Anda di halaman 1dari 8

MENGAPA KURIKULUM BERUBAH

A.Latar Belakang
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu
pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk
mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam
sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan
perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk
menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna
mencapai hasil yang maksimal.
Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan
dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh
perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta seni dan budaya . Perubahan secara terus menerus ini menuntut
perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk
penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu
bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
Perubahan kurikulum yang terjadi di indonesia dewasa ini salah satu
diantaranya adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri selalu tidak
tetap. Selain itu, perubahan tersebut juga dinilainya dipengaruhi oleh
kebutuhan manusia yang selalu berubah juga pengaruh dari luar,
dimana secara menyeluruh kurikulum itu tidak berdiri sendiri, tetapi
dipengaruhi oleh ekonomi, politik, dan kebudayaan. Sehingga dengan
adanya perubahan kurikulum itu, pada gilirannya berdampak pada
kemajuan bangsa dan negara. Kurikulum pendidikan harus berubah tapi
diiringi juga dengan perubahan dari seluruh masyarakat pendidikan di
Indonesia yang harus mengikuti perubahan tersebut, karena kurikulum
itu bersifat dinamis bukan stasis, kalau kurikulum bersifat statis maka
itulah yang merupakan kurikulum yang tidak baik.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba membahas
permasalahan yang dihadapi dalam mencari alternatif jawaban ataupun
solusi yang bisa dipecahkan bersama sehingga dapat terwujud
pemahaman mengenai perubahan kurikulum.
B. Perubahan Kurikulum
Menurut soetopo dan soemanto (1991: 38), pengertian perubahan
kurikulum agak sukar untuk dirumuskan dalam suatu devinisi. Suatu
kurikulum disebut mengalami perubahan bila terdapat adanya
perbedaan dalam satu atau lebih komponen kurikulum antara dua
periode tertentu, yang disebabkan oleh adanya usaha yang disengaja.
Sedangkan menurut nasution (2009:252), perubahan kurikulum
mengenai tujuan maupun alat-alat atau cara-cara untuk mencapai
tujuan itu . Mengubah kurikulum sering berarti turut mengubah
manusia, yaitu guru, pembina pendidikan, dan mereka-mereka yang
mengasuh pendidikan. Itu sebab perubahan kurikulum dianggap
sebagai perubahan sosial, suatu social change. Perubahan kurikulum
juga disebut pembaharuan atau inovasi kurikulum.

Mengenai makna perubahan kurikulum, bila kita bicara tentang


perubahan kurikulum, kita dapat bertanya dalam arti apa kurikulum
digunakan. Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen
yang dijadikan guru sebagai pegangan dalam proses belajar mengajar.
Kurikulum dapat juga dilihat sebagai produk yaitu apa yang diharapkan
dapat dicapai siswa dan sebagai proses untuk mencapainya. Keduanya
saling berkaitan. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang
hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu di revisi
secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Selanjutnya kurikulum dapat ditafsirkan sebagai apa yang dalam
kenyataan terjadi dengan murid didalam kelas. Kurikulum dalam arti ini
tak mungkin direncanakan sepenuhnya betapapun rincinya
dirrencanakan, karena dalam interaksi dalam kelas selalu timbul hal-hal
yang spontan dan kreatif yang tak dapat diramalkan sebelumnya.
Dalam hal ini guru lebih besar kesempatannya menjadi pengembang
kurikulum dalam kelasnya. Akhirnya kurikulum dapat dipandang
sebagai cetusan jiwa pendidik yang berusaha untuk mewujudkan citacita, nilai-nilai yang tertinggi dalam kelakuan anak didiknya. Kurikulum
ini sangat erat hubungannya dengan kepribadian guru.
Kurikulum yang formal mengubah pedoman kurikulum, relatif lebih
terbatas dari pada kurikulum yang riil. Kurikulum yang riil bukan
sekedar buku pedoman, melainkan segala sesuatu yang dialami anak
dalam kelas , ruang olahraga, warung sekolah, tempat bermain, karya
wisata , dan banyak kegiatan lainnya, pendek kata mengenai seluruh
kehidupan anak sepanjang bersekolah. Mengubah kurikulum dalam arti
yang luas ini jauh lebih luas dan dengan demikian lebih pelik , sebab
menyangkut banyak variabel. Perubahan kurikulum disini berarti
mengubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru sendiri, murid ,
kepala sekolah, penilik sekolah juga orang tua dan masyarakat
umumnya yang berkepentingan dalam pendidikan sekolah. Dalam hal
ini dikatakan, bahwa perubahan kurikulum adalah perubahan sosial,
curriculum change is social change.
C. Jenis-Jenis Perubahan
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991:39-40), Perubahan kurikulum
dapat bersifat sebagian-sebagian , tapi dapat pula bersifat menyeluruh.
a. Perubahan sebagian-sebagian
Perubahan yang terjadi hanya pada komponen (unsur) tentu saja dari
kurikulum kita sebut perubahan yang sebagian-sebagian. Perubahan
dalam metode mengajar saja, perubahan dalam itu saja, atau
perubahan dalam sistem penilaian saja, adalah merupakan contoh dari
perubahan sebagian-sebagian.
Dalam perubahan sebagian-sebagian ini, dapat terjadi bahwa
perubahan yang berlangsung pada komponen tertentu sama sekali
tidak berpengaruh terhadap komponen yang lain. Sebagai contoh,
penambahan satu atau lebih bidang studi kedalam suatu kurikulum
dapat saja terjadi tanpa membawa perubahan dalam cara (metode)
mengajar atau sistem penilaian dalam kurikulum tersebut. Ubahan

b. Perubahan menyeluruh
Disamping secara sebagian-sebagian, perubahan suatu kurikulum dapat
saja terjadi secara menyeluruh . artinya keseluruhan sistem dari
kurikulum tersebut mengalami perubahan mana tergambar baik
didalam tujuannya, isinya organisasi dan strategi dan pelaksanaannya.
Perubahan dari kurikulum1968 menjadi kurikulum 1975 dan 1976 lebih
merupakan perubahan kurikulum secara menyeluruh. Demikian pula
kegiatan pengembangan kurikulum sekolah pembangunan
mencerminkan pula usaha perubahan kurikulum yang bersifat
menyeluruh. Kurikulum 1975 dan 1976 misalnya , pengembangan ,
tujuan, isi, organisasi dan strategi pelaksanaan yang baru dan dalam
banyak hal berbeda dari kurikulum sebelumnya.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan kurikulum
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991:40-41), ada sejumlah faktor
yang dipandang mendorong terjadinya perubahan kurikulum pada
berbagai Negara dewasa ini.
Pertama, bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari
kekuasaan kaum kolonialis. Dengan merdekanya Negara-negara
tersebut, mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah dibina
dalam suatu sistem pendidikan yang sudah tidak sesuai lagi dengan
cita-cita nasional merdeka. Untuk itu , mereka mulai merencanakan
adanya perubahan yang cukup penting di dalam kurikulum dan sistem
pendidikan yang ada.
Kedua, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat
sekali. Di satu pihak , perkembangan dalam berbagai cabang ilmu
pengetahuan yang diajarkan di sekolah menghasilkan diketemukannya
teori-teori yang lama . Di lain pihak, perkembangan di dalam ilmu
pengetahuan psikologi, komunikasi, dan lain-lainnya menimbulkan
diketemukannya teori dan cara-cara baru di dalam proses belajar
mengajar. Kedua perkembangan di atas , dengan sendirinya mendorong
timbulnya perubahan dalam isi maupun strategi pelaksanaan
kurikulum.
Ketiga, pertumbuhan yang pesat dari penduduk dunia . dengan
bertambahnya penduduk, maka makin bertambah pula jumlah orang
yang membutuhkan pendidikan. Hal ini menyebabkan bahwa cara atau
pendekatan yang telah digunakan selama ini dalam pendidikan perlu
ditinjau kembali dan kalau perlu diubah agar dapat memenuhi
kebutuhan akan pendidikan yang semakin besar. Ketiga faktor di atas
itulah yang secara umum banyak mempengaruhi timbulnya perubahan
kurikulum yang kita alami dewasa ini.
E. Sebab-Sebab Kurikulum Itu Diubah
Kurikulum itu selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh
perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan
pendidikan dapat berubah secara fundamental, bila suatu negara
beralih dari negara yang dijajah menjadi Negara yang merdeka. Dengan

sendirinya kurikulum pun harus mengalami perubahan yang


menyeluruh.
Kurikulum juga diubah bila tekanan dalam tujuan mengalami
pergeseran. Misalnya pada tahun 30-an sebagai pengaruh golongan
progresif di USA tekanan kurikulum adalah pada anak, sehingga
kurikulum mengarah kepada child-centered curriculum sebagai reaksi
terhadap subject-centered curriculum yang dianggap terlalu bersifat
adult dan society-centered. Pada tahun 40-an , sebagai akibat perang,
asas masyarakatlah yang diutamakan dan kurikulum menjadi lebih
society-centered. Pada tahun 50-an dan 60-an, sebagai akibat sputnik
yang menyadarkan Amerika Serikat akan ketinggalan dalam ilmu
pengetahuan, para pendidik lebih cenderung kepada kurikulum yang
discipline-centered, yang mirip kepada subject-centered curriculum.
Tampaknya seakan-akan orang kembali lagi kepada titik semula. Akan
tetapi, lebih tepat, bila kita katakan, bahwa perkembangan kurikulum
seperti spiral, tidak sebagai lingkaran, jadi kita tidak kembali kepada
yang lama, tetapi pada suatu titik di atas yang lama.
Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian
baru mengenai proses belajar, sehingga timbul bentuk-bentuk
kurikulum seperti activity atau experience curriculum, programmed
instruction, pengajaran modul, dan sebagainya.
Perubahan dalam masyarakat, eksplosi ilmu pengetahuan dan lain-lain
mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan-perubahan itu
menyebabkan kurikulum yang berlaku tidak lagi relevan, dan ancaman
serupa ini akan senantiasa dihadapi oleh setiap kurikulum , betapapun
relevannya pada suatu saat.
Maka karena itu perubahan kurikulum merupakan hal biasa. Malahan
mempertahankan kurikulum yang ada akan merugikan anak-anak dan
demikian fungsi kurikulum itu sendiri. Biasanya perubahan satu asas
akan memerlukan perubahan keseluruhan kurikulum itu.
F. Kesulitan-Kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum
Sejarah menunjukkan bahwa sekolah itu sangat sukar menerima
pembaharuan. Ide yang baru tentang pendidikan memerlukan waktu
sekitar 75 tahun sebelum dipraktikan secara umum di sekolah-sekolah.
Manusia itu pada umumnya bersifat konservatif dan guru termasuk
golongan itu juga. Guru-guru lebih senang mengikuti jejak-jejak yang
lama secara rutin. Ada kalanya karena cara yang demikianlah yang
paling mudah dilakukan. Mengadakan pembaharuan memerlukan
pemikiran dan tenaga yang lebih banyak. Tak semua orang suka bekerja
lebih banyak daripada yang diperlukan. Akan tetapi ada pula kalanya,
bahwa guru-guru tidak mendapat kesempatan atau wewenang untuk
mengadakan perubahan karena peraturan-peraturan administrative.
Guru itu hanya diharapkan mengikuti instruksi atasan.
Pembaharuan kurikulum kadang-kadang terikat pada tokoh yang
mencetuskannya. Dengan meninggalnya tokoh itu lenyap pula
pembaharuan yang telah dimulainya itu.

Dalam pembaharuan kurikulum ternyata bahwa mencetuskan ide-ide


baru lebih mudah daripada menerapkannya dalam praktik. Dan
sekalipun telah dilaksanakan sebagai percobaan, masih banyak
mengalami rintangan dalam penyebarluasannya, oleh sebab harus
melibatkan banyak orang dan mungkin memerlukan perubahan struktur
organisasi dan administrasi sistem pendidikan.
Pembaharuan kurikulum sering pula memerlukan biaya yang lebih
banyak untuk fasilitas dan alat-alat pendidikan baru, yang tidak selalu
dapat dipenuhi. Tak jarang pula pembaharuan ditentang oleh mereka
yang ingin berpegang pada yang sudah lazim dilakukan atau yang
kurang percaya akan yang baru sebelum terbukti kelebihannya. Bersifat
kritis terhadap pembaharuan kurikulum adalah sifat yang sehat, karena
pembaharuan itu jangan hanya sekedar mode yang timbul pada suatu
saat untuk lenyap lagi dalam waktu yang tidak lama.
G. Strategi kepemimpinan Dalam Perubahan Kurikulum
Strategi dimaksud rencana serangkaian usaha untuk mencapai tujuan ,
dalam hal ini perubahan kurikulum. Untuk mengubah kurikulum dapat
diikuti strategi yang berikut :
a. Mengubah seluruh sistem pendidikan yang hanya dapat dilakukan
oleh pusat yakni Depdikbud karena mempunyai wewenang penuh untuk
mengadakan perubahan kurikulum secara total. Perubahan ini
menyeluruh dan dijalankan secara uniform di seluruh Negara. Usaha
besar-besaran ini hanya dapat dikoordinasi oleh pusat dengan
memberikan pernyataan kebijaksanaan, petunjuk-petunjuk pelaksanaan
dan buku pedoman. Strategi ini sangat ekonomis mengenai waktu dan
tenaga bila mengadakan perubahan kurikulum secara uniform dan
menyeluruh.
b. Mengubah kurikulum tingkat lokal
Kurikulum yang nyata, yang riil, hanya terdapat di mana guru dan
murid berada, yakni sekolah dan dalam kelas. Di sinilah dihadapi
masalah kurikulum yang sesungguhnya . Di sinilah dihadapi masalah
kurikulum yang sesungguhnya . Dalam kelas kurikulum menjadi hidup,
bukan hanya secarik kertas. Dalam menghadapi anak, mau tak mau
setiap guru akan menghadapi masalah yang harus diatasinya. Dalam
pelaksanaan kurikulum dalam kelas terhadap murid yang berbedabeda, tak dapat tiada guru harus mengadakan penyesuaian.
Bagaimanapun ketatnya perincian kurikulum , guru selalu mendapat
kesempatan untuk mencobakan pikirannya sendiri. Pedoman kurikulum
hanya dapat dijiwai oleh guru dan pribadi guru terjalin erat dengan cara
ia melaksanakan kurikulum itu. Kelaslah yang menjadi garis depan
perubahan dan perbaikan kurikulum.
Dibawah pimpinan kepala sekolah dapat diadakan rapat seluruh staf,
atau setiap tingkatan atau bidang studi. Rapat-rapat mengenai
perbaikan kurikulum sebaiknya dilakukan secara kontinu oleh sebab
tujuannya tidak diperoleh sekaligus. Perbaikan sesungguhnya akan
terjadi bila guru sendiri menyadari kekurangannya, ada kalanya atas

pemikirannya sendiri, atau interaksinya dengan siswa dan dalam


diskusi dengan teman guru lainnya. Usaha perbaikan yang dijalankan
oleh guru-guru memerlukan kordinasi kepala sekolah.
Perubahan kurikulum di sekolah tidak berarti bahwa sekolah itu
menyendiri dan melepaskan diri dari kurikulum resmi. Sekolah itu tetap
bergerak dalam rangka kurikulum resmi yang berlaku akan tetapi
berusaha untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan anak dan
lingkungannya serta berusaha untuk meningkatkannya. Ada
menyebutnya kurikulum plus. Kurikulum resmi hanya memberikan
kurikulum minimal yang diharapkan harus dicapai oleh segenap siswa
di seluruh Indonesia. Sama sekali tidak dilarang memberi bahan yang
lebih mendalam dan luas bagi anak-anak yang berbakat. Adanya
perbedaan antara apa yang diajarkan disuatu sekolah tidak perlu
mempersulit anak pindah sekolah, selama sekolah itu mengajarkan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip atau struktur ilmu, sedangkan isinya
secara detail tidak esensial.
c. Memberikan pendidikan in-service dan pengembangan staf.
Dianggap bahwa kurikulum sekolah akan mengalami perbaikan jika
mutu guru ditingkatkan. In-service training dianggap lebih formal ,
dengan rencana yang lebih ketat dan diselenggarakan atas instruksi
pihak atasan. Pengembangan staf atau staff development lebih tak
formal, lebih bebas disesuaikan dengan kebutuhan guru. Guru misalnya
dapat disuruh mengobservasi dan menilai dirinya mengajar yang telah
divideo-tape. Apa yang dipelajari dalam inservice dan pengembangan
staf hendaknya dipraktikkan.
d. Supervisi
Dahulu penilik sekolah mengunjungi sekolah untuk mengadakan
inspeksi dan memberi penilaian terhadap guru dan sekolah.
Kedatangannya dipandang sebagai hari mendung penuh rasa takut
yang dihadapi guru dengan segala macam tipu muslihat. Kini
pengertian supervisi sudah berubah. Tujuannya ialah membantu guru
mengadakan perbaikan dalam pengajaran. Supervisi adalah member
pelayanan kepada guru untuk memperoleh proses belajar-mengajar
yang lebih efektif. Bila dirasa perlu penilik sekolah dapat memberikan
demonstrasi bagaimana melaksanakan suatu metode baru. Seorang
penilik sekolah harus senantiasa mempelajari perkembangan kurikulum
dan metode mengajar modern dan dapat pula menerapkannya. Ialah
sebenarnya hulubalang dalam modernisasi pendidikan.
e. Reorganisasi sekolah
Reorganisasi diadakan bila sekolah itu ingin merombak seluruh cara
mendidik di sekolah itu dengan menerima cara yang baru sama sekali.
Hal ini antara lain dapat terjadi bila sekolah itu akan menjalankan
misalnya team teaching , non-grading , metode unit, open school, dan
lain-lain yang memerlukan perubahan dalam semua aspek pengajaran,
seperti bentuk ruangan, fasilitas , penjadwalan , tugas guru, kegiatan
siswa , administrasi, dan sebagainya. Hal serupa ini akan jarang

terdapat di negara kita dewasa ini , kecuali bila diadakan eksperimen


dengan metode baru, misalnya pengajaran modul.
f. Eksperimentasi dan penelitian
Negara kita tidak tertutup bagi macam-macam pembaruan dalam
pendidikan. Kemajuan komunokasi dan transport membuka pendidikan
kita bagi berbagai pengaruh di bagian lain dunia ini. Cirri kemajuan
ialah perubahan dan perbaikan, juga dalam bidang pendidikan di
sekolah. Penelitian atau research pendidikan belum cukup dilakukan di
Negara kita ini. Biasanya penelitian tidak langsung dapat ditetapkan
dan melalui fase yang lama sebelum diterima secara umum.
Yang lebih mungkin dilaksanakan ialah eksperimentasi, yakni
mencobakan metode atau bahan baru. Pada dasarnya setiap kurikulum
baru harus diujicobakan lebih dahulu sebelum disebarkan di semua
sekolah. Risiko pembaruan kurikulum tanpa uji coba sangat besar,
dapat menghamburkan biaya dan tenaga yang banyak, tanpa jaminan
bahwa pembaruan itu akan membawa perbaikan.
Percobaan metode baru dilakukan secara berkala, antara lain sekolah
pembangunan yang kemudian menjadi PPSI cukup dikenal, sayang tidak
berbekas selanjutnya. Demikian pula CBSA dan muatan lokal diuji
cobakan selain percobaan lainnnya.
Secara kecil-kecilan yang tidak sistematis, sebenarnya tiap guru pernah
mengadakan eksperimentasi. Bila misalnya ada murid yang suka ribut
dalam kelas, menempatkannya di bangku paling depan, dengan
hipotesis, bahwa dengan pengawasan yang lebih ketat murid itu akan
berubah kelakuannya. Ada guru yan g menganjurkan anak yang
ketinggalan agar belajar bersama dengan murid yang pandai, atau guru
memberi tanggung jawab kepada murid yang nakal. Bila diselidiki boleh
dikatakan bahwa tiap guru pernah melakukan percobaan kecil-kecilan
seperti ini, bila ia menghadapi suatu kesulitan dan mencari jalan untuk
mengatasinya.
Penelitian adalah cara yang secara sistematis mengikuti langkahlangkah tertentu untuk memecahkan suatu masalah. Biasanya guru
jarang melakukannya. Yang banyak dilakukan guru ialah percobaan
kecil-kecilan yang kurang sistematis bila ia menyadari adanya masalah
yang dihadapinya dan berniat untuk mengatasinya. Masalah akan
timbul, bila guru itu mengadakan evaluasi tentang pekerjaannya
sendiri, dan selain itu peka terhadap kritik dari dunia luar, melihat
kekurangan pendidikan berdasarkan ebtanas atau evaluasi lainnya, dan
umumnya bila merasa kurang puas dengan apa yang dilakukannya.
Perbaikan kurikulum pada hakikatnya terjadi dalam kelas dan dalam hal
ini guru memegang peranan yang paling utama. Maka guru harus lebih
menyadari peranannya sebagai pengembang kurikulum.
Referensi:
Nasution. 2009. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran.


Jakarta: Kencana.
Soetopo dan Soemanto. 1991. Pembinaan Dan Pengembangan
Kurikulum Sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan .
Jakarta: Bumi Aksara.
Soemantri, Hermana. 1993. Perekayasaan Kurikulum. Bandung:
Angkasa.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003.
Depdiknas. 2005.
Sumber:http://yherpansi.wordpress.com/2010/05/08/70/