Anda di halaman 1dari 94

KEMENTERIAN DESA,

PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI


REPUBLIK INDONESIA

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)


DIREKTORAT JENDERAL
PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN
KEMENTERIAN DESA,
PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI
TAHUN 2015 2019

Jakarta, 2015

I(ATA PENGAIITAR

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2OO+ tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (SPPN) memberikan amanat untuk menJrusun
Rencana Strategis Kementeri an / l,embaga.
Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan sebagai salah
Unit Kerja Eselon Sahr (UKE-I) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi telah men5rusun Rencana Strategis (Renstra)
Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Tahun 2Ol5-2O19
sebagai penjabaran dari Renstra Kementerian.
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2OL4 tentang Desa memberikan
amanat perlunya Pembangunan Kawasan Perdesaan, disamping
Pembangunan Desa. Kedua pendekatan ini dilakukan secara bersamaan
untuk menyelesaikan masalah-masalah masyarakat desa.
Renstra ini memuat informasi tentang kondisi umum, potensi dan
permasalahan, visi, misi, dan tqjuan, arah kebijakan dan strategi, Program
dan Kegiatan, Kelembagaan, serta Target Kinerja dan Kerangka Pendanaan.
Renstra ini diharapkan dapat menyamakan persepsi antar pelaku
pembangunan kawasan perdesaan dan menjadi pedoman dalam
pembangunan kawasur perdesaan sehingga dapat tercipta penyelenggaraEu'r.
pembangunan kawasan perdesaan yang efektif, elisien dan produktif.
Akhirnya, semoga Renstra ini dapat diimplementasikan dengan baik
guna mewujudkan desa yang maju dan mandiri.
Desember 2015
Jenderal
Perdesaan

M.

M.Si

tt

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................................. v
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................................................... vi
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1
2.1
2.2

Kondisi Umum .................................................................................................................... 2


Potensi dan Permasalahan ............................................................................................. 6

BAB II. VISI, MISI, DAN TUJUAN .......................................................................................... 11


2.1
2.2
2.3
2.4

Visi ........................................................................................................................................ 11
Misi ....................................................................................................................................... 11
Tujuan ................................................................................................................................. 12
Sasaran ............................................................................................................................... 12

BAB III. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI ..................................................................... 15


3.1
3.2
3.3
3.4
3.5
3.6

Arah Kebijakan dan Strategi Nasional...................................................................... 15


Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi ....................................................................................... 21
Arah Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan
Perdesaan ........................................................................................................................... 24
Program dan Kegiatan.................................................................................................... 26
Kerangka Regulasi........................................................................................................... 30
Kerangka Kelembagaan ................................................................................................. 32
3.6.1. Penataan Kelembagaan ..................................................................................... 32
3.6.2. Struktur Organisasi Ditjen PKP ..................................................................... 33
3.6.3. Rincian Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan ........................................................................................... 34

BAB IV. TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN ....................................... 45


4.1
4.2

Target Kinerja ................................................................................................................... 45


Kerangka Pendanaan ..................................................................................................... 48

BAB VI PENUTUP.......................................................................................................................... 51

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.

Status Desa berdasarkan IPD dan IDM ........................................ 4

Tabel 2.

Perbandingan antara Pembangunan Desa dengan Pembangunan


Kawasan Perdesaan Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2014 ....... 18

Tabel 3

Kerangka Pendanaan Ditjen PKP Tahun 2015-2019 ..................... 48

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Tiga Dimensi Indeks Desa Membangun (IDM). ...........................

13

Gambar 2.

Delapan (8) Komponen Kawasan Perdesaan Berkelanjutan ........

23

Gambar 3.

Struktur Organisasi Direktorat Jenderal PKP .............................

32

Gambar 4.

Struktur Organisasi Setdijen PKP...............................................

34

Gambar 5.

Struktur Organisasi Direktorat Perencanaan Kawasan


Perdesaan ..................................................................................

Gambar 6.

Struktur Organisasi Direktorat Pembangunan Ekonomi Kawasan


Perdesaan ..................................................................................

Gambar 7.

39

Struktur Organisasi Direktorat Pengembangan Sumber Daya


Alam Kawasan Perdesaan...........................................................

Gambar 9.

37

Struktur Organisasi Direktorat Pembangunan Sarana dan


Prasarana Kawasan Perdesaan ...................................................

Gambar 8.

36

40

Struktur Organisasi Direktorat Direktorat Kerja Sama Dan


Pengembangan Kapasitas ...........................................................

42

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Lokasi Prioritas Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan


Perdesaan Tahun 2015-2019

Lampiran 2

Kerangka Pendanaan Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan


Perdesaan Tahun 2015-2019

Lampiran 3

Daftar Kawasan Perdesaan Kabupaten/Kota yang telah ditetapkan


Pemerintah Daerah (Hasil Fasilitasi Direktorat Perencanaan PKP)
Tahun 2015

vi

BAB I
PENDAHULUAN
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa)
memberikan amanat perlunya Pembangunan Kawasan Perdesaan,
disamping Pembangunan Desa. Kedua pendekatan ini dilakukan secara
bersamaan untuk menyelesaikan masalah-masalah masyarakat desa.
Kawasan Perdesaan dimaknai sebagai kawasan yang mempunyai
kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan,
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Kawasan Perdesaan saat ini mendapat perhatian lebih, bukan saja karena
di kawasan ini tersimpan potensi sumber daya alam yang menjadi sumber
pembangunan nasional, tapi juga masih menyimpan banyak permasalahan
yang membutuhkan perhatian.
Tujuan Pembangunan Kawasan Perdesaan yaitu mempercepat dan
meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan
masyarakat Desa melalui pendekatan pembangunan partisipatif.
Perhatian terhadap kawasan perdesaan sebelumnya telah dilakukan
sebagai bagian dari implementasi Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang. Menurut Undang-undang ini, penataan ruang
berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan
perkotaan dan penataan ruang kawasan perdesaan.
Kawasan Perdesaan sangat terkait dengan rencana struktur ruang
wilayah (baik nasional, provinsi, ataupun kabupaten) dalam wilayah
pelayanan dan sistem jaringan prasarananya. Rencana tataruang kawasan
perdesaan merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten
yang dapat disusun sebagai instrumen pemanfaatan ruang untuk
mengoptimalkan kegiatan pertanian (dalam arti luas) yang dapat berbentuk
kawasan agropolitan. Melalui pendekatan penataan ruang diharapkan
keterkaitan kawasan agropolitan dengan sistem kota dan outlet pemasaran
dalam suatu struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah menjadi jelas
dan terintegrasi dengan RTRW kabupaten yang ada.
Undang-undang Desa disamping mengatur substansi, juga
memberikan koridor tentang tata kelola pembangunan kawasan perdesaan
yaitu tentang pentingnya pendekatan partisipatif dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan kawasan perdesaan.

2.1

Kondisi Umum

Pembangunan nasional sejatinya bertujuan untuk meningkatkan


kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia yang makmur dan
berkeadilan.Namunpendekatan pembangunan sentralistik selama ini telah
menciptakan berbagai ketimpangan, diantaranya ketimbangan antara yang
kaya dan miskin, ketimpangan antar daerah (regional), dan ketimpangan
antara perdesaan dengan perkotaan.
Kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan telah
menghasilkan kemiskinan di perdesaan dan proses urbanisasi yang tidak
terkendali.Adanya ketimpangan hasil-hasil pembangunan perdesaaan dan
perkotaan telahberakibat buruk terhadap kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat di kedua wilayah tersebut. Kota mengalami kepadatan
penduduk yang semakin tinggi disebabkan terbukanya kesempatan kerja di
berbagai bidang, sementara desa yang masih bertumpu pada sektor
pertanian tradisional tidak mampu memberikan kesempatan kerja yang
memberikan pendapatan yang layak. Kondisi ini menyebabkan
meningkatnya urbanisasi, berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian,
dan semakin rapuhnya perekonomian perdesaan.
Hal ini sulit untuk dielakkan karena percepatan mekanisme ekonomi
perkotaaan mengalahkan petumbuhan ekonomi perdesaan.Kondisi
inimenyebabkan ketimpangan pertumbuhan kota dan desa yang semakin
mencolok.
Saat ini, tingkat pertumbuhan penduduk di perkotaan sebesar 2,75%
per tahun, angka ini lebih besar dari pertumbuhan nasional 1,17% per
tahun. Pada tahun 2015 jumlah penduduk di perkotaan diperkirakan
sebesar 59,35%, dan apabila tidak ada kebijakan yang tepat dan strategis
untuk mengatasi hal ini, maka pada tahun 2045 diperkirakan 82,37%
penduduk berada di kota (Proyeksi BPS, 2014).
Diberlakukannya Undang-Undang Desa diharapkan dapat menjadi
salah satu solusi terhadap permasalahan kesenjangan antara perkotaanperdesaan. Karena tujuan dari lahirnya Undang-undang ini antara lain
adalah untuk memajukan perekonomian masyarakat di pedesaan,
mengatasi kesenjangan pembangunan kota dan desa, memperkuat peran
penduduk desa dalam pembangunan serta meningkatkan pelayanan publik
bagi warga masyarakat desa. Untuk mencapai hal tersebut, beberapa hak
dan wewenang diberikan kepada desa termasuk pendanaannya yang
dialokasikan khusus dari APBN untuk Desa, disamping sumber pendapatan
lainnya.

Pembangunan desa dan kawasan perdesaan secara komprehensif


merupakan faktor penting bagi pembangunan daerah, pengentasan
kemiskinan, dan pengurangan kesenjangan antarwilayah.
Perkembangan jumlah desa di Indonesia meningkat pesat, dengan
trend pertumbuhan yang semakin meningkat. Pada tahun 2005 jumlah
desa sebesar 61.409 desa, kemudian menjadi 67.211 desa di 2008, dan
pada tahun 2014 meningkat menjadi 74.093 desa (Permendagri No.
39/2015), tersebar di seluruh penjuru nusantara dengan laju pertumbuhan
rata-rata sebesar 2,29 % atau 1.409 desa per tahun. Akan tetapi
peningkatan jumlah desa ini belum diikuti peningkatan kesejahteraan
masyarakat di perdesaan.
Berdasarkan data BPS, pada bulan Maret tahun 2014 terdapat 28,28
juta jiwa atau 11,25 % penduduk miskin di Indonesia, dimana 17,77 juta
diantaranya merupakan penduduk miskin yang berada di perdesaan.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat di perdesaan umumnya masih
tertinggal dari masyarakat di perkotaan.Masyarakat desa yang bekerja di
sektor pertanian yaitu sekitar 57 %(tahun 2012), dengan tingkat upah
bulanan relatif rendah yaitu sebesar Rp.628.364, dibandingkan masyarakat
di perkotaan sebesar Rp.754.779.
Tingginya alih fungsi lahan, rendahnya tingkat produktivitas pertanian,
minimnya penerapan inovasi dan teknologi pertanian, serta perubahan
iklim yang tidak menentu turut memperparah kondisi kehidupan sosial
ekonomi
masyarakat
perdesaan.Kondisi
ini
selanjutnya
memicu
meningkatnya peralihan lapangan pekerjaan di perdesaan menjadi ke arah
non pertanian dan mendorong terjadinya migrasi penduduk ke perkotaan
untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak.
Berdasarkan data Permendagri Nomor 39 Tahun 2015, pada tahun
2014 terdapat 514 kabupaten/kota dengan jumlah desa sebanyak 74.093
desa. Sedangkan berdasarkan Permendagri Nomor 56 Tahun 2015 jumlah
desa bertambah 661 desa, menjadi sebesar 74.754 desa.
Berdasarkan Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang disusun Bappenas
dan BPS, dari 74.093 desa tersebut terdapat 20.167 desa dengan klasifikasi
tertinggal (27,22%), 51.022 desa dengan klasifikasi berkembang (68,86%)
dan 2.904 desa mandiri (3,92%).
Sedangkan berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) yang
dianalisis oleh Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi terdapat 13.453
desayangberstatus sangat tertinggal, 33.592 desa dengan status tertinggal,
22.882 desa dengan status berkembang, dan 174 desa dengan status desa

mandiri.Hal ini dihitung berdasarkan jumlah desa pada Podes 2014 yang
berjumlah 73.709 desa. Klasifikasi jumlah desa berdasarkan IPD dan IDM
dapatdilihat pada Tabel 1.
Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa baik berdasarkan analisis
IPD maupun IDM, jumlah desa yang memiliki klasifikasi tertinggal ataupun
sangat tertinggal masih cukup banyak, sedangkan desa yang memiliki
status mandiri masih sangat sedikit dibanding desa dengan desa yang
memiliki klasifikasi berkembang, tertinggal atau bahkan sangat tertinggal.
Hal ini mengisyaratkan bahwa kondisi masyarakat desa masih perlu
penanganan dan kebijakan yang lebih berpihak kepada pembangunan desa
dan kawasan perdesaan.Salah satu jawaban untuk menyelesaikan
masalah-masalah di atas adalah melalui pembangunan berbasiskan
kawasan perdesaan.
Tabel 1
Status Desa berdasarkan IPD dan IDM
No
1
2
3
4
5

IPD
Status Desa Jumlah
Tertinggal
20.167
Berkembang 51.022
Mandiri
2.904

Jumlah

%
27,22%
68,86%
3,92%

74.093 100,00%

IDM
Status Desa
Jumlah
%
Sangat Tertinggal
13.453
18,25%
Tertinggal
33.592
45,57%
Berkembang
22.882
31,04%
Maju
3.608
4,89%
Mandiri
174
0,24%
Jumlah
73.709 100,00%

Pelaksanaan pembangunan dalam satuan kawasan perdesaan


sebetulnya sudah banyak dilakukan jauh sebelum Undang-undang Nomor
6 Tahun 2014 lahir. Beberapa model atau bentuk kegiatan pembangunan
kawasan
perdesaan
telah
diperkenalkan
oleh
beberapa
kementerian/lembaga di beberapa kabupaten/kota terpilih, diantaranya:
1. PKPBM : Pembangunan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat.
2. P2KPB : Prakarsa Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan.
3. Pengembangan Agropolitan.
4. Pengembangan Minapolitan.
5. KTM : Kota Terpadu Mandiri.
Pembangunan Kawasan PerdesaanBerbasis Masyarakat (PKPBM)
adalah pembangunan kawasan perdesaan yang dilakukan atas prakarsa
masyarakat
yang
meliputi
penataan
ruang
secara
partisipatif,
pengembangan pusat pertumbuhan terpadu antar desa (PPTAD), dan
penguatan kapasitas masyarakat, kelembagaan dan kemitraan. Dasar

PKPBM adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2007


Tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat. Kegiatan
PKPBM dikelola oleh Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa,
Kementerian Dalam Negeri.
Prakarsa Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan
(P2KPB) adalah kegiatan yang digagas oleh Kementerian Pekerjaan Umum
Direktorat Jenderal Penataan Ruang, yang sekarang menginduk ke
Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional.
Maksud kegiatan yaitu mewujudkan rencana tata ruang yang mendukung
terciptanya kawasan perdesaan yang mampu bersinergi satu dengan
lainnya,
berkelanjutan
ekosistem
dan
menciptakan
lingkungan
permukiman yang sehat.
Pengembangan Agropolitan yaitu pengembangan wilayah perdesaan
atau kota-kota perdesan yang aktifitas utamanya adalah kegiatan
agribisnis. Agropolitan merupakan bentuk pembangunan yang memadukan
pembangunan pertanian yang merupakan basis utama di perdesaan dengan
sektor industri yang selama ini terpusat dikembangkan di perkotaan.Secara
luas, pengembangan agropolitan berarti mengembangkan perdesaan dengan
cara memperkenalkan industri modern yang disesuaikan dengan
lingkungan perdesaan.
Pengembangan Kawasan Minapolitan adalah upaya menciptakan
pembangunan inter-regional berimbang, khususnya dengan meningkatkan
keterkaitan
pembangunan
kota-desa
(rural-urban
linkage)
yaitu
pengembangan kawasan perdesaan yang terintegrasi di dalam sistem
perkotaan secara fungsional dan spasial. Pengembangan ekonomi
masyarakat lokal/perdesaan sangat penting, dengan diupayakan
optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lokal melalui pengembangan
ekonomi komunitas, investasi social capital dan human capital, investasi di
bidang prasarana dan sumberdaya alam (natural capital).Pengembangan
kawasan Minapolitan dilakukan dengan disertai upaya peningkatan
capacity building di tingkat masyarakat maupun di tingkat pemerintahan
agar menjamin manfaat utama dapat dinikmati masyarakat lokal.Dalam
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, disebutkan
bahwa
Minapolitan
masuk
dalam
kategori
Agropolitan.Kawasan
Agropolitan/Minapolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih
pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi
pertanian/perikanan dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang
ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan
satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis.

Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan transmigrasi atau yang


sekarang diberi nama Kawasan Perkotaan Baru (KPB) adalah kawasan
transmigrasi yang pembangunan dan pengembangannya dirancang menjadi
pusat pertumbuhan yang mempunyai fungsi perkotaan melalui pengelolaan
sumber daya alam yang berkelanjutan.Pencantuman kata kota dalam
pengertian tersebut dimaksudkan untuk menyatukan visi tentang kawasan
transmigrasi yang akan dibangun dan dikembangkan memenuhi fungsifungsi perkotaan, sehingga program transmigrasi ke depat diharapkan
secara psikologis mempunyai dampak positif untuk menarik minat kaum
muda bertransmigrasi, sekaligus mengurangi terjadinya perpindahan
penduduk yang tidak terarah ke kota-kota besar (deurbanisasi) serta
sebagai kota penyangga dalam konteks pembangunan perwilayahan.
Kedepan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi disamping telah menginisiasi KTM, sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya akan turut menangani Kawasan Perdesaan yang
dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan
Perdesaan.
Pelaksanaan pembangunan kawasan perdesaan oleh Kementerian
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersifat inklusif,
sinergis dengan pola-pola pembangunan kawasan perdesaan yang sudah
ada sebelumnya, dan mengawal terwujudnya spirit partisipatif seperti yang
diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

2.2

Potensi dan Permasalahan

Kawasan perdesaan sebagai bagian dari wilayah kabupaten/kota


secara umum menjadi
sumber daya alam yang menjadi energi bagi
pembangunan daerah bahkan nasional.
Namun demikian proses pembangunan yang telah dilaksanakan
selama ini telah menimbulkan berbagai permasalahan yang berkaitan
dengan tingkat kesejahteraan antar wilayah yang tidak berimbang. Hal ini
terutama bisa dilihat dari interaksi antara desa-kota yang secara empiris
seringkali menunjukkan suatu hubungan yang saling memperlemah.
Berkembangnya kota sebagai pusat-pusat pertumbuhan ternyata tidak
memberikan efek penetesan ke bawah (trickle down effect), tetapi justru
menimbulkan efek pengurasan sumberdaya dari wilayah di sekitarnya
(backwash effect). Ada beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya
backwash effect tersebut. Pertama, terbukanya akses ke daerah perdesaan

seringkali mendorong kaum elit kota, pejabat pemerintah pusat, dan


perusahaan-perusahaan besar untuk mengeksploitasi sumberdaya yang
ada di desa.
Masyarakat desa sendiri tidak berdaya karena secara politik dan
ekonomi para pelaku eksploitasi sumberdaya tersebut memiliki posisi tawar
yang jauh lebih kuat. Menurut Anwar (2001), berdasarkan pengalaman
ternyata bertambahnya akses pada pasar yang lebih baik di wilayah
perdesaan di Indonesia, tidak selamanya dapat meningkatkan
pertumbuhan produktivitas pertanian karena seringkali hak-hak (property
right) masyarakat lokal terhadap sumberdaya menjadi terampas oleh
kepentingan kaum elit di luar mereka. Kedua, kawasan perdesaan sendiri
umumnya dihuni oleh masyarakat yang kualitas SDM-nya kurang
berkembang. Kondisi ini mengakibatkan ide-ide dan pemikiran modern dari
kaum elit kota sulit untuk didesiminasikan. Oleh karena itu, sebagian besar
aktivitas pada akhirnya lebih bersifat enclave dengan mendatangkan
banyak SDM dari luar yang dianggap lebih mempunyai keterampilan dan
kemampuan.
Dalam kaitannya dengan sejarah perkembangan wilayah perdesaan di
Indonesia, secara spesifik semakin lemahnya kawasan perdesaan juga
didorong oleh kebijakan nasional yang sangat bersifat urban bias (Anwar
2001). Proses transformasi struktur ekonomi ke arah industrialisasi dan
bertumbuhnya sektor-sektor modern (industri dan jasa) mulai pertengahan
dasawarsa 1980-an, terlalu dipercepat (accelerated) dengan berbagai
proteksi pemerintah sehingga mengarah pada proses yang tidak matang
(immature) dan seringkali merugikan sektor pertanian berupa dikenakannya
pajak-pajak ekspor dan pungutan dalam negeri. Semuanya ini tentunya
merugikan bagi para petani karena harga ekspor pertanian yang menjadi
tidak kompetitif dan pada akhirnya juga berdampak pada melemahnya
pembangunan kawasan perdesaan.
Selain itu, menurut Anwar (2001), meskipun jumlah penduduk
perdesaan lebih banyak jika dibandingkan dengan penduduk kota, tetapi
bentuk permukiman penduduk yang lebih tersebar, lebih miskin, tidak
berpikiran canggih dan kurang terorganisasi telah mengakibatkan
terjadinya bias dalam pengalokasian sumberdaya. Investasi yang dilakukan
di wilayah perdesaan menjadi sangat terbatas karena secara ekonomi tidak
efisien dan terdapat kecenderungan fasilitas-fasilitas umum hanya
terkonsentrasi di pusat-pusat administrasi wilayah lokal. Sedangkan di
wilayah-wilayah perdesaan yang jauh dan miskin, fasilitas-fasilitas seperti
sekolah, Puskesmas, dan penyuluh pertanian tidak dapat dijangkau.

Keterbatasan dan penyediaan sarana prasarana dan tenaga pendidikan


dan kesehatan yang belum memadai menyebabkan kualitas sumber daya
manusia perdesaan rendah. Selain itu, ketersediaan lingkungan
permukiman perdesaan seperti air bersih, perumahan, sanitasi dan
drainase juga masih belum memadai sehingga sebagian besar masyarakat
perdesaan terutama di desa-desa perbatasan, terpencil dan kepulauan
hidup dalam kondisi yang tidak layak. Akses terhadap listrik, transportasi
dan telekomunikasi juga masih rendah terutama di desa-desa perbatasan,
terpencil dan kepulauan.
Permasalahan yang selalu terjadi di desa, terutama di desa-desa
terpencil adalah keterbatasan infrastruktur. Jalan-jalan dari dan menuju
desa masih banyak yang berupa jalan setapak yang sulit dilalui oleh
kendaraan. Kondisi geografis yang berat juga turut mempengaruhi
kelancaran akses masyarakat desa ke kota, padahal kemudahan
aksesibilitas ini sangat diperlukan untuk membangun keterkaitan antara
desa-kota. Ketersediaan sumber daya di perdesaan tidak diikuti dengan
adanya infrastruktur transportasi yang baik sehingga menyulitkan
masyarakat desa untuk memasarkan hasil produksinya.Kualitas layanan
infrastruktur desa yang buruk juga mempengaruhi rendahnya layanan
kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat desa.Akses masyarakat ke
pusat layanan kesehatan relatif jauh dengan infrastruktur yang buruk
menyulitkan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.
Dari segi ketersediaan infrastruktur listrik dan telekomunikasi,
kondisinya tidak jauh berbeda. Belum semua desa teraliri listrik, pada
tahun 2012 tercatat baru 76,6 % rumah tangga di desa yang telah
menggunakan listrik. Terkait jaringan telekomunikasi, sambungan telepon
kabel maupun sinyal telepon nirkabel masih sangat terbatas di perdesaan.
Segala keterbatasan ini membuat masyarakat Desa tidak memiliki akses
yang cukup untuk melakukan proses produksi, pengolahan, maupun
pemasaran dengan optimal sehingga interaksi ekonomi dari desa ke kota
menjadi terhambat.
Berbagai faktor di atas selain mengakibatkan terjadinya backwash
effect, pada akhirnya juga mengakibatkan penguasaan terhadap pasar,
kapital dan kesejahteraan yang lebih banyak dimiliki oleh masyarakat
perkotaan.
Ketidakberdayaan masyarakat perdesaan dapat disebabkan oleh faktor
ekonomi maupun non ekonomi. Masih rendahnya keberlanjutan
pembangunan di desa, disebabkan antara lain karena tingkat kemandirian
masyarakat masih rendah. Masyarakat adat dan desa adat juga belum
optimal direkognisi dan rendahnya integrasi budaya dan adat istiadat
8

masyarakat adat dalam pembangunan. Hal tersebut utamanya disebabkan


kurangnya pendampingan pada masyarakat dalam pengelolaan desa dan
pelaksanaan pembangunan
Sebagai akibatnya masyarakat perdesaan kondisinya semakin
terpuruk dalam kemiskinan dan kebodohan. Melihat kondisi yang demikian
maka masyarakat perdesaan secara rasional mulai melakukan migrasi ke
wilayah perkotaan. Meskipun tidak ada jaminan bahwa mereka akan
mendapatkan pekerjaan, tetapi kehidupan di kota lebih memberikan
harapan untuk menambah penghasilan. Karena itu berkembanglah sektorsektor informal dan pemukiman-pemukiman kumuh di perkotaan.
Kecepatan urbanisasi yang sedemikian besar ini ternyata pada beberapa
kasus menjadi semakin sulit untuk diatasi sehingga muncullah berbagai
dampak negatif seperti kemacetan, polusi, sampah, pengangguran,
kriminalitas dan sebagainya.
Isu strategis terkait penggunaan lahan di desa-desa adalah tingginya
konversi lahan produktif menjadi lahan terbangun. Pengaruh dari aktifitas
perkotaan turut mengubah mata pencaharian masyarakat desa dari
pertanian menjadi jasa dan perdagangan. Penataan ruang kawasan
perdesaan yang masih belum optimal memberikan peluang bagi kawasankawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan air mengalami
terkonversi, sehingga menimbulkan dampak berkurangnya sumber daya
air. Selain itu, isu menurunnya kualitas sumber daya alam dan lingkungan
hidup desa-desa di luar Pulau Jawa disebabkan ekspansi dari perusahaanperusahaan tambang dan sejenisnya yang mengubah lingkungan hidup
menjadi area tambang sehingga menimbulkan konflik sumber daya alam.
Contoh dari penurunan kualitas lingkungan hidup tersebut adalah adanya
HPH (Hak Pengelolaan Hutan) melenyapkan hutan di Kalimantan dengan
eksploitasi hutan secara masif. Alih fungsi lahan laut yang digunakan
untuk pertambangan, pariwisata, maupun pembangkit listrik juga
menyebabkan berkurangnya sumber daya laut di sekitarnya. Hal tersebut
menyebabkan kualitas lingkungan hidup masyarakat desa memburuk dan
sumber pangan menjadi berkurang.
Berdasarkan uraian di atas, beberapa permasalahan pokok dan isu-isu
strategis pembangunan desa dan kawasan perdesaan adalah:
1. Tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat di perdesaan yang
masih rendah;
2. Ketersediaan sarana dan prasarana fisik maupun non-fisik di desa dan
kawasan perdesaan yang belum memadai;
3. Ketidakberdayaan masyarakat perdesaan akibat faktor ekonomi maupun
non ekonomi;

4. Kualitas lingkungan hidup masyarakat desa memburuk dan sumber


pangan yang terancam berkurang;
5. Pengembangan potensi ekonomi lokal desa yang belum optimal akibat
kurangnya akses dan modal dalamproses produksi, pengolahan,
maupun pemasaran hasil produksi masyarakat desa.
Dengan disahkannya UU Desa memberikan harapan dan peluang
bagi Desa untuk mendapat perhatian lebih dari Pemerintah, Pemerintah
Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mendorong mempercepat
pembangunannya.Desa menjadi titik simpul terkecil pembangunan,
sehingga mendinamisasikan pembangunan di desa akan memberikan
dampak terhadap pembangunan pada lingkup kewilayahan yang lebih luas.
Konsekuensinya, pembangunan di desa tidak seharusnya hanya
berfokus pada keberadaan desa tersebut. Desa harus dibangun dalam
sebuah kerangka pembangunan yang koheren, terencana, dan terpadu,
sehingga diperlukan perencanaan dan penetapan pembangunan kawasan
perdesaan.
Dengan demikian, pembangunan di desa didorong dalam perspektif
kawasan sehingga akselerasi pembangunan dapat lebih cepat, mengingat
potensi dan permasalahan desa dapat terpetakan dan diselesaikan dalam
perspektif yang lebih komprehensif.

10

BAB II
VISI, MISI, DAN TUJUAN
Visi dan Misi Kementerian/Lembaga (dan Unit Kerja didalamnya)
adalah Visi dan Misi Presiden terpilih. Tujuan dan Sasaran Direktorat
Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan sebagai Unit Kerja Eselon Satu
(UKE-I) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi diturunkan dari Visi dan Misi Presiden, sembilan (9) agenda
prioritas (Nawacita), serta RPJMN 2015-2019.

2.1

Visi

Visi Presiden yang menjadi Visi Kementerian/Lembaga dan unit kerja


didalamnya, yaitu: terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan
berkepribadian berlandaskan gotong royong.

2.2

Misi

Misi Presiden yang menjadi misi Kementerian/Lembaga dan unit kerja


didalamnya ada enam (6), yaitu:
1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan
wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan
sumberdaya maritim, dan mencerminkan kepribadian indonesia sebagai
negara kepulauan;
2. Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri
sebagai negara maritim;
3. Mewujudkan kualitas hidup manusia indonesia yang tinggi, maju dan
sejahtera;
4. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing;
5. Mewujudkan indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju,
kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional;
6. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Nawacita
Dalam rangka pelaksanaanVisi dan Misi tersebut, Presiden memiliki
sembilan (9) Agenda Strategis Prioritas atau dikenal dengan istilah Nawa
Cita. Nawacita yang terkait dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi,

11

khususnya Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan yaitu


Nawacita ketiga yang berbunyi:Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan
Memperkuat Daerah-Daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan.

2.3

Tujuan

Mengacu kepada Visi dan Misi Presiden serta ketentuan dalam


Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka Tujuan
Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan yaitu: mempercepat
dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan
masyarakat Desa di Kawasan Perdesaan melalui pendekatan pembangunan
partisipatif.

2.4

Sasaran

Mengacu kepada Sasaran RPJMN 2015-2019, maka Sasaran Strategis


Direktorat
Jenderal
Pembangunan
Kawasan
Perdesaan,
adalah
berkurangnya jumlah desa tertinggal sampai 5.000 desa dan meningkatkan
jumlah desa mandiri sedikitnya 2.000 desa.
Pengertian Desa Mandiri dan Desa Tertinggal telah dijelaskan dalam
Indeks Desa Membangun (IDM) yang dikeluarkan oleh Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi seperti uraian berikut.
Indeks Desa Membangun mengklasifikasi Desa dalam lima (5) status,
yakni: (i) Desa Sangat Tertinggal; (ii) Desa Tertinggal; (iii) Desa Berkembang;
(iv) Desa Maju; dan (v) Desa Mandiri.
Klasifikasi Desa tersebut untuk menunjukkan keragaman karakter
setiap Desa dalam rentang skor 0,27 0,92 Indeks Desa Membangun.
Klasifikasi dalam 5 status Desa tersebut juga untuk menajamkan
penetapan status perkembangan Desa dan sekaligus rekomendasi
intervensi kebijakan yang diperlukan.
Status Desa Tertinggal dijelaskan dalam dua status Desa Tertinggal
dan Desa Sangat Tertinggal di mana situasi dan kondisi setiap Desa yang
ada di dalamnya membutuhkan pendekatan dan intervensi kebijakan yang
berbeda.
Dengan nilai rata-rata nasional Indeks Desa Membangun 0,566
klasifikasistatus Desa ditetapkan dengan ambang batas sebagai berikut:
1. Desa Sangat Tertinggal : < 0,491
2. Desa Tertinggal
: > 0,491 dan < 0,599
3. Desa Berkembang
: > 0,599 dan < 0,707

12

4. Desa Maju
5. Desa Mandiri

: > 0,707 dan < 0,815


: > 0,815

Desa Berkembang terkait dengan situasi dan kondisi dalam status


Desa Tertinggal dan Desa Sangat Tertinggal dapat dijelaskan dengan faktor
kerentanan. Apabila ada tekanan faktor kerentanan, seperti terjadinya
goncangan ekonomi, bencana alam, ataupun konflik sosial maka akan
membuat status Desa Berkembang jatuh turun menjadi Desa Tertinggal.
Dan biasanya, jika faktor bencana alam tanpa penanganan yang cepat dan
tepat, atau terjadinya konflik sosial terus terjadi berkepanjangan maka
sangat potensial berdampak menjadikan Desa Tertinggal turun menjadi
Desa Sangat Tertinggal. Sementara itu, kemampuan Desa Berkembang
mengelola daya, terutama terkait dengan potensi, informasi/nilai, inovasi/
prakarsa, dan kewirausahaan akan mendukung gerak kemajuan Desa
Berkembang menjadi Desa Maju.
Klasifikasi status Desa berdasar Indeks Desa Membangun ini juga
diarahkan untuk memperkuat upaya memfasilitasi dukungan pemajuan
Desa menuju Desa Mandiri. Desa Berkembang, dan terutama Desa Maju,
kemampuan mengelola Daya dalam ketahanan sosial, ekonomi, dan ekologi
secara berkelanjutan akan membawanya menjadi Desa Mandiri.

KEADILAN
PEMERATAAN

SOSIAL
DESA
MANDIRI

EKONOMI

KEBERLANJUTAN
NILAI DAN
BUDAYA

RAMAH
LINGKUNGAN

EKOLOGI

Gambar 1.
Tiga Dimensi Indeks Desa Membangun (IDM).

13

Indeks Desa Membangun merupakan komposit dari ketahanan sosial,


ekonomi dan ekologi. IDM didasarkan pada 3 (tiga) dimensi tersebut dan
dikembangkan lebih lanjut dalam 22 Variabel dan 52 indikator.
Penghitungan IDM pada 73.709 Desa berdasar data Podes 2014 dengan
angka rata-rata 0,566 menghasilkan data sebagai berikut:
Desa Sangat Tertinggal : 13.453 Desa atau 18,25 %
Desa Tertinggal
: 33.592 Desa atau 45,57 %
Desa Berkembang
: 22.882 Desa atau 31,04 %
Desa Maju
: 3.608 Desa atau 4,89 %
Desa Mandiri
: 174 Desa atau 0,24%
Secara spesifik Sasaran Kegiatan Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan yaitu:
1. Penerbitan kebijakan di bidang perencanaan pembangunan kawasan
perdesaan, pembangunan sarana/prasarana kawasan perdesaan, dan
pembangunan ekonomi kawasan perdesaan;
2. Terlaksananya kebijakan di bidang perencanaan pembangunan
kawasan perdesaan, pembangunan sarana/prasarana kawasan
perdesaan, dan pembangunan ekonomi kawasan perdesaan;
3. Penerbitan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) di bidang
perencanaan pembangunan kawasan perdesaan, pembangunan
sarana/prasarana kawasan perdesaan, dan pembangunan ekonomi
kawasan perdesaan;
4. Terlaksananya administrasi Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan
perdesaan.
Target Kinerja Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan
sekaligus menjadi Indikator Kinerja Program (IKP) yaitu:
1. Meningkatnya pelayanan dukungan menajemen dan tugas teknis
lainnya pada Ditjen Pembangunan Kawasan Perdesaan
2. Meningkatnya
koordinasi,
sinergi
dan
kualitas
perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan di 5 (lima) wilayah
3. Berkembangnya ekonomi kawasan perdesaan 450 kawasan dan 1.000
kecamatan lokasi Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B)
4. Berkembangnya sarana dan prasarana kawasan perdesaan 350
kawasan
5. Berkembangnya pengelolaan sumberdaya alam di kawasan perdesaan di
850 kawasan.
6. Berkembangnya kapasitas dan kerjasama kawasan perdesaan di 34
provinsi.

14

BAB III
ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI
Arah kebijakan dan strategi merupakan pendekatan dalam
memecahkan permasalahan yang penting dan mendesak untuk segera
dilaksanakan dalam kurun waktu 2015-2019 serta memiliki dampak yang
besar terhadap pencapaian sasaran nasional, sasaran strategis
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi,
serta sasaran strategis Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan
Perdesaan.
Arah Kebijakan dan Strategi yang dituangkan dalam dokumen
Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan
dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:
1. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional (penugasan dari UU Desa, UU
Penataan Ruang, dan RPJMN 2015-2019);
2. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi;
3. Arah Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan.

3.1

Arah Kebijakan dan Strategi Nasional

Arah Kebijakan Pembangunan Kawasan Perdesaan mengacu kepada:


1. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
3. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019.
Menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007, penataan ruang
berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan
perkotaan dan penataan ruang kawasan perdesaan. Kawasan Perdesaan
terkait rencana struktur ruang wilayah (nasional, provinsi, ataupun
kabupaten) dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana.
Rencana tataruang kawasan perdesaan merupakan bagian dari rencana
tata runag wilayah kabupaten yang dapat disusun sebagai instrumen
pemanfaatan ruang untuk mengoptimalkan kegiatan pertanian (dalam arti
luas) yang dapat berbentuk kawasan agropolitan.

15

Pengertian kawasan agropolitan menurut Undang-undang Nomor 26


Tahun 2007 yaitu kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan
pada wilayah perdesaan sebagai sistem produski pertanian dan pengeolaan
sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan
fungsional dan memiliki hirarki keruangan satuan sistem permukiman dan
sistem agribisnis.
26
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penataan ruang kawasan perdesaan menurut Undang-undang Nomor


Tahun 2007 diarahkan untuk:
pemberdayaan masyarakat perdesaan;
Pertahanan kualitas lingkungan setempat dan wilayah yang
didukungnya;
Konservasi sumberdaya alam;
Pelestarian warisan budaya lokal;
Pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan untuk ketahanan
pangan; dan
Penjagaan keseimbangan pembangunan perdesaan-perkotaan.

Pembangunan Kawasan Perdesaan berdasarkan Undang-undang Nomor


6 Tahun 2014 Pasal 83 ayat (3) meliputi:
1. penggunaan dan pemanfaatan wilayah Desa dalam rangka penetapan
kawasan pembangunan sesuai dengan tata ruang Kabupaten/Kota;
2. pelayanan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat perdesaan;
3. pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi perdesaan, dan
pengembangan teknologi tepat guna; dan
4. pemberdayaan masyarakat Desa untuk meningkatkan akses terhadap
pelayanan dan kegiatan ekonomi.
Pembangunan Kawasan Perdesaan diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Selanjutnya telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2005
tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
Tentang Desa.
Beberapa pengaturan yang terkait dengan Kawasan
Perdesaan yaitu:
1. Pembangunan kawasan perdesaan merupakan perpaduan pembangunan
antar-Desa yang dilaksanakan dalam upaya mempercepat dan
meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan
masyarakat Desa melalui pendekatan pembangunan partisipatif.
2. Pembangunan kawasan perdesaan terdiri atas:

16

a. Penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan secara


partisipatif;
b. Pengembangan pusat pertumbuhan antar-Desa secara terpadu;
c. Penguatan kapasitas masyarakat;
d. Kelembagaan dan kemitraan ekonomi; dan
e. Pembangunan infrastruktur antarperdesaan.
3. Pembangunan
kawasan
perdesaan
memperhatikan
kewenangan
berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa serta
pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial melalui pencegahan
dampak sosial dan lingkungan yang merugikan sebagian dan/atau
seluruh Desa di kawasan perdesaan.
4. Pembangunan kawasan perdesaan dilaksanakan di lokasi yang telah
ditetapkan oleh bupati/walikota.
5. Penetapan lokasi pembangunan kawasan perdesaan dilaksanakan
dengan mekanisme:
a. Pemerintah Desa melakukan inventarisasi dan identifikasi mengenai
wilayah, potensi ekonomi, mobilitas penduduk, serta sarana dan
prasarana Desa sebagai usulan penetapan Desa sebagai lokasi
pembangunan kawasan perdesaan;
b. Usulan penetapan Desa sebagai lokasi pembangunan kawasan
perdesaan disampaikan oleh kepala Desa kepada bupati/walikota;
c. Bupati/walikota melakukan kajian atas usulan untuk disesuaikan
dengan rencana dan program pembangunan kabupaten/kota; dan
d. Berdasarkan hasil kajian atas usulan, bupati/walikota menetapkan
lokasi pembangunan kawasan perdesaan dengan keputusan
bupati/walikota.
6. Bupati/walikota dapat mengusulkan program pembangunan kawasan
perdesaan di lokasi yang telah ditetapkannya kepada gubernur dan
kepada Pemerintah melalui gubernur.
7. Program pembangunan kawasan perdesaan yang berasal dari
kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian dan pemerintah
daerah provinsi dibahas bersama pemerintah daerah kabupaten/kota
untuk ditetapkan sebagai program pembangunan kawasan perdesaan.

17

Tabel 2.
Perbandingan antara Pembangunan Desa dengan Pembangunan
Kawasan Perdesaan Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2014

ASPEK

PEMBANGUNAN DESA /
DESA MEMBANGUN

PEMBANGUNAN KAWASAN
PERDESAAN /
MEMBANGUN DESA MELALUI
KERJASAMA ANTAR DESA DALAM
KAWASAN PERDESAAN

Lingkup Wilayah

Desa/Desa Adat

Perpaduan pembangunan antar-Desa


dalam 1 (satu) Kabupaten/Kota

Tujuan

Meningkatkan kesejahteraan
masyarakat Desa dan kualitas hidup
manusia serta penanggulangan
kemiskinan

Mempercepat dan meningkatkan


kualitas pelayanan, pembangunan,
dan pemberdayaan masyarakat Desa
melalui pendekatan pembangunan
partisipatif

Acuan/Diacu

Perencanaan pembangunan
Kabupaten/Kota

Tata ruang Kabupaten/Kota

Cakupan

a. Pemenuhan kebutuhan dasar;


b. Pembangunan sarana dan
prasarana Desa;
c. Pengembangan potensi ekonomi
lokal;
d. Pemanfaatan sumber daya alam
dan lingkungan secara
berkelanjutan.

a. Penyusunan rencana tata ruang


kawasan perdesaan secara
partisipatif;
b. Pengembangan pusat
pertumbuhan antar-Desa secara
terpadu;
c. Penguatan kapasitas masyarakat;
d. Kelembagaan dan kemitraan
ekonomi;
e. Pembangunan infrastruktur
antarperdesaan.

Prioritas, program,
kegiatan, dan kebutuhan

a. Peningkatan kualitas dan akses


terhadap pelayanan dasar;
b. Pembangunan dan pemeliharaan
infrastruktur dan lingkungan
berdasarkan kemampuan teknis
dan sumber daya lokal yang
tersedia;
c. Pengembangan ekonomi pertanian
berskala produktif;
d. Pengembangan dan pemanfaatan
teknologi tepat guna untuk
kemajuan ekonomi; dan
e. Peningkatan kualitas ketertiban
dan ketenteraman masyarakat desa
berdasarkan kebutuhan
masyarakat desa.

a. Penggunaan dan Pemanfaatan


Wilayah Desa Dalam Rangka
Penetapan Kawasan
Pembangunan Sesuai Dengan
Tata Ruang Kabupaten/Kota;
b. Pelayanan yang Dilakukan untuk
Meningkatkan Kesejahteraan
Masyarakat Perdesaan;
c. Pembangunan Infrastruktur,
Peningkatan Ekonomi Perdesaan,
dan Pengembangan Teknologi
Tepat Guna; dan
d. Pemberdayaan Masyarakat Desa
untuk Meningkatkan Akses
Terhadap Pelayanan Dan
Kegiatan Ekonomi.

Pelaksana

Pemerintah Desa dan masyarakat


Desa dengan semangat gotong royong
serta memanfaatkan kearifan lokal
dan sumber daya alam Desa

Pemerintah, Pemerintah Daerah


Provinsi, Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota, dan Pemerintah
Desa

Prinsip Dasar

Kewenangan berdasarkan hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa.


Pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial

Arah kebijakan dan strategi pembangunan desa dan kawasan


perdesaan, termasuk di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, kawasan
transmigrasi dan kepulauan dan pulau kecil, menurut RPJMN 2015-2019
yaitu:

18

1. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Desa termasuk permukiman


transmigrasi sesuai dengan kondisi geografis Desa, melalui strategi:
a. meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana perumahan dan
fasilitas permukiman;
b. meningkatkan ketersediaan tenaga pengajar serta sarana dan
prasarana pendidikan;
c. meningkatkan ketersediaan tenaga medis serta sarana dan
prasarana kesehatan;
d. meningkatkan ketersediaan sarana prasarana perhubungan antar
permukiman ke pusat pelayanan pendidikan, pusat pelayanan
kesehatan, dan pusat kegiatan ekonomi; dan
e. meningkatkan ketersediaan prasarana pengairan, listrik dan
telekomunikasi.
2. Penanggulangan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi
masyarakat Desa termasuk di permukiman transmigrasi, melalui
strategi:
a. fasilitasi pengelolaan BUM Desa serta meningkatkan ketersediaan
sarana prasarana produksi khususnya benih, pupuk, pasca panen,
pengolahan produk pertanian dan perikanan skala rumah tangga
desa;
b. fasilitasi, pembinaan, maupun pendampingan dalam pengembangan
usaha,
bantuan
permodalan/kredit,
kesempatan
berusaha,
pemasaran dan kewirausahaan; dan
c. meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pemanfaatan dan
pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tepat Guna.
3. Pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan, dan
pembentukan modal sosial budaya masyarakat Desa termasuk di
permukiman transmigrasi melalui strategi:
a. mengembangkan
pendidikan
berbasis
ketrampilan
dan
kewirausahaan;
b. memberi pengakuan, penghormatan, perlindungan, dan pemajuan
hak-hak masyarakat adat;
c. mengembangkan kapasitas dan pendampingan kelembagaan
kemasyarakatan desa dan kelembagaan adat secara berkelanjutan;
d. meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat termasuk
perempuan, anak, pemuda dan penyandang disabilitas melalui
fasilitasi, pelatihan, dan pendampingan dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan monitoring pembangunan desa;
e. menguatkan kapasitas masyarakat desa dan masyarakat adat dalam
mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam lahan dan
perairan, serta lingkungan hidup desa termasuk desa pesisir secara
berkelanjutan; dan

19

f.

meningkatkan partisipasi dan kapasitas tenaga kerja (TKI/TKW) di


desa.

4. Pengawalan implementasi UU Desa secara sistematis, konsisten, dan


berkelanjutan
melalui
koordinasi,
fasilitasi,
supervisi,
dan
pendampingan dengan strategi:
a. konsolidasi satuan kerja lintas Kementerian/Lembaga;
b. memastikan berbagai perangkat peraturan pelaksanaan UU Desa
sejalan dengan substansi, jiwa, dan semangat UU Desa, termasuk
penyusunan PP Sistem Keuangan Desa;
c. memastikan distribusi Dana Desa dan Alokasi Dana Desa berjalan
secara efektif, berjenjang, dan bertahap;
d. mempersiapkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam
mengoperasionalisasi pengakuan hak-hak masyarakat adat untuk
dapat ditetapkan menjadi desa adat.
5. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup berkelanjutan,
serta penataan ruang kawasan perdesaan termasuk di kawasan
transmigrasi melalui strategi:
a. menjamin pelaksanaan distribusi lahan kepada desa-desa dan
distribusi hak atas tanah bagi petani, buruh lahan, dan nelayan;
b. menata ruang kawasan perdesaan untuk melindungi lahan pertanian
dan menekan alih fungsi lahan produktif dan lahan konservasi;
c. menyiapkan dan melaksanakan kebijakan untuk membebaskan desa
dari kantong-kantong hutan dan perkebunan;
d. menyiapkan kebijakan tentang akses dan hak desa untuk mengelola
sumber daya alam berskala lokal termasuk pengelolaan hutan negara
oleh desa berorientasi keseimbangan lingkungan hidup dan
berwawasan mitigasi bencana untuk meningkatkan produksi pangan
dan mewujudkan ketahanan pangan;
e. menyiapkan dan menjalankan kebijakan-regulasi baru tentang
shareholding antara pemerintah, investor, dan desa dalam
pengelolaan sumber daya alam;
f. menjalankan program-program investasi pembangunan perdesaan
dengan pola shareholding melibatkan desa dan warga desa sebagai
pemegang saham;
g. merehabilitasi kawasan perdesaan yang tercemar dan terkena
dampak bencana khususnya di daerah pesisir dan daerah aliran
sungai.
6. Pengembangan ekonomi kawasan perdesaan termasuk kawasan
transmigrasi untuk mendorong keterkaitan desa-kota dengan strategi:
a. mewujudkan dan mengembangkan sentra produksi, sentra industri
pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi pariwisata;

20

b. meningkatkan akses transportasi desa dengan pusat-pusat


pertumbuhan ekonomi lokal/wilayah;
c. mengembangkan kerjasama antar desa, antar daerah, dan antar
pemerintah-swasta termasuk kerjasama pengelolaan BUMDesa,
khususnya di luar Jawa-Bali; dan
d. membangun agribisnis kerakyatan melalui pembangunan bank
khusus untuk pertanian, UMKM, dan Koperasi;
e. membangun sarana bisnis/pusat bisnis di perdesaan;
f. mengembangkan komunitas teknologi informasi dan komunikasi bagi
petani untuk berinteraksi denga pelaku ekonomi lainnya dalam
kegiatan produksi panen, penjualan, distribusi, dan lain-lain.

3.2

Arah
Kebijakan
dan
Strategi
Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi

Desa,

Arah kebijakan dan strategi Kementerian Desa, Pembangunan daerah


Tertinggal, dan Transmigrasi yang terkait dengan Pembangunan Kawasan
Perdesaan seperti yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian
Tahun 2015-2019 ini mengacu sepenuhnya kepada arah kebijakan dan
strategi seperti yang tercantum dalam Buku I RPJMN 2015-2019, yaitu:
1. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Desa termasuk permukiman
transmigrasi sesuai dengan kondisi geografis Desa, melalui strategi:
a. meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana perumahan dan
fasilitas permukiman;
b. meningkatkan ketersediaan tenaga pengajar serta sarana dan
prasarana pendidikan;
c. meningkatkan ketersediaan tenaga medis serta sarana dan
prasarana kesehatan;
d. meningkatkan ketersediaan sarana prasarana perhubungan antar
permukiman ke pusat pelayanan pendidikan, pusat pelayanan
kesehatan, dan pusat kegiatan ekonomi; dan
e. meningkatkan ketersediaan prasarana pengairan, listrik dan
telekomunikasi.
2. Penanggulangan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi
masyarakat Desa termasuk di permukiman transmigrasi, melalui
strategi:
a. fasilitasi pengelolaan BUM Desa serta meningkatkan ketersediaan
sarana prasarana produksi khususnya benih, pupuk, pasca panen,
pengolahan produk pertanian dan perikanan skala rumah tangga
desa;

21

b. fasilitasi, pembinaan, maupun pendampingan dalam pengembangan


usaha,
bantuan
permodalan/kredit,
kesempatan
berusaha,
pemasaran dan kewirausahaan; dan
c. meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pemanfaatan dan
pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tepat Guna.
3. Pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan, dan
pembentukan modal sosial budaya masyarakat Desa termasuk di
permukiman transmigrasi melalui strategi:
a. mengembangkan
pendidikan
berbasis
ketrampilan
dan
kewirausahaan;
b. memberi pengakuan, penghormatan, perlindungan, dan pemajuan
hak-hak masyarakat adat;
c. mengembangkan kapasitas dan pendampingan kelembagaan
kemasyarakatan desa dan kelembagaan adat secara berkelanjutan;
d. meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat termasuk
perempuan, anak, pemuda dan penyandang disabilitas melalui
fasilitasi, pelatihan, dan pendampingan dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan monitoring pembangunan desa;
e. menguatkan kapasitas masyarakat desa dan masyarakat adat dalam
mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam lahan dan
perairan, serta lingkungan hidup desa termasuk desa pesisir secara
berkelanjutan; dan
f. meningkatkan partisipasi dan kapasitas tenaga kerja (TKI/TKW) di
desa.
4. Pengawalan implementasi UU Desa secara sistematis, konsisten, dan
berkelanjutan
melalui
koordinasi,
fasilitasi,
supervisi,
dan
pendampingan dengan strategi:
a. konsolidasi satuan kerja lintas Kementerian/Lembaga;
b. memastikan berbagai perangkat peraturan pelaksanaan UU Desa
sejalan dengan substansi, jiwa, dan semangat UU Desa, termasuk
penyusunan PP Sistem Keuangan Desa;
c. memastikan distribusi Dana Desa dan Alokasi Dana Desa berjalan
secara efektif, berjenjang, dan bertahap;
d. mempersiapkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam
mengoperasionalisasi pengakuan hak-hak masyarakat adat untuk
dapat ditetapkan menjadi desa adat.
5. Pengembangan kapasitas dan pendampingan aparatur pemerintah desa
dan kelembagaan pemerintahan desa secara berkelanjutan melalui
strategi:
a. meningkatkan
kapasitas
pemerintah
desa
dan
Badan
Permusyawaratan
Desa
melalui
fasilitasi,
pelatihan,
dan
pendampingan dalam (i) perencanaan, pelaksanaan dan monitoring

22

pembangunan desa; (ii) pengelolaan aset dan keuangan desa; (iii)


penyiapan peta desa dan penetapan batas desa secara digital;
b. Reformasi pelayanan publik termasuk pelayanan di luar jam kantor
oleh desa, kelurahan, dan kecamatan;
c. meningkatkan ketersediaan sarana prasarana pemerintahan desa;
d. mengembangkan kerjasama antar desa;
e. melaksanakan penataan desa; dan
f. mengembangkan pusat informasi desa/balai rakyat.
6. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup berkelanjutan,
serta penataan ruang kawasan perdesaan termasuk di kawasan
transmigrasi melalui strategi:
a. menjamin pelaksanaan distribusi lahan kepada desa-desa dan
distribusi hak atas tanah bagi petani, buruh lahan, dan nelayan;
b. menata ruang kawasan perdesaan untuk melindungi lahan pertanian
dan menekan alih fungsi lahan produktif dan lahan konservasi;
c. menyiapkan dan melaksanakan kebijakan untuk membebaskan desa
dari kantong-kantong hutan dan perkebunan;
d. menyiapkan kebijakan tentang akses dan hak desa untuk mengelola
sumber daya alam berskala lokal termasuk pengelolaan hutan negara
oleh desa berorientasi keseimbangan lingkungan hidup dan
berwawasan mitigasi bencana untuk meningkatkan produksi pangan
dan mewujudkan ketahanan pangan;
e. menyiapkan dan menjalankan kebijakan-regulasi baru tentang
shareholding antara pemerintah, investor, dan desa dalam
pengelolaan sumber daya alam;
f. menjalankan program-program investasi pembangunan perdesaan
dengan pola shareholding melibatkan desa dan warga desa sebagai
pemegang saham;
g. merehabilitasi kawasan perdesaan yang tercemar dan terkena
dampak bencana khususnya di daerah pesisir dan daerah aliran
sungai.
7. Pengembangan ekonomi kawasan perdesaan termasuk kawasan
transmigrasi untuk mendorong keterkaitan desa-kota melalui strategi:
a. mewujudkan dan mengembangkan sentra produksi, sentra industri
pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi pariwisata;
b. meningkatkan akses transportasi desa dengan pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi lokal/wilayah;
c. mengembangkan kerjasama antar desa, antar daerah, dan antar
pemerintah-swasta termasuk kerjasama pengelolaan BUMDesa,
khususnya di luar Jawa-Bali; dan
d. membangun agribisnis kerakyatan melalui pembangunan bank
khusus untuk pertanian, UMKM, dan Koperasi;
e. membangun sarana bisnis/pusat bisnis di perdesaan;

23

f. mengembangkan komunitas teknologi informasi dan komunikasi bagi


petani untuk berinteraksi denga pelaku ekonomi lainnya dalam
kegiatan produksi panen, penjualan, distribusi, dan lain-lain.

3.3

Arah
Kebijakan
dan
Strategi
Pembangunan Kawasan Perdesaan

Direktorat

Jenderal

Arah Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Pembangunan


Kawasan Perdesaan ini disusun dengan mengacu kepada : 1) Undangundang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, 2) Undang-undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, 3) Peraturan Presiden Nomor 2
Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) Tahun 2015-2019, 4) Peraturan Menteri Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 15 Tahun 2015 tentang
Rencana Strategis Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi Tahun 2015-2019, 5) Kebutuhan penanganan permasalahan
kawasan perdesaan yang muncul sebagai dinamika terbaru serta menjadi
prioritas Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya.
Arah Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan, yaitu:
1. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Desa sesuai dengan kondisi
geografis Desa, melalui strategi:
a. meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana perumahan dan
fasilitas permukiman;
b. meningkatkan ketersediaan tenaga pengajar serta sarana dan
prasarana pendidikan;
c. meningkatkan ketersediaan tenaga medis serta sarana dan
prasarana kesehatan;
d. meningkatkan ketersediaan sarana prasarana perhubungan antar
permukiman ke pusat pelayanan pendidikan, pusat pelayanan
kesehatan, dan pusat kegiatan ekonomi; dan
e. meningkatkan ketersediaan prasarana pengairan, listrik dan
telekomunikasi.
2. Penanggulangan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi
masyarakat Desa, melalui strategi:
a. fasilitasi pengelolaan BUM Desa serta meningkatkan ketersediaan
sarana prasarana produksi khususnya benih, pupuk, pasca panen,
pengolahan produk pertanian dan perikanan skala rumah tangga
desa;

24

b. fasilitasi, pembinaan, maupun pendampingan dalam pengembangan


usaha,
bantuan
permodalan/kredit,
kesempatan
berusaha,
pemasaran dan kewirausahaan; dan
c. meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pemanfaatan dan
pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tepat Guna.
3. Pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan, dan
pembentukan modal sosial budaya masyarakat Desa melalui strategi:
a. mengembangkan
pendidikan
berbasis
ketrampilan
dan
kewirausahaan;
b. memberi pengakuan, penghormatan, perlindungan, dan pemajuan
hak-hak masyarakat adat;
c. mengembangkan kapasitas dan pendampingan kelembagaan
kemasyarakatan desa dan kelembagaan adat secara berkelanjutan;
d. meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat termasuk
perempuan, anak, pemuda dan penyandang disabilitas melalui
fasilitasi, pelatihan, dan pendampingan dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan monitoring pembangunan desa;
e. menguatkan kapasitas masyarakat desa dan masyarakat adat dalam
mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam lahan dan
perairan, serta lingkungan hidup desa termasuk desa pesisir secara
berkelanjutan; dan
f. meningkatkan partisipasi dan kapasitas tenaga kerja (TKI/TKW) di
desa.
4. Pengembangan ekonomi kawasan perdesaan untuk mendorong
keterkaitan desa-kota melalui strategi :
a. mewujudkan dan mengembangkan sentra produksi, sentra industri
pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi pariwisata;
b. meningkatkan akses transportasi desa dengan pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi lokal/wilayah;
c. mengembangkan kerjasama antar desa, antar daerah, dan antar
pemerintah-swasta termasuk kerjasama pengelolaan BUMDesa,
khususnya di luar Jawa-Bali; dan
d. membangun agribisnis kerakyatan melalui pembangunan bank
khusus untuk pertanian, UMKM, dan Koperasi;
e. membangun sarana bisnis/pusat bisnis di perdesaan;
f. mengembangkan komunitas teknologi informasi dan komunikasi bagi
petani untuk berinteraksi denga pelaku ekonomi lainnya dalam
kegiatan produksi panen, penjualan, distribusi, dan lain-lain.
5. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup berkelanjutan,
serta penataan ruang kawasan perdesaan melalui strategi:
a. menjamin pelaksanaan distribusi lahan kepada desa-desa dan
distribusi hak atas tanah bagi petani, buruh lahan, dan nelayan;

25

b. menata ruang kawasan perdesaan untuk melindungi lahan pertanian


dan menekan alih fungsi lahan produktif dan lahan konservasi, serta
upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan,
pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat Desa;
c. menyiapkan dan melaksanakan kebijakan untuk membebaskan desa
dari kantong-kantong hutan dan perkebunan;
d. menyiapkan kebijakan tentang akses dan hak desa untuk mengelola
sumber daya alam berskala lokal termasuk pengelolaan hutan negara
oleh desa berorientasi keseimbangan lingkungan hidup dan
berwawasan mitigasi bencana untuk meningkatkan produksi pangan
dan mewujudkan ketahanan pangan;
e. menyiapkan dan menjalankan kebijakan-regulasi baru tentang
shareholding antara pemerintah, investor, desa, dan warga desa
dalam pengelolaan sumber daya alam;
f. menjalankan program-program investasi pembangunan perdesaan
dengan pola shareholding melibatkan desa dan warga desa sebagai
pemegang saham;
g. merehabilitasi kawasan perdesaan yang tercemar dan terkena
dampak bencana khususnya di daerah pesisir dan daerah aliran
sungai.
6. Pengawalan implementasi UU Desa secara sistematis, konsisten, dan
berkelanjutan
melalui
koordinasi,
fasilitasi,
supervisi,
dan
pendampingan melalui strategi :
a. konsolidasi satuan kerja lintas Kementerian/Lembaga;
b. memastikan berbagai perangkat peraturan pelaksanaan UU Desa
sejalan dengan substansi, jiwa, dan semangat UU Desa;
c. memastikan distribusi Dana Desa berjalan secara efektif, berjenjang,
dan bertahap.

3.4

Program dan Kegiatan

Program didefinisikan sebagai instrumen kebijakan yang berisi satu


atau lebih kegiatan untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh
alokasi anggaran, dan/atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh
K/L. Penyusunan program mengacu kepada Pedoman Restrukturisasi
Program dan Kegiatan (Buku 1) dari Pedoman Reformasi Perencanaan dan
Penganggaran (Kementerian Keuangan dan Bappenas, 2009). Program
disusun dalam kerangka strategi nasional dan merupakan salah satu
elemen dalam pencapaian rencana pembangunan nasional. Program harus
dapat menggambarkan kontribusidari pelaksanaan pemerintahan dalam
rangka mencapai sasaranpembangunan nasional.
Program Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan
mencakup serangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis

26

untukmencapai tujuan. Program yang dilakukan Direktorat Jenderal


Pembangunan Kawasan Perdesaan adalah Program Pembangunan
Kawasan Perdesaan.
Outcome yang diharapkan dari program Direktorat Jenderal
Pembangunan Kawasan Perdesaan adalah: Terwujudnya Percepatan dan
Peningkatan Pelayanan Dasar, Pembangunan dan Pemberdayaan
Masyarakat Kawasan Perdesaan melalui Pendekatan Pembangunan
Partisipatif.
Kegiatan didefinisikan sebagai bagian dari program yang
dilaksanakan oleh satuan kerja setiap Eselon II yang terdiri dari
sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya baik yang berupa personil
(sumberdaya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi,
dana, dan/atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumberdaya
tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output)
dalam bentuk barang/jasa.
Dalam restrukturisasi program dan kegiatan, setiap unit kerja Eselon
II memiliki akuntabilitas kinerja untuk satu kegiatan. Kegiatan Direktorat
Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan disinergikan dengan tugas
pokok dan fungsi pada masing-masing Eselon II di bawahnya yang
mencakup enam kegiatan dalam menunjang tupoksinya yaitu:
1) Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen
Pembangunan Kawasan Perdesaan
2) Penyelenggaraan Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan
3) Pengembangan Ekonomi Kawasan Perdesaan
4) Pengembangan Sarana Prasarana Kawasan Perdesaan
5) Pengembangan Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan
6) Peningkatan Kerjasama dan Pengembangan Kapasitas
Ruang lingkup kegiatan dan kegiatan unggulan (fokus masing-masing
kegiatan) adalah sebagai berikut:
1) Dukungan Manajemen dan Dukungan
Pembangunan Kawasan Perdesaan

Teknis

Lainnya

Ditjen

Ruang lingkup kegiatan meliputi: pemberian pelayanan administratif


kepada semua unsur satuan organisasi di lingkungan Direktorat
Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan, terdiri dari:
a) Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran;
b) Pengelolaan Keuangan dan BMN;
c) Peningkatan Sumberdaya Aparatur dan Pelayanan Umum;

27

d) Pelayanan Hukum dan Kapasitas Organisasi Tata Laksana.


2) Penyelenggaraan Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan
Ruang lingkup kegiatan: difokuskan penyusunan produk-produk
perencanaan pembangunan kawasan perdesaan, penyelenggaraan
forum-forum rapat koordinasi teknis, rapat koordinasi regional maupun
forum rapat lintas kementerian/ lembaga.
Kegiatan unggulan :
a) Fasilitasi Penetapan Kawasan Perdesaan dan Penyusunan Rencana
Aksi Pembangunan Kawasan Perdesaan;
b) Peningkatan Koordinasi Lintas K/L dan Daerah Dalam Upaya
Percepatan
Pembangunan
Kawasan
Perdesaan
(RATEKNIS,
RAKORNAS DAN RAKORPUS);
c) Supervisi, Evaluasi & Pelaporan Perencanaan Pembangunan Kawasan
Perdesaan.
3) Pengembangan Ekonomi Kawasan Perdesaan
Ruang lingkup kegiatan: selain melaksanakan mandat quickwins dan
kegiatan Nawa Cita, juga difokuskan pada peningkatan/pengembangan
usaha dan kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan perdesaan.
Kegiatan unggulan :
a) Analisis Kebijakan Pemanfaaatan Potensi Kehutanan di Kawasan
Perdesaan
b) Analisis Kebijakan Pemanfaaatan Potensi Pertambangan di Kawasan
Perdesaan
c) Penyusunan panduan pemetaan potensi masyarakat dalam
pengembangan pasar antar desa & usaha berbasis komunitas
d) Koordinasi & Sinergi Lintas K/L & Daerah Dalam Pengembangan
Pasar Antar Desa & Usaha Berbasis Komunitas
e) Pendampingan PKKPM (Program Peningkatan Kesejahteraan Keluarga
melalui Pemberdayaan Masyarakat)
f) Pembinaan dan Penambahan Modal BUMDES Antar Desa, UKM dan
Koperasi Skala Kawasan
g) Pendampingan Bantuan Modal Usaha Untuk Masyarakat Miskin
(termasuk penyediaan bantuan modal wirausaha baru di kawasan
perdesaan)
h) Peningkatan Interaksi Pengembangan Investasi Dalam Pengembangan
Kawasan Pertanian/Peternakan Terpadu/Perikanan/Pariwisata

28

i) Pendampingan Promosi dan Pemasaran Hasil Produk BUMDES Antar


Desa
j) Bantuan Pembangunan Pasar Antar Desa (Kecamatan)
k) Bantuan Pembangunan Sarana Bisnis/Pusat Bisnis di Perdesaan
4) Pengembangan Sarana Prasarana Kawasan Perdesaan
Ruang lingkup kegiatan: selain melaksanakan mandat quickwins dan
kegiatan Nawa Cita juga difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan
peningkatan infrastruktur/sarana prasarana di kawasan perdesaan.
Kegiatan unggulan :
a) Peningkatan Koordinasi Lintas K/L dan Daerah Untuk Peningkatkan
Akses Transportasi Antar Desa Dengan Pusat-pusat Pertumbuhan
Ekonomi Lokal/ Wilayah
b) Pengembatan/Peningkatan Jaringan Jalan/Jembatan antar Desa
c) Bantuan PLTS Bagi Rumah Tangga Yang Belum Terjangkau Fasilitasi
PLN
d) Bantuan Pembangunan Dermaga / Jetty
e) Bantuan Pembangunan Jaringan Komunikasi
f) Bantuan Pengembangan/ Peningkatan Sarana Air Bersih Pemukiman
g) Bantuan Kapal Feeder
h) Bantuan Alat Peraga Pendidikan dan Kesehatan
5) Pengembangan Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan
Ruang lingkup kegiatan: selain melaksanakan mandat quickwins dan
kegiatan Nawa Cita juga tetap difokuskan untuk perwujudan
ketahanan/ kemandirian pangan yang bersumber dari potensi lokal dan
pengelolaan SDA yang berkelanjutan
Kegiatan unggulan :
a) Identifikasi & Pemetaan Potensi SDA Kawasan (Profil Database SDA
Kawasan)
b) Pengembangan Peternakan Terpadu Skala Kawasan
c) Pengembangan Perikanan Budidaya Skala Kawasan
d) Bantuan Pembangunan/Pengadaan Ruang Penyimpanan Produk
Pertanian dan Perikanan
e) Koordinasi dan Bantuan Rehabilitasi Kawasan Perdesaan yang
tercemar dan terkena dampak bencana khususnya di daerah pesisir
dan daerah aliran sungai

29

f) Pengembangkan Sentra Produksi, Sentra Industri Pengolahan Hasil


Pertanian dan Perikanan, serta Destinasi Pariwisata Skala Kawasan
6) Peningkatan Kerjasama dan Pengembangan Kapasitas
Ruang lingkup kegiatan: selain melaksanakan mandat quickwins dan
kegiatan Nawa Cita, serta pengembangan /pemantapan kegiatan Usaha
Bisnis Komunitas (UBK), juga tetap difokuskan pada kegiatan
pendampingan, manajemen, peningkatan kapasitas serta kerja sama
multi pihak dalam rangka peningkatan keberdayaan masyarakat.
Kegiatan unggulan :
a) Pendampingan Pelembagaan Pembangunan Kawasan Perdesaan
b) Fasilitasi Pengembangan Kerjasama Antar Desa, Antar Daerah, Dan
Antar Pemerintah dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan
c) Penyiapan Media dan Pembelajaran
d) Pelaksanaan Kerjasama dan Kemitraan Dalam Pemanfaatan Dana
Corporate Social Responsibility (CSR)
e) Pekan Interaksi Kemitraan & Kerjasama Internasional (termasuk
Konferensi Internaional Pembangunan Desa/Kawasan Perdesaan

3.5

Kerangka Regulasi

Kerangka regulasi pembangunan kawasan perdesaan Tahun 20152019 disusun untuk menyempurnakan berbagai peraturan perundangan
terkait kawasan perdesaan yang sudah ada, termasuk peraturan
pendukung Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Beberapa aturan yang terkait dukungan pelaksanaan program dan
kegiatan di Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan yang
akan dilaksanakan dalam periode tahun 2015 -2019, antara lain:
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421);
2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemeritahan Daerah;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang
Bersumber dari APBN;

30

7.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas


Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014;
9. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN III) Tahun 20152019 yang diterbitkan pada 08 Januari 2015;
10. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2015 tentang Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 13);
11. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi Nomor 6 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 463);
12. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi Nomor 15 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Tahun 2015-2019.
Adapun kerangka regulasi yang penting dan paling dibutuhkan
untuk pembangunan kawasan perdesaan tahun 2015-2019 diantaranya
adalah:
1. Pengaturan mengenai Pembangunan Desa yang diperlukan untuk
mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas
hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan
kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana Desa,
pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya
alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Berdasarkan UU No.
6/2014 Tentang Desa, bahwa pengaturannya meliputi tahap
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dengan mengedepankan
kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan guna mewujudkan
pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial.
2. Pengaturan mengenai Pembangunan Kawasan Perdesaan untuk
mendorong
percepatan
dan
peningkatan
kualitas
pelayanan,
pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat Desa di Kawasan
Perdesaan melalui pendekatan pembangunan partisipatif. Berdasarkan
UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, bahwa pengaturannya meliputi:
a. Pedoman umum Penetapan kawasan perdesaan sebagai acuan bagi
Bupati/ Kepala Daerah untuk menetapkan kawasan perdesaan di
daerahnya;
b. penggunaan dan pemanfaatan wilayah Desa dalam rangka
penetapan kawasan pembangunan sesuai dengan tata ruang
Kabupaten/Kota;

31

c. pelayanan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan


masyarakat perdesaan;
d. pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi perdesaan, dan
pengembangan teknologi tepat guna; dan
e. pemberdayaan masyarakat Desa untuk meningkatkan akses
terhadap pelayanan dan kegiatan ekonomi. Regulasi ini diperlukan
untuk melaksanakan amanat UU No. 26 Tahun 2007 Tentang
Penataan Ruang yang belum secara spesifik mengatur mekanisme
penataan ruang kawasan perdesaan, sedangkan dalam PP Nomor 15
Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang belum ada
pengaturan mengenai mekanisme tersebut.

3.6

Kerangka Kelembagaan

3.6.1.

Penataan Kelembagaan

Salah satu upaya untuk mewujudkan pemerintahan yang baik (good


governance) adalah dengan melakukan pembaharuan dan perubahan
mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan melalui
pelaksanaan reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi adalah langkah
strategis untuk membangun aparatur Negara agar lebih berdaya guna dan
berhasil guna dalam mengemban tugas pemerintahan dan pembangunan
nasional.
Di bidang kelembagaan, strategi yang dilakukan dalam mendukung
pelaksanaan reformasi birokrasi yang bertujuan mewujudkan kelembagaan
pemerintah yang proporsional, efektif dan efisien sesuai dengan arah
kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur Negara.
Kebijakan penataan kelembagaan diharapkan merupakan suatu
langkah awal dari proses reformasi birokrasi dalam rangka mendukung
terwujudnya good govemance. Selain itu, langkah kebijakan penataan
tersebut didasarkan pada visi, misi, sasaran, strategi, agenda kebijakan,
program, dan kinerja kegiatan yang terencana, dan diarahkan pada
terbangunnya sosok birokrasi yang rightsizing, efisien, efektif, akuntabel,
serta terjalin dengan jelas satu sama lain sebagai satu kesatuan birokrasi
nasional.
Di samping itu, upaya penataan kelembagaan tersebut dilakukan
agar tercipta good public governance dengan melakukan pembenahan dan
penataan ulang terhadap tugas, fungsi, dan struktur organisasi dengan
berdasarkan kepentingan bangsa dan negara serta melalui pertimbangan
yang matang bukan didasarkan pada politik kepentingan jangka pendek.

32

Pada bab ini akan diuraikan penataan kelembagaan dalam rangka


meningkatkan efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan di Ditjen
PKPyang sinergisdengan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi.
3.6.2.

Struktur Organisasi Ditjen PKP

Untuk melaksanakan program/kegiatan secara efektif dan efisien,


maka telah disusun Struktur Organisasi Kementerian Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi berdasarkan hasil pembahasan
terakhir dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi.
Berikut
adalah
Struktur
Organisasi
Direktorat
Jenderal
Pembangunan Kawasan Perdesaan (Ditjen PKP) serta masing-masing
Direktorat di Lingkungan Ditjen PKP.

DIREKTORAT JENDERAL
PEMBANGUNAN KAWASAN
PERDESAAN

SEKRETARIS
DIREKTORAT
JENDERAL

DIREKTORAT
PERENCANAAN
PEMBANGUNA
N KAWASAN
PERDESAAN

DIREKTORAT
PEMBANGUNA
N EKONOMI
KAWASAN
PERDESAAN

DIREKTORAT
PEMBANGUNAN
SARANA DAN
PRASARANA
KAWASAN
PERDESAAN

DIREKTORAT
PENGEMBANGAN

SUMBERDAYA
ALAM
KAWASAN
PERDESAAN

DIREKTORAT
KERJASAMA
DAN
PENGEMBANGAN

KAPASITAS

Gambar 3
Struktur Organisasi Ditjen PKP
Berdasarkan Struktur di atas, Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan
Perdesaan terdiri atas :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sekretariat Direktorat Jenderal;


Direktorat Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan;
Direktorat Pembangunan Ekonomi Kawasan Perdesaan;
Direktorat Pembangunan Sarana dan Prasarana Kawasan Perdesaan;
Direktorat Pengembangan Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan; dan
Direktorat Kerja Sama dan Pengembangan Kapasitas.

33

3.6.3.

Rincian Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Pembangunan


Kawasan Perdesaan

1. Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan

Rincian Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan


Perdesaan adalah sebagai berikut:
a. Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan mempunyai
tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan serta standarisasi
teknis di bidang pembangunan kawasan perdesaan, menyelenggarakan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan, pembangunan sarana/prasarana
kawasan perdesaan, pengembangan sumber daya alam kawasan
perdesaan, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan menjalankan fungsi :
1) perumusan kebijakan di bidang perencanaan pembangunan kawasan
perdesaan, pembangunan sarana/prasarana kawasan perdesaan, dan
pembangunan ekonomi kawasan perdesaan, pengembangan sumber
daya alam kawasan perdesaan, serta kerja sama dan pengembangan
kapasitas;
2) pelaksanaan kebijakan di bidang perencanaan pembangunan
kawasan perdesaan, pembangunan sarana/prasana kawasan
perdesaan, dan pembangunan ekonomi kawasan perdesaan,
pengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan, serta kerja
sama dan pengembangan kapasitas;
3) penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang
perencanaan pembangunan kawasan perdesaan, pembangunan
sarana/prasana kawasan perdesaan, dan pembangunan ekonomi
kawasan perdesaan, pengembangan sumber daya alam kawasan
perdesaan, serta Kerjasama dan pengembangan kapasitas;
4) pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan, pembangunan sarana/prasana
kawasan perdesaan, dan pembangunan ekonomi kawasan perdesaan,
pengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan, serta kerja
sama dan pengembangan kapasitas;
5) pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan, pembangunan sarana/prasana
kawasan perdesaan, dan pembangunan ekonomi kawasan perdesaan,

34

pengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan, serta kerja


sama dan pengembangan kapasitas;
6) pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan, Pengembangan Sumber Daya Alam Kawasan
Perdesaan, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas; dan
7) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
2. Sekretariat Direktorat Jenderal

Tugas:
Sekretariat Direktorat Jenderal mempunyai tugasmelaksanakan
pemberian pelayanan administratif kepadasemua unsur satuan
organisasi di lingkungan DirektoratJenderal Pembangunan Kawasan
Perdesaan.
Fungsi:
a. koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran,
serta evaluasi dan pelaporan di bidang pembangunan kawasan
perdesaan;
b. pengelolaan data dan informasi;
c. pelaksanaan urusan keuangan dan barang milik negara Direktorat
Jenderal;
d. pelaksanaan urusan kepegawaian dan umum;
e. penyiapan penyusunan rancangan peraturan perundangundangan
dan advokasi hukum; dan
f. penataan organisasi dan tata laksana.
Sekretariat Direktorat Jenderal terdiri atas:
a. Bagian Perencanaan;
b. Bagian Keuangan dan Barang Milik Negara;
c. Bagian Kepegawaian dan Umum; dan
d. Bagian Hukum, Organisasi, dan Tata Laksana.

35

SEKRETARIAT
DIREKTORAT JENDERAL

BAGIAN PERENCANAAN

BAGIAN KEUANGAN
DAN BARANG MILIK
NEGARA

BAGIAN KEPEGAWAIAN
DAN UMUM

BAGIAN HUKUM,
ORGANISASI, DAN TATA
LAKSANA

SUB BAGIAN
PENYUSUNAN
PROGRAM

SUBBAGIAN
PELAKSANAAN
ANGGARAN

SUBBAGIAN
KEPEGAWAIAN

SUBBAGIAN
PENYUSUNAN
PERATURAN
PERUNDANGUNDANGAN

SUBBAGIAN DATA
DAN INFORMASI

SUBBAGIAN
PERBENDAHARA
AN

SUBBAGIAN
PERSURATAN

SUBBAGIAN ADVOKASI
HUKUM

SUBBAGIAN
EVALUASI DAN
PELAPORAN

SUBBAGIAN
AKUNTANSI DAN
BARANG MILIK
NEGARA

SUBBAGIAN
PERLENGKAPAN
DAN RUMAH
TANGGA

SUBBAGIAN ORGANISASI
DAN TATA LAKSANA

Gambar 4
Struktur Organisasi Setdijen PKP

3. Direktorat Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan

Tugas:
melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di
bidang perencanaan pembangunan kawasan perdesaan wilayah
Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku
dan Papua.
Fungsi:
a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan wilayah Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
b. penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan wilayah Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di
bidang perencanaan pembangunan kawasan perdesaan wilayah
Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara,
Maluku dan Papua;

36

d. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang perencanaan


pembangunan kawasan perdesaan wilayah Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
e. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan wilayah Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat
Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan; dan
g. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Direktur Jenderal.
Direktorat Perencanaan Pembangunan
a. Subdirektorat Perencanaan
Wilayah I;
b. Subdirektorat Perencanaan
Wilayah II;
c. Subdirektorat Perencanaan
Wilayah III;
d. Subdirektorat Perencanaan
Wilayah IV;
e. Subdirektorat Perencanaan
Wilayah V; dan
f. Subbagian Tata Usaha.

Kawasan Perdesaanterdiri atas:


Pembangunan Kawasan Perdesaan
Pembangunan Kawasan Perdesaan
Pembangunan Kawasan Perdesaan
Pembangunan Kawasan Perdesaan
Pembangunan Kawasan Perdesaan

DIREKTORAT
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
KAWASAN
PERDESAAN

SUBBAGIAN
TATA USAHA

SUBDIREKTORAT
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
KAWASAN
PERDESAAN WILAYAH I

SUBDIREKTORAT
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
KAWASAN
PERDESAAN WILAYAH II

SUBDIREKTORAT
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
KAWASAN
PERDESAAN WILAYAH III

SUBDIREKTORAT
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
KAWASAN PERDESAAN
WILAYAH IV

SUBDIREKTORAT
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
KAWASAN PERDESAAN
WILAYAH V

SEKSI PERENCANAAN
PROGRAM

SEKSI
PERENCANAAN
PROGRAM

SEKSI PERENCANAAN
PROGRAM

SEKSI PERENCANAAN
PROGRAM

SEKSI PERENCANAAN
PROGRAM

SEKSI EVALUASI DAN


PELAPORAN

SEKSI EVALUASI
DAN PELAPORAN

SEKSI EVALUASI DAN


PELAPORAN

SEKSI EVALUASI DAN


PELAPORAN

SEKSI EVALUASI DAN


PELAPORAN

Gambar 5
Struktur Organisasi Direktorat PerencanaanPembangunan Kawasan Perdesaan

37

4. Direktorat Pembangunan Ekonomi Kawasan Perdesaan

Tugas :
melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di
bidang
analisa
kebijakan
ekonomi
kawasan
perdesaan,
pengembangan
pusat
pertumbuhanekonomi,
pengembangan
permodalan dan investasi, sertapengembangan fasilitas usaha dan
pemasaran.
Fungsi:
a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisa kebijakan
ekonomi kawasan perdesaan, pengembangan pusat pertumbuhan
ekonomi, pengembangan permodalan dan investasi, serta
pengembangan fasilitas usaha dan pemasaran;
b. penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang analisa kebijakan
ekonomi kawasan perdesaan, pengembangan pusat pertumbuhan
ekonomi, pengembangan permodalan dan investasi, serta
pengembangan fasilitas usaha dan pemasaran;
c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di
bidang
analisa
kebijakan
ekonomi
kawasan
perdesaan,
pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi, pengembangan
permodalan dan investasi, serta pengembangan fasilitas usaha dan
pemasaran;
d. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang analisa
kebijakan ekonomi kawasan perdesaan, pengembangan pusat
pertumbuhan ekonomi, pengembangan permodalan dan investasi,
serta pengembangan fasilitas usaha dan pemasaran;
e. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang analisa kebijakan
ekonomi kawasan perdesaan, pengembangan pusat pertumbuhan
ekonomi, pengembangan permodalan dan investasi, serta
pengembangan fasilitas usaha dan pemasaran;
f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat
Pembangunan Ekonomi Kawasan Perdesaan; dan g. pelaksanaan
fungsi lain yang diberikan oleh Direktur Jenderal.
Direktorat Pembangunan Ekonomi Kawasan Perdesaan terdiriatas:
a. Subdirektorat Analisa Kebijakan Ekonomi Kawasan Perdesaan;
b. Subdirektorat Pengembangan Pusat Pertumbuhan Ekonomi;
c. Subdirektorat Pengembangan Permodalan dan Investasi;
d. Subdirektorat Pengembangan Fasilitas Usaha dan Pemasaran; dan
e. Subbagian Tata Usaha.

38

DIREKTORAT
PEMBANGUNAN
EKONOMI
KAWASAN PERDESAAN

SUBBAGIAN
TATA USAHA

SUBDIREKTORAT
ANALISA
KEBIJAKAN EKONOMI
KAWASAN PERDESAAN

SUBDIREKTORAT
PENGEMBANGAN PUSAT
PERTUMBUHAN
EKONOMI

SUBDIREKTORAT
PENGEMBANGAN
PERMODALAN DAN
INVESTASI

SUBDIREKTORAT
PENGEMBANGAN
FASILITAS USAHA DAN
PEMASARAN

SEKSI
ANALISA KEBIJAKAN
PEMANFAATAN
HUTAN

SEKSI
SINKRONISASI
PROGRAM
PEMERINTAH

SEKSI
PENGEMBANGAN
PERMODALAN

SEKSI
PENGEMBANGAN
FASILITAS USAHA
EKONOMI

SEKSI
ANALISA KEBIJAKAN
PERTAMBANGAN

SEKSI
PENYIAPAN
POTENSI
MASYARAKAT

SEKSI
PENGEMBANGAN
INVESTASI

SEKSI
PENGEMBANGAN
FASILITAS PEMASARAN

Gambar 6
Struktur Organisasi Direktorat Pembangunan Ekonomi Kawasan Perdesaan

5. Direktorat Pembangunan Sarana dan Prasarana Kawasan Perdesaan

Tugas :
melaksanakan penyiapanperumusan dan pelaksanaan kebijakan di
bidang
pembangunan sarana dan prasarana wilayah Sumatera, Jawa,Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Fungsi:
a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang sarana dan prasarana
wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku dan Papua;
b. penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang sarana dan prasarana
wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku dan Papua;
c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di
bidang sarana dan prasarana wilayah Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;

39

d. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang sarana dan


prasarana wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
e. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang sarana dan
prasarana wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat
Pembangunan Sarana dan Prasarana Kawasan Perdesaan;
g. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Direktur Jenderal.
Direktorat Pembangunan Sarana dan Prasarana KawasanPerdesaan terdiri
atas:
a. Subdirektorat Pembangunan Sarana Prasarana Wilayah I;
b. Subdirektorat Pembangunan Sarana Prasarana Wilayah II;
c. Subdirektorat Pembangunan Sarana Prasarana Wilayah III;
d. Subdirektorat Pembangunan Sarana Prasarana Wilayah IV;
e. Subdirektorat Pembangunan Sarana Prasarana Wilayah V;dan
f. Subbagian Tata Usaha.

DIREKTORAT
PEMBANGUNAN SARANA
DAN PRASARANA
KAWASAN PERDESAAN

SUBBAGIAN
TATA USAHA

SUBDIREKTORAT
PEMBANGUNAN SARANA
DAN PRASARANA
WILAYAH I

SUBDIREKTORAT
PEMBANGUNAN SARANA
DAN PRASARANA
WILAYAH II

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
EKONOMI

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
EKONOMI

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
PELAYANAN DASAR

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
PELAYANAN
DASAR

SUBDIREKTORAT
PEMBANGUNAN SARANA
DAN PRASARANA
WILAYAH III

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA EKONOMI

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
PELAYANAN DASAR

SUBDIREKTORAT
PEMBANGUNAN SARANA
DAN PRASARANA
WILAYAH IV

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA EKONOMI

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
PELAYANAN DASAR

SUBDIREKTORAT
PEMBANGUNAN SARANA
DAN PRASARANA
WILAYAH V

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
EKONOMI

SEKSI
SARANA DAN
PRASARANA
PELAYANAN DASAR

Gambar 7
Struktur Organisasi Direktorat Pembangunan Sarana dan Prasarana
Kawasan Perdesaan

40

6. Direktorat Pengembangan Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan

Tugas :
melaksanakan penyiapanperumusan dan pelaksanaan kebijakan di
bidangpengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan
wilayahSumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara,Maluku dan Papua.
Fungsi:
a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang pengembangan sumber
daya alam kawasan perdesaan wilayah Sumatera, Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
b. penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang pengembangan
sumber daya alam kawasan perdesaan wilayah Sumatera, Jawa,
Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua;
c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di
bidang pengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan
wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku dan Papua;
d. pemberian
bimbingan
teknis
dan
supervisi
di
bidang
pengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan wilayah
Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara,
Maluku dan Papua;
e. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang pembinaan
pengelolaan pengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan
wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku dan Papua; dan
f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat
Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan; dan
g. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Direktur Jenderal.
Direktorat Pengembangan Sumber Daya Alam KawasanPerdesaan
atas:
a. Subdirektorat Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan Wilayah
b. Subdirektorat Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan Wilayah
c. Subdirektorat Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan Wilayah
d. Subdirektorat Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan Wilayah
e. Subdirektorat Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan Wilayah
f. Subbagian Tata Usaha.

41

terdiri
I;
II;
III;
IV;
V; dan

DIREKTORAT
PENGEMBANGAN
SUMBER
DAYA ALAM KAWASAN
PERDESAAN

SUBBAGIAN
TATA USAHA

SUBDIREKTORAT
PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA ALAM
KAWASAN PERDESAAN
WILAYAH I

SUBDIREKTORAT
PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA ALAM
KAWASAN PERDESAAN
WILAYAH II

SUBDIREKTORAT
PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA ALAM
KAWASAN PERDESAAN
WILAYAH III

SUBDIREKTORAT
PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA ALAM
KAWASAN PERDESAAN
WILAYAH IV

SUBDIREKTORAT
PEMBANGUNAN SARANA
DAN PRASARANA
WILAYAH V

SEKSI
IDENTIFIKASI DAN
PEMETAAN POTENSI

SEKSI
IDENTIFIKASI DAN
PEMETAAN
POTENSI

SEKSI
IDENTIFIKASI DAN
PEMETAAN POTENSI

SEKSI
IDENTIFIKASI DAN
PEMETAAN POTENSI

SEKSI
IDENTIFIKASI DAN
PEMETAAN POTENSI

SEKSI
PENGEMBANGAN
DAN
PEMANFAATAN
POTENSI

SEKSI
PENGEMBANGAN
DAN
PEMANFAATAN
POTENSI

SEKSI
PENGEMBANGAN
DAN
PEMANFAATAN
POTENSI

SEKSI
PENGEMBANGAN
DAN
PEMANFAATAN
POTENSI

SEKSI
PENGEMBANGAN
DAN
PEMANFAATAN
POTENSI

Gambar 8
Struktur Organisasi Direktorat Pengembangan Sumber Daya Alam
Kawasan Perdesaan
7. Direktorat Kerja Sama dan Pengembangan Kapasitas

Tugas :
melaksanakan penyiapan perumusan danpelaksanaan kebijakan di
bidang pendampingan manajemendan teknis, dan penyiapan media
dan pembelajaran, dan kerjasama dan kemitraan, serta keserasian
kawasan perdesaan.
Fungsi:
a. penyiapan
manajemen
dan kerja
perdesaan.
b. penyiapan
manajemen
dan kerja
perdesaan;

perumusan kebijakan di bidang pendampingan


dan teknis, dan penyiapan media dan pembelajaran,
sama dan kemitraan, serta keserasian kawasan
pelaksanaan kebijakan di bidang pendampingan
dan teknis, dan penyiapan media dan pembelajaran,
sama dan kemitraan, serta keserasian kawasan

42

c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di


bidang pendampingan manajemen dan teknis, dan penyiapan
media dan pembelajaran, dan kerja sama dan kemitraan, serta
keserasian kawasan perdesaan;
d. pemberian
bimbingan
teknis
dan
supervisi
di
bidang
pendampingan manajemen dan teknis, dan penyiapan media dan
pembelajaran, dan kerja sama dan kemitraan, serta keserasian
kawasan perdesaan;
e. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang pendampingan
manajemen dan teknis, dan penyiapan media dan pembelajaran,
dan kerja sama dan kemitraan, serta keserasian kawasan
perdesaan.
f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat
Kerja Sama dan Pengembangan Kapasitas; dan
g. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Direktur Jenderal.
Direktorat Kerja Sama dan Pengembangan Kapasitas terdiriatas:
a. Subdirektorat Pendampingan Manajemen dan Teknis;
b. Subdirektorat Penyiapan Media dan Pembelajaran;
c. Subdirektorat Kerja Sama dan Kemitraan;
d. Subdirektorat Keserasian Kawasan Perdesaan; dan
e. Subbagian Tata Usaha.
DIREKTORAT
KERJA SAMA DAN
PENGEMBANGAN
KAPASITAS

SUBBAGIAN
TATA USAHA

SUBDIREKTORAT
PENDAMPINGAN
MANAJEMEN DAN
TEKNIS

SUBDIREKTORAT
PENYIAPAN MEDIA
DAN
PEMBELAJARAN

SUBDIREKTORAT KERJA
SAMA DAN
KEMITRAAN

SUBDIREKTORAT
KESERASIAN KAWASAN
PERDESAAN

SEKSI
PENYIAPAN
PENDAMPINGAN
MANAJEMEN

SEKSI
PENYIAPAN
MEDIA

SEKSI
KERJA SAMA ANTAR
LEMBAGA

SEKSI
IDENTIFIKASI

SEKSI
PENDAMPINGAN
TEKNIS

SEKSI
PEMBELAJARAN

SEKSI
KEMITRAAN
USAHA

SEKSI
FASILITASI

Gambar 9
Struktur Organisasi Direktorat Kerja Sama DanPengembanganKapasitas

43

44

BAB IV
TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN

4.1

Target Kinerja

Target kinerja menunjukkan tingkat sasaran kinerja spesifik, yang


akan dicapai oleh K/L, program dan kegiatan dalam periode waktu tertentu.
Target harus menggambarkan angka kuantitatif dan satuan yang akan
dicapai dari setiap indikator sasaran. Penetapan target juga harus relevan
dengan indicatorkinerjanya, logis dan berdasarkan baseline data yang jelas.
Output atau keluaran kegiatan pada hakekatnya merupakan wujud
dari pelaksanaan suatu program, sehingga keluaran dari kegiatan tersebut
seharusnya berkontribusi secara langsung terhadap pencapaian sasaran
dan outcome program. Keterkaitan output dan outcome program diperlukan
dalam penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK), sistem
perencanaan dan pengganggaran maupun dalam evaluasi kinerja program
berlandaskan sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP).
Sasaran yang harus dicapai oleh Kementerian Desa, PDT, dan
Transmigrasi dalam lima tahun ke depan adalah berkurangnya jumlah desa
tertinggal sedikitnya 5.000 desa atau meningkatnya jumlah desa mandiri
sedikitnya 2.000 desa. Dengan mengacu pada sasaran tersebut, Ditjen PKP
telah menetapkan Sasaran program Pembangunan Kawasan Perdesaan,
yaitu: Terwujudnya Percepatan dan Peningkatan Pelayanan Dasar,
Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat KawasanPerdesaan melalui
Pendekatan Pembangunan Partisipatif.
Sedangkan Indikator Kinerja Program (IKP) adalah:
1. Meningkatnya pelayanan dukungan menajemen dan tugas teknis

lainnya pada Ditjen Pembangunan Kawasan Perdesaan


2. Meningkatnya koordinasi, sinergi dan kualitas perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan di 5 (lima) wilayah
3. Berkembangnya ekonomi kawasan perdesaan 450 kawasan dan 1000
kecamatan lokasi Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B)
4. Berkembangnya sarana dan prasarana kawasan perdesaan 350
kawasan

45

5. Berkembangnya pengelolaan sumberdaya alam di kawasan perdesaan

di 850 kawasan
6. Berkembangnya kapasitas dan kerjasama kawasan perdesaan di 34
provinsi.
Untuk mencapai sasaran Program tersebut akan dilakukan beberapa
kegiatan dengan sasaran kegiatan dan Indikator Kinerja Kegiatan di
masing-masing Eselon II di Lingkungan Ditjen PKP sebagai berikut:
a. Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya
Ditjen Pembangunan Kawasan Perdesaan
Sasaran Kegiatan :

Meningkatnya pelayanan dukungan menajemen dan tugas teknis


lainnya pada Ditjen Pembangunan Kawasan Perdesaan

Indikator Kinerja Kegiatan:


1) Jumlah laporan penyusunan rencana kerja program, kegiatan dan
anggaran Ditjen Pembangunan Kawasan Perdesaan
2) Jumlah laporan ketersediaan data dan informasi
3) Jumlah laporan pemantauan dan evaluasi
4) Jumlah laporan pelaksanaan anggaran
5) Jumlah laporan pengelolaan barang milik negara
6) Jumlah laporan ketatausahaan
7) Jumlah pelayanan perkantoran
8) Jumlah laporan pengelolaan sumber daya aparatur
9) Jumlah pengelolaan perlengkapan dan kerumahtanggaan
10) Jumlah laporan penyusunan perundang- undangan
11) Jumlah laporan advokasi hukum
12) Jumlah laporan penyusunan SOP.
b. Kegiatan Kegiatan
Kawasan Perdesaan

Penyelenggaraan

Perencanaan

Pembangunan

Sasaran Kegiatan :

Meningkatnya
koordinasi,
sinergi
dan
kualitas
pembangunan kawasan perdesaan di 5 (lima) wilayah.

perencanaan

Indikator Kinerja Kegiatan:


1) Jumlah dokumen rumusan kebijakan perencanaan, pengendalian
dan penataan pembangunan kawasan perdesaan
2) Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan dalam perencanaan,
pengendalian dan penataan pembangunan kawasan perdesaan
3) Jumlah laporan pelaksanaan bimbingan teknis perencanaan,
pengendalian dan penataan pembangunan kawasan perdesaan

46

4) Jumlah dokumen monitoring, evaluasi dan supervisi pelaksanaan


perencanaan pembangunan kawasan perdesaan
c. Kegiatan Pengembangan Ekonomi Kawasan Perdesaan
Sasaran Kegiatan :

Berkembangnya ekonomi kawasan perdesaan 450 kawasan dan 1000


kecamatan lokasi Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B )

Indikator Kinerja Kegiatan:


1) Jumlah dokumen rumusan kebijakan pengembangan ekonomi
kawasan perdesaan
2) Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan dalam pengembangan ekonomi
kawasan perdesaan
3) Jumlah laporan pelaksanaan bimbingan teknis pengembangan
ekonomi kawasan perdesaan
4) Jumlah dokumen monitoring, evaluasi dan supervisi pelaksanaan
pengembangan ekonomi kawasan perdesaan
5) Jumlah
kecamatan
yang
terfasilitasi
dalam
pelaksanaan
Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan (P2B)
d. Kegiatan Pengembangan Sarana Prasarana Kawasan Perdesaan
Sasaran Kegiatan :

Berkembangnya sarana dan prasarana kawasan perdesaan 350 kawasan

Indikator Kinerja Kegiatan:


1) Jumlah dokumen rumusan kebijakan pengembangan sarana dan
prasarana kawasan perdesaan
2) Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan pengembangan sarana dan
prasarana kawasan perdesaan
3) Jumlah laporan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan supervisi
pengembangan sarana dan prasarana kawasan perdesaan
4) Laporan supervisi pengembangan sarana dan prasarana kawasan
perdesaan
e. Kegiatan Pengembangan Sumber Daya Alam Kawasan Perdesaan
Sasaran Kegiatan :

Berkembangnya pengelolaan sumberdaya alam di kawasan perdesaan di


850 kawasan

Indikator Kinerja Kegiatan:


1) Jumlah dokumen rumusan kebijakan pengembangan sumber daya
alam kawasan perdesaan
2) Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan dalam pengembangan sumber
daya alam kawasan perdesaan

47

3) Jumlah laporan pelaksanaan bimbingan teknis pengembangan


sumber daya alam kawasan perdesaan
4) Jumlah dokumen monitoring, evaluasi dan supervisi pelaksanaan
pengembangan sumber daya alam kawasan perdesaan
5) Jumlah Lokasi Pilot Project Percontohan Petani Bio-Energi
6) Jumlah lokasi revitalisasi tahap awal sekolah lapang kedaulatan
pangan dalam pengembangan desa mandiri benih dan teknologi
f. Kegiatan Peningkatan Kerjasama dan Pengembangan Kapasitas
Sasaran Kegiatan :

Berkembangnya kapasitas dan kerjasama kawasan perdesaan di 34


provinsi.

Indikator Kinerja Kegiatan:


1) Jumlah dokumen rumusan kebijakan peningkatan kerjasama dan
pengembangan kapasitas dalam pembangunan kawasan perdesaan
2) Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan peningkatan kerjasama dan
pengembangan kapasitas dalam pembangunan kawasan perdesaan
3) Jumlah laporan pelaksanaan bimbingan teknis peningkatan
kerjasama dan pengembangan kapasitas dalam pembangunan
kawasan perdesaan
4) Jumlah dokumen monitoring, evaluasi dan supervisi pelaksanaan
peningkatan kerjasama dan pengembangan kapasitas dalam
pembangunan kawasan perdesaan

4.2

Kerangka Pendanaan

Sumber dana untuk menjalankan Renstra Ditjen PKP 2015-2019 ini


berasal dari APBN termasuk pinjaman/hibah luar negeri (PHLN), APBD,
peran serta masyarakat dan dunia usaha serta sumber dana lainnya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sesuai dengan arahan UU No. 6/2014 tentang Desa, yang
mengamanatkan bahwa pembangunan kawasan perdesaan dilakukan
dalam rangka mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan,
pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat Desa melalui pendekatan
pembangunan partisipatif untuk mewujudkan Desa Mandiri. Arah
pembiayaan juga diprioritaskan untuk mendukung pemenuhan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) pelayanan publik dasar (pendidikan, kesehatan,
air minum, transportasi, listrik, dan telekomunikasi) sebagai salah satu
sasaran dalam pembangunan kawasan perdesaan.

48

Pembiayaan pembangunan di kawasan perdesaan terdiri dari tiga


sumber pendanaan, yaitu: dana dari pemerintah, pihak swasta, dan
masyarakat. Dana dari pemerintah bersumber dari Dana APBN berupa
Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Otonomi
Khusus, Dana Tugas Pembantuan, Dana Dekonsentrasi, laba Badan Usaha
Milik Negara (BUMN); serta Dana APBD. Dana dari pihak swasta diperoleh
dengan pengelolaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang
diatur dalam Peraturan Menteri BUMN No. 5/2007 tentang Program
Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan dan
disempurnakan melalui perubahan terkahir Peraturan Menteri BUMN No.
8/2013 serta Dana APBD. Dana dari pihak swasta diperoleh dengan
Corporate Social Responsibility (CSR) yang diatur dalam UU No. 40/2007
tentang Perseroan Terbatas (PT).
Besarnya anggaran dalam realisasi program dan kegiatan
pembangunan kawasan perdesaan dari berbagai sumber pendanaan
tersebut harus diimbangi dengan pelaksanaan konsolidasi dan harmonisasi
anggaran pembangunan dari berbagai sumber (APBN, APBD dan Swasta).
Keberadaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan Desa harus mampu mensinergikan
dan mengharmonisasikan seluruh program dan kegiatan melalui dokumen
perencanaan pembangunan agar realisasi program dan kegiatan
pembangunan kawasan perdesaan dapat menjadi fokus bersama dan
dikelola secara terpadu.
Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor : S-18/MK.2/2015,
tanggal 9 Februari 2015, perihal Perubahan Pagu Anggaran Belanja K/L
Dalam APBN-P TA2015, dimana Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan
Perdesaan
mendapatkan
pagu
anggaran
sebesar
Rp1.302.125.000.000,dari
pagu
anggaran
Kementerian
Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi,TA 2015 sebesar
Rp9.027.995.131.000,Dalam rangka pencapaian target yang telah ditetapkan dalam
rencana strategis Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan
membutuhkan anggaran total selama 5 tahun sebesar Rp 6.377.660,600,(lihat Matriks anggaran RPJMN 2015-2019) dari rencana pendanaan
Kementerian
Desa,
PDT,
dan
Transmigrasi
sebesar
Rp173.786.815.700.000,-.
Pendanaan APBN dalam 5 tahun mendatang lebih diarahkan pada
pembangunan sarana dan prasarana kawasan perdesaan untuk mengatasi
bottleneck infrastruktur dengan prioritas untuk mendukung pencapaian

49

sasaran di bidang pelayanan dasar (sarana dan prasarana), dan ekonomi


masyarakat.
Tabel 3
Kerangka Pendanaan Ditjen PKP Tahun 2015-2019
(dalam juta Rp)
Kode
07

Program/
Kegiatan
Program
Pembangunan
Kawasan
Perdesaan

5487 Dukungan
Manajemen dan
Dukungan
Teknis Lainnya
Ditjen
Pembangunan
Kawasan
Perdesaan
5488 Penyelenggaraan
Perencanaan
Pembangunan
Kawasan
Perdesaan
5489 Pengembangan
Ekonomi
Kawasan
Perdesaan
5490 Pengembangan
Sarana
Prasarana
Kawasan
Perdesaan
5491 Pengembangan
Sumber Daya
Alam Kawasan
Perdesaan
5492 Peningkatan
Kerjasama dan
Pengembangan
Kapasitas

Prakiraan Maju
2017
2018

Penanggung
Jawab
DIREKTORAT
JENDERAL
1.302.125.0 1.093.629,70 1.202.992,70 1.323.292,0 1.455.621,2 PEMBANGUNAN
KAWASAN
PERDESAAN
Sekretariat
Ditjen
Pembangunan
Kawasan
35.000,0
44.300.0
48.730,0
53.603,0
58.963,3
Perdesaan
2015

2016

35.000.0

17.960.0

19.756,0

21.731,6

536.000.0

172.239,70

189.463,7

208.410,1

392.275.0

575.360,00

632.896,00

696.185,6

187.000.0

262.860,00

289.146,00

318.060,6

77.850.0

20.910,00

23.001,00

25.301,1

50

2019

Direktorat
Perencanaan
23.904,8 Pembangunan
Kawasan
Perdesaan
Direktorat
Pembangunan
229.251,1 Ekonomi
Kawasan
Perdesaan
Direktorat
Pembangunan
Sarana Dan
765.804,2
Prasarana
Kawasan
Perdesaan
Direktorat
Pengembangan
349.866,7 Sumberdaya
Alam Kawasan
Perdesaan
Direktorat
Kerjasama Dan
27.831,2
Pengembangan
Kapasitas

BAB V PENUTUP
Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan
Perdesaan Tahun 2015-2019 merupakan dokumen perencanaan untuk
waktu 5 (lima) tahun yang memuat kondisi umum, potensi dan
permasalahan, visi, misi, tujuan, arah kebijakan dan strategi, program dan
kegiatan, kelembagaan, serta target kinerja dan kerangka pendanaan
merupakan penjabaran dari Rencana Strategis Kementerian Desa, PDT dan
Transmigrasi, serta RPJMN 2015-2019.
Dokumen Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan Tahun 2015-2019 merupakan panduan bagi pimpinan
untuk menghasiIkan rancangan program dan kegiatan yang konsisten
sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.
Dengan telah disusunnya dokumen Rencana Strategis tersebut,
diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan standar dan
penyusunan rencana kerja sehingga penjabaran rencana kerja setiap
tahunnya akan lebih mudah dilaksanakan.
Dengan mengacu kepada dokumen Rencana Strategis yang telah
ditetapkan dalam setiap perencanaan program dan kegiatannya, maka
pelaksanaan evaluasi pencapaian program/kegiatan akan lebih mudah
untuk dilaksanakan.
Implementasi Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembangunan
Kawasan Perdesaan pada tingkatan Rencana Kerja Tahunan (RKT) masih
dimungkinkan mengalami penyesuaian berdasarkan kebutuhan akibat
adanya perubahan kebijakan, permasalahan, dan hasil evaluasi
pelaksanaan program pembangunan kawasan perdesaan.
Menyadari bahwa pencapaian pembangunan kawasan perdesaan tidak
mudah, maka hanya dengan tekad dan integritas para penyelenggara
negara di lingkup Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan,
disertai dengan intensitas koordinasi dengan Eselon I lingkup Kementerian
Desa, PDT dan Transmigrasi dan Kementerian/Lembaga lainnya, maka
tujuan dan sasaran pembangunan kawasan perdesaan akan dapat dicapai.

51

LAMPIRAN

52

LOKASI PRIORITAS
DIREKTORAT JENDERAL PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN TAHUN 2015-2019
39
28 P2KPB
PERKOTDES
(Ex DJ
(Ex DJ PMD)
(Bappenas)
PR-PU)
a
42 PKPBM

No
1

Provinsi
ACEH

SUMATERA UTARA

SUMATERA BARAT

4
5

RIAU
JAMBI

10
11

12

SUMATERA
SELATAN

BENGKULU

LAMPUNG

BANGKA BELITUNG

KEPRI
JAWA BARAT

JAWA TENGAH

Kabupaten
1
2
3
4
5
6
7
1
2
3
4
1
2
1
1
2
3
4
1
2
3
4
5
6
7
1
2
3
1
2
3
4
5
1
2
3
1
1
2
3
4
5
6
7
8
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Aceh Besar
Aceh Tengah
Aceh Timur
Bireuen
Kota Sabang
Nagan Raya
Bener Meriah
Simalungun
Pakpak Barat
Serdang Bedagai
Labuhan Batu Utara
Agam
Pesisir Selatan
Bengkalis
Bungo
Muaro Jambi
Sarolangun
Tanjung Jabung Timur
Lahat
Musi Rawas
Ogan Komering Ilir
Ogan Komering Ulu
Banyuasin
Ogan Ilir
OKU Timur
Bengkulu Utara
Seluma
Kepahiang
Lampung Selatan
Tanggamus
Tulang Bawang
Way Kanan
Mesuji
Bangka
Belitung
Bangka Selatan
Bintan
Bogor
Garut
Indramayu
Kuningan
Purwakarta
Sukabumi
Tasikmalaya
Bandung Barat
Boyolali
Kebumen
Klaten
Kudus
Magelang
Pati
Rembang
Temanggung
Wonogiri
Wonosobo

72 kab

48 KTM

a
a
a
a
a
a
a

a
a
a
a

a
a

a
a
a
a

a
a
a

a
a
a
a

a
a

a
a
a
a

a
a
a
a

a
a
a

a
a

a
a
a

a
a
a
a
a
a

a
a
a
a
a
a

a
a
a

a
a
a
a
a

a
a
a
a
a
a
a
a

a
a

39
28 P2KPB
PERKOTDES
(Ex DJ
(Ex DJ PMD)
(Bappenas)
PR-PU)
a
42 PKPBM

No

Provinsi

13

DI YOGYAKARTA

14

JAWA TIMUR

15

BANTEN

16

BALI

17

18

19

20

21

22

23

NTB

NTT

KALIMANTAN BARAT

KALIMANTAN
TENGAH

KALIMANTAN
SELATAN

KALIMANTAN
TIMUR

KALIMANTAN
UTARA

24

SULAWESI UTARA

25

SULAWESI TENGAH

Kabupaten
1
2
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Kulon Progo
Sleman
Banyuwangi
Gresik
Jombang
Malang
Mojokerto
Ngawi
Pamekasan
Ponorogo
Tuban

1
2
1
2
3
4
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
1
2
3
4
1
2
3
4

Pandeglang
Serang
Badung
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Bima
Dompu
Lombok Barat
Lombok Tengah
Sumbawa
Sumbawa Barat
Alor
Ende
Kupang
Sumba Timur
Timor Tengah Utara
Rote Ndao
Bengkayang
Sambas
Sanggau
Kayong Utara
Kubu Raya
Kapuas
Kotawaringin Barat
Katingan
Seruyan
Barito Kuala
Hulu Sungai Utara
Kota Baru
Tanah Laut

1
2
3
4
5
6
1
2
3
1
2
1
2
3
4
5
6

Berau
Kutai Kartanegara
Kutai Barat
Kutai Timur
Pasir
Mahakam Ulu
Bulungan
Nunukan
Malinau
Sangihe
Kepulauan Talaud
Buol
Donggala
Morowali
Poso
Parigi Moutong
Tojo Una-Una

72 kab

48 KTM

a
a

a
a
a
a
a

a
a
a
a

a
a
a
a
a
a
a
a

a
a

a
a
a
a
a
a
a
a
a
a

a
a

a
a
a

a
a
a
a
a
a

a
a

a
a
a
a
a
a

a
a

a
a
a
a
a
a

a
a
a

a
a

a
a
a
a

39
28 P2KPB
PERKOTDES
(Ex DJ
(Ex DJ PMD)
(Bappenas)
PR-PU)
a
a
42 PKPBM

No

Provinsi

26

SULAWESI SELATAN

27

28

29

SULAWESI
TENGGARA

GORONTALO

SULAWESI BARAT

30

MALUKU

31

MALUKU UTARA

32

PAPUA

33

PAPUA BARAT

33 PROVINSI

Kabupaten
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
1
2
3
1
2
3
1
2
3
4
5
1
2
1
2
3
4

Bantaeng
Barru
Bone
Gowa
Jeneponto
Pangkajene Kepulauan
Pinrang
Takalar
Wajo
Luwu Timur
Konawe
Kolaka
Muna
Konawe Selatan
Wakatobi
Konawe Utara
Boalemo
Gorontalo
Pohuwato
Gorontalo Utara
Majene
Mamuju
Mamuju Utara
Maluku Tengah
Maluku Tenggara Barat
Seram Bagian Timur
Halmahera Tengah
Halmahera Barat
Halmahera Timur
Halmahera Selatan
Pulau Morotai
Merauke
Keerom
Sorong
Manokwari
Raja Ampat
Maybrat
151 KABUPATEN

72 kab

48 KTM

a
a
a
a
a
a
a

a
a

a
a

a
a

a
a

a
a
a

a
a

a
a
a
a
a

a
a
a
a

a
a

a
a
a

a
a
a
a
a

a
a
a

a
a
a

a
a

a
72

a
a
a

42

a
28

39

45

Keterangan
PPKP
: Perencanaan Pembangunan Kawasan Perdesaan
PKPBM
: Pembangunan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat Dirjen Pembangunan Masyarakat Desa, Kementerian Dalam Negeri;
P2KPB
: Program Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan Dirjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum;
PERKOTDES : Perkotaan Dan Perdesaan - BAPPENAS;
KTM
: Kota Terpadu Mandiri - Ditjen Penyiapan Kawasan Transmigrasi

MATRIK KINERJA DAN PENDANAAN KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI TAHUN 2015 - 2019
(SEBELUM REFOCUSING- Sumber : Lampiran RENSTRA Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi Tahun 2015-2019)
KEMENTERIAN/LEMBAGA : KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI
Kode

Program/Kegiatan

(1)

(2)

07

Program
Pembangunan
Kawasan Perdesaan

5487

Dukungan Manajemen
dan Dukungan Teknis
Lainnya Ditjen
Pembangunan
Kawasan Perdesaan

Sasaran Program (Outcome) / Indikator Kinerja Program (IKP)/


Sasaran Kegiatan (Output)
Indikator Kinerja Kegiatan (IKK)
(3)
(4)

5489

Penyelenggaraan
Perencanaan
Pembangunan
Kawasan Perdesaan

Pengembangan
Ekonomi Kawasan
Perdesaan

Lampiran I

(5)

01 Terselenggaranya Dukungan
Manajemen dan Teknis Lainnya 001 Jumlah laporan penyusunan rencana Laporan
kerja program, kegiatan dan anggaran
Ditjen Pembangunan Kawasan Perdesaan

01 Terselenggaranya
perencanaan pembangunan
daerah tertentu
02 Terselenggaranya
pengelolaan keuangan dan dan
pengelolaan barang milik
negara
03 Terselenggaranya
pengelolaan SDM, pelayanan
umum dan ketatausahaan
04 Terselenggaranya
penyiapan, koordinasi
pembangunan kawasan
01 Terselenggaranya
pengembangan ekonomi
kawasan perdesaan

Lokasi

2015
(6)

2016
(7)

Target
2017
(8)

2018
(8)

2019
(9)

2015
( 10 )

2016
( 11 )

Prakiraan Maju
2017
( 12 )

2018
( 12 )

2019
( 13 )

0,0

1.211.625,00

1.547.440,02

1.670.221,02

1.801.181,02

1.891.571,52

10,0

10,0

10,0

10,0

10,0

35.000,00
3.800,00

53.050,01
4.580,00

58.355,01
5.037,99

64.190,51
5.541,79

70.609,56
6.095,97

Laporan

2,0

2,0

2,0

2,0

2,0

2.150,00

7.767,00

8.543,70

9.398,07

10.337,88

Laporan

2,0

2,0

2,0

2,0

2,0

2.800,00

1.239,94

1.363,93

1.500,32

1.650,35

Laporan

1,0

1,0

1,0

1,0

1,0

3.850,00

2.598,60

2.858,46

3.144,31

3.458,74

Laporan

2,0

2,0

2,0

2,0

2,0

2.500,00

653,20

718,52

790,37

869,41

Laporan
Bulan
Laporan

2,0
12,0
12,0

2,0
12,0
12,0

2,0
12,0
12,0

2,0
12,0
12,0

2,0
12,0
12,0

500,00
2.800,00
3.850,00

1.208,40
29.478,96
1.062,58

1.329,24
32.426,86
1.168,84

1.462,16
35.669,54
1.285,72

1.608,38
39.236,50
1.414,29

Bulan

12,0

12,0

12,0

12,0

12,0

5.450,00

1.261,34

1.387,47

1.526,22

1.678,84

Laporan

1,0

1,0

1,0

1,0

1,0

2.400,00

1.365,33

1.501,86

1.652,05

1.817,25

Laporan
Laporan

1,0
1,0

1,0
1,0

1,0
1,0

1,0
1,0

1,0
1,0

001 Jumlah dokumen rumusan kebijakan Dokumen


perencanaan, pengendalian dan penataan
pembangunan kawasan perdesaan

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

2.400,00
2.500,00
30.000,00
3.800,00

965,20
869,47
33.650,01
1.916,00

1.061,72
956,42
37.015,01
2.107,59

1.167,89
1.052,06
40.716,51
2.318,35

1.284,68
1.157,26
44.788,16
2.550,19

002 Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan Kabupaten


dalam perencanaan, pengendalian dan
penataan pembangunan kawasan
perdesaan
003 Jumlah dokumen monitoring, evaluasi Dokumen
dan supervisi pelaksanaan perencanaan
pembangunan kawasan perdesaan

70,0

70,0

70,0

70,0

70,0

22.000,00

25.641,31

28.205,44

31.025,99

34.128,58

1,0

1,0

1,0

1,0

1,0

4.200,00

4.644,68

5.109,15

5.620,06

6.182,07

002 Jumlah laporan ketersediaan data dan


informasi
003 Jumlah laporan pemantauan dan
evaluasi
004 Jumlah laporan pelaksanaan
anggaran
005 Jumlah laporan pengelolaan barang
milik negara
006 Jumlah laporan ketatausahaan
007 Jumlah pelayanan perkantoran
008 Jumlah laporan pengelolaan sumber
daya aparatur
009 Jumlah pengelolaan perlengkapan dan
kerumahtanggaan
010 Jumlah laporan penyusunan
perundang- undangan
011 Jumlah laporan advokasi hukum
012 Jumlah laporan penyusunan SOP
5488

Satuan

994 Jumlah pelayanan perkantoran

Bulan

001 Jumlah dokumen rumusan kebijakan Dokumen


pengembangan ekonomi kawasan
perdesaan
002 Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan Kabupaten
dalam pengembangan ekonomi kawasan
perdesaan
003 Jumlah dokumen monitoring, evaluasi Laporan
dan supervisi pelaksanaan pengembangan
ekonomi kawasan perdesaan
004 Jumlah kecamatan yang terfasilitasi
dalam pelaksanaan Pengembangan
Penghidupan Berkelanjutan (P2B)

Kecamatan

994 Layanan Perkantoran

Bulan

12,0

12,0

12,0

12,0

6,0

6,0

6,0

6,0

6,0

536.000,00
4.440,00

1.448,02
575.020,00
4.751,00

1.592,82
615.316,00
5.083,00

1.752,10
658.438,00
5.439,00

1.927,31
658.619,50
5.439,00

89,0

89,0

89,0

89,0

89,0

54.150,00

57.940,00

61.996,00

66.336,00

66.336,00

3,0

3,0

3,0

3,0

3,0

2.400,00

2.568,00

2.748,00

2.940,00

2.940,00

183,0

183,0

183,0

183,0

183,0

475.010,00

508.261,00

543.839,00

581.908,00

581.908,00

12,0

12,0

12,0

12,0

1.500,00

1.650,00

1.815,00

1.996,50

-- 1 --

Total Anggaran
( 14 )

Penanggung
Jawab
( 15 )

8.122.038,57 DIREKTORAT
JENDERAL
PEMBANGUNAN
KAWASAN
PERDESAAN
281.205,10 Sekretariat Ditjen
Pembangunan
Kawasan
Perdesaan

186.169,67 Direktorat
perencanaan
pembangunan
kawasan
perdesaan

3.043.393,50 Direktorat
pembangunan
ekonomi kawasan
perdesaan

Kode
(1)
5490

5491

Sasaran Program (Outcome) /


Sasaran Kegiatan (Output)
(2)
(3)
Pengembangan Sarana 01 Terselenggaranya
Prasarana Kawasan
pengembangan sarana dan
Perdesaan
prasarana kawasan perdesaan
Program/Kegiatan

Pengembangan
Sumber Daya Alam
Kawasan Perdesaan

01 Terselenggaranya
Pengembangan Sumber Daya
Alam Kawasan Perdesaan

Indikator Kinerja Program (IKP)/


Indikator Kinerja Kegiatan (IKK)
(4)

Satuan

Target
2017
(8)

2018
(8)

2019
(9)

2016
( 11 )
642.300,00
5.000,00

Prakiraan Maju
2017
( 12 )
706.530,00
5.500,00

2018
( 12 )
777.183,00
6.050,00

2019
( 13 )
854.901,30
6.655,00

Dokumen

4,0

4,0

4,0

4,0

4,0

Kabupaten

70,0

70,0

70,0

70,0

70,0

456.875,00

625.000,00

687.500,00

756.250,00

831.875,00

Dokumen

1,0

1,0

1,0

1,0

1,0

5.000,00

5.000,00

5.500,00

6.050,00

6.655,00

Laporan

1,0

1,0

1,0

1,0

1,0

5.200,00

6.500,00

7.150,00

7.865,00

8.651,50

994 Layanan Perkantoran

Bulan

(5)

001 Jumlah dokumen rumusan kebijakan Dokumen


pengembangan sumber daya alam
kawasan perdesaan
002 Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan Kabupaten
dalam pengembangan sumber daya alam
kawasan perdesaan
Laporan

12,0

12,0

12,0

12,0

6,0

6,0

6,0

6,0

6,0

101.500,00
4.100,00

800,00
201.690,00
4.387,00

880,00
208.353,00
4.694,00

968,00
212.876,00
5.023,00

1.064,80
214.876,00
5.023,00

70,0

70,0

70,0

70,0

70,0

82.500,00

179.760,00

185.000,00

188.000,00

190.000,00

7,0

7,0

7,0

7,0

7,0

6.500,00

6.955,00

7.442,00

7.963,00

7.963,00

2,0

2,0

2,0

2,0

2,0

8.400,00

8.988,00

9.617,00

10.290,00

10.290,00

994 Layanan Perkantoran

Bulan

12,0

12,0

12,0

12,0

001 Jumlah dokumen rumusan kebijakan


peningkatan kerjasama dan
pengembangan kapasitas dalam
pembangunan kawasan perdesaan
002 Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan
peningkatan kerjasama dan
pengembangan kapasitas dalam
pembangunan kawasan perdesaan
003 Jumlah laporan pelaksanaan
bimbingan teknis peningkatan kerjasama
dan pengembangan kapasitas dalam
pembangunan kawasan perdesaan

Dokumen

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

39.000,00
4.100,00

1.600,00
41.730,00
4.387,00

1.600,00
44.652,00
4.694,00

1.600,00
47.777,00
5.023,00

1.600,00
47.777,00
5.023,00

Kabupaten

40,0

40,0

40,0

40,0

40,0

29.300,00

31.351,00

33.546,00

35.894,00

35.894,00

Laporan

4,0

4,0

4,0

4,0

4,0

3.000,00

3.210,00

3.435,00

3.675,00

3.675,00

1,0

1,0

1,0

1,0

1,0

2.600,00

2.782,00

2.977,00

3.185,00

3.185,00

004 Jumlah dokumen monitoring, evaluasi Dokumen


dan supervisi pelaksanaan peningkatan
kerjasama dan pengembangan kapasitas
dalam pembangunan kawasan perdesaan

Lampiran I

2016
(7)

001 Jumlah dokumen rumusan kebijakan


pengembangan sarana dan prasarana
kawasan perdesaan
002 Jumlah lokasi pelaksanaan kebijakan
pengembangan sarana dan prasarana
kawasan perdesaan
003 Jumlah laporan pelaksanaan
monitoring, evaluasi dan supervisi
pengembangan sarana dan prasarana
kawasan perdesaan
004 Laporan supervisi pengembangan
sarana dan prasarana kawasan perdesaan

004 Jumlah dokumen monitoring, evaluasi Dokumen


dan supervisi pelaksanaan pengembangan
sumber daya alam kawasan perdesaan

Peningkatan Kerjasama
dan Pengembangan
01 Terselenggaranya
Kapasitas
peningkatan Kerjasama dan
Pengembangan Kapasitas
dalam pembangunan kawasan
perdesaan

2015
(6)

2015
( 10 )
470.125,00
3.050,00

003 Jumlah laporan pelaksanaan


bimbingan teknis pengembangan sumber
daya alam kawasan perdesaan

5492

Lokasi

-- 2 --

Penanggung
Jawab
( 14 )
( 15 )
3.451.039,30 Direktorat
pembangunan
sarana dan
prasarana
kawasan
perdesaan

Total Anggaran

939.295,00 Direktorat
pengembangan
sumberdaya alam
kawasan
perdesaan

220.936,00 Direktorat
kerjasama dan
pengembangan
kapasitas

KERANGKA PENDANAAN DITJEN PKP TAHUN 2016-2019 (RE-FOCUSING)


NO
A
1
a

STRUKTUR ORGANISASI
DIREKTORAT JENDERAL PEMBANGUNAN KAWASAN
PERDESAAN
SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL
Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran
Jumlah dokumen penyusunan rencana kerja program dan
anggaran
Jumlah dokumen hasil pemantauan dan evaluasi
Jumlah pengelolaan data dan informasi
Pengelolaan Keuangan dan BMN
Jumlah kegiatan pelaksanaan anggaran
Jumlah kegiatan pelaksanaan perbendaharaan
Jumlah kegiatan layanan perkantoran (gaji dan tunjangan
pegawai)
Jumlah kegiatan pengelolaan barang milik negara

TARGET
2016

SATUAN

PAGU ANGGARAN 2016

USULAN ANGGARAN
2017

1.093.629.700.000

1.202.992.670.000

44.300.000.000

48.730.000.000

Jumlah Kawasan Perdesaan yang tersusun


Rencana Pengembangannya
Jumlah Rencana Aksi Pembangunan Kawasan
Perdesaan

1.455.621.130.700

53.603.000.000
-

58.963.300.000
-

3.247.761.000
750.750.550
8.369.570.000
563.860.000
-

3.572.537.100
825.825.605
9.206.527.000
620.246.000
-

laporan

2.684.100.000

2.952.510.000

4
3

laporan
laporan

620.455.000
6.917.000.000

682.500.500
7.608.700.000

12
12

bulan
bulan

466.000.000

512.600.000

14

bulan

29.643.580.000

32.607.938.000

12

bulan

226.600.000

249.260.000

35.868.731.800
274.186.000

39.455.604.980
301.604.600

1
12

paket
bulan

282.225.000
1.208.400.000

310.447.500
1.329.240.000

341.492.250
1.462.164.000

375.641.475
1.608.380.400

12

laporan

1.261.340.000

1.387.474.000

1.526.221.400

1.678.843.540

549.340.000
291.973.000
356.950.000

604.274.000
321.170.300
392.645.000

paket

454.000.000

499.400.000

1
1

paket
paket

241.300.000
295.000.000

265.430.000
324.500.000

17.960.000.000

19.756.000.000

DIREKTORAT PERENCANAAN PEMBANGUNAN


KAWASAN PERDESAAN
Terselenggaranya Perencanaan Pembangunan Kawasan
Perdesaan Wilayah I s/d Wilayah V
Terselenggaranya RAKORNAS Perencanaan PKP

1.323.291.937.000

USULAN ANGGARAN 2019

Meningkatnya Sumberdaya Aparatur dan Pelayanan Umum


Jumlah pelayanan sumber daya aparatur
Jumlah laporan ketatausahaan
Jumlah perlengkapan dan kerumahtanggaan (termasuk
honor dan operasional satker)
Terselenggaranya Pelayanan Hukum dan Kapasitas
Organisasi Tata Laksana
Jumlah laporan hasil penyusunan dokumen
peraturan/perundang-undangan
Jumlah layanan advokasi hukum
Jumlah pembinaan organisasi dan tata laksana

USULAN ANGGARAN 2018

1
30
30

Laporan
Kawasan
Perdesaan
Kawasan
perdesaan

1.400.000.000

1.540.000.000

5.000.000.000

5.500.000.000

7.700.000.000

8.470.000.000

21.731.600.000

23.904.760.000

1.694.000.000

1.863.400.000

6.050.000.000

6.655.000.000

9.317.000.000

10.248.700.000

NO

2
a

TARGET
2016

SATUAN

Jumlah Supervisi, evaluasi dan pelaporan


pembangunan kawasan perdesaan Wilayah I s/d V

31

Kawasan
perdesaan

Jumlah Layanan perkantoran

12

bulan

STRUKTUR ORGANISASI

DIREKTORAT PEMBANGUNAN EKONOMI KAWASAN


PERDESAAN
Pelaksanaan Analisa Kebijakan Ekonomi Kawasan Perdesaan
Jumlah analisa kebijakan pemanfaatan hutan
Jumlah analisa kebijakan pemanfaatan pertambangan
Terlakasananya Pengembangan Pusat Pertumbuhan Ekonomi
Jumlah Koordinasi dan Sinergi lintas K/L dan Daerah
dalam pengembangan pasar antar desa dan usaha berbasis
komunitas
Jumlah pelaksanaan Pendamping PKKPM
Jumlah Panduan Pemetaan Potensi Masyarakat dalam
pengembangan pasar antar desa dan usaha berbasis
komunitas
Terlaksananya Pengembangan Permodalan dan Investasi
Jumlah Koordinasi pengembangan pasar antar desa dan
usaha berbasis komunitas
Jumlah Interaksi pengembangan investasi dalam
pengembangan kawasan pertanian/peternakan
terpadu/perikanan/pariwisata
Terlaksananya Pengembangan Fasilitas Usaha dan Pemasaran
Jumlah Pasar Kawasan untuk mendukung pusat
pertumbuhan kawasan perdesaan
Jumlah BUMADES berbasis Usaha Komunitas
Jumlah Pendampingan Promosi dan Pemasaran hasil
produk BUMADES
Terselenggaranya Ketatausahaan
Jumlah kegiatan layanan perkantoran (tata usaha direktur)

3
a

DIREKTORAT PEMBANGUNAN SARANA DAN PRASARANA


KAWASAN PERDESAAN
Terselenggaranya Pengembangan Sarana dan Prasarana
Wilayah I s/d Wilayah V

1
1

laporan
laporan

PAGU ANGGARAN 2016

USULAN ANGGARAN
2017

3.500.000.000

3.850.000.000

360.000.000

396.000.000

172.239.700.000

189.463.670.000

500.000.000
500.000.000

550.000.000
550.000.000

laporan

500.000.000

550.000.000

laporan

23.100.000.000

25.410.000.000

laporan

500.000.000

550.000.000

laporan

500.000.000

550.000.000

laporan

500.000.000

550.000.000

47

unit Pasar

70.000.000.000

77.000.000.000

75

Unit UBK

74.500.000.000

81.950.000.000

laporan

1.279.700.000

1.407.670.000

12

bulan

360.000.000
575.360.000.000

396.000.000
632.896.000.000

USULAN ANGGARAN 2018

USULAN ANGGARAN 2019

4.235.000.000
435.600.000

4.658.500.000
479.160.000

208.410.037.000

229.251.040.700

605.000.000
605.000.000

665.500.000
665.500.000

605.000.000
27.951.000.000

665.500.000
30.746.100.000

605.000.000

665.500.000

605.000.000

665.500.000

605.000.000

665.500.000

84.700.000.000
90.145.000.000

93.170.000.000
99.159.500.000

1.548.437.000
-

1.703.280.700
-

435.600.000

479.160.000

696.185.600.000

765.804.160.000

NO

STRUKTUR ORGANISASI
Jumlah Pembangunan Jalan dan Jembatan Poros Desa
Jumlah Pembangunan Irigasi Antar Desa
Jumlah Penyediaan Listrik Perdesaan
Jumlah Penyediaan Fasilitas Air Bersih
Ruas Jalan Poros Desa Terbangun
Jumlah Pembangunan Air Bersih Kawasan Perdesaan
Jumlah Pembangunan Listrik Kawasan Perdesaan
Jumlah Desa/Kawasan yang dibangun Dermaga rakyat
(Jetty) -- SKBM
Jumlah Pengadaan Kapal Penumpang Kapasitas 30
Penumpang
Jumlah Penyediaan Alat Peraga Pendidikan Kawasan

DIREKTORAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA


4
ALAM KAWASAN PERDESAAN
Subdirektorat Pengembangan Sumber Daya Alam
a
Kawasan Perdesaan Wilayah I s/d V
Jumlah Identifikasi dan pemetaan potensi SDA
Kawasan (Profil database SDA Kawasan)
Jumlah Pembangunan pariwisata terpadu
kawasan perdesaan
Jumlah Pembangunan Perternakan Terpadu
(Modern) Kawasan Perdesaan
Jumlah Pembangunan Perikanan Kawasan
Perdesaan
Jumlah Penyediaan Kotak Penyimpanan Ikan
(Cold Storage)
Jumlah kegiatan layanan perkantoran (tata usaha
direktur)
a

SATUAN

75

Ruas Jalan

75.000.000.000

82.500.000.000

100
40
75
150

km irigasi
paket
paket
ruas
Desa /
Kawasan
Desa /
Kawasan
Desa /
Kawasan
Desa /
Kawasan
Desa /
Kawasan

20.000.000.000
75.000.000.000
75.000.000.000
150.000.000.000

22.000.000.000
82.500.000.000
82.500.000.000
165.000.000.000

50.000.000.000

55.000.000.000

55.000.000.000

60.500.000.000

5.000.000.000

5.500.000.000

30.000.000.000

33.000.000.000

40.000.000.000

44.000.000.000

50 /10
30/ 6
30/ 6
30/ 6
150 / 30

PAGU ANGGARAN 2016

USULAN ANGGARAN
2017

Subbagian Tata Usaha Direkur


Jumlah kegiatan layanan perkantoran (tata usaha direktur)

TARGET
2016

DIREKTORAT KERJA SAMA DAN PENGEMBANGAN


KAPASITAS
Subdirektorat Pendampingan Manajemen dan Teknis
Jumlah Tenaga pendamping kawasan
Jumlah Pembekalan pendamping

12

bulan

360.000.000

262.860.000.000

396.000.000

289.146.000.000

laporan

2.500.000.000

2.750.000.000

kawasan

20.000.000.000

22.000.000.000

15

kawasan

200.000.000.000

220.000.000.000

250

kawasan

25.000.000.000

27.500.000.000

10

paket

15.000.000.000

16.500.000.000

12

bulan

50
50

Kawasan
Kawasan

360.000.000

396.000.000

20.910.000.000

23.001.000.000

7.500.000.000
1.000.000.000

8.250.000.000
1.100.000.000

USULAN ANGGARAN 2018

USULAN ANGGARAN 2019

90.750.000.000
24.200.000.000
90.750.000.000
90.750.000.000
181.500.000.000

99.825.000.000
26.620.000.000
99.825.000.000
99.825.000.000
199.650.000.000

60.500.000.000

66.550.000.000

66.550.000.000

73.205.000.000

6.050.000.000

6.655.000.000

36.300.000.000

39.930.000.000

48.400.000.000
-

53.240.000.000
-

435.600.000

479.160.000

318.060.600.000

349.866.660.000

3.025.000.000

3.327.500.000

24.200.000.000

26.620.000.000

242.000.000.000

266.200.000.000

30.250.000.000

33.275.000.000

18.150.000.000

19.965.000.000

435.600.000

479.160.000

25.301.100.000

27.831.210.000

9.075.000.000
1.210.000.000

9.982.500.000
1.331.000.000

NO
b

STRUKTUR ORGANISASI
Jumlah Penyediaan Modal Wirausahawan Baru
Subdirektorat Penyiapan Media dan Pembelajaran
Jumlah Penyiapan media publikasi
Jumlah Penyediaan Bahan media pembelajaran (Digital)

Subdirektorat Kerja Sama dan Kemitraan


Jumlah Koordinasi tindaklanjut MoU
Jumlah Kerjasama CSR/PKBL
Jumlah Pekan Interaksi Kemitraan dan Kerjasama
Internasional
Subdirektorat Keserasian Kawasan Perdesaan
Jumlah Identifikasi keserasian Usaha kawasan
Jumlah Penyusunan Modul Cluster Kawasan Pertumbuhan
Usaha Perdesaaan
Subbagian Tata Usaha Direkur
Jumlah kegiatan layanan perkantoran (tata usaha direktur)

TARGET
2016
1

SATUAN

PAGU ANGGARAN 2016

Laporan

5.000.000.000

USULAN ANGGARAN
2017
5.500.000.000

Laporan

500.000.000

550.000.000

Laporan

750.000.000

825.000.000

1
1

Laporan
Laporan

300.000.000
1.500.000.000

330.000.000
1.650.000.000

Laporan

3.000.000.000

3.300.000.000

laporan

500.000.000

550.000.000

laporan

500.000.000

550.000.000

12

bulan

360.000.000

396.000.000

USULAN ANGGARAN 2018

USULAN ANGGARAN 2019

6.050.000.000
605.000.000

6.655.000.000
665.500.000

907.500.000
363.000.000
1.815.000.000

998.250.000
399.300.000
1.996.500.000

3.630.000.000
605.000.000

3.993.000.000
665.500.000

605.000.000
-

665.500.000
-

435.600.000

479.160.000

KAWASAN PERDESAAN KABUPATEN/KOTA YANG TELAH DITETAPKAN PEMERINTAH DAERAH


(HASIL FASILITASI DIREKTORAT PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN)
TAHUN 2015
No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Mandiri

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

WILAYAH I
1

Aceh

Nagan Raya

Sabang

Bireuen

Wisata Danau Laut


Tadu

Berbasis
Pengembangan
Pariwisata

Berbasis
Pengembangan
Perkebunan

Tadu Raya

Sukakarya

Gapa Garu

39,08

Alue Gajah

36,72

Alue Labu
Pasie Luah

47,27

50,85

Ranto Selamat

62,20

Krueng Itam
Iboih

59,06
70,78

Batee Shok
Paya Seunara
Krueng Raya
Aneuk Laot
Peusangan Selatan Blang Mane

Sumatera
Utara

Simalungun

Wisata Berbasis
Sumber Daya Alam
Panas Bumi

Silou Kahean

Darussalam
Pulo Harapan
Pante Karya

Pariwisata

61,82
65,91
66,48
66,31
46,70

Tanjong Beuridi

Peusangan Siblah
Krueng

Pariwisata, Perikanan,
1. Surat Keputusan Bupati
Kehutanan, dan lain-lain Nagan Raya Nomor :
411.3/222/Kpts/2015
Tentang Penetapan
Pembangunan Kawasan
Perdesaan Wisata Danau
Laut Tadu Kecamatan Tadu
Raya Kabupaten Nagan
Raya

51,59
54,32

2. Surat Keputusan Bupati


Nagan Raya Nomor:
411.3/223/Kpts/2015
Tentang Penunjukkan Tim
Koordinasi dan Tim
Sekretariat Pembangunan
Kawasan Perdesaan Wisata
Danau Laut Tadu
1. Surat Keputusan
Walikota Sabang Nomor:
050/ /2015 Tentang
Penetapan Kawasan
Perdesaan di Kota Sabang
2. Keputusan Walikota
Sabang Nomor: 050/
/2015 Tentang Tim
Koordinasi Pembangunan
1. Surat Keputusan Bupati
Bireuen Nomor: Tahun
2015 Tentang Penetapan
Kawasan Perdesaan di
Kabupaten Bireuen

47,29
55,31

Alue Geulumpang
Buket Sudan
Paloh Mampre
Dolok Marawa

46,31
43,64
44,67

Dolok Saribu Bangun


Negeri Dolok

42,61

54,07

70,57

Halaman 1 /25

Pariwisata, Pertanian,
dan lain-lain

2. Surat Keputusan Bupati


Bireuen Nomor: Tahun
2015 Tentang
Pembentukan Tim
Koordinasi Pembangunan
1. Surat Keputusan Bupati
Simalungun Nomor:
188.45/3449/BPPD/2015
Tentang Kawasan
Perdesaan Wisata Berbasis
Sumber Daya Alam Panas
Bumi di Kecamatan Silou
Kahean dan Kecamatan
Dolok Silou Kabupaten
Simalungun
2. Surat Keputusan Bupati
Simalungun Nomor:
188.45/3451/BPPD/2015

Tim Koordinasi PKP


Wisata Danau Laut
Tadu Kec. Tadu Raya
Kab. Nagan Raya Tahun
2015;

Tim Koordinasi
Pembangunan
Kawasan Perdesaan
Kota Sabang

Bidang PU: Pembangunan


saluran drainase, jalan dan
jembatan, penyehatan
lingkungan dan pengamanan
mata air.
Bidang Perhubungan:
Pengembangan perhubungan
darat, pengadaan terminal dan
angkutan
Bidang Listrik : pengembangan
jaringan listrik
Bidang Pariwisata: Pemb
sarana dan prasarana wisata
Bid Kehutanan: Penghijauan
Bid. Kehutanan : Kebun
Binatang
Kebersihan : pengadaan TPS
dan truk sampah
Bid OR:
Infrastruktur Jalan dan
jembatan

Pemb. Embung Paya Seunara


Tim Koordinasi
Pembangunan
Kawasan Perdesaan
Kab. Bireuen

Infrastruktur Jalan dan


jembatan
Penyediaan bibit unggul yang
murah
Penyuluhan teknis
Penanganan pasca panen
Pemasaran hasil kebun

Penyediaan sarana dan


prasarana infrastruktur (jalan,
penginapan dll)

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan
Terpadu Berbasis
Agrowisata

Kepulauan
Riau

Bintan

Pesisir Berbasis
Wisata Terpadu

Lokasi
Desa
Marubun Lokkung
Silou Huluan

Dolok Silou

Silou Buttu
Raya Bayu
Huta Saing
Mariah Dolok
Teluk Bakau

56,25
71,06
57,13
51,14
64,66

Malang Rapat

70,27

Maro Sebo

Berakit
Desa Pengudang
Setiris

63,51
61,29
66,78

Jambi Luar Kota

Mudung Darat
Danau Kedap
Niaso
Sembubuk

62,80
62,88
70,56
69,73

Penyengat Olak

64,31

Kademangan
Senaung
Trikoyo

69,09
65,83
74,80

Gunung Kijang

Teluk Sebong
4

Jambi

Muaro Jambi

Agrobisnis

Agrowisata

Sumatra
Selatan

Musi Rawas

Ekonomi Kreatif

IPD

Kecamatan
Dolok Silou
Raya

Tugumulyo

Tertinggal Berkembang

Mandiri

Potensi Unggulan

60,84
42,91

Pariwisata, Pertanian,
dan lain-lain

Halaman 2 /25

Perikanan, Kelautan,
Perindustrian, dan
Pariwisata

2.Dasar
SuratHukum
Keputusan
Bupati
Penetapan
Simalungun Nomor:
188.45/3451/BPPD/2015
3. Surat Keputusan Bupati
Simalungun Nomor:
188.45/3450/BPPD/2015
Tentang Tim Koordinasi
Pembangunan Kawasan
Perdesaan Wisata Berbasis
Sumber Daya Alam Panas
Bumi, Berbasis Agrowisata
Kabupaten Simalungun

Pengelola Kawasan

1. Surat Rancangan
Keputusan Bupati Bintan
Nomor: ... Tentang
Kawasan Perdesaan Pesisir
Berbasis Wisata Terpadu di
Kecamatan Gunung Kijang
dan Kecamatan Teluk
Sebong Kabupaten Bintan

Tim Koordinasi
Pembangunan
Kawasan Perdesaan
Pesisir Berbasis Wisata
Terpadu di Kecamatan
Gunung Kijang dan
Kecamatan Teluk
Sebong Kab. Bintan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

Peningkatan dermaga dan


sarana transportasi,
peningkatan lampu jalan dan
sarana penginapan wisata.

2. Surat Rancangan
Keputusan Bupati Bintan
Nomor: ... Tentang Tim
Koordinasi Pembangunan
Kawasan Perdesaan Pesisir
Berbasis Wisata Terpadu di
Kecamatan Gunung Kijang
dan Kecamatan Teluk
Sebong Kabupaten Bintan

Kawasan Agrobisnis

Kawasan agrowisata

Makanan Olahan Ikan

infrastruktur
jalan,infrastruktur irigasi, bibit
pertanian, peternakan,
perikanan,pupuk dan
pestisida, pemberdayaan SDM
sda
sda
sda
infrastruktur
jalan,infrastruktur irigasi,
insfrastruktur penerangan,
bibit pertanian, saprotan,
peralatan pertanian,
pemberdayaan SDM
infrastruktur
jalan,infrastruktur irigasi,
insfrastruktur penerangan,
bibit pertanian, saprotan,
pemberdayaan SDM
sda
sda
Tambahan Modal Usaha

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Daerah Tertinggal

Bengkulu

Seluma

Lokasi
Kecamatan

Muara Lakitan

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Sidoharjo

64,24

Kalibening
Nawangsasi
Mataram
Tri Anggun Jaya
Bumi Makmur
Harapan Makmur

60,33
60,01
72,83
60,99
60,94
51,37

Agam

10 Pesisir Selatan

Perkebunan Karet

Pemerintah Desa

Kungkai Baru

63,40

Pemerintah Desa

sda

Tawang Rejo

54,48

Pemerintah Desa

sda

Sukasari

64,15

Pemerintah Desa

sda

Rawasari

54,48

Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan
Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan
Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan
Tanaman Perkebunan
Karet dan Sawit
Tanaman Perkebunan
Karet dan Sawit
Tanaman Perkebunan
Karet dan Sawit
Tanaman Perkebunan
Karet dan Sawit
Tanaman Perkebunan
Karet dan Sawit
Tanaman Perkebunan
Karet dan Sawit
Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan

Pemerintah Desa

Sarpras dan Bibit Pertanian

Pemerintah Desa

Pemerintah Desa

Sarpras (akses Jalan,Mesin


Perahu)
sarpras (Jalan,bibit,
pelatihan,pupuk)
sarpras (Jalan,bibit,
pelatihan,pupuk)
Sarana Prasana Pertanian

Pemerintah Desa

Sarana Prasana Pertanian

Pemerintah Desa

Sarpras Perkebunan (Jalan,


Bibit,pupuk, Pelatihan, Mesin
penggiling, dan Traktor)

Pemerintah Desa

sda

Pemerintah Desa

sda

61,35

Tanaman Perkebunan
Karet dan Kelapa
Sawit
Pariwisata

Pasar Ngalam

Budidaya Sapi

Teknologi Pengemasan
Pelatihan SDM
Sentra Pemasaran Hasil UKM

Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan

46,70
65,41
65,32

Perkebunan Tebu

47,74
56,37

Tanjungan

48,39

Tanjungseru

46,97

Sengkuang

52,83

Balingka

70,19

Sungai Landia

64,63

Matur

Nagari Lawang

68,45

Sutera

Taratak

58,65

Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan
Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan
Peternakan Sapi

Surantih

72,11

Peternakan Sapi

Amping Parak
Amping Parak Timur
Koto Taratak

69,22
61,28
61,08

Peternakan Sapi
Peternakan Sapi
Peternakan Sapi

Lansano Taratak

61,24

Peternakan Sapi

Aur Duri Surantih

52,54

Peternakan Sapi

IV Koto

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Pengadaan Peralatan Produksi

56,77

Sindang Laya

Talangsali

Sumatera
Barat

Pengelola Kawasan

Pemerintah Desa

32,43

Tenangan

Dasar Hukum Penetapan

Pariwisata dan
Pertanian, Perikanan

Mukti Karya
Pian Raya

Mana Resmi
Lawang agung

Seluma Selatan

Potensi Unggulan

Gorong-gorong
Pembangunan dan renovasi
Jembatan
MCK
Pemasangan Instalasi Listrik
Warga Tak Mampu
Pembangunan Jalan Poros
lintas desa
Pendidikan SLTP-SMU
Sarpras Wisata, Sarpras
Pertanian (Pupuk,Bibit),
Sarpras Perikanan (Kolam,
Keramba, Pasar)
sda

Muara Beliti
Wisata Perikanan dan Air Periukan
Pertanian

Seluma Timur

Mandiri

Halaman 3 /25

Pemerintah Desa
Pemerintah Desa

Jalan Penghubung antar Nagari


Jembbatan penghubung antar
Nagari
Jalan Lingkar antar Nagari
Tenaga penyuluh peternakan
Pabrik pengolah pakanan
ternak
Pelatihan Peternakan terpadu
berbasis limbah Sawit
Mesin pengolah pakan ternak
dari limbah sawit

No

Wilayah dan
Provinsi

Lampung

Kepulauan
Bangka
Belitung

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

11 Lampung Selatan Pesisir (berbasis


pariwisata)

12 Bangka

Pertumbuhan
Ekonomi Baru

Pertanian dan
Pariwisata

Perikanan dan
Pariwisata

13 Bangka Selatan

Lokasi

Kecamatan

IPD
Potensi Unggulan
Tertinggal Berkembang Mandiri
Desa
Rawang Gunung Malelo
59,06
Peternakan Sapi
Surantih
Koto Nan Tigo Selatan
54,56
Peternakan Sapi
Surantih
Koto Nan Tigo Utara Surantih
53,46
Peternakan Sapi

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Insiminasi Buatan bibit Sapi
unggul
Pelatiahan pengembangan
produk pasca panen
Modal / kredit ringan
peternak Sapi
Pengadaan Sumber Air Bersih

Ganting Mudiak Selatan


Surantih
Ganting Mudiak Utara
Surantih

52,42

Peternakan Sapi

52,99

Peternakan Sapi

Kalianda

Maja

54,56

Pesisir berbasis wisata

Raja Basa

Tengkujuh
Jondong
Pauh Tanjung Iman
Betung

66,43
52,46
58,30
54,61

Canggung
Canti

60,49
58,32

Banding

57,90

Sukaraja
Way Muli
Way Muli Timur

64,26
69,35
69,09

infrastruktur jalan
infrastruktur dermaga
pemberdayaan SDM Masyarkat

Kunjir
Batu Balak

61,23
53,74

infrastruktur dermaga
pemberdayaan SDM Masyarkat

Pemali

Pemali

65,25

Pariwisata dan Pertanian

Pemerintah Desa

Sarpras Wisata danBibit

Belinyu

Penyamun
Gunung Muda
Riding Panjang

59,78
73,29
66,43

Pemerintah Desa
Pemerintah Desa
Pemerintah Desa

Bintet

67,24

Pertanian
Pertanian (Perikanan)
Pertanian (Perikanan)
dan Pariwisata
Pertanian (Perikananan)

Pemerintah Desa

Bibit dan Pupuk


Bibit dan Sarpras
Bibit Ikan, Bibit pertanian, dan
Sarpras
Bibit ikan dan Sarpras

Lumut

60,29

Pertanian (Perikananan)

Pemerintah Desa

Bibit dan Sarpras

Mangka

56,36

Pertanian

Pemerintah Desa

Bibit Pertanian

Bukit Layang

62,83

Pertanian

Pemerintah Desa

SarPras (jalan,Irigasi) dan Bibit

Dalil
Tiang Tarah

70,93
57,36

Pariwisata
Pariwisata dan Pertanian

Pemerintah Desa
Pemerintah Desa

Sarpras (jalan,Listrik)
Sarpras dan Bibit Pertanian

Berbura

62,68
65,81
51,26

Air Gegas

71,35

Pariwisata dan
Pertanian (Perikanan)
Pariwisata
Pariwisata dan
Pertanian (Perikanan)
Lada Putih

Pemerintah Desa

Deniang
Mapur

Sarpras (akses Jalan,Mesin


Perahu)
sarpras
Sarpras (akses Jalan,Mesin
Perahu)
infrastruktur jalan dan
jembatan

Bakam

Riau Silip

Pengembangan
Air Gegas
(Budidaya) Lada Putih

Halaman 4 /25

Melanjutkan Pengerasan jalan


yang sudah dibangun melalui
APBN
infrastruktur jalan,
pembredayaan SDM Masyarkat
sda
sda
infrastruktur jalan
infrastruktur jalan,
pemberdayaan SDM Masyarkat

Pesisir berbasis wisata

infrastruktur jalan
infrastruktur jalan dan
dermaga
infrastruktur jalan,
pemberdayaan SDM Masyarkat

Pemerintah Desa

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Komoditi Perikanan
Terpadu

Lokasi
Kecamatan

Tukak Sadai

Kep. Pongok

IPD
Desa

Delas

59,50

Nyelanding

63,14

Air bara

73,43

Tukak

53,63

Sadai

70,99

Pasir Putih

66,54

Pongok

50,56

Celagen
Lepar Pongok

Tertinggal Berkembang

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Perikanan Tangkap

63,48

Tanjung Sangkar

65,26

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Pembangunan Tempat
Perendaman Lada
Penambahan Kuota Pupuk
Subsidi
Modernisasi Pengolahan
Lahan (Traktor)
Penyediaan Power Plant (10
MW)
Pembangunan Coldstorage
(Tempat Penyimpanan Ikan
Pasca Produksi) > 20 ton
Pengadaan Kapal Nelayan 5 GT
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Ikan
Pembangunan Pabrik Es ( > 20
ton)
Penyusunan Perencanaan
Pembangunan Ekonomi
Maritim di Kabupaten Bangka
Selatan
Penambahan Terminal
Dermaga
Pengerukan Alur Laut

49,92

Tanjung Labu

Penutuk
Kumbung

Mandiri

63,91
43,59

WILAYAH II
10 Jawa Barat

14 Bogor

Agropolitan

Leuwiliang

Desa Karyasari

63,47

15 Sukabumi

Agrowisata

Ciemas

Desa Karacak
Ciwaru

67,16
74,97

Tamanjaya

69,91

Mekarsakti

64,74

Dukuhjati

63,45

Pembesaran Bibit Ikan


Lele

Kapringan

68,69

Memiliki Akses terhadap


Gudang Dolog
Peternakan Itik dan
Kambing
Pengolahan Sekam

16 Indramayu

Agro Edu Wisata


(Berbasis Pertanian)

Krangkeng

Halaman 5 /25

Pertanian dengan
komoditas unggulan
buah manggis

Termasuk ke dalam bagian


kawasan agropolitan
Kabupaten Bogor yang
telah ditetapkan melalui
SK.BUP. NO:
500/96/KPTS/HUK/2004

Pokja Agropolitan
(Diketuai oleh Kepala
Bappeda)

Kelembagaan/pembinaan
teknis, akses permodalan,
infrastruktur pendukung
agropolitan

Pertanian dengan
komoditas padi sawah,
padi gogo, mangga,
semangka, dan pisang

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)
Keputusan Bupati
Indramayu Nomor
147.2.05/Kep.145BPMD/2013 tentang
Penetapan Kawasan dan
Tim Pengelola Kegiatan
Pengembangan Kawasan
Perdesaan Berbasis
Masyarakat Kabupaten
Indramayu

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian
Pemerintah Daerah
Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian
Tim Pengelola Kegiatan Infrastruktur, Pembinaan
Pengembangan
SDM, Peningkatan sektor
Kawasan Perdesaan
perternakan dan pertanian
(Berisi perwakilan tiap
desa dan Kecamatan)

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

Kedokan bunder

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Purwajaya

61,19

Kedokan Agung

74,38

Kaplongan

66,53

17 Tasikmalaya

Agropolitan

Cikalong

Sindangjaya

70,42

18 Garut

Agrowisata Barudua

Malangbong

Kalapagenep
Cimanuk
Barudua

71,13
72,15
54,68

Cibatu

Sanding
Girimakmur
Karangmulya
Cinagara
Cilandak

63,52
53,92
57,11
69,47
69,62

Cibukamanah

19 Purwakarta

Pertanian Berbudaya

Mandiri

Potensi Unggulan
Pembibitan Ikan Lele
Pengolahan Sekam
Palawija,Memiliki Pasar
Desa
Peternakan Kambing
yang cukup tinggi
Perkebunan dengan
komoditas unggulan
kelapa

Dasar Hukum Penetapan

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pengelola Kawasan

Pemerintah Daerah

Komoditas unggulan
Belum ada, hanya termasuk
hortikultura strawberry ke dalam data/informasi
hanya terdapat di
perdesaan Kabupaten Garut
kawasan perdesaan
agrowisata Barudua.
Selain itu produksinya
juga besar

Kelembagaan, pembinaan
SDM, industri pengolahan,
akses permodalan,
infrastruktur pendukung
agropolitan
Rencana penguatan komoditas
unggulan; Pengembangan
sistem pertanian terpadu
berbasis pengembangan
komoditas unggulan;
Penguatan struktur dan pola
ruang kawasan; Peningkatan
kapasitas SDM; Pengenalan
teknologi tepat guna;
penguatan networking dan
pemasaran; Penguatan dan
keterpaduan kelompok usaha
tani; Regulasi/kebijakan
pemerintah daerah sebagai
payung hukum dalam
pengembangan kawasan; serta
Dukungan Permodalan

Pertanian
(Hortikultura),
Perdagangan dan
Industri Kecil

Pemkab Purwakarta

62,14

Pertanian (BuahBuahan), Peternakan


dan Pariwisata

Pemkab Purwakarta

Cirangkong

60,08

Pertanian (Padi Sawah)


Peternakan dan
Budidaya Bambu

Pemkab Purwakarta

Wanawali

54,81

Pertanian (Padi Sawah),


Peternakan dan
Kehutanan

Pemkab Purwakarta
dan Perhutani

Halaman 6 /25

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

- Irigasi dan Sarana Pertanian


- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Irigasi dan Sarana Pertanian
- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Irigasi dan Sarana Pertanian
- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Irigasi dan Sarana Pertanian
- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

20 Bandung Barat

Nama Kawasan
Perdesaan
: Usaha Berbasis
Komunitas (UBK)
Berbasis Wisata
Artefak Gua Pawon
dan Geo-Wisata

Lokasi

IPD

Kecamatan
Jatiluhur

Desa
Bunder

Cipatat

Gunung Masigit

73,24

Cipatat

Citatah

Tertinggal Berkembang

75,91

21 Serang

22 Pandeglang

Mandiri Pangan

Mina- Agro Wisata

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Pertanian
(Hortikultura),
Perdagangan dan
Industri Kecil
Pertanian
(Hortikultura),
Perdagangan dan
Industri Kecil

Pemkab Purwakarta
dan PJT Jatiluhur

72,80

Pertanian (BuahBuahan), Peternakan


dan Pariwisata

Pemkab Purwakarta

70,73

Pertanian (Padi Sawah)


Peternakan dan
Budidaya Bambu

Pemkab Purwakarta

Pertanian (Padi Sawah),


Peternakan dan
Kehutanan

Pemkab Purwakarta
dan Perhutani

Pertanian
(Hortikultura),
Perdagangan dan
Industri Kecil

Pemkab Purwakarta
dan PJT Jatiluhur

Rajamandala Kulon

11 Banten

Mandiri

76,51

Cirawa Mekar

56,54

Baros

Nyalindung
Sumur Bandung
Mandalasari
Ciptaharja
Tamansari

68,56
64,86
65,80
71,07
60,66

60,27
50,92

Labuan

Sindangmandi
Cisalam
Labuan

Banyubiru

Caringin

Sektor Pertanian dan


juga Perkebunan
komoditas campuran

Pemkab Purwakarta

Pemerintah Daerah

Infrastruktur, Kelembagaan
dan Pembinaan SDM,
Peningkatan sektor pertanian
dan perkebunan

Sektor Perdagangan dan (Baru ditetapkan, belum


Sektor Perikanan
ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

68,72

Sektor Pertanian

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

71,89

Sektor Perikanan dan


Sektor Pariwisata

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
perikanan, Peningkatan Sektor
Perdagangan, Pembinaan
Kelembagaan
Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian, Pembinaan
Kelembagaan
Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
perikanan, Peningkatan Sektor
Pariwisata, Pembinaan
Kelembagaan dan Pemasaran

76,83

Halaman 7 /25

Termasuk ke dalam bagian


Desa Mandiri Pangan di
Kabupaten Serang

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Pelatihan Ekonomi Kreatif
- Irigasi dan Sarana Pertanian
- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Irigasi dan Sarana Pertanian
- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Irigasi dan Sarana Pertanian
- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Irigasi dan Sarana Pertanian
- Jalan antar Kampung
- Jalan ke Kabupaten
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Air bersih dan Sanimas
- Sarana Ekonomi dan
Pemasaran
- Pelatihan Ekonomi Kreatif

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

Jiput

12 Jawa Tengah

23 Klaten

Mandiri Pangan

Wedi

24 Temanggung

Perkebunan Kopi

Candiroto

25 Wonosobo

Pariwisata didukung
Pertanian Terpadu

Wadaslintang

26 Pati

Minapolitan

Juwana

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Mandiri

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
perikanan, Pembinaan
Kelembagaan dan Pemasaran
Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian, Peningkatan sektor
industri kecil, Pembinaan
Kelembagaan dan Pemasaran

Teluk

64,81

Sektor Perikanan

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

Jiput

71,28

Sektor Pertanian dan


juga Perkebunan
(Emping)

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

Sukacai

60,28

Sektor Pertanian dan


juga Perkebunan
(Emping)

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian, Peningkatan sektor
industri kecil, Pembinaan
Kelembagaan dan Pemasaran

Tenjolahang

64,06

Sektor Pertanian dan


juga Perkebunan
(Emping)

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian, Peningkatan sektor
industri kecil, Pembinaan
Kelembagaan dan Pemasaran

Banyuresmi

60,82

Sektor Pertanian dan


juga Perkebunan
(Emping)

(Baru ditetapkan, belum


ditetapkan sebelumnya)

Pemerintah Daerah

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian, Peningkatan sektor
industri kecil, Pembinaan
Kelembagaan dan Pemasaran

Kaligayam

60,12

Aneka Usaha,
Peternakan, dan
Pengolahan Hasil Pangan

Kadilanggon

63,56

Aneka Usaha,
Peternakan, dan
Pengolahan Hasil Pangan

Melikan

65,96

Aneka Usaha,
Peternakan, dan
Pengolahan Hasil Pangan

Mento
Batursari
Muneng
Kumejing

55,56
61,03
59,06
58,91

Perkebunan Kopi
Perkebunan Kopi
Perkebunan Kopi
Pariwisata

Bappeda
Bappeda
Bappeda
Tim Pengelola Kawasan
Perdesaan KUSALAMO

Pengolahan dan Marketing


Pengolahan dan Marketing
Pengolahan dan Marketing
Infrastruktur Jalan

Plunjaran

58,35

Perkebunan

Lancar
Somogedhe
Dukutalit

62,07
61,08
73,22

Bajomulyo

65,82

Perkebunan
Pariwisata
Ikan Pindang dan
Pengolahan ikan
Bandeng (cabut duri,
bakso, Nuget)
Ikan Asap dan
Pengolahan Aneka Ikan
Segar (cabut duri,
bakso, Nuget)

Halaman 8 /25

Infrastruktur Pasa
Terpusat/Terpadu
Infrastruktur Pariwisata
SK Bupati Nomor
523/1867/2010

Dinas Kelautan dan


Perikanan

Sentra Pemindangan dan


Pengadaan Alat Pemindangan

SK Bupati Nomor
523/1867/2010

Dinas Kelautan dan


Perikanan

Pelabuhan

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

27 Rembang

Nama Kawasan
Perdesaan

Wisata Pantai Alas


Samudrawelo
Kabupaten Rembang

Lokasi
Kecamatan

Rembang

13 Daerah
Istimewa
Yogyakarta

29 Sleman

Industri Gula Tumbu

(potensi) Ketahanan
Pangan

73,95

Kecamatan Dawe

Tritunggal
Punjulharjo
Gedongmulyo
Dasun
Tasiksono
Cranggang

Godean

Kandangmas
Margorejo
Rejosari
Sidorejo

Minggir
30 Ngawi

Minawisata Waduk
Pondok

Bringin

64,75
65,78
72,77

Gandong

Ikan Asap dan


Pengolahan Aneka Ikan
Segar (cabut duri,
bakso, Nuget)
Pariwisata, Perikanan

Dasar Hukum Penetapan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Sentra Pengasapan dan
Pengadaan Alat Pemindangan

Dinas Kelautan dan


Perikanan

proses pengajuan
(pembahasan di setda)

Tim Koordinasi
Pembangunan
Kawasan Perdesaan
Kab. Rembang;
BPMPKB Kab.
Rembang, Bappeda
Kab. Rembang;
paguyuban desa wisata
Pembangunan kawasan
perdesaan industri gula
tumbu menjadi
perhatian dari
Bappeda. Keberadaan
fasilitasi kemendes
melalui UNISNU
menjadi titik tolak
perencanaan
pembangunan kawasan
secara komprehensif
Badan Perencanaan
dan Pembangunan
Daerah

sosialisasi dan penguatan


rencana Pembangunan
Kawasan Wisata Alas Samudro
Welo melalui kegiatan
pemberdayaan sosial ekonomi
dan budaya.
Peningkatan kapasitas
masyarakat melalui program
Pengairan (saluran irigasi
atau sumur)
sarana produksi pertanian
(traktor dll, permodalan dan
lembaga perkreditan dengan
bunga rendah
bahan bakar untuk memasak
gula

Produksi padi
Draf SK. Bupati Ngawi
melimpah, Obyek
Wiisata Waduk, industri
pengolahan padi, lahan
hutan jati
Oyek Wisata Waduk,
Draf SK. Bupati Ngawi
lahan hutan jati,
produksi ketela pohon
dan jagung cukup
melimpah, banyak
peternak sapi dan
kambing, serta budi
daya ikan air tawar
Lahan hutan jati, obyek Draf SK. Bupati Ngawi
wisata waduk, produksi
tanaman jagung dan
ketela pohoh, serta
ternak sapi, kambing,
perikanan air tawar

TKPKP Kab. Ngawi

Infrastruktur, pembinaan sdm,


penguatan kelembagaan

TKPKP Kab. Ngawi

Infrastruktur, pembinaan sdm,


penguatan kelembagaan,
kredit usaha

TKPKP Kab. Ngawi

Infrastruktur, pembinaan sdm,


penguatan kelembagaan,
kredit usaha

Lahan hutan jati,


Draf SK. Bupati Ngawi
tanaman ketela pohon
dan jagung,serta ternak
sapi, kambing
Galian C, obyek wisata
Draf SK. Bupati Ngawi
waduk, lahan hutan jati,
dan produksi padi

TKPKP Kab.Ngawi

Infrastruktur, pembinaan sdm,


penguatan kelembagaan,
kredit usaha

TKPKP Kab. Ngawi

Infrastruktur, pembinaan sdm,


penguatan kelembagaan,
kredit usaha

industri pengolahan
gula tebu

75,77
75,63

Pengelola Kawasan

SK Bupati Nomor
523/1867/2010

72,14
71,19
Padi

Peraturan Bupati dalam


proses

Infrastruktur, SDM dan teknis

78,12
70,15
72,62
75,11
55,09

48,33

Dampit

Kenongorejo

Potensi Unggulan

78,75
76,16

Sumberagung
Sumberarum
Sendangmulyo
Sendangarum
Dero

Suruh

Mandiri

75,70

67,60

Moyudan

14 Jawa Timur

IPD
Tertinggal Berkembang

Pasarbanggi

Lasem

28 Kudus

Desa
Doropayung

53,71

49,69

55,18

Halaman 9 /25

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten
31 Ponorogo

Nama Kawasan
Perdesaan
Pertanian Terpadu
Pudak

Lokasi
Kecamatan
Pudak

Desa
Pudak Wetan

Pudak Kulon

Krisik

IPD
Tertinggal Berkembang

60,46

61,69

56,52

Mandiri

Potensi Unggulan

Lahan pertanian
Draf SK. Bupati Ngawi
(sayuran) seluas 59 Ha
(wortel, bawang pre,
kobis, dan sawi hijau).
Lahan perkebunan dan
pekarangan yang subur
seluas 177 Ha.
Kawasan hutan Negara.
Usaha pupuk organik
dari kotoran sapi dan
kambing dan biogas
untuk bahan bakar
Hasil panen kacang
tanah, jagung, ubi tanah
yang cukup melimpah
Usaha perikanan air
tawar.
Lahan Wisata Tanah
Goyang.
Lahan pertanian seluas Draf SK. Bupati Ponorogo
9 Ha.
Lahan perkebunan dan
pekarangan yang subur :
78 Ha.
Kawasan hutan Negara.
Tersedia pakan ternak
yang cukup baik dan
melimpah
Hasil panen kacang
tanah, jagung, ubi tanah
cukup melimpah
Banyak usaha perikanan
air tawar.
Sumber air tawar
melimpah
Lahan pertanian sawah: Draf SK. Bupati Ponorogo
32 Ha.
Lahan pekarangan dan
perkebunan: 45 Ha.
Kawasan hutan Negara
dengan kemiringan
lereng < 30.
Lahan rumput gajah
pakan ternak.
Sisa kotoran ternak sapi
cukup banyak.
Hasil panen polowijo
(kacang tanah, ubitanah,
jagung dan lainnya)
cukup melimpah.
Hasil panen sayuran
(wortel, bawang pre,
sawi, kobis) cukup
melimpah
Air tanah cukup
melimpah.
Wisata air terjun Coban
Lawe.

Halaman 10 /25

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan
TKPKP Kab. Ponorogo

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Pembuatan jalan tembus Kediri

Pengecoran jalan

Pengecoran jalan

TKPKP Kab. Ponorogo

Pelebaran jalan
Pengapaslan jalan

Sekda Ponorogo

Pengadaan Induk Sapi perah


Terminal dan Pasar sayuran
Perataan lahan

Pengecoran jalan

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten
32 Malang

33 Mojokerto

34 Jombang

35 Tuban

Nama Kawasan
Perdesaan
Penyangga
Agropolitan

Lokasi
Kecamatan
Poncokusumo

Wisata Desa Pinggiran Jatirejo


Hutan Semar Ijo

Wisata Agropolitan
Wonosalam

Minapolitan

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Dawuhan

58,44

Sumberejo
Ngadirejo
Pandansari
Sumberjati

54,62
56,75
68,29
58,84

Wonosalam

Manting
Rejosari
Jembul
Galengdowo

59,33

Bancar

Jarak
Wonomerto
Boncong

65,07
67,17
64,04

Banjarjo
Bulumeduro
Bulujowo

68,68
63,54
73,60

44,37
53,36
63,39

Mandiri

Potensi Unggulan
Pertanian dengan
komoditas kopi,
bambu,dan albasia,
Peternakan sapi potong
dan ayam, serta wisata
alam dan religi
Pertanian dengan
komoditas porang,
gadung, durian, dan
padi, peternakan
kambing, serta wisata
alam
Pertanian dengan
komoditas durian, salak,
peternakansapi perah
dan kambing, serta
wisata alam dan religi
Hasil tangkap laut (ikan
segar), pemindangan
dan pengasapan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian

(Baru akan ditetapkan,


belum ditetapkan
sebelumnya)

TKPKP

(Baru akan ditetapkan,


belum ditetapkan
sebelumnya)

TKPKP

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian

(Baru akan ditetapkan,


belum ditetapkan
sebelumnya)

TKPKP

Infrastruktur, Pembinaan
SDM, Peningkatan sektor
pertanian

SK Bupati Nomor
Dinas Kelautan dan
188.45/238/KPTS/414.012 Perikanan
/2013

Peningkatan Hasil tangkap


Ikan Segar, Pengasapan,
Pemindangan

WILAYAH III
15 Kalimantan
Tengah

36 Kapuas

37 Seruyan

16 Kalimantan
Selatan

38 Hulu Sungai
Utara

39 Kotabaru

DAS Penghasil Karet

Mantangai

Katimpun

37,30
37,60
37,77
26,40
32,57
31,63
49,50
39,68

42,03

Tertinggal

Timpah
Kapuas Hulu

Agrobahari Sejahtera

Seruyan Hilir

Sei Ahas
Katunjung
Tumbang Mangkutup
Tumbang Muroi
Lapetan
Kalumpang
Mantangai Hulu
Petak Puti
Mampai Jaya
Barunang II
Hurung Tampang
Katanjung
Tumbang Puroh
Pematang Limau

Pertanian Rawa

Sungai Tabukan

Sungai Perlu
Sungai Undang
Persil Raya
Pematang Panjang
Sungai Bakau
Kartika Bhakti
Bangun Harja
Halimaung Jaya
Mekar Indah
Pasar Sabtu

Pertanian Terpadu

Gampa Raya
Hilir Mesjid
Sungai Haji
Rantau Bujur Hulu
Rantau Bujur Tengah
Rantau Bujur Darat
Pulau Laut Timur Teluk Mesjid

Karet

Kemeterian Pertanian;
PU & Perum Rakyat;
Perhubungan;
Komunikasi dan
Informatika;
Perindustrian;
Perdagangan; Koperasi
dan Usaha Kecil
Menengah; Lingkungan
Hidup dan Kehutanan
sda

Infrastruktur, Pembinan SDM,


Pemasaran, Pembinaan Teknis,
Peralatan/mesin pengolah
karet, Kelembagaan

Pertanian, Perkebunan
(pisang), dan Perikanan

Kementerian
Koordinator Bidang
Perekonomian, PU &
Perum Rakyat;
Pertanian; Lingkungan
Hidup dan Kehutanan;
Pariwisata; Koperasi
dan UKM;
Perdagangan;
Perindustrian;

Infrastruktur (Jalan menuju


lokasi kawasan perdesaan, air
bersih, listrik), Peralatan
(alsintan), Pemasaran,
Kelembagaan, Pembinaan
SDM, Pembinaan Teknis

Pertanian tanaman
pangan, perikanan
tambak, peternakan

Kementerian PU &
Perum Rakyat;
Pertanian; Kelautan
dan Perikanan;
Koperasi dan UKM;

Infrastruktur (Irigasi, Jalan


Usaha Tani, Jalan menuju
lokasi kawasan perdesaan),
Peralatan (alsintan),
Pemasaran, Kelembagaan,
Pembinaan SDM, Pembinaan
Teknis

Pertanian tanaman
pangan, perikanan
tambak, peternakan

Kementerian PU &
Perum Rakyat;
Pertanian; Kelautan
dan Perikanan;
Koperasi dan UKM

Infrastruktur (Irigasi, Jalan


Usaha Tani, Jalan menuju
lokasi kawasan perdesaan),
Peralatan (alsintan),
Pemasaran, Kelembagaan,
Pembinaan SDM, Pembinaan
Teknis

55,18
20,31
33,13
26,13
26,96
29,35

Infrastruktur Dasar

58,47
61,33
66,16
66,28
57,82
63,56
62,82
54,03
60,66
46,67
43,93
49,65
57,67
65,55
59,82
43,27
57,54

Halaman 11 /25

sda

No

Wilayah dan
Provinsi

17 Kalimantan
Timur

Kabupaten

40 Kutai Timur

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

Pinggir Hutan Agribis- Sangatta Selatan


Lestari

42 Mahakam Ulu

18 Kalimantan
Utara

43 Nunukan

44 Malinau

19 Kalimantan
Barat

45 Sambas

Perkampungan
Perbatasan Terpencil

Long Pahangai
Penghasil Coklat
Perkebunan di
Perbatasan Negara

Tanaman Pangan

Pengambangan Agro
Teknologi

Perbatasan Berbasis
Pertanian

Sebatik Tengah

Kampung Long Tuyoq


Kampung Liu Mulang
Maspul

43,75
42,69
38,53

Sei Limau
Aji Kuning
Bukit Harapan
Malinau Seberang
Kaliamok
Lubak Manis
Semengaris
Kelapis
Respen Tubu
Luso
Singa raya

45,60

Pemangkat
Noyan
Sekayam

47 Bengkayang

Perbatasan Berbasis
Agribisnis

76,26

Long Pahangai

Jagoi Babang

Sepadu
Seburing
Sepinggan
Serindang
Matang Labong
Perapakan
Semongan

Pengelola Kawasan
Kementerian PU &
Perum Rakyat;
Pertanian; Kelautan
dan Perikanan;
Koperasi dan UKM

52,28
53,95
56,49

46,14
33,66

Semparuk

pangan, perikanan
tambak, peternakan

Dasar Hukum Penetapan

48,10

Sambung
Randa Empas
Tukuq
Kampung Long Pahangai I

Malinau Utara

Potensi Unggulan

Mandiri Pertanian tanaman

67,80
56,46
55,86
58,52
67,04

Bentian Besar

Tebas
46 Sanggau

Berangas
Kulipak
Sungai Limau
Langkang Lama
Langkang Baru
Karang Sari Indah
Betung
Bekambit
Bekambit Asri
Sangatta Selatan

Tertinggal Berkembang

Sangkima
Teluk Sangkima
Kandolo
Teluk Pandan
Tende

Teluk Pandan
41 Kutai Barat

IPD
Desa

66,03
55,33
67,13
64,75
36,60

Pertanian (padi),
peternakan, dan
perkebunan (karet, sawit

Kerajinan rotan dan


kerbau liar
52,54
51,61

Coklat

Infrastruktur, Pemasaran,
Kelembagaan, Pembinaan
SDM, Pembinaan Teknis

Pertanian

PUPR, ESDM

Pertanian

PUPR, ESDM

Infrastruktur, SDM

Pertanian

PUPR, ESDM

Infrastruktur, SDM

64,18
47,84
Padi dan ikan air tawar

46,45
53,38
56,30
74,89
53,47
72,49

Infrastruktur, Peralatan
(alsintan), Pemasaran,
Kelembagaan, Pembinaan
SDM, Pembinaan Teknis

Infrastruktur (Jalan menuju


lokasi kawasan perdesaan),
Peralatan (alsintan),
Pemasaran, Kelembagaan,
Infrastruktur (Jalan menuju
lokasi kawasan perdesaan, air
bersih, listrik), Peralatan
(alsintan), Pemasaran,
Kelembagaan, Pembinaan
Infrastruktur (Irigasi, Jalan
Usaha Tani, Jalan menuju
lokasi kawasan perdesaan),
Peralatan (alsintan),
Pemasaran, Kelembagaan,
Pembinaan SDM, Pembinaan
Teknis
Infrastruktur, SDM

Coklat, Pisang, Kelapa


Sawit

68,39
65,66

Kementerian
Perindustrian; ESDM;
PU & Perum Rakyat;
Perhubungan;
Pertanian, Lingkungan
Hidup dan Kehutanan;
Kementerian
Koordinator Bidang
Perekonomian, PU &
Perum Rakyat;
Pertanian; Lingkungan
Kemenko
Perekonomian, PMK;
Kemen. P dan K;
Perindustrian;
Kemenko Polhukam;
Kemenko
Perekonomian;
Kemen:Pertahanan;
Perindustrian;
Kementerian
Perindustrian;
Perdagangan;
Pertanian; Kelautan
dan Perikanan;
Koperasi dan UKM

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Infrastruktur
(Irigasi, Jalan
Usaha Tani, Jalan menuju
lokasi kawasan perdesaan),
Peralatan (alsintan),
Pemasaran, Kelembagaan,
Pembinaan SDM, Pembinaan
Teknis

58,41
58,35
60,06
58,94
51,62
62,98
43,11

Bungkang
Malenggang
Lubuk Sabuk
Sungai Tekam
Jagoi

44,77

Kumba
Sinar Baru
Gersik
Sekida
Semunying Jaya

48,79
44,51
48,05

56,77
41,61
49,30
63,72

50,40
41,18

WILAYAH IV

Halaman 12 /25

Wilayah dan
Provinsi
20 Sulawesi
Selatan

No

Kabupaten
48 Bone

Nama Kawasan
Perdesaan
Mallusetasi

Lokasi
Kecamatan
Cenrana

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Laoni

41,97

Latonro

40,25

Panyiwi

Tellu Siatingnge

49 Wajo

50 Jeneponto

21 Sulawesi
Tengah

51 Donggala

Tosagena

Rumatakasipa

Agro Wisata Makeng


Tana Bailo Berbasis
Produk Pangan Sehat

Belawa

Rumbia

Balaesang

Lamuru

Mandiri

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Rumput Laut

57,39

37,78

55,31

Mattoanging

70,22

Welle

64,10

Sappa

64,71

Ongkoe

66,35

Leppangeng

0,73

Lautang

62,19

Loka

65,87

Kassi

65,35

Pallantikang
Lebang Manai Utara

65,03
52,78

Lebang Manai

60,64

Rumbia
Siweli

70,07
55,96

Halaman 13 /25

Padi

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Tim Pengelola Kawasan 1. Pengembangan agroindustri
Perdesaan (TPKP)
rumput laut dari hulu ke hilir
Mallusetasi
2. Pengoptimalan areal
potensial rumput laut
3. Perbaikan sarana dan
prasarana transportasi baik
laut maupun air antar desa
4. Pengerukan air sungai yang
menghubungkan wilayah
antar desa
5. Perbaikan distribusi air
bersih
Tim Pengelola Kawasan 1. Adanya bantuan teknologi
Perdesaan (TPKP)
pengolahan baik mesin, pabrik,
Tosagena
dan pendampingan keilmuan
untuk peningkatan kualitas
dan kuantitas padi
2. Membangun saluran irigasi
dengan sumber air dari Danau
Tempe, Danau Sidenreng, dan
sumber-sumber air dari
kabupaten lain
Pengelola Kawasan

3. Perbaikan dan
pengoptimalan saluran irigasi
melalui pompanisasi yang
berasal dari Sungai Bila atau
sumur tanah dalam
4. Dibangunnya waduk
sederhana (embung) yang
menunjang pengairan di saat
musim kemarau dan musim
hujan
5. Membangun dan
memperbaiki sarana dan
prasarana transportasi darat
antar desa dan aksesibilitas
(jalan antar desa)
6. Membentuk BUM Antar Desa
Jagung

Perikanan, Perkebunan,
Pertanian (Tanaman
Pangan), Peternakan
dan Pariwisata

Tim Pengelola Kawasan 1. Pengembangan agroindustri


Perdesaan (TPKP)
jagung dari hulu ke hilir
Tosagena
2. Peningkatan kualitas
saluran irigasi dan
pembangunan saluran air
bersih dari sumbernya
3. Pembangunan embung
4. Membangun dan
memperbaiki sarana dan
prasarana transportasi darat
antar desa dan aksesibilitas
(jalan antar desa)
5. Membentuk BUM Antar Desa
Kesepakatan Bersama
antar Kepala Desa, tanggal
18 September 2015

Tim Pengelola Kawasan Pelatihan Pembuatan Kripik


Perdesaan (TPKP)
Pisang dan Kripik Singkong
Tosagena

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

52 Poso

Nama Kawasan
Perdesaan

Agro Wisata Lemba


Mesale Berbasis
Produk Pangan Sehat

Lokasi
Kecamatan

Pamona
Puselemba

Desa
Mapane Tambu

53 Konawe

Lumbung Pangan
Wonua Asaki

Uepai

57,60

Tovia Tambu

55,97

Tambu

70,92

Meli

56,68

Buyumpondoli

65,66

Tonusu
Leboni
Peura

62,57
50,62
58,75

Wera

22 Sulawesi
Tenggara

IPD
Tertinggal Berkembang

Perikanan, Perkebunan,
Pertanian
Potensi(Tanaman
Unggulan

Mandiri Pangan), Peternakan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

dan Pariwisata

Perikanan, Perkebunan,
Pertanian (Tanaman
Pangan), Peternakan
dan Pariwisata

Kesepakatan Bersama
antar Kepala Desa, tanggal
23 Oktober 2015

TK-PKP

44,27

Tamesandi
Baruga

59,84

Langgomea

57,02

Matahoalu

59,34

Halaman 14 /25

Perikanan, Perkebunan,
Pertanian (Tanaman
Pangan), Peternakan
dan Pariwisata

Kesepakatan Bersama
antar Kepala Desa, tanggal
23 November 2015

TK-PKP

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Pelatihan Pembuatan Abon
Ikan Tuna
Pelatihan Keterampilan
Menjahit
Pelatihan Pembuatan Bubuk
Coklat Menjadi Susu Bubuk
dan Permen
Pelatihan Pembuatan Pupuk
Kompos
Studi Banding Kepulauan
Dewata
Penguatan Kelompok Tani dan
Nelayan
Pembentukan BUMDES
Pembangunan Jalan, Jembatan,
Sarana Wisata.
Pembangunan Rumah
Adat/Baruga
Pengadaan Teknologi Tepat
Guna
Pembentukan SPR
Pembangunan Waduk
Pelatihan kerajinan lokal
Pamona khusus anak-anak
putus sekolah
Studi Banding
Kursus Bahasa inggris
Pelatihan pengolahan produk
pertanian dan perkebunan
organik
pelatihan budidaya ikan
Pelatihan budidaya ternak
babi, sapi, kerbau
Pelatihan penguasaan
informasi dan telekomunikasi
Penguatan Kelompok Tani dan
Nelayan
Pembentukan BUMDES
Pembentukan Komunitas
Informasi Wisata
Pengadaan Teknologi Tepat
Guna
Pembangunan Sarana
informasi Wisata
Pembangunan Jalan, Jembatan,
Sarana Wisata.
Pembangunan Rumah Wisata
Normalisasi danau Poso
Diklat kelembagaan
Diklat Teknologi Tepat Guna
(Pembuatan Pupuk Organik,
Pembuatan Pakan Ternak Sapi
dan Unggas, Home Industry)
Bimtek Membangun Jejaring
Kerja
Studi Lapang dan Studi
Banding

Perikanan, Perkebunan,
Pertanian (Tanaman
Pangan), Peternakan
dan Pariwisata

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

54 Muna

23 Sulawesi
Barat

55 Mamuju

Nama Kawasan
Perdesaan

Pertanian Terpadu
Kontunaga Barakati

Minapolitan
'Manakarra Malaqbi'
Berbasis Sumberdaya
Lokal

Lokasi
Kecamatan

Kontunaga

Kalukku

Desa
Tawamelewe

IPD
Tertinggal Berkembang

Mandiri

Potensi Unggulan

Kesepakatan Bersama
antar Kepala Desa, tanggal
23 November 2015

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

53,96

Desa Mabodo

63,67

Desa Kontunaga
Desa Bungi
Desa Lapodidi
Desa Liabalano

61,74
58,77
54,36
54,75

Sinyonyoi (Kelurahan)

Peternakan

Perikanan

Pengembangan usaha ekonomi


(industri pangan ikan sehat,
hilarasi kakao, pengembangan
peternakan rakyat,
pengemasan pagi, palawija,
dan hasil perkebunan,
pengembangan komunitas
wisata)
Penguatan kelembagaan
(pembentukan BumDes,
Koperasi, dan KUBE)
Peningkatan kapasitas
sumberdaya manusia
(pelatihan tata kelola BumDes,
Pelatihan Manajemen, dan
study banding)

Bebanga (Kelurahan)

56 Mamuju Utara

24 Sulawesi
Utara

57 Kepulauan
Sangihe

Pertanian Terpadu
Papole Barakka

Manalu

Mamuju

Desa Tadui

Kalukku

Desa Beru-Beru
Desa Kalukku Barat

Bambalamotu

Bambalamotu (Kelurahan)

43,58

Bambaira

Desa Randomayang
Desa Polewali
Desa Pangiang
Desa Kasoloang

67,75
67,08
61,32
54,49

Tabukan Selatan

Bentung

63,59

Lesabe

55,47

63,79
54,11

Perikanan

Halaman 15 /25

Peningkatan Infrastruktur (
tempat pelelangan ikan,
Pembuatan Jalan Lokal dan
Jembatan, Tempat penjemuran
Rumput Laut dan Perahu,
Peningkatan infrastruktur di
bidang pertanian, perkebunan,
perikanan, penguatan
kelebagaan, sumberdaya
manusia, infrastruktur jalan

Budidaya Perikanan dan SK Bupati No. 3 Tahun


Perikanan Tangkap
2010 tentang Penetapan
Kec. Tab-Sel Sebagai
Kawasan Minapolitan dan
Perda RTRW No 4 Tahun
2014
Perikanan Tangkap

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Lokakarya dan Evaluasi
Penguatan Gapoktan
Pembentukan BUMDES
Penguatan Koperasi
Pembangunan Jalan, Jembatan,
Sanggar Tani, RPH
Pencetakan Sawah Baru
Pengadaan Teknologi Tepat
Guna
Pembentukan SPR
pengembangan komoditi
peternakan yang ditunjang
dengan pengembangan
komoditi jagung, jambu mete,
jati, hotikultura dan
pariwisata. Selain itu

Belum ada

1. Meningkatkan kapasitas
SDM dan membangun
kelembagaan kawasan
perdesaan

Belum ada

2. Membangun fasilitas
terpadu penunjang produksi
perikanan

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

IPD
Desa

Lesabe 1

Tertinggal Berkembang

47,55

Kalagheng

58 Kepulauan
Talaud

Pengembangan Pisang Essang


Abaca

54,52

59 Gorontalo

Agro Eko Wisata

Tilango

Telaga Jaya

60 Boalemo

Pengembangan Kakao Paguyaman

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Perikanan Tangkap

Belum ada

Perikanan Tangkap

Belum ada

Binebas

46,10

Budidaya Perikanan dan


Perikanan Tangkap

Belum ada

Pulau Laotongan

32,79

Belum ada

Pulau Batuwingkung

30,23

Perikanan Tangkap dan


Wisata Pesisir
Perikanan Tangkap dan
Wisata Pesisir

Essang

48,73

Perkebunan, Pertanian

Lalue

40,93

Perkebunan, Pertanian

Lalue I

25 Gorontalo

Mandiri

Lalue Tengah

40,25

Lalue Utara
Tilote

41,20

Belum ada

Perda No. 8 Tahun 2011


tentang RTRW Kabupaten
Kepulauan Talaud 20112031

Belum ada

Belum ada

Perkebunan, Pertanian

Belum ada

Perkebunan, Pertanian

Belum ada

63,81

Perkebunan, Pertanian
Pertanian, Pariwisata

Tabumela

59,37

Pertanian, Pariwisata

Belum ada

Ilotidea
Laowonu

64,47
68,02

Pertanian, Pariwisata
Pertanian, Pariwisata

Belum ada
Belum ada

Tenggela

62,47

Pertanian, Pariwisata

Belum ada

Hutada'a

66,76

Pertanian, Pariwisata

Belum ada

Buhu
Huwongo

63,81
52,25

Pertanian, Pariwisata
Pertanian, Perkebunan

Bongo Empat

60,29

Bualo

47,94

Halaman 16 /25

Perda No.4 Tahun 2013


tentang RtRW Kab.
Gorontalo 2013-2032

Belum ada
Belum ada

Belum ada
SK. Gubernur No. tahun
Belum ada
2015, RTRW Boalemo No 3
Tahun 2012
Belum ada

Belum ada

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
3. Menyiapkan prasarana dan
sarana pendukung usaha
masyarakat secara bertahap
4. Mengoptimalkan area
budidaya perikanan
5. Membangun jetti tambatan
perahu, konstruksi pemecah
ombak dan perkuatan
tebing/pesisir
6. Membangun akses menuju
obyek wisata
7. Meningkatkan Prasarana
dan sarana ke PU-an dan
Energi listrik, Air minum dan
IT
1. Membangun kelembagaan
dan peningkatan SDM
masyarakat setempat
2. Mempersiapkan kelompok
tani/centra abaca dan
menyediakan pasar untuk
hasil serat abaca
3. Memperbaiki sistem air
bersih
4. Membangun jalan-jalan
produksi
1. Mengoptimalkan Wilayah
Zonasi danau dan Kawasan
Holtikultura, dan
Mengembangkan Kawasan
Pariwisata Danau
2. Membangun dan
memperbaiki Infrastruktur
Drainase antar desa di
kawasan Pesisir danau
3. Membangun embung
4. Membentuk TK-PKP untuk
kawasan Prioritas Perdesaan
Danau Limboto
5. Menyediakan dan
meningkatkan jalan Produksi
untuk kawasan Pertanian dan
Perikanan Danau
6. Meningkatkan SDM dan
Memperbaiki Kondisi Kesling
Masyarakat Danau
1. Mengembangkan
agroindustri Kakao dari hulu
ke hilir
2. Meningkatkan kualitas
saluran irigasi dan
Membangun saluran air bersih
dari sumbernya
3. Membangun embung

Pertanian, Perkebunan

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

Dulupi

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Mandiri

Potensi Unggulan

SK. Gubernur No. tahun


2015, RTRW Boalemo No 3
Tahun 2012

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Bongo Nol

72,79

Belum ada

Balate Jaya

50,64

Belum ada

Saripi

70,31

Belum ada

Pangi
Polohuongo
Tanah Putih

54,24
61,25
64,53

Pertanian, Perkebunan

Karang Bayan

66,61

Perkebunan

Batu Mekar
Batu Kumbang
Guntur Macan
Dopang
Mambalan
Gelangsar
Sesaot
Peresak
Suranadi

64,96
68,35
54,95
62,48
66,13
55,00
64,23
67,79
72,26

Rambutan
Gula Aren
Manggis
Durian

Belum ada
Belum ada
Belum ada

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
4. Membangun dan
memperbaiki sarana dan
prasarana transportasi darat
antar desa dan aksesibilitas
(jalan antar desa)
5. Membangun kelembagaan
dan membentuk BUM Antar
Desa
6. Menyediakan dan
peningkatan jalan Produksi
dan Angkutan Pertanian
7. Perlu pelatiahan bagi
Penyuluh untuk
pendampingan petani Kakao

WILAYAH V
26 Nusa
Tenggara
Barat

61 Lombok Barat

Ragamadu
Lingsar
(Rambutan, Gula
Aren, Manggis, Durian)

Gunungsari

Narmada

Pesisir

Sekotong
Gerung
Lembar

27 Nusa
Tenggara
Timur

62 Kupang

Pertanian Campuran

Perikanan dan
Kelautan (Perikanan
Budidaya Pantai)

Perikanan dan
Kelautan (Perikanan
Tangkap)

Sulamu

Gili Gede
Batu Putih
Taman Ayu
Lembar
Lembar Selatan

49,00

Perikanan
Pariwisata

64,09
67,54
61,37
77,32

Sulamu (Kelurahan)

Pitai

53,55

Pariti

62,21
65,29
58,13

Sulamu

Oeteta
Bipolo
Pantulan
Pantai Beringin
Sulamu (Kelurahan)

Sulamu

Pitai
Pariti
Oeteta
Bipolo
Pantulan
Pantai Beringin
Sulamu (Kelurahan)

Rancangan Surat
Keputusan Bupati Lombok
Barat Nomor XX Tahun
2015 tentang Penetapan
Kawasan Perdesaan
RAGAMADU

TKPKP

Pelatihan SDM
Alat Produksi
Packing
Pemasaran

Rancangan Surat
TKPKP
Keputusan Bupati Lombok
Barat Nomor XX Tahun
2015 tentang Penetapan
Kawasan Perdesaan Pesisir

Pertanian Tanaman Padi Rancangan Surat


dan Jagung, Kelapa dan Keputusan Bupati Kupang
Jambu Mente
Nomor XX Tahun 2015
tentang Penetapan
Peternakan Sapi, Babi
Kawasan Perdesaan
dan Kambing
Pertanian Campuran
Rehabilitasi lahan hutan

Infrastruktur

Infrastruktur
Pelatihan SDM
Packing
Pemasaran
Infrastruktur Dasar

SDM
TKPKP

Permodalan
Teknologi

49,83
56,00

53,55
62,21
65,29
58,13

Budidaya Bandeng,
Rancangan Surat
Rumput Laut, Udang dan Keputusan Bupati Kupang
Kerapu
Nomor XX Tahun 2015
tentang Penetapan
Kawasan Perdesaan
Perikanan dan Kelautan

TKPKP

Infrastruktur Dasar
SDM
Permodalan
Teknologi

49,83
56,00
Perikanan Tangkap :
Tuna, Cakalang, Kerapu
dan Kakap

Halaman 17 /25

Infrastruktur Dasar

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

IPD
Desa

Pitai
Pariti
Oeteta
Bipolo
Pantulan
Pantai Beringin

Tertinggal Berkembang

Mandiri

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

53,55
62,21
65,29
58,13

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

TKPKP

SDM
Permodalan
Teknologi

TKPKP

Infrastruktur

49,83
56,00
Pengembangan obyek
wisata pantai

PM

Permodalan
Promosi
63 Rote Ndao

64 Alor

28 Maluku

65 Maluku Tengah

Wisata

Mainang/ Tema:
"Pembangunan
berbasis
pengembangan
pertanian terpadu"

Minapolitan Tangkap

Rote Barat

Sedeoen

59,41

Nemberala

50,95

Oenggaut

61,66

Bo'a

55,69

Alor Tengah Utara Welai Selatan

57,57

Tominuku

38,68

Alor Selatan

Malaipea

37,55

Kota Masohi

Lesane

Ampera
Noloth
Haria
Itawaka
Sorisori Islam
Salahutu
Tulehu
Waai
Liang
Tehoru
Tehoru
Haya
Seram Utara Barat Pasanea
Saparua

Seram Utara
Banda

Wisata Bahari, Budaya Lehitu Barat


dan Sejarah
Leihitu

Labuan
Gale-Gale
Saleman
Sawai
Wahai
Kampung Baru
Nusantara
Lonthoir
P. Hatta
P. Rhun
Larike
Morela
Mamala
Hila

Objek Wisata; Pantai


dan Pesisir, Budaya
Usaha Unggulan: Hotel,
Restoran, villa,
Perkebunan; Kelapa,
lontar
Jenis wisata unggulan;
surf, berlayar

Rancangan Surat
Bappeda, Disparbud,
Keputusan Bupati Rote
Disperindag, BPMD
Ndao Nomor XX Tahun
2015 tentang Penetapan
Kawasan Perdesaan Wisata

Infrastruktur dasar [air bersih,


listrik], Aksebiitas
Transportasi [jalan dan moda
transportasi], Pendidikan
[formal dan non formal],
Kesehatan [Tenaga Medis,
Faskes], SDM [latihan] dan
Ekonomi [pasar, bank dan non-

Pertanian, Peternakan
dan Perkebunan

SK Bupati Alor No.


364/Hk/Kep/2015
Tentang Penetapan
Kawasan maing sebagai
Kawasan Perdesaan dan
Peraturan Bupati Alor No
31 Tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan
Kawasan Perdesaan di
kabupaten Alor
Peraturan Bupati No. 31
Tahun 2014 Tentang
Percepatan Pembangunan
Kawasan Cepat Tumbuh

TKPKP

Infrastruktur/ alat pertanian,


bibit dan obat-obatan serta
sarana penunjang lainnya guna
peningkatan IPD

Pemda dan Swasta

Kasko 1 - 5 Gt, Pole And Line,


Bagan Abung, Rumpon, Pabrik
Es, cold storage, Dermaga,
Jalan, Telekomunikasi, Listrik,
Air Bersig, PPI, Pasar, Air
bersih, Kesehatan

Peraturan Bupati No. 31


Tahun 2014 Tentang
Percepatan Pembangunan
Kawasan Cepat Tumbuh

Pemda dan Swasta

Menara telekomunikasi,
dermaga, jalan air bersih,
terminal, pasar, tansportasi
darat, MCK, Listrik, Kesehatan

Pertanian, Peternakan
dan Perkebunan
Pertanian, Peternakan
dan Perkebunan
Perikanan
61,17
71,37
60,07
82,55
70,68
68,78
74,17
60,69
58,36

46,97
55,81
63,35
58,82
69,91
59,40
77,14
40,39
42,12
48,19
68,26
62,69
63,21
73,97

Halaman 18 /25

Perikanan, Wisata
Bahari, Wisata Sejarah

Perikanan, Wisata
Bahari, Wisata Sejarah
No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan
Salahutu

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Tulehu
Liang
Suli
Waai
Pulau Haruku
Hulaliu
Kailolo
Oma
Pelauw
Saparua
Paperu
Saparua
Kulur
Amahai
Tamailaow
Amahai
Rutah
Seram Utara
Sawai
Seram Utara Barat Saleman

Tanaman Pangan

Seram Utara
Timur Kobi

Seram Utara
Timur Seti

Pasanea
Labuan
Gale-Gale
Kobi
Leaway
Samal
Waitonipa
Morokai
Waemusi
Wae Asih
Marasahua
Sariputih
Kabuhari
Tihuana

Kobisonta
Seti
Wailoping
Waitila
Waiputih
Tanah Merah
Nampto
Waimusal
Loping Mulyo
Seram Utara Barat Karlutukara
66 Maluku
Tenggara Barat

Wer Tamrian II

Wer Tamrian

Kormomolin I

Kormomolin

Selaru II
29 Maluku Utara

67 Halmahera
Selatan

Minapolitan
Perikanan Tangkap

Selaru
Bacan Selatan

Menara telekomunikasi,
dermaga, jalan air bersih,
terminal, pasar, tansportasi
Rencana
Kebutuhan
darat,
MCK, Listrik,
Kesehatan
Pengembangan

Perkebunan

Peraturan Bupati No. 31


Tahun 2014 Tentang
Percepatan Pembangunan
Kawasan Cepat Tumbuh

Pemda dan Swasta

Bendungan, Pembangunan dan


Peningkatan irigasi, pasar,
terminal, listrik, kominikasi,
jalan, air bersih, dermaga

Pertanian, Perkebunan
Peternakan, Pariwisata

RPJMD, RPJP, RTRW

Pemda, Masyarakat,
Swasta

Infrastruktur, Transportasi,
Akomodasi, Pasar, Bibit,
Pupuk, Pelatihan

Pertanian, Perkebunan
Peternakan

RPJMD, RPJP, RTRW

Pemda, Masyarakat,
Swasta

Infrastruktur, Transportasi,
Akomodasi, Pasar, Bibit,
Pupuk, Pelatihan

Perikanan, Pertanian,
Rumput Laut

RPJMD, RPJP, RTRW

Pemda, Masyarakat,
Swasta

Peralatan Pasca Panen


Rumput Laut, Sarana
Penangkapan Ikan, Bibit
Infrastruktur dasar, SDM dan
Ekonomi

Potensi Unggulan

82,55
68,78
66,83
70,68
58,32
64,40
58,41
68,29
65,87
67,59
66,10
66,10
64,79
66,40
58,82
63,35
58,36
46,97
55,81
55,07
55,07
55,69
54,61
60,70
52,87
57,22
47,65
52,63
24,73
42,59
62,35
52,26
52,61
51,20
58,72
53,31
53,72
39,70
41,61
43,40

Wailulu
Amdasa
Sangliat Dol
Sangliat Krawain
Lorwembun
Alusi Batjasi
Alusi Tamrian
Alusi Bukjalim
Alusi Kelaan
Alusi Krawain
Werain
Fursuy
Eliasa
Panamboang

Mandiri

Peraturan Bupati No. 31


Pemda dan Swasta
Tahun 2014 Tentang
Percepatan Pembangunan
Kawasan
Cepat Tumbuh
Dasar Hukum
Penetapan Pengelola Kawasan

63,35
62,29
46,76
57,36
61,30
44,01
41,84
46,47
50,45
60,44
50,35
36,78
40,73
48,90

Halaman 19 /25

Ikan Cakalang (Tongkol) Keputusan Bupati


dan Tuna
Halmahera Selatan No. 257
Tahun 2012

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan
Bacan Timur

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Sayoang

Mandiri

Ikan Cakalang (Tongkol)


danPotensi
Tuna Unggulan

55,86

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Infrastruktur dasar, SDM dan


Rencana Kebutuhan
Ekonomi
Pengembangan

Keputusan Bupati
Halmahera Selatan No. 257
Tahun 2012

Bori
Bajo

38,43
48,47

Ikan Kerapu

Infrastruktur dasar, SDM dan


Ekonomi

Pasimbaos
Sawanakar
Toin
Kampung Baru
Batutaga
Prapakanda
Tanjung Obit
Kukupang

48,20
34,09
31,34
26,17
26,17
35,90
34,13
45,34

Keputusan Bupati
Halmahera Selatan No. 257
Tahun 2012

Rumput Laut

Keputusan Bupati
Halmahera Selatan No. 257
Tahun 2012

Infrastruktur dasar, SDM dan


Ekonomi

30,29
44,33
33,88
43,55

Bacan Selatan

Gonone
Pulau Gala
Tawabi
Yomen
Kurunga
Libobahijrah
Panamboang

Perikanan Tangkap

Infrastruktur dasar, SDM dan


Ekonomi

Bacan Timur

Sayoang

Keputusan Bupati
Halmahera Selatan No. 257
Tahun 2012
Keputusan Bupati
Halmahera Selatan No. 257
Tahun 2012

Gane Timur

Bori
Sumber Makmur

38,43

Transmigrasi
Pariwisata

Bacan
Gane Timur
Tengah
Bacan Timur

Kaputusang
Lelewi

34,95
35,81

Sayoang
Obi
Suma
Sumea

48,33
45,60
32,05

Kaputusang
Sumatinggi
Kasubibi
Indari
Nondang
Tawa

34,95
29,41
31,45
47,26
35,54
43,66

Songa
Siko

43,52
43,80

Gafi
Laigoma
Gunange
Dorolamo
Talimau
Lelei
Kida
Ligua
Buli
Karamat
Bajo
Tawabi

29,97
26,61
26,14
36,55
38,31

Minapolitan Budidaya Kepulauan


Perikanan
Botanglomang

Minapolitan Budidaya Kepulauan


Rumpuit Laut
Joronga

Industri Pengolahan
Produk Perikanan

Pulau Makian
Pesisir Pantai Sumae - Bacan
Kusubibi
Bacan Barat
Pertambangan Panas
Bumi

Bacan Timur
Tengah

Pulau-Pulau Kecil
Kayoa

Kayoa

52,57
36,15
48,90

55,86

Pengolahan Rumput
Laut

50,66

Tanaman Pangan

Infrastruktur dasar, SDM dan


Ekonomi
Infrastruktur dasar, SDM dan
Ekonomi
Infrastruktur dasar, SDM dan
Ekonomi

Pariwisata
55,86
Perikanan dan
Pertanian/ Perkebunan

54,85
28,91
29,11
33,50
43,10
50,18
35,71

Halaman 20 /25

SK Penetapan dalam proses

Infrastruktur dasar, SDM dan


Ekonomi

Panas Bumi

Infrastruktur dasar, SDM dan


Ekonomi

Parikanan dan
Pariwisata

Infrastruktur dasar, SDM dan


Ekonomi

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan
Agropolitan

Lokasi
Kecamatan
Bacan Timur
Selatan

Bacan Timur
Tengah

68 Halmahera Timur Ekonomi Terpadu


(Pertanian)

Wasile

Wasile Timur

Maba Tengah

Maba Utara
Ekonomi Terpadu
(Perikanan)

Wasile Selatan

Maba Selatan

Ekonomi Terpadu
(Pertambangan)

Maba

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Guruapin
Silang

64,71
29,44

Liaro
Wayakuba
Pigaraja
Tabangame
Wayaua
Tabajaya
Tawa

28,75
40,98

Songa
Bibinoi
Tabapoma
Tutupa
Tomara
Wayatim
Cemara Jaya

43,52

Batu Raja
Bumi Restu
Mekar Sari
Daka Ino
Rawamangun
Akedaga
Sidomulyo
Tabo Ino
Woka Jaya
Taluling Jaya
Bangul
Beringin Lamo
Bebabsaram
Dorolamo
Maratana Jaya
Trans Patlean Sp 1
Trans Patlean Sp 2
Trans Patlean Sp 4
Bina Gara

Mandiri

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Perikanan dan
Pertanian/ Perkebunan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan
Infrastruktur dasar, SDM dan
Ekonomi

56,56
39,19
59,97
38,35
43,66

Perikanan dan
Pertanian/Perkebunan
58,15

39,54
38,98
36,31
30,01
65,14

Pertanian, Hortikultura, RTRW, RPJMD, RPJP


Peternakan

Pemda dan Masyarakat Infrastruktur, pembinaan


SDM, pembinaan teknis,
pemasaran

Perikanan

RTRW, RPJMD, RPJP

Pemda dan Masyarakat Infrastruktur, pembinaan


SDM, pembinaan teknis,
pemasaran

Pertambangan dan
Perkebunan

RTRW, RPJMD, RPJP

Pemda dan Swasta

67,28
66,53
62,19
59,71
71,14
63,27
53,42
55,68
56,74
61,08
50,02
57,25
40,41
45,34
48,21
49,31
32,23
68,98

Ake Jawi
Ino Jaya
Jiko Mui
Waijoi
Tomares
Loleba
Sondo-Sondo
Bicoli
Waci
Kotowasi
Kasuba
Peteley
Wayafly

48,97
49,13
44,24

Buli Asal
Buli Karya
Teluk Buli
Sailal
Buli
Geltoli
Gamesan
Boborino

45,65
49,31
46,12

59,92
47,09
48,64
65,89
66,08
63,83
51,14
53,29
51,18

60,51
63,05
62,54
43,04
41,53

Halaman 21 /25

Infrastruktur, pembinaan
SDM, pembinaan teknis,
pendampingan,dan pemasaran

Pertambangan dan
Perkebunan

No

Wilayah dan
Provinsi

30 Papua

Kabupaten
69 Merauke

Nama Kawasan
Perdesaan
Daerah Perbatasan

Lokasi
Kecamatan
Sota

Tabonji

32,70
35,35
31,92

Bamol 2
Yeraha
Suam 1
Suam 2
Wanam
Bibikem
Wetau
Konorau
Waan

35,44
29,66
36,71

Tor
Kladar
Kawe
Sibenda
Sabon

32,31
31,28
28,90
33,98
32,74

Iliwayab
Waan

Ketahan Pangan

66,81

Kumbis
Sabudom
Bamol 1

Merauke

Sekanto

71 Raja Ampat

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

Pertanian dan
Perkebunan

RPJMD berdasarkan Perda Pemda dan Masyarakat Infrastruktur


No 1 Tahun 2012 (Tahapan
Reviuw) dan RPJP (20052025) Perda No 131 Tahun
2012

Minapolitan

RPJMD berdasarkan Perda Pemda dan Masyarakat


No 1 Tahun 2012 (Tahapan
Reviuw) dan RPJP (20052025) Perda No 131 Tahun
2012

52,34
54,89
45,21
52,54
45,36
48,53
42,27
37,74
43,72
39,57
79,56
62,20
69,13
29,76

Fasilitas/ teknologi
39,44
38,24
28,51
31,10
32,89

Wiantre

produksi

Sumberdaya Manusia
Kelembagaan
68,04

Jaifuri

25 Papua Barat

Mandiri

Infrastruktur, pembinaan
SDM, pembinaan teknis,
pendampingan,dan pemasaran

45,63

Kimaam

Ulilin
Muting

70 Keerom

Pekaulang
Sota

Tertinggal Berkembang

Erambu
Yanggandur
Rawa Biru
Bupul IX
Kweel
Bupul XI
Wan
Selaw
Kolam
Boha
Bokem
Nggolar
Buti
Komolom

Elikobel

Daerah Terluar dan


Tertinggal

IPD
Desa

RTRW, RPJMD, RPJP

Padi dan Perikanan Air


Tawar

Peraturan Daerah tentang


RTRW dan SK Bupati

Pemda dan Masyarakat Infrastruktur, Sarpras, SDM

76,74

Kawasan Tanaman
kering

Sekanto

Intainmelyan

35,60

Palawija

Peraturan Daerah tentang


RTRW dan SK Bupati

Pemda dan Masyarakat Infrastruktur, Sarpras, SDM

Strategis Pariwisata

Waigeo Utara

Traimilyan
Kapadiri

36,05
26,64

Air terjun

PERDA RTRW Kab. Raja


Ampat 2011-2030 dan
PERDA RPJMD Kab. Raja
Ampat 2011-2015

Pemerintah dan Swasta '- Penyedian fasilitas sarana


dan prasarana infrastruktur
- Penyediaan
sarana transportasi
Promosi wisata dalam dan
luar negeri

Waigeo Timur

Urbinasopen

47,38

Halaman 22 /25

Pantai Pasir Putih,


Berenang, Snorkel,
Atraksi bola api.

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan
Meosmanswar

Waigeo Selatan

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Arborek

38,19

Yenbuba
Yen Waufnor

37,54
40,95

Sawandarek

27,26

Sawinggrai

33,38

Kabui
Friwen

39,73

Wawiyai

42,35

Waisai

Waigeo Barat

Teluk Mayalibit

Misool Selatan

Salio

35,39

Meos Manggara

37,02

Saukabu

31,16

Pam

42,67

Mutus

40,89

Manyaifun

33,70

Gag
Waifol
Kalitoko

46,47
43,02
41,39

Mumes

42,84

Beo
Batbitiem

33,49

Halaman 23 /25

Mandiri

Potensi Unggulan
Menyelam,
snorkel,Souvenir,
Wisata budaya
Menyelam, snorkel,
Wisata Budaya,
Pengintaian Burung
Bebek laut, memberi
makan ikan, snorkel,
wisata budaya, telaga,
kayaking
mengintai cendrawasih
merah, wisata budaya,
souvenir, memberi
makan ikan
limestone, flora, goa
tengkorak, wisata alam.
Snorkel, menyelam,
pantai pasir putih
wisata budaya, Situs
Sejarah
wisata olahraga, jet ski,
kayak, snorkel,
menyelam
wisata alam, menyelam,
kayak, menyelam
mengintai peneluran
Penyu.
Pantai Pasir Putih,
Berenang, Snorkel,
wisata olah raga
memancing
Tracking/Hiking
digugusan pulau
painemo, Pantai Pasir
Putih, Swimming,
Snorkeling
Menyelam, pantai pasir
putih, Snorkel, wisata
lintas alam
Pantai Pasir Putih,
Berenang, Snorkel,
wisata olah raga
memancing
Pantai Pasir Putih,
Berenang, Snorkel,
wisata olah raga
memancing
Wisata Lintas Alam
Pemandangan Alam,
Wisata Budaya, Wisata
Alam, Wisata Sejarah
Purbakala
wisata Budaya sejarah
pubakala
Wisata Lintas Alam
wisata menyelam,
wisata alam

Dasar Hukum Penetapan

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

No

Wilayah dan
Provinsi

Kabupaten

Nama Kawasan
Perdesaan

Lokasi
Kecamatan

IPD
Desa

Tomolol

Tertinggal Berkembang

35,15

Wayelbatam

Kofiau

Gamta
Kapatcool

39,67
38,87

Tolobi

44,35

Deer

Pertanian dan
Agrobisnis

Batanta Utara

Wailebet
Arefi

38,74
43,76

Salawati Selatan
Salawati Tengah

Jefman
Waijan

49,07

Kalobo
Kabare
Asukweri
Waijan

29,36
32,33
49,07

Waigeo Utara
Perkebunan

52,19

Salawati Tengah

52,61

Mandiri

Potensi Unggulan

Dasar Hukum Penetapan

wisata gua tomolol,


wisata lintas alam,
wisata budaya
wisata menyelam,
wisata alam
Wisata Sejarah
wisata Pengamatan Ikan
Paus
Menyelam, Snorkeling,
wisata Lintas Alam.
Menyelam dan
Pengamatan burung
cendrawasih
Burung Cendrawasih
Pulau Way (Pesawat
Perang PD II),
Peninggalan Rumah
Pendeta Alm. Yan
Mamoribo
Pulau Matan
Tanaman Holtikultura
PERDA RTRW Kab. Raja
dan Padi
Ampat 2011-2030 dan
PERDA RPJMD Kab. Raja
Ampat 2011-2015

Pengelola Kawasan

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

Pemerintah dan Swasta - Penyediaan bibit padi dan


tanaman holtikultura
- Pembangunan
pengairan
Penambahan tenaga penyuluh
pertanian

63,30
Peternakan sapi dan
unggas

PERDA RTRW Kab. Raja


Ampat 2011-2030 dan
PERDA RPJMD Kab. Raja
Ampat 2011-2015

Pemerintah dan Swasta - Penyediaan bibit sapi dan


unggas
Penyedian obat-obat
peternakan
- Pembangunan sarana
dan prasarana

Pertanian

Aimas

Kalobo
Kabare
Asukweri
Aimas

Peternakan

Salawati
Segun

Salawati
Klasegun

Klamono

SP1
SP2
Dasri

46,22

Waigeo Utara
72 Sorong

Perkebunan

Maudus

65,30
29,36
32,33
41,36

Padi dan Komoditas


Holtikultura

SK. Bupati Sorong No.45 /


2013

Pemda

Instruktur Pembinaan SDM,


Pembinaan Teknis, Pemasaran

Peternakan

SK. Bupati Sorong

Pemda

Instruktur Pembinaan SDM,


Pembinaan Teknis, Pemasaran

22,58

Perkebunan Minyak
Lawang

SK. Bupati Sorong

Pemda

Instruktur Pembinaan SDM,


Pembinaan Teknis, Pemasaran

Warbo

23,27

Luwalela

33,53

Perkebunan Minyak
Lawang
Perkebunan Kayu
Gaharu

62,04
51,75

50,56

Halaman 24 /25

No

Wilayah dan
Provinsi

Nama Kawasan
Perdesaan

Kabupaten

Lokasi
Kecamatan
Sayosa
Klabot

Perikanan

31
Provinsi

72
Kabupaten

Beraur

108
Kawasan

186
Kecamatan

IPD
Desa

Tertinggal Berkembang

Sayosa

35,39

Buk
Klabot
Kaas

28,86
28,23
35,78

Wanurian

27,60
683

229

Desa

Halaman 25 /25

Mandiri

Potensi Unggulan
Perkebunan Minyak
Lawang
Perkebunan Sagu
Perkebunan Sagu
Perikanan, Udang

420

17

Dasar Hukum Penetapan

SK. Bupati Sorong

Pengelola Kawasan

Pemda

Rencana Kebutuhan
Pengembangan

Instruktur Pembinaan SDM,


Pembinaan Teknis, Pemasaran

PETA SEBARAN 40 PUSAT PERTUMBUHAN DALAM RPJMN 2015-2019


KAWASAN PEUREULAK
KAB. ACEH TIMUR

KAWASAN SIDIKALANG
KAB. PAKPAK BHARAT

KAWASAN SAMBAS
KAB. SAMBAS, DAN KAB.
BENGKAYANG

KAWASAN RASAU JAYA


KAB. KUBU RAYA

KAWASAN SUKADANA
KAB. KAYONG UTARA

KAWASAN TANJUNG PANDAN


KAB. BELITUNG, DAN KAB.
BANGKA SELATAN

KAWASAN SANGATA
KAB. KUTAI TIMUR

KAWASAN KOLONEDALE
KAB. MOROWALI, KAB.
MOROWALI UTARA, PROV.
SULTENG, DAN KAB. LUWU TIMUR

KAWASAN POSO
KAB. POSO, KAB. TOJO UNANA, KAB.
PARIGI MOUTONG, KAB. DONGGALA

KAWASAN TANJUNG REDEB


KAB. BERAU

KAWASAN DARUBA
KAB. PULAU DMOROTAI

KAWASAN BUOL/TOLI-TOLI
KAB. BUOL
KAWASAN GERBANG KAYONG
KAB. KAYONG UTARA
KAWASAN MAMUJU
KAB. MAMUJU, DAN KAB.
MAMUJU TENGAH

KAWASAN MABA
KAB. HALMAHERA TIMUR
KAWASAN ARSO
KAB. KEEROM

KAWASAN KWANDANG
KAB.BOALEMO, KAB. GORONTALO,
KAB. GORONTALO UTARA

KAWASAN MISOL
KAB. RAJA AMPAT
KAWASAN BULA
KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR
KAWASAN MANOKWARI
KAB. MANOKWARI

KAWASAN TAPAN
KAB. PESISIR SELATAN, DAN
LIMAPULUH KOTA

KAWASAN TANJUNG SIAPIAPI


KAB. BANYUASIN

KAWASAN BATIK NAU


KAB. BENGKULU UTARA

KAWASAN RAHA
KAB. MUNA

KAWASAN PINRANG
KAB. PINRANG

KAWASAN WANGI-WANGI
KAB. WAKATOBI

KAWASAN BATURAJA
KAB. OGAN KOMERING ULU,
DAN KAB. OGAN KOMERING
ULU TIMUR

KAWASAN BARRU
KAB. BARRU, DAN KAB.
SIDENRENG RAPPANG

KAWASAN MESUJI
KAB. MESUJI, DAN KAB. TULANG
BAWANG
KAWASAN CIBALIUNG
KAB. PANDEGLANG
KAWASAN PANGKALAN BUN
KAB. KOTAWARINGIN BARAT
KABUPATEN MARABAHAN
KAB. BANJAR, DAN KAB. BARITO
KUALA

KAWASAN ENDE
KAB. NGADA, DAN KAB. ENDE

KAWASAN PAMEKASAN
KAB. PAMEKASAN, DAN
SAMPANG

KAWASAN MERAUKE
KAB. MERAUKE

KAWASAN
BANYUWANGI
KAB. BANYUWANGI

KAWASAN RABA
KAB. DOMPU

KAWASAN TABANAN
KAB. TABANAN

KAWASAN SUMBAWA BESAR


KAB. SUMBAWA
KAWASAN PRAYA
KAB. LOMBOK TIMUR, DAN
KAB. LOMBOK BARAT

KAWASAN LABUAN BAJO


KAB. MANGGARAI BARAT