Anda di halaman 1dari 4

INISIASI 5

PENYIMPULAN LANGSUNG
Tentunya, masih ingat bahwa LOGIKA didefinisikan sebagai sistem penalaran tentang
penyimpulan yang sah (Bakry, 2012: 1.3). Mengenai sistem penalaran sudah dijelaskan
dan dipahami pada Inisiasi-inisiasi sebelumnya. Sistem penalaran dikonstruksi oleh
Prinsip dasar penalaran, Hukum analisa, Hukum klasifikasi, Hukum definisi dan
Proposisi kategoris. Nah, Penyimpulan yang sah harus didasarkan pada sistem penalaran
tersebut. Pada Inisiasi 5 dan 6 membahas mengenai penyimpulan yang sah. Apa, mengapa
dan bagaimana penyimpulan yang sah? Ada 2 bentuk penyimpulan: Penyimpulan
langsung dan Penyimpulan Tidak Langsung (Silogisme). Di dalam Inisiasi 5 ini hanya
membahas Penyimpulan Langsung saja.
Penyimpulan Langsung
Atas dasar definisi penyimpulan adalah proses penarikan satu proposisi (kesimpulan)
dari satu atau dua proposisi lain (premis) [Bakry, 2012: 5.2], maka Penyimpulan
langsung dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan langsung kesimpulan dari
satu proposisi (premis) saja atas dasar pembandingan term subyek dan term predikatnya. Misal, Premis: Semua mahasiswa UT mengakui bhineka tunggal ika.
Kesimpulan: Tidak ada mahasiswa UT yang tidak mengakui bhineka tunggal ika.
Mengapa penyimpulan langsung itu sah? Karena, Penyimpulan langsung didasarkan pada
pembandingan term subyek dan term predikat dalam 3 bentuk: Penalaran oposisi,
Penyimpulan sederhana dan Penalaran Eduksi.
Penalaran Oposisi
Oposisi adalah pertentangan antara dua proposisi yang memiliki term subyek dan term
predikat yang sama, tapi berbeda kuantitas dan/atau kualitasnya. Oposisi terjadi dalam
bentuk hubungan logis, bukan fisik. Sebagai bentuk Penyimpulan langsung, dalam
penalaran oposisi bisa ditentukan nilai benar dari sebuah proposisi (kesimpulan) jika
proposisi lain (premis) telah terbukti benar atau salah. Ada 4 macam penalaran oposisi:
1. Oposisi kontraris: Oposisi antara proposisi A-E, menurut beda kualitasnya. Hukum
nilai kebenarannya:
a) Jika proposisi yang satu terbukti benar, maka proposisi yang lain pasti salah.
b) Jika proposisi yang satu terbukti salah, maka proposisi yang lain tidak pasti (bisa
benar, bisa salah).
2. Oposisi subkontraris: Oposisi antara proposisi I-O, menurut beda kualitasnya. Hukum
nilai kebenarannya:
a) Jika proposisi yang satu terbukti salah, maka proposisi yang lain pasti benar.
b) Jika proposisi yang satu terbukti benar, maka proposisi yang lain tidak pasti (bisa
benar, bisa salah).
3. Oposisi kontradiktoris: Oposisi antara proposisi A-O dan E-I, menurut beda kuantitas
dan kualitasnya. Hukum nilai kebenarannya:
a) Jika proposisi yang satu terbukti benar, maka proposisi yang lain pasti salah.
b) Jika proposisi yang satu terbukti salah, maka proposisi yang lain pasti benar.
4. Oposisi subalternasi: Oposisi antara A-I (superimplikasi) dan E-O (subimplikasi),
menurut beda kuantitasnya. Hukum nilai kebenaran superimplikasi:
a) Jika proposisi universal terbukti benar, maka proposisi partikular pasti benar.
b) Jika proposisi universal terbukti salah, maka proposisi partikular tidak pasti (bisa
benar, bisa salah).
Sedangkan, hukum nilai kebenaran subimplikasi:

a) Jika proposisi partikular terbukti salah, maka proposisi universal pasti salah.
b) Jika proposisi partikular terbukti benar, maka proposisi universal tidak pasti (bisa
benar, bisa salah).
Bukti benar atau salah tentang proposisi itu berhubungan dengan isi dan harus sesuai
dengan teori korespondensi (proposisi dan kenyataan) atau teori koherensi (proposisi dan
hasil persetujuan bersama) [Bakry, 2012: 4.4].
Dari evaluasi inisiasi 4, perlu disadari bahwa penalaran oposisi berbeda dengan negasi
(pengingkaran).
Penalaran Sederhana
Penyimpulan langsung dapat dilakukan dalam bentuk Penalaran sederhana dengan 3
macam:
1. Negasi kontradiksi
Bentuk penyimpulan dari negasi terhadap oposisi kontradiktoris. Negasi oposisi antara
proposisi A-O dan E-I, menurut beda kuantitas dan kualitasnya. Hukum nilai
kebenarannya:
a) Premis: proposisi yang satu terbukti benar. Kesimpulan: proposisi yang lain pasti
tidak salah.
b) Premis: proposisi yang satu terbukti salah. Kesimpulan: proposisi yang lain pasti
tidak benar.
Jika oposisi kontradiktoris saling bertentangan, maka negasi kontradiksi saling
menyimpulkan.
Negasi kontradiksi pada proposisi E-I yang beda kualitasnya disebut juga ekuivalen
proposisi dalam bentuk penalaran obversi.
2. Penyimpulan implikasi
Bentuk penyimpulan jika universalitas mengingkari, maka partikularitas juga
mengingkari. Hukum nilai kebenarannya:
a) Premis: proposisi yang satu terbukti benar. Kesimpulan: proposisi yang lain pasti
benar.
c) Premis: proposisi yang satu terbukti benar. Kesimpulan: proposisi yang lain pasti
benar.
Penyimpulan implikasi ini dalam bentuk penyimpulan subimplikasi, bukan oposisi dan
superimplikasi.
3. Penyimpulan paralel
Bentuk penyimpulan dari antara proposisi partikular, menurut beda kualitasnya.
Hukum nilai kebenaranya:
a) Premis: proposisi yang satu terbukti benar. Kesimpulan: proposisi yang lain pasti
benar.
b) Premis: proposisi yang satu terbukti salah. Kesimpulan: proposisi yang lain pasti
salah.
Penalaran Eduksi
Eduksi adalah bentuk penyimpulan, dengan 3 macam penalaran:
1. Konversi (menukar tempat term subyek dengan term predikat, tanpa mengubah
kualitas atau makna tetap sama). Ada 2 macam atas dasar kuantitas:
a) Konversi sama kuantitas
b) Konversi beda kuantitas
Dari konversi, ada hukum atau kaidah komutatif: sebagian term subyek adalah
term predikat, sama dengan sebagian term predikat adalah term subyek.

2. Inversi (menegasi term subyek dan term term predikat). Ada 2 macam atas dasar yang
diingkari:
a) Inversi penuh (term subyek dan term predikat yang diingkari)
b) Inversi sebagian (term subyek saja yang diingkari)
Dari inversi, ada hukum atau kaidah dobel negasi (negasi ganda): non non term
predikat adalah term predikat.
3. Kontraposisi (menukar tempat term subyek dan term predikat serta menegasikannya).
Kesimpulannya disebut kontrapositif. Ada 2 macam atas dasar yang diingkari:
a) Kontraposisi penuh (menegasikan term subyek dan term predikat atau mengingkari
keduanya)
b) Kontraposisi sebagian (menegasikan term predikat premis saja atau mengingkari
term subyek kesimpulan)
Dari penalaran eduksi, ada ekuivalen proposisi yang disebut penalaran konversi
(sama makna premis dan kesimpulan), serta inversi dan kontraposisi (sama bentuk
premis dan kesimpulan)
Dengan demikian, penyimpulan langsung merupakan salah satu penyimpulan yang sah
dalam Logika sesuai dengan sistem penalaran.
Sumber: Noor Muhsin Bakri dan Sonjoruri Budiani Trisakti. Logika. Ed. V. Jakarta:
Universitas Terbuka, 2012, hal. 5.1-5.47.
DISKUSI 5
1. Apa pendapat menurut Anda mengenai Penyimpulan Langsung?
2. Jelaskan perbedaan antara Penalaran oposisi dan Penalaran eduksi yang disertai dengan
contoh!
TUGAS 2
Tugas 2 merupakan evaluasi tentang Klasifikasi dan Empat macam proposisi kategoris,
dengan 2 pertanyaan. Silakan jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
1. Jelaskan, mengapa klasifikasi-klasifikasi di bawah ini TIDAK BENAR atas dasar
hukum-hukumnya!
a) Bahasa diklasifikasi menjadi bahasa kasar dan bahasa halus.
b) Bahan bakar kendaraan diklasifikasi menjadi bahan bakar solar, bahan bakar
gas dan bahan bakar minyak.
c) Dokter diklasifikasi menjadi dokter paru-paru, dokter jantung, dokter mata
dan dokter badan.
d) Lagu diklasifikasi menjadi lagu indah dan lagu jelek.
e) Musim di Eropa diklasifikasi menjadi musim dingin, musim gugur, musim
salju dan musim panas.
f) Negara diklasifikasi menjadi negara demokrasi dan negara liberal.
g) Peserta yang lulus testing diklasifikasi menjadi peserta yang lulus dengan nilai
di atas 60 dan peserta yang lulus dengan nilai di bawah 60.
h) Sepatu diklasifikasi menjadi sepatu kulit, sepatu karet, sepatu plastik dan
sepatu olahraga.
i) Soal diklasifikasi menjadi soal sulit dan soal mudah.
j) Tas diklasifikasi menjadi tas belanja, tas sekolah, tas plastik, tas pakaian,
tas murah dan tas hitam.

2. Jelaskan, atas dasar kuantitas dan kualitasnya, termasuk macam proposisi kategoris apa
yang terdapat pada proposisi di bawah ini!
a) Atlet yang tidak pernah berlatih tak seorang pun yang dapat meraih prestasi tinggi.
b) Ada satwa liar yang tidak dapat hidup di daerah dingin.
c) Barang yang terbuat dari bahan kulit asli tak satu pun tidak tahan lama.
d) Calon yang tidak mengembalikan isian formulir dianggap mengundurkan diri.
e) Jalan di pinggir kota ini banyak yang tidak beraspal.
f) Produk dalam negeri tidak semuanya tidak terjamin mutunya.
g) Penumpang kapal layar yang mengalami kecelakan itu hamper tak ada yang tidak
dapat menyelamatkan diri.
h) Peserta yang menghadiri seminar ini umumnya berasal dari Jakarta.
i) Tak satu pun binatang tak bersayap yang dapat terbang.
j) Tiada hari yang tidak menjanjikan harapan.
Sumber: Hayon, Y.P., Logika: Prinsip-prinsip Bernalar Tepat, Lurus dan Teratur. Cet. II.
Jakarta: ISTN, 2001, h. 53-54 dan 125.
Selamat membaca, berdiskusi dan berkarya!
Masykurwahid

Anda mungkin juga menyukai