Anda di halaman 1dari 14

Keluarga Binaan Pasien dengan Penyakit Tuberkulosis

Alvivin
11.2014.294
Dokter Muda Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta

I.

Identitas pasien :
Nama

: Tn. E

Umur

: 60 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

II.

Pekerjaan

: Pengangguran

Pendidikan

: SD

Alamat

: Desa Dukuh Karya

Psikologis keluarga
a. Kebiasaan buruk

: Tidak ada

b. Pengambilan keputusan

: Ketua keluarga

c. Ketergantungan obat

: Tidak ada

d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: Puskesmas


e. Pola rekreasi
III.

: Kurang

Keadaan rumah/ lingkungan


a. Jenis bangunan

: Semi permanen

b. Lantai rumah

: Semen dan Lantai

c. Luas rumah

: 28 m2 (7m x 4m)

d. Penerangan

: Baik

e. Kebersihan

: Kurang

f. Ventilasi

: Cukup

g. Dapur

: Ada

h. Jamban keluarga

: Ada

i. Sumber air minum

: Air sumur

j. Sumber pencemaran air

: Tidak Ada

k. Sistem pembuangan air limbah

: Tidak Ada
1

IV.

V.

VI.

VII.

l. Tempat pembuangan sampah

: Tidak Ada

m. Sanitasi lingkungan

: Sedang

Spiritual keluarga
a. Ketaatan beribadah

: Cukup

b. Keyakinan tentang kesehatan

: Cukup

Keadaan sosial keluarga


a. Tingkat pendidikan

: Rendah

b. Hubungan antar anggota keluarga

: Baik

c. Hubungan dengan orang lain

: Baik

d. Kegiatan organisasi sosial

: Kurang

e. Keadaan ekonomi

: Kurang

Kultural keluarga
a. Adat yang berpengaruh

: Sunda

b. Lain-lain

: Tidak ada

Anggota keluarga :
1

Keterangan
1. Os

: Usia 60 tahun, mempunyai riwayat TBC

2. Istri Os

: Usia 50 tahun, tidak mempunyai riwayat TBC

3. Anak Os

: Laki-laki, 25 tahun, tidak mempunyai riwayat TBC

4. Anak Os

: Laki-laki, 20 tahun, tidak mempunyai riwayat TBC


2

VIII. Keluhan utama :


Batuk darah selama 3 minggu
IX.

Keluhan tambahan :
Batuk-batuk sejak 2 bulan, demam, lemas dan berat badan menurun

X.

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang berobat ke Puskesmas keliling dengan keluhan batuk darah selama 3
minggu. OS mengaku batuk sejak 2 bulan yang lalu disertai dahak berwarna kuning
kehijauan dan sejak 3 minggu ini dahak disertai darah. OS juga mengeluh sering
demam meriang, badan sering lemas dan berat badan dirasakan semakin menurun.OS
mengatakan tidak ada riwayat TBC atau penyakit lain pada OS dan keluarga. Riwayat
alergi terhadap obat-obat tertentu ataupun makanan disangkal oleh OS.

XI.

Riwayat penyakit dahulu :


Tidak ada

XII.

Pemeriksaan fisik :
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Frekuensi nadi : 86 x/menit
Frekuensi napas: 20 x/menit
Suhu

: 37,2oC

BB

: 48 kg

Pemeriksaan umum
Kepala

: Normosefali

Mata

: Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-)

Hidung

: Septum deviasi (-)

Telinga: Normotia, Tidak tampak kelainan


Leher

: Tidak teraba pembesaran KGB regional, kelenjar tiroid


3

tidak tampak membesar.


Paru

: Suara napas Rhonki (+/+), Wheezing (-/-)

Jantung

: Bunyi jantung I dan II reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen

: Tampak datar, teraba supel, Bising usus (+) N, Nyeri


tekan (-)

Ekstremitas

: Bentuk normal, varises (-), Edema (-)

XIII. Diagnosis penyakit :


Sistemik : Tuberkulosis paru
Jiwa

: Tidak ada

XIV. Diagnosis keluarga : tidak ada


XV.

Anjuran penatalaksanaan penyakit

a. Promotif : pengobatan TBC di Puskesmas secara rutin selama 6 bulan


b. Preventif : mengajarkan cara batuk dan meludah yang benar, mengkonsumsi
makanan bergizi yaitu empat sehat lima sempurna, menghindari rokok,
berolahraga dan istirahat yang teratur dan menghindari stres.
c. Kuratif

: terapi medikamentosa :
-

Obat Anti Tuberculosis (OAT) :

1. Fase awal : 2 bulan setiap hari


a. Rifampicin 3 x 150mg
b. INH 3 x 75mg
c. Pyrazinamid 3 x 400mg
d. Ethambutol 3 x 275mg
2. Fase lanjutan : 4 bulan setiap 3 kali/minggu
a. Rifampicin 3 x 150mg
b. INH 3 x 150mg
d. Rehabilitatif

: hindari kontak dengan penderita TBC

XVI. Prognosis
Penyakit

: dubia ad bonam

Keluarga

: dubia

Masyarakat

: dubia

XVII. Resume

Telah diperiksa seorang pasien Laki-laki Tn. E berusia 60 tahun dengan keluhan utama batuk
darah selama 3 minggu. OS mengaku batuk sejak 2 bulan yang lalu disertai dahak berwarna
kuning kehijauan dan sejak 3 minggu ini dahak disertai darah. OS juga mengeluh sering
demam meriang, badan sering lemas dan berat badan dirasakan semakin menurun. Suara
nafas rhonki (+/+). Riwayat TBC, penyakit lain, alergi obat dan makanan disangkal oleh OS.
Pemeriksaan Fisik : BB = 48 kg
Diagnosis :Sistemik
Jiwa

: Tuberkulosis paru
: Tidak ada

Analisa Kasus
Berikut adalah pembahasan Tuberkulosis dengan pendekatan Kedokteran Keluarga
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada tanggal 22 Agustus 2016, didapatkan
bahwa pasien menderita tuberkulosis (TB). Pasien Laki-laki berusia 60 tahun. Pasien memberi

perhatian yang cukup baik akan keadaan kesehatan dirinya dan anggota keluarganya. Pasien
sudah tidak bekerja.
Rumah pasien tergolong rumah yang kurang sehat dilihat dari bahan bangunan rumah
lantai semen dengan luas 28m2 dan lingkungan tergolong padat. Penerangan tergolong cukup
dari listrik dan cahaya matahari. Kebersihan cukup, kondisi di dalam rumah cukup teratur.
Rumah pasien mempunyai dapur di dalam rumah dan diluar rumah mempunyai dapur kayu
untuk memasak air. Jamban tidak ada, sumber air minum berasal dari sumur. Perkarangan rumah
cukup dimanfaatkan dengan menanam pohon pisang. Sistem pembuangan air limbah tidak ada,
tempat pembuangan sampah tidak ada.
Pola makan pasien dan keluarga kurang bervariasi. Menu nasi dan sayur seadanya,
daging sangat jarang. Pasien juga kurang aktif mengikuti kegiatan sosial di lingkungannya,
seperti kegiatan keagamaan, kebersihan lingkungan, dan acara-acara yang diselenggarakan di
lingkungannya.
Ditinjau dari spiritual keluarga keluarga pasien merupakan keluarga yang cukup taat
beribadah beragama Islam. Keluarga pasien yang lain sehat dan tidak mengidap penyakit apapun
baik yang diderita secara per orangan maupun yang memungkinkan untuk diturunkan.
Saat ini kondisi pasien sakit sedang. Pasien mengeluh batuk-batuk disertai darah, badan
terasa lemas dan berat badan menurun. Pasien sedang menjalani pengobatan regien tuberkulosis
enam bulan

dari puskesmas. Pasien patuh terhadap pengobatannya karena dia mempunyai

keinginan untuk sembuh. Selain itu, untuk mencapai tingkat kesehatan yang lebih optimal
hendaknya didukung pula oleh kondisi rumah yang lebih sehat, kebersihan diri yang lebih baik,
cukupnya asupan gizi, serta mengontrol pola makan dan berolah raga secara teratur.

BAB III
Tinjauan Pustaka
Tuberkulosis
Pendahuluan

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia.
Penyakit Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis dan merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian hampir di sebagian besar
negara diseluruh dunia. Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TB. Sepertiga
dari populasi duniasudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia
produktif (15-55tahun). Hal ini secara langsung juga berkaitan dengan economic lost yaitu
kehilangan pendapatan rumah tangga. Menurut WHO, seseorang yang menderita TB
diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 4 bulan. Bila meninggal
akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun.
Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009, pada tahun 2008 Indonesia berada
pada peringkat lima dunia penderita TB terbanyak setelah India, China, Afrika Selatan dan
Nigeria. Peringkat ini turun dibandingkan tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi
ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China.
Dunia

telah

menempatkan

TB

sebagai

salah

satu

indikator

keberhasilan

pencapaianMDGs. Secara umum ada empat indikator yang diukur, yaitu prevalensi, mortalitas,
penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan. Dari keempat indikator tersebut tiga indikator
sudah dicapai oleh Indonesia, angka kematian yang harus turun separuhnya pada tahun 2015
dibandingkan dengan data dasar (baseline data) tahun 1990, dari 92/100.000 penduduk menjadi
46/100.000 penduduk. Indonesia telah mencapai angka 39/100.000 penduduk pada tahun 2009.
Angka penemuan kasus (case detection rate) kasus TB BTA positif mencapai lebih 70%.
Indonesia telah mencapai angka 73,1% pada tahun 2009 dan mencapai 77,3% pada tahun 2010.
Angka ini akan terus ditingkatkan agar mencapai 90% pada tahun 2015 sesuai target RJPMN.
Angka keberhasilan pengobatan (success rate) telah mencapai lebih dari 85%, yaitu 91% pada
tahun2009.
Menurut Prof. Tjandra Yoga, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan tingginya
kasus TB di Indonesia. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (6 8 bulan) menjadi penyebab
penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (dropout ) setelah merasa sehat
meski proses pengobatan belum selesai. Selain itu, masalah TB diperberat dengan adanya
peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB
MDR (Multi Drugs Resistant). Masalah lain adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita
tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul.
7

Berdasarkan hasil survey tahun 2004, di Jawa Barat angka prevalensi TB paru
sebesar 960 per 100.000 penduduk, sedangkan di kabupaten Karawang, diperkirakan angka
penderita baru setiap tahun bertambah sebesar 2.295 kasus dengan prevalensi 110 per 100.000
penduduk (Program P2PM, P2 TB Paru Dinkes Kabupaten Karawang 2009). Strategi ini telah
diimplementasikan dan diekspansi di Indonesia secara bertahap keseluruh unit pelayanan.
Berbagai kemajuan telah dicapai,sampai di tahun 2005 strategi DOTS telah menjangkau 98%
puskesmas, akan tetapi strategi ini belum berjalan dengan baik di rumah sakit.1
Epidemiologi1
Jumlah kematian akibat penyakit tuberkulosis (TB) masih tinggi. Laporan Badan
Kesehatan Dunia (WHO) 2008 menyebutkan jumlah kematian akibat penyakit ini mencapai
88.113 orang. Sementara jumlah kasus TB adalah 534.439 orang.
Sejak penerapan strategi DOTS pada tahun 1995, Indonesia telah mencapai kemajuan
yang cepat. Angka penemuan kasus 71% dan angka keberhasilan pengobatan sebesar 88,44%.
Angka tersebut telah memenuhi target global yaitu angka penemuan kasus 70% dan keberhasilan
pengobatan 85% (Depkes RI 2010)
Sementara data TB dunia, tahun 2008 ini tercatat 9,2 juta kasus Dari jumlah itu, 1,7 juta
meninggal. Meski demikian jumlah tersebut memperlihatkan jumlah kasus TB menurun sejak
2003 (WHO, 2008).
Etiologi1
Bakteri Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang/basil dan bersifat tahan asam
sehingga dikenal juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Jenis bakteri ini pertama kali ditemukan
oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882. TB disebut juga Koch Pulmonum (KP).
Patofisiologi2
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di
dalam paru-paru meliputi: penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di
sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya
area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh
karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi
8

yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi
yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.
Manifestasi Klinis2
a) Tuberkulosis paru
Pada awalnya penderita hanya merasakan tidak sehat atau batuk yang lebih dari dua
minggu. Pada pagi hari batuk bisa disertai sedikit dahak bewarna hijau atau kuning. Jumlah
dahak biasanya akan bertambah banyak sejalan dengan perkembangan penyakit. Pada akhirnya,
dahak akan bewarna kemerahan karena mengandung darah.
Salah satu gejala yang paling sering ditemukan adalah berkeringat di malam hari.
Penderita sering terbangun di malam hari karena tubuhnya basah kuyup oleh keringat sehingga
pakaian atau bahkan sepreinya harus diganti.
Sesak nafas merupakan pertanda adanya udara (pneumotoraks atau cairan (efusi pleura)
di dalam rongga pleura. Sekitar sepertiga infeksi ditemukan dalam bentuk efusi pleura.
Pada infeksi tuberkulosis yang baru, bakteri pindah dari luka di paru-paru ke dalam
kelenjar getah bening yang berasal dari paru-paru. Jika sistem pertahanan tubuh alami bisa
mengendalikan infeksi, maka infeksi tidak akan berlanjut dan bakteri menjadi dorman. Pada
anak-anak, kelenjar getah bening menjadi besar dan menekan tabung bronkial dan menyebabkan
batuk atau bahkan mungkin menyebabkan penciutan paru-paru. Kadang bakteri naik ke saluran
getah bening dan membentuk sekelompok kelenjar getah bening di leher. Infeksi pada kelenjar
getah bening ini bisa menembus kulit dan menghasilkan nanah.

b) Tuberkulosis ekstrapulmonal

Bagian yang terinfeksi

Gejala atau komplikasi

Rongga perut

Lelah, nyeri tekan ringan, nyeri seperti


9

Kandung kemih
Otak

apendisitis
Nyeri ketika berkemih
Demam, sakit kepala, mual, penurunan
kesadaran, kerusakan otak yg menyebabkan

Perikardium
Persendian
Ginjal
Organ reproduksi pria
Organ reproduksi wanita
Tulang belakang

terjadinya koma
Demam, pelebaran vena leher, sesak nafas
Gejala yang menyerupai Arthritis
Kerusakan gijal, infeksi di sekitar ginjal
Benjolan di dalam kantung zakar
Kemandulan
Nyeri, kollaps tulang belakang dan
kelumpuhan tungkai

Tabel 1. Tuberkulosis pada berbagai organ

Diagnosis
Diagnosis TBC Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA
pada pemeriksaan dahak secaramikroskopis hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila
sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BAT hasilnya positif.Bila hanya 1 spesimen yang positif
perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaandahak SPS
diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TBC, maka penderita didiagnosis sebagai penderita
TBC positif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TBC maka pemeriksaan dahak SPS diulangi.
Apabila fasilitas memungkinkan maka dilakukan pemeriksaan lain misalnya biakan.Bila
ketiga spesimen dahak hasilnya negatif diberikan antibiotik spektrum luas ( misalnya
kotrimoksasol atau Amoksisilin)selama 1-2 minggu bila tida ada perubahan namun gejala klinis
tetap mencurigakan TBC ulangi pemeriksaan dahak SPS.Kalau hasil SPS positif diagnosis
sebagai penderita TBC BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif lakukan pemeriksaan foto
rontgen dada untuk mendukung diagnosis TBC. Bila hasil rontgen mendukung TBC didiagnosis
sebagai penderita TBC BTA negatif rontgen positif. Bila hasil rantgen tidak di dukung TBC
penderita tersebut bukan TBC. UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen penderita dapat dirujuk
untuk foto rontgen dada.
Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar nilus, paratrakeal,
dan mediastinum, atelektasis, konsolidasi, efusipieura, kavitas dan gambaran milier.
Bakteriologis, bahan biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu
10

cukup lama. Serodiagnosis, beberapa diantaranya dengan cara ELISA (Enzyime Linked
Immunoabserben Assay) untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase anti peroxidase
(PAP) untuk menentukan IgG spesifik. Teknik bromolekuler, merupakan pemeriksaan sensitif
dengan mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan dengan metode PCR (Polymerase Chain
Reaction). Uji serodiagnosis maupun biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau
tidak.
Tes tuberkulin positif, mempunyai arti :

Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak berkembang menjadi penyakit.
Menderita tuberkulosis yang masih aktif
Menderita TBC yang sudah sembuh
Pernah mendapatkan vaksinasi BCG
Adanya reaksi silang (cross reaction) karena infeksi mikobakterium atipik.

Terapi
a.

Promotif
i.

Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC

ii.

Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan,


cara pencegahan, faktor resiko

iii.
b.

Mensosialisasiklan imunisasi BCG di masyarakat.

Preventif
i.

Vaksinasi BCG

ii.

Menggunakan isoniazid (INH)

iii.

Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

iv.

Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara
dini.

c.

Kuratif
Pengobatan Penyakit TBC.

11

Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen, yaitu :


i.

Adanya komitmen politis dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh


menanggulangi TBC.

ii.

Diagnosis penyakit TBC melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis

iii.

Pengobatan TBC dengan paduan obat anti-TBC jangka pendek, diawasi secara
langsung oleh PMO (Pengawas Menelan Obat)

iv.

Tersedianya paduan obat anti-TBC jangka pendek secara konsisten.

v.

Pencatatan dan pelaporan mengenai penderita TBC sesuai standar.

Komplikasi2
Komplikasi Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis,TB ekstrapulmonal. Menurut
Dep.Kes (2003) komplikasi yang sering terjadi pada penderita TB Paru stadium lanjut: 1)
Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian
karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. 2) Kolaps dari lobus akibat retraksi
bronkial. 3) Bronkiectasis dan fribosis pada Paru. 4) Pneumotorak spontan: kolaps spontan
karena kerusakan jaringan Paru. 5) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang,
persendian, ginjal dan sebagainya. 6) Insufisiensi Kardio Pulmoner.
Daftar Pustaka
1. Zulfikri A, Bahar A. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 5.
Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesias, 2009 .h.
2230-472.
12

2. Perimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis. Pedoman Diagnosis dan Pedoman


Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta :
Indah Offset Citra Grafika . 2006 .h. 1620.

13

14