Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Bunuh diri, yang juga disebut sebagai bunuh diri berhasil, adalah
"tindakan mengambil nyawa diri sendiri". Percobaan bunuh diri atau
perilaku bunuh diri yang tidak fatal adalah perbuatan melukai diri
sendiri dengan maksud untuk mengakhiri nyawa seseorang namun tidak
berakhir dengan kematian. Bunuh diri dengan bantuan adalah ketika
seseorang membantu orang lain mengakhiri nyawanya secara tidak
langsung melalui pemberian saran atau sarana sampai kematian
terjadi. Bunuh

diri

semacam

ini

merupakan

kebalikan

dari euthanasia ketika orang lain lebih memiliki peran aktif dalam
mendatangkan kematian bagi seseorang. Ide bunuh diri adalah pemikiran
untuk mengakhiri hidup seseorang.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pengertian bunuh diri ?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi bunuh diri ?
3. Bagaimana pandangan agama mengenai bunuh diri ?
C. Tujuan
1. Mengetahui istilah dari bunuh diri itu sendiri
2. Mengetahui factor-faktor penyebab bunuh diri
3. Mengetahui pandangan agama mengenai bunuh diri

BAB II
HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

2.1

Hasil Observasi berupa Wawancara


Waktu Wawancara: 06 Desember 2014
Wawancara lewat BBM
Narasumber:
Nama

: Hardy Wijaya

Umur

: 19 tahun

Status

: belum menikah

Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat

: Jl. Bung Tomo, Denpasar

Pertanyaan dan jawaban

1. Apakah yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh


diri?
Menurut saya yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh
diri,kare faktor ekonomi yang jauh dibawah sehingga memilih mengakhiri
hidupnya dengan bunuh diri

2. Apakah

faktor

lingkungan

menjadi

penyebab

seseorang

melakukan tindakan bunuh diri?


Faktor lingkungan juga bisa menyebabkan seseorang melakukan
tindakan tersebut, karena jika lingkungan tempat tinggalnya banyak
terjadi kriminalitas atau hal-hal yang membuat batin tersiksa mungkin
bisa terjadi
3. Menurut anda pentingkah iman dalam menanggapi tindakan
bunuh diri?
Perlu banget karena dengan iman yang kuat seseorang yang tadinya
berpikir tidak memakai akal sehat akan senantiasa ingat tuhan dan
ajarannya sehingga memungkinkan perbuatan itu tidak sering terjadi
4. Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang bunuh diri?
Pendapatku terhadap tindakan tersebut sangat tidak patut ditiru karena
hidup dan mati seseorang itu sudah ada yang mengatur
5. Bagaimana saran anda terhadap tindakan tersebut?

Jadi kita selaku umat manusia hanya bisa berdoa dan menjalankan
hidup dengan baik dan jika ada masalah pikirkan jalan keluar,tidak
dengan cara bunuh diri
Waktu Wawancara: 06 Desermber 2014
Wawancara Langsung
Narasumber:
Nama

: Putu Desi Sugiantari

Umur

: 19 tahun

Status

: belum menikah

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Jl. Tunjung Sari, Denpasar

Pertanyaan dan jawaban

1. Apakah yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh


diri?
Yang menyebabkan seseorang bunuh diri adalah adanya beban pikiran
terhadap suatu hal yang dianggapnya sudah tidak sanggup diterima makanya
dia mengambil jalan pintas seperti bunuh diri untuk mengakhiri beban
hidupnya

2. Apakah faktor lingkungan menjadi penyebab seseorang melakukan


tindakan bunuh diri?
Benar, faktor lingkungan dapat menyebabkan seseorang bunuh diri bisa
karena celaan dari masyarakat yang menjatuhkan mental orang tersebut
3. Menurut anda pentingkah iman dalam menanggapi tindakan bunuh
diri?
Perlu sekali karena jika imannya kuat pasti dia akan tahan dari segala
cobaan
4. Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang bunuh diri?
Orang melakukan bunuh diri adalah orang yang cara berpikirnya pendek
karena menganggap dengan cara mengakhiri hidupnya menyelesaikan
semua masalah
5. Bagaimana saran anda terhadap tindakan tersebut?
3

Pikirkan matang-matang jika terjadi suatu masalah dan lebih baik kuatkan
iman
2.2 Pembahasan
Bunuh diri atau dalam bahasa Inggris disebut Suicide (berasal dari
kata Latin suicidium, dari sui caedere, "membunuh diri sendiri") adalah sebuah
tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali
dilakukan

akibat putus

dengan gangguan

asa,

yang

penyebabnya

jiwa misalnya depresi, gangguan

seringkali

dikaitkan

bipolar,schizophrenia,

ketergantungan alkohol/alkoholisme, atau penyalahgunaan obat. Faktor-faktor


penyebab stres antara lain kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan
interpersonal seringkali ikut berperan. Upaya untuk mencegah bunuh diri antara
lain adalah dengan pembatasan akses terhadap senjata api, merawat penyakit jiwa
dan penyalahgunaan obat, serta meningkatkan kondisi ekonomi.
Terdapat bermacam-macam metode yang paling sering digunakan untuk
bunuh diri di berbagai negara dan sebagian terkait dengan keberadaan metode
tersebut. Metode yang umum antara lain: gantung diri, racun serangga, dan senjata
api. Sekitar 800.000 hingga satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap
tahun, sehingga bunuh diri menduduki posisi ke-10 sebagai penyebab kematian
terbesar di dunia. Angka bunuh diri tercatat lebih banyak dilakukan oleh pria
ketimbang wanita, dengan kemungkinan tiga sampai empat kali lebih besar
seorang pria melakukan bunuh diri dibandingkan wanita. Tercatat ada sekitar 10
hingga 20 juta kasus percobaan bunuh diri yang gagal setiap tahun. Percobaan
bunuh diri semacam ini lebih sering dilakukan remaja dan kaum hawa.
Cara pandang terhadap bunuh diri selama ini dipengaruhi oleh konsep
eksistensi yang luas seperti agama,kehormatan, dan makna hidup. Agama
Abrahamik secara tradisional menganggap bunuh diri sebagai perbuatanmelawan
Tuhan karena kepercayaan bahwa kehidupan itu suci. Selama era samurai di
Jepang, seppuku dijunjung tinggi sebagai sarana pertobatan akibat kegagalan atau
sebagai bentuk protes. Sati, sebuah praktik pemakaman dalam agama Hindu yang
mengharuskan janda untuk melakukan pengorbanan diri di atas api pembakaran

jenazah suaminya, baik atas keinginan sendiri maupun didesak oleh keluarga dan
masyarakat.
Dahulu di kebanyakan negara barat, bunuh diri maupun percobaan bunuh
diri merupakan tindakan kriminal yang bisa membuat seseorang dihukum, namun
sekarang hukum tersebut sudah tidak berlaku lagi. Namun di kebanyakan negara
Islam, tindakan ini masih dianggap melanggar hukum. Di abad ke-20 dan ke-21,
bunuh diri dalam bentuk pengorbanan diri digunakan sebagai sarana protes,
dan kamikaze serta bom bunuh diri digunakan sebagai taktik militer atau teroris.

Faktor-faktor
Faktor-faktor yang memengaruhi risiko bunuh diri antara lain gangguan
jiwa, penyalahgunaan obat, kondisi psikologis, budaya, kondisi keluarga dan
masyarakat, dan genetik. Penyakit jiwa dan penyalahgunaan zat biasanya saling
berkaitan. Faktor risiko lain termasuk pernah melakukan percobaan bunuh
diri, adanya sarana yang tersedia untuk melakukan tindakan tersebut, peristiwa
bunuh diri dalam sejarah keluarga, atau adanya luka trauma otak. Contohnya,
angka bunuh diri di keluarga yang memiliki senjata api jumlahnya lebih besar
daripada di keluarga yang tidak memilikinya. Faktor sosial ekonomi seperti
pengangguran, kemiskinan,gelandangan, dan diskriminasi dapat mendorong
pemikiran untuk melakukan bunuh diri. Sekitar 15-40% pelaku meninggalkan
sebuah pesan bunuh diri. Faktor genetik sepertinya bertanggung jawab terhadap
perilaku bunuh diri sebesar 38% hingga 55%. Veteran perang memiliki risiko
lebih besar untuk melakukan bunuh diri yang sebagian disebabkan oleh tingginya
angka penyakit jiwa dan masalah kesehatan fisik yang terkait perang.
Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa seringkali terjadi pada seseorang saat melakukan bunuh diri
dengan angka kejadian berkisar antara 27% hingga lebih dari 90%. Orang yang
pernah dirawat di rumah sakit jiwa memiliki risiko melakukan tindakan bunuh diri
yang berhasil sebesar 8.6% selama hidupnya. Sebagian dari orang yang meninggal
karena bunuh diri bisa jadi memiliki gangguan depresi mayor. Orang yang
mengidap gangguan depresi mayor atau salah satu dari gangguan keadaan
5

jiwa seperti gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi, hingga mencapai 20
kali lipat, untuk melakukan bunuh diri.
Kondisi lain yang turut terlibat adalah schizophrenia(14%), gangguan
kepribadian (14%), gangguan bipolar, dan gangguan stres pasca-trauma. Sekitar
5% pengidap schizophrenia mati karena bunuh diri. Gangguan makan juga
merupakan kondisi berisiko tinggi lainnya.
Riwayat percobaan bunuh diri di masa lalu merupakan alat prediksi terbaik
terjadinya tindakan bunuh diri yang akhirnya berhasil. Kira-kira 20% bunuh diri
menunjukkan adanya riwayat percobaan di masa lampau. Lalu, dari sekian yang
pernah mencoba melakukan bunuh diri memiliki peluang sebesar 1% untuk
melakukan bunuh diri yang berhasil dalam tempo satu tahun kemudian dan lebih
dari 5% melakukan bunuh diri setelah 10 tahun. Meskipun tindakan melukai diri
sendiri bukan merupakan percobaan bunuh diri, namun adanya perilaku suka
melukai diri sendiri tersebut meningkatkan risiko bunuh diri.
Dari kasus bunuh diri yang berhasil, sekitar 80% individu yang melakukannya
telah menemui dokter selama setahun sebelum kematian, termasuk 45% di
antaranya yang menemui dokter dalam satu bulan sebelum kematian. Sekitar 25
40% orang yang berhasil melakukan bunuh diri pernah menghubungi layanan
kesehatan jiwa pada tahun sebelumnya.

Penggunaan obat
"The Drunkard's Progress", 1846 menggambarkan bagaimana alkoholisme dapat
mengakibatkan bunuh diri
Penyalahgunaan obat adalah faktor risiko bunuh diri paling umum kedua
setelah depresi mayor dan gangguan bipolar. Baik penyalahgunaan obat kronis
maupun kecanduan akut saling berhubungan satu sama lain. Bila digabungkan
dengan kesedihan diri, misalnya ditinggalkan seseorang yang meninggal, risiko
tersebut semakin meningkat. Selain itu, penyalahgunaan obat berkaitan dengan
gangguan kesehatan jiwa. Saat melakukan bunuh diri, kebanyakan orang berada
dalam pengaruh obat yang bersifat sedatif-hipnotis (misalnya alkohol atau
benzodiazepine) dengan adanya alkoholisme pada sekitar 15% sampai 61%
6

kasus. Negara-negara dengan angka penggunaan alkohol tinggi dan memiliki


jumlah bar lebih banyak secara umum juga memiliki risiko terjadinya bunuh diri
lebih

tinggi yang

keterkaitannya

terutama

berhubungan

dengan

penggunaan minuman beralkohol hasil distilasi ketimbang jumlah total alkohol


yang digunakan. Sekitar 2.23.4% dari mereka yang pernah dirawat karena
menderita alkoholisme pada suatu waktu dalam kehidupan mereka meninggal
dengan cara bunuh diri. Pecandu alkohol yang melakukan percobaan bunuh diri
biasanya pria, dalam usia tua, dan pernah melakukan percobaan bunuh diri di
masa lampau. Antara 3 hingga 35% kematian pada kelompok pemakai heroin
diakibatkan oleh bunuh diri (kira-kira 14 kali lipat lebih besar dibandingkan
kelompok yang tidak memakai heroin).
Penyalahgunaan kokain dan methamphetamine memiliki

korelasi

besar

terhadap bunuh diri. Mereka yang menggunakan kokain memiliki risiko terbesar
saat berada dalam fase sakaw. Mereka yang menggunakaninhalansia juga
memiliki risiko besar dengan sekitar 20% di antaranya mencoba melakukan bunuh
diri

pada

suatu

waktu

dan

lebih

dari

65%

pernah

berpikir

untuk

melakukannya. Merokok memiliki keterkaitan dengan risiko bunuh diri. Tidak ada
bukti yang cukup kuat mengapa ada keterkaitan tersebut; namun hipotesis
menyatakan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan merokok juga memiliki
kecenderungan untuk melakukan bunuh diri, bahwa merokok menyebabkan
masalah kesehatan sehingga mendorong seseorang untuk mengakhiri hidupnya,
dan

bahwa

merokok

mempengaruhi

kimia

otak

hingga

menyebabkan

kecenderungan bunuh diri. Meski demikian, Ganja/Cannabis sepertinya tidak


secara tunggal menyebabkan peningkatan risiko.

Masalah Perjudian
Masalah perjudian pada seseorang dikaitkan dengan meningkatnya keinginan
bunuh diri dan upaya-upaya melakukan tindak bunuh diri dibandingkan dengan
populasi umum. Antara 12 dan 24% pejudi patologis berusaha bunuh diri. Angka
bunuh diri di kalangan istri-istri mereka tiga kali lebih besar daripada populasi

umum. Faktor lain yang meningkatkan risiko pada mereka dengan masalah
perjudian meliputi penyakit mental, alkohol dan penyalahgunaan narkoba.

Kondisi Medis
Terdapat

hubungan

mencakup: sakit

antara

bunuh

kronis, cedera

diri
otak

menjalanihemodialisis, HIV, lupus

dan

masalah

kesehatan

traumatis, kanker, mereka

eritematosus

sistemik,

dan

fisik,
yang

beberapa

lainnya. Diagnosis kanker membuat risiko bunuh diri menjadi kira-kira dua kali
lipat. Angka kejadian bunuh diri yang meningkat tetap tinggi setelah disesuaikan
dengan penyakit depresi dan penyalahgunaan alkohol. Pada orang yang memiliki
lebih dari satu kondisi medis, risiko tersebut sangat tinggi. Di Jepang, masalah
kesehatan termasuk dalam daftar utama diperbolehkannya bunuh diri.
Gangguan tidur seperti insomnia dan apnea tidur merupakan faktor risiko
mengalami depresi dan melakukan bunuh diri. Pada beberapa kasus, gangguan
tidur mungkin menjadi faktor risiko independen timbulnya depresi. Sejumlah
kondisi medis lainnya mungkin disertai gejala yang mirip dengan gangguan
suasana hati, termasuk: hipotiroid, Alzheimer, tumor otak, lupus eritematosus
sistemik, dan efek samping dari sejumlah obat (seperti beta blocker dan steroid).

Keadaan psikososial
Sejumlah

keadaan

psikologis

meliputi: keputusasaan,

juga

hilangnya

meningkatkan

kesenangan

risiko

dalam

bunuh

diri,

hidup, depresi dan

kecemasan. Kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah, hilangnya


kemampuan seseorang yang dahulu dimilikinya, dan kurangnya pengendalian
impuls juga berperan. Pada orang dewasa lanjut usia, persepsi tentang menjadi
beban bagi orang lain merupakan hal yang penting.
Stres kehidupan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir seperti kehilangan
anggota keluarga atau teman, kehilangan pekerjaan, atau isolasi sosial (seperti
hidup sendiri) meningkatkan risiko tersebut. Orang yang tidak pernah menikah
juga berisiko lebih besar. Bersikap religius dapat mengurangi risiko seseorang

untuk melakukan bunuh diri. Hal ini dikaitkan dengan pandangan negatif sebagian
besar agama yang menentang perbuatan bunuh diri dan dengan lebih besarnya
rasa keterikatan yang bisa diberikan oleh agama. Muslim, di antara umat
beragama, tampaknya memiliki tingkat yang lebih rendah.
Sejumlah

orang

mungkin

ingin

bunuh

diri

untuk

melarikan

diri

dari intimidasi atau tuduhan. Riwayat pelecehan seksual[50] pada masa kecil dan
dan saat menjadianak asuh juga merupakan faktor risiko.[51] Pelecehan seksual
diyakini memberi kontribusi sekitar 20% dari keseluruhan risiko.[18]
evolusioner menjelaskan

bahwa

persoalan

bunuh

diri

bisa

meningkatkan kemampuan inklusif. Hal ini dapat terjadi jika orang yang ingin
bunuh diri tidak dapat lagi memiliki anak dan mengangkat anak dari kerabatnya
dengan tetap bertahan hidup. Hal yang tidak dapat disetujui adalah bahwa
kematian pada remaja yang sehat tidak menyebabkan terjadinya kemampuan
inklusif. Proses adaptasi terhadap lingkungan adat nenek moyang yang sangat
berbeda mungkin menjadi proses yang maladaptif dalam kondisi saat ini.
Kemiskinan dikaitkan dengan risiko bunuh diri. Meningkatnya kemiskinan relatif
seseorang yang dibandingkan dengan orang yang ada di sekitarnya dapat
meningkatkan risiko bunuh diri. Lebih dari 200.000 petani di India telah
melakukan bunuh diri sejak tahun 1997, yang sebagian karena persoalan utang. Di
Cina, kemungkinan peristiwa bunuh diri terjadi tiga kali lipat di daerah pedesaan
di pinggiran kota, yang diyakini akibat kesulitan keuangan di area ini di negara
tersebut.

Media
Media, termasuk internet, memainkan peranan penting. Caranya menyajikan
gambaran bunuh diri mungkin saja memiliki efek negatif dengan banyaknya
tayangan yang mencolok dan berulang yang mengagungkan atau meromantiskan
tindakan bunuh diri dan memberikan dampak terbesar. Bila digambarkan secara
rinci tentang cara melakukan bunuh diri dengan menggunakan cara tertentu,
metode bunuh diri mungkin saja meningkat dalam populasi secara keseluruhan.

Pemicu penularan bunuh diri atau peniruan bunuh diri ini dikenal sebagai efek
Werther,

yang

diberi

nama

berdasarkan

tokoh

protagonist

dalam

karya Goethe yang berjudul The Sorrows of Young Werther yang melakukan
bunuh diri. Risiko ini lebih besar pada remaja yang mungkin meromantiskan
kematian. Sementara media massa memiliki pengaruh yang signifikan, efek dari
media hiburan masih tampak samar-samar. Kebalikan dari efek Werther adalah
pengusulan efek Papageno, yaitu cakupan yang baik mengenai mekanisme cara
mengatasi masalah secara efektif, mungkin memiliki efek perlindungan. Istilah ini
didasarkan pada karakter dalam opera Mozart yang berjudul The Magic
Flute yang akan melakukan bunuh diri karena takut kehilangan orang yang
dicintainya sampai teman-temannya menyelamatkannya. Bila media mengikuti
pedoman pelaporan yang sesuai, risiko bunuh diri dapat diturunkan. Namun,
kepatuhan dari industri tersebut bisa saja sulit didapatkan terutama dalam jangka
panjang.

Rasional
Bunuh diri rasional adalah tindakan menghilangkan nyawa sendiri yang
beralasan, meskipun sejumlah orang merasa bahwa bunuh diri tidak pernah masuk
akal.[62] Tindakan menghilangkan nyawa sendiri demi kepentingan orang lain
dikenal sebagai bunuh diri altruistik. Contohnya adalah sesepuh yang mengakhiri
hidup mereka agar dapat meninggalkan makanan dalam jumlah yang lebih besar
bagi orang yang lebih muda dalam masyarakat. Dalam beberapa budaya Eskimo,
hal ini dianggap sebagai tindakan yang terhormat, berani, atau bijaksana.
Serangan bunuh diri adalah sebuah tindakan politik di mana seorang penyerang
melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain sementara mereka mengerti
bahwa hal tersebut akan mengakibatkan kematian mereka sendiri. Beberapa
pelaku

bom

bunuh

diri

melakukannya

dalam

upaya

untuk

mendapatkan kesyahidan. Misi Kamikaze dilakukan sebagai kewajiban terhadap


suatu hal yang penting atau tuntutan moral. Bunuh diri-pembunuhan merupakan
tindakan pembunuhanyang diikuti oleh tindakan bunuh diri orang yang
melakukan perbuatan pembunuhan tersebut dalam kurun waktu satu minggu

10

setelahnya. Bunuh diri massalsering dilakukan di bawah tekanan sosial di mana


anggotanya menyerahkan hidupnya kepada seorang pemimpin. [67] Bunuh diri
massal dapat berlangsung sedikitnya dua orang, yang sering disebut
sebagai kesepakatan bunuh diri.
Dalam situasi yang meringankan di mana melanjutkan hidup akan menjadi
sesuatu yang tak tertahankan, beberapa orang memilih bunuh diri sebagai sarana
untuk melarikan diri. Sejumlah tahanan Nazi di kamp konsentrasi diketahui telah
bunuh diri dengan sengaja menyentuh pagar beraliran listrik.
Metode
Metode utama bunuh diri berbeda-beda antar negara. Metode utama di berbagai
wilayah

di

antaranya gantung

diri, minum

racun

pestisida,

dan senjata

api. Perbedaan ini diyakini sebagian karena ketersediaan metode yang


berbeda. Sebuah tinjauan pada 56 negara menemukan bahwa gantung diri
merupakan metode yang paling umum di sebagian besar negara, dengan angka
53% untuk kasus bunuh diri pada pria dan 39% untuk kasus bunuh diri pada
wanita.
Di seluruh dunia, 30% kasus bunuh diri menggunakan racun pestisida. Namun,
penggunaan metode ini sangat bervariasi mulai dari 4% di Eropa hingga lebih dari
50% di wilayah Pasifik. Metode tersebut juga umum dilakukan di Amerika
Latin mengingat racun pestisida mudah didapat di lingkungan petani. Di banyak
negara, overdosis obat tercatat sekitar 60% untuk kasus bunuh diri di kalangan
wanita dan 30% di kalangan pria.[75]Banyak tindakan bunuh diri yang tidak
direncanakan dan terjadi selama periode ambivalensi yang akut. Angka kematian
per metode bervariasi: senjata api 80-90%, tenggelam 65-80%, gantung diri 6085%, gas buang kendaraan 40-60%, lompat dari tempat yang tinggi 35-60%, gas
karbon hasil pembakaran 40-50%, racun pestisida 6-75%, overdosis obat 1,5-4%.
[58]

Metode percobaan bunuh diri yang paling umum dilakukan berbeda dengan

metode bunuh diri yang paling sering berhasil dengan angka mencapai 85% untuk
upaya percobaan bunuh diri dengan metode overdosis obat di negara-negara maju.
Di Amerika Serikat, 57% kasus bunuh diri melibatkan penggunaan senjata api
sehingga metode ini menjadi agak lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita.
11

[13]

Penyebab berikutnya yang paling umum adalah gantung diri pada pria dan

meracuni diri sendiri pada wanita. Kedua metode tersebut secara total mencatat
angka sekitar 40% dari kasus bunuh diri di AS. Di Swiss, di mana hampir semua
orang memiliki senjata api, jumlah terbesar kasus bunuh diri adalah dengan cara
gantung

diri. Melompat

bunuh

diri

umum

terjadi

di Hongkong maupun Singapura dengan angka masing-masing 50% dan 80%. Di


Cina, meminum racun pestisida adalah metode yang paling umum. Di Jepang,
masih

terjadi

tindakan

mengeluarkan

isi

perut

sendiri

yang

dikenal

dengan seppuku atau hara-kiri, namun demikian, gantung diri adalah yang paling
umum.

Pencegahan
Sebagai inisiatif pencegahan bunuh diri, tanda ini mempromosikan telepon khusus
yang tersedia di Jembatan Golden Gate yang terhubung kesaluran bantuan krisis.
Pencegahan bunuh diri merupakan istilah yang digunakan untuk upaya kolektif
guna mengurangi insiden bunuh diri melalui tindakan pencegahan. Mengurangi
akses ke metode tertentu, seperti senjata api atau racun akan mengurangi
risikonya. Tindakan lain di antaranya dengan mengurangi akses ke gas karbon dan
penghalang di jembatan serta platform kereta bawah tanah.[58] Pengobatan
kecanduan narkoba dan alkohol, depresi, dan mereka yang telah mencoba bunuh
diri di masa lalu mungkin juga efektif. Beberapa di antaranya telah mengusulkan
pengurangan akses ke alkohol sebagai strategi pencegahan (seperti mengurangi
jumlah bar). Walaupun saluran bantuan krisis bersifat umum, terdapat sedikit
bukti yang mendukung atau menolak keefektifannya. Pada remaja yang akhirakhir ini berpikir untuk bunuh diri, terapi perilaku kognitif tampaknya dapat
bermanfaat

untuk

memberikan

perbaikan. Pembangunan

ekonomi melalui

kemampuannya untuk mengurangi kemiskinan mungkin dapat menurunkan


tingkat bunuh diri. Upaya untuk meningkatkan hubungan sosial terutama pada
pria usia lanjut mungkin saja efektif.
Penyakit mental

12

Pada orang yang mengalami masalah kesehatan mental, sejumlah perawatan bisa
mengurangi risiko bunuh diri. Mereka yang aktif berusaha bunuh diri bisa
didaftarkan dalam rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan kejiwaan baik secara
sukarela atau secara paksa. Barang yang bisa digunakan untuk menyakiti diri
sendiri biasanya disingkirkan. Beberapa dokter meminta pasiennya untuk
menandatangani perjanjian pencegahan bunuh diri di mana mereka sepakat untuk
tidak menyakiti diri sendiri setelah keluar dari perawatan. Namun, belum ada
bukti yang mendukung bahwa praktik tersebut memiliki efek yang signifikan.
[13]

Jika pasiennya berisiko rendah, perawatan kesehatan mental pasien secara

rawat jalan bisa dilakukan. Rawat inap jangka pendek belum terlihat lebih efektif
dari kepedulian masyarakat dalam memperbaiki keadaan pada mereka yang
mengalami gangguan kepribadian borderline yang secara kronis berupaya untuk
bunuh diri.
Terdapat bukti sementara bahwa psikoterapi, khususnya terapi perilaku dialektis,
mengurangi risiko bunuh diri pada remaja serta yang mengalami gangguan
kepribadian borderline. Namun, belum ada bukti penurunan bunuh diri yang
dilakukan.
Muncul kontroversi seputar manfaat dibandingkan bahaya antidepresan. Pada
orang-orang muda, antidepresan yang baru seperti SSRI tampaknya meningkatkan
risiko bunuh diri dari 25 per 1000 menjadi 40 per 1000. Namun, antidepresan
dapat menurunkan risiko bunuh diri pada orang yang lebih tua. Litium tampaknya
efektif dalam menurunkan risiko pada mereka yang mengalami gangguan bipolar
dan depresi unipolar hingga mendekati tingkat yang sama seperti populasi umum.
EpidemiologiSekitar 0,5% hingga 1,4% orang mengakhiri hidupnya dengan
bunuh diri. Secara global, sejak tahun 2008/2009, bunuh diri merupakan penyebab
utama kematian kesepuluh[1] dengan sekitar 800.000 hingga satu juta orang
meninggal setiap tahunnya, yang berarti angka kematian sebesar 11,6 per 100.000
orang per tahun. Tingkat bunuh diri telah meningkat sebesar 60% dari tahun 1960
sampai

2012, yang

peningkatannya

terlihat

terutama

di negara-negara

berkembang. Untuk setiap bunuh diri yang menyebabkan kematian, terdapat


sekitar 10 hingga 40 percobaan bunuh diri. Tingkat bunuh diri berbeda secara

13

signifikan antar negara dan dari waktu ke waktu. Persentase kematian pada tahun
2008 yaitu: Afrika 0,5%, Asia Tenggara 1,9%, Amerika 1,2% dan Eropa 1,4%.
[2]

Untuk tingkat per 100.000: Australia 8,6, Canada 11,1, Cina 12,7, India 23,2,

Inggris 7,6, Amerika Serikat 11,4. Bunuh diri berada dalam peringkat 10 teratas
untukpenyebab kematian di Amerika Serikat pada tahun 2009 dengan sekitar
36.000 kasus setahun. Dan sekitar 650.000 orang masuk ke unit gawat darurat
setiap tahun karena mencoba bunuh diri. Lituania, Jepang dan Hongaria memiliki
angka tertinggi. Negara-negara dengan jumlah mutlak kasus bunuh diri terbesar
adalah Cina dan India yang jumlahnya lebih dari setengah jumlah total. Di Cina,
bunuh diri merupakan penyebab utama kematian ke-5. Di dunia Barat, pria
meninggal sebanyak tiga sampai empat kali lebih banyak dengan cara bunuh diri
dibanding wanita, meskipun wanita mencoba bunuh diri empat kali lebih
banyak. Hal ini dikaitkan dengan pria yang menggunakan cara yang lebih
mematikan untuk mengakhiri hidupnya. Perbedaan ini bahkan lebih menonjol
pada orang yang berusia di atas usia 65, dengan jumlah pria yang melakukan
bunuh diri sepuluh kali lipat lebih banyak dibanding wanita. Tiongkok memiliki
salah satu tingkat bunuh diri wanita tertinggi di dunia dan merupakan satu-satunya
negara

yang

tingkatnya

lebih

tinggi

dari

laki-laki

(rasio

0,9). Di

wilayah Mediterania Timur, tingkat bunuh diri hampir setara antara pria dan
wanita. Untuk wanita, tingkat bunuh diri tertinggi ditemukan di Korea
Selatan yaitu 22 per 100.000, dengan tingkat yang tinggi secara umum di Asia
Tenggara dan Pasifik Barat.Di banyak negara, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi
di usia paruh baya atau usia lanjut. Namun, jumlah mutlak bunuh diri terbesar
terjadi pada mereka yang berusia antara 15 dan 29 tahun karena jumlah orang
dalam kelompok usia tersebut. Di Amerika Serikat, yang terbesar yaitu pada
pria kaukasoid berusia lebih dari 80 tahun, meskipun orang muda lebih sering
mencoba bunuh diri. Ini merupakan penyebab kematian paling umum kedua
untuk remaja dan peringkat kedua setelah kematian karena kecelakaan pada pria
muda.ref name=Pit2012/> Pada pria muda di negara maju, bunuh diri adalah
penyebab dari hampir 30% kematian. Di negara-negara berkembang, tingkatnya
sama tetapi angka tersebut merupakan sebagian kecil kematian secara keseluruhan
karena tingkat kematian yang lebih tinggi pada jenis trauma lainnya. Di Asia

14

Tenggara, berbeda dengan daerah lain di dunia, kematian akibat bunuh diri terjadi
pada tingkat yang lebih besar pada wanita muda dibandingkan wanita usia lanjut.
Dalam sejarah Athena kuno, orang yang melakukan bunuh diri tanpa persetujuan
negara ditolak untuk dimakamkan secara wajar dengan penghormatan. Orang
tersebut akan dimakamkan sendirian, di pinggiran kota, tanpa nisan atau
tanda. Dalam sejarah Yunani Kuno dan Roma bunuh diri itu dianggap metode
yang dapat diterima saat mengalami kalah perang.Di Roma kuno, bunuh diri pada
awalnya diizinkan, tetapi kemudian hal tersebut dianggap sebagai kejahatan
terhadap negara karena menimbulkan biaya. Peraturan pidana yang dikeluarkan
oleh Raja Louis XIV dari Prancis pada tahun 1670 jauh lebih berat hukumannya:
tubuh orang yang meninggal diseret melintasi jalan-jalan, dalam kondisi
tertelungkup, dan kemudian digantung atau dibuang di tumpukan sampah. Selain
itu, semua harta orang tersebut disita. Dalam sejarah gereja Kristen, orang yang
mencoba bunuh diri dikucilkan dan mereka yang meninggal karena bunuh diri
dimakamkan di luar kuburan suci. Pada akhir abad ke-19 di Inggris, mencoba
bunuh diri itu dianggap sama dengan percobaan pembunuhan dan bisa dihukum
gantung. Di Eropa pada abad ke-19, tindakan bunuh diri mengalami pergeseran
pandangan dari sebelumnya sebagai tindakan akibat dosa menjadi akibat gila
Perundang-undangan
Di sebagian besar negara-negara Barat, bunuh diri tidak lagi merupakan
kejahatan, tetapi masih dianggap demikian di sebagian besar negara-negara Eropa
Barat mulai dari Abad Pertengahan sampai setidaknya tahun 1800-an. Banyak
negara Islam yang menetapkan bunuh diri sebagai tindak pidana. Di Australia,
bunuh diri bukan merupakan tindak pidana. Namun, menasihati, menghasut, atau
membantu dan menghasut orang lain untuk mencoba bunuh diri merupakan tindak
kejahatan, dan hukum secara eksplisit memungkinkan setiap orang untuk
menggunakan "kekuatan yang sewajarnya diperlukan" untuk mencegah orang lain
dari melakukan bunuh diri. Wilayah Barat Australia sempat secara singkat
memiliki hukum bunuh diri yang dibantu dokter mulai dari tahun 1996 sampai
1997. Tidak satu pun negara di Eropa saat ini yang menganggap bahwa bunuh diri
atau percobaan bunuh diri adalah sebuah kejahatan. Inggris dan Wales tidak

15

menganggap lagi bunuh diri sebagai kejahatan melalui Suicide Act 1961 dan di
Republik Irlandia pada tahun 1993. Kata "commit" digunakan dalam referensi
untuk itu menjadi ilegal namun banyak organisasi telah menghentikannya karena
konotasi negatif. Di India, bunuh diri merupakan tindakan ilegal dan keluarga
yang masih hidup mungkin akan menghadapi kesulitan hukum. Di Jerman,
eutanasia aktif merupakan tindakan ilegal dan siapa saja yang hadir selama
berlangsungnya bunuh diri dapat dituntut karena gagal memberikan bantuan
dalam

keadaan

darurat. Swiss baru-baru

ini

mengambil

langkah

untuk

melegalkan bunuh diri yang dibantu untuk sakit mental yang kronis. Pengadilan
tinggi Lausanne, dalam putusannya tahun 2006, telah memberikan hak kepada
seseorang tanpa nama yang memiliki gangguan kejiwaan yang lama untuk
mengakhiri hidupnya sendiri. Di Amerika Serikat, bunuh diri tidak ilegal, tetapi
mungkin dikaitkan dengan hukuman bagi orang yang mencobanya. [111] Bunuh diri
yang dibantu dokter merupakan tindakan yang legal di negara bagian Oregon dan
Washington.
Pandangan Agama
Seorang janda beragama Hindu membakar dirinya sendiri bersama dengan
mayat suaminya, tahun 1820-an. Di sebagian besar bentuk kekristenan, bunuh diri
dianggap dosa, didasarkan terutama pada tulisan-tulisan para pemikir Kristen
berpengaruh dari Abad Pertengahan, seperti Santo Agustinus dan Santo Thomas
Aquinas; tetapi bunuh diri itu tidak dianggap sebagai dosa di bawah kode
Justinian Kristen di Bizantium contohnya. Dalam Doktrin Katolik, argumen
didasarkan

pada perintah

Tuhan "Tidak

boleh

membunuh"

(diberlakukan

dalam Perjanjian Baru oleh Yesus dalam Matius 19:18), serta pemikiran bahwa
hidup adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan yang tidak boleh ditolak, dan
bahwa bunuh diri merupakan tindakan melawan "hukum alam" sehingga
mengganggu rencana utama Allah bagi dunia. Namun, diyakini bahwa penyakit
mental atau rasa takut menderita yang besar mengurangi beban tanggung jawab
seseorang

terhadap

tindakannya

melakukan

bunuh

diri. Argumen

yang

berlawanan di antaranya: bahwa perintah keenam secara lebih tepat diterjemahkan


menjadi "jangan membunuh", belum tentu berlaku untuk diri sendiri, bahwa

16

Tuhan telah memberikan kebebasan berkehendak kepada manusia; di mana


seseorang yang mengakhiri hidupnya sendiri tidak lagi melanggar Hukum Tuhan
lebih dari usaha untuk menyembuhkan penyakit; dan bahwa sejumlah kasus
bunuh diri yang dilakukan oleh para pengikut Tuhan tercatat dalam Alkitab tanpa
ada hukuman yang mengerikan. Yudaisme berfokus pada pentingnya menghargai
hidup ini, dan dengan demikian, bunuh diri sama saja dengan mengingkari
kebaikan Tuhan di dunia. Meskipun demikian, dalam keadaan yang ekstrim bila
tampaknya tidak ada pilihan selain dibunuh atau dipaksa untuk mengkhianati
agama mereka, orang-orang Yahudi melakukan bunuh diri individual atau bunuh
diri massal (lihat Masada, Penyiksaan pertama terhadap orang Yahudi di Prancis,
dan Kastil York misalnya) dan bahkan sebagai peringatan yang kelam terdapat doa
dalam liturgi Yahudi yaitu "ketika pisau berada di tenggorokan", bagi mereka
yang mati "untuk menguduskan Nama Tuhan" (lihat Martir). Tindakan ini
menerima tanggapan beragam dari otoritas Yahudi, yang oleh sejumlah orang
dianggap sebagai contoh kemartiran yang heroik, sementara yang lain menyatakan
bahwa hal tersebut merupakan tindakan yang salah, yaitu mengakhiri hidup
mereka sendiri justru saat akan menghadapi kemartiran. Bunuh diri tidak
diperbolehkan dalam ajaran agama Islam. Dalam ajaran agama Hindu, bunuh diri
umumnya tidak disukai dan dianggap berdosa sama seperti membunuh orang lain
dalam masyarakat kontemporer Hindu. Kitab Suci Agama Hindu menyatakan
bahwa orang yang melakukan bunuh diri akan menjadi bagian dari dunia roh,
bergentayangan di bumi sampai waktu di mana ia akan bertemu dengan orang
yang tidak bunuh diri. Namun, ajaran Hindu menerima hak untuk mengakhiri
hidup seseorang melalui praktik non-kekerasan yaitu puasa sampai mati yang
disebut dengan Prayopawesa. Namun Prayopawesa secara ketat dibatasi terbatas
bagi orang yang tidak lagi memiliki keinginan atau ambisi, dan tidak ada
tanggung jawab yang tersisa dalam hidupnya. Jainisme memiliki praktik yang
serupa bernama Santhara. Sati, atau membakar diri yang dilakukan oleh seorang
janda merupakan hal yang lazim dalam masyarakat Hindu selama Abad
Pertengahan.

BAB III
17

PENUTUP
A. kesimpulan
Bunuh diri atau dalam bahasa Inggris disebut Suicide (berasal dari
kata Latin suicidium, dari sui caedere, "membunuh diri sendiri") adalah sebuah
tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali
dilakukan

akibat putus

dengan gangguan

asa,

yang

penyebabnya

jiwa misalnya depresi, gangguan

seringkali

dikaitkan

bipolar,schizophrenia,

ketergantungan alkohol/alkoholisme, atau penyalahgunaan obat.


B. Saran
Masyarakat harus mempunyai pandangan yang lebih rasional dan jangan
putus asa dalam menjalani kehidupan ini. Bunuh diri sudah dilarang dalam agama
apapun.

18