Anda di halaman 1dari 4

KONSEP DASAR KEPERAWATAN (SETRES)

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia memiliki berbagai masalah dalam kehidupan, tanpa masalah manusia tidak bisa di katakana sebagai
individu yang matang. Dari saat manusia kecil hingga tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang dewasa,
manusia selalu berurusan atau berhubungan dengan masalah. Karena dengan masalah yang di alami manusia akan
tumbuh menjadi pribadi yang matang. Dengan adanya berbagai masalah dalam ke hidupan ini, timbul berbagai
tekanan dan kesulitan. Kesulitan tersebut bisa menyebabkan berbagai stress dan keputus asaan. Jika seseorang dapat
menyelesaikan permasalahan yang di hadapi maka manusia tersebut bisa terhindar dari stress. Menurut para ahli
banyak yang menyatakan bahwa semakin berat beban yang di alami seseorang maka semakin besar pula stress yang
di alami.

B. Tujuan Penulisan
1.
2.

Tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :


Untuk memenuhi salah satu tugas mata konsep dasar keperawatan.
Agar mahasisa dan mahasisi dapat mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi respon terhadap stressor

C. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode studi kepustakaan, yaitu dengan mencari data dan isi makalah di
perpustakaan dari berbagai sumber buku-buku yang telah di baca dan di pahami.

BAB 2
PEMBAHASAN

1.

Stres merupakan bentuk sesuatu yang dimiliki seseorang apabila seseorang tersebut memiliki banyak
masalah dan beban yang di hadapinya. Stress biasanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif, terjadinya stress
dapat di sebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor. Bentuk stressor ini di dapat dari lingkungan dan kondisi
diri sera pikiran. Dalam pengertian stres sendiri juga dapat di katakan sebagai stimulus dimana penyebab stres di
anggap sebagai sesuatu yang biasa. Stres juga di kataka sebagai respon artinya dapat merespon apa saja yang terjadi,
juga di sebut sebagai transaksi yakni hubungan antara stresor dianggap positif karena adanya interaksi antara
individu dengan ligkungannya. Respon terhadap stresor yang di berikan setiap individu akan berbeda-beda
berdasarkan faktor yang mempengaruhi dari stresor tersebut, dan coping yang dimiliki individu. Diantara stresor
yang dapat mempengaruhi respon tubuh anatara lain:
Sifat

2.

3.

4.

a.

Sifat stresor merupakan faktor yang dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap stresor. Sifat stresor ini
dapat berupa tiba-tiba atau berangsur-angsur, sifat ini pada setiap individu dapat berbeda tergantung dari
pemahaman tentang arti stresor. Ada beberapa stresor yang bersifat positif dan yang lainnya bersifat negatif.
Stresorstresor yang ber yang bersifat positif akan menimbulkan respon yang positif, sedangkan ifat negatif akan
menyebabkan respon yang negatif pula baik secara fisik maupun secara fisikis. Secara negatif stresor dapat
menghasilkan perubahan yang pada akhirnya akan menimbulkan ke sakitan.
Stres yang positif akan menambah kebahagian dan kegembiraan pada hidup. Kita semua memerlukan stres
yang positif dalam jumlah tertentu, untuk berkembang dengan cepat. Tegat waktu, konfronitas, frustasi bahkan duka
cita menambah kekayaan kepribadian diri dan menjadikan pola kehidupan kita jadi lebih berwarna. Tujuan kita
seharusnya bukan menghilangkan stres, melainkan mempelajari cara mengelola dan memanfaatkan agar mempunyai
dampak yang postif bagi kehidupan kita. Stres yang negatif adalah yang bertindak sebagai depresan dan dapat
menimbulkan perasaan bosan atau kesal ada diri kita. Yang kita perlukan adalah menemukan stres yang optimal yang
bersifatnya dapat memotivasi, bukan membuat kita kewalahan.
Durasi
Lamanya stresor yang dialami klien akan mempengaruhi respon tubuh. Apabila stresor yang di alami lebih
lama, maka respon yang di alaminya juga akan lebih lama dan dapat mempengaruhi fungsi dari tubuh yang lain.
Jumlah
Jumlah stresor yang di alami seseorang dapat menentukan respon tubuh. Semakin banyak stresor yang
dialami pada seseorang, dapat menimbulkan dampak yang besar bagi fungsi tubuh juga sebaliknya dengan jumlah
stresor yang dialami banyak dan kemampuan adaptasi baik, maka seseorang akan memiliki kemampuan dalam
mengatasinya.
Tidak ada suatu tingkat stres yang menjadi tingkat terbaik bagi semua orang. Kita adalah manusia individual
dengan tuntutan yang khas. Karena itu, hal yang mungkin dapat menyulitkan seseorang, mungkin dapat menjadikan
orang lain bahagia. Terkadang kita semua setuju bahwa ada peristiwa tertentu yang membingungkan atau
mengejutkan, reaksi fisiologi dan pisiologi terhadap akan hal yang berbeda-beda. Tuntutan stress pribadi kita dan
jumlah stress yang dapat kita pikul sebelum menjadi putus asa, berubah-ubah sesuai dengan usia kita. Sebuah
penelitian telah mengungkapkan bahwa kebanyakan kondisi sehat yang buruk berkaitan dengan stress yang tiada
henti. Jika anda mengalami gejala stress, mungkin anda trelah berjalan melampaui tingkat stress, dan katakan lah hal
ini pada diri anda sendiri. Obatnya adalah anda harus menurutkan tekanan dalam hidup dan meningkatkan
keterampilan untuk mengelolanya.
Pengalaman
Pengalaman ini juga dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap stresor yang dimiliki. Semakin banyak
stresor dan pengalaman yang di alami dan mampu mengahdapinya, maka semakin baik dalam mengatasinya
sehingga kemampuan adaptifnya akan semakin baik pula.
Stres merupakan persepsi yang dinilai seseorang dari sebuah situasi atau peristiwa. Sebuah situasi yang sama
dapat dinilai postif, netral atau negatifoleh orang yang berbeda. Penilaian ini bersifat subjektif pada setiap orang.
Oleh karena itu, seseorang dapat merasa lebih stres dari pada yang lainnya walaupun mengalami kejadian yang sama.
Selain itu, semakin banyak kejadian yang dinilai sebagai stressor oleh seseorang, maka semakin besar kemungkinan
seseorang mengalami stres yang lebih berat.
Teori appraisal dari lazarus sudah di aplikasikan dalam penelitian terhadap anak. Salah satu penelitian yang di
maksud adalah penelitian oleh johnson dan bradlyn(dalam wolchik dan sandler, 1997), yang di tujukan untuk
meneliti appraisal positif dan negatif terhadap suatu peristiwa serta sebarapa besar pengaruh peristiwa tersebut
terhadap seorang anak.
Menurut lazarus (1991) dalam melakukan penelitian tersebut ada dua tahap yang harus di lalui, yaitu :
Primary appraisal
Primary appraisal merupakan proses penentuan makna dari suatu peristiwa yang di alami individu. Pristiwa
tersebut dapat dipersepsikan positif, netral, atau negatif oleh individu. Peristiwa yang dinilai negatif kemudian di cari

kemungkinan adanya harm, threat, atau chalenge. Harm dalah penelitian mengenai bahaya yang di dapat dari
peristiwa yang terjadi. Threat adalah penilaian mengenai kemungkinan buruk atau ancaman yang di dapat dari
peristiwa yang terjadi. Challage merupakan tantangan akan kesanggupan untuk mengatasi dan mendapatkan
keuntungan dari peristiwa yang terjadi(lazarus dalam taylor, 1991). Pentingnya primary appraisal digambarkan
dalam suatu studi klasik mengenai stres oleh speisman, lazarus, mordkoff, dan davidson(dalam taylor,1991). Studi ini
menunjukan bahwa stres bergantung pada begaimana seseorang menilai suatu peristiwa.
Primary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu :
1) Goal relevance ; yaitu penilain yang mengacu pada tujuan yang dimilki seseorang, yaitu bagaimana hubungan
peristiwa yang terjadi dengan tujuan yang personalnya.
2) Goal coningruence or incongruence ; penilaian yang mengacu pada apakah hubungan antara peristiwa di lingkunagn
dan individu tersebut konsisten dengan keinginan individu atau tidak, dan apakah hal tersebut menghalangi atau
memfasilitasi tujuan personalnya. Jika hal tersebut menghalanginya, maka disebut sebagai goal incongruence, dan
sebaliknya jika hal memfasilitasi maka disebut sebagai goal congruence.
3) Type of ego involvement : penilaian yang mengacu pada berbagai macam aspek dari identitas ego atau komitmen
seseorang.
b. Secondary appraisal
Secondary appraisal merupakan penilaian mengenai kemapuan indvidu melakukan coping, beserta sumber
daya yang dimilkinya, dan apakah individu cukup mampu menghadapi harm, threat, dan challenge dalam peristiwa
yang terjadi.
Secondary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:
1) Blame and credit : penilaian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas situasi menekan yang terjadi atas diri
individu.
2) Coping-potential : penilaian mengenai bagaimana individu dapat mengatasi situasi menekan atau mengaktualisasi
komitmen pribadinya.
3) Future expectancy : penilaian mengenai apakah untuk alasan tertentu individu mungkin berubah secara psikologis
untuk menjadi lebih baik atau buruk.
Pengalaman subjektif akan stres merupakan keseimabangan antara primary dan secondary appraisal. Ketika harm
dan threat yang ada cukup besar, sedangkan kemampuan untuk melakukan coping tidak memadai, stres yang besar
akan dirasakan oleh individu. Sebaiknya, ketika kemampuan coping besar, stres dapat di minimalkan
5.

Tipe Kepribadian
Tipe kepribadian seseorang juga dapat mempengaruhi respon terhadap stresor. Apabila seseorang yang
memiliki tipe kepribadian A, maka lebih rentan terkena stres di bandingkan dengan tipe kepribadian B. Tipe
kepribadian A memiliki ciri yang ambisius, agresif, kompetitif, kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung,
mudah marah, memiliki kewaspadaan yang berlebihan, bicara cepat, bekerja tidak kenal waktu, padai berorganisasi,
memimpin dan memerintah, lebih suka bekerja sendiri jika ada tangtangan, kaku terhadap waktu, ramah, tidak
mudah di pengaruhi, bila berlibur pikirannya ke pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan tipe kepribadian B memiliki ciri
tidak agresif ambisinya wajar-wajar, penyabar, senang, tidak mudah tersinggung, tidak mudah marah, cara bicara
tidak tergesa-gesa, prilaku tidak interaktif, lebih suka kerja sama, mudah bergaul, dan lain-lain atau kebalikan dari
tipe kepribadian A.

6.

Tingkat Perkembangan
Tingkat perkembangan pada individu ini juga dapat mempengaruhi respon tubuh dimana semakin matang
dalam perkembangannya, maka semakin baik pula kemampuan untuk mengatasinya. Dalam perkembangan
kemampuan individu dalam mengatasi stresor dan respon terhadapnya berbeda-beda dan stresor yang di hadapinya
pun berbeda yang dapat di gambarkan sebagai berikut :

Tahap
perkembangan

Jenis stresor

Anak

Remaja

Dewasa muda

Dewasa tengah
Dewasa tua

Konflik mandiri dan ketergantungan orang tua


Mulai sekolah
Hubungan dengan teman sebaya
Kompetisi dengan teman
Perubahan tubuh
Hubungan dengan teman
Seksualitas
Mandiri
Menikah
Meninggalkan rumah
Mulai bekerja
Melanjutkan pendidikan
Membesarkan anak
Menerima proses menua
Status sosial
Usia lanjut
Perubahan temapt tinggal
Penyusuaian diri masa pension
Proses kematian

Tambahkan komentar