Anda di halaman 1dari 16

MANAJEMEN INDUSTRI

MAGISTER MANAJEMEN TEKNOLOGI


INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA

MANAJEMEN TEKNOLOGI DAN INOVASI


Semester Genap, 2013/2014

ALAT PENGERING BERTENAGA SURYA


Kreativitas dan Inovasi Teknologi Tepat Guna
Pada Usaha Kecil Nelayan

Mahasiswa:
1. Kautzar Satrio Negoro
2. Mochammad Samsudin
3. Eko Purwanto

9112201410
9112201409
9112201408

MANAJEMEN INDUSTRI
MAGISTER MANAJEMEN TEKNOLOGI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak pulau, negara
kita juga memiliki banyak laut yang berarti pula menghasilkan banyak ikan. Ikan
merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat domestik
maupun luar negeri. Selain karena rasanya, ikan banyak disukai karena memberi
manfaat untuk kesehatan tubuh yaitu mempunyai kandungan protein yang tinggi
dan kandungan lemak yang lebih rendah dibanding sumber protein hewani lain.
Namun, ikan akan cepat membusuk jika dibiarkan begitu saja tanpa proses
pengawetan.
Proses

pengawetan

ikan

yang

umum

dilakukan

adalah

dengan

penggaraman, pengeringan, pemindangan, pengasapan dan pendinginan.


Proses pengawetan yang sering dilakukan nelayan, terutama di daerah Kenjeran
- Surabaya adalah dengan pengeringan tradisional dengan cara dibersihkan dan
digarami. Proses pengeringan pada prinsipnya adalah proses mengurangi kadar
air dalam ikan. Pengeringan dilakukan dengan menjemur ikan selama 3 hari
jika cuaca cerah dan membalik-balik ikan sebanyak 4 5 kali agar pengeringan
merata. Pengeringan tradisional ini memerlukan tempat yang luas karena ikan
yang dikeringkan tidak bisa ditumpuk saat dijemur.
Teknik pengeringan sederhana umumnya masih dilaksanakan oleh
masyarakat petani nelayan yang tinggal di pedesaan yaitu dengan menjemur
langsung produk yang akan dikeringkan diatas para-para bambu, lampit dan atau
diatas tikar. Tentu saja proses pengeringan berbagai jenis komoditas perikanan
tersebut sangat dipengaruhi oleh frekuensi curah hujan dan intensitas sinar
matahari. Pada saat udara luar terlalu kering dan panas, pengeringan dapat
terjadi terlalu cepat sehingga terjadi case hardening (permukaan daging ikan
mengeras). Masalah lain adalah kebersihan/higienitas ikan yang dikeringkan

sangat kurang karena proses pengeringan dilakukan di tempat terbuka yang


memungkinkan dihinggapi debu dan lalat.

1.2

Permasalahan
Setiap upaya peningkatan kualitas produk/komoditas yang pada dasarnya
adalah member masukan teknologi, harus diupayakan agar:
1. Tidak menimbulkan biaya operasional (misalnya BBM).
2. Menggunakan sumber-sumber energy yang tersedia setempat, sehingga
tidak menimbulkan ketergantungan pada suplai energy dari luar.
3. Pengoperasian dan pemeliharaan mudah. Apabila teknologi

yang

dimasukkan memerlukan biaya operasional dan pemeliharaan yang rumit,


meskipun

terbukti

bermanfaat,

umumnya

(sustainable).

BAB II

tidak

akan

berkelanjutan

LANDASAN TEORI
Energi panas matahari merupakan salah satu energi yang potensial untuk
dikelola dan dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber cadangan energi terutama bagi
negara-negara yang terletak di katulistiwa termasuk Indonesia yang mataharinya
bersinar sepanjang tahun. Energi matahari yang tersedia senilai 81.000 TW (Purwoko
dan Yudianto 2008), sedangkan yang dimanfaatkan masih sangat sedikit.
Keuntungan penggunaan energi panas matahari yaitu Pertama, energi panas
matahari merupakan energi yang tersedia hampir diseluruh bagian permukaan buni dan
tidak pernah habis. Kedua, penggunaan energi panas matahari tidak menghasilkan
polutan dan emisi yang berbahaya baik bagi manusia, hewan ataupun lingkungan.
Ketiga, penggunaan energi panas matahari untuk pemanas air, pengeringan hasil
panen akan dapat mengurangi kebutuhan akan energi fosil. Keempat, pembuatan
pemanas air tenaga matahari cukup sederhana dan memiliki nilai ekonomis.
Kerugian penggunaan energi panas matahari yaitu Pertama, sistem pemanas air
dan pembangkit listrik tenaga panas matahari tidak efektif digunakan pada daerah yang
memiliki cuaca berawan untuk waktu yang lama. Kedua, pada musim dingin alat
pemanas ini tidak dapat digunakan. Ketiga, alat pemanas matahari ini hanya dapat
digunakan pada saat matahari bersinar dan tidak dapat digunakan pada saat malam
hari atau saat cuaca berawan.
Lapisan luar matahari disebut fotosfer memancarkan suatu spektrum radiasi
yang kontinyu ke permukaan bumi yang besarnya : 1353 W/m2 (Jansen 1995), dan
besaran ini biasanya disebut konstanta matahari. Jumlah radiasi matahari yang
mencapai suatu daerah tertentu, biasanya dapat diperoleh dari dinas terkait yakni Dinas
Meteorologi dan Geofisika yang berkaitan dengan ramalan cuaca sepanjang tahun.
Besaran radiasi tersebut adalah jumlah tenaga matahari yang mengenai suatu meter
permukaan yang tegak lurus dengan bumi, besaran tersebut diambil rata-ratanya untuk
mengatasi adanya perbedaan dalam sepanjang tahun.
Indonesia mempunyai intensitas radiasi yang berpotensi untuk membangkitkan
energi listrik dengan rata-rata daya radiasi matahari di Indonesia senilai 1000 W/m2.
data dari hasil pengukuran intensitas radiasi energi matahari di seluruh Indonesia yang

sebagian besar dilakukan oleh BPPT (Badan Pngkajian dan Penerapan Teknologi) dan
sisanya oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) dari tahun 1965 hingga 1995
sebagaimana tabel dibawah ini.
Intensit

Tahun
Lokasi

Pengukur

Posisi Geografis

an
Pidie
(NAD)
Ogan
Komeing
Ulu
Kab.
Lampung
Selatan
Jakarta
Utara
Tangeran
g
Lebak

1960

1981

BT

1972-

428LS:10548

1979

BT

1965-

611LS:10605

1981

BT
607LS:10630

1995

Bogor

1980

Bandung

1980

Semaran

1979-

g
Yogyakar

1981

ta

T
310LS:10442

1991-

1980

Pacitan

1980

Pontiana

1991-

k
Kab.

1993
1991-

Radiasi
W/m2

415LS:9692B

1979-

1980

as

BT
611LS:10630
BT
611LS:10639
BT
656LS:10738
BT
659LS:11023
BT
737LS:11001
BT
718LS:11242
BT

4.097

4.951

5.234

4.187
4.324
4.446
2.558
4.149
5.408
4.500
4.300

436LS:911BT

4.552

032LS:11752

4.172

Berau

1995

BT

1979-

327LS:11450

1981
1991-

BT
325LS:11441

Gorontal

1995
1991-

BT
132LU:12455

o
Donggala

1995
1991-

BT
057LS:1200B

(Sulteng)

1994
1992-

T
837LS:12212

1994
1977-

BT
840LS:11513

1979

BT

1991-

937LS:12016

a
Ngada

1995

BT

1975-

109LS:12336

(NTT)

1978

BT

(Kaltim)
Kola
Baru
(Kalsel)

Jayapura
Denpasa
r
Kab.
Sumbaw

4.796
4.573
4.911
5.512
5.720
5.263

5.747

5.117

Tabel 1 - POLITEK Jurnal Teknologi, Volume 8, Nomor 1, Maret 2009-ISSN 1412-6427


Rumus dasar untuk mendapatkan kalor yang diserap dari sinar matahari yaitu:
Qdot = A I
Dimana:
Q dot = Energi kalor yang diserap oleh plat kolektor (Watt)
I

= Intensitas sinar matahari (W/m2)

= Luasan plat kolektor (m2)

= Surface Emissivity

Material

Solar

Surface

Absorption

Emissivity

Silver, Highly polished

0.02 - 0.03

Gold, Highly polished

0.02 - 0.04

Barium Sulphate with Polyvinyl Alcohol

0.06

0.88

Aluminum polished

0.09

0.03

Magnesium Oxide Paint

0.09

0.90

Magnesium/Aluminium Oxide Paint

0.09

0.92

Aluminum quarts overcoated

0.11

0.37

Aluminum, Highly polished

0.04 - 0.06

Snow, Fine particles fresh

0.13

0.82

Zinc Orthotitanate with Potassium Silicate

0.13

0.92

Aluminum anodized

0.14

0.84

Aluminum foil

0.15

0.05

Potassium Fluorotitanate White Paint

0.15

0.88

Zinc Oxide with Sodium Silicate

0.15

0.92

Paint, White zinc oxide

0.16

0.93

GSFC White Paint NS-74

0.17

0.92

Titanium Oxide White Paint with Potassium Silicate

0.17

0.92

Zerlauts Z-93 White Paint

0.17

0.92

Cromium

0.08 - 0.26

Dow Corning White Paint DC-007

0.19

0.88

GSFC White Paint NS43-C

0.20

0.92

Titanium Oxide White Paint with Methyl Silicone

0.20

0.90

Zerlauts S-13G White Paint

0.20

0.90

Light colored paints, firebrick, clay, glass

0.04 - 0.40

0.90

Biphenyl-White Solid

0.23

0.86

P764-1A White Paint

0.23

0.92

Zirconium Oxide with650 Glass Resin

0.23

0.88

Solec LO/MIT selective surface paint

0.21 - 0.26

0.15 - 0.19

Catalac White Paint

0.24

0.90

Hughson White Paint Z-202

0.25

0.87

Hughson White Paint Z-255

0.25

0.89

Solar

Surface

Material

Absorption

Emissivity

Hughson White Paint Z-255

0.25

0.89

3M-401 White Paint

0.25

0.91

Hughson White Paint A-276

0.26

0.88

Hughson White Paint V-200

0.26

0.89

OSO-H White Paint 63W

0.27

0.83

Opal Glass

0.28

0.87

Sherwin Williams White Paint (A8W11)

0.28

0.87

Mautz White House Paint

0.30

0.90

Snow, Ice granules

0.33

0.89

GSFC White Paint NS44-B

0.34

0.91

Sperex White Paint

0.34

0.85

Dupont Lucite Actylic Lacquer

0.35

0.90

GSFC White Paint NS-37

0.36

0.91

Sherwin Williams F8WJ2030 w Polasol V6V241

0.36

0.87

Sherwin Williams White Paint (F8WJ2030)

0.39

0.82

Tedlar White Paint

0.39

0.87

Hughson White Paint Z-202+1000

0.40

0.87

Aluminum paint (bright)

0.30 - 0.50

0.40 - 0.60

Hughson White Paint A-276+1O36

0.44

0.88

Dull brass, copper, galv. steel, aluminum

0.40 - 0.65

0.20 - 0.30

Colored paints, brick, light brick,

0.50 - 0.70

0.85 - 0.95

Concrete

0.60

0.88

Galvanized metal new

0.65

0.13

Brick, red (Purdue)

0.65

0.93

Concrete and stone, dark

0.65 - 0.80

0.85 - 0.95

Galvanized metal weathered

0.80

0.28

Metal, plated Black chrome

0.87

0.09

Anodize Black

0.88

0.88

Martin Black Velvet Paint

0.91

0.94

Solec Solkote selective surface paint

0.88 - 0.94

0.28 - 0.49

Metal, plated Nickel oxide

0.92

0.08

Solar

Surface

Material

Absorption

Emissivity

Metal, plated Black sulfide

0.92

0.10

Pyramil Black on Beryllium Copper

0.92

0.72

Metal, plated Cobalt oxide

0.93

0.30

Polyethylene Black Plastic

0.94

0.92

Martin Black Paint N-150-1

0.94

0.94

Tedlar Black Plastic

0.94

0.90

Iron and Steel, strongly oxidized

0.95

Hughson Black Paint L-300

0.95

0.84

Paladin Black Lacquer

0.95

0.75

Black Crystal

0.92 - 0.98

0.08 - 0.25

Carbon Black Paint NS-7

0.96

0.88

Carbon Black Paint

0.96

0.88

Chemglaze Black Paint Z3O6

0.96

0.91

Delrin Black Pastic

0.96

0.87

GSFC Black Silicate MS-94

0.96

0.89

GSFC Black Paint 313-1

0.96

0.86

Hughson Black Paint H322

0.96

0.86

Velesat Black Plastic

0.96

0.85

Solchrome

0.94 - 0.98

0.10 - 0.14

Ebanol C Black

0.97

0.73

Ebanol C Black-384 ESH* UV

0.97

0.75

3M Black Velvet Paint

0.97

0.91

Parsons Black Paint

0.98

0.91

Flat black paint

0.97 - 0.99

0.97 - 0.99

Paint, Black (Parsons)

0.98

0.98

Solec LO/MIT selective surface paint

0.21 - 0.26

0.15 - 0.19

White paint

0.23 - 0.49

Solec SOLKOTE selective surface paint

0.88 - 0.94

0.28 - 0.49

Copper, aluminum, or nickel plate with CuO coating

0.08 - 0.93

0.09 - 0.21

Black Crystal

0.92 - 0.98

0.08 - 0.25

Copper treated with NaCIO2 and NaOH

0.87

0.13

Solar

Surface

Material

Absorption

Emissivity

Solchrome

0.94 - 0.98

0.10 - 0.14

Metal, plated Black sulfide

0.92

0.10

Metal, plated Black chrome

0.87

0.09

Metal, plated Nickel oxide

0.92

0.08

Tabel 2 - Tabel Solar Absoption dan Surface Emissivity pada beberapa jenis material
(Sumber: http://www.redrok.com/concept.htm#emissivity)

Pada paparan table diatas, kami memilih untuk menggunakan material flat black
paint, dimana kita menggunakan filament yang dicat hitam pekat untuk mendapatkan
nilai absorption dan emissivitas yang maksimal.

BAB III
TINJAUAN TEKNOLOGI

Pembuatan alat pengering yang tertutup diperlukan untuk mencegah bakteri


yang dibawa dari luar masuk ke ikan yang dikeringkan. Pengendalian temperature dan
RH (Relative Humidity) udara diperlukan agar mencegah enzyme yang merusak
kualitas ikan bekerja dalam ikan, selain itu mengurangi kadar air dalam ikan. Beberapa
variabel yang penting dalam proses pengeringan ikan adalah: temperatur, RH dan laju
aliran udara serta waktu pengeringan. Dari beberapa penelitian didapatkan

bahwa

kadar air ikan bervariasi antara 50% - 80%. Untuk mengurangi aktivitas bakteri dan
enzym, kadar air ikan sebaiknya dijaga dibawah 25%. Menurut Braguy et al., proses
pengeringan ikan di beberapa negara di Afrika, seperti di negara Sao Tome and
Principe, Negeria dan Congo telah menggunakan pengering surya terutama setelah
adanya kampanye untuk memperhatikan kesehatan (terkait pengeringan tradisional
yang kurang higienis) yang diadakan oleh kaum wanita pada akhir tahun 2001.
Pengering surya mempunyai keuntungan: sederhana, biaya rendah dan tidak
memerlukan banyak tenaga kerja. Waktu proses pengeringan dengan pengering surya
dapat berkurang sebanyak 65% dibanding pengeringan tradisional. Dengan pengering
surya, ikan yang telah dikeringkan punya kualitas lebih baik dan bahkan harga jual
meningkat 20% dibanding sebelumnya, seperti yang terjadi dibelahan afrika di Sao
Tome and Principe. Pada saat cuaca mendung / musim hujan secara tidak langsung
berpengaruh terhadap lamanya proses dan hasil pengeringan. Salah satu upaya untuk
mengatasi kendala tingginya curah hujan dan sekaligus meningkatkan mutu komoditas
yang dikeringkan adalah dengan pembuatan alat pengering surya. Alat pengering surya
diperkenalkan sebagai jawaban bahwa masih banyak petani ikan yang ada di sekitar
pesisir utara pulau jawa serta nelayan tangkap lainnya melakukan aktifitas pengeringan
terutama ikan asin dengan cara sederhana yakni menebarkan ikan asin diatas gelaran
tikar (lampit), diatas para-para bambu, atau ditepi jalan yang kotor dan berdebu. Kesan
yang timbul adalah para pembuat ikan kering kurang memperhatikan soal kebersihan,
kesehatan dan mutu ikan.
Bentuk alat pengering ikan tenaga surya bermacam macam, ada yang
berbentuk tenda, peti dan rumah-rumah, seperti terdapat pada gambar 3-1 di bawah ini.

Gambar 3-1 Tipikal alat pengering ikan bertenaga surya


Secara teknis, alat pengering surya dapat mempersingkat masa pengeringan,
kebersihan dan mutu produk lebih terjamin. Secara ekonomis, alat pengering
sederhana ini dalam pembuatan dengan biaya yang relatif murah, mudah digunakan
dan dipindah-pindahkan, serta masa pakai yang cukup lama.
Kelebihan dari alat pengering surya bila dibandingkan dengan pengering
sederhana antara lain:
1. Tidak tergantung cuaca, sebab dengan sinar matahari kurang terik, alat ini tetap
dapat menjalankan fungsinya dengan baik karena suhu yang ada di dalam lebih
tinggi dari suhu diluar.
2. Dapat dibuat dari bahan apa adanya dan relatif murah. Rangka dapat terbuat dari
bambu atau kayu, sedangkan dinding terbuat dari lembaran plastik bening dan
plastik hitam. Plastik bening berfungsi sebagai penutup, sedangkan plastik hitam
untuk menyerap panas matahari.
3. Ikan terlindung dari curah hujan, dan dapat mencegah kerumunan lalat. Bahkan
karena suhu di dalam aat ini cukup tinggi maka secara otomatis dapat mematikan
lalat dan belatung.

Lebih jelasnya perbandingan antara alat pengering surya dengan pengering


sederhana dapat dilihat pada tabel dibawah ini
No.
1.

Alat Pengering Surya

Suhu ruangan yang panas sehingga Sangat tergantung kepada intensitas


bahan lebih cepat kering.

2.

Pengering Sederhana
cahaya matahari.

Ruangan yang tertutup, sehingga Dilakukan ditempat terbuka sehingga


produk yang dihasilkan relatif lebih produk yang dihasilkan terkesan kotor
bersih.

3.

(berdebu).

Apabila terjadi hujan, produk yang Apabila terdapat hujan, produk yang

dikeringkan tidak perlu dipindahkan dikeringkan harus segera dipindahkan


atau diangkat.
4.

atau diangkat.

Ruangan yang tertutup dan panas, Bahkan

banyak

dikerumuni

lalat

sehingga produk terjamin mutunya sehingga mutu kurang terjamin.


karena

terhindar

dari

hinggapan

lalat.

Telah dijelaskan bahwa alat pengering surya dapat dibuat dalam berbagai
bentuk, sesuai dengan kebutuhan dan lingkungannya.

Untuk gambar 1 dan 2, bahan utamanya adalah plastik bening dan rangka kayu
balok. Tempat peletakan bahan yang ingin dikeringkan dibuat bertingkat (rak-rak) dan
dapat diatur atau dipindah-pindahkan sesuai keinginan. Bagian depan, dapat dibuat
pintu untuk memasukan dan mengeluarkan bahan yang dikeringkan

Bagian paling bawah dan belakang alat pengering surya tunggal ini sebaiknya
diberi plastik berwarna gelap agar penyerapan panas sinar matahari berlangsung lebih
baik.
Gambar 3 merupakan alat pengering surya sederhana yang dipadukan
(dikombinasikan) dengan seng (sicet hitam) guna menghasilkan panas yang lebih
tinggi. Dari hasil uji coba, suhu ruangan bisa mencapai 55-60 C. Dengan tingginya
suhu ruangan tersebut, proses pengeringan dapat berlangsung lebih singkat.
Untuk mendapatkan hasil produk ikan kering yang bagus, sebaiknya dilakukan
pemindahan secara teratur rak-rak yang ada didalam alat pengering tersebut.
Kelemahan alat pengering ini adalah jumlah produk yang dikeringkan sangat tergantung
pada besar kecilnya alat pengering yang dibuat. Selain itu karena dibuat bertingkat (rak-

rak), produk yang dikeringkan harus diatur sedemikian rupa agar lebih optimal proses
pengeringannya
Alat pengering surya ini relative murah dalam pembuatannya dan umur
pemakaiannya cukup lama yakni 4-5 tahun, tergantung pada bahan yang digunakan
dan teknis pemeliharaannya.

BAB IV
KESIMPULAN

1. Alat pengering bertenaga surya tetap menggunakan energi matahari sebagai


sumber panas untuk mengeringkan komoditas seperti cara konvensional namun
dengan tambahan inovasi pengumpulan lebih maksimal panas yang didapat dari
sinar matahari.
2. Banyaknya ikan/komoditas yang bisa dikeringkan bergantung dari ukuran alat
pengering surya dan intensitas panas matahari pada saat itu.

3. Untuk mendapatkan kualitas hasil pengeringan diperlukan batas temperature


spesifik dimana ikan tidak mengalami perubahan komposisi, bentuk, warna dan
kenampakan.

SUMBER PUSTAKA

1. Irawan, A. HSR. 1997. Pengawetan Ikan dan Hasil Perikanan. Aneka. Solo. 164
halaman
2. Suparna. 1988. Pengeringan Ikan dalam kumpulan hasil Penelitian teknologi
pasca Panen Perikanan. Balai Penelitia Teknologi perikanan. Buku I. hal. 29-32.