Anda di halaman 1dari 78

LAPORAN KASUS KELOLAAN

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


PADA PPQ J DENGAN DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI
DI DUSUN KEBON ORONG DESA DASAN BARU KECAMATAN KEDIRI
KABUPATEN LOMBOK BARAT

DISUSUN OLEH
NAMA

: SRI MULIANI

NPM

: 016.02.0438

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES)


MATARAM
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Di setujui pada :
Hari

Tanggal

Mengetahui

Pembimbing Akademik

(I Made Eka Santosa, S.Kp)


S.Kep )

Pembimbing Lahan

( Ns, Arfit Naen

KATA PENGANTAR

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya
sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan Tugas Asuhan Keperawatan Dengan
Diagnosa Keperawatan Hipertensi Pada Kelayen R di Panti Sosial Tresna Werdha
Puspakarma Mataram.
Tugas ini dapat terselesaikan berkat adanya bantuan dari Pembimbing Lahan,
Dosen beserta Kakak Senior dan teman- teman praktek. Oleh karena itu pada
kesempatan yang berbahagia ini perkenankan penulis menyampaikan ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu didalam menyelsaikan tugas ini baik
yang langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan dalam penulisan berikutnya.
Harapan penulis semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi Mahasiswa STIKES pada khususnya serta pihak PSTW Mataram.

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Kegiatan
C. Metode Penulisan
D. Sistematika Laporan
BAB II KONSEP TEORI
A. Konsep Dasar (masalah utama )
1. Pengertian
2. Patofisiologi
3. Penatalaksanaan Medis
B. Konsep Dasar Auhan Keperawatan
1.

Pengkajian

2.

Diagnose keperawatan

3.

Perencanaan

4.

Pelaksanaan

5.

Evaluasi

BAB III TINJAUAN KASUS


1. Pengkajian Diagnose keperawatan
2.

Perencanaan

3.

Pelaksanaan

4.

Evaluasi

BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian
B. Diagnose keperawatan
C. Perencanaan
D. Pelaksanaan
E. Evaluasi
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
LAMPIRAN :
a. Laporan pendahuluan
b. ResumeSatuan acara penyuluhan

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun.
Kontrol tekanan darah yang ketat pada kelayan diabetes berhubungan dengan
pencegahan terjadinya hipertensi yang tak terkendali.
Hipertensi merupakan segala yang paling sering ditemui pada orang lanjut
usia dan menjadi faktor resiko utama penyakit kardiovaskuler. Karenanya control
tekanan darah menjadi perawatan utama orang-orang usia lanjut. Jose Roesma,
dari

divisi

nefrologi

ilmu

penyakit

dalam

FKUI-RSUPN

dr.

Cipto

Mangunkusumo, Jakarta mengungkapkan bahwa pada orang tua umumnya terjadi


hipertensi dengan sistolik terisolasi yang berhubungan dengan hilangnya
elastisitas arteri atau bagian dari penuaan. Jenis yang demikian lebih sulit untuk
diobati disbanding hipertensi esensial atau pada kelayan yang lebih muda. Obatobat antihipertensi terbaru yang bekerja pada sistem rennin-angiotensinaldosteron, misalnya Angiotensin-Converting Enzyme ( ACE ) inhibitor dan
angiotensin-reseptor bloker memiliki potensi perbaikan kardiovaskuler pada
orang tua akibat penurunan tekanan darah efektif.
Berdasarkan etiologinya hipertansi dibagi menjadi dua golongan yaitu :
Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti
genetika, lingkungan, hiperaktifitas, susunan saraf simpatik, sisten rennin
angiatensin, obesitas, merokok, dan stress.
Hipertensi sekunder
Dapat di akibatkan karena penyakit parenkim renal/ vakular renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil, gangguan endokrin, dll.
(Arif Mansjoer,2000)

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Penulis dapat mengaplikasikan teori yang didapat dalam proses belajar
mengajar secara nyata kpada lansia dengan kasus hipertensi dan secara
langsung mmberikan asuhan keperawatan kepada lansia.
2. Tujuan Khusus

Penulis mampu mengidentifikasi tanda dan gejala hipertensi secara


langsung.

Penulis mampu melaksanakan proses keperawatan secara langsung mulai


dari pengkajian data klayan, menganalisa data trsebut kemudian
merumuskan diagnosa keperawatan, selanjutnya membuat rencana
keperawatan dan melaksanakan serta melakukan evaluasi terhadap
tindakan keperawatan yang diberikan kelayan.

C. METODE PENULISAN
Dalam mengumpulkan data untuk menyusun laporan ini, penulis
menggunakan beberapa pendekatan antara lain :
1. Observasi
Melakukan pengamatan terhadap kelayan dalam melakukan kegiatan dan
aktivitas sehari- hari.
2. Wawancara
Penulis mewawancarai kelayan dan melakukan sesi Tanya jawab serta
menyesuaikan kemampuan kelayan dalam mejawab semua pertanyaan yang
diajukan.
3. Studi kasus
Penulis melakukan atau mempelajari kasus yang akan dilakukan pengkajian.
4. Studi kepustakaan
Penulis mmpelajari kasus dengan menggunakan berbagai teori atau literatur
ang diambil dari buku, internet dan kepustakaan.

5. Sumber data

Primer

Sekunder : yang diperoleh dari orang terdekat, tim kesehatan lain,serta


hasil pemeriksaan fisik.

: yang diperoleh dari kelayan sendiri

D. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk memudahkan dalam penyusunan dan pemahaman dari asuhan
keperawatan ini, maka sistematika penulisan dapat dibagi dalam lima bab yaitu ;

BAB I
Merupakan bab pendahuluan meliputi latar belakang masalah, tujuan
penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II
Membicarakan tentang tanjuan pustaka yang meliputi konsep dasar
(masalah utama) yang terdiri dari pengertaian, etiologi, manifestasi klinis,
patofisiologi, penatalaksanaan medis, dan konsep dasar asuhan keperawatan
yang terdiri dari pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi.

BAB III
Menjelaskan tentang tinjauan kasus yang meliputi pengkajian, diagnose
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

BAB IV
Pembahasan yang meliputi pengkajian, diagnose keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dimana semua yang ada dalam
pembahasan ini merupakan perbandingan antara tinjauan teori dengan tinjauan
kasus yang ditemukan dilahan keperawatan.

BABA V
Berisi penutup yang meliputi kesimpulan dan saran yang diharapkan bias
sangat bermanfaat.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Aging Proses
1. Pengertaian
Menua (Aging) adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan
untuk memperbaiki atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan
fungsi normalnya. Proses ini berlangsung terus-menerus sepanjang hidup
seseorang.
2. Teori proses menua
Proses

penuan

merupakan

proses

secara

berangsur-angsur

yang

mengakibatkan perubahan secara komulatif dan dan merupakan perubahan


serta berakhir dengan kematian.
Teori biologi tentang penuan dibagi menjadi ;
a. Teori intrinstic
Perubahan yang berkaitan dengan usia lanjut timbul akibat penyebab dalam
diri sendiri.
b. Teori ekstrinsik
Perubahan terjadi diakibatkan pengaruh lingkungan perubahan. Perubahan
yang berkaitan dengan usia lanjut timbul penyebab dalam diri sendiri dapat
berupa :
1. Teori genetik/ teori genetik dan mutasi
Teori tersebut menyatakan bahwa menua telah terprogram secara
genetik untuk spesies- spesies tertentu. Tiap spesies mempunyai
didalam nukleus (inti selnya) suatu jam genetik yang telah diputar
menurut suatu implikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan

akan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar. Jadi menurut konsep
ini bila jam kita berhenti, kita akan meninggal dunia, meskipun menjadi
lemah dan sakit.
2. Teori imunologi slow virus
Sistem imun menjadi aktif dengan bertambahnya usia dan
masuknya virus kedalam tubuh dapat menebabkan kerusakan organ
tubuh.
3. Teori Stress
Menua menjadi atau terjadi akibat hilangnya sel-sel yang bias
digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan
kestabilan

lingkungan

internal,

kelebihan

usaha

dan

stress,

menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.


4. Teori Terprogram
Teori yang menua terprogram, sel tubuh manusia hanya dapat
membagi diri sebanyak satu kali. Artinya kemampuan organisme untuk
menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.
5. Teori Rantai Silang
Sel-sel yang tua /usang reaksi kimianya menyebabakan ikatan yang
kuat. Khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini meyebabkan kurang
elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
Perubahan Biologi Yang Berasal Dari Luar Atau Ekstrinsik
1. Teori Radikal
Radikal bebas dapat berbentuk didalam badan, tidak stabilnya radikal
bebas (kelompok atom), mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan
organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel
tidak dapat beregenerasi.

2. Teori Mutasi Sematik


Menurut teori ini factor lingkungan menyebabkan mutasi sematik,
sebagai contoh diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek
umur, sebaliknya menghindari dapat memperpanjang umur. Menurut teori
ini terjadi mutasi yang progresif pada DNA sel sematik akan menyebabkan
terjadinaya penurunan kemampuan fungsi sel tersebut. Sebagai salah satu
hipotesi yang berhubungan dengan mutasi sel sematik adalah hipotesis
error catasrop.
3. Teori Sosial
Salah satu teori social yang berkenan dengan proses openurunan
adalah teori pembebasan. Teori tersebut menerangkan bahwa dengan
berubahnya usia seseorang secara berangsur-angsur mulai melepas diri dari
kehidupan social. Keadaan ini memagkibatkan interaksi social lansia
menurun baik secara kualifikasi maupun kuantitatif.
1. Teori Psikologi
a. Teori Tugas Perkembangan
Menurut

Hang

Kerst

(1992)

bahwa

setiap

individu

harus

memperhatikan tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap


kehidupan yang akan memberikan perasaan bahagia dan sukses. Tugas
perkembangan yang spesifik ini tergantung pada manutrasi fisik.
Penghargaan cultural masyarakat dari nilai serta aspirasi individu.
Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan adanya
penurunan kekuatan fisik dan kesalahan. Penerimaan adanya kematian dari
pasanganya dan orang-orang yang berarti bagi dirinya. Mempertahankan
hubungan dengan grup yang seusianya, adopsi dan adaptasi dengan peran
social secara fleksibel dan mempertahankan kehidupan secara memuaskan.

b. Kepribadian Selanjutnya
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berupa pada lansia. Teori
ini merupakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut
usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Ketuaan (Nugroho,2000) adalah

Herediter

Nutrisi

Status kesehatan

Pengalaman hidup

Lingkungan

Stress

Perubahan fisik pada proses penuaan


Penelitian menyakini bahwa kita dialhirkan dengan jam biologis, jam
ini di program untuk rentang hidup yang sudah ditetapkan, kecelakaan dan
proses penyakit dengan beranjaknya usia, perubahan yang terjadi secara
bertahap menjadi semakin nyata. Perubahan tertentu terjadi disemua system
tubuh. Perubahan ini tidak perlu terjadi bersamaan disetiap system.

Konsep Dasar Hipertensi


1.

Hipertensi
a.

Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg
atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.rogen, 1996).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih (Barbara
Hearrison, 1997).

b.

Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardia output atau peningkatan
tekanan perifer.
Namun ada beberapa factor yang mempemgaruhi terjadinya hipertensi :

Genetik : respon neurology terhadap stress atau kelainan arteri atau


transportnya

Obesitas : terkait dengan kadar insulin yang tinggi yang menyebabkan


tekanan darah meningkat

Stress lingkungan

Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta


pelebaran pembuluh darah (Arif mansjoer, 2000).

Berdasarkan etiologinya hipertansi dibagi menjadi dua golongan yaitu :

Hipertensi Esensial (Primer)


Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi
seperti genetika, lingkungan, hiperaktifitas, susunan saraf simpatik, sisten
rennin angiatensin, obesitas, merokok, dan stress.

Hipertensi sekunder

Dapat di akibatkan karena penyakit parenkim renal/ vakular renal.


Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil, gangguan endokrin, dll.
(Arif Mansjoer,2000)
c. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada kelayan dengan hipertensi adalah meningkatkan
tekanan darah >140/90 mmHg, sakit kepala, epetaksis, pusing/migrant, rasa
berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunag-kunang, lemah dan lelah, muka
pucat dan suhu tubuh rendah. (Arif mansjoer, 2000).

d. Patofisiologi
Obesitas

Arterisklerosis

Pengumpulan Lemak

Hilangnya elastisitas pembuluh darah

Penyempitan Pembuluh Darah

Aliran darah ke jantung me

Peningkatan tekanan
Vaskuler serebral

ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan O2

Nyeri akut

kelemasan umum

(sakit kepala)
Intolenransi

pola hidup monoton

aktivitas
Gangguan pola istirahat tidur
(Arif Manjoer 2000)

CLINIKAL PATHWAY

Proses menua

Pengaruh pada tubuh

Psikososial

Obesitas

Arterisklerosis

Ketidak mampuan menerima

Pengumpulan Lemak

Hilangnya elastisitas
pembuluh darah

Konsep diri menurun

Penyempitan Pembuluh Darah

Gangguan citra tubuh

Defisit perawatan diri


Aliran darah ke jantung me
Gangguan integritas kulit
Peningkatan tekanan
Vaskuler serebral

ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan O2

Nyeri akut

kelemasan umum

(sakit kepala)
Intolenransi
aktivitas
Gangguan pola istirahat tidur
(Arif Manjoer 2000)

e. Penatalaksanaan Medis

pola hidup monoton

Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis


penatalaksanaan :
1.

Penatalaksanaan non farmakologis


a) Diet
Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB
dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan
aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adostrogen dalam plasma.
b) Aktivitas
Klien

disarankan

untuk

berpartisipasi

pada

kegiatan

dan

disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan


seperi berjalan, jogging, bersepeda dan berenang.
2. Penatalaksanaan farmakologis
Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu :
1) Mempunyai efektivitas yang tinggi.
2) Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
3) Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4) Tidak menimbulkan intoleransi.
5) Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh kelayan.
Golongan obat-obatan yang diberikan pada kelayan hipertensi
seperti golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis
kalsium, golongan penghambat konversi rennin angitensin.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian
1. Pengkajian
a. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Kelemasan, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : Nyeri pada daerah kepala, perubahan irama jantung, takipnea.

b. Sirkulasi
Gejala

: Riwayat hipertensi, arterosklerosis, penyakit jantung koroner


dan penyakit serebravaskuler.

Tanda

Kenaikan

TD,

hipotensi

postural,

murnius

stenosis

valvular.takikardia, berbagai distnenia, DJV/kongesti vena,


ekstermitas (perubahan warna kulit, suhu dingin, pengisian
kapiler mingkin lambat/ tertunda), kulit (pucat, sianosis dan
kemerahan)
c. Integritas ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria,
atau marah kronik.
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continu perhatian
tangisan yang meledak.
d. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau tidak.
e. Makanan/ cairan
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan yang
tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual muntah,
perubahan berat badan dan riwayat pengggunaan dierutik
Tanda : BB normal atau obesitas dan adanya edema, kongesti vena,
DJV, glikosuria.

f. Neurosensoris
Gejala : keluhan pusing, sakit kepala suboksipital, episode kebas dan
atau kelemahan satu sisi tubuh.
Tanda : Status mental (perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,
efek, proses piker atau memori).Respon motorik (penurunan
kekuatan genggaman tangan dan atau ferleks tendo dalam).
g. Nyeri/ ketidak nyamanan
Gejala : Nyeri kepala hilang timbul pada saat beraktivitas atau pada
malam hari.
h. Pernafasan
Gejala : dipnea berkaitan dengan aktivitas/kerja, fakipnnea, batuk
dengan atau tanpa pembentukan sputum.
i. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan, episode parastesi unirateral
fransie, hipotesi postural.
j. Pembelajaran/ penyuluhan
Gejala : factor-faktor resiko keluarga: hipertensi,ateroskleris, penyakit
jantung, DM, penyakit ginjal. Faktor-faktor resiko anelik,
penggunaan pil KB atau hormon lain.(Doengoes,2000)

2. Diagnosa keperawatan

a.

Nye
ri akut/ nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular
cerebral.

b.

Into
leransi

aktivitas

berhubungan

dengan

kelemahan

umum,

ketidak

seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.


c.

Kur
ang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi informasi

3. Perencanaan
DX
I

Tujuan

Intervensi

Rasional

- Anjurkan kelayan untuk

Untuk menurunkan

tindakan keperawatan

mempertahankan tirah

tekana vaskuler

diharapkan nyeri kepala

baring selama fase akut.

serebral

Setelah dilakukan

berkurang/ tidak ada

dengan criteria hasil

Men
gkaji intesitas nyeri

mengetahui skala
nyeri.

Nyeri akut/nyeri
kepala

Untuk

Men

memperlambat respon

berkurang/tidak

ganjurkan kelayan untuk

simpati efektif dalam

ada

kompres hangat pada dahi

menghilanghkan sakit.

dan leher bagian belakang.


-

Mel
atih kelayan untuk

Mekanisme adaptif
perlu untuk mengubah

melakukan teknik relaksasi

pola hidup seseorang.

dan diktrasi.
Intoleransi aktivitas b/d
II

kelemahan umum
ketidak seimbangan
antara suplai dan keb.

Men
ganjurkan klien untuk

Klien dapat melakukan


aktifitas sesuai dengan
kemampuannya

Oksigen.

penghematan energi.

Klien dapat melakukan


aktifitas tanpa keluhan

Beri
dorongan kepada klien
untuk melakukan aktivitas
secara bertahap jika dapat di
toleransi.

Membantu
mengudentifikasi dasar

kesulitan dalam

Men

mekanisme koping.

gkaji keefektifitas strategis

Untuk memperbaiki

koping dengan

keterampilan koping.

mengobsevasi perilaku.

Dor

Melindungi kelayan
dalam mempengaruhi

ong kelayan untuk

perasan.

mengungkapka perasan
III

tkan kelayan dalam proses

Kurang pengetahuan
b/d kesalahan inter
pretasi informasi

Liba
pengobatan
Kaji

Member

penggunaan mekanisme

pengetahuan kepada

pertahanan diri kelayan

pasien

Tinj
au proses penyakit ,
prognosis, dan harapan
masa depan

Tujuan untuk
mengkontrol penyakit

Disk
usikan kebiasaan kelayan
dalam penatalaksanaan
proses sakit melalui diet,
obat- obatan dan program
diet seimbang , latihan dan
istirahat

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan pada asuhan keperawatan dapat disesuaikan
dengan perencanaan keperawatan yang telah ditentukan sesuai dengan
diagnosa yang ada.

5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan pada asuhan keperawatan yang diberikan kepada
kelayan dapat dibuat sesuai dengan perkembangan dari kelayan. Evaluasi
keperawatan disusun berdasarkan pendekatan SOAP.

BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal pengkajian : 13 Juli 2016


Nama Pengkaji

: Sri Muliani

I.PENGKAJIAN
A. Data Biografi.

Nama

Tempat dan Tanggal lahir

Pendidikan terakhir

: Tidak sekolah

Agama

: Islam

Status perkawinan

: Janda (Cerai mati)

Peanampilan

: Kelayan tampak rapi dan bersih

TB/BB

: 148 cm/ 50 Kg

Alamat

: Dusun Kebon orong

Orang yang dekat dihubungi

: Buni

Hubungan dengan usila

: Cucu laki-laki usila

Alamat

: Dusun Kebon Orong

Tanggal masuk panti

:-

: Ppq J
: Kebon Orong, tahun 1937

B. Riwayat Keluarga

Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Laki-laki / perempuan meninggal.
: Garis perkawinan
: Cerai ( cerai mati )
: Kelayan
--------

: Tinggal serumah.

Kelayan adalah anak pertama dari 3 bersaudara, menikah 1 kali. Suami sudah meninggal
dan mempunyai anak satu juga sudah meninggal, sekarang papuq J tinggal bersama
menantu dan ketiga cucunya.

C. Riwayat Rerkerjaan

Pekerjaan saat ini

: kelayan saat ini tidak bekerja

Alamat pekerjaan

Berapa jarak dari rumah : -

:-

Alat tranportasi

:-

Pekerjaan sebelumya

:-

Berapa jarak dari rumah : -

Alat tranportasi

Sumber-sumber pendapatan & kecukupan terhadap kebutuhan : kelayan mengatakan

:-

yang memenuhi kebutuhannya menantunya dan cucunya.


D. Riwayat lingkungan hidup

Tipe tempat tinggal

: permanen

Jumlah kamar

: 3 kamar tidur,1 kamar mandi/WC dan I tempat masak

( dapur ) dan 1 ruang tamu.

Kondisi tempat tinggal : tampak bersih, pencahayaannya kurang terang, ventilasinya


baik dan tidak pengap.

Jumlah orang yang tinggal dirumah : 5 orang ,laki-laki 2, dan 3 orang wanita.

Derajat privasi

Tetangga terdekat : masih keluarga dari usila

: baik

E. Riwayat rekreasi

Hobby / minat

Keanggotaan organisasi

Liburan perjalanan

: pergi sholat ke Masjid


:: kelayan mengatakan tidak pernah liburan.

F. Sistem pendukung
Di rumah klien sehari-hari dirawat oleh menantu dan cucunya dan bila sakit di bawa ke
dokter atau perawat praktek di dekat rumah yang berjarak 2 km.

Jarak rumah sakit dengan rumah 10 km

Jarak dengan klinik -

Makanan yang dihantarkan : Kelayan mengaku diberi makanan 3 kali sehari.

G. Diskripsi kekhususan

Kebiasaan ritual : kelayan mengaku selalu sholat kemasjid.

H. Status kesehatan

Status kesehatan untuk selama setahun yang lalu : kelayan mengatakan sering
merasakan sakit / nyeri di bagian kepala , susah tidur pada malam hari.

Status kesehatan umum selama 5 tahun yang lalu : kelayan mengatakan tidak penah
menderita penyakit yang berat-berat, hanya pernah sakit pilek dan batuk, namun
setelah minium obat kelayan akan sembuh.

I. Keluhan utama

Kelayan mengatakan nyeri kepala/dibelakang kepala.

Provokativ/palliative

: Kelayan mengatakan nyeri kepala tiba-tiba.

Quality/quantity

: Kelayan mengatakan seperti nyut-nyut kadang-kadang.

Region

: Kepala bagian belakang

Severity scala

: 3 ( ringan )

Timming

: Kelayan mengaku hanya di waktu-waktu tertentu pada

malam hari dan saat beraktifitas.

Pemahaman dan penatalaksanaan masalah kesehatan


Kelayan mengatakan tidak tahu tentang penyakit yang diderita, begitu juga dengan
pengobatannya.

Obat-obatan

No. Nama
1

2.

Dosis

Status Imunisasi

: Tidak terkaji

Tetanus

:-

Pneomovaks

: Tidak terkaji

Alergi

:-

Keterangan

Penyakit yang diderita : Hipertensi


J. Aktivitas hidup sehari-sehari

Indeks Katz

:A

Oksigenasi

: Kelayan mengatakan mampu bernapas dengan baik tanpa ada

gangguan. RR 24 kali permenit

Makan minum

: Kelayan mengaku makan 3 kali sehari dengan lauk pauk yang

diberikan oleh menantunya, dan 1 porsi dihabiskan dan minum 6-7gelas perhari
( 1200cc)

Eliminasi

: Kelayan mengatakan BAB 1 kali sehari dengan konsisten lembek,

warnanya kecoklat-coklatan, dan baunya khas dan BAK 3-4 kali sehari dengan warna
urinnya kuning bening dan baunya khas. Kelayan mengaku tidak ada keluhan
terhadap BAB dan BAKnya.

Aktivitas

: Kelayan mengatakan capek, lemah, pada saat beraktifitas rasa

tidak nyaman saat bergerak.

Istrahat Tidur

: Kelayan mengatakan biasanya tidur jam 21.00-02.00 sering

terjaga pada malam hari


mengatakan susah tidur.

dan jarang tidur siang kecuali merasa ngantuk. Kelayan

Personal Hygiene : Kelayan tampak bersih, kelayan mengaku mandi 2 kali sehari
dan menggosok gigi 2 kali sehari dan keramas 2-3 kali dalam seminggu. Ini terlihat
dari penampilan kelayan yang bersih dan rapi.

Seksual

: Kelayan mengatakan sorang janda.

Rekreasi

: Kelayan mengatakan tidak pernah pergi-pergi.

Psikologis

: Kelayan mengatakan merasa nyaman bila pergi ke masjid.

a.

Persepsi kelayan

: Kelayan tidak tahu tentang penyakitnya sangat

berbahaya apa dan kelayan mampu menyebutkan 3 kata yang disebutkan oleh perawat.
b.

Konsep diri

: Kelayan mengatakan dirinya sudah tua tapi

kelayan mengaku masih mampu melakukan aktifitasnya tiap hari sendiri tanpa bantuan
orang lain.
c.

Emosi

: Kelayan mengaku tidak pernah marah dengan

menantunya dan cucunya.


d.

Adaptasi

: Kelayan mengaku mampu beradaptasi/gergaul

dengan teman-temannya yang berada dilingkunganya.


e.

Mekanisme pertahanan diri : Kelayan mengaku selalu mendekatkan diri


kepada Tuhan Ynag Maha Esa dan selalu berdoa untuk kesembuhan penyakitnya.

K. Tinjauan Sistem.

Keadaan umum : Baik, penampilan rapi, bicara teratur tapi kurang terarah. Kondisi
badan agak terlihat lemah.

Tingkat kesadaran : Composmestis

GCS

Tanda-tanda vital :

: Membuka mata : 4, verbal : 5 psikomotor : 6.

Tensi : 160/100 mmHg

Nadi : 64 x/menit ( takikardi )

RR

: 24 x mnt

SH

: 37

1. Kepala : bentuk kepala bulat, tidak lesi/benjoal, rambut tipis dan berwarna putih,
tidak ada ketombe, dan tidak ada nyeri tekan pada kepala.

2. Mata

: bentuknya simetris, tidak terdapat edema,skelera tampak putih, konjutiva

merah muda, pupil bereflek pada cahaya dan kararak (-) dan tidak ada keluhan
mengenai mata.
Telinga

: bentuk simetris, tidak ada serum, tidak ada nyeri tekan dan tidak ada

keluhan pada pendengaranya.


Hidung

: tidak ada cuping hidung, tidak ada polip, tidak ada peradangan mokosa

hidung.
3. Leher

: Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening ataupun kelenjar tyroid,

kadang-kadang klien merasa kaku pada leher bagian belakang


4. Dada dan punggung

: Bentuk dada simetris, tidak terdapat dispepnia, saat

palpasi terdapat getaran dinding dada yang sama, perkusi sonor, auskultasi vaskuler.
Pada punggung tidak terdapat kiposis (bungkuk)

Paru : perkusi terdengar sonor, auskultasi terdengar vesikuler, tidak terdapat suara
ronchi.

Jantung : perkusi jantung terdengar pekak dan auskultasi jantung terdengar S1 S2


tunggal tidak ada suara tambahan.

5. Abdomen dan pinggang : bising usus (12)


Abdomen tampak simetris, tidak tampak adanya benjolan pada ,palpasi tidak ada
keluhan nyeri ulu hati dan tidak ada keluhan nyeri pinggang.
6.

Estremitas atas dan bawah : Tidak diketemukan kelumpuhan eksremities dan patah
tulang tidak ada. Bentuk ekstermitas atas dan bawah simertris dan tidak ada keluhan.

7. Sistem Imune : tidak dikaji karena alatnya tidak ada.

8. Genetalia : kelayan mengaku tidak ada keluhan mengenai alat genetalia.


9. Sistem reproduksi

: sudah menopause.

10. Sistem Persyarafan : mengatakan masih mampu menggerakkan bola mata kanan dan
kiri dan atas bawah, masih mampu tersenyum, meringis dan mengangkat alis. Refleks
patella positif, refleks babinsky positif dan refleks taktilnya positif.
11. Sistem pengecapan : kelayan masih bisa merasakan asin, manis, pahit dengan mata
tertutup
12. Sistem penciuman : kelayan masih dapat mencium dan membedakan bau yang harum
dan busuk

L. Status kognitif, afektif dan sosial


1. Short portable mental (SPSMQ) : nilai 4 kerusakan intelektual ringan.
No.

Pertanyaan

Jawaban

Tanggal berapa hari ini ?

Tidak tahu

Hari apa sekarang ini ?

Tidak tahu

Apa nama tempat ini ?

Rumah

Berapa umur anda ?

80 tahun

Kapan anda lahir ?

Tahunya saya lupa tapi pada


jaman belanda

Siapa presiden Indonesia sekarang ?

Tidak tahu

Siapa nama presiden sebelumnya ?

Suharto

Dari 7 pertanyaan kelayan mampu menjawab 2 pertanyaan yang berarti fungsi


intelektualnya sedang.
2. Mini mental state examaration (muse) : menguji aspek-aspek kognitif.

Aspek
Orientasi

Nilai
5

Pasien
4

Pertanyaan
Tahun, Musim, Tanggal, Hari, Bulan

apa sekarang ?
5

Dimana

kita

sekarang

(Negara,

Wilayah, Kota, Rumah/Rumah Sakit,


Lantai) ?
Registrasi

Nama

objek

mengatakan

detik

untuk

masing-masing.

Kemudian tanyakan pada kelayan 3


objek setelah anda mengatakanya.
Beri satu point untuk setiap jawaban
yang benar. Kemudian ulangi sampai
kelayan mempelajari ke tiganya.
Jumlahkan percobaan dan catat.
Perhatian

Seri

7s

dan

kebenaran.

Kalkulasi

jawaban.

point
Berhenti

Bergantian

untuk

setiap

setelah
eja

5
kata

kebelakang
Mengingat

Minta kelayan untuk mengulang ke


tiga objek diatas. Berikan 1 point
untuk setiap kebenaran.

Bahasa

Nama pensil dan melihat (2 point).


Mengulang hal berikut tidak ada
jika, dan atau tetapi (1 point)

Niai total

30

22

Dari fungsi mental nilai total : 22 yaitu aspek kognitif dan mental dalam taraf baik.
3. Intervensi

depresi beck : untuk mengetahui tingkat depresi Lansia : nilai yang

didapatkan adalah 3 yang berarti tingkat depresi kelayan :tidak ada/minimal.


4. Apgar keluarga

satu alat scrining singkat yang dapat digunakan untuk mengkaji

fungsi sosial lansia.

No
1

Uraian

Fungsi

Saya puas bahwa saya dapat kembali Adaptation

Skor
1

pada keluarga (teman-teman) saya


untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2

Saya puas dengan cara keluarga Partnership

(teman-teman) saya membicarakan


sesuatu

dengan

mengungkapkan

saya

masalah

dan
dengan

saya
3

Saya puas dengan cara keluarga Growth

(teman-teman) saya menerima dan


mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas atau arah baru
4

Saya puas dengan cara keluarga Affection


(teman-teman)

saya

mengekspresikan efek dan berespon


terhadap emosi saya seperti marah,
sedih atau mencintai
5

Saya puas dengan cara keluarga Resolve


(teman-teman)

saya

dan

saya

menyediakan waktu bersama-sama


Ket. Selalu = 2, Kadang-kadang = 1, Total
Hampir tidak pernah = 0
Nilai 6 berarti fungsi social lansia cukup baik

M. Data penunjang

1.

Laboratorium

:-

2.

Radiologi

:-

3.

EKG

4.

Obat-obat

N. Diagnosa Keperawatan
I. Analisa data

::-

NO
1

DATA
DS : Kelayan megatakan

ETIOLOGI

PROBLEM

Obesitas

Nyeri akut

nyeri kepala.
P : nyeri kepala dengan tiba
tiba

Pengumpulan lemak

Q : rsanya seperti nyut nyut


R : dibelakng kepala
Penyempitan
pembuluh darah

S:3
T : kelayan mengatakan
hanya diwaktu-waktu
tertentu pada malam hari
dan pada saat

Aliran darah
kejantung me

beraktifitas.

DO : TD : 160/110 mmHg,
RR : 24x/mnt

Peningkatan tekanan
vaskuler serebral

Nadi: 64x/mnt
SH : 37
Kelayan tampak lemah

Nyeri kepala bagian


belakang

dan meringis, diwaktuwaktu tertentu pada


malam hari dan pada

Nyeri akut

saat beraktifitas.

DS : Kelayan mengatakan
capek, lemah pada saat

Aliran darah
kejantung me

beraktifitas.

DO : Kelayan tampak letih


saat beraktifitas, setelah
berolahraga

Ketidakseimbangan
suplai darah dan
kebutuhan O2

Intoleransi aktivitas

Rumusan Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan nyeri kepala bagian belakang yang ditandai dengan kelayan
mengatakan pusing, nyeri kepala, TD : 160/100 mmHg, kelayan tampak lemah dan meringis.
2 Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen yang ditandai dengan kelayan merasa capek, lemah saat beraktifitas dan setelah
berolahraga.
3. Gangguan pola istahrat tidur berhubungan dengan nyeri akut yang ditandai dengan kelayan
mengatakan susah tidur pada malam hari.

`
II.
NO
1

Rencana Keperawatan
Hari/tgl

Kamis

No.dx
I

Tujuan
Setelah

Rasional

dilakukan 1. Mempertahankan

14/07/16

tinadakan

jam:

3x24

jam

15.30

nyeri/

ketidaknyamanan

hilang

atau

wita

Intervensi

keperawatan
diharapkan

tirah baring selama

stimulasi/

fase akut

meningkatkan
relaksasi

terkontrol 2. Ajarkan

dengan criteria hasil :

1. Meminimalkan

relaksasi

tehnik 2. Menurunkan
dan

tekanan

vaskuler

1. Kelayan

tidak

merasakan nyeri lagi

distraksi
3. Anjurkan

2. Skala nyeri 1-3 (nyeri


ringan)
3. Kelayan

serebral

merasa

untuk 3. Terjadi

mengurangi aktifitas

peningkatan

yang

tekanan vaskuler

dapat

meningkatkan sakit

nyaman

serebral

kepala.
4. Bantu

kelayan

dalam

ambulasi

4. Pusing sering
berhubungan

sesuai kebutuhan

dengan sakit
kepala, dapat
terjadi episode

5. Kolaborasi

dalam

pemberian obat.

hipotensi postural.
5.

Menu
runkan rangsang
nyeri pada saraf
simpatis.

Jumat

II

Setelah

dilakukan 1. Kaji respon kelayan 1. Membantu

15/07/16

tindakan

Jam :

3x24

15.30

kelayan

dapat 2. Ajarkan

berpartisipasi

dalam

wita

jam

keperawatan

dalam beraktifitas

mengkaji

diharapkan

dalam
respon

fisiologis
untuk

aktifitas dengan criteria

tehnik 2. Mengurangi
menghemat

penggunaan

energy

energi

hasil :
1. Dapat

melakukan

3. Berikan
untuk

aktivitas dengan baik


2.

Tidak
merasa letih lagi
setelah aktifitas

dorongan
melakukan

aktifitas

secara

mandiri

pada

kelayan
4.

Berika
n bantuan sesuai
dengan kebutuhan
klien

3.

Kema
juan aktifitas yang
bertahap
meningkatkan
kerja jantung

4. Mendorong
kemandirian
dalam beraktifitas

3.

Sabtu

III

Setelah

dilakukan 1. Diskusikan

tinadakan

16/07/16

keperawatan
diharapkan

tidur

kebiasaan pola dan

mengakibatkan

kebutuhan tidur

gangguan

Jam :

3x24

15.30

gangguan pola istirahat

kognitif, persepsi

tidur teratasi

dan

wita

jam

1. Gangguan

dengan

criteria hasil :
1. Nyeri

fungsi

penurunan

kontrol.

kepala

tidak

posisi 2. Membantu

2. Anjurkan

meningkatkan

yang nyaman

lagi dirasakan.

relaksasi

2. Skala nyeri 1-3 (nyeri


ringan)

penyiapan tidur

3.

3. Kelayan

dapat

istirahat

dengan

Anjurkan tidur tampa

cukup

dan

3. Siklus

tidur

mempunyai

gangguan untuk

interval

memungkinkan

70-100

mm/mnt

siklus tidur yang


lengkap

III.

Implementasi

HARI/

TINDAKAN

TANGGAL

KEPERAWATAN

1.

Kamis

14/07/16
jam:
wita

15.30

1. Mempertahankan

RESPON HASIL

tirah 1. Kelayan mau melakukan tirah

baring pada fase akut


2. Mengajarkan

baring pada saat serangan akut


tehnik 2. Kelayan tehnik relaksasi dan

relaksasi

distraksi

3. Mengurangi aktifitas yang 3. Kelayan


dapat meningkatkan sakit
kepala

mau

aktifitasnya.

mengurangi

PARAF

4. Membantu kelayan dalam


ambulasi sesuai kebutuhan
5. Kolaborasi

dalam

pemberian obat

2.

Jumat

II

4.

Kelayan

mampu

dalam

melakukan

ambulasi

sesuai

kebutuhannya.
5. Kelayan

mau

obat

sendiri dan tahu dosisnya.


1. Mengkaji respon kelayan 1. Kelayan kelihatan tampak letih
dalam beraktifitas

15/07/16

dan lelah saat beraktifitas

2. Mengajarkan tehnik untuk 2. Kelayan

Jam : 15.30

minum

menghemat energy

wita

tehnik

mau

melakukan

untuk

menghemat

energi yang diajarkan.


3. Memberikan

dorongan 3. Kelayan mampu melaksanakan

untuk melakukan aktifitas

aktifitas

ringan

seperti

Kelayan

dapat

menyapu
4.

Memberikan
bantuan sesuai kebutuhan.

4.
melakukan

aktifitas

secara

mandiri.

3.

Sabtu

III 1. Mendiskusikan

16/07/16

kebiasaan

1. Kelayan

pola dan kebutuhan tidur

mendengarkan
,memperhatikan, penjelasan

Jam : 15.30
wita

mau

2. Menganjurkan posisi yang


nyaman

yang diberikan dan bertanya


2. Kelayan mampu mencoba
mendapatkan

3. Menganjurkan tidur tampa


gangguan

untuk

posisi

yang

nyaman.
3. Kelayan mampu melakukan

memungkinkan siklus tidur

siklus tidur yang lengkap.

yang lengkap

IV.

EVALUASI / CATATAN PERKEMBANGAN

NO HARI/TANGGALl

DX

EVALUASI/Catatan perkembangan

PARAF

S OAP)
1.

Minggu 17/07/16
jam: 15.30 wita

S : Kelayan mengatakan nyeri kepala sudah


hilang
Skala nyeri : 1
O : k/u baik
TD: 160/100 mmHg
R : 24 x / menit
N : 64 x / menit
SH : 37 0C
A : Masalah teratasi
P : Interfensi dihentikan

Minggu 17/07/16
jam: 15.30 wita

II

S : Kelayan mengatakan sudah bisa beraktifitas


seperti biasa.
O : k/u baik
Kelayan sudah tidak letih lagi saat
beraktifitas setelah berolahraga

Kekuatan otot
5

TD : 160/100 mmHg
R : 24 x/ menit
N : 62x / menit
SH : 370C

A : Masalah teratasi
P : Interfensi dihentikan

Minggu 17/07/16
jam: 15.30 wita

III

S : kelayan mengatakan sudah bisa tidur.


O : k/u membaik
TD : 160/ 100 mmHg
R : 24 x / menit
N : 62 x / menit
SH : 370C
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada BAB IV atau pembahasan akan diuraikan kesenjangan-kesenjangan antara teori dan
kenyataan dalam asuhan keperawatan gerontik dengan kasus Hipertensi. Uraikan tentang
pembahasan disesuaikan dengan langkah-langkah dalam proses keperawatan yang meliputi :
1. Pengkajian

Dalam pengkajian data pada teori dengan diagnosa Hipertensi antara lain : Identitas
kelayan, data bio-psiko-sosial-spritual, aktifitas/ istirahat, integritas ego, makanan/ cairan,
nyeri, keamanan, interaksi social, riwayat hipertensi. Sedangkan pengkajian pada kasus
dimulai dari identitas kelayan, genogram, riwayat penyakit, keluarga, riwayat lingkungan
hidup, riwayat rekreasi, system pendukung, pemeriksaan fisik (Head To Toe), status
kesehatan (keluhan utama), kebutuhan sehari-hari, mulai dari nutrisi, eliminasi, aktifitas
istirahat dan tidur, personal hygiene, neurosensoris, nyeri.
Dari pengkajian antara teori dan kasus ditemukan ada kesenjangan yaitu : Pada tinjauan
teori tidak dilakukan pengkajian tentang genogram sedangkan pada tinjauan kasus kelayan
dikaji tentang riwayat genogramnya, dimana genogram itu perlu dikaji untuk mengetahui
garis keturunan kelayan.
2. Diagnosa Keperawatan
Pada diagnosa keperawatan yang ditinjau dari segi teori ditemukan 3 diagnosa yaitu :
a. Nyeri akut/ nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular cerebral.
b.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak seimbangan


antara suplai dan kebutuhan O2.

c.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi informasi

Sedangkan diagnosa yang ditemukan pada kasus yang ada setelah dilakukan pengkajian
ditemukan ada 3 diagnosa yaitu:
a. Nyeri akut berhubungan dengan nyeri kepala bagian belakang yang ditandai dengan
kelayan mengatakan pusing, nyeri kepala, TD : 160/100 mmHg, kelayan tampak lemah
dan meringis.
b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen yang ditandai dengan kelayan merasa capek, lemah saat beraktifitas
dan setelah berolahraga.

c. Gangguan pola istahrat tidur berhubungan dengan nyeri akut yang ditandai dengan
kelayan mengatakan susah tidur pada malam hari.
Penulis mengambil/ mengangkat diagnosa tersebut karena pada saat melakukan
pengkajian masalah utama yang ditemukan dan perlu segera di tangani.

3. Perencanaan
Perencanaan dilakukan sesuai dengan masalah keperawatan yang ditemukan pada
kelayan dan masalah keperawatan yang ditemukan yaitu :
a. Nyeri akut
b. Gangguan intoleransi aktifitas
c. Gangguan pola istirahat tidur
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori hampir sama
hanya saja pada tinjauan teori pelaksanaan terdapat kolaborasi dengan dokter atau ahli terapi
lainya namun pada tinjauan kasus penulis tidak pernah berkolaborasi dengan dokter atau ahli
terapi.
5. Evaluasi
Penulis menggunakan evaluasi jangka pendek yaitu untuk mengevaluasi keberhasilan
pelaksanaan asuhan keperawatan.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan pengamatan terhadap kelayan dengan diagnosa medis hipertensi,
penulis dapat menyimpulkan ;
1. Pengkajian
Dari hasil pengkajian ditemukan data bahwa kelayan memiliki 3masalah utama yaitu
nyeri akut, gangguan intoleransi aktifitas dan gangguan pola istirahat tidur.
2. Diagnosa kperawatan
Pada tinjauan kasus diagnosa keperawatan yang diangkat adalah nyeri akut
berhubungan dengan nyeri kepala bagian belakang ditandai dengan kelayan mengatakan
pusing, nyeri kepala, TD : 150/90 mmHg, kelayan tampak lemah dan meringis.
Gangguan intoleransi aktifitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen yang ditandai dengan kelayan merasa capek, lemah saat beraktifitas
dan setelah berolahraga, gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan nyeri akut
yang ditandai dengan kelayan mengatakan susah tidur pada malam hari dan saat
beraktifitas.
3. Perencanaan
Perencanaan dibuat berdasarkan masalah utama yang ditemukan pada saat pengkajian
dan penulis berusaha untuk menyesuaikan dengan teori yang ada.
4. Pelaksanaan
Pada pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan perencanaan yang
dibuat. Namun ada salah satu perencanaan yang berkolaborasi dengan dokter.
5. Evaluasi
Penulis menggunakan evaluasi jangka pendek untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan. Dari evaluasi dapat diketahui
semua masalah dapat teratasi.

B. Saran
1. Bagi pihak Keluarga

Bagi pihak Keluarga, agar lebih meningkatkan pelayanan kepada lansia sehingga
dapat tercapai derajat kesehatan yang lebih optimal.

Bagi pihak Keluarga, dapat memberikan sarana keperawatan dan alat-alat harus
disterilkan dirumah.

2. Bagi Institusi

Dapat lebih meningkatkan dukungan moril kepada mahasiswa praktik.

DAFTAR PUSTAKA

Callahan, Barton, Schumaker. 2000. Seri Skema Diagnosis Dan Penatalaksanaan Praktis.
Binapura Aksara.: Jakarta
Doengoes Marilynn.2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Umtuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC : Jakarta
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Jakarta
Soeparman.1987. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II Edisi II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Tarwoto, wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba Medika
: Jakarta

LAMPIRAN RESUME , LAPORAN PENDAHULUAN (LP)


DAN SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATN GERONTIK


DENGAN DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI PADA Iq S
DI WISMA LANGKO PSTW PUSPAKARMA MATARAM

A. Masalah keperawatan utama


Tekanan darah tinggi.
B. Proses terjadinya masalah.
i. Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau
lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.rogen, 1996).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih (Barbara Hearrison,
1997).
ii. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi
sebagai respon peningkatan cardia output atau peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa factor yang mempemgaruhi terjadinya hipertensi :
2. Genetic : respon neurology terhadap stress atau kelainan arteri atau transportnya
3. Obesitas : terkait dengan kadar insulin yang tinggi yang menyebabkan tekanan darah
meningkat
4. Stress lingkungan
5. Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta pelebaran
pembuluh darah

Berdasarkan etiologinya hipertansi dibagi menjadi dua golongan yaitu :


Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika,
lingkungan, hiperaktifitas, susunan saraf simpatik, sisten rennin angiatensin, obesitas,
merokok, dan stress.
Hipertensi sekunder
Dapat di akibatkan karena penyakit parenkim renal/ vakular renal. Penggunaan
kontrasepsi oral yaitu pil, gangguan endokrin, dll.

b. Patofisiologi

Obesitas

Arterisklerosis

Pengumpulan Lemak

Hilangnya elastisitas pembuluh darah

Penyempitan Pembuluh Darah

Aliran darah ke jantung me

Peningkatan tekanan

ketidakseimbangan suplai

Vaskuler serebral

dan kebutuhan O2

Nyeri akut

kelemasan umum

(sakit kepala)
Intolenransi aktivitas pola hidup monoton
Gangguan pola istirahat tidur

C. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji.

1) Masalah Keperawatan yang muncul pada kasus hipertensi


Gangguan istrahat tidur berhubungan dengan peningkatan tekanan pada vaskuler
serebral,
Nyeri akut/sakit kepala.
Gangguan mobilitas fisik.

2) Data yang perlu dikaji


a.

Aktivitas/ istirahat
Gejala : Kelemasan, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.

b.

Sirkulasi
Gejala

: Riwayat hipertensi, arterosklerosis, penyakit jantung koroner dan


penyakit serebravaskuler.

Tanda : Kenaikan TD, hipotensi postural, murnius stenosis valvular.takikardia,


berbagai distnenia, DJV/kongesti vena, ekstermitas (perubahan warna
kulit, suhu dingin, pengisian kapiler mingkin lambat/ tertunda), kulit
(pucat, sianosis dan kemerahan)

c.

Integritas ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, atau marah
kronik.
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continu perhatian tangisan
yang meledak.

d.

Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau tidak.

e.

Makanan/ cairan
Gejala

: makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan yang tinggi


garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual muntah, perubahan berat
badan dan riwayat pengggunaan dierutik

Tanda : BB normal atau obesitas dan adanya edema, kongesti vena, DJV,
glikosuria.

f.

Neurosensoris
Gejala : keluhan pusing, sakit kepala suboksipital, episode kebas dan atau
kelemahansatu sisi tubuh, dan gangguan penglihatan (mis, penglihatan
kabur)
Tanda : Status mental (perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek,
proses piker atau memori).Respon motorik (penurunan kekuatan
genggaman tangan dan atau ferleks tendo dalam). Perubahan rentina
optic.

g.

Nyeri/ ketidak nyamanan


Gejala : angina, nyeri hilang timbul pada tungkai dan nyeri abdomen/massa.

h.

Pernafasan
Gejala : dipnea berkaitan dengan aktivitas/kerja, fakipnnea, batuk dengan atau
tanpa pembentukan sputum dan riwayat merokok.

i.

Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan, episode parastesi unirateral fransie,
hipotesi postural.

j.

Pembelajaran/ penyuluhan
Gejala : factor-faktor resiko keluarga: hipertensi,ateroskleris, penyakit jantung,
DM, penyakit ginjal. Faktor-faktor resiko anelik, penggunaan pil KB
atau hormon lain.

D. Diagnosa keperawatan
i. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokonstriksi pembuluh
darah
ii. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak seimbangan antara
suplai dan kebutuhan O2
iii. Nyeri akut/ nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular cerebral
iv. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif, harapan
yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.
Perioritas Keperawatan
1.

Mencegah terjadinya tekanan darah


tinggi

2.

Gangguan mobilitas fisik

3.

Nyeri akut atau sakit kepala karena


peningkatan pada vaskuler serebral

4.

Memberikan
kondisi dan kebutuhan keperawatan

informasi

tentang

E. Rencana tindakan keperawatan

No
1.

Diagnosa
Resiko penurunan curah
jantung
b/d vosukantriksi
hifetrofi/ regiditas
vertical.

Intervensi
b. Observasi tekanan darah

Evaluasi
s. Mempertahankan

klien secara terus

tekanan darah dalam

menerus

rentang yang dapat di


terima.

c. Mengobservasi warna
kulit, kelembaban, suhu.
d. Anjurkan klien untuk
membatasi aktivitas .

t. Memperlihatkan irama
dan frekuensi jantung
dalam rentang normal
pasien.

e. Kolaborasi dan
pemberian terapi.

2.

Intoleransi aktivitas b/d


kelemahan umum
ketidak seimbangan
antara suplai dan keb.
Oksigen.

f. Observasi tanda vital


g. Menganjurkan klien

u. Klien dapat

untuk penghematan

melakukan aktifitas

energi.

sesuai dengan
kemampuannya

h. Beri dorongan kepada

v. Klien dapat

klien untuk melakukan

melakukan aktifitas

aktivitas secara bertahap

tanpa keluhan

jika dapat toleransi.


Dapat ditoleransi.
i. Kolaborasi dalam
pemberian terapi.

3.

Nyeri akut / nyeri kepala

j. Observasi tanda vital

b/d penikatan tekanan

k. Mengkaji intensitas nyeri

melaporkan nyerinya

serebral.

l. Melakukan kompres

hilang/ bugar

hangat pada dahi.


m.

Melakukan kompres

hangat pada leher bagian

w.

Klien

x. Klien dapat
melakukan aktivitas
tanpa keluhan.

belakang dan lakukan


massage.
n. Melatih klien melakukan
teknik relaksasi.

o. Mengkaji keefektifitas
4.

Inefektif koping individu

strategis koping dengan

berhubungan

mengobsevasi perilaku.

dengan

mekanisme koping tidak


efektif,

harapan

tidak realistic.

menggunakan
mekanisme koping
yang efektif dan tepat

yang

tidak terpenuhi, persepsi

y. Kelayan dapat

p. Catat laporan gangguan

z. Kelayan paham

tidur, peningkatan

mengenai kondisi

keletihan, kerusakan

penyakitnya.

kosentrasi dan kketidak


mampuan mengatasi
masalah.
q. Libatkan kelayan dalam
pengobatan dan
memberikan dorongan.
r. Bantu kelayan untuk
mengidentifikasi dan
mulai merencanakan
perubahan hidup yang
perlu.

i. Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan pada asuhan keperawatan dapat disesuaikan dengan
perencanaan keperawatan yang telah ditentukan sesuai dengan diagnosa yang ada.

ii. Evaluasi
Evaluasi keperawatan pada asuhan keperawatan yang diberikan kepada kelayan dapat
dibuat sesuai dengan perkembangan dari kelayan. Evaluasi keperawatan disusun berdasarkan
pendekatan SOAP.

DAFTAR PUSTAKA

Callahan, Barton, Schumaker. 2000. Seri Skema Diagnosis Dan Penatalaksanaan Praktis.
Binapura Aksara.: Jakarta
Doengoes Marilynn.2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Umtuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC : Jakarta
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Jakarta
Tarwoto, wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba Medika
: Jakarta

KASUS RESUME KEPERAWATAN GERONTIK


DENGAN DIAGNOSA MEDIS ARTHRITIS RHEUMATOID PADA Iq S
DI DUSUN KEBON ORONG WILAYAH KERJA
T BLUD PUSKESMAS BANYUMULEK KECAMATAN KEDIRI
KABUPATEN LOMBOK BARAT

A.

Masalah utama
Gangguan rasa nyaman nyeri

B.

Tinjauan teoritis
a.

Pengertian
Rheumatoid Arthritis merupakan penyakit inflamasi non- bakterial yang
bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan
ikat sendi secara simetris (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi,
hal. 165).

b.

Etiologi
Penyebab utama penyakit Reumatik masih belum diketahui secara pasti.
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab Artritis Reumatoid,
yaitu:
1)

Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus

2)

Endokrin

3)

Autoimmun

4)

Metabolik

5)

Faktor genetik serta pemicu lingkungan


Pada saat ini Artritis rheumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan
infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II, faktor infeksi
mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup

difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi
penderita.

c.

Clinical Pathway
Infeksi dan Auto
immune

Antigen tipe II kolagen


pada tulang rawan
persendian

Pergesekan
pada
persendian

Nyeri

Gangguan
persendian

Kurang informasi

Kekakuan
pada sendi

Defisit
pengetahuan

Rasa percaya
diri menurun

Keterbatasan
dalam
pergerakan

Kurang
kemampuan
dalam perawatan

Gangguan
body image

Gangguan
mobilitas fisik

Deficit
perawatan
diri

d.

Penatalaksanaan

Oleh karena penyebab pasti Arthritis Reumatoid tidak diketahui


maka tidak ada pengobatan kausatif yang dapat menyembuhkan penyakit
ini. Hal ini harus benar-benar dijelaskan kepada penderita sehingga tahu
bahwa pengobatan yang diberikan bertujuan mengurangi keluhan/ gejala
memperlambat progresifitas penyakit.
Tujuan utama dari program penatalaksanaan/ perawatan adalah sebagai
berikut :
1) Untuk menghilangkan nyeri dan peradangan
2) Untuk mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal dari
penderita
3) Untuk mencegah dan atau memperbaiki deformitas yang terjadi pada
sendi
4) Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung pada orang
lain.
Ada sejumlah cara penatalaksanaan yang sengaja dirancang untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas, yaitu :
1) Pendidikan
Langkah pertama dari program penatalaksanaan ini adalah memberikan
pendidikan yang cukup tentang penyakit kepada penderita, keluarganya
dan siapa saja yang berhubungan dengan penderita. Pendidikan yang
diberikan meliputi pengertian, patofisiologi (perjalanan penyakit),
penyebab dan perkiraan perjalanan (prognosis) penyakit ini, semua
komponen program penatalaksanaan termasuk regimen obat yang
kompleks, sumber-sumber bantuan untuk mengatasi penyakit ini dan
metode efektif tentang penatalaksanaan yang diberikan oleh tim
kesehatan. Proses pendidikan ini harus dilakukan secara terus-menerus.
2) Istirahat
Merupakan hal penting karena reumatik biasanya disertai rasa lelah
yang hebat. Walaupun rasa lelah tersebut dapat saja timbul setiap hari,

tetapi ada masa dimana penderita merasa lebih baik atau lebih berat.
Penderita harus membagi waktu seharinya menjadi beberapa kali
waktu beraktivitas yang diikuti oleh masa istirahat.
3) Latihan Fisik dan Termoterapi
Latihan spesifik dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi
sendi. Latihan ini mencakup gerakan aktif dan pasif pada semua sendi
yang sakit, sedikitnya dua kali sehari. Obat untuk menghilangkan nyeri
perlu diberikan sebelum memulai latihan. Kompres panas pada sendi
yang sakit dan bengkak mungkin dapat mengurangi nyeri. Mandi
parafin dengan suhu yang bisa diatur serta mandi dengan suhu panas
dan dingin dapat dilakukan di rumah. Latihan dan termoterapi ini
paling baik diatur oleh pekerja kesehatan yang sudah mendapatkan
latihan khusus, seperti ahli terapi fisik atau terapi kerja. Latihan yang
berlebihan dapat merusak struktur penunjang sendi yang memang
sudah lemah oleh adanya penyakit.
4) Diet/Gizi
Penderita Reumatik tidak memerlukan diet khusus. Ada sejumlah cara
pemberian diet dengan variasi yang bermacam-macam, tetapi
kesemuanya belum terbukti kebenarannya. Prinsip umum untuk
memperoleh diet seimbang adalah penting.
5) Obat-obatan
Pemberian obat adalah bagian yang penting dari seluruh program
penatalaksanaan penyakit reumatik. Obat-obatan yang dipakai untuk
mengurangi nyeri, meredakan peradangan dan untuk mencoba
mengubah perjalanan penyakit.

C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
A. Data Biografi
Nama

: IQ. S

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 53 tahun

Pendidikan

: Tidak sekolah

Agama

: Islam

Status perkawinan

: Kawin

TB /BB

: 155 cm /50 kg

Penampilan

: Rambut rapi dan secara keseluruhan cukup


bersih

Alamat

: Dusun kebon orong

Orang yang dekat di hubungi

: Tn. N

Hubungan dengan usila

: Suami

Alamat

: Dusun Kebon Orong

Tanggal masuk Panti

:-

B. Alasan Datang Ke Panti Werda


C. Keluhan utama :
Kelayan mengatakan saat ini merasakan nyeri-nyeri pada persendian:

P : lebih nyeri apabila terkena udara/air dingin


Q : terasa nyeri dan tidak bisa hilang meskipun dengan istirahat
R : Pada sendi-sendi kaki
S : skala nyeri 4 (0-10)T : setiap saat tanpa batas waktu

D. Data Biologi, psikologi, Social dan Spiritual


Biologi :
1. Oksigenasi
Kelayan mengatakan tidak ada gangguan dalam bernafas, tetapi
sesekali batuk dan itu tidak menjadi masalah bagi kelayan.
2. Cairan dan Elektrolit
Kelayan mengatakan biasa minum 2 gelas (@ 200 mL) kopi
setiap hari ditambah dengan 1 gelas besar ( 350 mL) air putih setiap hari,
juga mendapatkan buah-buahan dari panti seperti jaruk, pisang, papaya,
semangka.
3. Nutrisi
Kelayan mengatakan makan 3x sehari, kadang nasi tidak dimakan
hanya lauk pauknya saja bahkan kadang sama sekali tidak makan karena
nafsu makan mulai menurun. Berat Badan kelayan 50 kg, BBI 58,5 kg
dengan % BBI 85,47% yang artinya kelayan dalam kategori berbadan
kurus.
4. Eliminasi
Kelayan mengatakan biasanya BAK 6-8 kali sehari dengan warna
kuning jernih, volume 500-600 mL setiap hari, BAB 1 kali sehari
dengan konsistensi lembek, warna kuning dan kadang tidak pernah dalam.

5. Sexual
Kelayan mengatakan tidak pernah lagi melakukan hubungan
seksual selama di tinggal istrinya dan di anggap sudah tidak perlu lagi
karena sudah tua.

Psikososial :
a.

Persepi klien

Kelayan

mengatakan

tidak

terlalu

memikirkan penyakit ataupun kondisinya


b.

Konsep diri

Kelayan

mengatakan

menerima

keadaannya seperti sekarang ini


c.

Emosi

Kelayan terlihat emosi saat mengingat


masa lalunya saat dia baru bercerai dengan
istrinya tetapi juga merasa bersalah pada
istrinya dan ingin meminta maaf

d.

Adaptasi

Kelayan jarang bergaul dengan teman


sewismanya, lebih banyak di kamar,
kelayan belum mengenal teman-temannya

e.

Mekanisme
pertahanan diri

Kelayan

mengatakan kalau mendapat

masalah biasanya meminta bantuan pada


pegawai panti.

Sosial :
1. Rekreasi
Kelayan tidak pernah rekreasi liburan selama 2 tahun terakhir,
biasanya kelayan mengisi waktunya dengan berdiam diri di kamar,
merokok, tidur atau terkadang nonton TV dan duduk di teras depan wisma.

2.

Aktifitas
Kelayan dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
meskipun dilakukan secara perlahan-lahan, kelayan jarang membersihkan
kamarnya, kelayan lebih banyak berdiam diri di kamar tetapi sesekali
keluar nonton TV dan duduk-duduk di teras depan wisma, tidak pernah
shalat berjamaah di masjid, tidak pernah ikut bergotong royong, tidak
pernah mengikuti senam lansia.
Spiritual
Berdasarkan hasil observasi, kelayan tidak mengerjakan sebagian
dari shalat 5 waktu, berdiam diri di kamar karena kelayan tampak sulit
untuk berjalan. Jadi, kelayan tidak mempunyai kebiasaan ritual yang
khusus.

Analisa Data
No
1.

Data
DS :

Etiologi

Problem

Aging Process

Nyeri

Kelayan mengeluh nyeri sendi

P : lebih nyeri apabila terkena

muskuloskeletal

udara/air dingin

Q : terasa nyeri dan tidak bisa


hilang

meskipun

dengan
Penurunan jumlah

istirahat

R : Pada sendi-sendi kaki

S : skala nyeri 4 (0-10)

T : setiap saat tanpa batas


persendian

DO :

Kelayan tampak tegang

Kelayan tampak memijit-mijit


kakinya
Kelayan tampak hati-hati dan
lambat saat berjalan

Kelayan

mendapatkan

suplemen Calcium dari klinik


panti

Diagnosa keperawatan

cairan sinovial

Pergesekan pada

waktu

Perubahan

nyeri

Nyeri berhubungan dengan pergesekan pada persendian

Evaluasi Catatan Perkembangan


No.

Hari/
Tanggal/

No.

Evaluasi/ Catatan Perkembangan

Dx.

(S O A P)

Kep

Jam
1.

Jumat,
16/07/16
15.30

S :
Kelayan mengatakan nyeri berkurang :

P : Nyeri akan terasa bila terkena air


dingin

Q : nyeri berkurang sendiri setelah


selesai kontak dengan air dingin dan
dipijat

R : sendi lutut

S : skala nyeri 3

T : saat terkena air dingin dan saat


duduk bersila lama

O:

Kelayan tampak lebih rileks

Kelayan tampak lebih cepat saat


berjalan

Tc : 120/80 mmHg

A : Masalah teratasi sebagian


P:

Beri penguatan terhadap tindakan


kelayan yang benar

Paraf

Motivasi

kelayan

untuk

selalu

melakukan masase jika nyeri muncul


lagi

Intervensi dilanjutkan

Rencana Intervensi
Hari/
Tangga
l

Dx.
Keperawa
tan

Tujuan dan
Kriteria Hasil

Rabu,

Nyeri (pada Setelah

14/07/1
6

sendi)

Intervensi

dilakukan 1. Selidiki

b/d tindakan

Rasional

keluhan 1. Membantu

nyeri, catat lokasi

dalam
menentukan

destruksi

keperawatan selama

dan

sendi

4x7 jam diharapkan

(skala 0-10). Catat

kebutuhan

nyeri berkurang atau

faktor-faktor

manajemen

terkontrol,

mempercepat

dan

nyeri

tanda-tanda

rasa

keefektifan

dengan

criteria hasil :

intensitas
yang

sakit non verbal

Kelayan

dan

program

mengatakan nyeri
sendi

berkurang,

dengan :
-

P : hanya akan
terasa

jika

terkena

air

dingin
-

nyeri

terasa

dan

berkurang

mengubah

posisi. Bantu untuk


bergerak di tempat
tidur, sokong sendi
yang sakit di atas
dan bawah, hindari
gerakan

yang

terjadinya
kelelahan
umum

dan

kekakuan
sendi.
Menstabilka
n

sendi,

mengurangi
gerakan/
rasa

atau

pada sendi

di

tidak

menyebar
S : Skala nyeri
0-1
-

sering

2. Mencegah

diistirahatkan
masase

untuk

menyentak

setelah

2. Dorong

muncul

hanya

3. Anjurkan
untuk

pasien

mandi

air

hangat atau mandi


pancuran
waktu

pada
bangun

dan/atau

pada

waktu

tidur.

sakit

3. Panas
meningkatka
n

relaksasi

otot,

dan

mobilitas,
menurunkan
rasa

sakit

setelah

Sediakan

aktivitas

atau

posisi lama.

Kelayan

tampak

Kelayan
lebih

hangat

untuk

tampak

stabil

dan

sendi

pagi

yang

sakit
kali

pada

air

dapat

kompres,

berjalan

sebagainya

air
dan

hari.

Sensitivitas

sehari. Pantau suhu


mandi,

normal

melepaskan
kekakuan di

lebih cepat saat


Tekanan

dan

mengompres sendibeberapa

rileks

waslap

panas

dihilangkan
dan

luka

dermal

darah

dapat

(120/80

disembuhka

mmHg)
4. Berikan penyuluhan

tentang masase :

Pengertian
4. Meningkatka
masase
Tujuan masase
n
Cara masase
pengetahua
Demontrasi
masase
oleh
n
kelayan
perawat
tentang
(penyuluh)
Redemonstrasi
perawatan
masase
oleh
diri sehingga
kelayan
kelayan
mampu
merawat
dirinya

saat

nyeri datang
dan
meningkatka
n

5. Dorong
penggunaan teknik
manajemen
misalnya

stres,

relaksasi

progresif, sentuhan

relaksasi/

mengurangi
nyeri
5. Meningkatka
n

relaksasi,

terapeutik, biofeed

memberikan

back,

visualisasi,

rasa kontrol

pedoman imajinasi,

dan mungkin

hypnosis diri, dan

meningkatka

pengendalian

napas

kemampuan

6. Kolaborasi : Berikan

koping

obat-obatan sesuai
petunjuk

(misal

asetil salisilat)

6. sebagai anti
inflamasi
dan

efek

analgesik
ringan
dalam
mengurangi
kekakuan
dan
meningkatka
n mobilitas

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Topic

: Teknik Masase pada kelayan Rheumatoid Artritis

Sasaran

: Kelayan lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram

Hari/Tanggal

: Rabu, 14 Juli 2016

Waktu/ jam

: 15.30 WITA

Tempat

: Dusun Kebon Orong

A. Analisa Situasi
1. Peserta
Kelayan yang akan diberikan penyuluhan berjumlah 6 orang
2. Ruangan
a.

Ukuran ruangan : 3x4 m2

b.

Keadaan penerangan dan ventilasi : Ruangan cukup terang dengan ventilasi baik.

c.

Prasarana yang tersedia di ruangan :

Meja

kursi

3. Pengajar
Pengajar adalah Mahasiswa praktek Keperawatan Gerontik Sekolah Tinggi Kesehatan
Mataram.

B. Tujuan Pembelajaran
1. Tujuan Instruksional Umum

Setelah dilakukan penyuluhan tentang teknik masase, diharapkan peserta mampu


melakukan masase secara mandiri dengan benar.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan peserta didik mampu :
a. Menyebutkan tujuan masase
b. Menyebutkan alat dan bahan melakukan masase
c. Mendemonstrasikan cara melakukan masase
C. Materi (terlampir)
Materi penyuluhan yang akan diberikan :
a. Pengertian masase
b. Tujuan dilakukannya masase
c. Alat dan bahan masase
d. Prosedur kerja masase
D. Metode
Metode yang digunakan adalah :
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Demonstrasi dan Redemonstrasi
E. Media

:-

F. Pengorganisasian

Pembawa Acara

: Lidya Cosega

Pemateri

: Made Sabda

Vasilitator

: Nyoman Bude Marsidi

Evaluasi

: A.hafiqur Rahman Dan Eka Trisnawati

G. Alat Bantu

Minyak untuk masase

Handuk

H. Kegiatan Belajar Mengajar


Waktu

Kegiatan Pendidik

Kegiatan Peserta Didik

5 menit

Pembukaan

20 menit

Memberi salam
Menjawab salam
Memperkenalkan diri
Memperhatikan
Menjelaskan judul materi dan Memperhatikan
tujuan yang harus dicapai
mencatat
peserta didik
Isi (Pembahasan)
Menjelaskan tentang tujuan
masase
Menjelaskan alat dan bahan
masase
Menjelaskan prosedur masase
Memberikan
kesempatan
kepada
kelayan
untuk
mengajukan pertanyaan
Meminta
kelayan
untuk
mendemonstrasikan kembali
teknik masase
Memberi
reinforcement
positif kepada kelayan atas
keberhasilannya

dan

Memperhatikan penjelasan
Memperhatikan penjelasan
Memperhatikan penjelasan
Mengajukan
pertanyaan
kepada pendidik
Mendemonstrasikan
kembali teknik masase

5 menit

Penutup
Merangkum materi yang telah Memperhatikan rangkuman
disampaikan
yang telah diberikan
Mengerjakan post test
Memberikan reinforcement
positif kepada peserta didik
Menjawab salam
Menutup dengan salam

I. Evaluasi
1. Standar Evaluasi
a. Peserta mampu menyebutkan tujuan masase
b. Peserta mampu menyebutkan alat dan bahan yang diperlukan pada saat
melakukan masase
c. Peserta mampu menyebutkan prosedur masase
d. Peserta mampu mendemonstrasikan cara malakukan masase
2. Pertanyaan Evaluasi
a. Sebutkan tujuan masase
b. Sebutkan alat dan bahan pada saat melakukan masase
c. Sebutkan prosedur masase
d. Demonstrasikan cara melakukan masase

Mataram, 28 Juli 2009

Pembimbing Lahan,

Pembimbing Akademik

I Nyoman Agus Anggarianta, S. Kep

Nurul Ilmi, S. Kep., Ners

NPM. 04.01.0107

NIDP.

Lampiran

TEKNIK MASASE

1. Pengertian Masase
Masase adalah tindakan keperawatan dengan cara memberikan masase pada klien dalam
memenuhi kebutuhan rasa nyaman (nyeri) pada daerah superfisial atau pada otot dan tulang.
2. Tujuan Masase
a.

Meningkatkan sirkulasi pada daerah yang di masase

b.

Meningkatkan relaksasi

c.

Tindakan masase ini hanya untuk membantu mengurangi rangsangan nyeri akibat
terganggunya sirkulasiOsteoporosis dapat terjadi karena kecepatan penyerapan tulang
lebih tinggi daripada kecepatan pembentukan tulang.

3. Alat dan Bahan


a.

Minyak untuk masase

b.

Handuk

4. Prosedur Kerja
a.

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

b.

Cuci tangan

c.

Lakukan masase pada daerah yang dirasakan nyeri selama 5-10 menit

d.

Lakukan masase dengan menggunakan telapak tangan dan jari dengan tekan halus :

1)

Teknik masase dengan gerakan tangan selang seling(tekanan pendek, cepat


dan bergantian tangan) dengan menggunakan telapak tangan dan jari dengan
memberikan tekanan ringer

2)

Teknik remasan (mengusap otot bahu) dapat dilakukan bila nyeri terjadi
pada daerah sekitar bahu

3)

Teknik masase dengan gerakan menggesek dengan menggunakan ibu jari


dan gerakan memutar. Masase ini dilakukan bila nyeri dirasakan di daerah punggung
dan pinggang secara menyeluruh

4)

Teknik eflurasi dengan kedua tangan, dapat dilakukan bila nyeri terjadi di
daerah punggung dan pinggang

5)

Teknik petriasi dengan menekan punggung secara horizontal

6)

Teknik tekanan menyikat dengan menggunakan ujung jari digunakan pada


akhir masase pada daerah pinggang

e.

Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

f.

Catat tindakan dan respon klien terhadap tindakan

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz. 2002. Buku Saku Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC