Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS BIOKIMIA URIN

Oleh :
Kelompok 1
Kelas C
Charlie Binta Nurillah Banna
Maya Theresa Siagian
Fionita Angelia
Chandra Mudya Hendra Rini
Riyan Pratama Putra

110115391
110115398
110115411
110115412
110115426

Laboratorium Biokimia
Dapertemen Farmasi Klinis dan Komunitas
Fakultas Farmasi Universitas Surabaya
2016

DAFTAR ISI

Daftar Isi............................................................................................

BAB I Tujuan Percobaan................................................................

BAB II Hasil Praktikum


2.1 Pemeriksaan Fisik .......................................................................
2.2 Pemeriksaan Kimiawi..................................................................
2.2.1 Derajat Keasaman (pH).............................................................
2.2.2 Uji Benedict Semikuantitatif.....................................................
2.2.3 Uji Gerhardt..............................................................................
2.2.4 Uji Koagulasi Panas..................................................................
2.2.5 Percobaan Kreatinin Urine........................................................
2.2.6 Pemeriksaan Urobilinogen........................................................
2.2.7 Uji Fehling................................................................................
2.2.8 Penetapan kadar asam urat........................................................
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Hasil Diskusi Percobaan..............................................................
BAB IV KESIMPULAN..................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................
Lampiran...........................................................................................

BAB I
TUJUAN PERCOBAAN
1.1 Tujuan Praktikum
1. Mengetahui sifat fisiko kimia urin
2. Mengetahui kandungan urin secara kualitatif dan semikualitatif
3. Menetapkan kadar asam urat
4. Mendeskripsikan penilaian hasil pemeriksaan analit urin
5. Menjelaskan penyebab kelainan volume urin
6. Menginterprestasikan hasil penilaian uji biokimia
1.2 Tujuan Percobaan
1.2.1 Pemeriksaan Fisik
Tujuan: Mengamati sifat fisik urin
1.2.2 Derajat Keasaman
Tujuan: Menentukan pH urin
1.2.3 Uji Benedict Semikuantitatif
Tujuan: Menentukan kadar glukosa urin secara semikuantitatif
1.2.4 Uji Koagulasi Panas
Tujuan: Menentukkan adanya protein secara kulitatif di dalam urin
1.2.5 Uji Gerhardt
Tujuan: Mengetahui adanya asam asetoasetat dalam urin
1.2.6 Percobaan kreatinin urine
Tujuan: Menentukkan kreatinin urin sebatas kulitatif
1.2.7 Pemeriksaan urobilinogen
Tujuan: Menentukan urobilinogen dalam urine
1.2.8 Uji Fehling
Tujuan: Menentukkan karbohidrat dalam urin
1.2.9 Penetapan kadar asam urat
Tujuan: Menentukkan kadar asam urat

BAB II
HASIL PRAKTIKUM
Hasil Pemeriksaan Fisik Urin
Jenis Pemeriksaan

Hasil

Keterangan

Volume

100 ml

Warna

Kuning

Normal

Buih

Ada buih sedikit

Normal

Kekeruhan

Tidak keruh

Normal

Bau

Aromatis

Normal

Hasil Pengamatan Analisis Urin, Derajat Keasaman dan Uji Benedict


Semikuantitatif
Reaksi Uji

Hasil Pengamatan

Kesimpulan

Derajat keasaman (pH)

Asam

Uji Benedict semikuantitatif


Urin Praktikum

Biru Endapan Hijau

Mengandung

Glukosa 0,3 %

Biru Hijau Kekuningan

Glukosa 1%

Biru Hijau Kekuningan

Glukosa 5%

Biru Orange kecoklatan

Glukosa

Hasil Pengamatan Analisis Urin ( Koagulasi panas, Gerhart, Kreatinin,


Urobilinogen, dan Fehling)
Reaksi uji

Hasil Pengamatan

Kesimpulan

Uji Koagulasi Panas


Urin Praktikan

Kuning

Sampel

Sampel A : Biru Muda

Tidak Ada Protein

Sampel B: Jernih

Uji Rothera

Urin Praktikan

Awal : Kuning

Tidak Terdapat Asam


Asetoasetat

Sampel

Sampel A : Kuning
Sampel B: Kuning

Uji Kreatinin
Urin Praktikan

Merah

Sampel

Sampel A : Kuning

Mengandung Kreatinin

Sampel B: Kuning

Uji Urobilinogen
Urin Praktikan

Merah

Terdapat urobilinogen

Sampel

Sampel A : Jernih

Tidak Terdapat

Sampel B: Kuning Muda

urobilinogen

Uji Fehling
Urin Praktikan

Tanda endapan berwarna

Tidak Mengandung

biru jernih

Karbohidrat

Sampel

Sampel A : Endapan

Mengandung

merah bata, warna

Karbohidrat

merah jingga
Sampel B: Endapan
merah bata

Hasil Pemeriksaan Kadar Asam Urat


No

Umur

Kadar Asam Urat


Laki-laki

Perempuan

19 Tahun

6,8

5,8

33 Tahun

7,6

8,2

50 Tahun

11,3

12,4

19 Tahun

3,9

3,3

19 Tahun

7,4

10,5

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hasil Diskusi Percobaan
Protein berasal dari kata protos atau proteos yang berarti pertama atau utama,
makromolekul biologis yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari
setengah berat kering sel pada hampir semua organisme. Protein dalam kehidupan
punya peran sangat penting dan komplek dia antaranya sebagai enzim, hormone,
antibody, transpoter, muscle fiber, mushroom poisons dan sebagainya.
Protein di tinjau dari sifat fisikokimianya. Protein adalah senyawa organik
yang kompleks berbobot molekul tinggi berupa polimer dengan monomer asam
amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon,
hidrogen, oksigen, nitrogen dan sulfur serta posfor. Sifat fisikokimia setiap protein
tidak sama, tergantung pada jumlah dan jenis asam aminonya. Berat molekul protein
sangat besar sehingga bila protein dilarutkan dalam air akan membentuk suatu
dispersi koloidal. Molekul protein tidak dapat melalui membran semipermiabel,
tetapi masing-masing dapat menimbulkan tegangan pada membran tersebut.
Unsur
Karbon
Hidrogen
Nitrogen
Oksigen
Sulfat
Phospat

Persentase (%)
51,0 55
6,5 7,3
15,5 18
21,5 23,5
0,5 2,0
0,0 1,5

Asam amino adalah monomer penyusun protein yang dihubungkan dengan


ikatan polipepetida. Asam amino penyusun protein di sebut asam amino baku atau
standar. Walaupun jumlahnya terbatas tadi dapat digunakan untuk menyusun
polipeptida dengan variasi yang besar. Struktur umum asam amino mengandung satu
gugus karboksil, satu gugus amino dan satu rantai samping (gugus R), semua terikat

pada karbon-, kecuali glisin, yang tidak mempunyai rantai samping, karena karbon nya mengandung dua hydrogen. Karena tidak mempunyai atom karbon asimetrik,
glisin tidak bersifat optic aktif, jadi tidak punya konfigurasi D atau L. Perbedaan
asam amino berdasarkan letak rantai sampingannya ( R groups) berdasarkan rantai
sampingnya asam amino dibedakan atas beberapa kelompok yaitu : kelompok R
alifatik, R aromatic, R mengndung sulfur, R alcohol, R bermutan positif , R
bermuatan negative dan R amida.

Degradasi asam amino merupakan proses penyingkiran nitrogen asam amino


yang terdiri dari tiga tahap utama yaitu transaminase , deaminasi oksidatif dan siklus
urea. Beberapa enzim transaminase penting untuk diagnose penyakit seperti aspartate
aminotransferase atau di kenal juga glutamate oksaloasetat transaminase (GOT).
Ikatan peptide adalah ikatan amida yang menghubungkan satu asam amino
dengan asam amino lain. Ikatan peptide terbentuk dari reaksi kondensasi antara
gugus karboksil dari suatu asam amino dengan gugus amino dari asam amino lain.
Ikatan peptide bersifat stabil, di dalam tubuh diuraikan oleh enzim proteolitik yaitu
protease dan peptidase. Asam amino dalam rantai polipeptida disebut residu asam
amino. Asam amino dengan gugus amino bebas di sebut terminal N ( amino
terminus) dan di arah berlawanan, asam amino yang punya gugus karboksil bebas di
sebut terminal C ( carboxyl terminus ).

Protein dibagi menjadi 2 golongan utama berdasarkan bentuk dan sifat-sifat


fisik tertentu, yaitu protein globular dan protein serabut. Pada protein globular rantairantai polipeptida berlipat rapat membentuk globular, bersifat larut dalam air dan
segera berdifusi, hampir semua mempuyai fungsi gerak atau dinamik. Hampir semua
enzim, protein transport pada darah, antibody dan protein penyimpanan nutrient
adalah protein globular. Protein serabut bersifat tidak larut air, merupakan molekul
serabut panjang. Hampir semua protein serabut memberikan peranan truktural atau
pelindung. Contohnya -keratin fibroin dan kolagen
Berdasarkan strukturnya protein dibedakan atas 4 yaitu struktur primer,
sekunder, tersier dan kuartener. Struktur primer, dibentuk oleh ikatan peptide antar
asam amino,sehingga merupakan urutan dari asam amino penyusun protein. Struktur
sekunder, dibentuk oleh ikatan hydrogen antara oksigen karbonildan hydrogen amida
pada kerangka peptide. Struktur tersier merupakan bentuk yang komplek dan
kompak dari rantai polipeptida karena adanya ikatan hydrogen, ionic, disulfida dan
hidrofobik. Struktur kuartener dibentuk dari dua atau lebih rantai polipeptida.
Protein dapat mengalami perubahan structural. Perubahan pada suatu protein
yang ditimbulkan oleh berbagai faktor dikenal sebagai denaturasi. Contoh , jika suatu
larutan protein seperti albumin telur secara berlahan-lahan dipanaskan sampai kirakira 60-70C, larutan tersebut lambat laun akan menjadi keruh dan membentuk
koagulasi. Putih telur yang mengandug albumin terkoagulasi menjadi padatan putih
dengan pemanasan. Produk yang terjadi tidak akan melarut lagi dengan pendinginan
dan tidak dapat membentuk lartan jernih seperti putih telur sebelum dipanaskan.

Kelarutan protein adalah persen dari total protein yang terdapat di dalam
bahan pangan yang dpat diekstrak oleh atau larut dalam air pada kondisi tertentu.
Jenis jenis protei, seperti albumin, globulin prolamin, dan glutein dapat larut dalam
air, larutan garam encer, 60 80 % alcohol alifatik dan 0,2 % NaOH.
Kelarutan protein di tentukan oleh sifat asam aminonya di dalam larutan, di
mana asam amino dapat bersifat basa atau asam. Sifat kelarutan protein tergantung
pada jenis protei, jenis pelarut, pH, konsentrasi dan muatan ion serta suhu.
Peran dan aktivitas protein :
1. Katalis enzimatis
Hampir semua reaksi kimia dalam system biologi dikatalisis oleh
makromolekul spesifik yang dikatalisis oleh makromolekul spesifik yang
disebut enzim.
2. Transport dan penyimpanan
Berbagai molekul kecil dan ion ditransport oleh protein spesifik. Misalnya
transport oksigen dalam eritrosit oleh hemoglobin dan myoglobin.
3. Koordinasi gerak
Protein merupakan omponen utama dalam otot. Kontraksi otot
berlangsung akibat pergeseran dua jenis filamen protein.
4. Penunjang mekanis
Ketegangan kulit dan tulang disebabkan oleh adanya kolagen yang
merupakan protein fibrosa.
5. Proteksi imun
Antibodi merupakan protein yang sangat spesifik dan dapat mengenal
serta berkombinasi dengan benda asing seperti virus, bakteri dan sel yang
berasal dari organisme lain.
6. Membangkitkan dan menghantar impuls saraf
Respon sel saraf terhadap rangsang diperantarai oleh protein reseptor.
Protein yang dapat dipicu oleh molekul kecil sepesifik seperti asetikolin,
berperan dalam transmisi impuls saraf pada sinap yang menghubungkan selsel saraf.
8

7.

Pengaturan pertumbuhan dan diferensiasi


Pada bakteri, protein reseptor merupakan elemen pengatur yang penting
untuk meredam segmen spesifik suatu DNA dalam suatu sel. Pada organisme
tingkat tinggi, pertumbuhan dan diferensiasi diatur oleh protein factor
pertumbuhan.
Berikut ini beberapa uji yang di lakukan untuk mengidentifikasi protein dan

asam amino dalam protein :


1. Uji Biuret.
Uji biuret bertujuan untuk mendeteksi ikatan peptide pada suatu bahan. Ikatan
peptide adalah ikatan amida yag menghubungkan satu asam amino dengan asam
amino lainnya. Pada hasil praktikum putih telur , susu, gelatin dan air liur positif
mengandung protein. Hasil tersebut terlihat dari warna yang di hasilkan. Warna
yang timbul adalah warna ungu dan terbentuknya cincin. Dasar uji biuret adalah
Ion Cu2+ (dari pereaksi biuret CuSO4) dalam suasana basa akan bereaksi dengan
polipeptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna
ungu (violet). Intensitas warna yang dihasilkan merupakan ukuran jumlah ikatan
peptida yang ada di dalam protein. Reaksi biuret positif terhadap dua buah ikatan
peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Reaksi
positif terhadap senyawa-senyawa yang mengandung dua gugus : -CH 2NH2,
-CSNH2, -C(NH)NH2, dan CONH2. Biuret adalah senyawa dengan ikatan
peptida yang terbentuk pada pemanasan dua molekul urea.

Reaksi :

2. Uji Millon.
Uji millon bertujuan mengidentifikasi asam amino yang mengandung
monohidroksi benzene. Hasil praktikum menunjukkan putih telur, susu dan air
liur mengadung monohidroksi benzene sedangkan gelatin menunjukkan hasil
negatif tidak mengandung monohidroksin benzene. Hasil tersebut ditunjukkan
dengan perubahan warna menjadi pink merah. Perubahan warna tersebut di
tunjukkan oleh putih telur, susu dan air liur sedangkan pada gelatin tidak
mengalami perubahan warna. Pereaksi millon dapat menunjukkan hasil positif
terhadap senyawa yang mengandung monohidroksi benzene atau monofenol
benzene. Pereaksi yang digunakan merupakan larutan merkuri (Hg) dalam asam
nitrat (HNO3). Tirosin akan ternitrasi oleh asam nitrat sehingga memperoleh
penambahan gugus N=O, gugus tersebut secara reversibel (bolak-balik) dapat
berubah menjadi N-OH (hidroksifenil). Merkuri dalam pereaksi millon akan
bereaksi dengan gugus hidroksifenil dari tirosin membentuk warna merah.

Monohidroksi benzene

struktur gelatin

Reaksi pada uji Millon :

10

3. Uji Koagulasi Panas


Uji koagulasi panas bertujuan menentukan adanya protein secara kualitatif.
Pada percobaan digunakan pemanasan dengan air mendidih serta penambahan
asam asetat. Perubahan yang terjadi adalah timbulnya endapan. Hasil yang kami
peroleh yaitu susu dan putih telur terjadi pengendapan sedangkan gelatin tidak
mengendap.
Salah satu faktor yang menyebabkan denaturasi protein adalah perubahan
temperature. Pemanasan putih telur merupakan contoh denaturasi protein yang
tidak reversible. Suatu putih telur adalah cairan tidak berwarna yang
mengandung albumin, yakni protein globular yang larut. Pemanasan putih telur
itu mengakibatkan albumin membuka lipatan dan mengendap, dihasilkan suatu
zat padat putih. Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga
kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan
mengakibatkan terputusnya interaksi non kovalen yang ada pada struktur alami
protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan pepetida.
Penambahan asam pada protein juga mengakibatkan denaturasi, sehingga
terjadi penggumapalan. Pengendapan protein penting dalam rangka memisahkan
protein dari larutan. Protein bersifat mengendap dalam asam mineral pekat
seperti asam klorida (HCl), natrium hidroksida (NaOH), dan asam asetat glasial
(CH3COOH). Sebaliknya, basa tidak dapat mengendapkan protein namun
mampu menghidrolisis dan dekomposisi oksidatif. Terjadinya koagulasi di
sebabkan karena ion H+ dari CH3COOH terikat ada gugus negative pada protein
ketika ion H+ dari asam asetat masuk kedalam larutan, akan mempengaruhi
keseimbangan dan pengkutuban dari molekul protein.
11

4. Uji Pengendapan dengan Logam Berat.


Uji pengendapan dengan logam berat bertujuan untuk mengetahui pengaruh
logam terhadap kelarutan protein. Pada praktikum ini digunakan Pb asetat
sebagai pereaksi.

Protein dapat mengalami denaturasi irreversible dengan

adanya logam logam berat seperti Cu2+, Hg2+, atau Pb2+ sehingga mudah
mengendap. Protein bermuatan negatif atau protein dengan pH larutan di atas
titik isoelektrik akan diendapkan oleh ion positif atau logam lebih mudah.
Sebaliknya, protein bermuatan positif dengan pH larutan di bawah titik
isoelektrik membutuhkan ion-ion negatife .Namun selain membentuk kompleks
garam protein-logam yang sukar larut, logam berat dapat menarik sulfur pada
protein sehingga mengganggu ikatan disulfida dalam protein dan menyebabkan
protein terdenaturasi pula.
Pada hasil praktikum dengan pereaksi Pb asetat dan CuSO4 didapatkan
bahwa susu dan putih telur mengalami pengendapan sedangkan gelatin tidak
mengalami pengendapan. Interaksi antara logam berat dengan protein akan
membentuk senyawa kompleks protein-logam yang akan menyebabkan
penurunan kelarutan protein. Protein yang terkandung dalam putih telur dan susu
tersebut akan berikatan dengan jembatan garam yang telah diputuskan oleh
senyawa-senyawa logam berat dan membentuk endapan logam proteinat. Protein
memiliki titik isoelektrik dimana jumlah muatan positif dan muatan negatif pada
protein adalah sama. Pada saat itulah, protein dapat terdenaturasi yang ditandai
dengan membentuk gumpalan dan larutannya menjadi keruh. Pada saat ini
entalpi pelarutannya akan menjadi tinggi, karena jumlah kalor yang dibutuhkan
untuk melarutkan sejumlah protein akan bertambah.

NH3+
R CH COO- + Pb2+

NH3+
NH3+
R CH COO Pb COO CH R

5. Uji Pengendapan dengan Garam Anorganik.

12

Uji ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh garam konsentrasi tinggi


terhadap kelarutan protein. pengaruh penambahan garam terhadap kelarutan
protein berbeda-beda tergantung pada konsentrasi dan jumlah muatan ionnya
dalam larutan. Semakin tinggi konsentrasi dan jumlah muatan ionnya, semakin
efektif garam dalam mengendapkan protein.
Pada hasil praktikum menggunakan (NH4)2SO4 larutan susu dan putih telur
memberikan hasil positif dengan indikasi terdapatnya endapan putih ataupun
larutan yang menjadi putih keruh sedangkan pada gelatin didapatkan hasil
negatif dengan indikasi tidak terdapatnya endapan dari hasil tersebut terjadi
karena ammonium sulfat memiliki tingkat kelarutan yang lebih tinggi daripada
protein. Sehingga pada saat penambahan ammonium sulfat, ammounium sulfat
akan melarut dalam air atau pelarutnya dan mendesak protein keluar, kembali
dalam bentuk solidnya, sehingga terbentuklah protein yang terendapkan.
Berbeda dengan logam berat, garam-garam anorganik mengendapkan protein
karena kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein
untuk mengikat air.
Hasil dari endapan dan filtrate yang di pisahkan dan kemudian di beri
pereaksi biuret menghasilkan warna ungu pada endapan susu dan putih telur.
Warna filtrate dari susu dan putih telur serta gelatin menghasilkan warna ungu
yang berarti mengandung ikatan peptide.

13

BAB IV
KESIMPULAN
Putih telur, gelatin, susu dan air liur menghasilkan warna lembayung/ungu, ini
menunjukkan terdapat ikatan peptida pada semua bahan tersebut.
Putih telur,susu,air liur mengandung monohidroksi benzena, sedangkan gelatin
tidak mengandung monohidroksi benzena.
Susu dan putih telur menghasilkan endapan setelah didihkan dan ditetesi asam
asetat menunjukkan susu dan putih telur positif mengandung protein. Gelatin
tidak.
Susu dan putih telur dapat mengendapkan logam berat sedangkan gelatin
tidak.
Susu dan putih telur mengendap dan setelah di uji biuret menghasilkan warna
ungu. Sedangkan gelatin tidak.

14

DAFTAR PUSTAKA
Sukaryawan,M. 2011. Petunjuk Praktikum Biokimia. Universitas Sriwijaya:Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Bintang, M., 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga
Poedjiadi, A dan F.M.Titin Supriyanti.2009. DASAR-DASAR BIOKIMIA. Jakarta:
Universitas Indonesia
Murray, RK., Bender, DA., Botham, KM., Kennelly, PJ., Rodwell, W., Weil, PA.,
2012. Harpers illustrated Biochemistry, 29th Ed. McGraw-Hill

15

LAMPIRAN
Tugas Baca
1. Jelaskan penyebab poliuria, di tabel berikut ini !
No
1

Faktor penyebab
Intake cairan berlebihan

Contoh dan Keterangan


Polidipsia primer pada gangguan psikologis
yang menyebabkan minum air secara
konpulsif

Peningkatan muatan

Ureum pada gagal ginjal kronis atau glukosa

cairan tubular

akibat hiperglikemia pada diabetes militus

3
4
5

2. Apakah yang dimaksud dengan Anuria dan jelaskan penyebabnya!


Anuria adalah keadaan dimana urin yang keluar sangat sedikit atau tidak ada atau
kegagalan ginjal sehingga tidak dapat membuat urin. Penyebabnya adalah
kegagalan fungsi ginjal, kurangnya tekanan untuk melakukan filtrasi atau bias
juga terjadi radang pada glomelurus, sehingga plasma darah tidak dapat masuk ke
glomelurus, kurangnya tekanan hidrostatis bisa disebabkan oleh penyempitan
(kontriksi) efferent oleh hormone epinefrin atau oleh pendarahan sehingga darah
tidak dialirkan ke ginjal.
3. Pemeriksaan keton menggunakan specimen urin, digunakan untuk mengetahui
pasien mengalami ketoasidosis diabetikum atau tidak. Jelaskan apa yang
dimaksud dengan ketoasidosis diabetikum
Ketoasidosis adalah komplikasi dari diabetes yang mematikan yang disebabkan
oleh kurangnya insulin dalam tubuh. Gejalanya adalah volume urin meningkat,
kelelahan, merasa haus terus menerus dan peningkatan kadar gula darah/keton
16

Analisis Kasus
1. Dalam rangka peringatan hari kemerdekaan, diadakan bazaar di taman kota
Surabaya, dimeriahkan dengan berbagai stan makanan dan mainan. Badan
amal setempat mengadakan sejumlah pemeriksaan gratis salah satunya
pemeriksaan gula darah. Remaja A berusia 17, yang mengikuti kegiatan
bazaar tersebut, juga melakukan pemeriksaan gula darah, dimana hasil
pemeriksaan gula darah sewaktunya 14,4 mmol/L. Hasil tersebut membuat
keluarga khawatir, karena beberapa hari yang lalu sepupu remaja tersebut
terdiagnosis mengidap diabetes. Satu jam kemudian dilakukan tes ulang
menggunakan alat ukur yang dimiliki keluarga, hasilnya menunjukkan
hiperglisemia dan glikosuria+++. Apakah makna hasil pemeriksaan tersebut.
Jawab :
Hasil tersebut belum bisa mengindikasikan remaja tersebut terkena diabetes oleh
karena waktu pemeriksaan gula darah yang digunakan adalah gula darah
sewaktu. Menggunakan gula darah sewaktu sebagai specimen pemeriksaan
hasilnya tidaklah akurat sebab bisa jadi sebelum melakukan pemeriksaan remaja
tersebut mengkonsumsi makanan atau minuman manis sehingga kadar gulanya
tinggi. Untuk mengetahui apakah remaja tersebut terkena diabetes sebaiknya
menggunakan gula darah puasa atau gula darah 2 jam (post prandial) yang akan
menunjukkan hasil yang lebih akurat.
2. Bapak ND berusia 58 tahun mengeluhkan sakit pinggang, hasil pemeriksaan
laboratorium menunjukkan proteinuria. Pada pemeriksaan fisik terdapat
edema pitting pada kedua pergelangan kakinya. Jelaskan makna dari hasil
tersebut.
Jawab :
Proteinuria adalah sebuah kondisi dimana protein makromolekul yang hasilnya
tidak tembus glomelurus ada di urin. Proteinuria menunjukkan kemungkinan
gagal ginjal. Ini didukung dengan adanya keluhan pasien bahwa ia sakit pinggang
17

dan adanya edema pitting karena penumpukan cairan di jaringan akibat


kurangnya protein dalam pembuluh darah.

18