Anda di halaman 1dari 23

Referat

LABIRINITIS

Oleh :
Elsa Sundari
NIM. 1508434446

Pembimbing :
dr. Asmawati Adnan, SpTHT-KL

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2016

LABIRINITIS

I.

DEFINISI
Labirinitis adalah peradangan pada telinga bagian dalam atau labirin yang

disebabkan oleh virus atau bakteri.1 Infeksi pada telinga bagian dalam biasanya
disebabkan oleh virus dan jarang disebabkan oleh bakteri.2 Bakteri atau virus
dapat menyebabkan terjadinya peradangan akut pada labirin yang diakibatkan
karena adanya infeksi sistemik maupun infeksi lokal, selain itu proses autoimun
juga dapat menyebabkan terjadinya labirinitis.3
Inflamasi dapat mengganggu transmisi informasi sensori dari telinga ke
otak. Keluhan yang dapat terjadi antara lain adalah vertigo, pusing, gangguan
keseimbangan, gangguan penglihatan serta gangguan pendengaran.2 Labirinitis
bakteri sering disebabkan oleh komplikasi intratemporal dari radang telinga
tengah.1 Secara

klinis,

kondisi

keseimbangan dan pendengaran

ini

menyebabkan

terjadinya

gangguan

dan dapat mempengaruhi satu atau kedua

telinga.3
II.

ANATOMI TELINGA DALAM


Telinga dalam (Labyrinthus) terletak di dalam pars petrosa ossis

temporalis, medial terhadap telinga tengah, dan terdiri atas:4


1. Labyrinthus osseus, tersusun dari sejumlah rongga di dalam tulang
2. Labyrinthus membranaceus, tersusun dari sejumlah saccus dan ductus
membranosa di dalam labyrinthus osseus.

a. Labyrinthus Osseus
Labyrinthus osseus terdiri atas tiga bagian yaitu:4
1. Vestibulum
2. Kanalis semikularis
3. Koklea

Gambar 1. Anatomi labirin.3


Ketiganya merupakan rongga-rongga yang terletak di dalam substantia
kompakta tulang dan dilapisi oleh endosteum serta berisi cairan bening, yaitu
perilmfe yang di dalamnya terdapat labyrinthus membranaceus.
Vestibulum merupakan bagian tengah labyrinthus osseus, terletak posterior
terhadap koklea dan anterior terhadap kanalis semikularis. Pada dinding
lateralnya terdapat fenestra vestibuli yang ditutupi oleh basis stapedis dan
ligamentum annularenya, dan fenestra koklea yang ditutupi oleh membran
timpani sekundaria. Di dalam vestibulum terdapat sacculus dan utriculus
labyrinthus membranaceus.4

Ketiga kanalis semikularis, yaitu kanalis semikularis superior, posterior dan


lateral bermuara kebagian posterior vestibulum. Setiap kanalis mempunyai sebuah
pelebaran diujungnya disebut ampula. Kanalis bermuara ke dalam vestibulum
melalui lima lubang, salah satunya dipergunakan bersama oleh dua kanalis. Di
dalam kanalis terdapat duktus semikularis.4
Kanalis semikularis superior terletak vertikal dan terletak tegak lurus terhadap
sumbu panjang os petrosa. Kanalis semikularis posterior juga vertikal, tetapi
terletak sejajar dengan sumbu panjang os petrosa. Kanalis semikularis lateralis
3

terletak horizontal pada dinding medial aditus ad antrum, di atas kanalis nervi
fasialis.4
Koklea berbentuk seperti rumah siput dan bermuara ke dalam bagian anterior
vestibulum. Umumnya terdiri dari satu pilar sentral, modiolus koklea, dan
modiolus ini dikelilingi tabung tulang yang sempit sebanyak dua setengah
putaran. Setiap putaran berikutnya mempunyai radius yang lebih kecil sehingga
bangunan keseluruhannya berbentuk kerucut. Apex menghadap anterolateral dan
basisnya ke posteromedial. Putaran basal pertama dari koklea inilah yang tampak
sebagai promontorium pada dinding medial telinga tengah.4
Pada potongan melintang dari koklea menunjukkan bahwa koklea dibagi
menjadi tiga skala yaitu skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah
bawah dan skala media diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi
perilimfe, sedangkan skala media berisi endolimfe. Pertemuan antara perilimfe
dari skala vestibuli dan skala timpani pada puncak koklea yang dikenal sebagai
helikotrema. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reisnners
membrane) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran
ini terletak organ Corti.5
Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran
tektoria. Pada membran basalis melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut
dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti yang membentuk organ Corti.6

Gambar 2. Potongan melintang koklea.7


Organ Corti, yang terletak di atas membran basilaris di seluruh panjangnya,
mengandung sel rambut yang merupakan reseptor suara. Sekitar 30.000 ujung
saraf dan sebanyak 16.000 sel rambut di dalam masing-masing koklea tersusun
menjadi empat baris sejajar di seluruh panjang membran basilaris terdiri dari satu
baris sel rambut dalam dan tiga baris sel rambut luar. Dari permukaan masingmasing sel rambut menonjol sekitar 100 rambut yang dikenal sebagai stereosilia.
Sel rambut menghasilkan sinyal saraf jika rambut permukaannya mengalami
perubahan bentuk secara mekanik akibat gerakan cairan di telinga dalam.
Stereosilia ini berkontak dengan membrana tektorium, suatu tonjolan mirip tenda
yang menutupi organ corti di seluruh panjangnya.8
Sel rambut dalam adalah sel yang mengubah gaya mekanik suara (getaran
cairan koklea) menjadi impuls listrik pendengaran (potensial aksi yang
menyampaikan pesan pendengaran ke korteks serebri). Karena berkontak dengan
membran tektorium yang kaku dan stasioner, maka stereosilia sel-sel reseptor ini
tertekuk maju-mundur ketika membran basilaris mengubah posisi relatif terhadap
membran tektorium. Deformasi mekanis maju-mundur rambut-rambut ini secara
bergantian membuka dan menutup saluran ion berpintu mekanis di sel rambut
sehingga terjadi perubahan potensial depolarisasi dan hiper-polarisasi yang
bergantian.8

Gambar 3. Organ Corti.8

Gambar 4. Depolarisasi dan hiperpolarisasi pada streosilia.8


Sel rambut dalam berhubungan melalui suatu sinaps kimiawi dengan ujung
serat-serat saraf aferen yang membentuk nervus auditorius (kokhlearis). Lintasan
impuls auditori selanjutnya menuju ganglion spiralis korti, saraf VIII, nukleus
koklearis di medula oblongata, kolikulus superior, korpus genukulatum medial,
korteks auditori di lobus temporalis serebri.8
Sementera sel-sel rambut dalam mengirim sinyal auditorik ke otak melalui
serat aferen, sel rambut luar tidak memberi sinyal ke otak tentang suara yang
datang. Sel-sel rambut luar secara aktif dan cepat berubah panjang sebagai
respons terhadap perubahan potensial membran, suatu perilaku yang dikenal
sebagai elektromotilitas. Sel rambut luar memendek pada depo-larisasi dan
memanjang pada hiperpolarisasi.8
Sembilan puluh lima persen dari serabut saraf pendengaran yang membawa
transmisi sinyal bunyi sampai ke otak (serabut afferen) hanya berkontak dengan
sel rambut dalam, sehingga sinaps antara sel rambut dalam dengan serabut afferen
6

merupakan relay pertama pada jaras pendengaran. Sel rambut luar menerima
sinyal berkisar 5 % dari serabut afferen dan juga berhubungan dengan serabut
efferen yang meneruskan umpan balik dari otak ke organ pendengaran.5
Proses transmisi suara di koklea dimulai dengan energi akustik yang
menghasilkan aksi seperti piston dengan landasan tulang stapes pada foramen
oval. Energi tersebut akan diteruskan ke perilimfe di skala vestibuli dan
menggetarkan membran Reissner dan akan menggetarkan endolimf di skala
media, sehingga terjadi pergeseran membran basilaris. Pergeseran membran
basilaris membentuk gelombang berjalan dengan amplitudo. Besarnya amplitudo
sesuai dengan besar frekuensi rangsangan yang diterima. Membran basilaris lebih
kaku pada bagian basal dibandingkan apeks, sehingga perjalanan gelombang
bergerak dari basal ke apeks.5
Getaran membran basilaris menimbulkan gerak relatif dengan membran
tektoria yang merupakan rangsangan mekanik. Rangsangan mekanik ini
menyebabkan defleksi stereosilia sel-sel rambut sehingga terjadi pelepasan ionion bermuatan listrik. Pada proses ini terjadi perubahan energi mekanik menjadi
energi listrik (proses transduksi). Defleksi sel-sel rambut akan membuka saluran
ion kalsium sehingga ion kalsium keluar dan merangsang vesikel untuk
melepaskan neurotransmitter.5
Neurotransmitter pada sinaps dan menghasilkan potensial aksi yang kemudian
diteruskan ke serabut saraf delapan menuju nukleus koklearis. Impuls listrik pada
nukleus koklearis akan berjalan ke nukleus olivarius homolateral dan sebagian
impuls akan diteruskan ke lemniskus lateralis, kemudian menuju kolikulus
inferior. Selanjutnya impuls tersebut diteruskan ke korteks auditorius yang
terletak di area 41 Broadman pada girus temporalis superior.5

Gambar 5. Jaras saraf pendengaran.5


b. Labyrinthus membranaceus
Labyrinthus membranaceus terletak di dalam labyrinthus osseus, dan berisi
berisi endolimfa dan dikelilingi oleh perilimfa. Labyrinthus mambranaceus terdiri
atas utrikulus dan sakulus, yang terdapat di dalam vestibulum osseus, tiga duktus
semikularis yang terletak di dalam kanalis semikularis osseus dan duktus
koklearis yang terletak di dalam koklea. Struktur-struktur ini saling berhubungan
dengan bebas.4
Utrikulus adalah yang terbesar dari dua buah sakus vestibuli yang ada dan
dihubungkan tidak langsung dengan sakulus dan duktus endolimfatikus oleh
duktus utrikulosakularis.4
Sakulus berbentuk bulat dan berhubungan dengan utrikulus. Duktus
endolimfatikus, setelah bergabung dengan duktus utrikulosakularis akan berakhir
di dalam kantung buntu kecil yaitu sakus endolimfatikus. Sakus ini terletak di
bawah duramater pada permukaan posterior pars pentrosa ossis temporalis.4
Pada dinding utrikulus dan sakulus terdapat reseptor sensorik khusus yang
peka terhadap orientasi kepala akibat gaya berat atau tenaga percepatan lain.4

Duktus semikularis meskipun diameternya jauh lebih kecil dari kanalis


semikularis, tetapi mempunyai konfigurasi yang sama. Setiap kali kepala mulai
atau berhenti bergerak, atau bila kecepatan gerak kepala bertambah atau
berkurang, kecepatan gerak endolimfa didalam ductus semikularis akan berubah
sehubungan dengan hal tersebut terhadap dinding duktus semikularis. Perubahan
ini dideteksi oleh reseptor sensorik di dalam ampula duktus semikularis.
Duktus koklearis berbentuk segitiga pada potongan melintang dan
berhubungan dengan sakulus melalui duktus reunion. Epitel sangat khusus yang
terletak di atas membran basilaris membentuk organ Corti dan mengandung
reseptor-reseptor sensorik untuk pendengaran.4

Gambar 4. Labirin.9
III.

EPIDEMIOLOGI
Labirinitis viral adalah bentuk paling umum dari labirinitis. Kejadian tuli

sensorineural secara tiba-tiba diperkirakan 1 kasus dalam 10.000 orang, dengan


40% dari pasien mengeluhkan vertigo atau gangguan keseimbangan. Sebuah studi
melaporkan bahwa 37 dari 240 pasien dengan vertigo posisional adalah penderita
labirinitis virus. Labirinitis viral biasanya terjadi pada orang dewasa yang berusia
30-60 tahun dan jarang terjadi pada anak-anak. Labirinitis supuratif
meningogenik biasanya terjadi pada anak-anak usia kurang dari 2 tahun, yang
merupakan populasi yang paling berisiko untuk meningitis. Labirinitis supuratif

otogenik dapat terjadi pada semua usia dengan kolesteatoma atau komplikasi dari
otitis media akut yang tidak diterapi. Labirinitis merupakan komplikasi paling
sering dari otitis media. Labirinitis serosa lebih sering terjadi pada kelompok usia
anak dengan sebagian besar menderita otitis media akut dan otitis media kronis.3
Meskipun labirinitis bakteri jarang terjadi di era postantibiotik, meningitis
bakterial tetap menjadi penyebab signifikan dari gangguan pendengaran. Gejala
auditori, gejala vestibular, atau keduanya terjadi sebanyak 20% pada anak-anak
dengan meningitis.3 Resiko gangguan pendengaran pada anak-anak dengan
meningitis sekitar 10-20% serta risiko gangguan pendengaran permanen terjadi
sebanyak 10-20%.3
Gangguan pendengaran permanen terjadi sekitar 6% pada pasien dengan
herpes zoster otikus yang memiliki keluhan gangguan pendengaran.3
IV.

ETIOLOGI
Labirinitis lebih sering disebabkan oleh virus daripada bakteri. 2 Keadaan

ini dapat ditemukan sebagai bagian dari suatu proses sistemik atau merupakan
suatu proses tunggal pada labirin saja.1

a. Labirinitis viral
Labirinitis viral adalah infeksi labirin yang disebabkan oleh berbagai macam
virus. Penyakit ini dikarakteristikkan dengan adanya berbagai penyakit yang
disebabkan virus dengan gejala klinik yang berbeda seperti infeksi virus mumps,
virus influenza, dan lain-lain.1 Labirinitis viral sering didahului oleh infeksi
saluran pernapasan atas.3
Virus yang dapat menyebabkan labirinitis adalah sebagai berikut: 3
1.
2.
3.
4.
5.

Cytomegalovirus
Mumps virus
Varicella-zoster virus
Rubeola virus
Influenza virus
10

6. Parainfluenza virus
7. Rubella virus
8. Herpes simplex virus 1
9. Adenovirus
10. Coxsackievirus
11. Respiratory syncytial virus
Infeksi virus dapat menyebabkan tuli kongenital dan didapat. Rubella dan
sitomegalovirus adalah virus penyebab terjadinya gangguan pendengaran pada
prenatal. Viral yang menjadi penyebab gangguan pendengaran pada periode
postnatal

biasanya

karena

mumps

atau

campak.

Bukti

eksperimental

menunjukkan bahwa protein inflamasi memainkan peran penting dalam


patogenesis sitomegalovirus yang menyebabkan gangguan pendengaran.3
Bentuk yang unik dari labirinitis virus adalah herpes zoster otikus, atau
sindrom Ramsay-Hunt. Penyebab gangguan ini adalah reaktivasi dari infeksi virus
varicella-zoster yang laten terjadi menahun setelah infeksi primer. Bukti
menunjukkan bahwa selain menyerang koklea, virus juga dapat menyerang
ganglion spiral dan vestibular. Gejala gangguan pendengaran dan keseimbangan
terjadi pada sekitar 25% pasien dengan herpes otikus, selain fasial paralisis dan
ruam vesikuler yang menjadi ciri penyakit tersebut.3
b. Labirinitis bakterial
Bakteri penyebab labirinitis adalah sebagai berikut:3
1. Streptococcus pneumoniae
2. Haemophilus influenzae
3. Moraxella catarrhalis
4. Neisseria meningitidis
5. Streptococcus species
6. Staphylococcus species
7. Proteus species
8. Bacteroides species
9. Escherichia coli
10. Mycobacterium tuberculosis

11

Labirinitis bakterial merupakan komplikasi dari meningitis atau otitis media


yang terjadi karena invasi langsung dari bakteri atau melalui toksin bakteri dan
mediator inflamasi lainnya ke telinga bagian dalam.3
Labirinitis bakteri sering disebabkan oleh komplikasi intra temporal dari
radang telinga tengah. Penderita otitis media kronik yang kemudian tiba-tiba
vertigo, muntah dan hilangnya pendengaran harus waspada terhadap timbulnya
labirinitis supuratif.1
Labirinitis bakteri terjadi sebagai perluasan infeksi dari rongga telinga tengah
melalui fistula tulang labirin oleh kolesteatom atau melalui foramen rotundum
dan foramen ovale, tetapi dapat juga timbul sebagai perluasan infeksi dari
meningitis bakteri melalui cairan yang menghubungkan ruang subaraknoid
dengan ruang perilimfa di koklea, melalui akuadustus koklearis atau melalui
daerah kribrosa pada dasar modiolus koklea.1
c. Labirinitis autoimun
Labirinitis autoimun jarang menyebabkan tuli sensorineural dan terjadi
sebagai proses lokal, proses pada telinga dalam atau sebagai bagian dari penyakit
autoimun sistemik seperti Wegener granulomatosis atau poliarteritis nodosa.
Gangguan pendengaran pada penyakit telinga bagian dalam autoimun biasanya
bilateral dan progresif selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Keluhan
vestibular dapat terjadi hingga 80% pada pasien dengan penyakit telinga bagian
dalam autoimun.10
V.
PATOFISIOLOGI
Hubungan anatomi labirin, telinga tengah, mastoid, dan ruang subaraknoid
sangat penting untuk memahami patofisiologi labirinitis. Labirin terdiri dari
kerangka tulang luar yang mengelilingi sebuah jaringan membran yang berisi
organ sensoris perifer untuk keseimbangan dan pendengaran. Organ-organ
sensorik termasuk utrikulus, sakulus, kanalis semisirkularis, dan koklea. Gejala
labirinitis terjadi ketika mikroorganisme infeksius atau mediator inflamasi
menyerang labirin membran dan merusak organ vestibular dan organ auditori.3
Labirin terletak pada pars petrosa dari tulang temporal yang berbatasan
dengan rongga mastoid dan dihubungkan dengan telinga tengah melalui oval and
round windows. Labirin dihubungkan dengan sistem saraf pusat (SSP) dan ruang

12

subaraknoid melalui kanal auditori interna dan aquaduktus koklea. Bakteri dapat
mencapai labirin membran dengan jalur ini atau dengan adanya kelainan
kongenital dan kelainan yang didapat dari tulang labirin sedangkan virus dapat
menyebar ke struktur labirin secara hematogen.3
Labirin memiliki dua fungsi yaitu fungsi pendengaran dan fungsi
keseimbangan. Fungsi pendengaran meliputi koklea yaitu tabung berbentuk
rumah siput yang berisi cairan dan ujung saraf sensitif yang mengirimkan sinyal
suara ke otak. Fungsi keseimbangan meliputi organ vestibular. Cairan dan sel-sel
rambut dalam tiga kanalis semisirkularis, utrikulus dan sakulus memberikan
informasi ke otak mengenai gerakan kepala.2
Perjalanan sinyal dari labirin ke otak melalui saraf vestibulo-koklea (saraf
kranial VIII) yang memiliki dua cabang. Satu cabang (nervus koklea)
mengirimkan pesan dari organ pendengaran dan yang lainnya (saraf vestibular)
mengirimkan pesan dari organ keseimbangan.2
Otak mengintegrasikan sinyal keseimbangan yang dikirim melalui saraf
vestibular dari telinga kanan dan telinga kiri. Ketika satu sisi terinfeksi, sehingga
akan mengirimkan sinyal yang salah. Otak akan menerima informasi yang tidak
sesuai dan mengakibatkan terjadinya pusing atau vertigo.2
Neuritis (radang saraf) mempengaruhi cabang yang berhubungan dengan
keseimbangan, sehingga mengakibatkan pusing atau vertigo tanpa adanya
gangguan pendengaran.2 Sedangkan labirinitis (radang pada labirin) terjadi ketika
infeksi mempengaruhi kedua cabang saraf vestibulo-koklea, yang mengakibatkan
ganggguan pendengaran disertai pusing atau vertigo.2
Pada labirinitis serosa, bakteri yang telah menginfeksi telinga tengah atau
tulang di sekitar telinga dalam, menghasilkan toksin yang menyebar ke telinga
bagian dalam melalui oval or round windows dan menyerang koklea, sistem
vestibular, atau keduanya. labirinitis serosa paling sering disebabkan oleh otitis
media kronis yang tidak diobati dan ditandai dengan gejala ringan.2
Pada labirinitis supuratif, organisme bakterial secara langsung menyerang
labirin. Infeksi berasal dari telinga tengah atau dari cairan serebrospinal, sebagai
akibat dari meningitis bakteri. Bakteri bisa masuk ke telinga bagian dalam melalui

13

akuaduktus koklea, atau melalui kanal auditori intena dan juga dapat melalui
fistula pada kanalis semisirkularis horizontal.2
VI.
KLASIFIKASI
a. Labirinitis supuratif
Pada pasien dengan meningitis, bakteri dapat menyebar dari cairan
serebrospinal ke labirin membran melalui kanal auditori interna atau aquaduktus
koklea. Infeksi bakteri dari telinga tengah atau mastoid paling sering menyebar ke
labirin melalui kanalis semisirkularis horisontal yang pecah akibat erosi dari
kolesteatom. Labirinitis supuratif akibat dari otitis media jarang terjadi di era
postantibiotik. Ketika labirinitis supuratif terjadi, selalu dikaitkan dengan adanya
kolesteatoma. Gejala umum dari labirinitis bakteri adalah gangguan pendengaran
yang berat, vertigo berat, mual dan muntah.3
Labirinitis osifikan, endapan tulang didalam ruang yang berisi cairan pada
telinga bagian dalam sering mengakibatkan terjadinya labirinitis supuratif. Oleh
karena itu, keputusan mengenai implantasi koklea harus dilakukan lebih awal.
Meningitis juga dapat mengakibatkan progresivitas gangguan pendengaran
sekunder menjadi nekrosis dan fibrosis membran koklea dan labirin.3
b.
Labirinitis serosa
Labirinitis serosa terjadi ketika toksin bakteri dan mediator inflamasi host,
seperti sitokin, enzim dan komplemen melewati membran round window,
menyebabkan peradangan labirin tanpa adanya kontaminasi bakteri langsung.
Kondisi ini terkait dengan penyakit telinga tengah akut atau kronis dan diyakini
menjadi salah satu komplikasi yang paling umum dari otitis media. 3
Schuknecht membagi labirinitis bakteri atas 4 stadium:1
1. Labirinitis akut atau toksik (serous) yang terjadi sebagai akibat perubahan
kimia di dalam ruang perilimf yang disebabkan oleh proses toksik atau proses
supuratif yang menembus membran barier labirin seperti melalui membran
rotundum tanpa invasi bakteri.
2. Labirinitis akut supuratif terjadi sebagai akibat invasi bakteri dalam ruang
perilimf disertai respon tubuh dengan adanya sel-sel radang. Pada keadaan ini
kerusakan fungsi pendengaran dan fungsi keseimbangan irreversible.

14

3. Labirinitis kronik supuratif yaitu terlibatnya labirin oleh bakteri dengan


respons inflamasi jaringan sudah dalam waktu yang lama. Keadaan ini
biasanya merupakan suatu komplikasi dari penyakit telinga tengah kronis dan
penyakit mastoid.
4. Labirinitis fibroseus yaitu suatu respons fibroseus di mana terkontrolnya
proses inflamasi pada labirin dengan terbentuknya jaringan fibrous sampai
obliterasi dari ruangan labirin dengan terbentuknya kalsifikasi dan
osteogenesis. Stadium ini disebut juga stadium penyembuhan.
Labirinitis secara klinis terdiri dari 2 subtipe, yaitu:1
1. Labirinitis lokalisata (labirinitis sirkumskripta, labirinitis serosa) merupakan
komplikasi otitis media dan muncul ketika mediator toksik dari otitis media
mencapai labirin bagian membran tanpa adanya bakteri pada telinga dalam.
2. Labirinitis difusa (labirinitis purulenta, labirinitis supuratif) merupakan suatu
keadaan infeksi pada labirin yang lebih berat dan melibatkan akses langsung
mikroorganisme ke labirin tulang dan membran.
V.

DIAGNOSIS
a. Anamnesis
Riwayat penyakit secara menyeluruh, termasuk keluhan, riwayat penyakit

dahulu dan riwayat pengggunaan obat-obatan penting diketahui untuk dapat


mendiagnosis labirinitis.10
Gejala klinis sebagai berikut:10
1. Vertigo - Waktu dan durasi, hubungan dengan gerakan dan posisi kepala, serta
karakteristik lainnya.
2. Gangguan pendengaran - unilateral atau bilateral, ringan atau berat, durasi,
dan karakteristik lainnya.
3. Rasa penuh pada telinga
4. Tinitus
5. Otore
6. Otalgia
7. Mual atau muntah
8. Demam
9. Kelemahan wajah atau asimetri
10. Nyeri leher /Kaku
15

11. Gejala infeksi saluran pernapasan atas - Mendahului atau bersamaan


12. Perubahan visual

Riwayat penyakit dahulu:10


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Episode pusing atau gangguan pendengaran


Infeksi
Operasi telinga
Hipertensi / hipotens
Diabetes
Stroke
Migrain
Trauma (kepala atau tulang belakang)
Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran atau penyakit telinga

Riwayat penggunaan obat-obatan:10


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Aminoglikosida dan obat ototoksik lainnya


Beta-blocker dan anti hipertensi lainnya
Penenang, termasuk benzodiazepin
Antiepileptik
Alkohol
Obat-obatan terlarang
Gejala dan tanda dari labirinitis dapat ringan sampai berat. Mulai dari pusing

sampai sensasi berputar (vertigo). Selain itu juga keluhan mual, muntah,
gangguan keseimbangan, kesulitan dalam penglihatan, gangguan konsentrasi,
disertai dengan tinitus (denging atau suara bising di telinga) dan gangguan
pendengaran. Kadang-kadang gejala bisa begitu parah sehingga mempengaruhi
kemampuan untuk berdiri atau berjalan.2
Gejala yang timbul pada labirinitis lokalisata merupakan hasil dari gangguan
fungsi vestibular dan gangguan koklea yaitu terjadinya vertigo dan gangguan
pendengaran derajat ringan hingga menengah yang terjadi secara tiba-tiba. Pada
sebagian besar kasus, gejala ini dapat membaik sendiri sejalan dengan waktu dan
kerusakan yang terjadi juga bersifat reversible.1
Pada labirinitis difusa (supuratif), gejala yang timbul sama seperti gejala pada
labirinitis lokalisata tetapi perjalanan penyakit pada labirinitis difusa berlangsung
lebih cepat dan hebat, didapati gangguan vestibular, vertigo yang hebat, mual dan
16

muntah dengan disertai nistagmus. Gangguan pendengaran menetap tipe


sensorineural, pada penderita ini tidak dijumpai demam dan tidak ada rasa sakit di
telinga. Penderita berbaring dengan telinga yang sakit ke atas dan menjaga kepala
tidak bergerak. Pada pemeriksaan telinga tampak perforasi membrana timpani.1
Pada labirinitis viral, didahului oleh infeksi virus seperti virus influenza, virus
mumps, timbul vertigo, nistagmus kemudian setelah 3-5 hari keluhan ini
berkurang dan penderita normal kembali. Pada labirinitis viral biasanya telinga
yang dikenai unilateral.1 Gejala infeksi virus pada telinga bagian dalam seringkali
menyerupai

masalah

medis

lainnya,

sehingga pemeriksaan menyeluruh

diperlukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari pusing, seperti stroke, cedera
kepala, penyakit jantung, alergi, efek samping dari obat atau obat bebas (termasuk
alkohol, tembakau, kafein, dan banyak obat-obatan terlarang), gangguan saraf dan
kecemasan.2
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi

pemeriksaan

kepala

dan

pemeriksaan leher, dengan menekankan pemeriksaan otologik,


mata, dan pemeriksaan saraf kranial. Pemeriksaan neurologis
singkat juga diperlukan. Adanya tanda-tanda meningeal jika
dicurugai meningitis.10
Pemeriksaan otologik harus dilakukan sebagai berikut:10
1. Melakukan inspeksi eksternal untuk tanda-tanda mastoiditis,
selulitis, atau operasi telinga sebelumnya
2. Inspeksi saluran telinga untuk otitis eksterna, otorea, atau
vesikel
3. Inspeksi

membran

timpani

dan

telinga

tengah

untuk

mengetahui adanya perforasi, kolesteatoma, efusi telinga


tengah, atau otitis media akut.
Pemeriksaan mata harus dilakukan sebagai berikut:10
1. Inspeksi gerakan mata dan respon pupil
2. Melakukan pemeriksaan funduskopi untuk
edema
3. Mengamati

nistagmus

(spontan,

tatapan,

menilai
dan

papil

posisi),

melakukan tes Dix-Hallpike jika pasien dapat mentolerir itu.


17

4. Jika terjadi perubahan visual yang disarankan berkonsultasi


dengan dokter mata.
Pemeriksaan neurologis harus dilakukan sebagai berikut:10
1. Lakukan pemeriksaan lengkap saraf kranial
2. Menilai keseimbangan menggunakan Romberg test

dan

tandem gait
3. Menilai fungsi serebelum dengan melakukan tes jari ke hidung
c. Pemeriksaan penunjang
Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus yang tersedia
untuk labirinitis. Pemeriksaan cairan serebrospinal disarankan
pada pasien dengan meningitis. Dilakukan pemeriksaan kultur dan uji
sensitivitas jika terdapat efusi telinga tengah untuk memilih
terapi antibiotik yang tepat dan sesuai. Saat ini, tidak ada
tersedia secara komersial tes autoimun yang akurat atau dapat
diandalkan untuk labirinitis autoimun. Diagnosis berdasarkan
adanya respon klinis yang positif terhadap terapi steroid.11
Pertimbangkan pemeriksaan computed tomography (CT) scan sebelum
melakukan pungsi lumbal dalam kasus-kasus yang kemungkinan meningitis. CT
scan juga berguna untuk membantu menyingkirkan mastoiditis sebagai penyebab
yang potensial. CT scan tulang temporal dapat membantu dalam penatalaksanaan
pasien dengan kolesteatoma dan labirinitis. CT scan tanpa kontras baik untuk
memvisualisasikan fibrosis dan kalsifikasi dari labirin membran pada pasien
dengan labirinitis kronis atau labirinitis osifikan.11
Magnetic resonance imaging (MRI) dapat digunakan untuk membantu
menyingkirkan neuroma akustik, stroke, abses otak, atau hematoma epidural
sebagai penyebab dari vertigo dan kehilangan pendengaran.11
Pemeriksaan audiogram dilakukan pada semua pasien yang dicurigai
labirinitis. Pasien dengan labirinitis yang disebabkan otitis media akan paling
mungkin memiliki gangguan pendengaran campuran, sedangkan labirinitis viral
akan hadir dengan gangguan pendengaran sensorineural. Pada labirinitis supuratif
(bakteri) terjadi gangguan pendengaran unilateral. Dalam kasus meningitis,
gangguang sering bilateral. Pada labirinitis serous (bakteri) terjadi gangguan
unilateral, gangguan pendengaran nada tinggi pada telinga yang terganggu.11
18

VI.

DIAGNOSIS BANDING
Labirinitis

viral

sering

dibingungkan

dengan

neuritis

vestibular, dan istilahnya kadang-kadang digunakan secara


bergantian dalam literatur. Namun, sebagian besar penulis setuju
bahwa neuritis vestibular adalah gangguan saraf vestibular dan
tidak

berkaitan

dengan

gangguan

pendengaran.

Adanya

peradangan pada labirin, sehingga gangguan pendengaran


selalu ada pada labirinitis viral.12
Neuritis vestibular biasanya bermanifestasi secara tibatiba, vertigo akut tanpa gangguan pendengaran. Kondisi ini lebih
umum terjadi pada dekade keempat dan kelima kehidupan dan
sama-sama mempengaruhi laki-laki dan perempuan. Infeksi
saluran

pernapasan

atas

sering

mendahului

kondisi

ini.

Pengobatan neuritis vestibular mirip dengan labirinitis viral.12


Gambaran klinik dengan adanya gangguan vestibular dan
gangguan pendengaran didapatkan juga pada abses serebelum,
miringitis bulosa dan miringitis hemoragika. Pemeriksaan telinga
yang teliti diperlukan pada kasus ini seperti pemeriksaan
audiogram, kultur dan CT Scan. Pada miringitis didapati rasa
sakit

akut

di

telinga

sedangkan

dipisahkan dengan CT scan.

abses

serebelum

dapat

VII.

PENATALAKSANAAN
Prinsip terapi pada labirinitis adalah:1
1. Mencegah terjadinya progresifitas penyakit dan kerusakan vestibulokoklea
yang lebih lanjut.
2. Penyembuhan penyakit telinga yang mendasarinya.
Pengawasan yang ketat dan terus menerus harus dilakukan untuk

mencegah terjadinya perluasan ke intrakranial dan disamping itu dilakukan


tindakan drainase dari labirin. Antibiotika diberikan untuk mencegah terjadinya
19

penyebaran infeksi. Jika tanda rangsangan meningeal dijumpai maka tindakan


pungsi lumbal harus segera dilakukan.1
a. Labirinitis viral
Pengobatan awal untuk labirinitis virus terdiri dari istirahat yang cukup dan
hidrasi. Kebanyakan pasien dapat diobati secara rawat jalan. Namun harus
berhati-hati jika gejala memburuk, terutama adanya gejala neurologis (misalnya,
diplopia, bicara cadel, gangguan gaya berjalan, kelemahan lokal atau mati rasa).
Pasien dengan mual dan muntah yang hebat dapat diberikan cairan intravena (IV)
dan antiemetik.13 Penggunaan obat-obatan dapat diindikasikan pada pasien dengan
labirinitis viral untuk mengobati gejala vertigo dan mual muntah. Obat-obat ini
termasuk benzodiazepin (diazepam, lorazepam) sebagai vestibular supresan dan
antiemetik seperti proklorperazin dan biasanya digunakan untuk beberapa hari,
sampai gejala hilang.13,14
Pemberian kortikosteroid oral jangka pendek juga dapat membantu.
Kortikosteroid dapat mengurangi peradangan pada labirin dan mencegah gejala
sisa dari labirinitis. Steroid Intratimpani, baik tunggal atau kombinasi dengan
steroid sistemik, lebih efektif daripada penggunaan steroid sistemik dalam
pengobatan gangguan pendengaran tiba-tiba.13,14
Antivirus memiliki peranan dalam pengobatan labirinitis karena infeksi virus.
Namun, penelitian tidak menunjukkan kemajuan terapi ketika antivirus
digabungkan dengan steroid sistemik dalam pengobatan labirinitis.14 Dalam
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Strupp et al dikatakan bahwa steroid
(metilprednisolon) lebih efektif daripada agen antivirus (valasklovir) untuk
pemulihan fungsi vestibular perifer pada pasien dengan neuritis vestibular. Hal
ini juga berlaku untuk pengobatan labirinitis virus.13
Obat-obatan antivirus seperti asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir
mempersingkat durasi pelepasan virus pada pasien dengan herpes zoster oticus
dan dapat mencegah beberapa kerusakan pendengaran dan vestibular jika dimulai
di awal perjalanan klinis.13
b. Labirinitis bakterial
20

Pada labirinitis bakteri, pengobatan antibiotik dipilih berdasarkan hasil kultur


dan uji sensitivitas. Antibiotik spektrum luas dapat digunakan sampai hasil kultur
keluar. Terapi antibiotik untuk bakteri penyebab labirinitis harus diarahkan pada
organisme penyebab yang paling mungkin. Pengobatan labirinitis supuratif
ditujukan untuk mengeradikasi infeksi yang mendasari, menyediakan perawatan
suportif kepada pasien, pengeringan efusi telinga tengah atau infeksi mastoid dan
mencegah penyebaran infeksi.13,14
c. Pembedahan
Dalam kasus labirinitis yang diakibatkan oleh otitis media, dilakukan
miringotomi dan evakuasi efusi. Efusi telinga tengah harus dikirim untuk
dilakukan pemeriksaan mikroskopis, serta kultur dan uji sensitivitas. Mastoiditis
dan kolesteatoma terbaik dilakukan drainase bedah dan debridemen dengan cara
mastoidektomi.13
d.
Rawat jalan
Sebagian besar pasien dengan labirinitis dapat dievaluasi dan diterapi di unit
gawat darurat dan kemudian dipulangkan. Pasien dengan gejala vestibular
persisten dapat menjalani rehabilitasi vestibular. Pemeriksaan audiogram lanjutan
harus dilakukan pada semua pasien dengan gangguan pendengaran.13
e.
Rawat inap
Beberapa pasien dengan vertigo berat serta mual dan muntah yang hebat perlu
dirawat inap. Konsultasikan dengan spesialis bedah saraf jika ditemukan
komplikasi intrakranial supuratif. Konsultasi dengan spesialis penyakit menular
dapat dilakukan jika terdapat infeksi sistemik atau infeksi yang tidak biasa atau
infeksi atipikal. 13
VIII. PROGNOSIS
Labirinitis supuratif hampir selalu mengakibatkan hilangnya pendengaran
yang berat dan permanen, sedangkan pasien dengan labirinitis viral dapat pulih
dari gangguan pendengaran. Dysequilibrium atau vertigo posisional juga dapat
terjadi beberapa minggu setelah infeksi akut.3
Tidak ada laporan kematian terkait dengan labirinitis, kecuali dalam
kasus-kasus meningitis atau sepsis. Morbiditas yang signifikan dari labirinitis,

21

terutama labirinitis bakteri. Labirinitis bakteri, menyumbang sepertiga dari semua


kasus dengan gangguan pendengaran.3
Pada populasi anak, risiko gangguan pendengaran sekunder pada
meningitis diperkirakan 10-20%. Gangguan pendengaran permanen terjadi pada
10-20% anak dengan meningitis. 3
Gangguan pendengaran sensorineural permanen terjadi pada 6% pasien
dengan herpes zoster otikus yang mengalami gangguan pendengaran.3
DAFTAR PUSTAKA
1. Aboet A, Labirinitis. Majalah Kedokteran Nusantara. Departemen Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara: Medan: September 2006; Vol.39(3). Hlm.294-5. Diakses
pada

19

Juli

2016.

Dari:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20692/1/mkn-sep2006%20sup%20(18).pdf.
2. Vestibular Disorders Association. Labyrinthitis and vestibular neuritis.
Diakses pada 19 Juli 2016. Dari: http://vestibular.org/labyrinthitis-andvestibular-neuritis.
3. Boston ME, Strasnick B, Egan RA, Gionali GJ, Hoffer ME, Steinberg AR et
al. Labyrinthitis: Agust 2015; p.1-3. Diakses pada 19 Juli 2016. Dari:
http://emedicine.medscape.com/article/856215-overview#showall.
4. Snell RS. Telinga dalam atau labyrinthus. Dalam: Anatomi Klinik. Edisi
Keenam. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. 2006. Hlm.790-1.
5. Rahman S, Hanifatryevi. Asfiksia perinatal sebagai faktor resiko gangguan
pendengaran pada anak. Majalah Kedokteran Andalas. Bagian Ilmu Kesehatan
Telinga dan Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas; 2012; Vol.36(1). Hlm. 2-4. Diakses pada 21 Juli 2016.
Dari: http://repository.unand.ac.id/18125/1/Asfiksia%20Perinatal%20Sebagai
%20Faktor%20Resiko%20Gangguan%20Pendengaran%20Pada%20Anak.pdf
6. Soetirto I, Hendarmin H, Bashirudin J. Gangguan pendengaran dan kelainan
telinga. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
dan Leher. Edisi Keenam. Buku Penerbit FKUI: Jakarta. 2007. Hlm.13.

22

7. The

Choclea.

Diakses

pada

tanggal

19

Juli

2016.

Dari:

https://ccrma.stanford.edu/~jos/psychoacoustics/Cochlea.html
8. Irawati L. Fisika medik proses pendengaran. Majalah Kedokteran Andalas;
2012; Vol.36(2). Hlm. 159-61. Diakses pada 21 Juli 2016. Dari:
http://mka.fk.unand.ac.id/images/articles/No_2_2012/hal_157-162-isi.pdf
9. Salmon MC. Otogelin: A glycoprotein specific to the acellular membranes of
the

inner

ear;

Vol.94(26).

Diakses

pada

21

Juli

2016.

Dari:

http://www.pnas.org/content/94/26/14450/F1.expansion.html
10. Boston ME, Strasnick B, Egan RA, Gionali GJ, Hoffer ME, Steinberg AR et
al. Labyrinthitis Clinical Presentation: Agust 2015; p.1-2. Diakses pada 21
Juli 2016. Dari: http://emedicine.medscape.com/article/856215-clinical
11. Boston ME, Strasnick B, Egan RA, Gionali GJ, Hoffer ME, Steinberg AR et
al. Labyrinthitis Workup: Agust 2015; p.1. Diakses pada 21 Juli 2016. Dari:
http://emedicine.medscape.com/article/856215-workup
12. Boston ME, Strasnick B, Egan RA, Gionali GJ, Hoffer ME, Steinberg AR et
al. Labyrinthitis Differential Diagnoses: Agust 2015; p.1. Diakses pada 21 Juli
2016. Dari: http://emedicine.medscape.com/article/856215-differential
13. Boston ME, Strasnick B, Egan RA, Gionali GJ, Hoffer ME, Steinberg AR et
al. Labyrinthitis Treatment and Management: Agust 2015; p.1. Diakses pada
21 Juli 2016. Dari: http://emedicine.medscape.com/article/856215-treatment
14. Boston ME, Strasnick B, Egan RA, Gionali GJ, Hoffer ME, Steinberg AR et
al. Labyrinthitis Medication: Agust 2015; p.1-2. Diakses pada 21 Juli 2016.
Dari: http://emedicine.medscape.com/article/856215-medication.

23