Anda di halaman 1dari 24

TERAPI CAIRAN

Terapi cairan dibutuhkan bila tubuh tidak dapat memasukkan air, elektrolit,
dan zat-zat makanan secra oral misalnya pada keadaan pasien harus puasa lama,
karena pembedahan saluran cerna, perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksia
berat, mual muntah terus menerus, dan lain-lain.
Karya ilmiah ini dibuat bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai
terapi cairan. Karya ilmiah ini menjelaskan mengenai fisiologi cairan tubuh,
pengaturan kebutuhan cairan normal, kehilangan cairan, penilaian dehidrasi, dasardasar terapi cairan, penatalaksanaan terapi cairan, pemilihan jenis cairan, elektrolit
utama tubuh, dan transfusi darah.
Dengan terapi cairan kebutuhan akan air dan elektrolit dapat dipenuhi. Selain
itu dalam keadaan tertentu adanya terapi cairan dapat digunakan sebgai tambahan
untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau dapat juga digunakan
untuk menjaga keseimbangan asam basa.

II. PENDAHULUAN
Cairan merupakan hal terpenting dalam kehidupan. Cairan membantu
mempertahankan suhu tubuh, bentuk sel, serta membantu mentranspor nutrisi, gas,
dan zat sisa. Menjaga agar volume cairan tubuh tetap relatif konstan dan
komposisinya stabil adalah penting untuk homeostasis.
Total jumlah volume cairan tubuh dan total jumlah yang terlarut, demikian
juga konsentrasinya, relatif konstan. Selama kondisi mantap, seperti dibutuhkan untuk
homeostasis. Kekonstanan ini sangat hebat karena adanya pertukaran cairan dan zat
terlarut yang terus-menerus dengan lingkungan eksternal, seperti juga dalam
kompartemen tubuh lainnya.
Terapi cairan dibutuhkan, bila tubuh tidak dapat memasukkan air, elektrolit,
dan zat-zat makanan secara oral misalnya pada keadaan pasien harus puasa lama,
karena pembedahan saluran cerna, perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoksia
berat, mual muntah terus-menerus, dan lain-lain. Selain itu dalam keadaan tertentu
adanya terapi cairan dapat digunakan sebagai tambahan untuk memasukkan obat dan
zat makanan secara rutin atau dapat juga digunakan untuk menjaga keseimbangan
asam basa.

III. ISI
1. Fisiologi Cairan Tubuh
Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, dimana laki-laki dewasa
mengandung air 50-60% berat badan, wanita dewasa 50% berat badan, bayi usia
>1 tahun 70-75% berat badan dan bayi usia <1 tahun 80-85% berat badan.

Cairan intraseluler
(40% BB)
Total cairan tubuh
(60% BB)

Cairan ekstraselular
(20% BB)

Cairan interstitial
(15% BB)
Cairan
intravaskular
(5% BB)

Gbr 1. Distribusi total cairan tubuh yang berhubungan dengan berat badan.

Cairan Ekstraseluler
Endotel kapiler memiliki sifat permeabel terhadap air, kation, anion dan zat
terlarut lainnya seperti glukosa dan urea (tetapi tidak untuk protein). Sebagai
akibatnya, komposisi zat terlarut dalam cairan interstitial dan plasma adalah sama.
Natrium adalah anion utama dan klorida adalah kation utama dalam cairan interstitial.
Protein bersifat anion yang tidak dapat berdifusi dan konsentrasinya lebih tinggi pada
cairan plasma.
a) Komponen intravaskuler :
Volume darah normal kira-kira 70ml/kgbb pada dewasa dan 85-90ml/kgbb
pada neonatus. Selain darah, komponen intravaskuler juga terdiri dari protein
plasma dan ion, terutama natrium, klorida, dan ion bikarbonat. Hanya sebagian
kecil kalium tubuh berada di dalam plasma, tetapi konsentrasi kalium ini
mempunyai pengaruh besar terhadap fungsi jantung dan neuromuskuler.
b) Komponen interstitial :

Komponen interstitial lebih besar daripada komponen intravaskuler, secara


anatomis, berhubungan secara kasar dengan ruang interstitial dari tubuh.
Jumlah total cairan ekstraseluler (intravaskuler dan interstitial) bervariasi
antara 20-35% dari berat badan dewasa dan 40-50% pada neonatus. Air dan
elektrolit dapat bergerak bebas di antara darah dan ruang interstitial, yang
mempunyai komposisi ion yang sama, tetapi protein plasma tidak dapat
bergerak bebas keluar dari ruang intravaskuler kecuali bila terdapat cedera
kapiler misalnya pada luka bakar atau syok septik. Jika terdapat kekurangan
cairan dalam darah atau volume darah yang menurun dengan cepat, maka air
dan elektrolit akan ditarik dari komponen interstitial ke dalam darah untuk
mengatasi kekurangan volume intravaskuler, yang diprioritaskan secara
fisiologis.
Cairan Intraseluler
Perbedaan utama komposisi cairan intraseluler adalah pada cairan ini kation
utama adalah Kalium dan anion utamanya adalah Fosfat. Berbeda dengan endotel
kapiler, membran sel adalah selektif permeabel untuk beberapa ion tertentu, dan
permeabel bebas untuk air. Jadi, persamaan tekanan osmotik berlangsung secara
kontinyu dan hal tersebut tercapai melalui pergerakan air melalui membran sel.
Osmolalitas antara cairan ekstra dan intrasel harus selalu setara dimana air bergerak
secara cepat antara intraseluler dan ekstraseluler untuk mengurangi perbedaan
osmolalitas.

Solute
Na+
K+
Mg2+

Solute
HPO4SO4HCO3Prot

10
150
4

150

Na+ 140
K+
4

Cl114
HCO3 30

WATER
WATER
ICFV

ECFV

2. Pengaturan Kebutuhan Cairan Normal


Air.
Kehilangan cairan dan elektrolit akan terlihat dalam urin, atau proses
evaporasi dari kulit dan paru-paru.
Natrium.
Kebutuhan normal perhari adalah 1 mmol kg-1 untuk dewasa.
Kalium.
Kebutuhan normal perhari adalah 1 mmol kg-1 untuk dewasa
3. Kehilangan Cairan
Kehilangan cairan sering terjadi pada pasien bedah. Kehilangan bisa bersifat
sensible atau insensible. Peningkatan insesible losses dari kulit dan paru-paru
mungkin akan menimbulkan manifestasi klinis berupa demam atau hiperventilasi.
Normal insesibel losses adalah 0,5/kg/jam untuk peningkatan satu derajat temperatur.
Cairan seperti plasma banyak terdapat disekitar daerah luka, yang volumenya
sesuai dengan tingkat keparahan trauma.
4. Penilaian Dehidrasi
Tingkat keparahan dari dehidrasi dibagi mejadi ringan, sedang, berat. Kriteria
yang dipakai untuk menentukan tingkat keparahan dehidrasi adalah:
-

Mild

: Kehilangan 4% berat badan (rata-rata 3 L pada 70 kg BB)

terdapat penurunan turgor kulit,mata cekung, mukosa kering.


-

Moderate

: Kehilangan 5-8% dari berat badan (rata-rata 4-6 L pada 70

kgBB) terdapat oliguria,hipotensi orthostatik dan takikardia.


-

Severe

: Kehilangan cairan 8-10% (rata-rata 7 ml pada 70 kgBB)

ditemukan oliguria dan sudah terdapat gangguan fungsi kardiovaskuler.

5. Dasar-dasar Terapi Cairan


Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemberian terapi cairan:
A. Kebutuhan normal cairan dan elektrolit harian

Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35ml/kgbb/hari dan elektrolit


utama Na 1-2mmol/kgbb/hari.
Berat badan
Kebutuhan cairan perjam
0-10
4 ml/kgbb/jam
10-20
40+2ml/kgbb diatas 10kg
20
60+1ml/kgbb diatas 20kg
Tabel 1. Kebutuhan harian cairan menurut Holliday Segar
Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang hilang akibat
pembentukan urin, sekresi gastrointestinal, keringat dan pengeluaran cairan lewat
paru atau yang dikenal sebagai "insensible losses". Defisit cairan dan elektrolit
prabedah timbul sebagai akibat dari :
Dipuasakannya penderita, terutama untuk penderita bedah elektif rata-rata
sekitar 6-12 jam.

Meningkatnya insesnsible losses akibat hiperventilasi, demam dan


berkeringat banyak.

Kehilangan cairan prabedah ini sebaiknya harus segera diganti sebelum


dilakukan pembedahan.
B. Kehilangan cairan saat pembedahan
1. Perdarahan
Secara teoritis jumlah perdarahan dapat diukur dengan tepat dari :
Botol penampung darah yang disambung dengan pipa penghisap darah
Dengan menimbang kasa yang penuh darah (ukuran 4X4cm) mengandung
darah 10ml, sedangkan tampon darah mengandung 100-150ml.
Dalam prakteknya jumlah perdarahan selama pembedahan hanya dapat
ditentukan berdasarkan taksiran dan keadaan klinis penderita.
2. Kehilangan cairan lainnya
Pada setiap pembedahan selalu terjadi kehilangan cairan yang lebih
menonjol dibanding perdarahan sebagai akibat adanya evaporasi dan
translokasi cairan internal. Banyaknya cairan yang hilang dipengaruhi oleh
lama dan luas pembedahan. Perpindahan cairan interna akan mengakibatkan
defisit cairan intravaskuler.
C. Gangguan fungsi ginjal

Trauma, pembedahan dan anestesi dapat mengakibatkan laju filtrasi


glomerular menurun. Reabsorpsi Na di tubulus meningkat, sebagian
disebabkan oleh meningkatnya kadar aldosteron.
6. Penatalaksanaan Terapi
a. Pengganti Defisit Prabedah
Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa,
lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada
masa prabedah sebelum induksi, kemudian dari sisa defisit yang masih ada
diberikan pada jam pertama pembedahan, sedangkan sisanya diberikan pada
jam kedua berikutnya.
Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti dengan cairan
hipotonis seperti garam fisiologis, Ringer Laktat, dan Dextrose. Pada penderita
yang karena penyakitnya tidak mendapat nutrisi yang cukup maka sebaiknya
diberikan nutrisi enteral atau parenteral lebih dini lagi.
Usia

Jumlah

Dewasa

(ml/Kg/Jam)
1,5 2

Anak

24

Bayi

46

Kebutuhan

Neonatus
3
Tabel 2. Kebutuhan Cairan Rata-rata untuk Rumatan
Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik,
dehidrasi) yang seringkali menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti
dengan melakukan resusitasi cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi.
b.Terapi Cairan selama Pembedahan
Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan
kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan
(pendarahan, translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi)
Jenis cairan yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahan
dan jumlah darah yang hilang.

Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis cukup hanya
diberikan cairan rumatan saja selama pembedahan. Misalnya pada bedah
mata, ekstraksi katarak.

Pengganti darah yang hilang

Kehilangan darah sekitar 20% taksiran volume darah akan menimbulkan


gejala hipotensi, takikardi dan penurunan tekanan vena sentral.
Kompensasi tubuh ini akan menurun pada seseorang yang mengalami
pembiusan sehingga gejala-gejala tersebut sering kali tidak begitu tampak
karena depresi komponen vasoaktif serta pengaruh obat dan teknik anestesi
yang diberikan. Darah yang hilang dapat diganti dengan cairan kristaloid 3
kali atau cairan koloid sebanyak darah yang hilang.

c.Terapi Cairan dan Elektrolit Pasca Bedah


Ditujukan terutama untuk:

Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi.


Pada hari pertama pasca bedah tidak dianjurkan pemberian kalium karena

adanya pelepasan kalium dari sel/jaringan yang rusak, proses katabolisme dan
transfusi darah. Akibat stress pembedahan dilepaskan aldosteron dan ADH
yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh sebab itu pada 2-3
hari pasca bedah tak perlu pemberian natrium. Penggantian cairan pasca bedah
cukup dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garam isotonis.

Mengganti cairan pada masa pasca bedah.


Akibat demam kebutuhan cairan meningkat sekitar 15 % setiap kenaikan

1 C suhu tubuh. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan


selama pembedahan yang belum selesai.
d.Kehilangan Cairan Spesifik dan Cara Penggantiannya
Kehilangan air paling sering terjadi karena intake yang tidak adekuat
dan kehilangan cairan yang terus-menerus, seperti pada berkeringat,
demam, atau diare. Cara rehidrasi terbaik adalah per oral, menggunakan air
bersih atau minuman lain. Bila rehidrasi secara oral tidak memungkinkan,
jalan terbaik adalah memberikan larutan intravena glukosa 5%. Larutan ini
tidak bisa dianggap sebagai pengganti makan karena kandungan

karbohidrat dan kalorinya rendah ( hanya 837 kJ atau 200 Kkal/L). Untuk
penderita dengan kondisi stabil dan juga memerlukan terapi elektrolit, 2-3 l
larutan glukosa atau garam fisiologis (4% glukosa dan 0,18% NaCl)
menyediakan kebutuhan harian air dan Natrium untuk dewasa.
Diare dan Muntah
Pada diare dan muntah, terjadi kehilangan air, Natrium, Kalium, serta
ion lain. Pengganti paling baik adalah secara oral menggunakan larutan
rehidrasi oral atau yang sejenis. Larutan rehidrasi oral standar mengandung
20 gr glukosa, 3,5 gr NaCl, 2,9 gr Trisogium Sitrat Dihidrat, dan 1,5 gram
KCl per liter. Penggantian secara intravena memerlukan larutan garam,
glukosa, dan Kalium. Jumlah yang dibutuhkan dapat ditentukan dengan
pemeriksaan hematologi dan elektrolit plasma penderita.
Perdarahan dan Luka Bakar
Penggantian cairan yang ideal adalah dengan komposisi cairannya
terdekat dengan cairan yang hilang, darah, atau plasma. Untuk resusitasi
inisial pada pasien dengan syok hipovolemik, penggunaan larutan garam
fisiologis atau Ringer Laktat adalah umum, tetapi harus diingat bahwa
cairan ini cepat keluar dari sirkulasi ke kompartemen lain. Plasma
ekspander memiliki berat molekul yang relatif tinggi, sehingga dapat
bertahan dalam pembuluh darah. Larutan ini dapat digunakan pada
perdarahan hebat untuk mengurangi kebutuhan transfusi darah, tetapi
larutan ini tidak dapat mengangkut Oksigen.
7. Pilihan Jenis Cairan
a.Cairan Kristaloid
Cairan

ini

mempunyai

komposisi

mirip

cairan

ekstraseluler.

Keuntungan dari cairan ini antara lain harganya murah, mudah didapat, tidak
perlu cross match, tidak menimbulkan alergi atau syok anafilaktik,
penyimpanan sederhana dan dapat disimpan cukup lama.
Cairan krostaloid jika diberikan dalam jumlah cukup (3-4x jumlah
cairan koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk
mengatasi defisit volume intravaskuler, masa paruh cairan kristaloid di ruang
intravaskuler sekitar 20-30 menit.

Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak


digunakan untuk resusitasi cairan, walau agak hipotonis namun memiliki
susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung
dalam cairan tersebut akan dimetabolisme di hati menjadi bikarbonat. Cairan
kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0,9% tetapi jika
diberikan terlalu banyak dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik dan
menurunkan kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan kadar klorida.
b.Cairan Koloid
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut
plasma substitute atau plasma ekspander. Di dalam cairan koloid terdapat
zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik
yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (masa paruh 3-6
jam) dalam ruang intravaskuler sehingga koloid sering digunakan untuk
resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hemorhagik
atau pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein
yang banyak (misalnya luka bakar).
Kerugian dari plasma ekspander selain mahal juga dapat menimbulkan
reaksi anafilaktik (walau jarang) dan dapat menyebabkan gangguan pada cross
match. Berdasarkan pembuatannya dibedakan 2 jenis larutan koloid, yaitu :
1. Koloid alami, dan
2. Koloid sintesa
a. Koloid Alami
Yaitu fraksi protein plasma 5 % dan human albumin (5% dan 2,5%).
Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60C selama 10 jam
untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya.
Fraksi protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga
mengandung -globulin dan -globulin. Prekalikrein activators (Hagemans
factor

fragments)

seringkali

terdapat

dalam

fraksi

protein

plasma

dibandingkan dalam albumin. Oleh sebab itu pemberian infus dengan fraksi
protein plasma seringkali menimbulkan hipotensi dan kolaps kardiovaskuler.
b. Koloid Sintesa
1. Dextran :

Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan Dextran


70 (Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh
bakteri Leuco-nostoc mesenteroides B yang tumbuh dalam media sukresa.
Dextran mempunyai efek trombotik yang dapat mengurangi platelet
adhesiveness, menekan aktifitas faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan
melancarkan aliran darah.
2. Hydroxylethyl Strach (Heta Strach) :
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000-1.000.000
rata-rata 71.000 osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 mmHg.
Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46%
lewat urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari.
Larutan koloid ini juga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik dan dapat
meningkatkan kadar amylase serum (walau jarang)
Low-mollecular-Weight Hydroxyethyl Strach (Penta-strach) mirip
heta-strach mampu mengembangkan volume plasma sampai 1,5 kali
volume yang diberikan dan berlangsung sampai 12 jam. Karena potensinya
sebagai plasma volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah
dan tidak mengganggu koagulasi penta-strach banyak dipilih sebagai
koloid untuk resusitasi cairan pada penderita gawat.
3. Gelatin :
Larutan koloid 3,5-4% dalam balance electrolyte dengan berat molekul
rata-rata 35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang. Ada 3 macam
gelatin, yaitu:
- modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemaccel)
- urea linked gelatin
- oxypoly gelatin
Merupakan plasma expanders dan banyak digunakan pada penderita
gawat. Walaupun dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (jarang) terutama
dari golongan urea linked gelatin.

Kristaloid

Keuntungan

Koloid

Murah

Bertahan

lebih

lama

di

Kerugian

volume intravaskuler
dipilih untuk penanganan
awal resusitasi cairan pada
trauma atau perdarahan
Mengisi
volume
intravascular dengan cepat
Mengisi kekosongan ruang
ke3
Menurunkan
tekanan
osmotic
Menimbulkan edema perifer
Kejadian edema pulmonal
meningkat
Memerlukan volume yang
lebih banyak
Efeknya sementara

intravaskuler
Mempertahankan/tekanan
onkotik plasma
Memerlukan volume yang
lebih sedikit
Edema perifer minimal
Menurunkan TIK
Mahal
Dapat
menimbulkan
koagulopati
Pada kebocoran kapiler, cairan
pindah ke interstitium
Mengencerkan
factor
pembekuan dan trombosit
adhesive trombosit
biasa menimbulkan reaksi
anafilaktik dengan dextran
dapat menyumbat tubulus renal
dan RES di hepar

Tabel 5. Keuntungan dan Kerugian Kristaloid dan Koloid


8. Elektrolit Utama Tubuh
A. Natrium
Merupakan kation dominan di cairan ektraseluler dengan konsentrasi di
plasma 135-145 mEq/L. Regulasi konsentrasi Na+ tubuh diatur melalui
beberapa mekanisme antara lain:
-

Left artial strech factor receptors

Central baroreceptor

Renal afferent baroreceptors

Aldosteron

Atrial natriuretic factors

Renin angiotensin system

ADH secretion

Changes in total body water

* Hipernatremia
Hipernatremia adalah keadaan kadar natrium plasma yang melebihi 150
mmol/l disebabkan oleh kehilangan air, kehilangan cairan hipotonik dan konsumsi
garam. Pada poin pertama dan kedua diatas, ECFV berkurang, dalam hal ini konsumsi

garam berhubungan dengan ECFV bertambah. Oleh sebab itu, penentuan jumlah
cairan sangat penting untuk diagnosis dan penatalaksanaan hipernatremia.
-Penatalaksanaan hipernatremia
Perkiraan kehilangan air dapat diketahui dengan pengukuran kadar Natrium plasma
dan berat badan dengan rumus :

Defisit air = ( Na+ terukur / 140 x BB ) BB

Misalnya pada pasien dengan BB = 75 kg dan kadar Na+ = 170 mmol/L


Defisit air = ( 170/140 x 0,6 x 75 ) ( 0,6 x 75 ) = 9,6 L
Bagi pasien dengan hipernatremia tanpa kekurangan volume (volume
depletion) diberikan glukosa 5%. Penyebab terbesar dari hipernatremia adalah
hipovolemia dan pemberian cairan intravena akan memperbaiki kadar elektrolit dan
air. Cairan isotonik adalah yang terpenting untuk mengatasi kekurangan cairan karena
cairan ini menjadi relatif hipotonik pada keadaan hipernatremia sehingga jumlah
cairan juga terkoreksi. Terapi cairan harus dilakukan dalam waktu 48-72 jam untuk
mencegah edema serebral.
* Hiponatremia
Hiponatremia adalah keadaan kadar natrium plasma yang kurang dari 135
mmol/L. Hal ini banyak ditemukan pada pasien yang dirawat akibat retensi air,
kehilangan garam atau keduanya. Skema proses terjadinya hiponatremia:

HIPONATREMIA

Kadar ECF
Hipervolemi
k

Hipovolemik
Ekstra
renal

Renal

Diuretik
Hipoadrenalisme
Kehilangan
garam akibat
nefropati

Normovolemik

Gagal jantung
kongestif
Sirosis
Sindroma nefrotik

Diare
Muntah
Kehilangan
cairan ke
ruang ketiga

Osmolaritas plasma
Rendah

SIADH
SIIVT
Obat-obatan
Hipotiroid
Stress pos-op
Gagalginjal

- Penatalaksanaan Hiponatremia
Keadaan akut hiponatremia ditangani secara emergensi dan perlu intervensi
cepat dengan larutan hipertonik. Terapi koreksi terhadap hiponatremia secara cepat
masih kontroversi sebab perubahan elektrolit tiba-tiba dapat menyebabkan myelinosis
pontin serebral sehingga rawan terjadi paralisis koma dan kematian. Hubungan
antara sindrom ini dengan peningkatan plasma natrium belum disepakati, hanya perlu
diwaspadai. Kadar natrium dalam plasma dikembalikan pada kisaran 125 mmol/L dan
koreksi dalam interval maksimum 12 jam. Penentuan kadar natrium berdasarkan
rumus :
Na+ yang dibutuhkan = TBW x (Na+ yang diinginkan -Na+ terukur)
Larutan hipertonik 3% mengandung 514 mmol/L natrium dan pemberiannya
beresiko pada edema paru.

Normal
Pseudohiponatremi
a

B. Kalium
Merupakan kation dominan (98%) di intraseluler dengan konsentrasi di plasma
3,5-5,5 mEq/L.
o Hipokalemi
Hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya hipokalemia :
-

Penyakit ginjal : chronic Pyelonephritic, Renal Tubular Acidosis,


Diuresis Phase Of Acute tubular Necrosis.

Diabetes asidosis

Metabolik alkalosis

Diare

Terapi diuretik tanpa suplemen kalium

Gejala :
Terjadi kelemahan otot, ileus paralitik, aritmia, cardiac arrest, lebih sensitif
terhadap digitalis.

Hiperkalemi
Etiologi :
-

Disfungsi renal

Asidosis

Transfusi masif

Kerusakan jaringan yang luas (combustio)

Gejala :
Aritmia jantung, fibrilasi ventrikel (apabila kalium plasma lebih dari 7 mEq/L)
Tabel 39.7 Terapi Hiperkalemia

Kalsium glukonas 10 % i.v ( 0.5 ml kg-1 sehingga maksimum 20ml ) diberi


lebih dari 5 menit. Tidak mengubah [ K+ ] plasma. Efek perlahan

Glukosa 50 g ( 0.5- 1.0 g /kg ) ditambah insulin 20 unit ( 0.3 unit g /kg ) dosis
tunggal bolus i.v. Kemudian diberi infuse glukosa 20 %, ditambah insulin 6-20
unit/jam ( tergantung glukosa darah )

Natrium bikarbonat 1.5-2.0 mmol/ kg iv lebih 5-10 menit

Resonium kalsium 15 g p.o

C. Kalsium

80-90% diekskresi melalui feses, 20% melalui urine tergantung intake, ukuran
tulang dan endokrin.

Metabolismenya dipengaruhi oleh kelenjar paratiroid, tiroid, testis, ovarium,


dan hipofisis.

D. Fosfor

Kebutuhan kalsium sebanding atau lebih banyak dibandingkan kebutuhan


fosfor.

Ekskresi melalui urine dan feses.

Anion dominan di intraseluler dalam bentuk PO4-

9. Tranfusi Darah
a. Indikasi transfusi darah
Transfusi darah umumnya > 50% diberikan pada saat perioperatif dengan
tujuan untuk menaikan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskular.
Indikasi transfusi darah adalah :
a. Perdarahan akut sampai hb < 8 gr/dl atau Ht <30.
Pada orang tua, kelainan paru, kelainan jantung Hb < 10 gr/dl.
b. Bedah mayor kehilangan darah > 20% volume darah.
Tabel Volume darah
USIA
Prematur
Cukup bulan
Anak kecil
Anak besar
Dewasa
Laki-laki
Wanita

ml/KgBB
95
85
80
75-80
75
65

b. Kehilangan darah
Pada bayi angka dengan kadar Hb normal, kehilangan darah sebanyak 1015% volume darah, karena tidak memberatkan kompensasi badan, maka cukup
diberikan cairan kristaloid dan koloid, sedangkan diatas 15% perlu transfusi darah,

karena ada gangguan pengangkutan oksigen. Sedangkan untuk orang dewasa dengan
kadar Hb normal, angka patokannya ialah 20%. Kehilangan darah sampai 20% ada
gangguan faktor pembekuan. Cairan kristaloid (RL, Asering) untuk mengisi ruang
intravaskuler diberikan sebanyak 3x lipat jumlah darah yang hilang, sedangkan koloid
diberikan dengan jumlah sama.
Klasifikasi syok hipovolemik berdasarkan jumlah darah yang hilang
Kelas I

Kelas II

Kelas III

Kelas IV

=Presentase

<15

15-30

30-40

>40

=Volume (cc)
Tensi

750

800-1500

1500-2000

>2000

=Systole

Tetap

Normal

Turun

Sangat rendah

=Distole
Nadi (x/mnt)

Tetap
Sedikit

Meningkat
100-120

Turun
120 halus

Sangat rendah
>120
sangat

Pengisian kapiler
Frekuensi nafas

Takikardi
Normal
Normal

Lambat (>2s)
Normal

halus
Lambat (>2s) Tidak terdeteksi
Takipnoe
Takipnoe

Urine (cc/jam)
Ekstremitas
Warna kulit
Status mental

(20x/mnt)
>30
Normal
Normal
Sadar

20-30
Pucat
Pucat
Cemas/gelisah

10-20
Pucat
Pucat
Cemas,

0-10
Pucat, dingin
Kelabu
Mengantuk,

gelisah/meng

bingung,

antuk

sadar

Kehilangan Darah

Keterangan:
-

Kelas 1: Tidak perlu tansfusi kecuali kehilangan darah terjadi pada pasien
yang sebelumnya anemia atau pasien tidak mampu mengkompensasi
kehilangan sejumlah darah karena penyakit jantung atau paru yang berat.

Kelas II: Perlu pemberian cairan kristaloid atau koloid. Tidak perlu tranfusi
kecuali sebelumnya pasien anemia atau cadangan kardiorespirasinya turun
atau jika perdarahan darah terus berlangsung.

Kelas III: Penggantian volume darah yang cepat dengan kristaloid atau
koloid dan transfusi sel darah merah mungkin dibutuhkan.

Kelas IV: Penggantian volume darah dengan cairan dan termasuk transfusi
sel darah merah.
1

tidak

Keputusan transfusi atas dasar pertimbangan nilai hemoglobin. Pertimbangan


keputusan atas nilai dasar Hb harus dipertimbangkan bersamaan dengan faktor
lain seperti laju kehilangan darah:
-

Tranfusi sel darah merah tidak diindikasikan bila nilai aktual atau estimasi
konsentrasi Hb > 10gr/dl kecuali bila ada indikasi tertentu, misalnya
penyakit yang membutuhkan kapisitas transport oksigen lebih tinggi (PPOK
dan jantung iskemik berat).

Transfusi sel darah merah selalu diindikasikan bila nilai Hb<7gr/dl.


Transfusi harus diberikan dalam hubungannya dalam laju kehilangan darah.
Jika pasien stabil, 2 unit darah harus diberikan pada dewasa dan kemudian
klinis dan nilai Hb harus dinilai ulang. Transfusi dapat ditunda jika pasien
asimptomatik dan / atau penyakitnya memiliki terapi spesifik lain, maka
batas kadar Hb yang lebih rendah dapat diterima.

Bila Hb berkisar 7-10 gr/dl, strategi pemberian tranfusi kurang tepat. Para
klinisi sering memberikan transfusi walaupun bukti yang ada tidak
menyarankan. Tranfusi dapat diberikan bila ditemukan hipoksia atau
hipoksemia yang bermakna secara klinis dan laboratorium.

Pada pasien dengan toleransi anemia yang jelek misalnya pasien usia lanjut
lebih dari 65 tahun dan pasien dengan penyakit kardiovaskuler dan respirasi,
nilai Hb yang lebih tinggi dipertimbangkan bila Hb<8 gr/dl.

c. Bahan yang ditransfusikan


1. Darah lengkap (Whole Blood)
Darah lengkap ada 2 macam, yaitu:
a. Darah segar : masa simpan 4 6 jam
Keuntungan

: faktor pembekuan lengkap, fungsi sel darah merah relatif


masih baik

Kerugian : Pengadaan sulit diperoleh dalam waktu yang tepat


b. Darah baru

: Masa simpan 3 4 hari.

Keuntungan : Pengadaan tidak terlalu sulit,biasanya tersedia di bank darah.


Bahaya penularan sifilis dan CMV tidak ada.
Kerugian : Faktor-faktor pembekuan banyak berkurang, kemampuan
pengangkutan oksigen kurang, kadar K, amonia dan asam laktat
meningkat.
1

Darah lengkap diindikasikan untuk mengatasi syok hipovolemik akibat


kehilangan darah akut (hebat) atau untuk penggantian kehilangan darah akibat
pembedahan yang melebihi 1500 ml. Dengan transfusi darah lengkap resusitasi
defisit volume intravaskular pun ikut teratasi. Penyulit yang mungkin timbul
adalah faktor V dan VII bisa menurun demikian jumlah trombosit akibat
pengenceran. Untuk mengatasi penyulit ini sebaiknya diberikan juga trombosit
atau fresh frozen plasma.
2. Sel darah merah (SDM)
Keuntungan secara umum :
a. Sebagian besar plasma tidak ikut diberikan sehingga beban sirkulasi pada
penderita berkurang. Hal ini sangat menguntungkan pada usia lanjut, kelainan
jantung dan payah ginjal.
b. Hematokrit dapat diatur
c. Mengurangi penularan penyakit , seperti hepatitis.
d. Bermanfaat pada penderita gangguan ginjal dimana diperlukan pembatasan
protein.
e. Mengurangi reaksi alergi terhadap protein plasma
f. Mengurangi kemungkinan pembekuan badan-badan penangkis ( anti
leukosit,anti trombosit)
g. Bebas dari zat anti pembekuan.
Kerugian :
a. Bahaya infeksi sekunder dapat terjadi saat pembuatan
b.

Masa simpan pendek, 4 6 jam untuk Washed red cells dan 12 jam untuk
Packed red cells pada temperatur 2 6 o C.

Jenis jenisnya :
1.

Packed red cells (PRC)


Didapat dari darah lengkap yang diambil/dipisahkan sebagian

plasmanya melalui metoda pemutaran atau sedimentasi/pengendapan. PRC


yang dibuat khusus jauh lebih baik dan relatif tahan lama dalam penyimpanan
daripada yang dibuat dengan cara sedimentasi. 1 Unit PRC berisi 240-340 ml
dengan Ht 75-80% dan Hb 24 gr/dl. Untuk menaikkan Hb 1 gram/dl
diperlukan PRC 4 ml/KgBB atau 1 unit dapat menaikkan kadar Ht 3-5%.
1

Dengan PRC ini kita mendapatkan :


- hematokrit

: 70 80 %

- Volume plasma

: 15 25 ml

- Volune antikoagulan : 10 15 ml
Pemberian transfusi dengan PRC bertujuan untuk meningkatkan dan
memperbaiki oksigenasi jaringan dan keadaan itu tercapai bila kadar Hb lebih
besar 8 gr%, Keuntungan PRC

1. Kemungkinan overload ciculation berkurang.


2. Reaksi transfusi akibat plasma komponen menjadi minimal
3. Akibat samping karena volume antikoagulan yang berlebihan menjadi
minimal.
4. Meningkatkan daya guna dari pemakaian darah karena sisa plasma dapat
dibuat komponen-komponen yang lain.
2. Washed Red Cells
Komponen ini didapat dengan mencuci PRC sebanyak 3 kali dengan
larutan garam fisiologis sama banyak. Sehingga akhirnya didapat PRC yang
bersih dari plasma, tetapi masih mengandung sedikit lekosit dan trombosit.
Karena komponen ini tidak mengandung plasma maka komponen ini harus
segera ditransfusikan selambat-lambatnya tidak lebih dari 6 jam setelah
pembuatan.
Keuntungan

1. Pembentukan antibodi terhadap lekosit maupun trombosit dapat dicegah.


2. Reaksi Ig A dari plasma donor terhadap anti IgA dari plasma penderita
tidak terjadi.
3. Semua allo antibodi anti A, anti B dan komplement tidak ada.
4. Kemungkinan penularan hepatitis pasca transfusi minimal.
5. Hasilnya cukup baik untuk penderita yang sebelumnya ada reaksi transfusi
non hemolitik atau penderita yang membutuhkan transfusi berulang-ulang.
Kerugian : Karena pembuatan komponen ini memakai proses terbuka, maka
kemungkinan kontaminasi bakteri cukup besar.
3. Red Cell Suspension
2

3.1.

Plasma
Komponen ini didapat dari pemisahan PRC dari darah lengkap melalui
metode pemutaran atau sedimentasi. 1 unit plasma berisi 200 ml diperoleh dari
mengendapkan darah lengkap selama 72 jam. Semua faktor pembekuan ada
kecuali faktor V dan VIII. Pada plasma segar beku, faktor V dan VIII tetap
aktif.
Indikasi :
- Untuk mengatasi keadaan syok ( sebelum darah datang )
- Memperbaiki volume intravaskuler
- Mengganti protein plasma yang hilang
- Mengganti dan menambah jumlah faktor-faktor tertentu yang hilang,
misalnya fibrinogen atau albumin.
Dosis pemberian tergantung keadaan klinis, umumnya 10 15
ml/kg/hari. Hati-hati pada orang tua karena kemungkinan terjadinya payah
jantung atau kelebihan volume.
Kerugian

: -Resiko hepatitis pasca transfusi besar.


-Reaksi transfusi seperti urtikaria, mengigil dan febris
dapat timbul.

Keuntungan

: Tersedia dengan cepat dan dapat diberikan test


kompatibilitas.

3.2

Fresh Frozen Plasma


Didapat dari pemisahan darah segar ( darah donor kurang dari 6 jam )
dengan pemutaran, kemungkinan dibekukan dan disimpan pada temperatur
-30 o C.
Indikasi :- Penderita yang mengalami perdarahan dengan defisiensi faktor
pembekuan misal penyakit hati dengan hematemesis melena.
- Haemophilia.
- Defisiensi protrombin komplex
- Defisiensi faktor V
Efek samping : - Reaksi alergi
- Menggigil dan demam.
- Resiko Penularan hepatitis.

3.3

Cryopecipitate = AHF Concentrate.


2

Komponen ini didapat dengan cara pemisahan plasma segar atau fresh
frozen plasma yang dicairkan pada temperatur 4 oC melalui metoda
pemutaran dengan waktu dan kecepatan pemutaran tertentu.
Indikasi

:- Haemophilia A
- von Willebrands disease
- Hipofibrinogenemia
- Defisiensi faktor XIII.

3.4

Trombosit
Transfusi Trombosit diberikan pada penderita dengan kekurangan
trombosit baik karena primer ataupun sekunder akibat perdarahan.
Pemberian

trombosit

yang

berulang-ulang

dapat

menyebabkan

terbentuknya antibodi trombosit pada penderita.


3.5

Leukosit Concentrate
Komponen ini dibuat dari seorang donor dengan metoda pemutaran
melalui hemonetic -30.
Indikasi: - Penderita neutropenia dengan febris tinggi yang gagal dengan
antibiotika adekuat.
- Aplastik anemia dengan lekosit kurang dari 2000/ml

IV. KESIMPULAN
Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti milieu interior
dalam batas- batas fisiologis dengan cairan kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma
ekspander) secara intervena. Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan
harus mendekati jumlah dan komposisi cairan yang hilang. Terapi cairan dibutuhkan,
kalau tubuh tidak dapat memasukkan air, elektrolit dan zat-zat makanan secara oral
2

misalnya pada keadaan pasien harus puasa lama, karena pembedahan saluran cerna,
pendarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksia berat, mual muntah tak
berkesudahan dan lain-lainnya. Dengan terapi cairan kebutuhan akan air dan elektrolit
dapat dipenuhi. Selain itu dalam keadaan tertentu adanya terapi cairan dapat
digunakan sebagai tambahan untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin
atau dapat juga digunakan untuk menjaga keseimbangan asam-basa.

V. DAFTAR PUSTAKA
1. Muhiman, Muhardi dr.,dkk. Editor. Anestesiologi. 1989. Jakarta:CV
Infomedika
2. Pt Otsuka Indonesia. Pedoman Cairan Infus. Edisi Revisi VII. 2003
3. Sunatrio, S., dr., SpAn.KIC, Resusitasi Cairan. 2000. Jakarta:Media
Aesculapius
2

4. Wayne E. Wingfield, MS, DVM. Fluid and Electrolyte Therapy. 1998.


http://www.cvmbs.colostate.edu/clinsci/wing/fluids/fluids.htm
5. Kolecki,

Paul.MD.

Shock

Hypovolemic.

2005.

www.emedicine.com

en.erg/topic532.htm
6. Noer HMS, Waspadi, Rachman AM. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I.
Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.

7. Advanced Trauma Life Support for Doctors. American College of Surgeons


Committee On Trauma. First Impression. 1998.
8. Michael B. Dobson, alih bahasa Adji Dharma. Penuntun Praktis Anestesi.
EGC. Penerbit Buku Kedokteran