Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Prolaps alat kelamin merupakan turunnya alat kelamin dalam yang dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu prolapa vagina dan prolaps uterus. Prolapsus
uteri terjadi karena kelemahan ligament endopelvik terutama ligamentum
transversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai
prolapsus uteri tanpa sistokel tetapiada enterokel. Pada keadaan ini fasia pelvis
kurang baik pertumbuhannya dan kurang keregangannya. Faktor penyebab lain
yang sering adalah melahirkan dan menopause. Di Indonesia, prolapsus genitalis
lebih sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua, dan wanita
dengan pekerjaan berat.1,2
Pada setiap pembedahan diperlukan upaya untuk menghilangkan nyeri.
Dalam upaya menghilangkan nyeri, rasa takut perlu ikut dihilangkan untuk
menciptakan kondisi optimal bagi pembedahan. Untuk itu diperlukan cara
memilih obat yang rasional dan teknik anestesi yang paling aman untuk penderita.
Tindakan anestesia yang dilakukan untuk menunjang tindakan operasi
Biliodigesty Bypass pada kasus pembedahan ialah anestesi umum.3
Anestesi umum merupakan suatu keadaan dimana hilangnya kesadaran
disertai dengan hilangnya perasaan sakit di seluruh tubuh akibat pemberian obatobatan anestesi dan besifat reversible (dapat kembali kepada keadaan semula).
Teknik anestesi umum dapat berupa anestesi umum intravena, anestesi umum
inhalasi, maupun anestesi imbang.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Anestesi
Kata anestesi diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang
menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian
obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Anestesi adalah
suatu keadaan depresi dari pusat-pusat saraf tertentu yang bersifat reversible,
dimana seluruh perasaan dan kesadaran hilang. Anestesi yang sempurna harus
memenuhi 3 syarat (Trias Anestesi) yaitu:
a.
b.
c.

Hipnotik, hilang kesadaran


Analgetik, hilang perasaan sakit
Relaksan, relaksasi otot-otot4,5
Dalam praktek anestesi, ada tiga jenis anestesi yang diberikan pada pasien

yang akan menjalani pembedahan, yaitu:


1.
2.
3.

Anestesi umum
Anestesi lokal
Anestesi regional4

2.2 Anestesi Umum


Anestesi umum yaitu suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara
yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat
anestesi. Teknik anestesi umum dapat berupa anestesi umum intravena, anestesi
umum inhalasi, maupun anestesi imbang.4
2.2.1 Stadium Anestesi Umum
Stadium anestesi umum:
1. Stadium I (Stadium Analgesia/ Stadium Disorientasi)
Dimulai dari induksi sampai hilangnya kesadaran
Ditandai dengan hilangnya refleks bulu mata
2. Stadium II (Stadium Excitement/ Stadium Delirium)

Dimulai dari hilangnya kesadaran sampai permulaan bernafas

teratur
Ditandai dengan hilangnya refleks kelopak mata
Pada stadium ini bisa terjadi batuk, nafas panjang, melawan/

berontak dan muntah


3. Stadium III (Stadium Surgical Anestesia)
Dimulai dari pernafasan yang teratur sampai henti nafas (respiratory
arrest). Stadium ini terdiri atas :
Plane 1 : dari permulaan nafas teratur hingga berhentinya gerakan

bola mata
Plane 2 : dari berhentinya gerakan bola mata hingga permulaan

dari paralise otot interkostal


Plane 3 : dari permulaan hingga komplit paralise dari otot-otot

interkostal
Plane 4 : dari paralise otot interkostal yang komplit hingga paralise

diafragma
4. Stadium IV (Stadium Overdosis)

Dimulai dari permulaan paralise diafragma hingga henti jantung

(cardiac arrest)
Stadium ini sangat berbahaya apabila terjadi. Ini terjadi karena
overdosis obat-obatan anestesi5

2.2.2 Penilaian dan Persiapan Pra Anestesi

Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia sebelumnya
sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat
perhatian khusus, misalnya alergi, mual-muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau
sesak nafas.6

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan keadaan gigi, tindakan buka mulut, lidah yang relatif besar
sangat penting untuk mengetahui apakah akan menyulitkan tindakan

laringoskopi intubasi. Pemeriksaan rutin lain secara sistematik tentang


keadaan umum tentu tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi semua sistem organ tubuh pasien.5
Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai


dengan dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Pemeriksaan laboratorium
rutin yang sebaiknya dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap (Hb,
leukosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada pasien
yang berusia di atas 50 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan foto toraks
dan EKG.6
Klasifikasi status fisik

Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang


ialah yang berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA). Fkui
Kelas I

: pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II

: pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III : pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin
terbatas.
Kelas IV : pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan
aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.
Kelas V

: pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan

hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.


Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E.6
2.2.3 Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi
anestesi dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun
dari anestesi diantaranya:

Meredakan kecemasan dan ketakutan


Memperlancar induksi anestesi
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

Meminimalkan jumlah obat anestesi


Mengurangi mual-muntah pasca bedah
Menciptakan amnesia
Mengurangi isi cairan lambung
Mengurangi reflek yang membahayakan4,6

Tabel 2.1 Obat yang sering digunakan untuk premedikasi4


Jenis Obat
Sedatif

Dosis

Diazepam

5-10 mg

Difenhidramin

1 mg/kgbb

Promethazin

1 mg/kgbb

Midazolam
Analgetik Opiat

0,1-0,2 mg/kgbb

Petidin

1-2 mg/kgbb

Morfin

0,1-0,2 mg/kgbb

Fentanil

1-2 g/kgbb

Analgetik non opiate


Antikholinergik

Desesuaikan

Sulfas atropine
Antiemetik

0,1 mg/kgbb

Ondansetron

4-8 mg (IV) dewasa

Metoklopramid
Profilaksis Aspirasi

10 mg (IV) dewasa

Cimetidin

Dosis disesuaikan

Ranitidine
Antacid

2.2.4 Induksi
Induksi anestesi ialah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesia dan pembedahan.
Induksi anestesi dapat dikerjakan secara intravena, inhalasi, intramuscular atau
rectal. Sebelum memulai induksi anestesia, selayaknya disiapkan peralatan dan

obat-obatan yang diperlukan, sehingga seandainya terjadi keadaan gawat dapat


diatasi dengan lebih cepat dan lebih baik. Untuk persiapan induksi anestesi
sebaiknya kita ingat kata STATICS:

S = Scope
Stetoskop, untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringo-Scope, pilih
bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup

terang.
T = Tubes
Pipa trakea, pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan > 5

tahun dengan balon (cuffed).


A = Airway
Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring (nasotracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar untuk

menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan nafas.


T = Tape
Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
I = Introducer
Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel) yang mudah
dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.
C = Connector
Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia.
S = Suction
Penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.6

2.2.5 Anestesi Umum Intravena


Merupakan salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan jalan
menyuntikkan obat anestesi parenteral langsung kedalam pembuluh darah vena.
Beberapa variasi anestesi intravena seperti anestesi intravena klasik, anestesi
intravena total, anestesia-analgesia neurolept. Obat-obat anestesi intravena dan
khasiat anestesinya:
o
o
o

Ketamin HCl
Tiopenton
Propofol

: hipnotik dan analgetik


: hipnotik
: hipnotik

Diazepam
Dehidrobenzoperidol
Midazolam
Petidin
Morfin
Fentanil / sufentanil

o
o
o
o
o
o

: sedative dan menurunkan tonus otot


: sedatif
: sedatif
: analgetik dan sedatif
: analgetik dan sedatif
: analgetik dan sedatif4

2.3 Anestesi Umum Inhalasi


Merupakan salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan jalan
memberikan kombinasi obat anestesi inhalasi yang berupa gas dan atau cairan
yang mudah menguap melalui alat/mesin anestesi langsung ke udara inspirasi.4
Dalam dunia modern, anestesi inhalasi yang umum digunakan untuk
praktek klinik ialah N2O, halotan, enfluran, isofluran, desfluran, dan sevofluran.
Pemakaian N2O harus selalu dikombinasikan dengan O2 dengan perbandingan
70:30 atau 60:40 atau 50:50, tergantung kondisi pasien. Dosis obat volatile
(halotan, enfluran, isofluran, desfluran, dan sevofluran) dimulaio dengan dial
set rendah kemudian ditingkatkan sesuai dengan target stadium anestesi yang
diperlukan.4,6
Teknik anestesi umum inhalasi:
1.
2.
3.

Inhalasi sungkup muka


Inhalasi sungkup laring
Inhalasi pipa endotrakea (Endotrachea Tube)4

2.3.1 Inhalasi Pipa Endotrakea (Endotrache Tube)


Inhalasi pipa endotrakea (Endotrachea Tube) merupakan pemakaian salah
satu kombinasi obat-obatan anestesi inhalasi secara inhalasi melalui pipa
endotrakea dan pemakaian obat pelumpuh otot non depolarisasi, selanjutnya
dilakukan nafas terkendali.4
Indikasi teknik anestesi ini dilakukan pada operasi:
1.
2.
3.
4.

5.

Kraniotomi
Torakotomi
Laparatomi
Operasi dengan kondisi khusus, misalnya posisi miring seperti operasi ginjal,
posisi tengkuran seperti operasi tulang belakang.
Operasi yang berlangsung lama (>1 jam).4

Kontraindikasi teknik anestesi ini ialah berhubungan dengan efek


farmakologi obat yang digunakan. 4
Obat-obat anestesi umum inhalasi yang sering digunakan antar lain:
a. N2O
Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
dan lebih berat daripada udara. N 2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan
bertekanan tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu kamar 50 atmosfir.
N2O mempunyai efek analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N 2O dalam oksigen
efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar optimum untuk mendapatkan efek
analgesic maksimum 35% . gas ini sering digunakan pada partus yaitu diberikan
100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi
kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk mencegah terjadinya
hipoksia. Anestetik tunggal N 2O digunakan secara intermiten untuk mendapatkan
analgesic pada saat proses persalinan dan pencabutan gigi. H 2O digunakan secara
umum untuk anestetik umum, dalam kombinasi dengan zat lain. 4,6

b. Halotan
Merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar dan tidak
mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen. Halotan bereaksi dengan perak,
tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom, karet dan plastic. Karet larut dalam
halotan, sedangkan nikel, titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini
harus dengan alat khusus yang disebut fluotec. Efek analgesik halotan lemah tetapi
relaksasi otot yang ditimbulkannya baik. Dengan kadar yang aman waktu 10 menit
untuk induksi sehingga mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). Kadar
minimal untuk anestesi adalah 0,76% volume. 4,6
c. Isofluran
Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Secara kimiawi mirip dengan
efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam sehingga
membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena penderita
8

menahan nafas dan batuk. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi
dapat dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N 2O dan O2.
Isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi. Tendensi timbul aritmia amat
kecil sebab isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin.
Peningkatan frekuensi nadi dan takikardiadihilangkan dengan pemberian propanolol
0,2-2 mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0,1 mg fentanil), sesudah
hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih dulu. Penurunan volume semenit dapat
diatasi dengan mengatur dosis. Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak
terjadi perangsangan SSP seperti pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan
aliran darah otak pada kadar labih dari 1,1 MAC (minimal Alveolar Concentration)
dan meningkatkan tekanan intrakranial. 4,6
d. Sevofluran
Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling disukai untuk
induksi inhalasi. 4,6

2.3.2 Intubasi Endotrakea


Intubasi trakea adalah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam trakea
melalui rima glotis , sehingga ujung distalnya berada kira-kira dipertengahan
trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea. Kesulitan memasukkan pipa trakea
berhubungan dengan variasi anatomi yang dijumpai.6

Gambar 2.1 Tampakan Rima Glottis Ketika Laringoskop


Klasifikasi tampakan faring pada saat mulut terbuka maksimal dan lidah
dijulurkan maksimal menurut Mallampati dibagi menjadi 4 grade:

Grade I

Pilar faring, uvula, dan palatum mole terlihat jelas

Grade II

Uvula dan palatum mole terlihat sedangkan pilar

faring tidak terlihat

Grade III

Hanya palatum mole yang terlihat

Grade IV

Pilar faring, uvula, dan palatum mole tidak terlihat6

10

Gambar 2.2 Klasifikasi Mallampati Pada Mulut Terbuka


Indikasi Intubasi Endotrakea
Indikasi intubasi trakea sangat bervariasi dan umumnya digolongkan
sebagai berikut:
1.

2.

3.

Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun.


Kelainan anatomi, bedah khusus, bedah posisi khusus, pembersihan secret
jalan napas, dan lain-lainnya.
Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi.
Misalnya, saat resusutasi, memungkinkan penggunaan relaksan dengan
efisien, ventilasi jangka panjang.
Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgutasi6
Kesulitan intubasi:
1.

Leher pendek berotot


Mandibula menonjol
3.
Maksila / gigi depan menonjol
4.
Uvula tak terlihat (Mallampati 3 atau 4)
5.
Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
6.
Gerak vertebra servikal terbatas6
Tabel 2.2 indikasi intubasi7
2.

Indikasi Intubasi Endotrakeal


Rutin

11

Untuk memberikan anestesi


Emergensi
Obstruksi jalan napas
Kegagalan oksigenasi (hipoksia)
Perubahan status mental (GCS<8/15)
Resusitasi jantung paru
Distres pernapasan
Kegagalan ventilasi (hiperkarbia)
Flail chest / kontusio paru
Alat yang Digunakan
1. Laringoskop
Laringoskop ialah alat yang digunakan untuk melihat laring secara langsung
supaya kita dapat memasukkan pipa trakea dengan baik dan benar. Secara
garis besar dikenal dua macam laringoskop:

Bilah, daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi-anak-dewasa.

Bilah lengkung (Miller, Magill) untuk anak besar-dewasa.6

Gambar 2.3 Jenis Laringoskop

2. Pipa endotrakea
Ukuran diameter lubang pipa endotrakea dalam millimeter. Karena
penampang trakea bayi, anak kecil dan dewasa berbeda, penampang melintang
trakea bayi dan anak kecil dibawah usia 5 tahun hamper bulat, sedangkan
dewasa seperti huruf D, maka untuk bayi dan anak digunakan tanpa kaf (cuff)
dan untuk anak besar-dewasa dengan kaf, supaya tidak bocor. 6
Tata Laksana Intubasi Endotrakea
12

1)
2)
3)
4)

5)
6)
7)

Pasien telah dipersiapkan sesuai dengan pedoman.


Pasang alat pantau yang diperlukan.
Siapkan alat-alat dan obat resusitasi.
Siapkan mesin anestesi dengan system sirkuitnya dan gas anestesi yang
dipergunakan.
Induksi dengan pentothal atau obat hipnotik yang lain.
Berikan obat pelumpuh otot intravena secara cepat untuk fasilitas intubasi.
Berikan nafas buatan melalui sungkup muka dengan oksigen 100%
mempergunakan fasilitas mesin anestesi, sampai fasikulasi hilang dan otot

8)
9)
10)

11)

12)

13)

14)
15)

rahang relaksasi.
Lakukan laringoskopi dan pasang pipa endotrakea (ETT).
Fiksasi ETT dan hubungkan dengan sirkuit mesin anestesi.
Berikan salah satu kombinasi obat inhalasi dan obat pelumpuh otot non
depolarisasi secara intravena.
Kendalikan nafas pasien secra manual atau mekanik dengan volume dan
frekuensi nafas disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Pantau tanda vital secara kontinyu dan periksa analisis gas darah apabila ada
indikasi.
Apabila operasi sudah selesai, hentikan aliran gas/obat anestesi inhalasi dan
berikan oksigen 100% (4-8 liter/menit) selama 2-5 menit.
Berikan neostigmin dan atropine.
Ekstubasi ETT dilakukan apabila pasien sudah berbafas spontan dan adekuat
serta jalan nafas (mulut, hidung, pipa endotrakea) sudah bersih. 4

Komplikasi Intubasi Endotrakea


Komplikasi selama intubasi:
1.
Trauma gigi-geligi
2.
Laserasi bibir, gusi, laring
3.
Merangsang saraf simpatis (hipertensi-takikardi)
4.
Intubasi bronkus
5.
Intubasi esophagus
6.
Aspirasi
7.
Spasme bronkus6
Komplikasi setelah ekstubasi
1.
2.
3.
4.
5.

Spasme laring
Aspirasi
Gangguan fonasi
Edena glottis-subglotis
Infeksi laring, faring, trakea6

2.4 Prolaps Uteri


2.4.1 Epidemiologi

13

Di Indonesia, prolapsus genitalis lebih sering dijumpai pada wanita yang


telah melahirkan, wanita tua, dan wanita dengan pekerjaan berat. Djafar Siddik
pada penyelidikan selama 2 tahun (1969-1970) memperoleh 63 kasus prolapsus
genitalis dari 5.372 kasus ginekologik di Rumah Sakit Dr. Pirngadi di Medan,
terbanyak pada grande multipara dalam masa menopause, dan 31,74% pada
wanita petani, dari 63 kasus tersebut, 69% berumur 40 tahun. Jarang sekali
prolapsus uteri dapat ditemukan pada seorang nullipara.2
2.4.2

Etiologi dan Faktor Resiko


Prolapsus uteri terjadi karena kelemahan ligament endopelvik terutama

ligamentum transversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli


disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel. Pada keadaan ini fasia
pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang keregangannya.2
Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.
Persalinan lama dan sulit , meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding
vagina bawah pada kala dua, penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otototot dasar panggul yang tidak baik. Pada menopause, hormone esterogen telah
berkurang sehingga otot dasar panggul menjadi atrofi dan elemah. Oleh karena itu
prolapsus uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat, sehingga dapat
diklasifikasikan seperti klasifikasi di bawah ini. 2

2.4.3. Klasifikasi
1.
Desensus uteri, uterus turun, tetapi serviks masih di dalam vagina
2.
Prolapsus uteri tingkat I, uterus turun dengan serviks uteri turun paling
3.
4.

rendah sampai introitus vaginae


Prolapsus uteri tingkat II, uterus untuk sebagian keluar dari vagina
Prolapsus uteri tingkat III atau prosidensia uteri, uterus keluar seluruhnya
dari vagina, disertai dengan inversion vaginae.2

14

Gambar 2.4 Prolaps Uteri, Sistokel Dan Rektokel

Gambar 2.4 Klasifikasi Prolaps Uteri


2.4.4. Gejala Klinik
Gejala sangat berbed-beda dan bersifat individual. Kadangkala penderita
yang satu dengan prolaps yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun,
sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan.2
Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:
Perasaan adanya yang mengganjal atau menonjol di genitalia ekstrna
Rasa sakit panggul dan pinggang. Biasanya jika penderita berbaring, keluhan
-

menghilang menjadi berkurang.


Sistokel dapat menyebabkan gejala :

15

o Miksi sering dan sedikit sedikit. Mula-mula pada siang hari, kemudian
bila berat juga pada malam hari.
o Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya
o Stress incontinence, yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk,
mengejan. Kadang-kadang dapat terjadi retensio urinae pada sistokel yang
-

besar sekali.
Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi :
o Obstipasi karena faeses berkumpul dalam rongga rektokel
o Baru dapat defekasi, setelah diadakan tekanan pada rektokel dari vagina
Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut :
o Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu berjalan
dan bekerja. Gesekan portio uteri oleh celanan menimbulkan lecet sampai
luka dan dekubitus pada portio uteri.
o Leukorea karena kongesti pembuluh darah didaerah serviks dan karena

infeksi serta luka pada porsio uteri


Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat dirongga panggul dan rasa
penuh di vagina2

2.4.5. Diagnosis
Penderita dalam posisi jongkok diminta mengejan dan ditentukan
pemeriksaan dengan peeriksaan dengan jari, apakah porsio uteri pada posisi
normal, atau porsio sampai introitus vagina, atau apakah serviks uteri sudah
keluar dari vagina. Selanjutnya dengan penderita berbaring dalam posisi litotomi,
ditentukan pula panjangnya serviks uteri. Serviks uteri yang lebih panjang dari
biasa dinamakan elongasio kolli.2
Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan
tidak nyeri tekan. Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan. Jika
dimasukan ke dalam kandung kencing kateter logam, kateter itu diarahkan ke
dalam sistokel, dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina.
Uretrokel letaknya lebih ke bawah dari sistokel, dekat pada orifisum urethrae
eksternum. 2
Menegakan diagnosis rektokel, yaitu menonjolnya rectum ke lumen
vagina sepertiga bagian bawah. Penonjolan ini berbentuk lonjong, memanjang
dari proksimal ke distal,kistik dan tidak nyeri. Untuk memastikan diagnosis, jari
dimasukkan ke dalam rectum, dan selanjutnya dapat diraba dinding rektokel yang
16

menonjol ke lumen vagina. Enterokel menonjol ke lumen vagina lebih atas dari
rektokel. Pada pemeriksaan rectal ining rectum lurus, ada benjolan ke vagina
terdapat diatas rectum. 2

2.4.6. Pengobatan
Pengobatan Medis
1. Latihan otot dasar panggul. Latihan ini dilakukan selama beberapa bulan.
Caranya, pasien diminta menguncupkan anus dan jaringan daasar panggul
setelah buang air besar atau penderita diminta membayangkan seolah-olah
sedang buang air kecil dan tiba-tiba menghentikannya. Latihan ini dapat lebih
efektif dengan menggunakan perineometer.
2. Stimulasi otot dengan alat listrik. Dengan pemasangan electrode di dalam
pessarium yang dimasukan ke dalam vagina
3. Pengobatan dengan pessarium. Pengobatan ini bersifat paliatif, yakni
menahan uterus ditempatnya selama dipakai. Prinsip pemakaian pessarium
ialah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian
atas, sehingga bagian dari vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan
melewati vagina bagian bawah. Indikasi penggunaan pessarium adalah:
a.
Kehamilan
b.
Bila penderita belum siap dilakukan operasi
c.
Sebagai terapi tes, menyatakan bahwa operasi harus dlakukan
d.
Penderita menolak dioperasi, lebih suka terapi konservatif
e.
Untuk menghilangkan symptom yang ada, sambil menunggu waktu
operasi dilakukan. 2
Pengobatan Opertif
1. Vetrofksasi.
Wanita masih muda dam masih menginginkan anak, operasi untuk membuat
uterus ventrofiksasi dengan memendekkan lig. Rotundum atau dinding
mengikatkannya kedinding perut atau dengan operasi Purandare.
2. Operasi Manchester
Amputasi servik uteri, dan penjahitan lig. Cardinale yang telah dipotong di
muka servik. Dilakukan kolporafia anterior dan kolpoperineoplastik
Amputasi servik untuk memendekkan servik yang memanjang (ellongasio
kolli), dapat sbbkan infertilitas, abortus, abortus prematurus, dan disertai
distosia servikalis.
3. Histerektomi vaginal
17

Pada prolapsus uteri tak lanjut, dan pada wanita menopause. Uterus diangkat,
puncak vagina digantungkan pada lig. Rotundum kanan-kiri, atas pada lig
infundibulopelvikum, lalu dilanjutkan dengan kolpoperineorafi untuk cegah
terjadi lagi di kemudian hari.
4. Kolpokleisis
Wanita tua dengan seksual tidak aktif, dg menjahitkan dinding vagina depan
dengan dinding belakang, tetapi operasi ini tidak memperbaiki sistokel dan
rektokel dapat menimbulkan inkontinensia urin, obstipasi dan keluhan lain
tidak hilang. 2
2.4.7. Pencegahan
Pemendekan waktu persalinan, terutama kala pengeluaran dan kalau perlu
dilakukan elektif (forceps dengan kepala sudah didasar panggul), membuat
episiotomy, memperbaiki dan mereparasi luka atau kerusakan jalan lahir dengan
baik, memimpin persalinan dengan baik agar menghindari paksaan dalam
pengeluaran plasenta, mengawasi involusi uterus pasca persalinan tetap baik dan
cepat, serta mencegah atau engobati hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan
intraabdominal seperti batuk-batuk yang kronik. Menghindari benda-benda yang
berat. Dan juga menganjurkan agar penderita jangan terlalu banyak punya anak
atau melahirkan.2

2.4.8. Komplikasi
Keratinisasi mukosa vagina dan porsio uteri. Prosidensia uteri disertai
engan keluarnya dinding vagina (inversion); karena itu mukosa vagina dan serviks
uteri menjadi tebal serta berkerut, dan berwarna keputih-putihan.2
Dekubitus. Jika serviks uteri keluar dari vagina, ujungnya bergeser dengan
paha dan pakaian dalam; hal itu dapat menyebabkan luka dan radang, dan lambat
lun timbul ulkus dekubitus. Dalam keadaan demikian, perlu dipikirkan
kemungkinan karsinoma, lebih-lebih pada penderita berusia lanjut. Pemeriksaan
sitologi/biopsy perlu dilakukan untuk mendapat kepastian akan adanya
karsinoma.2
Hipertrofi serviks uteri dan elongasio kolli. Jika serviks uteri turun ke
dalam vagina sedangkan jaringan penahan dan penyokong uterus masih kuat,
18

maka karena tarikan ke bawah dibagian uterus yang turun serta pembendungan
pembuluh darah serviks uteri mengalami hipertrofi dan menjadi panjang pula.
Hal yang terakhir dinamakan elangasio kolli. Hipertrofi ditentukan dengan periksa
lihat dan raba. Pada ellongasio kolli serviks uteri pada periksa raba lebih panjang
dari biasa. 2
Gangguan miksi dan stress incontinence. Pada sistokel berat- miksi
kadang-kadang terhalang, sehingga kandung kencing tidak dapat dikososngkan
sepenuhnya. Turunnya uterus bisa juga menyempitkan ureter, sehingga bisa
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. Adanya sistokel dapat pula
mengubah bentuk sudut antara kandung kencing dan urethra yang dapat
menimbulkan stress incontinence. 2
Infeksi jalan kencing. Adanya retensi air kencing mudah menimbulkan
infeksi. Sistitis yang terjadi dapat meluas ke atas dan dapat menyebabkan pielitis
dan pielonefritis. Akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal. 2
Kemandulan. Karena serviks uteri turun sampai ekat pada introitus vagina
atau sama sekali keluar dari vagina, tidak mudah terjadi kehamilan. Kesulitan
pada waktu partus. Jika wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka pada waktu
persalinan dapat timbul kesulitan di kala pembukaan, sehingga kemajuan
persalinan terhalang. Hemoroid. faeses yang terkumpul dalam rektokel
memudahkan adanya obstipasi dan timbul hemoroid. 2
Inkarserasi usus halus. Usus halus yang masuk ke dalam enterokel dapat
terjepit dengan kemungkinan tidak dapat direposisi lagi. Dalam hal ni perlu
dilakukan laparotomiuntuk membebaskan usus yang terjepit itu. 2

KESIMPULAN

Anestesi adalah suatu keadaan depresi dari pusat-pusat saraf tertentu yang
bersifat reversible, dimana seluruh perasaan dan kesadaran hilang. Anestesi
terbagi atas tiga teknik, yaitu anestesi umum, anestesi regional, dan anestesi local.

19

Anestesi umum yaitu suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang
diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat anestesi.
Teknik anestesi umum dapat berupa anestesi umum intravena, anestesi umum
inhalasi, maupun anestesi imbang. Obat anestesi inhalasi yang umum digunakan
untuk praktek klinik ialah N2O, halotan, enfluran, isofluran, desfluran, dan
sevofluran. Salah satu teknik anestesi inhalasi berupa inhalasi pipa endotrakea
menggunakan alat laringoskop dan pipa trakea. Kesulitan memasukkan pipa
trakea berhubungan dengan variasi anatomi yang dijumpai yang diklasifikasikan
berdasarkan grade Mallampati.
Prolapsus uteri terjadi karena kelemahan ligament endopelvik terutama
ligamentum transversal. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan
menopause. Persalinan lama dan sulit , meneran sebelum pembukaan lengkap,
laserasi dinding vagina bawah pada kala dua, penatalaksanaan pengeluaran
plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Gejala sangat berbedbeda dan bersifat individual. Gejala yang selalu dijumpai ialah perasaan
mengganjal di genitalia eksterna. Keluhan-keluhan dan pemeriksaan ginekologik
umumnya dapat menegakkan diagnosa. Pengobatan medis dapat dengan latihan
otot dasar panggul, stimulasi otot dengan alat listrik dan pessarium. Tindakan
operatif untuk prolaps uteri diantaranya ventrovikasi, operasi Manchester,
histerektomi vaginal, dan kolpokleisis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R, Jong DW. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
2004. 711-714
2. Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. (20) (7). 2009. 428-442
3. Sjamsuhidajat R, Jong DW. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
2004. 240-247

20

4. Mangku G, Senapathi AGT. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta:
Indeks. 2010. 87-142
5. Siahaan SM Oloan. Anestesi Umum dan Anestesi Lokal. Medan: FK
UMI/UNPRI. 2015. 1-7
6. Latief AS, Suryadi AK, Dachlan RM. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi
Kedua. Jakarta: FK UI. 2009. 29-54
7. Batra KY, J Mathew P. Airway Management with Endotracheal Intubation
(Including Awake Intubation and Blind Intubation). Indian Journal Anaesthesi.
(49)(4). 2005. 263-268

21