Anda di halaman 1dari 5

Percobaan ini bertujuan untuk mngetahui pengaruh cahaya, suhu dan faktor

lain( kandungan CO2) dalam proses fotosintesis dengan cara menghitung jumlah volume O2
yang dihasilkan selama proses tersebut. Sebagai tumbuhannya digunakan Hydrilla
verticillata yang merupakan tumbuhan air dengan seluruh bagian tubuh tumbuhan tenggelam
dalam air. Tumbuhan ini melakukan fotosintesis di dalam air sehingga pada percobaan ini
hasil dari proses fotosintesis berupa gas dapat terukur lebih mudah dan laju fotosintesis dapat
ditentukan dengan jumlah gelembung gas yang terbentuk. Percobaan kali ini menggunakan 3
jenis air yang berbeda yaitu, aquadest, air sumur dan air selokan karena untuk
membandingkan kadar CO2 di dalm air tersebut.. Percobaan dilakukan dengan intensitas
cahaya matahari yang sama.
Hasil percobaan didapat volume O2 pada air selokan lebih besar (0,065 ml)
dibandingkan air sumur dan aquadest. Namun pada aquadest didapat volume O2 yang lebih
besar (0,045 ml) dibandingkan air biasa/sumur (0,028 ml). Kemudian suhu pada air selokan
lebih tinggi yaitu 32C dibandingkan suhu air biasa (30C) dan aquadest (29 C).
Berdasarkan hasil tersebut volume air selokan lebih besar dibandingkan air yang laun
karena aktivitas fotosintesis dari Hydrilla juga lebih besar, dipengaruhi oleh kandungan CO2
dalam air tsb. Kandungan CO2 berpengaruh dalam proses fotosintesis. Karbondioksida pada
air selokan dihasilkan dari respirasi mikroorganisme yang terdapat pada air tsb. Air
permukaan sering banyak mengandung mikroorganisme yang berasal dari tanah dan dari
organisme yang terdapat di danau-danau dan sungai-sungai. Kehadiran mikroba di dalam air
akan mendatangkan keuntungan dan kerugian (Dwijoseputro, 1989). Hal ini berkaitan dengan
tidak maksimalnya perkembangbiakan bakteri, karena kebanyakan bakteri memerlukan
media/substrat yang tenang untuk perkembangbiakannya (Dwijoseputro, 1989). Sedangkan
air sumur/ ledeng merupakan air yang bersumber dari dalam tanah, air tersebut memiliki
kandungan zat hara dan mineral. Air tanah pada umumnya paling sedikit mengandung
mikroorganisme dibandingkan air selokan sehingga kandungan CO2 seharusnya lebih sedikit
dibanding air selokan berbeda dengan aquadest yang merupakan air dari hasil
penyulingan(diuapkan dan disejukan kembali), memiliki kandungan murni H2O, steril yaitu
bebas dr mikroba hidup sehingga pada aquadest tidak ditemukan kandungna zat lain sehingga
kandungan karbondioksida paling sedikit diantara lain bahkan tidak ada sama sekali.
Namun terjadi kesalahan pengukuran volume o2 pada air sumur dan aquadest dimna
seharusnya volume o2 pada air sumur lebih besar dibanding aquadest sesuai dengan

kandungan CO2 yg terkandung dlm air tsb krn berpengaruh terhadap laju fotosintesis.
Kesalahan tersebut bisa jadi dikarenakan keslahan pengukuran volume O2, pemasangan alat
yang tidak sempurna sehingga msh tertinggal glembung udara dlm air.
Terdapat beberapa factor lain yang mendorong laju fotosintesis, yaitu : konsentrasi
CO2, konsentrasi klorofil, air, aplikasi, dan titik kompensasi. Kenaikan konsentrasi CO2
sebesar 0,1% dan konsentrasi klorofil akan berpengaruh secara signifikan hingga mencapai 2
kali lipat laju fotosintesis semula.

Dapus
Jumin HB, 1994, dasar-dasar Agronomi. PT Rja Gafindo persada. Jakarta.

Dwijoseputro, D. 1978. Pengantar fisiologi tumbuhan. Penerbit PT Gramedia. Jakarta.


Salisbury, F. B. Dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 3. Penerbit ITB. Bandung.
Hal ini berkaitan dengan tidak maksimalnya perkembangbiakan bakteri, karena kebanyakan
bakteri memerlukan media/substrat yang tenang untuk perkembangbiakannya (Dwijoseputro,
1989). Kandungan mikroorganisme dalam air alami sangat berbeda tergantung pada lokasi
dan waktu. Apabila air merembes dan meresap mealalui tanah akan membawa sebagaian
mikroorganisme bagian tanah yang lebih dalam. Air tanah pada umumnya paling sedikit
mengandung mikroorganisme dan air tanah yang terdapat pada bagian yang dalam sekali
hampir tidak mengandung mikroorganisme. Sebaliknya air permukaan sering banyak
mengandung mikroorganisme yang berasal dari tanah dan dari organisme yang terdapat di
danau-danau dan sungai-sungai. Kehadiran mikroba di dalam air akan mendatangkan
keuntungan dan kerugian (Dwijoseputro, 1989).
Pada uji Ingenhousz digunakan tumbuhan Hydrilla verticillata yang merupakan tumbuhan air
dengan seluruh bagian tubuh tumbuhan tenggelam dalam air. Tumbuhan ini melakukan
fotosintesis di dalam air sehingga pada percobaan ini hasil dari proses fotosintesis berupa gas
dapat terukur lebih mudah dan laju fotosintesis dapat ditentukan dengan jumlah gelembung
gas yang terbentuk.
2. Air sumur tidak mengandung antibiotik, sedangkan air PAM sudah diberi klorin/kaporit
untuk membunuh mikroba pada air. Dengan demikian, mikroba yang ada pada tanah/media

tanam juga akan mati dan tanah akan steril, sehingga tidak ada peran mikroba dalam tanah
yang berfungsi sebagai dekomposer, pengurai, pelarut hara, pemfiksasi (N), dan mikoriza.
Makanya tanamannya jadi kurang subur.
3. Air PAM yang mengandung klorin/kaporit dalam jangka panjang akan meracuni tanaman
mulai dari pH tanah, kesadahan, KTK tanah, residu klorin, dan kekahatan/kekurangan unsur
lain yang tertekan oleh klorin.
4. Tanah yang sering disiram air PAM akan cpat keras karena akumulasi klorin yang berlebih,
sehingga akar tanaman tidak dapat berkembang dengan baik.

3 tahun lalu
i

Intensitas cahaya yang tinggi di daerah tropis tidak seluruhnya dapat digunakan oleh tanaman
(Curtis & Clark, 1950, Suseno, 1974). Energi cahaya matahari yang digunakan oleh tanaman
dalam proses fotosintesis berkisar antar 0,5 2,0 % dari jumlah total energi yang tersedia.
Sehingga hasil fotosintesis berkurang apabila intensitas cahaya kurang dari batas optimum
yang dibutuhkan oleh tanaman, yang tergantung pada jenis tanaman (Leopold & Kriedemann,
1975).
Dari hasil percobaan juga membuktikan bahwa volume oksigen yang dihasilkan oleh hidrila
pada tempat yang teduh lebih sedikit dari pada di tempat yang terkena sinar matahari
langsung.
Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan, tanaman diletakkan pada tempat terang
selama 60 menit. Pada keadaan terang suhu dan intensitas cahaya sangat berpengaruh
terhadap laju fotosintesis. Dimana semakin tinggi intensitas cahaya dan semakin tinggi suhu
maka jumlah gelembung yang muncul semakin besar. Hal ini dapat dilihat dari data yang
menunjukkan peningkatan jumlah gelembung. Adanya peningkatan jumlah gelembung udara
yang dihasilkan dimana O2 merupakan hasil dari fotosintesis yang dikeluarkan oleh

tumbuhan. Hal ini sudah sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa laju fotosintesis akan
maksimum apabila ada banyak cahaya dalam hal ini berarti suhu dan intensitas cahaya tinggi.

Penambatan CO2 paling banyak terjadi sekitar tengah hari ketika tingkat cahaya paling
tinggi. Cahaya sering membatasi fotosintesis terlihat juga dengan menurunnya laju
penambatan CO2 ketika tumbuhan terkena bayangan awan sebentar. (Salisbury dan Ross,
1995).
Tetapi yang menjadi faktor utama fotosintesis agar dapat berlangsung adalah cahaya, air, dan
karbondioksida (Kimball, 1992).

1.3 Faktor yang Mempengaruhi Fotosintesis


1. Konsentrasi karbon dioksida
Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapat
digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis.
2. Suhu
Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja
pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan
meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim.

3. Kadar

air

Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat


penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.

4. Kadar

fotosintat

(hasil

fotosintesis)

Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila
kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan
berkurang.

5. Tahap

pertumbuhan

Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang
sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan
tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.