Anda di halaman 1dari 41

MALTHUSS

POPULATION DOCTRINE
OF SELF-DENIAL
Self-denial = pengorbanan keinginan pribadi

Spiegel, Henry William, The Growth of Economic Thought

Dalam pemikiran Smith, pesan yang terkandung pada self-reliance telah menjadi
salah satu optimisme moderat, yaitu: jika seseorang diizinkan untuk mengatur
urusan mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri, lepas dari pemerintah,
mereka akan membuat kontribusi yang penting terhadap solusi dari masalah
ekonomi yaitu kelangkaan.
Sedangkan tulisan-tulisan Malthus menghilangkan optimisme tersebut. Malthus
tidak meragukan basis ekonomi dari ekonomi Smith (laissez faire) melainkan ia
berusaha menunjukkan bahwa bahkan saat berada pada kondisi laissez faire, sebuah
negara akan menghadapi hambatan yang berat untuk mencapai kesejahteraan,
salah satu kendalanya adalah tekanan populasi.

Malthus tidak bermaksud untuk bertentangan dengan pandangan Smith, melainkan


lebih pada memberikan variasi dari karakteristik optimisme dalam the
Enlightenment (zaman pencerahan).
The Great Kant mengibaratkan the Enlightenment sebagai emancipation from a selfimposed nonage, di mana prospek yang baik akan terbuka untuk semua orang ketika
mencapai kedewasaan dan membiarkan dirinya dibimbing oleh akal sehat (reason).

Revolusi Perancis memang menganggap penting akal sehat. Pemanfaatan akal


tersebut diharapkan akan membawa manusia kepada sisi material yang lebih besar
dan kebahagiaan spiritual.

Karya pertama Malthus (1798) berjudul Essay on the Principle of Population as It


affects the future Improvement of society, with remarks on the speculation of Mr.
Godwin, Mr. Condorcet, and other Wiriters
Karya ini merupakan karya yang dibuat karena adanya perbedaan pendapat dengan
ayahnya, seorang optimis, yang mendukung pemikiran Godwin dan Condorcet.
Sedangkan Malthus merasakan ketidaksepahaman pada argumen mereka.

Godwin dan Condorcet

1756-1836

1743-1794

Seperti Thomas Robert Malthus, Godwin dan Condorcet membangun pandangan


mereka melalui pertentangan (perbedaan) pendapat dengan orang tua mereka.
Godwin merupakan cucu dan anak seorang dissident ministers dan a lapsed cleric
(mantan pendeta), yang diusir karena puritanisme sempit ayahnya, dan tidak pernah
melupakan teguran ayahnya ketika ia masih kecil yaitu ketika ia melecehkan hari
Sabbath dengan bermain kucing.
Condorcet dididik oleh Jesuits (anggota dari ordo religius Katolik Romawi), ia
dibesarkan ibunya yang saleh yang membuatnya memakai pakaian perempuan
sampai usia 9 tahun. Kemudian menjadi pengikut Voltaire di usia 20 tahun bahkan
paham anticlericalism (sikap anti pada pemuka agama) Condorcet lebih radikal
daripada Voltaire.
Voltaire (1694-1778) adalah filsuf Perancis yang sangat mendukung adanya hak-hak manusia, dan
kebebasan sipil, termasuk kebebasan beragama dan hak mendapatkan pengadilan yang patut (fair trial)

Nama Godwin dan Condorcet merupakan dua pembawa kemajuan (prophet of


progress) yang pemikirannya diangkat atau dibahas pada essay Malthus pada edisi I.

Semboyan mereka adalah kesempurnaan manusia (perfectibility of man), yang


dipandang telah direndahkan dan dibelenggu oleh institusi atau kelembagaan yang
buruk yang kemudian menghambat pertumbuhan akal sehat manusia.
Sejalan dengan motto revolusi Perancis liberty, equality, fraternity (kebebasan,
persamaan, persaudaraan), mereka adalah seorang libertarian (orang yang
menganut paham kebebasan) dan egalitarian (orang yang percaya bahwa semua
orang adalah sama (equal) dan mempunyai hak dan kesempatan yang sama)

GODWIN
Karya utama Godwin adalah Political Justice yang diterbitkan pada tahun 1793, dan dua
edisi berikutnya diterbitkan selama tahun 1790an.
Godwin menemukan kesalahan pada semua bentuk pemerintahan yang terorganisasi.
Smith telah mengajarkan bahwa jika manusia menjunjung tinggi kebajikan (virtue), maka
pemerintah menjadi tidak penting
Godwin percaya bahwa kebajikan (virtue) dapat dijunjung tinggi, dengan menghilangkan
kebutuhan akan pemerintah dan memperbolehkan komunitas kecil menyelesaikan urusan
mereka tanpa paksaan. Manusia dapat menjadi bijak dengan menerima akal sebagai
sesuatu hal yang unggul. Akal sehat tergantung pada pengetahuan dan tingkat kemajuan
dari pengembangan pengetahuan yang tidak terbatas.

GODWIN
Menurut Godwin, tekanan jumlah penduduk bukanlah ancaman bagi kesejahteraan dunia
dengan adanya keberadaan akal sehat dan kebajikan.
Ia berbicara tentang the principle of population, yang kemudian menjadi judul esai dari
Malthus, dalam kata-kata berikut,:Ada prinsip di kalangan masyatakat, yang mana jumlah
penduduk akan terus menerus dijaga pada level means of subsistence.
Jika tekanan jumlah penduduk masih terjadi, ini merupakan hasil dari institusi atau
kelembagaan yang buruk, bukan dari suatu penolakan dari alam yang tidak terelakkan untuk
menghasilkan persediaan makanan.
Pernyataan Godwin juga didukung dengan kenyataan saat itu bahwa tiga perempat bagian
dunia yang dapat ditempati belum ditempati (belum digarap) pada masa itu. Sehingga
dengan adanya peningkatan produktifitas pertanian, peningkatan jumlah penduduk masih
dapat dilhadapi.

GODWIN
Godwin mengutip pendapat Benjamin Franklin (1706-1790) bahwa mind will one
day become omnipotent over matter. Godwin berpendapat bahwa dengan
mengantisipasi perkembangan akal sehat (pikiran), membuat manusia menjadi ahli
dalam lingkungan dan tubuhnya, sehingga akan meningkatkan kesehatannya,
memperpanjang hidupnya, dan mengajarkan manusia untuk menguasai keinginan
besarnya (passion). Jadi, ketika bumi menolak adanya penambahan jumlah
penduduk ia mungkin akan berhenti untuk memperbanyak jumlah penduduk.

Sehingga Godwin menyimpulkan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran pada tekanan
jumlah penduduk.

Condorcet
Marquis de Condorcet (1743-1794) setelah pencapaian luar biasa di bidang
matematika dan filsafat, Condorcet mulai memasuki dunia politik dan menjadi
seorang pereformasi selama revolusi Perancis. Ia menjadi president of the legislative
assembly.
Tidak seperti Godwin yang menemukan kesalahan pada semua bentuk
pemerintahan, Condorcet mendukung keberadaan pemerintah yang memberikan
banyak perhatian seputar hukum konstitusional.
Pemikirannya mencerminkan semua aspek dari zaman Pencerahan (the
Enlightenment). Kedatangan zaman liberalisme menghasilkan banyak ide yang ia
dukung: kebebasan individu, penghapusan perbudakan, emansipasi wanita,
pemisahan urusan gereja dan Negara , dan pendidikan untuk seluruh masyarakat.

Condorcet
Salah satu karya Condorcet adalah Sketch for a Historical Picture of the Progress of
the Human Mind, ditulis saat bersembunyi selama Revolusi Perancis dan diterbitkan
pada tahun 1795 secara anumerta (diterbitkan setelah kematian Condorcet).
Bagian terakhir dari karya ini, berisi pandangan Condorcet tentang masa depan
umat manusia yang ditandai dengan kepercayaan pada kemajuan ilmu pengetahuan
yang tidak terbatas .

Pendidikan publik dalam masyarakat akan mengurangi ketimpangan dalam suatu


bangsa, misalnya reformasi ekonomi seperti kredit koperatif dan tunjangan di usia
tua. Peningkatan dalam pendidikan juga akan mendorong kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sehingga tidak hanya sejumlah tanah yang sama akan
menyokong lebih banyak orang, tapi semua orang akan memiliki lebih sedikit
pekerjaan yang harus dilakukan, akan menghasilkan lebih banyak, dan memenuhi
keinginannya dengan lebih lengkap.

Condorcet
Rentang hidup manusia akan meningkat, begitu juga kapasitas moral dan intelektualnya.
Peningkatan populasi penduduk tidak akan menurunkan kesejahteraan manusia di dunia.
Ketika jumlah penduduk meningkat, perkembangan ilmu pengetahuan akan membuka
metode baru untuk menopang pertumbuhan penduduk yang semakin besar. Bahkan
kemungkinan populasi tumbuh mendekati batas subsistensi masih sangat jauh sekali.
karena jauh sebelum itu, perkembangan pemikiran akan mencegah manusia dari
pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.

Condorcet mempunyai kesimpulan yang sama dengan Godwin tentang tekanan populasi,
yaitu tekanan populasi tidak menjadi masalah untuk kesejahteraan manusia.
Pendapat dari Godwin dan Concdorcet kemudian menimbulkan kritik oleh Malthus yang
dituangkan dalam The First Essay

The first Essay

The first Essay


The first Essay merupakan jawaban untuk dua pembawa kemajuan/prophetts of
progress (Godwin dan Condorcet). Dimana mereka telah mengajarkan optimisme,
sedangkan Malthus lebih bersikeras pada pesimisme. Kepercayaan mereka pada
kesempurnaan manusia membuat Malthus skeptis.
Ia membentuk 2 pemikiran, yaitu: Pertama, bahwa makanan penting untuk
keberadaan manusia. Kedua, ketertarikan antar jenis kelamin merupakan kebutuhan
dan akan tetap berlanjut sampai sekarang.
Atas dasar pemikiran tersebut ia menyimpulkan bahwa, kekuatan pertumbuhan
populasi meningkat lebih cepat dibanding kekuatan bumi menghasilkan bahan
pangan atau kebutuhan bagi manusia. Hal ini terjadi karena, pertumbuhan populasi
manusia, jika tidak dijaga akan meningkat dalam seri geometris (deret ukur),
sedangkan bahan makanan hanya meningkat dalam seri aritmatika (deret hitung).

The first Essay


Pada dasarnya, alam dengan membuat kehidupan manusia bergantung pada
makanan, membuat dua kekuatan yakni supply makanan dan populasi seimbang
atau sama besar, hal ini terjadi dengan cara mengendalikan pertumbuhan populasi
ketika dilakukan penekanan terhadap persediaan makanan. Dua alat pengendalian
utamanya adalah duka dan nestapa (vice and misery).
Kegunaan vice and misery sebagai kontrol. Dlm kehidupan manusia ada 2 jenis
kontrol: kenikmatan (enjoyment) dan penderitaan. Vice and misery merupakan
penderitaan.
Contoh vice and misery: wabah penyakit dan perang. Keluarga berancana di zaman
dahulu diandalkan pada wabah penyakit dan peperangan yang akan mengendalikan
jumlah penduduk

The first Essay


Dalam essay-nya the principle of Population Malthus menyatakan bahwa
pengalaman sumber yang benar dan dasar dari semua pengetahuan. Namun,
sebagaimana diakui Malthus , belajar dari pengalaman saja tidak cukup, sejauh
pertumbuhan maksimum penduduk masih menjadi perhatian.
Tidak ada yang tahu seberapa cepat peningkatan populasi, jika tidak ada batasan
terhadap pertumbuhannya. Tidak pernah ada dalam sejarah adanya sikap, begitu
murni dan sederhana, dan alat pemenuh kebutuhan begitu melimpah, tidak ada
larangan untuk melakukan pernikahan di usia muda. Sehingga, tidak ada di negara
manapun yang kita kenal yang tidak mengendalikan pertumbuhan kekuatan
penduduknya.

The first Essay


Jika bukti empiris kurang mampu membuktikan potensi maksimal pertumbuhan
populasi, maka dibutuhkan pendekatan yang mencukupi seperti pendekatan
Malthus yang ia temukan dalam demografi Amerika Serikat, di mana
Tersedia alat pemenuh kebutuhan yang lebih banyak,
Sikap lebih murni
Pencegahan menikah usia dini lebih rendah dibanding di Eropa.

Di Amerika Serikat, jumlah penduduk meningkat dua kali dalam dua puluh lima
tahun. Malthus menerima hal ini sebagai dasar pandangannya bahwa jika
pertumbuhan jumlah penduduk tidak dikendalikan, akan bertambah dua kali lipat
dalam jangka waktu 25 tahun, atau meningkat sesuai seri geometris.

The first Essay


Dalam hal produksi pertanian, Malthus tidak memiliki data empiris yang dapat
menunjukkan jumlah produksi maksimum yang dapat dicapai.
Yang paling ia yakini adalah pertumbuhannya sama dengan tambahan output
pertanian dalam setiap periode, atau peningkatan sesuai seri aritmatika. Dengan
mengambil periode setiap 25 tahun, dia menggambarkan dua deret perhitungan
sebagai berikut:
Year
Population
Subsistence

1
1
1

25
2
2

50
4
3

75
8
4

100 125
16 32
5
6

150 175 200


64 128 256
7
8
9

225
512
10

Artinya, jika pertumbuhan populasi tidak dikendalikan, akan meningkat sebesar 512
kali selama 225 tahun, sedangkan persediaan makanan hanya 10 kali.

The first Essay


Jika jumlah populasi menunjukkan peningkatan yang jauh lebih cepat daripada jumlah persediaan
makanan, kebutuhan akan pangan berperan sebagai pengendali pertumbuhan penduduk.
Namun, tidak hanya mengendalikan pertumbuhannya tetapi di mana ada alat-alat pemenuh
kebutuhan pertumbuhan akan terjadi artinya populasi akan meningkat ketika persediaan bahan
makanan juga mengalami peningkatan.
Prinsip argumen Malthus adalah bahan makanan bertindak sebagai alat pengendalian pertumbuhan
populasi yang utama.
Jika pertumbuhan populasi meningkat sebelum terjadi peningkatan persediaan makanan, harga
pangan akan naik dan upah riil akan jatuh. Selanjutnya, pertumbuhan populasi berhenti untuk
sementara, hal ini sebagai akibat dari alat pengendali angka kematian melalui vice and misery yaitu
dalam bentuk kelaparan karena harga pangan yang melebihi upah. Sementara itu, penurunan upah
mendorong peningkatan persediaan lapangan pekerjaan, persediaan makanan naik, dan akhirnya
muncul rangsangan baru untuk pertumbuhan populasi.

The first Essay


Pengendalian dari vice dan misery dapat berefek pada angka kematian ataupun angka
kelahiran:
1. Positive / Represive,
Pengendalian positif umumnya diperuntukkan bagi golongan miskin dan akan
mempengaruhi tingginya angka kematian. Tingkat kematian bayi yang tinggi, biasanya
karena menderita kekurangan nutrisi, tinggal di lingkungan yang padat, dan berakibat
pada kondisi kesehatan yang buruk.
2. Preventive
Pengendalian prefentif untuk kalangan atas namun juga berlaku untuk semua kalangan
yang mempengaruhi angka kelahiran. Orang akan menunda pernikahan karena takut
jatuh miskin dan kehilangan kelas sosialnya.

The first Essay


Dari essay Malthus juga dikatakan bahwa bantuan untuk masyarakat untuk mencegah kemiskinan
gagal memenuhi tujuannya. Bantuan kemiskinan justru akan mendorong kemalasan dan
pemborosan. Masyarakat yang lebih mampu akan memberi bantuan yang dibutuhkan orang miskin
yang dapat menimbulkan insentif untuk kemalasan dan pemborosan. Sehubungan dengan
pembahasan tentang bantuan kepada masyarakat miskin, Malthus menunjukkan bahwa ia lebih
menyukai pengendalian preventif daripada represif.
Godwin dan Condorcet mengaitkan kejahatan di dunia (evil of the world) dengan institusi sosial dan
mereka mengusulkan perubahan bagi instiitusi. Bagi Malthus penyebabnya adalah kondisi
manusianya, yang tidak dapat berubah. Oleh karena itu, Malthus tidak setuju tentang solusi
reorganisasi masyarakat.
Pendapat Malthus yang mengatakan bahwa manusia berkualitas buruk sehingga cara mengendalikan
populasi dengan menggunakan vice and misery karena Malthus percaya bahwa tekanan jumlah
penduduk sudah mengerikan dan hal inilah yang menyebabkan penderitaan di banyak negara.

Revisions of the Essay


Edisi selanjutnya dari Essay Malthus ditandai dengan penambahan materi baru yang
mengurangi originalitasnya yang berasal dari pandangan Godwin dan Condorcet.
Essay edisi kedua diterbitkan pada tahun 1803.
Perubahan penting yang diperkenalkan dalam Essay edisi kedua tersebut adalah
penambahan alat pengendalian yang awalnya hanya duka (vice) dan nestapa (misery)
ditambah dengan pengendalian ketiga, yang disebut Malthus dengan moral restraint
(pengendalian berdasarkan moral)
Pengendalian berdasarkan moral mengacu pada pengendalian preventif yang terdiri atas
penundaan perkawinan, yaitu dengan melakukan pengendalian diri selama waktu
penundaan tersebut, dan akhirnya menghasilkan pengendalian terhadap angka kelahiran.

Pendekatan ketiga ini sesuai dengan keyakinan Godwin akan kekuatan akal sehat pada
keinginan (passion) seseorang.

Revisions of the Essay


Ide dari revisi esai ini berasal dari :
Kritik ekonom lain (Robert Owen-British Socialist)
Adanya pengalaman pribadi tentang penundaan Pernikahan (Malthus bertunangan
dalam waktu yang lama dan menikah pada usia 38 tahun).
Malthus melakukan perjalanan ke luar negeri sehingga tidak hanya terpaku pada kasus
Inggris (hal ini yang membuatya pandangannya lebih luas dan tidak hanya terpaku pada
pandangan Godwin dan Condorcer)
Malthus membuat hal ini menjadi dasar kebijakan proposalnya. Tujuannya adalah untuk
mengurangi kemiskinan.
Untuk memenuhi tujuannya tersebut, malthus tidak menyetujui adanya bantuan untuk
masyarakat miskin yang berlebihan karena bantuan untuk masyarakat miskin justru
mendorong mereka untuk melakukan pernikahan dan akhirnya meningkatkan populasi.

Revisions of the Essay


Mencegah peningkatan populasi hingga mencapai tingkat subsistensi adalah satu-satunya metode
yang efektif untuk memperbaiki kondisi masyarakat miskin tersebut. Untuk mencapainya, setiap
orang harus memiliki tekat pengendalian berdasarkan moral.

Malthus kemudian mempertimbangkan empat prasyarat : perlindungan hak milik, persamaan


martabat dan kesetaraan hukum untuk masyarakat kelas bawah, the spread of representative
government, dan peningkatan pendidikan.
Seperti Adam Smith, ia melihat bahwa manusia akan terdorong oleh keinginan mendapatkan kondisi
yang lebih baik. Pengetahuan yang lebih baik, martabat yang lebih tinggi, merasakan
pertanggungjawaban pribadi, dan takut pada degradasi (penurunan) akan mendorong manusia agar
denga n dorongan ini.
Bagi Adam Smith self-reliance (kemandirian) adalah kunci pemecahan masalah ekonomi, tetapi bagi
Malthus kunci pemecahan masalah ekonomi adalah self-denial (pengorbanan keinginan pribadi).

Revisions of the Essay


Bagian yang paling menonjol dari doktrin Populasi Malthus adalah dua seri yang ia
gunakan (seri geometris dan aritmatika). Dengan berkonsentrasi pada tekanan
populasi sebagai penyebab kemiskinan, dengan memegang tanggungjawab
masyarakat miskin atas tekanan populasi dan kejahatan yang ditimbulkannya, Ia
mengalihkan tanggung jawab atas masalah-masalah sosial dan ekonomi yang
awalnya dibebankan pada masyarakat kelas atas dan pemerintah menjadi tanggung
jawab masyarakat miskin itu sendiri.

Pengalihan tanggungjawab ini berbeda dengan pemikiran Smith, yang menyalahkan


praktek buruk pemerintah untuk kejahatan ekonomi yang begitu banyak.
Baik Smith maupun Malthus tidak menyadari adanya revolusi teknologi yang dimulai
pada masa Smith dan menjadi begitu penting selama abad ke-sembilan belas.
Malthus gagal mengantisipasi ekspansi besar-besaran pada produksi pertanian dan
ia juga gagal dalam mengantisipasi adanya penyebaran birth control.

Forerunners of Malthus
Populasi harus selalu diturunkan hingga mencapai tingkat substensi.
Pemikiran ini banyak ditelitii oleh banyak penulis sebelum Malthus,
diantaranya
Giovanni Botero (1544 1617) dalam bukunya Greatness of Cities yang
diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1606. Perselisihan
antar manusia untuk menghasilkan dan mendapatkan alat pemenuh
kebutuhan telah diakuinya sejak 1588
Steuart mengatakan bahwa pertumbuhan populasi dikendalikan oleh
bobot yang mewakili kebutuhan akan pangan.

Forerunners of Malthus (2)


Pengendali populssi oleh Malthus juga telah disarankan orang Italia yang
bernama Ortes Giammaria (1713-90), dalam Reflections on Population,
yang berisi antisiasi perpecahan antara pertumbuhan populasi sesuai
deret ukur dan pertumbuhan bahan makanan.
Disamping penulis Perancis, selama abad ke-18 ada penulis lain tentang
populasi , yaitu menteri Presbyterian yang bernama Robert Wallace
(1697-1771). Ia menganggap bahwa pemerintahan masyarakat ideal
akan terancam oleh tekanan populasi yang akan terjadi dalam waktu
yang masih lama.

Interpretations of Malthus
Generasi yang berbeda telah menempatkan interpretasi yang berbeda pula pada
doktrin Malthus tentang populasi, dan tidak semua penafsir memiliki pemahaman
yang benar tentang karyanya, diantaranya
1. Malthus tidak menganggap bahwa tekanan populasi hanya masalah kekhawatiran
masa depan, tetapi ia percaya bahwa periode ketika jumlah manusia melebihi
persediaaan jumlah alat pemenuh kebutuhan sudah terjadi sejak lama.

2. Malthus bukanlah seorang yang anti terhadap populasi besar ataupun


pertumbuhan penduduk : ia mengatakan bahwa populasi yang besar adalah salah
satu dari the two grand desiderata, dan yang lainnya yaitu pengurangan
kemiskinan dan rasa ketergantungan.

Interpretations of Malthus
3.

Malthus tidak mendukung vice and misery


Itu merupakan kesalahpahaman dari argumen saya yang menyimpulkan bahwa saya adalah
seorang musuh untuk populasi, saya hanya seorang musuh dari vice and misery, dan proporsi yang
tidak menguntungkan antara populasi dan makanan yang menghasilkan keburukan.

4.

Malthus tetap bersikeras dengan perlawanannya terhadap bantuan kemiskinan, yang berangsurangsur dihapus. Malthus melakukan semua itu karena dia mempertimbangkan bahwa kemiskinan
adalah sebuah gejala tekanan penduduk. Numun Malthus masih mendukung bantuan kemiskinan
seperti: permintaan free education, pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin (karena
musibah, bencana, namun tidak termasuk karena kebiasaan lalai dan boros), bantuan masyarakat
untuk emigran, bantuan untuk keluarga miskin yang memiliki jumlah anak lebih dari 6 anak (bukan
sebagai penghargaan tetapi sebagai bantuan untuk meringankan kesusahan), dan pelarangan
mempekerjakan anak di bawah umur.

Interpretations of Malthus
5. Malthus juga sering digambarkan sebagai orang yang tidak peka terhadap perasaan
yang mendalam dari seorang manusia dan kebutuhan akan cinta. Lagi-lagi, sikapnya
berlawanan. Dia memuliakan cinta dan menempatkannya diatas kenikmatan
intelektual :
Barangkali, jarang ada manusia yang pernah memiliki pengalaman dengan
kebahagiaan sejati dari cinta yang suci, betapapun ia memiliki intelektual yang
hebat, ia tidak akan dapat melihat kembali saat-saat yang indah di sepanjang
hidupnya, khayalan cinta lah yang akan memperlihatkannya, yang
mengingatkannya kembali dan merenungkannya dengan penuh penyesalan, dan
dia akan berharap untuk hidup lebih lama lagi.
Tanpa cinta dan kasih sayang kebahagiaan hidup akan berkurang separuhnya.
Cinta memberikan martabat dan kebahagiaan untuk kehidupan manusia.

Interpretations of Malthus
6. Ajaran Malthus tidak boleh di interpretasikan sebagai persetujuan baik secara
implisit ataupun eksplisit dari birth control. Dia lebih menganjurkan pengendalian
dengan moral restraint, sebagai pengendali tekanan penduduk, mengacu secara
eksklusif untuk menunda perkawinan, dengan pengawasan keras pada pernikahan
dini. Faktanya Malthus menentang pengendalian angka kelahiran (birth control),
yang disinggung Condorcet sebagai sesuatu yang tidak bermoral dan mendorong
kemalasan.

Francis Place
(1771-1854)

Francis Place
Pada tahun 1822 masalah populasi ditinjau lagi oleh Francis Place (1771-1854) dalam bukunya
Ilustrations and Proofs of the Principle of Population. Ia merupakan serang radikal yang mampu keluar
dari kemiskinan dan memperoleh posisi terhormat dalam gerakan pembaharuan (reformasi) di
masanya. Dia sendiri adalah ayah dari 15 anak, dia mulai mempelajari ajaran Malthus setelah the first
Essay dipublikasikan pada tahun 1798.
Sebagai seorang radikal, dia tidak ingin memakai pandangan Malthus yang menghubungkan
kemiskinan dengan tekanan populasi yang timbul dari kondisi manusia dibanding dengan susunan
kelembagaan dan kebijakan publik yang ingin direformasi dalam program yang radikal.

Sebagai pengikut dari Malthus, ia memiliki kepuasan dengan Godwin yang melihat masalah populasi.
Sebagai manusia yang sederhana yang berbaur dengan masyarakat kelas bawah pada setiap bagian
hidupnya, dia tidak memiliki kepercayaan terhadap keefektifan dari Malthuss third check, yaitu moral
restraint. Dia merekomendasikan cara pengendalian prefentive lainnya, salah satunya akan
diklasifikasikan Malthus sebagai vice, yaitu, kontrasepsi.

Pada tahun 1860an penyokong dari pengendalian angka kelahiran dikenal sebagai
Malthusians, dan pada tahun 1880an dikenal sebagai Neo-Malthusians, perbedaan
istilah mungkin karena Malthus menentang kontrasepsi. Tapi dialah yang telah
membunyikan peringatan tentang populasi yang membuat orang lain untuk
melakukan dukungan terhadap pengendali angka kelahiran

Malthus and Darwin


Pemikiran Malthus memiliki pengaruh yang menentukan dalam pembentukan teori
evolusi.
Pengendalian angka kelahiran yang dilihat dalam doktrin populasi Malthus (vice and
misery) menyatakan tentang kebutuhan biologis, dari determinisme yang membuat
manusia mengalami penderitaan yang dikarenakan oleh kekuatan dari alam.
Doktrin ini memberikan kesan yang mendalam pada para ilmuwan yang perhatiannya
bukanlah pada kondisi manusia tapi kehidupan tanaman dan hewan dan menemukan
bahwa determinisme Malthus merupakan pendorong penting bagi pemikiran mereka
sendiri
Dengan cara ini, perjuangan untuk hidup (struggle of existance) oleh Malthus dan
deret ukurnya mencapai bagian terpenting dalam perkembangan biologis abad ke-19.

Malthus and Darwin


Salah satu yang menemukan teori evolusi melalui dasar pemikiran yang
dikemukakan Malthus adalah Charles Darwin
Charles Robert Darwin (18091882) adalah ahli biologi, geologi dan ekologi Inggris,
penemu teori evolusi, pengarang, penyelidik, dan peneliti alam. Ia memperkenalkan
teori ilmia bahwa pola evolusi dihasilkan dari sebuah proses yang dia sebut sebagai
seleksi alam
Pemikiran Darwin muncul secara kebetulan pada Oktober 1838 ketika ia membaca
karya Malthus tentang populasi. Kemudian dia menemukan bahwa teori Malthus
mengenai struggle for existence dan deret ukur dapat dimasukkan dalam evolusi
tumbuhan dan hewan yang menjelaskan teori evolusi, menurut seleksi alam yang
biasa Herbert Spencer (1820-1903) sebut the survival of the fittest.

REACTIONS TO MALTHUSS IDEAS


Marx menolak determinisme biologis Malthus yang diaplikasikan pada manusia.
Baginya, seperti Godwin dan Condorcet, penyakit sosial adalah akibat dari susunan
institusi/kelembagaan yang buruk.

Pada tahun 1820an dan 1830an Nassau Senior (1790 1864), W.F. Lloyd (17941852),
dan Richard Jones (17901855) mencari cara untuk melakukan perubahan yang
berarti pada ajaran Malthus dengan menyangkal bahwa tiga pengendalian Malthus
termasuk inclusive.
Lloyd berpendapat bahwa keinginan untuk menyamai orang lain akan membuat orang
lebih bijaksana.
Jones menambahkan neutral checks yang terdiri keinginan untuk memenuhi
kebutuhan yang tak terbatas dari kebutuhan sekunder, yang melebihi kebutuhan
primer yang mana menghasilkan penderitaan fisik jika tidak dipenuhi. Jones mencatat
pekerja pertanian yang paling sederhana pun tidak menghabiskan semua upahnya
untuk makanan dan diantara pendapatan yang paling tinggi, alokasi pengeluaran
untuk makanan merupakan proporsi yang kecil.

REACTIONS TO MALTHUSS IDEAS


Ketika tahun 1880an mulai terjadi penurunan angka kelahiran di barat dan utara
Eropa, peristiwa yang bertepatan dengan penyebaran informasi pengaturan angka
kelahiran dan saat itu pula Malthus mengalami kemunduran.

Namun, nama Malthus hidup kembali selama 1920an dan 1940an ketika terjadi the
Great Depression dan namanya kemudian menjadi simbol peringatan dunia terhadap
overpopulation.

Referensi
Spiegel , Henry William, The Growth of Economic Thought ( Durham : Duke Press
1983)

TERIMA KASIH