Anda di halaman 1dari 6

Amenorea Sekunder

Amenorea sekunder didefinisikan sebagai terhentinya siklus menstruasi selama 6 bulan pada
wanita yang sebelumnya sudah mengalami menstruasi. Amenorea sekunder tidak selamanya
merupakan proses yang patologis. Amenorea sekunder yang fisiologis terjadi pada saat
kehamilan, saat menyusui, dan setelah menopause. Selain dari ketiga hal diatas, maka dapat
dipastikan bahwa amenorea sekunder tersebut bersifat patologis.
Penyebab amenorea sekunder berbagai macam, contoh-contoh dari etiologi amenorea sekunder
dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Berbagai etiologi amenorea sekunder dan persentasenya. PCOS =


Polycystic Ovarian Syndrome. CAH = Congenital Adrenal Hyperplasia

Untuk mengetahui sebabnya secara pasti, diperlukan pemeriksaan secara mendalam dari masingmasing organ yang berperan dalam terjadinya siklus menstruasi. Untuk mempermudah diagnosa,
penyebab dari amenorea sekunder dibagi menjadi beberapa kompartemen. Pembagian ini
mengikuti sistem kaskade, sehingga kita perlu mencari penyebab dari kompartemen I hingga
kompartemen IV. Hubungan dari masing-masing kompartemen dapat dilihat pada Gambar 1, dan
masing-masing kelainan yang dapat terjadi pada masing-masing kompartemen dapat dilihat pada
Tabel 2.

Gambar 1. Pembagian kompartemen dari penyebab amenorea sekunder

Tabel 2. Etiologi amenorea sekunder yang sering dijumpai pada masing-masing kompartemen

Berikut adalah penjabaran dari masing-masing etiologi:

Hipotalamus
o Stres
Stres atau pengaruh psikologis dapat mempengaruhi pelepasan GnRH dari
hipotalamus. GnRH yang menurun menyebabkan rendahnya hormon
gonadotropin yang akan dilepaskan oleh pituitari, sehingga tidak akan terjadi
menstruasi

o Post pill
o Setelah pemberhentian pil KB yang rutin diminum oleh wanita, GnRH tidak
mampu untuk cepat beradaptasi lagi dengan lingkungan tanpa suplementasi
hormon dari luar, akibatnya terjadi amenorea untuk beberapa saat, namun siklus
menstruasi umumnya akan kembali normal
o Perubahan berat badan secara mendadak
Sama seperti pada stres, pada wanita dengan perubahan berat secara mendadak,
baik naik ataupun turun, akan mempengaruhi pelepasan GnRH.
o Obat-obatan antihipertensi dan antipsikosis (iatrogenik)
Obat-obatan antihipertensi golongan dopamin antagonis dan obat-obatan
antipsikosis golongan fenotiazin akan mempengaruhi pelepasan dopamin dan
mengurangi jumlah reseptor dopamin. Reaksi ini akan meningkatkan hormon
prolaktin, dimana hormon prolaktin akan menstimulasi hormon androgen. Dengan
demikian, jumlah hormon androgen akan lebih banyak dibandingkan hormon
estrogen, sehingga tidak terjadi siklus menstruasi yang baik
Pituitari
o Adenoma
Adenoma pada pituitari pada umumnya akan menghasilkan hormon prolaktin,
yang akan menstimulasi terbentuknya hormon androgen
o Sindroma Sheehan
Sindroma Sheehan adalah rusaknya sebagian atau seluruh bagian dari pituitari
akibat trombosis vena yang disebabkan oleh pendarahan postpartum hebat atau
syok hipovolemik. Kerusakan bersifat ireversibel. Kerusakan pada pituitari akan
menghalangi hormon-hormon pituitari untuk terbentuk, yaitu GH, gonadotropin,
TSH, adenokortikotropin dan prolaktin
Ovarium
o Polikistik Ovarian Sindrom
Polikistik Ovarian Sindrom (PCOS) adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh
ovarium yang berakibat pada banyaknya folikel yang berkembang namun tidak
dapat berovulasi. Hal ini disebabkan oleh banyaknya hormon androgen pada
tubuh wanita. Hormon androgen dapat dicetuskan dari peningkatan LH secara
abnormal. LH umumnya akan mencetuskan terjadinya ovulasi, namun pada
PCOS, LH akan memicu keluarnya hormon androgen dari sel teka dan stroma
dari ovarium. Akibatnya, hormon estrogen dan androgen akan sama-sama beredar
dalam tubuh. Namun, terdapat feedback pada pituitari dimana akan terus
menghasilkan LH karena hormon estrogen tinggi. Akibatnya, FSH akan ditekan
sehingga folikel ovarium tidak matur dan tidak dapat ovulasi.
o Kegagalan ovarium prematur (Premature Ovarian Failure)
Kegagalan ovarium prematur adalah suatu kondisi dimana folikel dari kedua
ovarium telah habis sebelum wanita tersebut mencapai umur 40 tahun. Hal ini
dapat disebabkan oleh kurangnya sel primordial untuk berkembang menjadi
ovum, atau stimulasi berlebihan pada ovarium sehingga folikel yang berkembang
lebih dari 1, sehingga folikel lebih cepat habis. Ketiadaan folikel pada ovarium
akan mengurangi kadar hormon estrogen, sehingga akan berdampak pada tidak
adanya menstruasi.

Uterus
o Uterine synechiae (Sindroma Asherman)
Pada sindroma Asherman, terjadi adhesi pada dinding endometrium dari uterus.
Biasanya adhesi ini terjadi setelah tindakan kuretase atau setelah abortus.
Perlengketan pada endometrium tidak memungkinkan endometrium untuk luruh
walaupun tidak ada hormon progesteron untuk menopang endometrium, sehingga
akan bermanifestasi sebagai amenorea
Sistemik
o Malnutrisi
Malnutrisi dalam berbagai jenis dapat mengganggu siklus menstruasi, walaupun
dari masing-masing jenis malnutrisi memiliki patofisiologi yang berbeda.
o Hipotiroidisme
Keadaan hipotiroid akan meningkatkan sensitivitas dari sekresi prolaktin pada
pituitari akibat tingginya TRH pada pituitari
o Diabetes Mellitus
Pada DM tipe II, akan terjadi resistensi insulin pada sel. Karena insulin tidak
dapat dipakai, maka akan terjadi keadaan hiperinsulinemia. Hiperinsulinemia
akan memicu sel teka ovarium untuk menstimulasi keluarnya hormon androgen
dan menginhibisi hepar untuk produksi sex binding hormone globulin, sehingga
hormon androgen yang dihasilkan bebas tidak dalam bentuk terikat.

Untuk mendiagnosis dengan tepat, American Academy of Family Physicians mengeluarkan


algoritma untuk membantu mendiagnosis dengan tepat kausa dari amenora sekunder. Algoritma
tersebut dapat dilihat di Gambar 2.

Gambar 2. Algoritma untuk menentukan kausa amenorea sekunder

Untuk terapi dari amenorea sekunder, tidak ada terapi pasti karena etiologi dari masing-masing
pasien dapat berbeda, sehingga terapinya pun berbeda. Ada beberapa hal penting yang dapat
menjadi panduan dalam menterapi amenorea sekunder:
1. Singkirkan amenorea sekunder yang fisiologis (kehamilan, menyusui, dan setelah
menopause)
2. Cek penyebab selain estrogen dan progesteron (prolaktin, TSH)
3. Jika penyebab lain negatif, maka lakukan progesteron challenge
4. Bila terdapat withdrawal bleeding, maka berikan progesteron untuk terapi. Apabila tidak
terjadi withdrawal bleeding, berikan kombinasi estrogen progesteron
5. Apabila terjadi withdrawal bleeding, maka berikan pil kombinasi untuk terapi. Apabila
tidak juga terjadi withdrawal bleeding, tentukan penyebab lain
Daftar Pustaka

1. dutta ginekologi
2. williams ginekologi
3. Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;
2011
4. Hunter TM, Heiman DL. Amenorrhea: Evaluation and Treatment. 2006 [cited 2016 Jan 20].
Available from: http://www.aafp.org/afp/2006/0415/p1374.html