Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Campak merupakan penyakit yang menular dan disebabkan oleh virus, penyakit
ini bersifat akut. Campak merupakan penyakit endemic di banyak negara, terutama
negara-negara berkembang. Angka kesakitan di seluruh dunia mencapai 5-10 kasus per
10.000 dengan jumlah kematian 1-3 kasus per 1000 orang. Campak masih ditemukan di
negara maju, namun setelah ada penemuan tentang vaksin untuk campak pada tahun 1963
di Amerika Serikat, angka morbiditas dan angka mortalitas campak menurun drastic
(Bong Stevana). Pemberian vaksin yang tepat menurut Ikatan Dokter Aanak Indonesia
(IDAI), idealnya adalah saat anak berusia 9 bulan, nanti dilanjutkan kembali pada usia
Sekolah Dasar.
Di Indonesia, campak masih menempati urutan ke-5 dari 10 penyakit utama pada
bayi dan anak balita (1-4 tahun) berdasarkan laporan SKRT tahun 1985/1986. KLB masih
terus dilaporkan. Dilaporkan terjadi KLB di pulau Bangka pada tahun 1971 dengan angka
kematian sekitar 12%, KLB di Provinsi Jawa Barat pada tahun 1981 (CFR=15%), dan
KLB di Palembang, Lampung, dan Bengkulu pada tahun 1998. Pada tahun 2003, di
Semarang masih tercatat terdapat 104 kasus campak dengan CFR 0%.
Dampak yang terjadi akibat kurang memperhatikan ketepatan waktu pemberian
vaksin baik campak maupun DPT-3 dapat mempengaruhi efektivitas program imunisasi
campak dan DPT-3. Jika vaksin campak diberikan pada anak usia dini atau dibawah
waktu yang direkomendasikan yaitu 9 bulan, efektifitas vaksin ini tidak dapat bekerja
secara maksimal dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit yang dapat dicegah
oleh vaksin tersebut. Sedangkan jika pemberian vaksin ditunda atau melebihi baras waktu
yang direkomendasikan unuk pemberian dosis pertama vaksin, maka anak akan mudah
terkena penyakit karena tidak memiliki antibody atau kekebalan tubuh yang kuat.

B. Tujuan Pembuatan Makalah


1) Agar mahasiswa dapat mengetahui usia yang tepat untuk pemberian vaksian campak

dan DPT-3.

2) Agar mahasiswa dapat mengetahui dampak yang timbul akibat pemberian vaksin

campak dan DPT-3 yang tidak sesuai.


3) Agar mahasiswa dapat mengeahui efektifitas pemberian vaksin campak dan DPT-3 di
usia yang sesuai.
C. Manfaat pembuatan Makalah

Manfaat pembuatan makalah ini, untuk mengembangkan keilmuan vaksinasi dan


bagi mahasiswa dapat memberikan motivasi untuk lebih peduli terhadap pemberian
vaksinasi campak dan DPT-3 pada anak di usia yang tepat dan sesuai. Dengan adanya
data seperti yang dijelaskan dalam jurnal diatas, mahasiswa juga dapat melakukan survey
data mengenai pemberian vaksin campak dan DPT-3 di daerah terpencil khususnya untuk
meningkatkan kualitas hidup anak.

BAB II
PEMBAHASAN

ANALISIS JURNAL
1. Masalah penelitian

Apakah usia yang tepat pemberian vaksin campak dan DPT-3 menutup
kesenjangan di India?
Pemberian vaksin campak dan DPT-3 merupakan salah satu cara yang dilakukan
untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukan
sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah
atau berbahaya bagi seseorang tersebut. Tujuan diberikan vaksin ini tentu untuk
menekan angka morbiditas dan mortalitas anak di seluruh penjuru dunia, namun pada
kenyataannya angka mortalitas masih tinggi terkait masalah pemberian vaksin
tersebut khususnya di daerah yang masih terpencil seperti pedesaan dan pegunungan.
Pemberian vaksin campak dan DPT-3 ini tidak serta merta diberikan
dalam frekuansi waktu yang sering, ada batas usia kapan vaksin ini diberikan
terhadap anak. Vaksin ini juga ada batasan sampai kapan mampu bertahan dan jangka
waktu pemberiannya. Di India, masalah pemberian vaksin campak dan DPT-3
menyumbang angka kematian yang cukup besar. Data penunjang kualitas usia
vaksinasi yang sesuai tidak terverifikasi dengan baik sehingga perlu identifikasi lebih
lanjut mengenai berapa proporsi anak India yang mendapatkan vaksinasi campak di
usia 9 bulan dan anak mendapatkan vaksinasi DPT-3 pada usia 4 bulan.
Pemberian vaksin pada usia dini dapat meningkakan kerentanan terhadap
penyakit atau infeksi yang disebabkan oleh netralisasi oleh antibody sang ibu,
sedangkan penundaan pemberian vaksin juga dapat menimbulkan kerentanan
terhadap infeksi campak liar karena tidak adanya kawanan kekebalah tubuh. Semakin
lama imunisasi tertunda, semakin besar pula resiko infeksi campak yang lebih parah.
Untuk mengetahui usia pemberian vaksin campak yang sesuai, juga dilakukan
penelitian terhadap kesesuaian pemberian vaksin DPT-3 (Indian Academy of
Pediatrics). Beberapa permasalahan yang mungkin muncul terkait dengan pemberian
vaksin campak dan DPT-3 di India antara lain :
a. Berapa proporsi anak-anak di India berusia diatas 12 bulan yang diberikan dosis
pertama campak pada usia yang tepat yaitu usia 9 bulan?
Di India, dan di sebagian besar negara-negara berkembang, waktu yang
direkomendasikan untuk pemberian dosis pertama vaksin campak adalah ketika
berumur 9 bulan. Pemberian vaksin sebelum usia 9 bulan, dapat mengakibatkan
netralisasi vaksin dengan antibody maternal, meskipun di beberapa negara
berkembang vaksin campak biasanya diberikan pada usia minimal 12 bulan.
Alasan penundaan vaksin campak setidaknya pada usia 9 bulan adalah karena
3

bukti tingkat serokonversi ( pengembangan antibody terhadap pathogen) campak


rendah pasca vaksinasi jika vaksinasi diberikan pada usia 6 bulan. Sedangkan
tingkat serokonversi campak optimal pasca vaksinasi jika vaksinasi ditunda
hingga usia 12 bulan. Hanya 30 % dari anak usia 1tahun yang menerima dosis
pertama vaksin campak pada usia tepat 9 bulan.
b. Untuk anak-anak yang diberikan dosis pertama vaksin campak sebelum usia 9
bulan dan dosis pertama vaksin DPT-3, siapa yang mengatur mengenai kebijakan
ini?
Pada tahun 2008, India National Technical Advisory Group of
Immunization merekomendasikan pengenalan vaksin dosis kedua. Berdasarkan
rekomendasi tersebut, pemerintah india mulai memberikan vaksin campak dosis
kedua pada akhir tahun 2010. Pemberian vaksin campak dosis kedua ini diberikan
kapan saja atau delapan minggu setelah pemberian vaksin dosis pertama. Namun
kebijakan ini belum sepenuhnya merata karena hanya sebagian kecil wilayah
india yang mencapai cakupan imunisasi lebih dari 80% dan penurunan dana
campak global yang sangan signifikanpada tahun 2010 menyebabkan kampanye
pemberian imunisasi kembali ditunda.

c. Bagaimana peningkatan pemantauan vaksinasi campak untuk memastikan

vaksinasi yang diberikan pada usia yang tepat?


Pengawasan yang masih buruk dan pendokumentasian data imunisasi anak
di India masih sangat memprihatinkan, teknisi atau petugas kesehatan yang belum
kompeten megakibatkan pendataan kartu imunisasi belum terkoordinir dengan
baik. Anak usia 12 sampai 23 bulan, 40% yang mempunyai dan mampu
menujukan kartu imunisasi ketika mereka berkunjung ke layanan kesehatan, 31%
mengaku memiliki kartu tetapi tidak mampu menujukan ke petugas kesehatan.
Sisanya 29% tidak memiliki kartu imunisasi untuk menentukan usia kesesuaian
pemberian vaksin ditempat dimana vaksin tersebut diberikan, kecuali mereka
yang memiliki kartu dan mampu menujukan ke petugas kesehatan.
2. Konsep Penelitan
Indikator Millennium Development Goals (MDGs), untuk cakupan
pemberian cakupan imunisasi campak mengacu pada proporsi anak usia 12
bulan sampai 23 bulan (United Nations Development Program). Pada tahun
2008, India National Technical Advisory Group of Immunization
4

merekomendasikan pengenalan vaksin dosis kedua. Berdasarkan rekomendasi


tersebut, pemerintah india mulai memberikan vaksin campak dosis kedua pada
akhir tahun 2010. Pemberian vaksin campak dosis kedua ini diberikan kapan saja
atau delapan minggu setelah pemberian vaksin dosis pertama (Indian Academy
of Pediatrics). Namun, program ini mengalami hambatan karena di satu sisi
hanya sebagian kecil wilayah india yang telah mencapai cakupan vaksin
melebihi 80%, di sisi lain dana campak dari pemerintah india menurun dari $
US150 juta pada tahun 2007 menjadi $ US 35 juta pada tahun 2010, sehinggan
jadwal pemberian imunisasi di tunda (Strebel PM, Cochi SL, Hoekstra E).
Tren usia pemberian vaksin yang tidak sesuai juga diamati untuk vaksin
DPT-3, hanya 31% pemberian vaksin di bulan ke empat, seperti yang
direkomendasikan oleh jadwal imunisasi anak pemerintah India. Sekitar 14%
dari keseluruhan anak diberikan DPT-3 pada usia atau sebelum 12 minggu.
Meskipun vaksin itu diberikan pada minggu ke-14 dan tidak melebihi minggu
ke-16 (Indian Academy of Pediatrics). Anak yang beresiko terkena campak,
orang tua harus tetap divaksinasi sebeluma anak berusia 6 bulan. Kegagalan
vaksinasi campak tidak hanya berdampak pada peningkatan resiko campak
terkait morbiditas dan mortalitas, tetapi mungkin juga secara signifikan
meningkatkan resiko semua penyebab kematian pada anak (Kabir Z, Long J,
Reddaiah VP, Kevany J, Kapoor SK). Pendokumentasian kepemilikan kartu
imunisasi merupakan indicator penting dalam pengawasan terhadap
pengoptimalisasian pemberian vaksin campak dan DPT-3 khususnya warga
miskin di India (Castillo-Solrzano C, Reef SE, Morice A, Andrus JK, Matus
CR, Tambini G,Gross-Galiano S:World Health Organization). Studi menunjukan
bahwa, 64% penerima vaksin campak dibawah usia 9 bulan rentan terhadap
infeksi campak karena netrakisasi antibody ibu (Gans HA, Arvin AM, Galinus J,
Logan L, DeHovitz R, Maldonado Y).
Permasalahan penelitian dalam konsep ini, alasan ketidakspesifikasian
usia vaksinasi campak terkait dnegan kurangnya system kesehatan masyarakat
india. Keterbatasan penelitian ini juga difokuskan pada anak-anak yang hanya
memiliki kartu imunisasi. Sedangkan pada anak yang tidak memiliki kartu
imunisasi tidak difokuskan sehingga membatasi penerapan penilitian secara
umum. Tidak ada data pelatihan, pengawasan dan kompetensi yang dimiliki oleh
staf yang bertugas dalam pelayanan imunisasi pada anak sehingga
mempengaruhi kurangnya pelayanan optimal yang diharapkan oleh setiap
5

individu dan masyarakat (Rao M, Mant D: Das Gupta M, Rani M: Dixit S,


Sakalle S, Patel GS, Taneja G, Chourasiya S).
3. Hasil penelitian
Dari 18.670 anak-anak dengan kartu imunisai diverifikasi, 72% menerima
dosis pertama vaksinasi campak. Tren serupa juga dicatat untuk vaksin DPT-3,
dari 18.670 anak yang memenuhi syarat, 82% divaksinasi dengan DPT-3.
Terlepas dari 28% anak-anak dalam sampel yang tidak mendapatkan vaksinasi
campak, sekitar 7% dari anak-anak dalam sampel mendapatkan dosis pertama
vaksin campak setelah usia 12 bulan. Selama periode ini, anak-anak rentan
terhadap infeksi campak karena mereka tidak memiliki antibody maternal.
Selain itu, proporsi tinggi bayi india yang tinggal di pedesaan kekurangan gizi,
sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi campak. Petugas
kesehatan terlibat langsung dalam program vaksinasidiharapkan paham betul
terhadap jadwal pemberian vaksin , dan tidak memvaksinasi setiap anak
campak sebelum usia 9 bulan. Atau untuk vaksin DPT-3 sebelum bulan ke-4.
Data di tempat vaksinasi campak menunjukan bahwa, 82% diberikan di tiga
tempat pelayanan kesehatan yaitu : Puskesmas Jasa Pembantu, Jasa
Perkembangan Anak Terpadu, dan Pulse Polio Pusat. Dari 4.011 anak-anak
yang menerima vaksinasi yang sesuai di usia 9 bulan, hanya 55% yang
mendapatkan vaksin di tempat ini. Hasil ini menujukan bahwa, kurangnya
kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kesehatan. Terbukti dengan adanya data
anak lahir prematur tetapi tetap dilakukan vaksinasi baik campak maupun DPT3. Usia yang tidak seharusnya mendapatkan vaksin campak adalah resiko
kesehatan utama bagi anak-anak yang terkena dampaknya.
4. Implikasi Keperawatan
Implikasi yang dapat diterapkan dalam keperawatan di Indonesia, bahwa
pemberian vaksin campak dan DPT-3 perlu mempertimbangkan waktu
pemberian yang tepat. Pada usia berapa kedua vaksin ini harus diberikan pada
anak, hal penting yang harus diperhatikan oleh tenaga kesehatan adalah
pendokumentasian data mengenai pemerataan kartu imunisasi yang harus
dimiliki oleh setiap anak. Tidak sembarang orang yang memberikan vaksin
terhadap anak, mereka harus berkompeten, memiliki skill yang bagus dan
mereka adalah orang-orang ahli di bidangnya. Hasil penelitian ini bisa kita
terapkan untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas anak di Indonesia
serta bisa meningkatkan kualitas hidup anak-anak Indonesia.
6

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini mengungkapkan bahwa cakupan vaksinasi di India sudah


terlaksana dengan baik, terbukti tahun pada tahun 2008 di daerah pedesaan india
vaksinasi campak mencakup 72%, berdasarkan data kartu vaksinasi yang dimiliki
masing-masing anak. Vaksinasi yang tidak sesuia usia merpakan factor utama
yang berkontribusi menyumbang angka morbiditas dan angka mortalitas di India.
Hasil ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah india khususnya di
bidang kesehatan untuk lebih meningkatkan usia yang tepat dalam pemberian
vaksin campak dan DPT-3, meningkatkan pengawasan dan pendokumentasian
system yang terstruktur dengan baik. Perlu kerja sama antara masing-masing
elemen yang berperan penting dalam pemberian vaksin ini, sehingga cakupan
pemberian vaksin dapat lebh luas dan pemberiannya dapat merata terhadap anakanak di India.
B. Saran
Seorang tenaga kesehatan di tuntut untuk terampil dalam segala hal,
menyangkut tugas dan kewajibannya memberikan pelayanan yang baik dan dapat
memberikan kepuasan terhadap kliennya. Perawatan pada anak tentu sangat jaauh
berbeda dengan perawatan pada orang dewasa, seorang perawat harus mampu
memahami setiap permasalahan yang ada pada anak, meningkatkan skill dan
kemaampuan . informasi yang berkaitan dengan ketepatan usia pemberian vaksin
dan dosis pertama yang harus diberikan pada anak. Harapan kedepannya, angka
morbiditas dan angka mortalitas pada anak dapat menurun sehingga kualitas
hidup mereka bisa lebih baik lagi.

DAFTAR ISI

http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/08/IVO-Campak.pdf
Center of Disease Control and Prevention http://www.vdc.gpv/vaccines/hcp/vis/index.html
Rawuh IG, N. Suyitno H, Hadinegoro SR, kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko,
Penyunting.Pedoman Imunisasi di Indonesia.Edisi ke-5.Jakarta: Badan Penerbit IDAI;2014.