Anda di halaman 1dari 2

Tata laksana penggantian cairan dan elektrolit

Tujuan utama tata laksana penggantian cairan dan elektrolit adalah mengembalikan
volume yang hilang. Volume yang diperlukan bervariasi tergantung keadaan klinis dan perlu
dilakukan evaluasi berkala.

A. Perkiraan kehilangan cairan (status dehidrasi)


Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan natrium. Bila natrium yang hilang bersama air
konsentrasinya lebih tinggi dari kadar natrium cairan ekstraseluler, maka akan terjadi
dehidrasi hipo-osmotik. Bila jumlah natrium dalam air yang hilang kurang lebih sama maka
akan terjadi dehidrasi iso-osmotik, dan bila kehilangan natrium lebih rendah dari pada air
mata akan terjadi dehidrasi hiperosmotik. Gejala klinis dehidrasi dipengaruhi oleh berat
ringannya kehilangan cairan (Tabel 2) dan kadar natrium cairan ekstraseluler. Tanda yang
dapat dijumpai antara lain, berat badan turun, turgor kulit menurun, ubun-ubun cekung, mata
cekung, mukosa kering, nadi cepat dan tekanan darah turun, serta jumlah urin sedikit dan
pekat. Laboratorium menunjukkan kenaikan hematokrit dan kenaikan berat jenis urin.
Langkah-langkah memperkirakan kehilangan cairan:
1. Perubahan berat badan
Perubahan berat badan yang cepat menggambarkan perubahan cairan tubuh total.
Berat badan diperlukan untuk menentukan banyaknya cairan pengganti yang dibutuhkan.
2. Anamnesis:
Kehilangan cairan: muntah, diare, perdarahan, luka bakar, drainase bedah (seberapa
banyak dan/atau seberapa sering).
Masukan cairan: jenis cairan, jumlah cairan, dan evaluasi.
Produksi urin.
3. Pemeriksaan fisis: status mental, nadi, frekuensi nadi, tekanan darah, berat badan,
membran mukosa, turgor kulit, warna kulit, perabaan perifer, dan waktu pengisian kapiler.
4. Laboratorium: kimia serum, hematokrit, urinalisis lengkap.

B. Pemberian cairan intravena


Pemberian cairan intravena harus memperhatikan jenis cairan, jumlah cairan, dan
kecepatan pemberian cairan.

1. Jenis cairan
Pada keadaan syok, untuk memperbaiki volume sirkulasi efektif, apapun jenis
dehidrasinya (iso-osmotik, hipo-osmotik, maupun hiperosmotik) cairan awal yang
seharusnya diberikan adalah cairan isotonis. Cairan kristaloid yang dapat digunakan
adalah Ringers Lactat, Ringers Asetat, dan NaCl 0,9%. Setelah syok teratasi, pemilihan
jenis cairan tergantung pada jenis dehidrasi.
2. Jumlah cairan
Untuk memperbaiki volume sirkulasi efektif diberikan 10-20 ml/kgBB dalam 10-30
menit. Evaluasi perbaikan klinis meliputi status mental, tanda vital, dan produksi urin. Bila
setelah pemberian cairan 60 mL/kgBB syok belum teratasi, dilanjutkan dengan melakukan
pemantauan secara invasif.
3. Pemberian cairan pada keadaan dehidrasi tanpa syok atau setelah syok teratasi. Bila
pemberian cairan peroral tidak memungkinkan, kebutuhan cairan diberikan secara
intravena dengan mempertimbangkan:
Defisit air maupun elektrolit
Kehilangan cairan yang masih berlangsung: volume dan komposisi elektrolit.
Kebutuhan rumatan