Anda di halaman 1dari 19

JENIS-JENIS CAIRAN INFUS

ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah
dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:

Na 130 mEq

K 4 mEq

Cl 109 mEq

Ca 3 mEq

Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan:

Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami
gangguan hati

Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding
RL pada neonatus

Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan
isofluran

Mempunyai efek vasodilator

Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA,
dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk
edema serebral

KA-EN 1B
Indikasi:

Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus
emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)

< 24 jam pasca operasi

Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak

Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam

KA-EN 3A & KA-EN 3B


Indikasi:

Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan
kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas

Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A

Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B

KA-EN MG3
Indikasi :

Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan
kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas

Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

Mensuplai kalium 20 mEq/L

Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L

KA-EN 4A
Indikasi :

Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak

Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar
konsentrasi kalium serum normal

Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):

Na 30 mEq/L

K 0 mEq/L

Cl 20 mEq/L

Laktat 10 mEq/L

Glukosa 40 gr/L

KA-EN 4B
Indikasi:

Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun

Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia

Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:

Na 30 mEq/L

K 8 mEq/L

Cl 28 mEq/L

Laktat 10 mEq/L

Glukosa 37,5 gr/L

Otsu-NS
Indikasi:

Untuk resusitasi

Kehilangan Na > Cl, misal diare

Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufisiensi


adrenokortikal, luka bakar)

Otsu-RL
Indikasi:

Resusitasi

Suplai ion bikarbonat

Asidosis metabolik

MARTOS-10
Indikasi:

Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik

Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres
berat dan defisiensi protein

Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam

Mengandung 400 kcal/L

AMIPAREN
Indikasi:

Stres metabolik berat

Luka bakar

Infeksi berat

Kwasiokor

Pasca operasi

Total Parenteral Nutrition

Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

AMINOVEL-600
Indikasi:

Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI

Penderita GI yang dipuasakan

Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)

Stres metabolik sedang

Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)

PAN-AMIN G
Indikasi:

Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan

Nitrisi dini pasca operasi

Tifoid

Larutan Infus Natrium Klorida 0,9%


LARUTAN INFUS UNTUK PEMAKAIAN INTRAVENA
Setiap liter larutan mengandung :
Natrium Klorida (NaCl)
9,0 g
Air untuk injeksi ad.
1.000 ml
Osmolaritas
: 308 mOsm/l
Setara dengan ion-ion : Na : 154 mEq/l
Cl : 154 mEq/l
Cara kerja obat
Merupakan garam yang berperan penting dalam memelihara tekanan osmosis darah dan jaringan
Indikasi
Untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi
Cara pemberian

Pemberian diberikan melalui Intravena (IV)

Kecepatan alir yang dianjurkan 2,5 ml/kg BB/jam atau 60 tetes/70 kg BB/menit atau 180
ml/70 kg BB/jam atau disesuaikan dengan kondisi penderita.

Kontra indikasi
Hipernatremia, Asidosis, Hipokalemia.

Efek samping

Reaksi-reaksi yang mungkin terjadi karena larutannya atau cara pemberiannya, termasuk
timbulnya panas, infeksi pada tempat penyuntikan, thrombosis vena atau flebitis yang
meluas dari tempat penyuntikan, ekstravasasi.

Bila terjadi reaksi efek samping, pemakaian harus dihentikan dan lakukan evaluasi
terhadap penderita.

Peringatan

Hati-hati bila diberikan kepada penderita gagal jantung kongestif, gangguan fungsi ginjal,
hipoproteinemia, udem perifer atau pulmonary.

Hati-hati bila diberikan kepada anak-anak dan penderita usia lanjut, pada kasusu
hipertensi dan toksemia pada kehamilan.

Untuk pemberian jangka panjang sebaiknya lakukan uji laboratorium secara periodik
untuk memonitor serum ionogram, keseimbangan asam basa dan cairan.

Hindari pemberian yang berlebihan untuk mencegah terjadinya hipokalemia.

Injeksi Ringer laktat

Injeksi Ringer laktat adalah larutan steril dari Kalsium klorida, Kalium klorida, Natrium
klorida dan Natrium laktat dalam Air untuk injeksi; tiap 100 ml mengandung tidak
kurang dari 285,0 mg dan tidak lebih dari 315,0 mg natrium (sebagai NaCl dan
C3H5NaO3), tidak kurang dari 14,1 mg dan tidak lebih dari 17,3 mg kalium (K, setara
dengan tidak kurang dari 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0 mg KCL), tidak kurang dari
4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan tidak kurang dari 18,0
mg dan tidak lebih dari 22,0 mg CaCl2.2H20), tidak kurang dari 368.0 mg dan tidak lebih
dari 408,0 mg klorida (Cl, sebagai NaCl, KCl dan CaCl2.2H20), dan tidak kurang dari
231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg laktat (C3H5O3, setara dengan tidak kurang dari
290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C3H5NaO3). Injeksi Ringer laktat tidak boleh
mengandung bahan antimikroba.
Baku Pembanding Natrium Laktat BFPI ; Lakukan pengeringan dalam hampa udara pada
suhu 60C selama 4 jam sebelum digunakan. Endotoksin BPFI.
pH : antara 6.0 7.5 (FI IV)
5-7 (Martindale)
Wadah dan Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik dosis tunggal, sebaiknya dari
kaca Tipe I atau Tipe II

Pemberian : secara iv , kecepatan tidak boleh lebih dari 300 ml/jam.


BAHAN YANG DIGUNAKAN
Sodium Laktat
Kelarutan : Larut dalam air, alkohol dan gliserol. Praktis tidak larut dalam kloroform, eter
dan minyak.
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi
OTT : Dengan Novobiosin sodium, Oksitetrasiklin HCl, Sodium Bikarbonat,
Sodiumkalsiumedetat dan Sulfadialin sodium
KontraIndikasi : Pada penderita gangguan fungsi hati.
pH : 5-7
E Sodium laktat : 0.55
NaOH
Pemerian : Bentuk batang, butir, hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan
menunjukkan susunan hablur, putih atau padatan putih, mudah meleleh, basah. Sangat
alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, etanol 95% dan gliserol.
E NaOH : 17 x 3.8/40 = 1.615
NaCl
Bobot molekul : 58,44
Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk Kristal putih, tiap 1g setara
dengan 17,1 mmol NaCl.
Kelarutan : 1bagian larut dalam3 bagian air, 10 bagian gliserol, sedikit larut dalam etanol,
larut dalam 250 bagian etanol 95%, larut dalam 2,8 air dan dalam 2,6 bagian air pada suu
100 C.
Sterilisasi : autoklaf atau filtrasi
Stabilitas : stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat menyebabkan pengguratan
partikel dari tipe gelas.
pH : 4,5-7
OTT : logam Ag, Hg, Fe
E NaCl : 1
Kesetaraan E elektrolit: 1g 17,1 mEq
Kosentrasi/ dosis : lebih dari 0.9%. injeksi iv 3-5% dalam 100 ml selama 1 jam. Injeksi
NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na dalam plasma = 135-145 mEq/ml.
Khasiat : pengganti ion Na,Cl dalam tubuh dan agen tonisitas.
Farmakologi : berfungsi untuk mengatur distribusi air, cairan dan keseimbangan elektrolit
dan tekanan osmotic cairan tubuh.

KCl
Pemerian : Kristal atau serbuk putih atau tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa atau

berasa asin.
Kelarutan : larut dalam air, sangat mudah larut dalam air panas, larut dalam air panas,
larut dalam 14 bagian gliswerin, praktis tidak larut dalam eter, aceton, etanol dan alcohol.
pH : 4-8, 7 untuk larutan pada suhu 15C.
konsentrasi : 2,5-11,5%
dosis : konsentrasi kalium pada ryte iv tidk lebih dari 40 mEq/L dengan kecepatan 20
mEq/jam (untuk hipokalemia). Untuk mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4
mEq/L. K dalam plasma = 3,5-5 mEq/L.
stabilitas : stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk dan
kering.
Kegunaan : biasa digunakan dalam sediaan parenteral sebagai senyawa pengisotonis, dan
juga sebagai sumber ion Kalium.
OTT : larutan KCl iv inkompatibel dengan protein hidrosilat, perak dan garam merkuri.
Sterilisasi : dengan autoklaf atau filtrasi.
Ekuivalen : 0,76
Kesetaraan E elektrolit: 1g 13,3 mEq K
Acidum lacticum
Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna atau agak kuning, tidak berbau atau berbau
lemah, tidak enak, larutan encer yang berasa asam; Higroskopik.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol 95% dan dalam eter
E Acidum lacticum : 0.41
CaCl2
Pemerian : granul atau serpihan, putih, keras, tidak, berbau
Kelarutan : mudah larut dalam air (1,2 bagian), dalam etanol (4 bagian), dan dalam etanol
mendidih (2 bagian), sangat mudah larut dalam air panas (0,7 bagian).
pH : 4,5-9,2
OTT : karbonat, fosfat, sulfat, tartrat, sefalotin sodium, CTM dengan tetrasiklin
membentuk kompleks.
Kegunaan : untuk mempertahankan elektrolit tubuh, untuk hipokalemia, sebagai elektrolit
yang esensial bagi tubuh untuk mencegah kekurangan ion kalsium yang menyebabkan
iritabilitas dan konvulsi.
Sterilisasi : autoklaf
E CaCl2 : 0,53
Kesetaraan E elektrolit: 1g CaCl2 13,6 mEq Ca
Farmakologi : penting untuk fungsi integritas dari saraf muscular, system skeletal,
membrane sel dan permeabilitas kapiler.
API
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
Kegunaan : pembawa dan pelarut

PENGKAJIAN PRAFORMULASI

No Masalah Diinginkan Pemecahan Pemilihan Alasan


1. Zat aktif terdiri dari NaCl, KCl, CaCl2 dan Natrium laktat Dibuat sediaan yang cocok
-sediaan parenteral volume kecil
-sediaan parenteral volume besar Sediaan parenteral volume besar sediaan parenteral
volume besar umumnya diberikan lewat infuse intravena untuk menambah cairan tuuh,
elektolit, atau member nutrisi
2. Dibuat dibuat sediaan parenteral Pemberian dilakukan secara tepat, sehingga tidak
menimbulkan efek samping Alternative pemberian sediaan: im, sc, iv Diberikan secara iv
Sediaan infuse biasanya diberikan secara iv. Menurut martindale penggunaan larutan
ringer adalah infuse intravenous.
3. Pelarut yang digunakan Diuat air yang bebas dari pirogen Digunakan API API API
digunakan sebagai pelarut dan pembawa karena bahan-bahan larut dalam air
4. Kestabilan selama pemyimpanan Tetap stabil tidak terkontaminasi mikroba
Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal. (FI ed. IV)
5. Sediaan dalam kondisi steril Sediaanyang steril Dilakukan proses sterilisasi:
-sterilisasi akhir
-aseptis Sterilisasi akhir Injeksi ringer disterilkan dengan cara sterilisasi A (fornas)

Data Larutan Ringer


Daftar obat Pengertian pH Jenis steriliassi Khasiat Catatan
NATRII LACTATIS INJECTIO COMPOSITUM atau
Injeksi Natrium Laktat majemuk atau
Injeksi Ringer Laktat Injeksi Ringer laktat adalah larutan steril dari Kalsium klorida,
Kalium klorida, Natrium klorida dan Natrium laktat dalam Air untuk injeksi 6.0 7.5 (FI
IV)
5-7 (Martindale) Sterilisasi A (Fornas),sterilisasi A (martindale) Infuse intravenous
Injeksi ringer tidak boleh mengandung bahan antimikroba

Formulasi standar dari Fornas


NATRII LACTATIS INJECTIO COMPOSITUM
Injeksi Natrium Laktat majemuk
Injeksi Ringer Laktat
Komposisi. tiap 500 ml mengandung
Acidum Lacticum 1.2 ml
Natrii Hydroxydum 575 mg
Natrii Chloridum 3 g
Kalii Chloridum 200 mg

Calcii Chloridum 1.35 mg


Penyimpanan. Dalam wadah dosis tunggal
Catatan. 1. Ditambahkan Asam Klorida 0.1 N hingga pH 5,0 sampai 7,0.
2. Mengandung ion bikarbonat dihitung sebagai laktat 29 mEq, ion kalium 5 mEq, ion
kalsium 8 mEq, ion klorida 111 mEq dan ion natrium 131 mEq per liter.
3. tidak boleh mengandung bakterisida
4. disterilkan dengan cara sterilisasi A, segera setelah dibuat
5. bebas pirogen
6. pada etket harus juga tertera :
a. Banyaknya ion bikarbonat dihitung sebagai laktat, ion kalium; ion klorida; dan ion
natrium masing-masing dalam mEq/L
b. Daluwarsa
7. diinjeksikan secara infuse
Usul : dibuat sediaan infuse sebanyak 100 ml
Alat dan cara sterilisasinya
No Nama Alat Cara sterilisasi Waktu
1 Spatula Oven 170C 30 menit
2 Batang pengaduk Oven 170C 30 menit
3 Cawan penguap Oven 170C 30 menit
4 Pinset Oven 170C 30 menit
5 Erlenmeyer Oven 170C 30 menit
6 Beaker glass Oven 170C 30 menit
7 Gelas ukur Autoklaf 115-116C 30 menit
8 Corong Autoklaf 115-116C 30 menit
9 Kertas saring Autoklaf 115-116C 30 menit

Formulasi Akhir
R/ Tiap 100 ml mengandung
Acidum Lacticum 0.24 ml
Natrii Hydroxydum 115 mg
Natrii Chloridum 0.6 g
Kalii Chloridum 40 mg
Calcii Chloridum 0.27 mg
API ad 100 ml
NaCl 900 mg/100 ml
Berat Na+ =
=
= 353,8 mg

Cl- = 900 353.8


= 546.2 mg
Na+ = 310 mg (300x1) / 23 = 13.47 meq/L
K+ = 16 mg (16x1) / 39.1 = 0.40 meq/L
Ca 2+ = 6 mg (6x2) / 40 = 0.03 meq/L
Cl- = 370 mg (400x1) / 35.5= 11.33 meq/L
Laktat- = 250 mg (250x1) / 89 = 2.8 meq/L
Na laktat = = 313.6 mg
Sisa Na+ = 13.47 2.8 = 10.6
NaCl = = 620.1 mg
Sisa Cl- = 11.3 10.6 = 0.7
CaCl2 = = 1.665 mg
KCl = = 29.8 mg

R/ Na laktat 313.6 mg
NaCl 620.1 mg
CaCl2 1.6 mg
KCL 29.8 mg
965.1 0.9
Osmolaritas dan Tonisitas
M osmole/ L NaCl = (0.620/58.5)x2x1000x10 = 212
M osmole/ L CaCl2 = (0.001665/111)x3x1000x10 = 0.045
M osmole/ L KCl = (0.0298/74.6)x2x1000x10 = 8
M osmole/ L Na Laktat = (0.313/112)x2x1000x10 = 56
276 (isotonis)
White Vincent
V = W x E x 111,1
= {(0,313 x 0,55)+(0.620x1)+(1.665x10-3 x 0,53)+(29,8x10-3 x 0,76)} x 111,1
=
Dilebihkan 10% dari jumlah sediaan, sehingga menjdi 110 ml
Jadi :Asam laktat = 110/100 ml x 0.24 ml = 0.264 ml = 264 mg
NaOH = 110/100 ml x 115 mg = 126.5 mg
NaCl = 110/100 ml x 0,6 g = 0.66 g
KCl = 110/100 ml x 40 mg = 44 mg
CaCl2 = 110/100 ml x 0.27 mg = 0.297 mg

PROSEDUR KERJA
A. PEMBUATAN AQUA PRO INJEKSI
a. Memanaskan air hingga mendidih selama 30 menit.
b. Setelah mendidih panaskan kembali hingga 10 menit.
B. PEMBUATAN SEDIAAN
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Zat aktif dan zat tambahan ditimbang dengan kaca arloji atau cawan penguap
dilakukan di dalam Grey Area.
3. Gelas piala yang digunakan dikalibrasi sesuai dengan volume larutan yang akan dibuat
yaitu 250 ml.
4. Zat-zat yang sudah ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas piala yang telah
dikalibrasi 250 ml.
5. Menuangkan air steril untuk melarutkan zat dan membilas kaca arloji sampai tanda
kalibrasi tercapai.
6. Menimbang 0,1% (0,3 g) karbon aktif
7. Melarutkan semua zat secara terpisah pada beaker glass, lalu mencampurkannya
kedalam beaker glass didalam white area.
8. Mencukupkan larutan hingga setengah dan mengecek pH sediaan. Jika pH sediaan
sudah sesuai maka diadd hingga tanda batas kalibrasi.
9. Menambah karbon aktif 0.3 gr, lalu dimasukkan ke dalam larutan sediaan. Gelas piala
ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk. Karbon aktifnya diaktifkan dengan cara
dipanaskan 40-70 selama 15 menit sambil diaduk.
10. Kertas saring ganda dan terlipat, dibasahi terlebih dahulu dengan air bebas progen
(dibuat seperti larutan bebas pirogen).
11. Memindahkan corong dan kertas saring ke Erlenmeyer steril bebas pirogen.
12. Menyaring larutan hangat-hangat ke dalam Erlenmeyer.
13. Mengukur volume larutan dalam gelas ukur tepat 200 ml dan mengisi langsung ke
dalam botol infus 200 ml.
14. Memasang tutup karet botol infus steril dengan mengikat dengan simpul champagne
15. Mensterilkan botol infus yang berisi larutan dalam autoclave suhu 115-116C selama
10 menit.
16. Masukkan ke dalam botol infus.
17. Lakukan evaluasi.
18. Beri etiket dan kemasan pada botol infus.
19. Sediaan siap untuk digunakan.

PEMBAHASAN
Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman dan dikeluarkan
dalam jumlah relative sama. Rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein
17,0%, serta mineral dan glikogen 6% ketika terjadi gangguan homeostatis
(keseimbangan cairan tubuh ), maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk
mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit.
Secara klinis fungsi larutan elektrolit adalah untuk mengatasi perbedaan ion atau
penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada dua jenis kondisi plasma darah
yang menyimpang yaitu:
a) Asidosis merupakan kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion
klorida dalam jumlah berlebih.
b) Alkalosis merupakan kondisi plasma darah yang terlampau basa akibat adanya ion
natrium, kalium,dan kalsium dalam jumlah berlebih
Penyebab kekurangan elektrolit plasma adalah kecelakaan,kebakaran, operasi atau
perubahan patologis organ, gastroenteritis,demam tinggi, atau penyakit lain yang
menyebabkan output dan input tidak seimbang. Kehilangan natrium disebut hipovolemia,
sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi. Kemudian kekurangan HCO3 disebut
asidosis metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia.
Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama
dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan/pengurangan
jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat.

Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang
masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan
lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl.
Dalam praktikum steril kali ini kami membuat sediaan infuse ringer laktak. Infus sendiri
merupakan larutan dalam jumlah basar terhitung mulai dari 10 ml yang diberikan melalui
intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
Infuse ringer laktat adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, Kalsium klorida
dan natrium laktat dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan
kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah
cairan elektrolit yang diperlukan tubuh.
Pada proses pembuatan kami tidak menggunakan natrium laktat dikarenakan natrium
laktat tidak tersedia dilaboratorium. Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium
klorida dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut
dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. NaCl digunakan
sebagai larutan pengisotonis agar sediaan infus setara dengan 0,9% larutan NaCl, dimana
larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan tubuh. Kalium
klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan
intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis
sel. Untuk menggantikan kalium yang hilang digunakan KCl yang lebih mudah larut
dalam air. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam
proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah
konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi. Kalsium yang dipakai
dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air.
Pada saat pembuatan kami tidak menggunakan pengawet dikarenakan infus ditujukan
untuk penggunaan intravena. Sediaan infus diberikan secara intravena untuk segera dapat
memberikan efek. Pelarut yang digunakan adalah Air Pro Injection (API). Sediaan infus
yang kami buat sebanyak 250 ml dengan penambahan volume pada saat pembuatan
sediaan sebanyak 10% sehingga menjadi 275 ml. Hal ini dilakukan karena pada saat
penyaringan, filtrate pertama yang agak kehitaman akibat dari penambahan karbon aktif,
dibuang kurang lebih 10 ml. Sediaan infus sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap
darah, yaitu mempunyai tekanan osmosis larutan yang sama dengan tekanan osmosis
cairan tubuh. Larutan infuse yang kami buat adalah isotonis, yaitu 276 ml. Pembuatan
sediaan infus ini harus steril dan bebas pirogen. Cara sterilisasi yang digunakan adalah
sterilisasi akhir dengan teknik autoklaf karena untuk menjamin kesterilan sediaan.
Infuse harus bebas pirogen karena pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang
nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi.
Pirogen dapat dihilangkan dari larutan dengan absorbsi menggunakan absorban pilihan.
Dalam prakteknya, kami menambahkan karbon aktif sebanyak 0,1% untuk
menghilangkan pirogen tersebut. Mekanisme kerja dari karbon aktif ini adalah pirogen
akan terserap pada karboabsorben. Untuk mengantisipasi penyerapan zat aktif pada
karboabsorben, zat aktif ditimbang dilebihkan 5%.
Berdasarkan literature, pH sediaan larutan infus ringer laktat yaitu pada rentang pH 6,0
sampai 7,5. Sediaan yang kami buat memiliki pH 6,5 sehingga dapat dikatakan sediaan
infus yang kami buat memenuhi persayaratan pH sediaan. Tujuan utama pengaturan pH
dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya perubahan
warna, efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat

tersebut, sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi. Selain itu, untuk
mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit seaktu disuntikkan. pH yang terlalu
tinggi akan menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan pH yang terlalu rendah
menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan.
Penandaan obat sediaan infus ringer laktat yang digunakan adalah label obat keras,
karena pada umumnya pemberian sediaan infus perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis
dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Pada etiket,
selain dituliskan lambang obat keras, juga dicantumkan jumlah isi atau volume sediaan.
Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup
oleh etiket, hal ini dilakukan untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual.

EVALUASI
1. Uji pH dengan indikator pH
Adanya perubahan pH mengindikasikan telah terjadi penguraian obat atau terjadi
interaksi obat dengan wadah.
Hasil pH sediaan infus ringer laktat : 6,5 , berada pada rentang pH sediaan yang
diinginkan
2. Uji adanya partikel melayang
Dilihat secara visual tidak terdapat partikel melayang pada sediaan infus yang dibuat.

KESIMPULAN
1. Sediaan parenteral volume besar harus steril dan bebas pirogen karena sediaan
diinjeksikan langsung pada aliran darah (infus intravena)
2. Sediaan infus ringer laktat ditujukan sebagai penambah cairan elektrolit yang
diperlukan tubuh.
3. pH sediaan infus ringer laktat yang dibuat memenuhi persyaratan pH sediaan infus
ringer laktat menurut literature (6,0 7,5 ) yaitu 6,5.
4. Pengaturan pH dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat
sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi dan untuk mencegah terjadinya
rangsangan atau rasa sakit seaktu disuntikkan.
5. Sterilisasi sediaan infus dilakukan sterilisasi akhir karena untuk menjamin kesterilan
sediaan.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Ansel, Howard C. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI-

Press.
Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia, edisi III. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional, Ed II. Jakarta.
Department of Pharmaceutical Sciences. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia,
twenty-eight edition. London : The Pharmaceutical Press.
Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. 1994.Teori dan Praktek Farmasi Indrustri. Edisi
Ketiga. Vol III. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Jakarta: UI Press.
Syamsuni, H.A. 2006.Ilmu Resep.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed
II.1994.London; The Pharmaceutical Press.

Anda mungkin juga menyukai