Anda di halaman 1dari 18

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

IMPLEMENTASI SPM

Kelompok 1:
Ayu Novitasari

(13080694035)

Erwin Dwi Permana (13080694051)


Rifki Fikasari

(13080694053)

Dyah Trisnaning

(13080694077)

Fikri Abdillah Azis

(13080694089)

Dwi Priyo Atmojo

(13080694099)

Shinta Desyderia

(13080694105)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah salah satu sarana pelayanan
kesehatan masyarakat yang amat penting ditinjau dari sistem pelayanan kesehatan
di Indonesia, sehubungan dengan peranan dan kedudukan puskesmas sebagai
ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Peran puskesmas sebagai
sarana pelayanan kesehatan diharapkan mampu memberkan pelayanan kesehatan
yang bermutu keada masyarakat, untuk menjamin terlaksananya pelayanan
kesehatan yang bermutu setiap puskesmas perlu mengembangkan standar
pelayanan minimal (SPM).
Kebijakan pemerintah perihal standar minimal bidang kesehatan di Indonesia
diatur dalam Permenkes No.741/Menkes/Per/VII/2008 tentang standar pelyanan
miniml bidang kesehatan dan selanjutnya disingkat SPM Kesehatan adalah tolok
ukur kinerja pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Jenis pelayanan yang
wajib diselenggarakan oleh Kabupaten/Kota ada 6 (enam) jenis, yaitu; Pelayanan
Kesehatan Dasar, Pelayanan Kesehatan Rujukan, Penyelidikan Epidemiologi dan
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB), serta Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJM) 2010-2014, pada tahun 2014 Implementasi SPM sudah harus
memasuki tahap monitoring dan evaluasi.
Laporan peneliian ini adalah hasil dari penelitian tentang implementasi
SPM di Puskesmas Gayungan. Penulis memilih puskesmas Gayungan sebagai
objek penelitian karena Puskesmas tersebut merupakan salah satu Puskesmas
terbesar di Surabaya dan meraih ISO dari Worldwide Quality Assurance (WQA).
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui implementasi SPM di Puskesmas Gayungan
2. Menganalisis keberhasilan Puskesmas atas pencapaian SPM

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Puskesmas
Puskesmas merupakan organisasi fungsional yang menyelenggarakan
upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan
terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan
menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna,
dengan biaya yang dapat diemban oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya
kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan
untuk masyarakat luas guna mencapai kesehatan yang optimal, tanpa
mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Selain itu pusekesmas juga
berperan sebagai unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Secara umum, puskesmas harus memberikan pelayanan preventif,
promotif, kuratif sampai dengan rehabilitatif baik melalui upaya kesehatan
perorangan (UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM). Untuk menunjang
itu semua disetiap puskesmas harus dilengkapi dengan fasilitas yang memadai,
program program penting yang diperuntukan untuk masyarakat dan informasi
yang berguna untuk internal maupun eksternal puskesmas. Untuk dapat diketahui
oleh masyarakat maka terdapat laman ini untuk memberikan informasi tentang
fasilitas-fasilitas apa saja yang terdapat di puskesmas setempat.
2.2 Standar Pelayanan Minimal
Standar Pelayanan Minimal (selanjutnya disingkat SPM) disusun dan
diterapkan dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib Pemerintahan Daerah
Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan
pelayanan dasar sesuai dengan peraturan perundang-undangan. SPM disusun
sebagai alat Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menjamin akses dan mutu
pelayanan dasar kepada masyarakat secara merata dalam rangka penyelenggaraan
urusan wajib. Dalam penyusunan SPM ditetapkan jenis pelayanan dasar, indikator
SPM dan batas waktu pencapaian SPM.

Penyusunan SPM oleh masing-masing Menteri/Pimpinan Lembaga


Pemerintah Non-Departemen dilakukan melalui konsultasi yang dikoordinasikan
oleh Menteri Dalam Negeri. Tim Konsultasi terdiri dari unsur-unsur Depdagri,
Bappenas, Departemen Keuangan, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara dengan melibatkan Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen terkait sesuai kebutuhan. Pemerintah Daerah mengakomodasikan
pengelolaan data dan informasi penerapan SPM ke dalam sistem informasi daerah
yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2.3 Organisasi Sektor Publik


Organisasi sektor publik adalah organisasi yang berorientasi pada
kepentingan publik. Karena orientasinya pada kepentingan publik maka organisasi
ini biasanya tidak berorientasi pada laba sebagai tujuan akhirnya (non profit
oriented). Namun sebagai sebuah organisasi, proses manajemen tetap berjalan
dalam organisasi sektor publik. Kegiatan perencanaan, pengendalian biaya dan
kegiatan serta evaluasi & pengendalian tetap dijalankan di organisasi sektor
publik seperti halnya di sektor swasta. Perbedaan orientasi dan tujuan yang
membuat perencanaan dan pengendalian lebih komplek karena menggunakan
lebih banyak ukuran parameter keberhasilan.
Pertanggungjawaban dan pelaporan organisasi sektor publik memiliki acuan
khusus. Untuk pemerintah menggunakan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
dan rujukan nasionalnya adalah International Public Sector Accounting Standard.
Untuk organisasi sektor publik selain pemerintah menggunakan acuan
PSAK 45 tentang Organisasi Nirlaba. Hal yang membedakan laporan keuangan
nirlaba dengan organisasi bisnis adalah adanya pemisahan dana yang diterima
oleh entitas sektor publik dalam bentuk entitas dana. Biasanya dana yang diterima
oleh organisasi tersebut harus dipertanggungjawabkan secara khusus, maka harus
ada pelaporan khusus dan terpisah.
2.4. Kunjungan Ibu Hamil

Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan
untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan.
Kunjungan disini bukan hanya ibu hamil yang datang ke tempat pelayanan tetapi
juga setiap kontak dengan tenaga kesehatan dan diberikan pelayanan antenatal
sesuai standar baik di Posyandu, Polindes, atau kunjungan rumah oleh tenaga
kesehatan.
Kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya adalah sebanyak
empat kali yang dikenal dengan istilah K1, K2, K3, dan K4. Satu kali pada
triwulan pertama (sebelum 14 minggu), satu kali pada triwulan kedua (antara 14
28 minggu), dan dua kali pada triwulan ketiga (antara minggu 28 36 dan
sesudah minggu ke 36) (Depkes RI, 2004 : 47).
Adapun uraianya sebagai berikut :
1. K1 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada
trimester I (sebelum usia kehamilan 12 minggu) dengan jumlah kunjungan
minimal satu kali dan mendapatkan pelayanan 7T yaitu timbang berat badan,
ukur tekanan darah, imunisasi Tetanus Toxoid, periksa fundu uteri, pemberian
tablet tambah darah, tes PMS, dan temu wicara. K1 ini mempunyai peranan
penting dalam program kesehatan ibu dan anak yaitu sebagai indikator
pemantauan yang dipergunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan
antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat (Depkes
RI, 2001).
2. K2 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada
trimester II (usia kehamilan 12 28 minggu) dan mendapatkan pelayanan 7T
setelah melewati K1.
3. K3 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada
trimester III (usia kehamilan 28 36 minggu) dan mendapatkan pelayanan 7T
setelah melewati K1 dan K2.
4. K4 adalah kunjungan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya pada
trimester III (usia kehamilan >36 minggu) dan mendapatkan pelayanan 7T
setelah melewati K1, K2, dan K3.

2.5. Neonatus
Masa neonatus adalah dapat dikatakan dengan singkat masa usia anak dari
sejak lahir kedunia sampai dengan 4 minggu (0-28 hari). Anak mengalami tubmuh
dan berkembang tidak hanya di mulai dari masa neonatus, namun sejak dalam
kandungan.
2.6. Universal Child Immunization
Universal Child Immunization adalah adalah tercapainya imunisasi dasar
secara lengkap pada bayi (0-11 bulan), ibu hamil, wanita usia subur dan anak
sekolah tingkat dasar. Imunisasi dasar lengkap pada bayi yang meliputi 1 dosis
BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 4 dosis hepatitis B, 1 dosis campak. Pada ibu
hamil dan wanita usia subur meliputi 2 dosis TT. Untuk anak sekolah tingkat dasar
rneliputi 1 dosis DT, I dosis campak dan 2 dosis TT.
2.7. Alpha-fetoprotein (AFP)
Alpha-fetoprotein (AFP, -fetoprotein, alpha-1-fetoprotein, alphafetoglobulin, atau alpha fetal protein) adalah suatu protein yang pada kondisi
normal diproduksi olehhati (liver) dan kantung kuning telur (yolk sac) ketika
terjadi pembentukan bayi selama proses kehamilan.[1] Pengukuran AFP di dalam
tubuh manusia umumnya dilakukan untuk membantu mendeteksi adanya kelainan
atau penyakit hati, pemantauan terapi atau pengobatan beberapa jenis kanker, dan
juga uji saring kelainan pada perkembangan bayi selama masa kehamilan
2.8. Pneumonia Balita
Pneumonia balita adalah penyakit infeksi yang menyerang paru-paru yang
ditandai dengan batuk disertai nafas cepat dan atau napas sesak pada usia balita (0
- < 5tahun). Penyebab utama pneumonia 50% adalah streptococcus pneumoniae
dan 20% disebabkan haemophilus influenze tpe B (Hib).
2.9. TB BTA Positif
Penyakit TB-paru dengan BTA positif itu artinya: penyakit tuberculosis paru
dengan jenis bakteri yang tahan asam positif. Tuberkulosis paru BTA positif,
apabila memenuhi minimal 1 kriteria berikut ini:

a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif


b. Hasil pemeriksaan 1 spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
c. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif
2.10. Demam Berdarah
Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue. Nyamuk atau/ beberapa jenis nyamuk menularkan
(atau menyebarkan) virus dengue. Demam dengue juga disebut sebagai
"breakbone fever" atau "bonebreak fever" (demam sendi), karena demam tersebut
dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang
mereka patah. Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam; sakit kepala;
kulit kemerahan yang tampak seperti campak; dan nyeri otot dan persendian. Pada
sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang
mengancam jiwa. Yang pertama adalah demam berdarah, yang menyebabkan
pendarahan, kebocoran pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan
rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Yang
kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah
yang berbahaya.
2.11. Desa Siaga Aktif
Desa Siaga Aktif merupakan pengembangan dari Desa Siaga, yaitu Desa atau
Kelurahan yang:
1. Penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang
memberikan pelayanan setiap hari melalui Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
atau sarana kesehatan yang ada di wilayah tersebut seperti, Pusat Kesehatan
Masyarakat Pembantu (Pustu), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau
sarana kesehatan lainnya.
2. Penduduknya mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) dan melaksanakan survailans berbasis masyarakat (meliputi
pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan dan perilaku),

kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana, serta penyehatan


lingkungan sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS).
2.12 Lokakarya Mini
Lokakarya Mini Puskesmas merupakan suatu pertemuan antar petugas Puskesmas
dan petugas Puskesmas dengan sektor terkait (lintas sektoral) untuk meningkatkan
kerjasama tim, memantau cakupan pelayanan Puskesmas serta membina peran
serta masyarakat secara terpadu agar dapat meningkatkan fungsi Puskesmas.
Macam-macam Lokakarya Mini Puskesmas dan kegiatannya :
- Lokakarya Mini Bulanan adalah suatu kegiatan pertemuan intern Puskesmas
dalam rangka pemantauan hasil kerja petugas dengan cara :
a. membandingkan rencana kerja bulan lalu dari setiap petugas dgn hasil kerjanya
b. membandingkan cakupan kegiatan dari daerah binaan dengan targetnya
c. tersusunnya rencana kerja bulan berikutnya
- Lokakarya Mini Tribulan adalah suatu kegiatan pertemuan lintas sektor secara
tribulan dalam rangka :
a. mengkaji hasil kegiatan kerjasama lintas sektor
b. tersusunnya rencana kerja tribulanan berikutnya
2.13. D/S
D/S merupakan persentase balita yang ditimbang di posyandu dibanding
seluruh balita yang ada di wilayah kerja posyandu
2.14. KN1
Kunjungan Neonatal hari ke 1 (KN1) adalah jumlah neonatus umur 24
jam 2 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan
dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai dengan standar, baik di dalam maupun
di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa, Polindes, kunjungan rumah,
Rumah Sakit pemerintah/ swasta, RB, dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja
puskesmas)

BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Wawancara
Lokasi : Puskesmas Gayungan, Surabaya.
Waktu : 29 Oktober 2015, pukul 8:45- 09:15.
3.2. Teknik Pengumpulan Data
3.2.1. Wawancara
Dengan melakukan wawancara langsung dengan narasumber
selaku Plt. Kepala Puskesmas Gayungan yaitu Ibu dr. Atiek Tri Arini,
M.Kes.
3.3. Teknik Analisis Data
Setelah data dikumpulkan dilah dengan teknik pengolahan secara
deskriptif kualitatif. Dimana kualitatif ini dilakukan terhadap data
berupa informasi uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan
dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasannya terhadap suatu
kebenaran atau sebaliknya, sehingga memperoleh gambaran.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

CAPAIAN PROGRAM SPM


UPTD PUSKESMAS GAYUNGAN TAHUN 2014

NO

NAMA INDIKATOR

1
2
3

Cakupan kunjungan ibu hamil K-4


Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
Cakupan pelayanan nifas
Cakupan neonatus dengan komplikasi yang
ditangani
Cakupan kunjungan bayi
Cakupan desa/kelurahan Universal Child
Immunization
Cakupan pelayanan anak balita
Cakupan pemberian makanan pendamping ASI
pada usia 6-24 bulan
Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
Cakupan penjaringankesehatan siswa SD dan
setingkat
Cakupan peserta KB Aktif
Cakupan penemuan dan penanganan penderita
penyakit:
a. Penemuan penderita AFP
b. Penemuan dan penanganan penderita
Pneumonia balita
c. Penemuan dan penanganan pasien baru
TB BTA positif
d. Penemuan dan penanganan DBD
e. Penanganan penderita diare
Cakupan desa siaga aktif
Pelaksanaan lokakarya Mini
D/S
KN1

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

14
15
16
17

TARGET
2014
92
80
94

PENCAPAIAN
2014
95,29
95,73
96,45

95
75

96,45
102,00

90
95

96,71
100,00

83
100

95,92
100,00

100
100

100,00
100,00

70

57,71

2
80

0,00
27,03

75

87,00

100
100
50
12
80
88

100,00
100,00
100,00
12
96,10
102,00

Point 1 Cakupan kunjungan ibu hamil K-4.


Target 2014 : 92% , Pencapaian 2014 : 95,29%
Target Standar Pelayanan Minimum Bidang Kesehatan (SPM-BK)
UPTD Puskesmas Gayungan adalah 92%, sedangkan pencapaiannya lebih
dari target yaitu 95,29%. Pencapaian yang telah melampaui target ini
dikarenakan

mayoritas

dari

pasien

bukan

sekedar

hanya

ingin

mendapatkan buku KIA, Rujukan dari BPJS, USG, namum pasien tersebut
melakukan pemeriksaan kehamilan dilakukan secara menyeluruh. Selain
itu faktor pendukung sebagai pertimbangan oleh beberapa masyarakat

lebih percaya kepada puskesmas Gayungan adalah karena Puskesmas

Gayungan telah meraih ISO dari Worldwide Quality Assurance (WQA)


Point 2 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani.
Target 2014 : 80% , Pencapaian 2014 : 95,73%
Target Standar Pelayanan Minimum Bidang Kesehatan (SPM-BK)
UPTD Puskesmas Gayungan adalah 80%, sedangkan pencapaiannya lebih
dari target yaitu 95,73%. Pencapaian yang telah melampaui target ini
dikarenakan puskesmas melakukan perawatan/pelapisan lanjutan. Jadi
bukan sekedar langsung mengeluarkan surat rujukan, karena puskesmas
memiliki sumber daya yang memadai untuk memberikan pelayanan
berupa perawatan lanjutan. Selain itu faktor pendukung sebagai
pertimbangan oleh beberapa masyarakat lebih percaya kepada puskesmas
Gayungan adalah karena Puskesmas Gayungan telah meraih ISO dari

Worldwide Quality Assurance (WQA).


Point 3 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan.
Target 2014 : 94% , Pencapaian 2014 : 96,45%
Target Standar Pelayanan Minimum Bidang Kesehatan (SPM-BK)
UPTD Puskesmas Gayungan adalah 94%, sedangkan pencapaiannya lebih
dari target yaitu 96,45%. Pencapaian yang telah melampaui target ini
dikarenakan adanya jumlah kapitasi BPJS luar wilayah yang semakin
meningkat sehingga Puskesmas Gayungan banyak melakukan pelayanan
persalinan. Karena masyarakat BPJS cenderung memilih Puskesmas
daripada rumah sakit karena harga nya lebih terjangkau. Selain itu faktor
pendukung sebagai pertimbangan oleh beberapa masyarakat lebih percaya
kepada puskesmas Gayungan adalah karena Puskesmas Gayungan telah

meraih ISO dari Worldwide Quality Assurance (WQA).


Point 4 Cakupan pelayanan nifas.
Target 2014 : 95% , Pencapaian 2014 : 96,45%
Pencapaian dari pelayanan nifas selama tahun 2014 adalah sebesar
96,45%, diatas target 2014 sebesar 95%. Menurut Koordinator Bidan
Puskesmas Gayungan, tidak jauh beda dengan pencapaian pertolongan
persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
kebidanan bahwa banyaknya kapitasi akan sangat memengaruhi besarnya
capaian pelayanan.

Point 5 Cakupan nenonatus dengan komplikasi yang ditangani.


Target 2014 : 75% , Pencapaian 2014 : 102%
Pencapaian nenonatus dengan komplikasi yang ditangani pada
tahun 2014 sebesar 102%, sudah melebihi dari target 2014 sebesar 75%.
Menurut Koordinator Bidan Puskesmas Gayungan, hal ini disebabkan
karena puskesmas dapat menangani pasien dan sedikit melakukan rujukan
ke rumah sakit yang merupakan ranah dari permasalahan tersebut.

Point 6 Cakupan kunjungan bayi.


Target 2014 : 90% , Pencapaian 2014 : 96,71%
Pencapaian kunjungan bayi pada tahun 2014 sebesar 96,71%,
sudah berada diatas target tahun 2014 sebesar 90%. Menurut Koordinator
Bidan Puskesmas Gayungan, hal ini disebabkan karena banyaknya kapitasi
BPJS di puskesmas sehingga memengaruhi jumlah kunjungan serta

cakupan pelayanan puskesmas.


Point 7 Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization
Target 2014 : 95% , Pencapaian 2014 : 100%
Pencapaian Desa UCI (Universal Child Immunization) tahun 2014
sebesar 100%, sudah sesuai dengan target yang jumlahnya juga 100%.
Point 8 Cakupan pelayanan anak balita
Target 2014 : 83% , Pencapaian 2014 : 95,92%
Pencapaian pelayanan anak balita sebesar 100%, sama dengan
target sebesar 100%. Hal ini terjadi karena semua balita melakukan

seluruh pemeriksaan yang dianjurkan.


Point 9 Cakupan pelayanan anak balita
Target 2014 : 100% , Pencapaian 2014 : 100%
Pencapaian pemberian Makan Pendamping ASI (MP-ASI) pada
anak usia 6-24 bulan keluarga miskin tahun 2015 mencapai 100 %, sesuai
dengan target yaitu 100%. Menurut Koord. Gizi Puskesmas Gayungan
jumlah balita keluarga miskin diberi MP-ASI adalah 20 orang, dan semua

dilayani dan diberikan MP ASI.


Point 10 Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
Target 2014 : 100% , Pencapaian 2014 : 100%
Pencapaian balita gizi buruk mendapat perawatan tahun 2014
adalah 100%, sudah sesuai target yaitu 100%. Menurut Koord. Gizi
Puskesmas Gayungan, jumlah balita gizi buruk adalah 1 orang sampai
pada Desember 2014

Point 11 Cakupan penjaringankesehatan siswa SD dan setingkat


Target 2014 : 100% , Pencapaian 2014 : 100%
Pencapaian penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat tahun
2014 adalah 100%, sesuai dengan target yaitu 100%.
Point 12 Cakupan peserta KB Aktif
Target 2014 : 70% , Pencapaian 2014 : 57,71%
Pencapaian peserta KB aktif tahun 2014 adalah 57,71%, masih
dibawah target sebesar 70%. Menurut Koord. Bidan Puskesmas Gayungan
hal ini disebabkan karena sebagian dari peserta KB aktif melakukan
program kehamilan

Point 13 Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit AFP,


Pneumonia, DBD, TB, dan Diare.
Target 2014 : 70% , Pencapaian 2014 : 57,71%
Pencapaian Penemuan dan Penanganan penderita penyakit antara
lain : Pencapaian dan Penemuan AFP adalah 0%, karena tidak ditemukan
penyakit tersebut.
Pencapaian dan Penemuan Pneumonia hanya mencapai mencapai
27,03%, hal ini dikarenakan tidak berjalannya berjalannya poliklinik
MTBS dimana semua pasien akan diidentifikasi secara mendalam.
Pencapaian Pencapaian dan Penemuan TB sebesar 87% melampaui
target yaitu 75%.
Pencapaian penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD
adalah 100% ditangani. pencapaian penanganan penderita diare juga
sebesar 100%. Pencapaian yang sesuai target ini dikarenakan kesadaran
masyarakat akan pentingnya penanganan secepatnya penyakit DBD dan

diare.
Point 14 Cakupan desa siaga aktif
Target 2014 : 50 , Pencapaian 2014 : 100%
Pelayanan cakupan desa siaga aktif tahun 2014 adalah 100%, jauh
melampaui target yang hanya diperkirakan 50%. Menurut koordinator
Promkes Puskesmas Gayungan, seluruh desa di wilayah Puskesmas sudah
menjalankan desa siaga aktif.

Point 15 Pelaksanaan lokakarya mini


Target 2014 : 12 , Pencapaian 2014 : 12
Pada Puskesmas Gayungan tahun 2014 telah sesuai target yaitu 12
(dua belas) kali pelaksanaan. Di Puskesmas Gayungan, lokakarya mini

puskesmas dilakukan setiap Bulan dengan mengadakan rapat bulanan


lintas Program yang dihadiri oleh Kepala Puskesmas dengan Koordinator
program. Selain itu, juga terdapat rapat bulanan yang dihadiri oleh seluruh

dokter dan perawat di Puskesmas Gayungan.


Point 16 D/S
Target 2014 : 80% , Pencapaian 2014 : 96,10
Pencapaian D/S pada Puskesmas Gayungan tahun 2014 mencapai
96,1% diatas target sebesar 80%. Menurut Koord. Bidan Puskesmas
Gayungan hal ini disebabkan karena jumlah balita yang datang dan
ditimbang lebih banyak dari jumlah sasaran balita yang ada di wilayah

Gayungan.
Point 17 KN1
Target 2014 : 88% , Pencapaian 2014 : 102%
Pencapaian KN1 pada Puskesmas Gayungan tahun 2014 mencapai
102% diatas target sebesar 88%. KN1 merupakan pelayanan kesehatan
neonatal dasar yaitu berupa kunjungan ke-1 pada 6-24 jam setelah lahir.
Menurut Koord. Bidan Puskesmas Puskesmas Gayungan, hal ini selalu
dilakukan pada ibu-ibu yang melakukan persalinan di Puskesmas
Gayungan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan dari penelitian ini
sebagai
berikut:
1. Implementasi standar pelayanan minimal di bidang kesehatan di Puskesmas
Gayungan belum terlaksana dengan baik sesuai dengan Kebijakan Pemerintah
perihal Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan di Indonesia (Permenkes
No. 741 Tahun 2008) karena sesuai dengan petunjuk teknis SPM ada 17
Indikator yang harus tercapai, sedangkan di Puskesmas Gayungan terdapat 3
indikator yang tidak mencapai target diantaranya adalah Cakupan peserta KB
aktif, Penemuan penderita AFP serta Penemuan dan penanganan penderita
pneumonia balita.
2. Indikator yang tidak mencapai target SPM di Puskesmas Gayungan
diantaranya: Cakupan peserta KB aktif, faktor penghambatnya adalah karena
sebagian dari peserta KB aktif melakukan program kehamilan, sehingga
peserta KB aktif yang rendah sedangkan target pencapaian terlalu tinggi.
Indikator yang tidak tercapainya lainnya adalah Penemuan penderita AFP,
faktor penghambatnya karena memang tidak ditemukan pasien yang menderita
penyakit tersebut. Sedangkan untuk Penemuan dan penanganan penderita
pneumonia balita, faktor penghambatnya adalah hal ini dikarenakan tidak
berjalannya berjalannya poliklinik MTBS dimana semua pasien akan
diidentifikasi secara mendalam.
3. Sumberdaya manusia di Puskesmas Gayungan cukup dan sangat memadai
seperti tenaga bidan, tenaga administrasi serta sarjana komputer untuk
menunjang pelayanan kesehatan di Puskesmas Gayungan. Sumberdaya non
manusia atau sarana-prasarana di Puskesmas Gayungan juga cukup memadai,

dibuktikan dengan gedung yang luas dan besar (2 lantai), alat-alat,


perlengkapan da transportasi lainnya.
4. Perilaku dalam memberikan pelayanan kesehatan di Puskesmas Gayungan
sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan Petunjuk Teknis Standar
Pelayanan Minimal.
5.
5.2 Saran
1. Pelaksanaan standar pelayanan minimal diserahkan pada masing-masing
daerah, karena melihat kemampuan pada setiap daerah yang berbeda namun
pelaksanaannya tetap mengacu pada Peemenkes No. 741 tahun 2008. Setiap
daerah berhak menentukan presentase target yang sesuai dengan ketentuan
yang telah di-Standar Pelayanan Minimal-kan, namun kebijakan Standar
Pelayanan Minimal di daerah boleh ada yang berbeda disesuaikan dengan
kebutuhan, karakteristik dan potensi daerah.
2. Kinerja Puskesmas tahun ini yang sudah baik ditingkatkan lagi untuk tahuntahun kedepan.

LAMPIRAN FOTO