Anda di halaman 1dari 5

BIOGRAFI ABU HAMID AL-GHAZALI

Imam Al-Ghazali Lahir pada 450 H (1058 M) di desa Taberan distrik Thus,
Persia, dan bernama Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn
Taus Ahmad Al-Thusi Al-Syafii, Gelarnya adalah "Hujjatul Islam". Setelah
Wafatnya Al-Hallaj, memang pada abad ke-4 banyak hadir tokoh sufi,namun yang
bisa mempertemukan antara aspek Al-dzawahir wa Al-bawahin pasca Al-Hallaj hanya
ditemui pada sang Hujjatul Islam ini, satu abad kemudian, walaupun tentu masih
memerlukan peninjauan ulang kembali. Sebab, tragedi dunia tasawuf akibat fatwa
ulama fikih pasca Al-Ghazali masih terjadi sepeninggal Al-ghazali. Hanya saja
berbeda dengan Al-Hallaj yang menunjukkan keseimbangan tasawufnya dalam bentuk
pengalaman nyata, maka Al-Ghazali lebih mensistematisasikan dalam bentuk teoritis.
Al-Ghazali dilahirkan di desa Ghazaleh, Kotapraja Tabran dalam kota besar
Tus, salah satu kota wilayah Khurasan di Persia atau Iran Utara, pada 1058 (450 H),
anak seorang pemintal dan pedagang benang atau kain wol yang saleh. Setalah dididik
dalam lingkungan orang dan guru yang zahid pada masa kecil, ia belajar pada
Madrasah Nizamiyah di Tus, Jurjan, dan Nisyapur. Di Nisyapur inilah, ia pada usia
20-28 tahun, berguru dan bergaul dengan imam al-haramin al-Juwaini, yang
mengasuh madrasah bermahzab Asyariyyah, namun membebaskan para santrinya
untuk bermahzab apa saja. Selanjutnya, ia berada di Muaskar dan Baghdad. Namun,
tentang segala ilmudan hikmah yang diperolehnya, Al-Ghazali menyebutkan bahwa
semata-mata anugerah Allah yang dibekalkan sebagai pembawaanya, bukan dari hasil
usaha dan upayanya. Dalam kesempatan di Muaskar, ia kerap menghadiri pertemuanpertemuan ilmiah yang diadakan di istana perdana menteri NIzam al-Mulk, sehingga
ia dikenal sebagai ulama yang berpengaruh luas dan mendalam. Pada tahun 484/1091
ia diangkat oleh Nizam al-Mulk sebagai Guru Besar di Universitas Nizamiah
Baghdad, dan mengepalai bagian Theologi. Namun, jabatan tersebut tidak lama
dipegangnya walau keharuman namanya melalui berbagai tulisan terbentuk dari sana.
Pada periode inilah ia mengalami guncangan-guncanagan spiritual, dan berada pada
puncak keraguannyamengenai apakah pengetahuan itu hakiki, diperoleh melalui indra
atau akal, atau melalui jalan lain. Keraguan-keraguannya tersebut dialaminya selama
enam bulan sehingga menyebabkan Al-Ghazali berpetualang dalam berbagai macam
disiplin ilmu serta mazhab untuk mencari kemantapan yang tak kunjung didapatnya.
Selanjutnya, keraguan ini hanya terhapus bukan karena membuat alas an atau

keterangan, melainkan melalui nur Allah ke dalam kalbunya. Peristiwa ini pula yang
diabadikannya dalam kitab al-Munqidzmin al-Dhalal. Karena kebingungan spiritual
itu pulalah, maka kemudian jabatan Guru Besar Universitas Nizamiyah ditinggalkan,
dan kemudian digantikan oleh adiknya, Ahmad Al-Ghazali.
Hampir seluruh apa yang sudah dialaminya, baik pengetahuan, termasuk
mengajar yang semula dipandangnya mulia, ditinjau kembali sedalam-dalamnya.
Kesimpulannya, ia menyatakan bahwa semuanya salah. Ia mengatakan dirinya seperti
berada ditepian jurang yang curam, dan jika tidak mau mengubah sikap, maka ia akan
tenggelam dalam neraka. Tarik-menarik antara keinginan duniawi dan keimanan
begitu kuatnya. Kondisi itu berlangsung selama enam bulan. Akhirnya, ia mengambil
sikap meninggalkan seluruh kemewahan negeri Baghdad, seluruh hartanya habis
dibagi-bagikan, kecuali sedikit untuk bekal perjalanannya, serta biaya anak-anaknya
yang masih kecil. Ia pergi ke Syam, kota Damaskus untuk berkhalwat, yang
dimulainya tahun 488/1095 dan berlangsung selama dua tahun. Namun khalwatnya
belum mendatangkan kepuasan sehingga ia berkunjung ke palestina, mengunjungi
Masjid Hebron dan Yerusalem pada tahun 490/1098. Ia berdoa agar diberi karunia
sebagaimana diberikan kepada para Nabi. Selanjutnya, ia menuju Kairo dan ke kota
pelabuhan Iskandariyah. Lalu, menuju Makkah dan Madinah untuk menunaikan
ibadah haji dan menziarahi makam Rasulullah. Selama dua tahun, ia tinggal di Masjid
Risalah Al-Qudsiyyah. Tahun 499/1105, Al-Ghazali pulang ke Nisapur, dan ditunjuk
oleh Fakhru al-Mulk, putra Nizam Al-Mulk untuk mengajar dan memimpin kembali
Universitas Nizamiyah. Namun tidak lama kemudian, ia malah kembali ke Tus, dan
mendirikan sebuah pesantren sufi (Khandaqah) di sana. Sampai akhir pengabdiannya,
pada usia 55 tahun, ia meninggal dunia pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505/ 19
Desember 1111M dalam pangkuan saudaranya, Ahmad Al-Ghazali. Dengan berbagai
latar belakang keilmuannya yang meliputi bidang teologi, filsafat, fiqh-ushul fiqh, dan
spiritualitas di atas, maka hampir seluruh karya tulis Al-Ghazali juga diwarnai dengan
berbagai bidang pemikirannya tersebut. Karenanya, kemudian Al-Ghazali dikenal
dengan konsep-konsep teologi, fikih dan tasawuf (spiritualitas) dalam suatu hidangan
sistematis dalam teoritisasi praktik-praktik keagamaan. Sementara tiga bidang
tersebut, secara umum dikenal oleh masyarakat muslim sebagai terjemahan dari
trilogy keagamaan : Iman, Islam, dan Ihsan.
PEMIKIRAN FILSAFAT AL-GHAZALI

a.

Metafisika
Untuk pertama kalinya Al-Ghazali mempelajari karangan-karangan ahli

filsafat terutama karangan Ibnu Sina. Setelah mempelajari filsafat dengan seksama, ia
mengambil kesimpulan bahwa mempergunakan akal semata-mata dalam soal
ketuhanan adalah seperti mempergunakan alat yang tidak mencukupi kebutuhan.
Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min al-Dhalal menjelaskan bahwa jika
berbicara mengenai ketuhanan (metafisika), maka disinilah terdapat sebagian besar
kesalahan mereka (para filosof) karena tidak dapat mengemukakan bukti-bukti
menurut syarat-syarat yang telah mereka tetapkan sendiri dalam ilmu logika.
Al-Ghazali meneliti kerja para filsuf dengan metodenya yang rasional, yang
mengandalkan akal untuk memperoleh pengetahuan yang meyakinkan. Dia pun
menekuni bidang filsafat secara otodidak sampai menghasilkan beberapa karya yang
mengangkatnya sebagai filsuf. Tetapi hasil kajian ini mengantarkannya kepada
kesimpulan bahwa metode rasional para filsuf tidak bisa dipercaya untuk memberikan
suatu pengetahuan yang meyakinkan tentang hakikat sesuatu di bidang metafisika
(ilahiyyat) dan sebagian dari bidang fisika (thabiiyat) yang berkenaan dengan akidah
Islam. Meskipun demikian, Al-Ghazali tetap memberikan kepercayaan terhadap
kesahihan filsafat-filsafat di bidang lain, seperti logika dan matematika.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa ada pemikiran tentang
filsafat metafisika yang menurut al-Ghazali sangat berlawanan dengan Islam, dan
karenanya para filosof dinyatakan kafir. Hal ini akan lebih dijelaskan dalam bagian
selanjutnya.
b.

Iradat Tuhan
Mengenai kejadian alam dan dunia, Al-Ghazali berpendapat bahwa dunia itu

berasal dari iradat (kehendak) tuhan semat-mata, tidak bisa terjadi dengan sendirinya.
Iradat tuhan itulah yang diartikan penciptaan. Iradat itu menghasilkan ciptaan yang
berganda, di satu pihak merupakan undang-undang, dan di lain pihak merupakan
zarah-zarah (atom-atom) yang masih abstrak. Penyesuaian antara zarah-zarah yang
abstrak dengan undang-undang itulah yang merupakan dunia dan kebiasaanya yang
kita lihat ini.
Iradat tuhan adalah mutlak, bebas dari ikatan waktu dan ruang, tetapi dunia
yang diciptakan itu seperti yang dapat ditangkap dan dikesankan pada akal (intelek)
manusia, terbatas dalam pengertian ruang dan waktu. Al-Ghazali menganggap bahwa
tuhan adalah transenden, tetapi kemauan iradatnya imanen di atas dunia ini, dan

merupakan sebab hakiki dari segala kejadian.


Pengikut Aristoteles, menamakan suatu peristiwa sebagai hukum pasti sebab
dan akibat (hukum kausalitas), sedangkan Al-Ghazali seperti juga Al-Asyari
berpendapat bahwa suatu peristiwa itu adalah iradat Tuhan, dan Tuhan tetap bekuasa
mutlak untuk menyimpangkan dari kebiasaan-kebiasaan sebab dan akibat tersebut.
Sebagai contoh, kertas tidak mesti terbakar oleh api, air tidak mesti membasahi kain.
Semua ini hanya merupakan adat (kebiasaan) alam, bukan suatu kemestian.
Terjadinya segala sesuatu di dunia ini karena kekuasaan dan kehendak Allah semata.
Begitu juga dengan kasus tidak terbakarnya Nabi Ibrahim ketika dibakar dengan api.
Mereka menganggap hal itu tidak mungkin, kecuali dengan menghilangkan sifat
membakar dari api ituatau mengubah diri (zat) Nabi Ibrahim menjadi suatu materi
yang tidak bisa terbakar oleh api.
c.

Etika
Mengenai filsafat etika Al-Ghazali secara sekaligus dapat kita lihat pada teori

tasawufnya dalam buku Ihya Ulumuddin. Dengan kata lain, filsafat etika Al-Ghazali
adalah teori tasawufnya itu. Mengenai tujuan pokok dari etika Al-Ghazali kita temui
pada semboyan tasawuf yang terkenal Al-Takhalluq Bi Akhlaqihi Ala Thaqah alBasyariyah, atau Al-Ishaf Bi Shifat al-Rahman Ala Thaqah al-Basyariyah.
Maksudnya adalah agar manusia sejauh kesanggupannya meniru perangai dan sifatsifat ketuhanan seperti pengasih, pemaaf, dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, jujur,
sabar, ikhlas dan sebagainya.
Sesuai dengan prinsip Islam, Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta
yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat (kebaikan)
bagi sekalian alam. Berbeda dengan prinsip filsafat klasik Yunani yang menganggap
bahwa Tuhan sebagai kebaikan yang tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu
pendekatan diri dari manusia, dan menganggap materi sebagai pangkal keburukan
sama sekali.
Al-Ghazali sesuai dengan prinsip Islam, mengakui bahwa kebaikan tersebar di
mana-mana, juga dalam materi. Hanya pemakaiannya yang disederhanakan, yaitu
kurangi nafsu dan jangan berlebihan.

Bagi Al-Ghazali, taswuf bukanlah suatu hal yang berdiri sendiri terpisah dari

syariat, hal ini nampak dalam isi ajaran yang termuat dalam kitab Ihyanya yang
merupakan perpaduan harmonis antara fiqh, tasawuf dan ilmu kalam yang berarti
kewajiban agama haruslah dilaksanakan guna mencapai tingkat kesempurnaan. Dalam
melaksanakan haruslah dengan penuh rasa yakin dan pengertian tentang maknamakna yang terkandung di dalamnya.
Al-Ghazali mengktitik para filosof tentang tiga persoalan tentang kekeliruan para
filosof yaitu; (1) Bahwa materi dapat merusak sedangkan jiwa tidak, karena materi
adalah entitas material yang terpisah dan hanya jiwa yang abadi yang karena inilah
esensi logos yang merupakan ruh (2) Menolak klaim bahwa pengetahuan yang khusus
berubah jelas mungkin. Tuhan tidak mungkin berubah, dan (3) Al-Ghazali
mengatakan tidak ada satu kasus pun yang tidak abadi,mulai dari yang abadi.