menjabarkan wahyu itu sendiri. Rasulullah Saw bersabda, sebagaimana dikutip
oleh Harun Nasution, yang dikutip ulang oleh Abuddin Nata, yaitu :

Artinya: Agama itu adalah penggunaan akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.
B. PENUTUP
1. Kesimpulan
a.

Akhlak berasal dari bahasa arab akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yang berarti al- sajiyah

(perangai), ath-thabiah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-adat (kebiasaan , kelaziman), al


maruah(peradaban yang baik). Akhlak jamak dari kata khuluq yang artinya budi pekerti,
sopan santun, tindak tanduk atau etika..
b.

Akhlak bertujuan hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan

sempurna dan membedakan dengan makhluk makhluk yang lain.


c.

Etika dan moral memiliki perbedaan, yaitu: kalau dalam pembicaraan etika, untuk

menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau
rasio, sedangkan dalam pembicaran moral tolak ukur yang digunakan adalah norma-norma yang
berkembang dan berfungsi di masyarakat. Dengan demikian etika lebih bersifat pemikiran
filosofis dan berada dalam dataran konsep-konsep. Kesadaran moral dapat juga berwujud rasional
dan obyektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umum dapat diterima oleh masyarakat.
d.

Etika, moral, susila dan akhlak sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu

perbuatan yang dilakukan manusia untuk ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut
sama sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan
tentram sehingga sejahtera batiniah dan lahiriahnya.

Akhlak, Etika & Moral


BAB 1
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah


Islam sebagai agama universal, mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek
kehidupan , baik kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrowi. Salah satu ajaran Islam adalah
mewajibkan kepadanya untuk melaksanakan kegiatan paendidikan, karena merupakan kebutuhan hidup
manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Dengan makalah yang kami sajikan ini, kami ingin mengetahui ilmu tentang akhlak tasawuf, yang
membahas tentang akhlak, etika, moral, norma beserta persamaan dan perbedaannya. Sehinngga dengan
makalah ini, kita mampu memperoleh cakrawala baru tentang tata cara berkehidupan didalam lingkungan
bermasyarakat sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadis rosul SAW . Sehingga nantinya akan menjadi
suatu ilmu dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun kepada orang
lain.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

AKHLAK
Akhlak menurut etimologi berasal dari bahasa arab yang berarti budi pekerti. Yang bersinonim
dengan etika dan moral, budi pekerti dalam bahasa indonesia merupakan kata majemuk dari kata budi
dan pekerti perkataan budi berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti yang sadar atau yang
menyadarkan dan alat kesadaran pekerti berasal dari bahas indonesia sendiri kelakuan.[1]
Sedangkan akhlak secara terminologi adalah sesuatu yang ada pada manusia yang berhubungan
dengan kesadaran, yang didorong oleh pemikiran, rasio, yang disebut dengan karakter, dan yang terlihat
pada manusia karena didorong oleh perasaan hati yang disebut behavior, ini merupakan hasil perpaduan
rasio dan rasa yang termanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.

Sedangkan ilmu akhlak sendiri adalah suatu ilmu yang mengkaji perbuatan yang dilakukan manusia
yang dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa dan sungguh-sungguh, bukan perbuatan purapura.
Menurut Imam Ghazali: tanpa banyak pertimbangan akhlak ialah sifat yang melekat dalam jiwa
seseorang yang menjadikan ia dengan mudah bertindak lagi. Atau boleh dikatakan, perbuatan yang sudah
menjadi kebiasaan. pertimbangan, seolah-olah tangannya sudah terbuka lebar untuk itu. Hal ini, bisa terjadi
karena orang tersebut sudah biasa sebaliknya orang kikir seolah-olah tangannya sudah terpaku dalam
kantongnya, tidak mau mengeluarkan bantuan kepada fakir miskin, begitu juga orang yang pemarah, selalu
saja marah tanpa ada alas an yang jelas.
Jumhur ulama mengatakan akhlak itu ialah: suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang dan sifat
itu akan timbul setiap ia bertindak tanpa mersa sulit (timbul dengan mudah). Karena sudah menjadi kultur
atau budaya sehari-hari. Sedangakan akhlak yang biasa dilakukan adalah akhlak yang baik (akhlakul
karimah) dan akhlak yang buruk (akhlak madzmumah).[2]

B.

ETIKA
Istilah etika berasal dari kata latin: Ethic dan dalam bahasa Gerik: Ethicos is a body of moral
prinsiples or values. Ethic berarti kebiasaan, habit, costum. Jadi etika ialah suatu kebiasaan yang disebut
baik didalam masyarakat (dewasa ini).[3]
Etika dalam bahasa yunani disebut ethos yang memiliki pengertian adat istiadat, pengertian bathin,
kecenderungan untuk melakukan perbuatan.[4]
Menurut kamus bahasa indonesia diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)
Menurut Ki Hajar Dewantoro etika adalah ilmu yang mempelajari soabaikan dan keburukan
didalam hidup manusia yang teristimewa mengenai gerak-gerik fikiran dan rasa yang dapat merupakan
pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatannya.
Frankena dikutip oleh Ahmad Charis Zubair mengatakan bahwa etika adalah sebagai cabang filsafat
yaitu filsafat moral atau pemikiran filsafat tentang moralitas, problem moral, dan pertimbangan moral.[5]
Dari beberapa definisi diatas etika berhubungan dengan 4 hal yaitu sebagai berikut:

1.

Dilihat dari segi objek pembahasannya etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia.

2.

Dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal fikiran, etika tidak bersifat mutlak, absolut, dan
tidak pula universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kelebihan, kekurangan, dan lain sebagainya.

3.

Dilihat dari segi fungsi, etika berfungsi sebagai penilai, penentu, dan penetap terhadap suatu perbuatan
yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebuut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat,
hina, dan lain sebagainya. Peran etika itu sendiri adalah tampak sebagai hasil atau wasit dan bukan sebagai
pemain.

4.

Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman,
etika juga bersifat humanistis dan antroposentis, yakni berdasar pada pemikiran manusia dan diarahkan
pada manusia.[6]

C.

MORAL
Moral secara etimologi berasal dari bahasa latin yaitu mores jamak dari kata mos yang berarti adat
kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa indonesia moral adalah penentuan baik buruk terhadap kelakuan.
Sedangkan menurut terminologi merupakan alat yang digunakan untuk menetukan batas-batas dari
sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik,
atau buruk.
Didalam buku The Advanced Leaners dictionary of current english dikemukakan bahwa pengertian
morak adalah:

v Prinsip-prisip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.
v Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah.
v Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.[7]
D.

NORMA

Norma secara etimologi berasal dari bahasa latin norma yang semula berarti penyiku, suatu perkakas
yang digunakan oleh tukang kayu. Dari istilah norma ini memperoleh arti pedoman, ukuran, aturan, atau
kebiasaan. Disimpulkan bahwa norma adalah alat untuk mengukur sesuatu yang lain.
Dalam kamu bahasa yunani norma disebut cretarion yang artinya standar patokan untuk melakukan
sesuatu dengan norma moral orang dapat mengukur dan menilai kebaikan atau keburukan sesuatu
perbuatan.
Sedangkan norma secara terminologi memuat 2 pengertian:
v Norma menunjuk suatu teknik
v Norma menunjuk suatu keharusan (ought), keharusan ini merupakan tuntutan-tuntutan yang sepatutnya di
taati apabila manusia ingin hidup sebagai manusia.
Dalam arti yang pertama tidak bersifat normatif dan yang kedua benar-benar bersifat normatif. Sebagimana
yang telah dikemukakan bahwa norma yang diperlukan adalah norma yang diterapkan pada perbuatanperbuatan konkrit.
E.

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKHLAK, ETIKA, MORAL, NORMA

1.

Perbedaan

v Terdapat pada tolak ukurnya masing-masing, dimana ilmu akhlak dimana dalam menilai perbuatan manusia
dengan tolak ukur ajaran alquran dan sunnah. Sedangkan etika dengan pertimbangan akal pikiran dan
moral, dengan adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat. Perbedaan lain mengenai etika dan moral,
yakni etika lebih bersifat teoritis sedangkan oral banyak bersifat praktis, etika memandang tingkah laku
manusia secara lokal, moral menyatakan ukuran, sedang etika menjelaskan ukuran itu.
v Akhlak membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia yang belum diketahui kebaikan dan keburukannya.
v Etika ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk tingkah laku manusia yang harus dilakukan dalam
perbuatan mereka dan menunjukan jalan apa yang seharusnya mereka perbuat. Dalam menentukan nilai
perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio.
v Moral menjelaskan tentang batas-batas perangai atau tingkah laku yang harus dilakukan oleh manusia dalam
bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat dikatakan bahwa perbuatan
tersebut baik atau buruk. Dan menggunakan tolak ukur norma-norma yang tumbuh berkembang dan
berlangsung dalam masyarakat.
v Norma adalah merupakan penunjuk atau tatacara dalam berperilaku. Norma juga merupakan penunjuk
suatu keharusan yang didalamnya terdapat tuntutan-tuntutan yang yang seharusnya ditaati, dipatuhi jika
ingin menjadi manusi. Dalam arti norma adalah aturan yang mengatur manusia dalam berperilaku.
2.

Persamaan
v Sama-sama menentukan hukum/ nilai dengan keputusan manusia dengan keputusan baik dan buruk.
v Sama-sama mengkaji tentang tingkah laku dan perangai manusia
v Pembahasaanya saling menguatkan dalam arti terdapat hubungan simbiotik di antara akhlak, etika, moral,
norma itu sendir
BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan kita diatas dapat dipahami bahwa, dari pengertian hingga perbedaan dan
persamannya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa didalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari
kita perlu mengetahui tata cara atau prinsif dasar dalam berakhlak, beretika, bermoral dan mempunyai
norma atau aturan-aturan sehingga kehidupan dalam bermasyarakat dapat berjalan dengan semestinya
sesuai dengan aturan-aturan yang di tentukan.
Semoga makalah ini menjadi acuan untuk kita lebih berfikir luas dalam mengkaji ilmu tasawuf ini,
semoga kita lebih mengetahui makna berakhlak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam lingkungan sempit
bahkan lingkungan yang luas. Sebagaimana yang telah di contohkan oleh nabi kita Muhammad SAW.. Dan
kami mohom maaf jika makalah ini masih banyak kerancauan dan kesalahan di dalamnya, dan kami
berharap semoga rasa tidak puas dalam mengkaji ilmu untuk selalu dipupuk sebagai motivasi kita untuk
menjadi lebih baik.

Kami berharap makalah yang sangat sederhana ini dapat memberi manfaat bagi kami khususnya
dan bagi pembaca umumnya. Dan atas perhatian para pembaca kami ucapkan banyak terimakasih.
Jazakumulloh khoiron katsiron

DAFTAR PUSTAKA
AR, Zahruddin; Sinaga, Hasanuddin. 2004. Pengantar STUDI AKHLAK. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Nata, Abuddin, 2009. AKHLAK TASAWUF. Jakarta : Rajawali Pers
Toriquddin, Muhammad. 2008. Sekulalaritas Tasawuf. Malang: UIN Malang Pers

AKHLAQ, ETIKA, MORAL, DAN SUSILA


A.PENGERTIAN AKHLAQ, ETIKA, MORAL, DAN SUSILA
1.Akhlaq
Akhlaq secara etimologi merupakan bentuk jamak dari khulq artinya perangai, tabiat, pekerti.
Sedang secara terminologi akhlak adalah kemampuan /kondisi jiwa yang merupakan sumber dari
segala kegiatanmanusia yang dilakukan secara spontan tanpa pemikiran. Akhlaq terbentuk dari
latihan dan praktek berulang (pembiasaan). Sehingga jika sudahmenjadi akhlaq tidak mudah
dihapus.
Akhlaq memiliki kedudukan utama,bahkan menjadi puncak kesempurnaan manusia.Ibn
Miskawaih mengatakan bahwa akhlaq adalah sifat yangtertanam dalam jiwa yang mendorongnya
untuk melakukan perbuatantanpa memerluka pemikiran dan pertimbangan.Imam Al Ghazali
mendefinisikan akhlaq sebagai sifat yangtertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam
perbuatan dengangampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.Mujam
al Wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlaq adalahsifat yang tertanam dalam jiwa manusia
yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan
pemikiran
dan
pertimbangan.
Dalam kitab Dairatul Maarif secara singkat akhlaq diartikan sifat-sifat manusia yang
terdidik.Akhlaq memiliki cakupan yang luas, yaitu mencakup hubungankepada Sang Pencipta
(Allah), sesama manusia, terhadap diri sendiri,maupun dengan lingkungan atau sesama makhluk
Tuhan yang lain.Akhlaq dalam Islam tidak lepas dan terkait erat dengan aqidah dan syariah,ia
merupakan buah dan sekaligus puncak dari keduanya. Akhlaqmenekankan keutamaan, nilai-nilai,
kemulian dan kesucian (hati dan perilaku), Akhlaq Islami harus diupayakan agar menjadi sistem
nilai(etika/moral) yang mendasari budaya masyarakat.Akhlaq yang baik berpangkal dari
ketaqwaan kepada Allah dimanapun berada. Selain itu akhlaq yang baik merupakan manifestasi
darikemampuan menahan hawa nafsu dan adanya rasa malu. Agar kitasenantiasa berakhlaq baik
maka harus selalu menimbang perbuatandengan hati nurani yang bersih. Salah satu tanda atau ciri
akhlaq yang baik yaitu mendatangkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan pelakunya.
Tapisebaliknya jika mendatangkan keraguan, kecemasan dan ingin tidak diketahui orang lain
merupakan isyarat akhlaq yang buruk. Banyak sekali akhlaq mulia (akhlaqul karimah) yang harus
menjadi hiasan seorangmuslim, demikian juga banyak akhlaq buruk (akhlaqul madzmumah)
yangharus dihindari.
2.Etika
Secara etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yangberarti watak kesusilaan atau adat.
Dalam KBBI etika diartikan ilmupengetahuan tentang asas-asas akhlaq (moral).Secara
terminologi, etika mempunyai banyak ungkapan yangsemuanya itu tergantung pada sudut
pandang masing-masing ahli.Ahmad Amin mengartikan etika sebagai ilmu yang menjelaskanarti
baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan olehmanusia di dalam perbuatan
mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.Soegarda

Poerbakawatja mengartikan etika sebagai filsafat nilai,kesusilaan tentang baik-buruk, serta


berusaha mempelajari nilai-nilai danmerupakan juga nilai-nilai itu sendiri Ki Hajar Dewantara
menjelaskan etika merupakan ilmu yangmempelajari soal kebaikan (dan keburukan) di dalam
hidup manusiasemuanya, teristimewa yang mengenai gerak gerik pikiran dan rasa yangdapat
merupakan pertimbangan dan perasaan sdampai mengenai tujuanyang dapat merupakan
perbuatan.Austin Fogothey (seperti yang dikutip Ahmad Charris Zubair)mengatakan bahwa etika
berhubungan dengan seluruh ilmu pengetahuantentang manusia dan masyarakat sebagi
antropologi,
psikologi,
sosiologi,ekonomi,
ilmu
politik
dan
hukum.
Frankena (seperti juga dikutip Ahmad Charris Zubair) menyatakanbahwa etika sebagi cabang
filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran filsafat tentang moralitas, problem moral, dan
pertimbangan moral.Dalam Encyclopedia Britanica , etika dinyatakan sebagai filsafatmoral,
yaitu studi yang sistematik mengenai sifat dasar dan konsep-konsepnilai baik, buruk, harus,
benar, salah dan sebagainya.Dari beberapa definisi tersebut, etika berhubungan erat dengan empat
hal:
a.Dilihat dari obyek formal (pembahasannya), etika berupaya membahasperbuatan yang
dilakukan manusia. Dan sebagai obyek materialnyaadalah manusia.
b.Dilihat dari sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat.Sebagai hasil pemikiran
maka etika tidak bersifat mutlak, absolut, danuniversa. Akan tetapi terbatas, dapat berubah,
memiliki kekurangan,kelebihan, dan sebagainya.
c.Dilihat dari fungsinya, etika berfungsi sebagi penilai, penentu danpenetap terhadap suatu
perbuatan yang dilakukan manusia, yaituapakah perbuatan itu akan dinilai baik, buruk, mulia,
terhormat, hina dan sebagainya. dengan demikian etika lebih berperan sebagikonseptor terhadap
sejumlah perilaku yang dilakukan manusia.
d.Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan
zaman.Dengan ciri-cirinya yang demikian itu, etika lebih merupakan ilmupengetahuan yang
berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yangdilakukan manusia untuk dikatakan baik
atau buruk.
Berbagai pemikiranyang dilakukan para filsof barat mengenai perbuatan yang baik atau
buruk dapat dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasilberpikir. Dengan
demikian etika bersifat humanistis dan anthropocentris,yakni berdasarkan pada pemikiran
manusia dan diarahkan pada manusia.Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku
yangdihasilkan oleh akal manusia.
3.Moral
Dari segi bahasa moral berasal dari bahasa Latin, mores (jamak dari kata mos) yang berarti adat
kebiasaan. Dalam KBBI dikatakan bahwamoral adalah penentuan baik-buruk terhadap perbuatan
dan kelakuan.Secara istilah moral merupakan istilah yang digunakan uantuk menentukan batasbatas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atauperbuatan yang secara layak dapat dikatakan
benar, salah, baik, atauburuk.Di dalam buku The Advanced Leaner's Dictionary of
Current English moral mengandung pengertian:
a.Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik danburuk.
b.Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah.
c.Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik
Berdasarkan kutipan tersebut, dapat dipahami bahwa moral adalahistilah yang digunakan untuk
memberikan batasan terhadap aktivitasmanusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar
atau salah. Jikadalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang tersebut bermoral,maka yang
dimaksudkan
adalah
bahwa
orang
tersebut
tingkah
lakunyabaik.
4.Susila
Secara bahasa kesusilaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sudan sila yang mendapat
tambahan ke-an. Su berarti baik, bagus dan silaberarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma.
Susila juga dapat berartisopan beradab, baik budi bahasanya. Sehingga kesusilaan
berartikesopanan. Dengan demikian kesusilaan lebih mengacu pada upayamembimbing,
memandu, mengarahkan, membiasakan danmemasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma
atau nilai-nilai yangberlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkan keadaan di mana
orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik.
B.PERSAMAAN-PERSAMAAN

Diantara akhlaq, etika, moral, dan susila memiliki obyek yang sama,yaitu sebagai obyek
materialnya adalah manusia dan sebagai obyek formalnyaadalah perbuatan manusia yang
kemudian ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.Dari segi fungsinya sama dalam
menentukan hukum atau nilai darisuatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk ditentukan
baik-buruknya.Dari segi tujuannya sama-sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat
yang baik, teratur, aman, damai, dan tenteram sehingga sejahterabatiniah dan lahiriah.
C.PERBEDAAN-PERBEDAAN
Dalam etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atauburuk menggunakan tolok ukur
akal pikiran atau rasio, sedangkan dalammoral dan susila menggunakan tolok ukur norma-norma
yang tumbuh danberkembang dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat), dan
dalamakhlaq menggunakan ukuran Al Quran dan Al Hadis untuk menentukan baik-buruknya.
Dalam hal ini etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan beradadalam dataran konsep-konsep
(bersifat teoretis), sedangkan moral beradadalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku
yang berkembang dimasyarakat (bersifat praktis).Etika dipakai untuk pengkajian system nilai
yang ada, sedangkan moral dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai.Etika memandang
tingkah laku manusia secara umum, tapi moral dansusila lebih bersifat local dan individual.
Akhlaq yang berdasarkan pada Al Quran dan Al Hadis maka akhlaq bersifat mutlak, absolut, dan
tidak dapat diubah. Sementara etika, moral, dansusila berdasar pada sesuatu yang berasal dari
manusia maka lebih bersifat terbatas dan dapat berubah sesuai tuntutan zaman.