Anda di halaman 1dari 36

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi

Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Nama
NIM
Prodi

: Eka Varin Rasfianty


: 1 2014 0203 011
: Manajemen Bencana untuk Keamanan Nasional
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tsunami adalah gelombang yang terjadi karena gempa bumi atau
letusan gunung api di laut (Triatmodjo, 2008, p.100). Pada gelombang tsunami
seluruh kolam air (dari dasar laut sampai permukaan) bergerak ke semua arah.
Teguh Wardoyo (Antara Jateng, 2012) banyaknya kejadian gempa bumi dan
tsunami di Indonesia, baik dalam skala besar atau kecil dikarenakan wilayah
Indonesia merupakan wilayah yang berada pada lempeng tektonik aktif. Zona
subduksi (patahan laut) menyebabkan banyak sumber-sumber gempa yang
menjadikan sebagian wilayah Indonesia rawan bencana gpa dan tsunami.
Syarat terjadinya tsunami adalah gempa bumi bermagnitudo di atas 6
Skala Richter (SR) yang berada pada kedalaman kurang dari 60 km, dan jenis
sesar gempa merupakan sesar naik atau sesar turun. Berdasarkan katalog
gempa Indonesia dari tahun 1629 - 2002, telah terjadi gelombang tsunami
sebanyak 109 kali dengan magnitudo tsunami berkisar antara 15 - 4,5 skala
Imamura yang telah menimbulkan gelombang tsunami di pantai setinggi 4 - 24
m (Harsanugraha, 2008). Tinggi gelombang tsunami terkait dengan kedalaman
laut, semakin dalam laut semakin besar potensi ukuran gelombang tsunami.
Ukuran gelombang tsunami yang sangat besar yang pernah terjadi di Indonesia
disebabkan tidak hanya oleh gempa bumi yang terjadi pada patahan laut
(subduksi), tetapi juga karena adanya perpindahan dasar laut yang terjadi di
dekat patahan laut dalam (Jordan, 2008). Samudera Hindia yang sangat dalam
menyebabkan

gelombang

tsunami

menempuh

kehilangan banyak energi.

perjalanan

jauh

tanpa

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Gambar 1.1 Peta risiko tsunami Indonesia


Sumber: BNPB, 2012
Menurut Undang-Undang No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan
bencana, disebutkan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Sedangkan
pengertian bencana menurut UN-ISDR (2000) adalah suatu gangguan serius
terhadap keberfungsian masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang
meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan,
dan gangguan itu melampaui kemampuan masyarakat ybs untuk mengatasi
dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri.
Tsunami merupakan salah satu bencana alam yang dapat terjadi di
Indonesia. Seperti halnya yang terjadi Kabupaten Sikka wilayah Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT) merupakan kawasan dengan tingkat risiko tsunami yang
cukup tinggi. Hal ini karena Kabupaten Sikka berada dekat dengan zona
subduksi lempeng tektonik Australia dan Eurasia serta dipengaruhi oleh sesar2

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

sesar aktif di sepanjang Pulau Flores (Fauzi, 2006 dalam Sengaji, Ernawati dan
Nababan, Bisman, 2009).
Bencana tsunami merupakan bencana yang bersifat destruktif dan
menimbulkan banyak kerugian. Tsunami Flores pada tanggal 12 Desember
1992 telah menyebabkan kerugian materi hingga milyaran rupiah dan korban
jiwa sekitar 2.100 orang. Kejadian ini diawali dengan gempa berkekuatan 6,8
SR yang menyebabkan terjadinya tsunami di pantai Utara (Laut Flores). Gempa
tersebut disebabkan oleh penunjaman antara Lempeng Eurasia dan Lempeng
Indo-Australia yang terletak di sisi utara Maumere.
Oleh karena itu, penting sekali dilakukan suatu upaya mitigasi bencana
tsunami, yaitu proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk
meminimalkan dampak negatif bencana tsunami yang diperkirakan akan terjadi.
Salah satu langkah mitigasi tersebut adalah dengan membuat peta tingkat
risiko tsunami (Soegiharto, 2006).
Pemetaan tingkat risiko tsunami harus dilakukan dengan pendekatan
multikriteria sesuai dengan daerah kajian. Untuk itu, diperlukan suatu perangkat
analisis yang tepat untuk membuat peta tersebut. Sistem informasi geografi
(SIG)

merupakan

perangkat

yang

memiliki

kemampuan

untuk

memvisualisasikan tingkat risiko tsunami. Salah satu metode aplikasi SIG


adalah dengan menggunakan Quantum GIS dan aplikasi InaSAFE dari BNPB
sehingga luasan area rawan dan kerentanannya dapat dianalisis dengan
mudah.
1.2 Rumusan Masalah
Tsunami merupakan salah satu bencana yang dapat mengakibatkan
terjadinya kerugian diantaranya kerusakan bangunan, kerusakan lahan dan
jalan sekitar pantai, dan hilangnya nyawa manusia. Bencana alam tidak dapat
dicegah, namun dapat dikurangi risiko yang akan timbul yaitu dengan cara
manajemen bencana. Langkah yang dilakukan dalam upaya mitigasi bencana
tsunami yaitu dengan memetakan zonasi bahaya tsunami.

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Kabupaten Sikka yang termasuk dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara


Timur (NTT) merupakan kawasan dengan tingkat risiko tsunami yang cukup
tinggi, oleh karena itu perlu dilakukan upaya mitigasi tsunami dengan
melakukan pemetaan daerah rawan bencana tsunami, dan pemetaan
kepadatan penduduk sebagai faktor kerentanannya. Upaya mitigasi berupa
pemetaan ini dapat dilakukan dengan pendekatan SIG (Sistem Informasi
Geografis) berupa aplikasi Quantum GIS dan software InaSAFE dari BNPB.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana identifikasi dampak bencana tsunami terhadap bangunan
tergenang di Kabupaten Sikka dengan menggunakan aplikasi GIS ?
2. Bagaimana identifikasi dampak bencana tsunami terhadap kondisi
jalan tergenang di Kabupaten Sikka dengan menggunakan aplikasi
GIS?
3. Bagaimana identifikasi dampak bencana tsunami terhadap populasi
yang terdampak di Kabupaten Sikka dengan menggunakan aplikasi
GIS?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk:
1.

Mengidentifikasi dan menganalisis dampak bencana tsunami terhadap


bangunan tergenang di Kabupaten Sikka

2.

Mengidentifikasi dan menganalisis dampak bencana tsunami terhadap


jalan tergenang di Kabupaten Sikka

3.

Mengidentifikasi dan menganalisis dampak bencana tsunami terhadap


populasi (penduduk) di Kabupaten Sikka

1.4 Manfaat Penulisan


Penulisan makalah ini diharapkan memberikan manfaat yaitu mampu
mengolah dan mengimplementasikan metode analisis SIG pada dampak
bencana tsunami di Kabupaten Sikka. Hasil perkiraan dari metode analisis SIG
4

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

ini dapat memperkirakan jumlah bangunan yang tergenang tsunami, banyaknya


jalan yang tergenang tsunami dan jumlah penduduk yang terdampak sehingga
dapat memprediksi daerah rawan bencana tsunami dan jumlah bantuan yang
akan dibutuhkan serta penataan ruang yang dibutuhkan sebagai bentuk
mitigasi menghadapi bencana tsunami yang akan datang.
1.5 Batasan Penulisan
Makalah ini membahas tentang sebaran bangunan yang tergenang, luasnya
jalan yang tergenang dan jumlah penduduk yang terdampak bencana tsunami
di Kabupaten Sikka.

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Kebencanaan
2.1.1 Definisi Bencana
Menurut Undang-Undang No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan
bencana, disebutkan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Sedangkan
pengertian bencana menurut UN-ISDR (2000) adalah suatu gangguan serius
terhadap keberfungsian masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang
meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan,
dan gangguan itu melampaui kemampuan masyarakat ybs untuk mengatasi
dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.
Dari definisi di atas disimpulkan bahwa bencana ini berkaitan dengan
adanya kejadian atau peristiwa, mengganggu keberfungsian masyarakat,
mengakibatkan kerugian (berupa kehilangan jiwa manusia, kehilangan harta
benda, kerusakan lingkungan dan dampak psikologis), serta masyarakat tidak
mampu mengatasi dengan sumber daya yang dimilikinya. Bencana terjadi jika
ada bahaya dan kerentanan serta ada pemicu, sebagaimana gambar di bawah
ini:

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Gambar 2.1 Proses Terjadinya Bencana


Sumber: Triutomo, Sugeng (2016)
2.1.2 Klasifikasi Bencana
Berdasarkan proses terjadinya, bencana diawali dengan adanya
fenomena alam berupa proses alam (geologis, klimatologis) yang tidak
menimbulkan ancaman apapun, tetapi fenomena tersebut akan menjadi suatu
kejadian yang ektrim baik dari alam atau ulah manusia akan mengancam
kehidupan manusia, properti dan lingkungan. JIka fenomena terjadi maka
menjadi bahaya dan jika bertemu dengan kerentanan khususnya manusia
maka akan menimbulkan suatu risiko, apalagi jika dipicu oleh suatu keadaan
yang sangat ekstrim baik dari cuaca, iklim, dll, maka akan mengakibatkan
bencana.
Oleh karena itu bencana diklasifikasikan berdasarkan (Triutomo,
Sugeng, 2016):
1. Berdasar jenisnya, yaitu alam dan non alam/ulah manusia
2. Berdasar terjadinya, yaitu perlahan (slow onset) dan mendadak (sudden
onset)
3.

Berdasar aspek penyebabnya, yaitu geologi, hidrometeorologi, biologi,


teknologi dan lingkungan

2.1.3 Manajemen Bencana


Manajemen bencana adalah upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi
dan mengurangi risiko, menanggulangi pada saat terjadi dan memulihkan
dampak yang ditimbulkan. Manajemen Bencana artinya suatu sistem yang
berarti untuk kesiapan dan mitigasi dari risiko bencana, untuk mempersiapkan
respon yang efektif, untuk merespon bencana dan untuk mengurangi dampak
dari bencana. Hal ini berarti bahwa manajemen bencana merupakan seluruh
kegiatan yang meliputi aspek perencanaan, penanggulangan bencana, pada
sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dikenal sebagai Siklus
Manajemen Bencana.
7

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Gambar 2.2 Siklus Penanganan Bencana


Sumber: Triutomo, Sugeng (2016)
Secara umum kegiatan manajemen bencana dibagi ke dalam tiga kegiatan
utama, yaitu:
1.

Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi,


kesiapsiagaan serta peringatan dini

2. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat


untuk meringankan penderitaan sementara, seperti search and rescue
(SAR), bantuan darurat dan pengungsian
3. Kegiatan pasca bencana mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi dan
rekonstruksi
Manajemen bencana meliputi tiga hal yaitu manajemen risiko bencana
(meliputi pengurangan risiko bencana seperti mitigasi dan peringatan dini;
berada di fase pra bencana), manajemen darurat (meliputi kesiapsiagaan,
tanggap darurat dan transisi darurat ke pemulihan; berada di fase saat
bencana) dan manajemen pemulihan (meliputi pemulihan dini, rehabilitasi dan
rekonstruksi; berada di fase pasca bencana).
2.2 Teori Tsunami
8

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

2.2.1 Definisi Tsunami


Kata Tsunami berasal dari bahasa Jepang, Tsu berarti pelabuhan dan nami
berarti gelombang atau ombak, keduanya berarti ombak besar di pelabuhan.
Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul
karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi (BNPB No.8 Tahun
2011). Sedangkan menurut Bakornas PB (2007), tsunami dapat diartikan
sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh
gangguan implusif dari dasar laut. Gangguan implusive tersebut bisa berupa
gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran.
Tercatat dalam LPBI NU: Santri Siaga Bencana Nahdlatul Ulama bahwa
Kecepatan tsunami bisa mencapai 800 km/jam, kecepatan gelombang yang
disebabkan angin tidak lebih dari 96 km/jam. Panjang gelombang tsunami
mencapai 160 km antar puncaknya, sebuah tsunami terdiri atas sepuluh atau
lebih gelombang, sehingga membentuk rangkaian gelombang dimana masingmasing gelombang berurutan satu sama lain dengan selang antara 5 menit
sampai dengan 90 menit. Artinya kecepatan tsunami bergantung pada
kedalaman perairan, akibatnya gelombang tersebut mengalami percepatan
atau perlambatan sesuai dengan bertambah atau berkurangnya kedalaman
perairan, dengan proses ini arah pergerakan arah gelombang juga berubah dan
energi gelombang bias menjadi terfokus atau juga menyebar.
2.2.2 Penyebab Terjadinya Bencana Tsunami
Menurut BNPB (2012) sejarah tsunami di Indonesia menunjukkan bahwa
kurang lebih 172 tsunami yang terjadi dalam kurun waktu antara tahun 1600 2012. Sumber pembangkitnya diketahui bahwa 90% dari tsunami tersebut
disebabkan oleh aktivitas gempa bumi tektonik, 9% akibat aktivitas vulkanik dan
1% oleh tanah longsor yang terjadi dalam tubuh air (danau atau laut) maupun
longsoran dari darat yang masuk ke dalam tubuh air. Berdasarkan terjadinya
gempa bumi tektonik sangat berpotensi terjadinya tsunami.
2.2.3 Dampak Bencana Tsunami
9

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Kerusakan dan kehancuran karena tsunami merupakan hasil langsung


dari tiga faktor: banjir bandang, dampak gelombang terhadap struktur dan erosi.
Sementara korban jiwa muncul karena tenggelamnya orang-orang dan dampak
fisik atau trauma disebabkan terjebaknya korban dalam golakan gelombang
tsunami yang membawa puing-puing. Arus kuat yang disebabkan oleh tsunami
menyebabkan terjadinya erosi pada pondasi dan rubuhnya jembatan atau
dinding air laut. Intinya dampak dari bencana tsunami adalah:
1.

Banjir dan gelombang pasang

2.

Merusak gedung, sarana dan prasarana sebagai akibat dari hantaman


gelombang

3. Korban jiwa maupun luka-luka (umumnya timbul akibat terseret arus dan
hantaman benda-benda yang terbawa arus)
4. Pencemaran air
5. Pengungsian, sebagai akibat dari rusaknya rumah-rumah penduduk atau
adanya bahaya yang dapat terjadi jika tetap berada dilokasi kejadian
6.

Menambah tingkat kemiskinan dikarenakan kehilangan segalanya


Selain dampak negatif, tsunami juga berdampak positif yaitu:
1. Bencana alam merenggut banyak korban, sehingga lapangan pekerjaan
menjadi terbuka luas bagi yang masih hidup
2.

Menjalin kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban


bencana, menimbulkan efek kesadaran bahwa manusia itu saling
membutuhkan satu sama lain

3. Kita bisa mengetahui sampai dimanakah kekuatan konstruksi bangunan


kita serta kelemahannya dan dapat melakukan inovasi baru untuk
penangkalan apabila bencana tersebut datang kembali tetapi dengan
konstruksi yang lebih baik
2.2.4 Mitigasi Bencana Tsunami
Untuk mengurangi kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh tsunami,
maka daerah pesisir pantai perlu mendapatkan perlindungan. Namun
perlindungan secara fisik hampir tidak mungkin untuk dilakukan karena akan
10

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

memerlukan biaya yang sangat besar. Konstruksi pelindung hanya akan


berfungsi secara efektif untuk melindungi teluk yang mempunyai mulut tidak
terlalu lebar. Konstruksi pelindung harus kuat untuk menerima tekanan
gelombang tsunami, disamping cukup tinggi untuk menghindarkan limpasan
gelombang. Cara yang lebih efektif adalah dengan melatih penduduk dalam
menghadapi tsunami dan menghindarkan pembangunan konstruksi di daerah
yang sering diserang tsunami. Selain itu yang dapat dilakukan adalah:
1. Pembangunan sistem peringatan dini
2. Pembangunan bangunan pemecah ombak
3. Penanaman hutan pantai (mangrove/bakau)
4. Peningkatan pengetahuan dan kapasitas masyarakat
5. Mengadakan simulasi
6.

Relokasi daerah pemukiman yang rawan tinggi terhadap ancaman


tsunami

7. Membuat jalan atau lintasan untuk menyelamatkan diri dari tsunami


8.

Menanami daerah pantai dengan tanaman yang secara efektif dapat


menyerap energi gelombang seperti mangrove

2.2.5 Tindakan pada Saat Terjadi Tsunami


Sangatlah disarankan pada saat terjadinya bencana tsunami, tindakan
yang sangat dianjurkan adalah:
1. Bergerak ke tempat yang lebih tinggi
2. Hindari pantai (jangan menangkap ikan karena air surut)
3.

Tetap berada di tempat yang aman sampai benar-benar surut atau


sampai bantuan tiba

2.3 Pendekatan Sistem Informasi Geografi (SIG)


2.3.1 Definisi SIG
Sistem Informasi Geografi ini sangat berkaitan dengan banyak disiplin
ilmu seperti teknologi informasi, survei dan fotogrametri, kartografi, sosio
ekonomi dan geografi yang masing-masing memiliki sudut pandang yang
11

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

berbeda. Oleh karena itu, definisi yang mencakup keseluruhan aspek dan dapat
diterima semua pihak secara memuaskan sangat sulit untuk dirumuskan,
sehingga definisi yang ada hingga saat ini masih menurut sudut pandang
disiplin ilmunya masing-masing.
Menurut

Burrough

(1986)

dalam

Hasan,

Rahmad

dkk

(2009)

mengemukakan bahwa SIG adalah seperangkat alat (tools) yang bermanfaat


untuk pengumpulan, penyimpanan, pengambilan data yang dikehendaki,
pengubahan dan penayangan data keruangan yang berasal dari gejala nyata di
permukaan bumi. Sedangkan menurut Arronof (1989) dalam Hasan, Rahmad
dkk (2009) mendefinisikan SIG sebagai suatu sistem berbasis komputer yang
memberikan empat kemampuan untuk menangani data bereferensi geografis
yakni pemasukan, pengelolaan atau manajemen data (penyimpanan dan
pengaktifan kembali), manipulasi dan analisis dan keluaran. Secara umum SIG
adalah

sistem

manual

dan

atau

komputer

yang

digunakan

untuk

mengumpulkan, menyimpan, mengelola dan menghasilkan informasi yang


mempunyai rujukan spasial atau geografi.
2.3.2 Pemanfaatan SIG dalam Manajemen Bencana
SIG

sebagaimana

dijelaskan

di

atas,

banyak

berperan

dalam

manajemen bencana. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan SIG dalam
manajemen bencana sebagai berikut (Supriyatno, Makmur: 2016):
1. Membantu memetakan potensi terjadinya bencana
2. Membantu dan mempermudah dalam perencanaan dan pelaksanaan
mitigasi bencana
3. Mempercepat dalam menentukan lokasi/letak/potensi bencana
4. Mempercepat dalam menentukan luasan bencana
5. Mempercepat dalam menentukan keterjangkauan/aksesibilitas dari dan
ke lokasi bencana
6. Membantu

dan

mempermudah

masyarakat yang terkena bencana

12

dalam

mengidentifikasi

demografi

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

7. Membantu

dan

mempermudah

dalam

mengidentifikasi

tingkat

perekonomian masyarakat yang sedang terkena bencana


8. Mempermudah mengidentifikasi adat istiadat, kebiasaan dan budaya
masyarakat yang sedang terkena bencana
9. Membantu mempermudah dalam manajemen penanggulangan bencana

Gambar 2.3 Manfaat SIG dalam Penanggulangan Bencana


Sumber: Supriyatno, Makmur (2016)
2.3.3 Penggunaan SIG untuk Pemetaan Bencana
Untuk mengetahui daerah rawan bencana, sistem informasi geografi
(SIG) dapat membantu menentukan wilayahnya, sehingga dapat mengurangi
dan bersiaga terhadap ancaman bencana tersebut. SIG juga dapat digunakan
dalam menentukan prioritas utama wilayah untuk penanggulangan bencana
dengan memetakan daerah yang sangat rawan bencana, bangunan yang
rawan tergenang bencana, serta penduduk yang terpapar bencana. Hal ini
13

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan mitigasi sehingga wilayah tersebut siap


menghadapi bencana berikutnya.

2.4 Software InaSAFE BNPB


Pemetaan wilayah rawan bencana tsunami ini juga menggunakan
software InaSAFE. InaSAFE adalah perangkat lunak gratis dan terbuka yang
menyediakan cara efektif untuk menggabungkan data dari para ilmuwan,
pemerintah daerah dan masyarakat untuk memberikan wawasan kemungkinan
dampak dan peristiwa bencana yang akan datang. Tampilan InaSAFE ini
berupa skenario ancaman yang realitas bersifat ilmiah, logis dan data terbaru
yang berkaitan untuk sumber ancaman dan elemen keterpaparannya.
InaSAFE telah dikembangkan sebagai plugin Quantum GIS dimana
pengguna tidak hanya dapat menyelesaikan analisis dampak bencana, tetapi
juga

melakukan

analisis

geografis

lebih

lanjut

dengan

menggunakan

seperangkat alat Quantum GIS yang tersedia. Perangkat lunak ini telah
didesain dengan sangat sederhana sehingga pengguna membuat dan
membaca peta dampak dengan mudah sebagai informasi rencana kontijensi
(AIFDR, 2015).
2.4 Bencana Tsunami di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pada tanggal 12 desember 1992, Maumere (Kabupaten Sikka) dilanda
gempa dengan kekuatan 6,8 SR yang menyebabkan terjadinya tsunami di
Pantai Utara (Laut Flores) mengakibatkan sekitar 2.100 orang meninggal dunia.
Gempa tersebut disebabkan oleh penunjaman antara Lempeng Eurasia dan
Lempeng Indo-Australia yang terletak di sisi utara Maumere.
Korban terbanyak berasal dari penduduk yang tinggal di pulau-pulau di
teluk Maumere, seperti Pulau Pemanaa, Pulau Besar, dan Pulau Babi.

BAB III
14

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat :
a. Laptop
b. Aplikasi Quantum GIS dan plugin InaSAFE
3.1.2 Bahan :
a. Data Tsunami Maumere dari InaSAFE
3.2 Lokasi
Lokasi tsunami yang terjadi yaitu di Teluk Maumere, Kabupaten Sikka,
Provinsi Nusa Tenggara Timur
3.3 Langkah Kerja
3.3.1 Menginstall Quantum GIS
a. Buka folder dimana menyimpan file instalasi QGIS.

b. Jalankan file instalasi tersebut.


c. Klik Next.
d. Klik I Agree untuk setuju dengan syarat dan ketentuan yang
berlaku.
e. Pada window berikutnya anda akan ditanyakan dimana anda akan
menginstall QGIS. Pada kasus umum, pengaturan awal yang ada
sudah dapat digunakan.
f. Klik Next.
15

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

g. Pada jendela berikutnya, klik Install tanpa menchecklist apapun


yang ada di dalam kotak.
h. QGIS akan memulai untuk menginstall. Ini mungkin akan
membutuhkan beberapa waktu untuk selesai.
i. Klik Finish untuk menyelesaikan instalasi.
j. Sekarang QGIS dapat dibuka dari Start Menu dan digunakan
sesuai kebutuhan.

3.3.2 Menambahkan plugin InaSAFE


QGIS mempunyai beberapa menu utama, akan tetapi masih
membutuhkan plugin tambahan untuk menambah fungsi dari
software ini. Plugin tersebut tidak berbayar dan terdapat berbagai
macam

pilihan

menggunakannya

plugin

yang

hanya

disediakan

perlu

untuk

terhubung

QGIS,

dengan

untuk

internet,

mengunduh kemudian menginstallnya.

Untuk mengunduh plugin, pilih dan klik Plugins > Fetch Python
Plugins. Perintah ini akan membuka jendela baru dimana QGIS akan
16

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

menampilkan plugin yang tersedia di repository dan akan terlihat


daftar plugin yang bisa diunduh.
a. Pilih dan klik Plugins > Fetch Python Plugins kemudian ketik
InaSAFE pada kotak penyaringan pencarian.
b. Pilih InaSAFE Plugin dari daftar dan klik Install plugin.
c. Ini akan membutuhkan beberapa menit untuk mengunduhnya.
d. Ketika hasil unduhan kita telah selesai akan muncul jendela
konfirmasi. Klik Ok.
e. Klik Close pada jendela Fetch Plugins.

f. Sekarang plugin InaSAFE telah diunduh dan diaktifkan. Plugin


yang sudah diunduh bisa diaktifkan maupun di nonaktifkan
melalui menu Plugins > Manage Plugins. Untuk mengaktifkan
plugin dapat dilakukan dengan cara mencentang kotak di
samping kiri dari tiap plugin kemudian klik Ok.
3.3.3 Running Data InaSAFE
a. Buka aplikasi Quantum GIS

b. Setelah terbuka akan muncul tampilan sebagai berikut.


17

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

c. Pilih dan klik open, kemudian cari data lokasi kejadian bencana
dari InaSAFE yang telah disimpan sebelumnya, pilih file dengan
ekstensi .qgs kemudian klik open.

d. Selanjutnya akan muncul data seperti gambar berikut.

e. Centang data yang akan dianalisis pada bagian Layers Panel.

18

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

f. Karena pada peta yang muncul tidak ada nama daerahnya (peta
buta)

sehingga

akan

mempersulit

analisis,

maka

harus

ditambahkan layer untuk penamaan lokasi di daerah terdampak.


Klik Add Vector Layer pada bagian kiri Layer Panels hingga
muncul tampilan seperti gambar berikut ini.

g. Pilih dan klik Navigasi, kemudian cari file Indo_admin dari


InaSAFE yang telah disimpan sebelumnya, pilih file dengan
ekstensi .shp kemudian klik open.

19

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

h. Setelah muncul gambar seperti di bawah ini, pilih dan klik open.

i. Karena warna layer Indo_admin menimpa layer banjir yang


sebelumnya ditampilkan, maka warnanya harus diubah menjadi
transparan. Klik kanan pada layer Indo_admin kemudian pilih
Properties hingga muncul tampilan seperti gambar berikut.

20

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

j. Pilih Simple fill kemudian pada bagian Colors pilih Fill yang
Transparant selanjutnya klik Apply kemudian Ok.

k. Muncul tampilan seperti di bawah ini.

l. Langkah selanjutnya adalah memberi nama lokasi di daerah


terdampak. Pilih Layer Labeling Setting hingga muncul tampilan
seperti gambar berikut.

21

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

m. Ganti No. Labels menjadi Show Labels for This Layer. Pada
bagian Label With pilih DESA. Kemudian pilih dan klik Buffer,
pada bagian Text Buffer centang Draw Text Buffer. Pilih dan klik
Ok.

n. Tampilan peta akan jadi seperti berikut.

o. Selanjutnya dapat mulai menjalankan plugin InaSAFE. Pada


bagian InaSAFE 3.4.2 yang terletak di bagian kanan layar, kita
dapat memilih Question : In the event of, How Many, Might, dan
Aggregate Result by yang kita inginkan. Pada bagian laporan ini
Question : In the event of yang akan digunakan adalah A Flood in
Jakarta Like 2013, How Many

yang ingin diketahui adalah

Population, Might yang ingin diketahui adalah Need Evacuation


dan Aggregate Result by yang digunakan adalah Entire Area.
22

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Pengguna InaSAFE bisa memilih pilihan lain sesuai kebutuhan


masing-masing. Setelah pemilihan data-data yang diinginkan
selesai, kemudian pilih dan klik Run, maka proses analisis dan
penghitungan akan berjalan. Waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan proses ini tergantung kemampuan Laptop yang
digunakan dan besaran data yang dimiliki InaSAFE untuk
kejadian bencana tersebut.

p. Setelah proses analisis dan penghitungan selesai maka akan


muncul hasil seperti pada gambar berikut ini.

23

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

q. Untuk mengeluarkan data hasil penghitungan pilih dan klik Print.


Selanjutnya akan muncul Impact Report seperti gambar berikut
ini.

r. Pada bagian Template to Use dapat dipilih ukuran dan orientasi


kertas yang diinginkan, apakah ingin ukuran A3 atau A4
kemudian apakah ingin landscape atau portrait. Setelah memilih
Template to Use yang diinginkan, pilih dan klik Open PDF hingga
muncul

tampilan

berikut.

Pilih

lokasi

penyimpanan

yang

diinginkan kemudian pilih dan klik Save. Hasil analisis dan


penghitungan oleh InaSAFE akan tersimpan dalam bentuk file
dengan ekstensi .pdf.

24

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

s. Hasil analisis akan otomatis dibuka setelah disimpan. Hasil


analisis berbentuk peta akan ditampilkan seperti gambar berikut
ini.

t. Sedangkan data hasil penghitungan akan ditampilkan seperti


gambar berikut ini.

25

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

u. Data yang telah disimpan tersebut dapat langsung dicetak


dengan cara yang sama dengan cara mencetak file PDF pada
umumnya .

v. Setelah dicetak, dapat langsung dilakukan analisis pada data


tabel dan peta yang dihasilkan dari program Quantum GIS dan
plugin InaSAFE. Pada bagian tabel akan terdapat beberapa data
yang bisa digunakan yaitu:

Analysis Result

Actions Checklist

Notes and assumptions

Jumlah hasil penghitungan seperti: closed roads, closed


buildings,

detailed

gender

report

(affected

people),

detailed age report (affected people), detailed minimum


needs report (affected people), dll.

Analysis Details

26

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kabupaten Sikka


4.1.1 Letak Geografis dan Administratif
Kabupaten Sikka terletak pada garis lintang 8p 22 sampai 8p 50LS dan
garis bujur 121p 5140 sampai 122p 4130 BT. Kabupaten ini merupakan
bagian dari wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di wilayah
Flores.
Kabupaten Sikka merupakan daerah kepulauan yaitu ada 10 pulau yang
masuk ke dalam wilayah Kabupaten Sikka selain daratan Flores. Luas total
wilayah darat Kabupaten Sikka adalah 173,91 KM 2 yaitu 7.436,10 Km2 terdiri
dari luas daratan (Pulau Flores) 1.614,80 Km 2 dan pulau-pulau (17 buah)
117,11 Km2 dan luas lautan 5.821,33 Km2.
Batas administratif pemerintahan Kabupaten Sikka yaitu (Pemda
Kabupaten Sikka Tahun 2007):
1. Sebelah Barat

Kabupaten Ende

2. Sebelah Timur

Kabupaten Flores Timur

3. Sebelah Utara

Kabupaten Flores

4. Sebelah Selatan

Kabupaten Sawu

4.1.2 Kepadatan dan Sebaran Populasi


Berdasarkan hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2014, jumlah
penduduk Kabupaten Sikka adalah 290,742 jiwa dengan Kecamatan Alok dan
Alok Timur paling cepat pertumbuhan penduduknya karena statusnya sebagai
pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Sikka. Tabel 4.1 di
bawah menampilkan sebaran jumlah populasi dan kepadatan per km 2 pada
setiap kecamatan di Kabupaten Sikka.
27

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Tabel 4.1 Sebaran Populasi dan Kepadatan Per Kecamatan


NO.

Nama Kecamatan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.

Paga
Tanawawo
Mego
Lela
Bola
Doreng
Mapitara
Talibura
Waiblama
Waigete
Kewapante
Hewokloang
Kangae
Nelle
Koiting
Palue
Nita
Magepanda
Alok
Alok Barat
Alok Timur
Total
Sumber: Pemda Kabupaten Sikka, 2014

Jumlah

Luas Wilayah

Kepadatan

Populasi
15.706
11.384
14.799
12.019
11.709
10.960
6.459
18.558
6.758
19.507
13.085
8.378
16.124
5.705
6.423
10.227
22.400
12.020
29.758
14.267
28.888
295.134

(Km2)
82,85
79,78
111,26
31,33
56,83
30,41
81,02
260,11
144,36
217,65
24,14
17,58
38,43
14,65
23,56
41
141,07
166,15
14,64
62,75
92,34
1.731,91

Per Km2
189,57
142,69
133,01
383,63
206,04
360,41
79,72
71,35
46,81
89,63
542,05
476,56
419,57
389,42
272,44
249,44
158,79
72,34
2.032,65
227,36
312,84
170,41

4.2 Hasil dan Pembahasan


4.2.1 Hasil Bangunan Tergenang Tsunami
Dengan menggunakan aplikasi Quantum GIS dan data tsunami di
Maumere dari software INASAFE untuk menganalisis dampak bencana tsunami
terhadap bangungan atau pemukiman, dampak bencana tsunami terhadap
jalan dan dampak bencana tsunami terhadap populasi atau masyarakat
Kabupaten Sikka. Dihasilkan peta dan jumlah bangunan atau pemukiman
dampak bencana tsunami terhadap jalan dan dampak bencana tsunami
terhadap populasi atau masyarakat Kabupaten Sikka peta dan tabel di bawah
ini:

28

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Gambar 4.1 Peta Bangunan yang Tergenang


4.2.2. Pembahasan Bangunan Tergenang Tsunami
Berdasarkan

pemahaman

peta

bangunan

yang

tergenang

dan

disesuaikan dengan tabel InaSAFE maka didapatkan data sebaga berikut:


1.

Wilayah kering sebanyak 1.410 unit. Wilayah ini didefinisikan sebagai


wilayah yang tidak tergenang atau yang memiliki kedalaman genangan 0
m

2.

Wilayah dengan area ancaman rendah sebanyak 853 unit. Wilayah


didefinisikan dengan kedalaman genangan lebih dari 0 m tetapi kurang
dari 1,0 m

3.

Wilayah dengan area ancaman menengah sebanyak 683 unit. Wilayah


ini didefinisikan dengan kedalaman genangan lebih dari 1,0 m tetapi
kurang dari 3,0 m

4.

Wilayah dengan area ancaman tinggi sebanyak 568 unit. Wilayah ini
didefinisikan dengan kedalaman genangan lebiih dari 3,0 m tetapi kurang
dari 8,0 m

5.

Wilayah dengan ancaman sangat tinggi sebanyak 149 unit. Wilayah ini
didefinisikan dengan kedalaman genangan lebih dari 8,0 m

6. Jumlah bangunan terdampak sebanyak 2.253 unit. Bangunan ini ditutup


karena wilayah ancaman tsunami rendah, menengah, tinggi atau sangat
tinggi meliputi desa Kota Uneng sebanyak 506 unit, desa Wolomarang
sebanyak 406 unit, desa Waioti sebanyak 311 unit, desa Wairotang
29

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

sebanyak 194 unit, desa Kota Baru sebanyak 142 unit, desa Beru
sebanyak 134 unit, desa Wailiti sebanyak 133 unit, desa Geliting
sebanyak 121 unit, desa Watumilok sebanyak 69 unit, desa Tanaduen
sebanyak 49 unit, desa Namangkewa sebanyak 44 unit, desa Waiara
sebanyak 35 unit, desa Habi sebanyak 29 unit, desa Kabor sebanyak 25
unit, desa Langir sebanyak 17 unit, desa Wairkoja sebanyak 15 unit,
desa Nangameting sebanyak 9 unit, desa Watuliwung sebanyak 6 unit.
4.2.3 Hasil Jalan yang Tergenang Tsunami
Dari tabel InaSAFE didapatkan wilayah kering seluas 263,481 m, wilayah
ancaman rendah seluas 8,909 m, wilayah ancaman menengah seluas 5,596 m,
wilayah ancaman tinggi seluas 4,109 m dan wilayah dengan ancaman sangat
tinggi seluas 1,125 m. Petanya ditampilkan sebagai berikut:

Gambar 4.2 Peta Jalan yang tergenang di Kabupaten Sikka


4.2.4 Pembahasan Jalan yang Tergenang Tsunami
Berdasarkan

pemahaman

peta

bangunan

yang

tergenang

dan

disesuaikan dengan tabel InaSAFE maka didapatkan data sebagai berikut:


1. Wilayah kering sebanyak 161,872 m. Wilayah ini didefinisikan sebagai
wilayah yang tidak tergenang atau yang memiliki kedalaman genangan 0 m
2.

Wilayah dengan area ancaman rendah sebanyak 8,850 m. Wilayah


didefinisikan dengan kedalaman genangan lebih dari 0 m tetapi kurang dari
1,0 m
30

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

3. Wilayah dengan area ancaman menengah sebanyak 5,505 m. Wilayah ini


didefinisikan dengan kedalaman genangan lebih dari 1,0 m tetapi kurang
dari 3,0 m
4. Wilayah dengan area ancaman tinggi sebanyak 4,023 m. Wilayah ini
didefinisikan dengan kedalaman genangan lebiih dari 3,0 m tetapi kurang
dari 8,0 m
5. Wilayah dengan ancaman sangat tinggi sebanyak 1,125 m. Wilayah ini
didefinisikan dengan kedalaman genangan lebih dari 8,0 m
6. Jumlah bangunan terdampak sebanyak 181,377 m. Bangunan ini ditutup
karena wilayah ancaman tsunami rendah, menengah, tinggi atau sangat
tinggi meliputi desa Kota Uneng sebanyak 4,087 m, desa Wolomarang
sebanyak 1,766 m, desa Waioti sebanyak 2,075 m, desa Wairotang
sebanyak 1,766 m, desa Kota Baru sebanyak 1,105 m, desa Beru
sebanyak 1,169 m unit, desa Wailiti sebanyak 2,097 m, desa Geliting
sebanyak 738 m, desa Watumilok sebanyak

465 m, desa Tanaduen

sebanyak 391 m, desa Namangkewa sebanyak 310 m, desa Waiara


sebanyak 1,070 m, desa Habi sebanyak 1,114 m, desa Kabor sebanyak
448 m, desa Langir sebanyak 82 m, desa Wairkoja sebanyak 158 m, desa
Nangameting sebanyak 310 m, desa Watuliwung sebanyak 196 m.

4.2.5 Hasil Populasi yang Terdampak Tsunami


Petanya ditampilkan sebagai berikut:

31

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Gambar 4.4 Peta Penduduk yang Terdampak


4.2.6 Pembahasan Populasi atau Penduduk yang Terdampak Tsunami
Berdasarkan

pemahaman

peta

bangunan

yang

tergenang

dan

disesuaikan dengan tabel InaSAFE maka didapatkan data sebagai berikut:


1. Jumlah penduduk yang terdampak sebanyak 28.100 orang
2. Jumlah penduduk yang tidak terdampak sebanyak 93.000 orang
3. Jumlah penduduk yang perlu dievakuasi sebanyak 28.100 orang
Dari jumlah penduduk yang terdampak dan yang perlu dievakuasi diperlukan
kebutuhan minimal penduduk yaitu:
1. Jamban/toilet sebanyak 1.405 unit
2. Kebutuhan beras sebanyak 78.675 kg
3. Kebutuhan air minum sebanyak 491.715
4. Kebutuhan air bersih sebanyak 1.882.566
5. Kebutuhan perlengkapan rumah tangga sebanyak 5.620

BAB V
PENUTUP
32

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

5.1 Kesimpulan
Dari penulisan makalah ini disimpulkan bahwa berdasarkan data
bangunan yang tergenang bencana tsunami, luasnya jalan yang tergenang
bencana tsunami dan banyaknya populasi atau penduduk yang terdampak
bencana tsunami, wilayah Kabupaten Sikka adalah benar wilayah dengan
tingkat risiko bencana tsunami yang tinggi. Hal ini dikarenakan kondisi
geografisnya yang terletak di antara Lempeng Eurasia dan Lempeng IndoAustralia, posisi sebaran desa dan pemukiman berada dekat dengan pantai,
kepadatan penduduk yang cukup tinggi dibandingkan dengan Provinsi lainnya.
5.2 Saran
Berdasarkan peta rawan yang telah dihasilkan dengan pemanfaatan
GIS, dapat disarankan bahwa pemerintah Kabupaten Sikka harus lebih
memfokuskan

kesiapsiagaan

dan

mitigasi

dengan

dipengaruhi

jumlah

penduduk yang tinggi dan mempunyai kerentanan yang tinggi sehingga harus
diikuti dengan peningkatan kapasitas dalam menghadapi bencana tsunami.
Pemerintah juga harus meningkatkan pembangunan yang berbasis lingkungan
untuk mengurangi dan menjauhkan masyarakat dari ancaman bencana
tsunami.

DAFTAR PUSTAKA
33

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Anonim. (2012). Cilacap di Bawah Bayang-Bayang Bencana Tsunami. Koran


Antara Jateng.
Arronof dalam Hasan, Rahmad dkk (2009). Pengembangan Rute Jalur
Evakuasi Bencana Banjir di Kota Gorontalo dengan memanfaatkan
Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG). Program Studi Geografi
Jurusan Fisika. Universitas Negeri Gorontalo
AIFDR (2015). InaSAFE Documentation Rilis 2.2.0. AIFDR-BNPB
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2012). Masterplan
Pengurangan Risiko Bencana Tsunami
Bakornas PB. (2007) dalam
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41377/4/Chapter%20II.pdf
di akses tanggal 18 Juli 2016
BNPB 2012 dalam
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41377/4/Chapter%20II.pdf
di akses tanggal 18 Juli 2016
Burrough dalam Hasan, Rahmad dkk (2009). Pengembangan Rute Jalur
Evakuasi Bencana Banjir di Kota Gorontalo dengan memanfaatkan
Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG). Program Studi Geografi
Jurusan Fisika. Universitas Negeri Gorontalo
Fauzi. Dalam Sengaji, Ernawati dan Nababan, Bisman. (2009). Pemetaan
Tingkat Resiko Tsunami di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. EJurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol.1 No.1 Hal.48-61
Harsanugraha, W. (2008). Analisa Pemodelan Tsunami dengan Pembuatan
Peta Kerawanan dan Jalur Evakuasi dari Turunan SRTM90 (Studi Kasus:
Kota Padang). Proceedings Pertemuan Ilmiah Tahunan Masyarakat
Penginderaan Jauh XVI. Bandung 10 Desember 2008. p:578-593
Jordan, B. dalam Santius, S.Hidayatullah. (2015). Pemodelan Tingkat Risiko
Bencana Tsunami pada Permukiman di Kota Bengkulu Menggunakan
Sistem Informasi Geografis. Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman.
Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

34

Tugas UAS Sistem Informasi Geografi


Dosen - Ketut Sunarga, M.sc

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama


(LPBI NU): Santri Siaga Bencana Nahdlatul Ulama - Dari Korban menjadi
Penyelamat
Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2007
Perka BNPB No.8 tahun 2011
Supriyatno, Makmur. (2016). Map and Disater Manajemen. Bahan Paparan
Kuliah Geographic Information System. Prodi Manajemen Bencana Cohord
6
Triatmodjo, B. (2008). Teknik Pantai. Beta Offset. Yogyakarta
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=69486=UQeeIh00.IE Diakses
tanggal 10 Juli 2016

35