Anda di halaman 1dari 11

A.

Definisi
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mengalami kekurangan gizi
(kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK)
adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK. Seseorang
dikatakan menderita risiko KEK bilamana LILA <23,5 cm.
Kurang gizi akut disebabkan oleh tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang
baik (dari segi kandungan gizi) untuk satu periode tertentu untuk mendapatkan tambahan kalori dan
protein (untuk melawan) muntah dan mencret (muntaber) dan infeksi lainnya. Gizi kurang kronik
disebabkan karena tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik
dalam periode/kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori dan protein dalam jumlah yang
cukkup, atau juga disebabkan menderita muntaber atau penyakit kronis lainnya.
Gizi kurang akut biasanya mudah untuk dideteksi, berat badan anak akan kurang dan kurus mereka akan
memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan dan meningkatkan resiko terkena
infeksi. Gizi kurang yang kronik lebih sulit diidentifikasi oleh suatu komunitas anak akan tumbuh
lebih lambat daripada yang diharapkan baik dari segi berat badan maupun tinggi badan, dan tidak
kelihatan terlalu kurus, namun pemeriksaan berat dan tinggi badan akan menunjukan bahwa mereka
memiliki berat yang kurang pada grafik pertumbuhan anak misalnya kerdil. Gizi kurang kronik
dapat mempengaruhi perkembangan otak dan psikologi anak dan meningkatkan resiko terkena
infeksi. Perempuan yang kurang makan (kurang gizi) punya kecenderungan untuk melahirkan anak
dengan berat badan rendah, yang punya resiko lebih besar terkena infeksi.
Tiga faktor utama indeks kualitas hidup yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Faktor-faktor tersebut erat
kaitannya dengan status gizi masyarakat yang dapat digambarkan terutama pada status gizi anak
balita dan wanita hamil. Kualitas bayi yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh keadaan ibu sebelum
dan selama hamil. Wanita Usia Subur (WUS) adalah calon ibu yang penting untuk diketahui status
gizinya. Salah satu ukuran untuk mengetahui risiko KEK (kurang energi kronis) pada WUS adalah
ukuran lingkar lengan atas (LILA) < 23.5 Cm.
Cara Mengetahui Risiko Kekurangan Energi Kronis (Kek) Dengan Menggunakan Pengukuran Lila :
a. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)
LILA adalah suatu cara untuk mengetahui risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) wanita usia subur termasuk
remaja putri. Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam
jangka pendek.
b. Pengukuran dilakukan dengan pita LILA dan ditandai dengan sentimeter, dengan batas ambang 23,5 cm
(batas antara merah dan putih). Apabila tidak tersedia pita LILA dapat digunakan pita
sentimeter/metlin yang biasa dipakai penjahit pakaian. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau
di bagian merah pita LILA, artinya remaja putri mempunyai risiko KEK. Bila remaja putri menderita
risiko KEK segera dirujuk ke puskesmas/sarana kesehatan lain untuk mengetahui apakah remaja putri
tersebut menderita KEK dengan mengukur IMT. Selain itu remaja putri tersebut harus meningkatkan
konsumsi makanan yang beraneka ragam.
Hal-hal yang harus diperhatikan:
P
engukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.
Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang.
Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat, sehingga permukaannya
sudah tidak rata
Deteksi dini Kurang Energi Kronis (KEK) :
1. Dilakukan setiap tahun dengan mengukur Lingkar Lengan Kiri Atas (LILA) dengan memakai pita
LILA.
2. Pada Remaja Putri/Wanita yang LILA-nya <23,5 cm berarti menderita Risiko Kurang Energi Kronis
(KEK), yang harus dirujuk ke Puskesmas/ sarana pelayanan kesehatan lain, untuk mendapatkan
konseling dan pengobatan.
3. Pengukuran LILA dapat dilakukan oleh Remaja Putri atau wanita itu sendiri, kader atau pendidik.
Selanjutnya konseling dapat dilakukan oleh petugas gizi di Puskesmas (Pojok Gizi), sarana kesehatan
lain atau petugas kesehatan/gizi yang datang ke sekolah, pesantren dan tempat kerja.
B. KEK pada Ibu Hamil di Indonesia
Di Indonesia batas ambang LILA dengan resiko KEK adalah 23,5 cm hal ini berarti ibu hamil dengan resiko
KEK diperkirakan akan melahirkan bayi BBLR. Bila bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR) akan mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan, dan gangguan
perkembangan anak. Untuk mencegah resiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan wanita usia
subur sudah harus mempunyai gizi yang baik, misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm.
Apabila LILA ibu sebelum hamil kurang dari angka tersebut, sebaiknya kehamilan ditunda sehingga

tidak beresiko melahirkan BBLR. Ibu hamil dengan KEK pada batas 23 cm mempunyai resiko 2,0087
kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang mempunyai LILA lebih dari 23 cm.
Angka kejadian kelahiran premature yang disebabkan karena ibu hamil mengalami kurang gizi (kurang energi
kronis/KEK, yang ditandai dengan lingkar lengan atas kurang dari 21,5 cm)tidak signifikan. Akibat
yang paling relevan dari ibu hamil KEK adalah terjadinya bayi lahir dengan Berat Badan Lahir
Rendah/BBLR (kurang dari 2.500 gr). Kasus ini tidak kalah peliknya dari bayi lahir premature.
Tingginya angka kasus Gizi Buruk di Indonesia disumbangkan secara nyata oleh angka BBLR yang
terjadi. Meski faktor utama ibu hamil KEK adalah ekonomi, tidak menutup kemungkinan faktor
kesehatan ibu dan faktor keturunan juga menjadi faktor penyebab lainnya. Tetapi sampai dengan akhir
tahun 2007 angka kelahiran BBLR di Indonesia sudah mulai bisa diturunkan.
Kondisi KEK pada ibu hamil harus segera di tindaklanjuti sebelum usia kehamilan mencapai 16 minggu.
Pemberian makanan tambahan yang Tinggi Kalori dan Tinggi Protein dan dipadukan dengan
penerapan Porsi Kecil tapi Sering, pada faktanya memang berhasil menekan angka kejadian BBLR di
Indonesia. Penambahan 200 450 Kalori dan 12 20 gram protein dari kebutuhan ibu adalah angka
yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin. Meskipun penambahan tersebut secara nyata
(95 %) tidak akan membebaskan ibu dari kondisi KEK, bayi dilahirkan dengan berat badan normal.
Program bidan di desa/bidan PTT untuk daerah-daerah pedalaman merupakan kunci utama untuk
menunrunkan angka kelahiran bayi BBLR, dengan didukung oleh dana besar pemerintah lewat paket
Pemberian makanan tambahan / PMT Bumil KEK. Termasuk di dalamnya pemberian penyuluhan
kesehatan untuk ibu hamil serta program Desa Siaga, adalah program nasional yang membutuhkan
peran serta masyarakat untuk menyukseskannya.
Asupan makanan rata-rata bumil pada penelitian ini dibawah nilai normal (<50% RDA), menunjukkan jumlah
makanan yang kurang dan secara langsung menyebabkan terjadinya defisiensi baik energi maupun
vitamin dan mineral, dan merupakan penyebab terjadinya malnutrisi pada bumil Untuk mencukupi
kebutuhan bumil digunakan cadangan lemak tubuh dan penggunaan secara terus menerus bukan saja
akan memberi dampak negatif pada bumil (malnutrisi) tapi juga akan berdampak pada bayi yang akan
dilahirkan berupa berat lahir yang rendah/BBLR.
Kebutuhan bumil terhadap energi, vitamin maupun mineral meningkat sesuai dengan perubahan fisiologis ibu
terutama pada akhir trimester kedua dimana terjadi proses hemodelusi yang menyebabkan terjadinya
peningkatan volume darah dan mempengaruhi konsentrasi hemoglobin darah. Pada keadaan normal
hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian tablet besi, akan tetapi pada keadaan gizi kurang bukan
saja membutuhkan suplemen energi juga membutuhkan suplemen vitamin dan zat besi. Keperluan
yang meningkat pada masa kehamilan, rendahnya asupan protein hewani serta tingginya konsumsi
serat / kandungan fitat dari tumbuh-tumbuhan serta protein nabati merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya anemia besi.
Bumil membutuhkan asupan energi dan zat besi yang lebih tinggi dari wanita normal. Absorbsi zat besi dalam
makanan hanya sekitar 20%, untuk meningkatkan absorbsi selain dibutuhkan protein hewani
dibutuhkan asupan vitamin C, zinc, asam folat, vitamin B12 dan zat besi. Pemberian makanan
tambahan yang mengandung 600-700 kalori, 15-20 gram protein dan tablet besi pada ibu hamil KEK
dari keluarga miskin tidak menunjukkan kenaikan kadar Hb yang lebih tinggi dibandingkan kontrol
yang memperoleh tablet besi. Hal ini disebabkan dapat dijelaskan salah satunya dari perbedaan
asupan fiber. Asupan fiber pada kedua kelompok sejak awal penelitian sampai sesudah intervensi
tampak lebih tinggi pada kelompok perlakuan (p<0,05). Ini dapat dihubungkan dengan kondisi sosial
ekonomi pada kelompok perlakuan yang lebih rendah. Kemungkinan konsumsi sayur-sayuran dan
buah-buahan atau bahan makanan lainnya yang mengandung serat lebih banyak dikonsumsi oleh
kelompok perlakuan. Hal ini terkait dengan peran serat terhadap penyerapan zat besi. Disamping itu,
pemberian PMT pada kelompok perlakuan walaupun walaupun terlihat lebih tinggi namun belum
mencukupi kebutuhan energi dan protein yang dianjurkan (energi 2485 kkal dan protein 60 gram).
Hal ini disebabkan PMT yang diberikan yang awalnya ditujukan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi
ternyata digunakan sebagai makanan pokok, walaupun sejak awal telah diinformasikan bahwa
manfaat PMT yang diberikan hanyalah bersifat penambah bukan pengganti makanan yang
dikonsumsi selama ini.
Pengaruh musim paceklik merupakan salah faktor hal yang menyebabkan berkurangnya asupan makanan
bumil dimana persediaan makanan dalam rumah tangga berkurang. Pada saat penelitian ini dilakukan,
sedang berlangsung musim paceklik di daerah ini, dan ini merupakan salah satu faktor penyebab
berkurangnya makanan yang tersedia dalam rumah tangga , dalam masyarakat pedesaan di negaranegara berkembang dengan status sosial-ekonomi rendah, musim merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh besar terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat dengan pola yang relatif sama yang
berulang setiap tahun dan memberi pengaruh yang besar terhadap keadaan kesehatan dan gizi

masyarakat. Pada penelitian ini peningkatan asupan besi, vitamin C, B12, asam folat diiringi dengan
peningkatan fiber.
Makin besar jumlah energi makin tinggi kandungan fiber yang dikonsumsi, makin tinggi fiber makin sedikit
zat besi yang di absorbsi dan zat besi yang dikonsumsi hanya mencukupi kebutuhan bumil dan tidak
dapat disimpan sebagai cadangan. Dengan kebiasaan mengkonsumsi lebih banyak protein nabati
dibandingkan protein animal, maka absorbsi zat besi juga berkurang bila dibandingkan dengan
makanan yang mengandung heme yang diperoleh dari protein animal.
C. Pencegahan KEK
Makan makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein termasuk makanan pokok seperti
nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan yang mengandung protein seperti daging, ikan, telur,
kacang-kacangan atau susu sekurang-kurangnya sehari sekali. Minyak dari kelapa atau mentega dapat
ditambahkan pada makanan untuk meningkatkan pasokan kalori, terutama pada anak-anak atau
remaja yang tidak terlalu suka makan. Hanya memberikan ASI kepada bayi sampai usia 6 bulan
mengurangi resiko mereka terkena muntah dan mencret (muntaber) dan menyediakan cukup gizi
berimbang. Jika ibu tidak bias atau tidak mau memberikan ASI, sangat penting bagi bayi untuk
mendapatkan susu formula untuk bayi yang dibuat dengan air bersih yang aman susu sapi normal
tidaklah cukup. Sejak 6 bulan, sebaiknya tetap diberikan Asi tapi juga berikan 3-6 sendok makan
variasu makanan termasuk yang mengandung protein. Remaja dan anak2 yang sedang sakit sebaiknya
tetap diberikan makanan dan minuman yang cukup. Kurang gizi juga dapat dicegah secara bertahap
dengan mencegah cacingan, infeksi, muntaber melalui sanitasi yang baik dan perawatan kesehatan,
terutama mencegah cacingan.
Pemberian makanan tambahan dan zat besi pada ibu hamil yang menderita KEK dan berasal dari Gakin dapat
meningkatkan konsentrasi Hb walaupun besar peningkatannya tidak sebanyak ibu hamil dengan
status gizi baik. Terlihat juga penurunan prevalensi anemia pada kelompok kontrol jauh lebih tinggi
dibanding pada kelompok perlakuan. Konsumsi makanan yang tinggi pada ibu hamil pada kelompok
perlakuan termasuk zat besi disertai juga dengan peningkatan konsumsi fiber yang diduga merupakan salah
satu faktor pengganggu dalam penyerapan zat besi.. Pada ibu hamil yang menderita KEK dan dari
Gakin kemungkinan masih membutuhkan intervensi tambahan agar dapat menurunkan prevalensi
anemia sampai ke tingkat yang paling rendah.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mengalami kekurangan gizi
(kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK)
adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK. Seseorang
dikatakan menderita risiko KEK bilamana LILA <23,5 cm.
Ibu Hamil yang menderita KEK sangat beresiko melahirkan BBLR dimana berat bayi kurang dari 2500 gram.
Cara pencegahan KEK adalah dengan mengkonsumsi berbagai makanan bergizi seimbang dengan
pola makan yang sehat.
B. Saran
Disarankan kepada petugas kesehatan untuk meningkatkan program penyuluhan tentang gizi seimbang dan
bagi remaja lebih meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung sumser zat besi seperti
sayuran hijau,potein hewani(susu, daging,telur) dan penambahan suplemen zat besi. Dan untuk para
pembaca sebaiknya juga memperhatikan gizi dan pola makan sehari-harinya.
Kekurangan Energi Kronis pada Kehamilan
Dipublikasi pada Juni 13, 2012 oleh midwife rini MCB
2.1 Defenisi
Menurut Depkes RI (2002) dalam Program Perbaikan Gizi Makro menyatakan bahwa Kurang Energi Kronis
merupakan keadaan dimana ibu penderita kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis)
yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada wanita usia
subur (WUS) dan pada ibu hamil (bumil).
KEK adalah penyebabnya dari ketidakseimbangan antara asupan untuk pemenuhan kebutuhan dan
pengeluaran energi (Departemen Gizi dan Kesmas FKMUI, 2007).
Istilah KEK atau kurang energi kronik merupakan istilah lain dari Kurang Energi Protein (KEP) yang
diperuntukkan untuk wanita yang kurus dan lemak akibat kurang energi yang kronis. Definisi ini
diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO).
Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mengalami kekurangan gizi
(kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK)
adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK. Seseorang
dikatakan menderita risiko KEK bilamana LILA <23,5 cm.

2.2 Etiologi
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi KEK
2.2.1
Faktor Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi ini terdiri dari:
1. Pendapatan Keluarga
Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makanan. Orang dengan tingkat ekonomi rendah biasanya akan
membelanjakan sebagian besar pendapatan untuk makan, sedangkan dengan tingkat ekonomi tinggi
akan berkurang belanja untuk makanan.
Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak
mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh, dengan kata lain semakin tinggi
penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran
dan beberapa jenis makanan lainnya
1. Pendidikan Ibu
Latar belakang pendidikan seseorang merupakan salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi keadaan
gizinya karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan / informasi tentang gizi
yang dimiliki menjadi lebih baik.
1. Faktor Pola Konsumsi
Pola makanan masyarakat Indonesia pada umumnya mengandung sumber besi heme (hewani) yang rendah
dan tinggi sumber besi non heme (nabati), menu makanan juga banyak mengandung serat dan fitat
yang merupakan faktor penghambat penyerapan besi (Departemen Gizi dan Kesmas FKMUI, 2007).
1. Faktor Perilaku
Kebiasaan dan pandangan wanita terhadap makanan, pada umumnya wanita lebih memberikan perhatian
khusus pada kepala keluarga dan anak-anaknya. Ibu hamil harus mengkonsumsi kalori paling sedikit
3000 kalori / hari Jika ibu tidak punya kebiasaan buruk seperti merokok, pecandu dsb, maka status
gizi bayi yang kelak dilahirkannya juga baik dan sebaliknya (Arisman, 2007).
2.2.2 Faktor Biologis
Faktor biologis ini diantaranya terdiri dari :
2.2.2.1 Usia Ibu Hamil
Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas janin/anak yang rendah dan
juga akan merugikan kesehatan ibu (Baliwati, 2004: 3). Karena pada ibu yang terlalu muda (kurang
dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam
masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan (Soetjiningsih,
1995: 96). Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun,
sehingga diharapkan status gizi ibu hamil akan lebih baik.
2.2.2.2 Jarak Kehamilan
Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa
apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan
memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak
kelahiran dibawah 2 tahun. (Aguswilopo, 2004 : 5).
Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan
merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri
(ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya).
Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang
dikandung. (Baliwati, 2004 : 3).
2.2.2.3 Paritas
Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). (Mochtar, 1998).
Paritas diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Primipara adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin yang telah
mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau mati pada waktu lahir.
2. Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami dua atau lebih kehamilan yang berakhir pada
saat janin telah mencapai batas viabilitas.
3. Grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami lima atau lebih kehamilan yang
berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.
Kehamilan dengan jarak pendek dengan kehamilan sebelumnya kurang dari 2 tahun / kehamilan yang terlalu
sering dapat menyebabkan gizi kurang karena dapat menguras cadangan zat gizi tubuh serta organ
reproduksi belum kembali sempurna seperti sebelum masa kehamilan (Departemen Gizi dan Kesmas
FKMUI, 2007).
2.2.2.4
Berat Badan Selama Hamil .

Berat badan yang lebih ataupun kurang dari pada berat badan rata-rata untuk umur tertentu merupakan faktor
untuk menentukan jumlah zat makanan yang harus diberikan agar kehamilannya berjalan dengan
lancar. Di Negara maju pertambahan berat badan selama hamil sekitar 12-14 kg.
Jika ibu kekurangan gizi pertambahannya hanya 7-8 kg dengan akibat akan melahirkan bayi dengan berat lahir
rendah ( Erna, dkk, 2004 ).
Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10 12 kg, dimana pada trimester I pertambahan kurang dari 1
kg, trimester II sekitar 3 kg, dan trimester III sekitar 6 kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus
bertujuan memantau pertumbuhan janin.
2.3

Tanda dan gejala

2.3.1
2.3.2
2.3.3
2.3.4

Lingkar lengan atas sebelah kiri kurang dari 23,5 cm.


Kurang cekatan dalam bekerja.
Sering terlihat lemah, letih, lesu, dan lunglai.
Jika hamil cenderung akan melahirkan anak secara prematur atau jika lahir secara normal bayi yang
dilahirkan biasanya berat badan lahirnya rendah atau kurang dari 2.500 gram.

2.4

Dampak yang ditimbulkan

2.4.1

Ibu

Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain: Anemia,
perdarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal dan terkena penyakit infeksi. Sehingga
akan meningkatkan kematian ibu (Zulhaida, 2003).
2.4.2
Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan
prematur / sebelum waktunya, perdarahan post partum, serta persalinan dengan tindakan operasi cesar
cenderung meningkat (Zulhaida, 2003).
2.4.3
Janin
Kurang gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan
keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, asfiksia intra partum, lahir
dengan berat badan rendah (BBLR) (Zulhaida, 2003).
2.5
Pengukuran Status Gizi
Dapat dilakukan melalui empat cara yaitu secara klinis, biokimia, biofisik, dan antropometri.
2.5.1
Penilaian secara klinis.
Penilaian status gizi secara klinis sangat penting sebagai langkah pertama dalam mengetahui keadaan gizi
penduduk. Karena hasil penilaian dapat memberikan gambaran masalah gizi yang nampak nyata.
2.5.2
Penilaian secara biokimia
Penilaian status gizi secara biokimia di lapangan banyak menghadapi masalah. Salah satu ukuran yang sangat
sederhana dan sering digunakan adalah pemeriksaan haemoglobin sebagai indeks dari anemia gizi.
2.5.3
Penilaian secara biofisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat tanda dan gejala kurang gizi. Dilakukan oleh dokter atau petugas
kesehatan atau yang berpengalaman dengan memperhatikan rambut, mata, lidah, tegangan otot dan
bagian tubuh lainnya.
2.5.4
Penilaian secara antropometri.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ukuran fisik seseorang sangat erat berhubungan dengan status gizi.
Atas dasar-dasar ini ukuran-ukuran antropometri diakui sebagai indeks yang baik dan dapat
diandalkan bagi penentuan status gizi untuk negara-negara berkembang.
Untuk mengetahui status gizi ibu hamil digunakan pengukuran secara langsung dengan menggunakan
penilaian antropometri yaitu: Lingkar Lengan Atas. Pengukuran lingkar lengan atas adalah suatu cara
untuk mengetahui risiko KEK wanita usia subur (Supariasa, 2002 : 48). Wanita usia subur adalah
wanita dengan usia 15 sampai dengan 45 tahun yang meliputi remaja, ibu hamil, ibu menyusui dan
pasangan usia subur (PUS).
Ambang batas lingkar Lengan Atas (LILA) pada WUS dengan risiko KEK adalah 23,5 cm, yang diukur
dengan menggunakan pita ukur. Apabila LILA kurang dari 23,5 cm artinya wanita tersebut
mempunyai risiko KEK dan sebaliknya apabila LILA lebih dari 23,5 cm berarti wanita itu tidak
berisiko dan dianjurkan untuk tetap mempertahankan keadaan tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan:


1. Pengukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.
2. Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau
kencang.
3. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat, sehingga
permukaannya sudah tidak rata.
2.6
2.6.1
2.6.2
Kondisi

Upaya Penanggulangan Yang Dilakukan


KIE mengenai KEK dan faktor yang mempengaruhinya serta bagaimana menanggulanginya.
PMT Bumil diharapkan agar diberikan kepada semua ibu hamil yang ada.
KEK pada ibu hamil harus segera di tindak lanjuti sebelum usia kehamilan mencapai 16 minggu.
Pemberian makanan tambahan yang Tinggi Kalori dan Tinggi Protein dan dipadukan dengan
penerapan Porsi Kecil tapi Sering, pada faktanya memang berhasil menekan angka kejadian BBLR di
Indonesia. Penambahan 200 450 Kalori dan 12 20 gram protein dari kebutuhan ibu adalah angka
yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin.
2.6.3
Konsumsi tablet Fe selama hamil.
Kebutuhan bumil terhadap energi, vitamin maupun mineral meningkat sesuai dengan perubahan fisiologis ibu
terutama pada akhir trimester kedua dimana terjadi proses hemodelusi yang menyebabkan terjadinya
peningkatan volume darah dan mempengaruhi konsentrasi hemoglobin darah.
Pada keadaan normal hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian tablet besi, akan tetapi pada keadaan gizi
kurang bukan saja membutuhkan suplemen energi juga membutuhkan suplemen vitamin dan zat besi.
Keperluan yang meningkat pada masa kehamilan, rendahnya asupan protein hewani serta tingginya
konsumsi serat / kandungan fitat dari tumbuh-tumbuhan serta protein nabati merupakan salah satu
faktor penyebab terjadinya anemia besi.
2.7
Pencegahan
2.7.1
Pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka,
terutama dalam mencukupi kebutuhan akan makanan bergizi.
2.7.2
Memberikan pengertian bagi mereka dengan profesi yang menuntut memiliki tubuh kurus tentang
bahaya tubuh yang terlalu kurus apalagi jika mereka menguruskan badan dengan cara tidak lazim,
seperti anoreksia atau bulimia
2.8
Cara Mengatasi Resiko KEK
Cara Mengetahui Risiko Kekurangan Energi Kronis (Kek) Dengan Menggunakan Pengukuran Lila :
2.8.1
Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)
LILA adalah suatu cara untuk mengetahui risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) wanita usia subur termasuk
remaja putri. Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam
jangka pendek.
2.8.2
Pengukuran dilakukan dengan pita LILA dan ditandai dengan sentimeter, dengan batas ambang 23,5
cm (batas antara merah dan putih).
Apabila tidak tersedia pita LILA dapat digunakan pita sentimeter/metlin yang biasa dipakai penjahit pakaian.
Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau di bagian merah pita LILA, artinya remaja putri
mempunyai risiko KEK.
Bila remaja putri menderita risiko KEK segera dirujuk ke puskesmas/sarana kesehatan lain untuk mengetahui
apakah remaja putri tersebut menderita KEK dengan mengukur IMT. Selain itu remaja putri tersebut
harus meningkatkan konsumsi makanan yang beraneka ragam.
2.9

Deteksi dini Kurang Energi Kronis (KEK)

2.9.1

Dilakukan setiap tahun dengan mengukur Lingkar Lengan Kiri Atas (LILA) dengan memakai pita
LILA.
2.9.2
Pada Remaja Putri/Wanita yang LILA-nya <23,5 cm berarti menderita Risiko Kurang Energi Kronis
(KEK), yang harus dirujuk ke Puskesmas/ sarana pelayanan kesehatan lain, untuk mendapatkan
konseling dan pengobatan.
2.9.3
Pengukuran LILA dapat dilakukan oleh Remaja Putri atau wanita itu sendiri, kader atau pendidik.
Selanjutnya konseling dapat dilakukan oleh petugas gizi di Puskesmas (Pojok Gizi), sarana kesehatan
lain atau petugas kesehatan/gizi yang datang ke sekolah, pesantren dan tempat kerja.
KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL
PENGERTIAN

Menurut Depkes RI (1994) pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur adalah salah satu cara
untuk mendeteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui
kelompok berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil
adalah kekurangan gizi pada ibu hamil yang berlangsung lama (beberapa bulan atau tahun) (DepKes
RI, 1999).
Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai
kecenderungan menderita KEK ( Arismas,2009).
Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan dengan salah satu atau beberapa kriteria
sebagai berikut : a.Berat badan ibu sebelum hamil < 42 kg. b.Tinggi badan ibu < 145 cm. c.Berat
badan ibu pada kehamilan trimester III < 45 kg. d.Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00
e.Ibu menderita anemia (Hb < 11 gr %) (Weni, 2010).
PENGUKURAN STATUS GIZI
1.Pengukuran LILA
Ada beberapa cara untuk dapat digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil antara lain memantau
pertambahan berat badan selama hamil, mengukur LILA, mengukur kadar Hb. Bentuk adan ukuran
masa jaringan adala masa tubuh. Contoh ukuran masa jaringan adala LILA, berat badan, dan tebal
lemak. Apabila ukuran ini rendah atau kecil, menunjukan keadaan gizi kurang akibat kekurangan
energi dan protein yang diderita pada waktu pengukuran dilakukan. Pertambahan otot dan lemak di
lengan berlangsung cepat selama tahun pertama kehidupan (Arisman,2009).
Lingkaran Lengan Atas (LILA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak
berpengaruh banyak oleh cairan tubuh. Pengukuran ini berguna untuk skrining malnutrisi protein
yang biasanya digunakan oleh DepKes untuk mendeteksi ibu hamil dengan resiko melahirkan BBLR
bila LILA < 23,5 cm (Wirjatmadi B, 2007). Pengukuran LILA dimaksudkan untuk mengetahui
apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronis. Ambang batas LILA WUS dengan risiko KEK di
Indonesia adalah 23.5 cm. Apabila ukuran kurang dari 23.5 cm atau dibagian merah pita LILA,
artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir
rendah ( Arisman, 2007)
a.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalan pengukuran LILA
1. Pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.
2. Lengan harus dalam posisi bebas.
3. Lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang.
4. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat sehingga
permukaannya tidak rata (Arisman, 2007).
b.Cara Mengukur LILA
1. Tetapkan posisi bahu dan siku
2. Letakkan pita antara bahu dan siku.
3. Tentukan titik tengah lengan.
4. Lingkaran pita LILA pada tengah lengan.
5. Pita jangan telalu ketat.
6. Pita jangan terlalu longgar.
7. Cara pembacaan skala yang benar. (Arisman, 2007)
2.Pengukuran Berat Badan
Berat badan merupakan ukuran antropometris yang paling banyak digunakan karena parameter ini
mudah dimengerti sekalipun oleh mereka yang buta huruf ( Arisma, 2009).
Berat badan adalah satu parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Masa tubuh sangat
sensitive terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi,
menurunya nafsu makan atau menurunnya jumlah makan yang dikonsumsi.
Pada prinsipnya ada dua macam timbangan yaitu beam (lever)balance scales dan spring scale. Contoh
beam balance ialah dancing, dan spring scale adalah timbangan pegas. Karena pegas mudah melar
timbangan jenis spring scsle tidak dianjurkan untuk digunakan berulang kali, apalagi pada lingkungan
yang bersuhu panas.
Berat badan ideal ibu hamil sebenarnya tidak ada rumusnya, tetapi rumusannya bisa dibuat yaitu
dengan dasar penambahan berat ibu hamil tiap minggunya yang dikemukakan oleh para ahli berkisar
antara 350-400 gram, kemudian berat badan yang ideal untuk seseorang agar dapat menopang
beraktifitas normal yaitu dengan melihat berat badan yang sesuai dengan tinggi badan sebelum hamil,
serta umur kehamilan sehingga rumusnya dapat dibuat.
Dengan berbekal beberapa rumus ideal tentang berat badan, saya (penulis) dapat kembangkan menjadi
rumus berat badan ideal untuk ibu hamil yaitu sebagai berikut : Dimana penjelasannya adalah BBIH

adalah Berat Badan Ideal Ibu Hamil yang akan dicari. BBI = ( TB 110) jika TB diatas 160 cm (TB
105 ) jika TB dibawah 160 cm. Berat badan ideal ini merupakan pengembangan dari (TB-100) oleh
Broca untuk orang Eropa dan disesuaikan oleh Katsura untuk orang Indonesia. UH adalah Umur
kehamilan dalam minggu. Diambil perminggu agar kontrol faktor resiko penambahan berat badan
dapat dengan dini diketahui. 0.35 adalah Tambahan berat badan kg per minggunya 350-400 gram
diambil nilai terendah 350 gram atau 0.35 kg . Dasarnya diambil nilai terendah adalah penambahan
berat badan lebih ditekankan pada kualitas (mutu) bukan pada kuantitas (banyaknya) (Supriasa,
2002).
3.Pengukuran Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang,
jika umur tidak diketahui dengan tepat. Disamping itu tinggi badan merupakan ukuran kedua yang
penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan , factor umur dapat
dikesampingkan. Ibu hamil pertama sangat membutuhkan perhatian khusus.
Pengukuran tinggi badan bermaksud untuk menjadikanya sebagai bahan menentukan status gizi. Status
gizi yang ditentukan dengan tinggi badan tergolong untuk mengukur pertumbuhan linier.
Pertumbuhan linier adalah pertumbuhan tulang rangka, terutama rangka extrimitas (tungai dan
lengan). Untuk tinggi badan peranan tungkai yang dominan.
Pengukuran tinggu badan orang dewasa, atau yang sudah bisa berdiri digunakan alat microtoise (baca:
mikrotoa) dengan skala maksimal 2 meter dengan ketelitian 0,1 cm. Apabila tidak tersedia mikrotoise
dapat digunakan pita fibreglas (pita tukang jahit pakaian) dengan bantuan papan data dan tegak lurus
dengan lantai. Pengukuran dengan pita fibreglass seperti ini harus menggukan alat bantu siku-siku.
Persyaratan tempat pemasangan alat adalah didinding harus datar dan rata dan tegak lurus dengan
lantai. Dinding yang memiliki banduk di bagian bawah (bisanya pada lantai keramik) tidak bisa
digunakan. Hal yang harus diperhatikan saat pemasangan mikrotoise adalah saat sudah terpasang dan
direntang maksimal ke lantai harus terbaca pada skala 0 cm.
A.Cara Pengukuran Berdiri membelakangi dinding dimana microtoie terpasang dengan posisi siap
santai (bukan siap militer), tangan disamping badan terkulai lemas, tumit, betis, pantat, tulang belikat
dan kepala menempel di dinding. Pandangan lurus ke depan. Sebagai pegukur harus diperiksa
ketentuan ini sebelum membaca hasil pengukuran. Tarik microtiose ke bawah sampai menempel ke
kepala. Bagi terukur yang berjilbab agak sedikit ditekan agar pengaruh jilbab bisa diminimalisir.
Untuk terukur yang memakai sanggul harus ditanggalkan lebih dahulu atau digeser ke bagia kiri
kepala. Saat pengkuran, sandal, dan topi harus dilepas. Baca hasil ukur pada posisi tegak lurus dengan
mata (sudut pandang mata dan skala microtoise harus sudut 90 derajat). Pada gambar di atas, apabila
terukur lebuh tinggi dai Pengukur, maka pengukur harus menggunakan alat peningi agar posisi baca
tegak lurus. Bacaan pada ketelitian 0,1 cm, artinya apabila tinggi terukur 160 cm, harus ditulis 160,0
cm (koma nol harus ditulis). Tinggi badan kurang dari 145 cm atau kurang merupakan salah satu risti
pada ibu hamil. Luas panggul ibu dan besar kepala janin mungkin tidak proporsional, dalam hal ini
ada dua kemungkinan yang terjadi: a.Panggul ibu sebagai jalan lahir ternyata sempit dengan
janin/kepala tidak besar. b.Panggul ukuran normal tetapi anaknya besar/kepala besar. Pada kedua
kemungkinan itu, bayi tidak dapat lahir melalui jalan lahir biasa, dan membutuhkan operasi Sesar.
4.Indeks Masa Tumbuh
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah
penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengarui
produktif kerja. Laporan FAO /WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan
normal orang dewasa ditentukan oleh Body Mass Index (BMI).
Di Indonesia istila Body Mass Index diterjemahkan menjadi Indekx Masa Tubuh (IMT) merupakan alat
yang sederhana untu memantau status gizi orang dewasa khusunya yang berkaitan dengan
kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan
seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Berat badan dilihat dari Quatelet atau
body mass Index (IMT).
Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan,
berat badan lahir rendah. Sedangkan berat badan overweight meningkatkan resiko atau terjadi
kesulitan dalam persalinan. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan rumus matematis yang berkaitan
dengan lemak tubuh orang dewasa (Arisman, 2009).
Penilaian Indeks Masa Tumbuh diperoleh dengan memperhitungkan berat badan sebelum hamil dalam
kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (Yuni, 2009).
Rumus ini hanya cocok diterapkan pada mereka yang berusia antara 19-70 tahun, berstruktur tulang
belakang normal, bukan atlet atau binaragawan.
Tabel 2.2 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan IMT

Status Gizi
1. IMT KKP I < 16
2. KKP II 16,0 -16,9
3. KKP III 17,0 - 18,4
4. Normal 18,5 - < 25
5. Obesitas I 25 - 29,9
6. Obesitas II 30 40
7. Obesitas III >40
Sumber: Arisman, 2009
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURANG ENERGI KRONIS PADA IBU HAMIL
1. Faktor Sosial Ekonomi
Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial ekonomi
(FKM UI, 2007). Ekonomi seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan
dikonsumsi sehari-harinya. Seseorang dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka
kemungkinan besar sekali gzi yang dibutuhan tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat
gizi ibu hamil semakin terpantau (Weni,2010). Sosial ekonomi merupakan gambaran tingkat
kehidupan seseorang dalam masyarakat yang ditentukan dengan variabel pendapatan, pendidikan dan
pekerjaan, karena ini dapat mempengaruhi aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan
(Notoatmodjo, 2006).
a.Pendidikan
Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang
sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik (Umar, 2005). Faktor
pendidikan mempengaruhi pola makan ibu hamil, tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan
pengetahuan atau informasi tentang gizi yang dimiliki lebih baik sehingga bisa memenuhi asupan
gizinya (FKM UI, 2007).
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan ibu adalah pendidikan
formal ibu yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SD, SMP,
SMA dan perguruan tinggi dengan diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam
masing-masing klasifikasi (Depdikbud, 1997).
b.Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu perbuatan atau melakukan sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah guna
untuk kehidupan (Kamus Besar Indonesia, 2008). Ibu yang sedang hamil harus mengurangi beban
kerja yang terlalu berat karena akan memberikan dampak kurang baik terhadap kehamilannya (FKM
UI, 2007). Kemampuan bekerja selama hamil dapat dipengaruhi oleh peningkatan berat badan dan
perubahan sikap (Benson Ralph C, 2008). Resiko-resiko yang berhubungan dengan pekerjaan selama
kehamilan termasuk :
1. Berdiri lebih dari 3 jam sehari.
2. Bekerja pada mesin pabrik terutama jika terjadi banyak getaran atau membutuhkan upaya yang besar
untuk mengoperasikannya.
3. Tugas-tugas fisik yang melelahkan seperti mengangkat, mendorong dan membersihkan.
4. Jam kerja yang panjang (Curtis Glade B, 1999 ).
Kriteria pekerjaan dapat dibedakan menjadi buruh/pegawai tidak tetap, swasta, PNS/ABRI, tidak
bekerja/ibu rumah tangga (Nursalam, 2001).
c.Pendapatan
Penerimaan baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dari pekerjan
atau aktivitas yang kita lakukan dan dengan dinilai sebuah uang atas harga yang berlaku pada saat ini.
Pendapatan seorang dapat dikatakan meningkat apabila kebutuhan pokok seorangpun akan
meningkat. Suatu kegiatan yang dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan
tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur.
Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya
pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat penggelolaan sumber daya lahan
dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat
memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam
tubuhnya. Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Pendapatan merupakan faktor yang
paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti
semakin baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar

pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis bahan
makanan lainnya (FKM UI, 2007).
Berdasarkan survei pendapatan dan pengeluaran rumah tangga tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik,
pendapatan untuk pedesaan dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :
1. Pendapatan rendah di bawah Rp. 790.000,2. Pendapatan sedang Rp.790.000,- sampai. Rp.1.270.000,3. Pendapatan tinggi di atas Rp. 1.270.000,(www.Informasi Upah Minimum Regional (UMR) Jombang Tahun 2010, 2011)
2.Faktor Jarak Kelahiran
Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan
bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak
akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan
jarak kelahiran dibawah 2 tahun. Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas
janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan
untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan
setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi
ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung (Baliwati, 2006). Berbagai penelitian membuktikan bahwa
status gizi ibu hamil belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan sebelumnya, oleh karena itu
belum siap untuk kehamilan berikutnya (FKM UI, 2007). Selain itu kesehatan fisik dan rahim ibu
yang masih menyusui sehingga dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil. Ibu hamil dengan
persalinan terakhir 10 tahun yang lalu seolah-olah menghadapi kehamilan atau persalinan yang
pertama lagi. Umur ibu biasanya lebih bertambah tua. Apabila asupan gizi ibu tidak terpenuhi maka
dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil.
Kriteria jarak kelahiran dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Resiko rendah ( 2 tahun sampai < 10 tahun).
2. Resiko tinggi (< 2 tahun atau 10 tahun) (Rochjati P, 2003).
3. Faktor Paritas
Paritas (jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan.
Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Paritas
merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu
pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui
keadaan :
1. Kesehatan terganggu : anemia, kurang gizi.
2. Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.
Kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Partas rendah (< 4x kelahiran).
2. Paritas tinggi ( 4x kelahiran).
Paritas (jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan.
Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Paritas
merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu
pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui
keadaan :
1. Kesehatan terganggu : anemia, kurang gizi.
2. Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.
Kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Partas rendah (< 4x kelahiran).
2. Paritas tinggi ( 4x kelahiran) (Roechjati P, 2003).
Sebelum mengatur makan, status gizi yang harus diketahui .Sebelum mengatur makanan, status gizi yang
seseorang harus diketahui terlebih dahulu, lalu menghitung kebutuhannya. Caranya adalah sebagai
berikut :
1. Menghitung status gizi
IMT( indeks massa tubuh) = berat badan (kg) / tinggi badan (m)
Underweight : <18,5 Normal : 18,6-2,5 Overweight :25,1-29,9 Obes : > 30
Contoh : Berat badan saya 52 kg, tinggi 160,5 cm, maka IMT saya = 52/1,6052 = 20,19
Ket : normal
2. Menghitung berat badan ideal
Rumus : (Tinggi badan 100) 10%

Contoh: tinggi badan saya : 160,5 cm


berat badan ideal saya : (160,5 100) 6,05 = 54,45
3. Menghitung jumlah kalori minimal/basal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup
BB ideal (kg) x 25 kalori/kg
Contoh: Berat badan ideal saya adalah 54,45, so kebutuhan kalori saya dalam sehari 54,45 x 25 =
1361 kalori.
4. Menghitung jumlah kalori sesuai keadaan
Penyesuaian:
Untuk yang berumur di atas 40 th : - 5 % x kalori minimal
Untuk yang aktivitasnya ringan : + 10 % x kalori minimal.
Untuk yang aktivitasnya sedang : + 20 % x kalori minimal (misalnya kuliah, kerja di lab)
Untuk yang aktivitasnya berat : + 30 % x kalori minimal (atlet)
BB Overweight: - 10 % x kalori
Obesitas: - 20 % x kalori minimal
Under weight : + 20 % x kalori minimal
Sakit : + (10 30 % ) x kalori minimal (harus ditambah 10 sampai 30 persen dari kebutuhan minimal)
Hamil trimester I&II kalori minimal ditambah 300 kalori
Hamil trimester III & laktasi kalori minimal ditambah 500 kalori (karena kebutuhan lemak akan lebih
tingg
Contoh:
Kebutuhan kalori minimal saya di atas = 1361
Aktivitas sedang2 saja, belum 40 tahun, ngga sakit, ngga hamil
kebutuhan kalori saya dalam sehari = 1361 + (20% x 1361) = 1633 kalori
Hamil trimester I&II kalori minimal ditambah 300 kalori
Hamil trimester III & laktasi kalori minimal ditambah 500 kalori (karena kebutuhan lemak akan lebih
tinggi)
Soal:
2. Buatlah susunan menu untuk ibu menyusui!
Jawab:
2. Susunan menu untuk ibu menyusui
ASI menyediakan semua nutris yang dibutuhkan oleh bayi untuk kesehatan dan tumbuh-kembangnya
pada awal-awal kehidupan (0-6 bulan dianjurkan ASI ekslusif). nutrisi yang baik dapat
mengoptimalkan kualitas dan kuantitas ASI, sekaligus membantu memelihara kesehatan. Kebutuhan
kalori pada masa menyusui jauh lebih besar dibandingkan pada waktu hamil.Pada umumnya wanita
menyusui memerlukan tambahan 500 kalori diatas kebutuhan hariannya. Kebutuhan ini akan jauh
lebih banyak lagi apabila anda menyusui bayi kembar . Untuk memenuhi kebutuhan selama
menyusui, setiap hari anda harus mengkonsumsi 65 g protein selama 6 bulan pertama dilanjutkan 62
g selama 6 bulan kedua. Beberapa penyelidikan menyebutkan kebutuhan protein selama menyusui
bahkan lebih besar dari angka-angka tadi.
Dari uraian tersebut diata kiata dapat menyusun menu seimbang untuk memenuhi kebutuhan kalori
ibu menyusui. Adapu contuh menu seimbang untuk ibu menyusui adalah sebagai berikut:
Contoh menu seimbang untuk ibu menyusui dalam sehari
Waktu makan
Contuh menu
1. Makan pagi
1 porsi Nasi goreng dengan lauk telur atau mi goreng + 1gelas susu
2. Makanan selingan (10.00)
Bubur kacang ijo +1 gelas jus jeruk
3. Makan siang (12.00)
Nasi, Ikan Bakar,Tempe goreng, sayurBayam/ wortel,+ oseng Buncis + buah-buahan
4. Makan selingan (16.00)
The manis+ Singkong rebus
5. Makan malam
Nasi, Ayam Rica-rica, tempe bacem, tumis brokoli ,wortel, buah-buahan
6. Sebelum tidur
1 gelas susu
Ibu dianjurkan banyak minum air putih untuk memnjaga dtabilitas tubuhnya.