Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

"PROLAPS UTERI"
DI POLI KANDUNGAN
RUMAH SAKIT TENTARA DR SOEPRAOEN MALANG
DEPARTEMEN KEPERAWATAN MATERNITAS

DI SUSUN OLEH:
ISMAIL RASMIN
201510461011038

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016
LEMBAR PEGESAHAN
Laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini dibuat dalam
rangka Praktik Profesi Ners Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas
Muhammadiyah Malang di Poli Kandungan Rumah Sakit Tentara
Dr Soepraoen Malang mulai tanggal 18 Juli sampai 23 Juli 2016.

Malang,

Juli

2016

Ismail Rasmin
201510461011038

Mengetahui

Pembimbing Institusi
Lahan

Pembimbing

(.....)

(......)

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang
biasa oleh karena kelemahan otot atau fascia yang dalam
keadaan normal menyokongnya. Atau turunnya uterus

melalui

dasar panggul atau genitalis (Wiknjosastro, 2007).


Prolapsus uteri adalah suatu hernia, dimana uterus turun
melalui hiatus genitalis. Prolapsus uteri lebih sering ditemukan
pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita yang
bekerja berat. Pertolongan persalinan yang tidak terampil seperti
memimpin meneran pada saat pembukaan rahim belum lengkap,
perlukaan

jalan

lahir

yang

dapat

menyebabkan

lemahnya

jaringan ikat di bawah panggul kendor, juga dapat memicu


terjadinya prolapsus uteri.
Prolapsus uteri adalah suatu keadaan yang terjadi akibat
otot penyangga uterus menjadi kendor sehingga uterus akan
turun atau bergeser ke bawah dan dapat menonjol keluar dari
vagina. Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke puncak vagina
dan pada kasus yang sangat berat dapat terjadi protrusi melalui
orifisium vagina dan berada di luar vagina. (Marmi, 2011)
B. ETIOLOGI
Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya prolapsus uteri
antara lain:
1. Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering,
partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus
genitalis dan memperburuk prolaps yang sudah ada. Faktorfaktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum
lengkap. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nulipara, faktor

penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan


jaringan penunjang uterus (Wiknjosastro, 2007).
2. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan
menopouse.

Persalinan

yang

lama

dan

sulit,

meneran

sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah


pad kala II, penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi
otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada menopouse,
hormon estrogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar
panggul menjadi atrofi dan melemah (Wiknjosastro, 2007).
C. PATOFISIOLOGI
Prolapsus uteri terdapat dalam beberapa tingkat, dari yang
paling ringan sampai prolapsus uteri totalis. Terutama akibat
persalinan, khususnya persalinan per-vaginam yang susah dan
terdapatnya

kelemahan-kelemahan

ligamen

yang

tergolong

dalam fasia endopelvik dan otot-otot, serta fasia-fasia dasar


panggul. Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang
meningkat dan kronik akan meningkatkan dan memudahkan
penurunan uterus, terutama apabila tonus-tonus mengurang
seperti pada penderita dalam menopouse (Wiknjosastro, 2007).
Serviks uteri terletak di luar vagina akan bergeser oleh
pakaian

wanita

tersebut,

dan

lambat

laun

menimbulkan

ulkusyang dinamakan ulkus dekubitus. Jika fasia di bagian depan


dinding vagina kendor biasanya trauma obstetrik, ia akan
terdorong

oleh

kandung

kencing

sehingga

menyebabkan

penonjolan dinding depan ke belakang yang disebabkan sistoke.


Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi
besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar atau yang
diselesaikan dalam penurunan dan meyebabkan urethrokel.
Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra. Pada
divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal,
hanya di belakang urethra ada lubang, yang membuat kantong
antara urethra dan vagina (Wiknjosastro, 2007).

Kekendoran fasia di bagian belakang dinding vagina oleh


trauma obstetrik atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan
turunnya

rektum

ke

depan

dan

menyebabkan

dinding

ke

belakang vagina menonjol ke lumen vagina yang dinamakan


rektokel (Wiknjosastro, 2007).
D. KLASIFIKASI PROLAPS UTERI
Menurut beratnya, prolapsus dibagi menjadi :
a. Prolapsus tingkat I
: prolapsus uteri dimana serviks
uteri turun sampai introitus vagina
b. Prolapsus tingkat II : prolapsus

uteri

dimana

serviks

menonjol keluar dari introitus vagina


c. Prolapsus tingkat III : prolapsus totalis (prosidensia uteri,
dimana seluruh uterus keluar dari vagina). (Marmi, 2011)
E. TANDA DAN GEJALA
Gejala dan tanda-tanda

sangat

berbeda

dan

bersifat

individual. Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri


yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun, sebaliknya
penderita

lain

dengan

prolaps

ringan

mempunyai

banyak

keluhan. Keluhan-keluhan yang hampir sering dijumpai menurut


Wiknjosastro, 2007:
1. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau
menonjol
2. Rasa sakit di pinggul dan pinggang, biasanya jika penderita
berbaring, keluhan menghilang dan menjadi kurang
3. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:
o Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang
hari, kemudian lebih berat pada malam hari
o Perasaan seperti kandung kencing tidak

dapat

dikosongkan seluruhnya
o Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing
jika batuk dan mengejan. Kadang-kadang dapat terjadi
retensio urine pada sistokel yang besar sekali
4. Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi
o Obstipasi karena feses berkumpul dalam
retrokel

rongga

o Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada


retrokel vagina
5. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:
o Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu
penderita saat berjalan dan beraktivitas.
o Gesekan portio uteri oleh celana dapat menimbulkan
lecet hingga dekubitus pada porsio.
o Lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah
serviks dan karena infeksi serta luka pada portio.
6. Entrokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga
panggul dan rasa penuh di vagina

F. KOMPLIKASI
Menurut Wiknjosastro

(2007),

komplikasi

yang

dapat

menyertai prolapsus uteri adalah :


1. Keratinisasi mukosa vagina dan porsio uteri.
Prosidensia uteri disertai dengan keluarnya dinding vagina
(inversio), karena itu mukosa vagina dan serviks uteri
menjadi tebal serta berkerut dan berwarna keputih-putihan.
2. Dekubitus
Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya
bergeser dengan paha dan pakaian dalam, hal ini dapat
menyebabkan luka dan radang dan lambat laun timbul
ulkus dekubitus. Dalam keadaan demikian, perlu dipikirkan
kemungkinan karsinoma, lebih-lebih pada penderita usia
lanjut. Pemeriksaan sitologi/biopsi perlu dilakukan untuk
mendapatkan kepastian akan adanya karsinoma.
3. Hipertofi serviks dan Elangasio Kolli
Jika serviks uteri turun dalam vagina, sedangkan jaringan
penahan dan penyokong uterus masih kuat, maka karena
tarikan ke bawah di bagian uterus yang turun serta
pembendungan pembuluh darah serviks uteri mengalami
hipertrofi dan menjadi panjang dengan periksa lihat dan

raba. Pada elangasio kolli serviks uteri serviks uteri pada


periksa raba lebih panjang dari biasa.
4. Gangguan miksi dan stress incontinence
Pada sistokel berat, miksi kadang-kadang,

sehingga

kandung kencing tidak dapat dikosongkan sepenuhnya.


Turunnya uterus bisa juga menyempitkan ureter, sehingga
bisa menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. Adanya
sistokel dapat pula mengubah bentuk sudut antara kandung
kencing

dan

uretra

yang

dpat

menimbulkan

stress

incontinence.
5. Infeksi jalan kencing
Adanya retensi air kencing, mudah menimbulkan infeksi.
Sistitis yang terjadi dapat meluas ke atas dan dapat
menyebabkan pielitis dan pielonefritis. Akhirnya hal itu
dapat menyebabkan gagal ginjal.
6. Kesulitan saat partus
Jikaa wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka pada
waktu

persalinan

pembukaan,

akan

sehingga

timbul
kemajuan

kesulitan

saat

persalinan

kala

menjadi

terhalang.
7. Kemandulan
Karena serviks uteri turun sampai dekat pada introitus
vagina atau sama sekali keluar dari vagina, tidak mudah
terjadi kehamilan.
8. Haemoroid
Feses yang terkumpul dalam rektokel memudahkan adanya
obstipasi dan memicu timbulnya haemoroid.
9. Inkarserasi usus halus
Usus halus yang masuk ke entrokel dapat terjepit dengan
kemungkinan tidak dapat direposisi lagi. Dalam hal ini
perlu dilakukan laparatomi untuk membebaskan usus yang
terjepit itu.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan pelvis lengkap,
termasuk pemeriksaan rektovaginal untuk menilai tonus sfingter.
Alat yang digunakan adalah spekulum Sims atau spekulum

standar

tanpa

bilah

anterior.

Penemuan

fisik

dapat

lebih

diperjelas dengan meminta pasien meneran atau berdiri dan


berjalan sebelum pemeriksaan. Hasil pemeriksaan fisik pada
posisi pasien berdiri dan kandung kemih kosong dibandingkan
dengan posisi supinasi dan kandung kemih penuh dapat berbeda
1-2 derajat prolaps. Prolaps uteri ringan dapat dideteksi hanya
jika pasien meneran pada pemeriksaan bimanual. Evaluasi status
estrogen semua pasien. Tanda-tanda menurunnya estrogen:
o Berkurangnya rugae mukosa vagina
o Sekresi berkurang
o Kulit perineum tipis
o Perineum mudah robek
Pemeriksaan fisik juga harus dapat menyingkirkan adanya
kondisi serius yang mungkin berhubungan dengan prolaps uteri,
seperti infeksi, strangulasi dengan iskemia uteri, obstruksi
saluran kemih dengan gagal ginjal, dan perdarahan. Jika terdapat
obstruksi saluran kemih, terdapat nyeri suprapubik atau kandung
kemih timpani. Jika terdapat infeksi, dapat ditemukan discharge
serviks purulen.
Laboratorium.
mengidentifikasi

Pemeriksaan

komplikasi

yang

serius

ditujukan

untuk

(infeksi,

obstruksi

saluran kemih, perdarahan, strangulasi), dan tidak diperlukan


untuk kasus tanpa komplikasi. Urinalisis dapat dilakukan untuk
mengetahui

infeksi

saluran

kemih.

Kultur

getah

serviks

diindikasikan untuk kasus yang disertai ulserasi atau discharge


purulen. Pap smear atau biopsi mungkin diperlukan bila diduga
terdapat keganasan. Jika terdapat gejala atau tanda obstruksi
saluran kemih, pemeriksaan BUN dan kadar kreatinin serum
dilakukan untuk menilai fungsi ginjal.
Radiologi. USG pelvis dapat berguna untuk memastikan
prolaps ketika anamnesis dan pemeriksaan fisik meragukan. USG
juga dapat mengeksklusi hidronefrosis. MRI dapat digunakan
untuk menentukan derajat prolaps namun tidak rutin dilakukan.
H. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanan pada prolapsus genitalia bersifat individual,


terutama

pada

mereka

yang

telah

memiliki

keluhan

dan

komplikasi, namun secara umum penatalaksanan dengan kasus


ini terdiri dari dua cara yakni konservatif dan operatif.
Pengobatan Konservatif. Pengobatan cara

ini

tidak

seberapa memuaskan tetapi cukup membantu para penderita


dengan prolapsus uteri. Cara ini biasanya diberikan pada
penderita prolapsus ringan tanpa keluhan atau pada penderita
yang masih ingin mendapatkan anak lagi atau penderita yang
menolak untuk melakukan tindakan operasi atau pada kondisi
yang tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi.
Tindakan yang dapat diberikan pada penderita antara lain:
o Latihan-latihan otot dasar panggul.
Latihan ini sangat berguna pada penderita prolapsus uteri
ringan

terutama

yang

terjadi

pada

penderita

pasca

persalinan yang belum lewat enam bulan. Tujuannya untuk


menguatkan otot-otot dasar panggul dan otot-otot yang
mempengaruhi miksi. Latihan ini dilakukan selama beberapa
bulan.

Caranya

adalah

di

mana

penderita

disuruh

menguncupkan anus dan jaringan dasar panggul seperti


biasanya setelah buang air besar atau penderita disuruh
membayangkan

seolah-olah

sedang

mengeluarkan

air

kencing dan tiba-tiba menghentikannya. Latihan ini bisa


menjadi lebih efektif dengan menggunakan perineometer
menurut Kegel. Alat

ini terdiri atas obturator yang

dimasukkan ke dalam vagina dan dengan suatu pipa


dihubungkan dengan suatu manometer. Dengan demikian
kontraksi otot-otot dasar panggul dapat diukur kekuatannya
o Stimulasi otot-otot dengan alat listrik.
Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan
dengan alat listrik, elektrodenya dapat dipasang di dalam
pessarium yang dimasukkan ke dalam liang vagina
o Pengobatan dengan pessarium.

Pengoabatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat


paliatif saja, yakni menahan uterus ditempatnya selama alat
tersebut digunakan. Oleh karena itu jika pessarium diangkat
maka

timbul

prolapsus

kembali.

Prinsip

pemakaian

pessarium ialah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan


pada dinding vagina bagian atas sehingga bagian dari vagina
tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati
vagina bagian bawah. Jika pessarium terlalu kecil atau dasar
panggulnya terlalu lemah maka pessarium akan jatuh dan
prolapsus uteri akan timbul kembali. Pessarium yang paling
baik untuk prolapsus genitalia ialah pessarium cicic yang
terbuat dari plastik. Jika dasar panggul terlalu lemah dapat
digunakan pessarium Napier. Pessarium ini terdiri atas suatu
gagang (stem) dengan dengan ujung atas suatu mangkok
(cup) dengan beberapa lobang dan diujung bawah terdapat 4
tali. Mangkok ditempatkan di bawah serviks dan tali-tali
dihubungkan dengan sabuk pinggang untuk memberikan
sokongan pada pessarium. Sebagai pedoman untuk mencari
ukuran yang cocok maka diukur dengan jari berupa jarak
antara fornik vagina dengan pinggir atas introitus vagina,
kemudian ukuran tersebut dikurangi dengan 1 cm untuk
mendapatkan diameter dari pessarium yang akan digunakan.
Pessarium diberi zat pelicin dan dimasukkan miring sedikit
ke dalam vagina. Setelah bagian atas masuk ke dalam vagina
maka

bagian

posterior.

tersebut

ditempatkan

Kadang-kadang

ke

pemasangan

forniks

vagina

pessarium

dari

plastik mengalami kesukaran, akan tetapi kesukaran ini


biasanya dapat diatasi oleh penderita. Apabila pessarium
tidak dapat dimasukkan sebaiknya digunakan pessarium dari
karet dengan per di dalammnya. Pessarium ini dapat
dikecilkan dengan menjepit pinggir kanan dan kiri antara 2
jari dan dengan demikian lebih mudah dimasukkan ke dalam

vagina.

Untuk

ukurannya

mengetahui

cocok

maka

setelah

penderita

dipasang

disuruh

apakah

batuk

atau

mengejan. Jika pessarium tidak keluar lalu penderita disuruh


berjalan-jalan dan apabila ia tidak merasa nyeri maka
pessarium dapat digunakan terus. Pessarium dapat dipakai
selama beberapa tahun, asalkan penderita diawasi dan
diperiksa

secara

teratur.Pemeriksaan

ulang

sebaiknya

dilakukan 2-3 bulan sekali.Vagina diperiksa secara inspekulo


untuk menentukan ada tidaknya perlukaan, pessarium lalu
dibersihkan

dan

disterilkan

lalu

kemudian

dipasang

kembali.Pada kehamilan, reposisi prolapsus uteri dengan


memasang pessarium berbentuk cincin dan kalau perlu
ditambah tampon kassa
mungkin

sudah

dapat

serta

penderita

membantu

disuruh

tidur

penderita.Apabila

pessarium dibiarkan di dalam vagina tanpa pengawasan


yang

teratur,

maka

dapat

menimbulkan

komplikasi-

komplikasi seperti ulserasi, terpendamnya sebagian dari


pessarium ke dalam dinding vagina, bahkan dapat terjadi
fistula

vesikovaginalis

atau

fistula

rektovaginalis.

Kontraindikasi terhadap pemakaian pesarium ialah adanya


radang pelvis akut atau subakut serta adanya keganasan.
Sedangkan indikasi penggunaan pessarium antara lain
kehamilan, hingga penderita belum siap untuk dilakukan
tindakan operasi, sebagai terapi tes untuk menyatakan
bahwa operasi harus dilakukan, penderita yang menolak
untuk dilakukan tindakan operasi dan lebih suka memilih
terapi konservatif serta untuk menghilangkan keluhan yang
ada sambil menunggu suatu operasi dapat dilakukan.

Gambar 1.. Jenis-jenis Pessarium

Pengobatan Operatif.
dengan

adanya

prolapsus

Prolapsus uteri biasanya disertai


vagina,

sehingga

jika

dilakukan

pembedahan untuk prolapsus uteri maka prolapsus vagina perlu


ditangani pula secara bersamaan.Ada kemungkinan terdapat
prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan, padahal tidak
ada prolapsus uteri atau prolapsus uteri yang ada belum perlu
dilakukan tindakan operasi. Indikasi untuk melakukan operasi
pada prolapsus vagina ialah jika didapatkan adanya keluhan pada
penderita. Berikut jeni- jenis tindakan operatif pada prolaps
uteri :
a. Ventrofiksasi.
Pada wanita yang masih tergolong muda dan masih ingin
menginginkan anak lagi, maka dilakukan tindakan
untuk

membuat

uterus

ventrofiksasi

memendekkan ligamentum rotundum

dengan

operasi
cara

atau mengikatkan

ligamentum rotundum ke dinding perut.


b. Operasi Manchester.
Pada tindakan operasi ini biasanya dilakukan amputasi
serviks uteri dan dilakukan penjahitan ligamentum kardinale
yang telah dipotong di muka serviks lalu dilakukan pula
kolporafi anterior dan kolpoperineoplastik.Amputasi serviks
dilakukan untuk memendekkan servik yang memanjang
(elongasio kolli).

c. Histerektomi pervaginam.
Operasi ini tepat untuk dilakukan pada prolapsus uteri dalam
tingkatan yang lebih lanjut dan pada wanita yang telah
menopause.Setelah

uterus

diangkat,

puncak

vagina

digantungkan pada ligamentum rotundum kanan dan kiri,


bagian

atas

pada

ligamentum

infundebulopelvikum,

kemudian tindakan operasi dilanjutkan dengan melakukan


kolporafi anterior dan kolpoperineorafi untuk mencegah
terjadinya prolapsus vagina dikemudian hari.
I. PENGKAJIAN
Data Subyektif
a. Biodata
Prolapsus uteri lebih sering ditemukan pada wanita yang
telah melahirkan, wanita tua dan wanita yang bekerja berat.
(Wiknjosastro, 2007)
b. Keluhan utama
Gejala dan tanda-tanda

sangat

berbeda

dan

bersifat

individual. Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps


uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun,
sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai
banyak

keluhan.

Keluhan-keluhan

yang

hampir

sering

dijumpai menurut Wiknjosastro, 2007:


o Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau
menonjol
o Rasa sakit di pinggul dan pinggang, biasanya jika
penderita berbaring, keluhan menghilang dan menjadi
kurang
c. Riwayat kebidanan
o Haid
Awal menstruasi (menarche) pada usia 11 tahun atau
lebih muda. Siklus haid tidak teratur, nyeri haid luar
biasa,

nyeri

panggul

setelah

(Wiknjosastro, 2010:346).
o Riwayat kehamilan

haid

atau

senggama

Faktor resiko yang menyebabkan prolaps uteri jumlah


kelahiran spontan yang banyak, berat badan berlebih,
riwayat operasi pada area tersebut, batuk dalam jangka
waktu lama saat hamil.
o Riwayat persalinan
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering,
partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus
genitalis dan memperburuk prolaps yang sudah ada.
Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan
belum lengkap. Bila prolapsus uteri dijumpai pada
nulipara, faktor penyebabnya adalah kelainan bawaan
berupa

kelemahan

jaringan

penunjang

uterus

(Wiknjosastro, 2007).
o Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan
menopouse. Persalinan yang lama dan sulit, meneran
sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina
bawah

pad

kala

II,

penatalaksanaan

pengeluaran

plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak


baik. Pada menopouse, hormon estrogen telah berkurang
sehingga otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan
melemah (Wiknjosastro, 2007).
d. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Eliminasi
o Sistokel dapat menyebabkan

gejala-gejala:Miksi

sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari,


kemudian lebih berat pada malam hari
o Perasaan seperti kandung kencing
dikosongkan seluruhnya
o Stress incontinence yaitu

tidak

tidak

dapat

dapat

menahan

kencing jika batuk dan mengejan. Kadang-kadang


dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar
sekali
2. Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi
o Obstipasi karena feses berkumpul dalam rongga
rektokel

o Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada


rektokel vagina
3. Aktivitas dan istirahat
Pengeluaran serviks

uteri

dari

vulva

mengganggu

penderita saat berjalan dan beraktivitas. Gesekan portio


uteri oleh celana dapat menimbulkan lecet hingga
dekubitus pada porsio.
Data Obyektif
Pemeriksaan fisik
1. Muka
Tampak pucat pertanda adanya anemia, keluar keringat
dingin bila terjadi syok.Bila perdarahan konjungtiva tampak
anemis. Pada klien yang disertai rasa nyeri klien tampak
meringis. (Manuaba, 1998 : 410).
2. Mulut
Mukosa bibir dan mulut tampak pucat, bau kelon pada mulut
jika terjadi shock hipovolemik hebat.
3. Dada dan payudara
Gerakan nafas cepat karena adanya usaha untuk memenuhi
kebutuhan O2 akibat kadar O2 dalam darah yang tinggi,
keadaan jantung tidak abnormal.
4. Abdomen
Adanya benjolan pada perut bagian bawah (Sastrawinata,
1981 : 158). Teraba adanya massa pada perut bagian bawah
konsisten keras/kenyal, tidak teratur, gerakan, tidak sakit,
tetapi kadang-kadang ditemui nyeri (Sastrawinata, 1981 :
160). Pada pemeriksaan bimanual akan teraba benjolan pada
perut, bagian bawah, terletak di garis tengah maupun agak
kesamping dan sering kali teraba benjolan-benjolan dan
kadang-kadang terasa sakit (Wiknjosastro, 2006 : 344). Pada
pemeriksaan Sondage didapatkan cavum uteri besar dan
rata (Sastrawinata, 1981 : 161).
5. Genetalia
Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke puncak vagina
dan pada kasus yang sangat berat dapat terjadi
melalui orifisium vagina dan berada di luar vagina.
6. Anus

protrusi

Akan timbul haemoroid, luka dan varices pecah karena


keadaan obstipasi akibat penekanan mioma pada rectum.
7. Ekstremitas
Oedem pada tungkai bawah oleh karena adanya tekanan
pada vena cava inferior (Sastrawinata, 1981 : 159).
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
TERLAMPIR

No
1.

Diagnosa
Keperawatan
Nyeri Akut

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Tujuan :

Dalam waktu 1 x 24
jam nyeri berkurang
atau
hilang
atau
teradaptasi.
Kriteria hasil :

Secara
subjektif
melaporkan
nyeri
berkurang
atau
dapat
diadaptasi,skala
nyeri 0-1 (0 4).

Dapat
mengidentifikasi
aktivitas
yang
meningkatkan atau
menurunkan nyeri.
Pasien tidak gelisah

Intervensi
Kaji nyeri dengan 1.
pendekatan PQRST.
Kaji
faktor
yang
meningkatkan
dan
menurunkan respons
2.
nyeri
Jelaskan dan bantu
pasien
dengan
tindakan
pereda
nyeri
non 3.
farmakologi
dan
noninvasif
Atur posisi fisiologis 4.
dan
imobilisasi
eksremitas
yang
mengalami selulitis.
5.
Manejemen
lingkungan
:
lingkungan
tenang
dan
batasi
pengunjung
Ajarkan
teknik
distraksi pada saat 6.
nyeri.
-Kolaborasi dengan
dokter,
pemberian

Rasional
Menjadi
parameter
dasar
untuk
mengetahui sejauh mana intervensi yang
diperlukan
dan
sebagai
evaluasi
keberhasilan dari intervensi manajemen
nyeri keperawatan.
Pendekatan
dengan
menggunakan
relaksasi dan non farmakologi lainnya
telah menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri.
Posisi fisiologis akan meningkatkan
asupan O2 ke jaringan yang mengalami
peradangan subkutan.
Lingkungan tenang akan menurunkan
stimulus nyeri eksternal dan pembatasan
pengunjung akan membantu peningkatan
kondisi O2.
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
menurunkan
stimulus
internal
dan
mekanisme peningkatan produkdi endofin
dan enkefalin yang dapat memblok
reseptor nyeri untuk tidak dikirim kan ke
korteks serebri sehingga menurunkan
persepsi nyeri.
Analgetik
memblok
lintasan
nyeri
sehingga nyeri akan berkurang.

2.

Kecemasan

Tujuan :

Dalam waktu 1 x 24
jam kecemasan pasien
berkurang.
Kriteria hasil :
Pasien
mengatakan
kecemasan berkurang
mengenal
perasaannya,
dapat

mengidentifikasi
penyebab atau faktor

yang
memengaruhinya,
kooperatif
terhadap
tindakan, dan wajah

rileks.

analgetik
Kaji tanda verbal dan
nonverbal kecemasan,
dampingi pasien
dan
lakukan tindakan bila
menunjukkan perilaku
merusak.
Hindari konfrontasi.
Beri
dukungan
psikologis.
Bina hubungan saling
percaya.
Berikan
kesempatan
kepada pasien untuk
mengungkapkan
ansietasnya.
Berikan privasi untuk
pasien
dan
orang
terdekat.
- Kolaborasi : Berikan
anti
cemas
sesuai
indikasi, contohnya :
diazepam.

1. Reaksi
verbal
/
nonverbal
dapat
menunjukkan rasa agitasi, marah dan
gelisah.
2. Konfrontasi dapat meningkatkan rasa
marah, menurunkan kerja sama, dan
mungkin memperkambat penyembuhan.
3. Mereka
harus
didorong
untuk
mengekspresikan
perasaan
terhadap
seseorang yang mereka percayai untuk
mendengarkan keprihatinan mereka dan
selalu siap untuk memberikan perawatan
yang terampil, serta penuh kehangatan
merupakan intervensi yang penting
untuk mengurangi ansietas.
4. Dapat
menghilangkan
ketegangan
terhadap
kekhawatiran
yang
tidak
diekspresikan.
5. Memberikan
waktu
untuk
mengekspresikan, menghilangkan cemas
dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga
dan teman-teman yang dipilih pasien
melayani aktivitas dan penglihatan
(misalnya : membaca) akan menurunkan
perasaan terisolasi.
6. Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
kecemasan.

Anda mungkin juga menyukai