Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN TUTORIAL

TRAUMA ORTOPEDI
BLOK KEGAWATDARURATAN DAN TRAUMATOLOGI

KELOMPOK 13

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya
sehingga laporan hasil TUTORIAL MODUL FRAKTUR dari kelompok 13 ini dapat
terselesaikan dengan baik. Dan tak lupa kami kirimkan salam dan shalawat kepada
nabi junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita dari
alam yang gelap menuju ke alam yang terang benderang.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada setiap pihak yang telah membantu
dalam pembuatan laporan ini dan yang telah membantu selama masa TUTORIAL
khususnya kepada dokter pembimbing yang telah banyak membantu selama proses
PBL berlangsung. Dan kami juga mengucapkan permohonan maaf kepada setiap
pihak jika dalam proses PBL telah berbuat salah baik disengaja maupun tidak
disengaja.
Semoga Laporan hasil TUTORIAL ini dapat bermanfaat bagi setiap pihak yang
telah membaca laporan ini dan khusunya bagi tim penyusun sendiri. Diharapkan
setelah membaca laporan ini dapat memperluas pengetahuan pembaca,dan kami
mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki laporan hasil diskusi kami
berikutnya.

Makassar,

Agustus 2016

Kelompok 13

KASUS SKENARIO 1
Wanita 32 tahun, masuk ke IRD Rumah Sakit dengan keluhan nyeri dan deformitas
pada paha kanan yang di alami kurang lebih 30 menit sebelum masuk ke rumah sakit
akibat jatuh dari motor. Tampak juga jejas di daerah tulang panggul. Pada
pemeriksaan tanda-tanda vital, nadi 120 kali/menit, tekanan darah 90/60 mmHg. Pada
pemeriksaan fisik tampak paha kanan bengkak kebiruan dan tidak sama panjang bila
dibandingkan paha kiri. Leg length discrapency kurang lebih 3 cm. pada palpasi
pasien mengeluh nyeri tekan pada bagian deformitas.
KATA SULIT
Leg Length Discrepancy adalah perbedaan panjang tungkai bawah dan kelainan
bentuk (deformitas).
KATA KUNCI
1. Wanita 32 tahun
2. Keluhan nyeri
3. Deformitas pada paha kanan
4. Keluhan dialami selama 30 menit sebelum ke RS
5. Riwayat trauma
6. Jejas pada tulang panggul
7. Nadi 120 kali/menit, TD 90/60 mmHg
8. Paha kanan bengkak kebiruan & tidak sama panjang
9. Leg legth discrapency kurang lebih 3 cm
10. Palpasi nyeri tekan daerah deformitas
PERTANYAAN
1. Jelaskan penilaian dan penanganan awal pada pasien!
2. Jelaskan secondary survey pada pasien tersebut!
3. Bagaimana patomekanisme fraktur dan/atau dislokasi?
4. Bagaimana perbedaan antara fraktur dan dislokasi?
5. Differential Diagnosis?

JAWABAN PERTANYAAN
1. Penilaian dan Penanganan Awal
a. Airway
Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas. Ini meliputi
pemeriksaan adanya sumbatan jalan napas yang dapat disebabkan benda
asing, adanya fraktur mandibula atau kerusakan trakea/larings. Harus
diperhatikan pula secara cermat mengenai kelainan yang mungkin terdapat
pada vertebra servikalis dan apabila ditemukan kelainan, harus dicegah
gerakan yang berlebihan pada tempat ini dan diberikan alat bantu. Pada
penderita yang dapat berbicara, dapat dianggap jalan napas bersih, walaupun
demikian penilaian ulang terhadap airway harus tetap dilakukan.
Look, listen, and feel diawali dengan mendekatkan telinga ke mulut dan
hidung penderita sambil menjaga jalan napas tetap terbuka. Kemudian pada
saat yang sama mengamati dada penderita.
1) Lihat (Look). Apakah penderita mengalami agitasi atau kesadarannya
menurun. Sianosis menunjukkan hipoksemia yang disebabkan oleh
kekurangan oksigenasi dan dapat dilihat dengan melihat pada kuku dan
kulit sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan penggunaan otot-otot napas
tambahan yang apabila ada merupakan bukti tambahan adanya gangguan
airway.
2) Dengar (listen). Adanya suara-suara abnormal. Pernapasan yang berbunyi
(napas tambahan) adalah pernapasan yang tersumbat. Suara mendengkur
(snoring), berkumur (gurgling) dan bersiul (crowing sound, stridor)
mungkin berhubungan dengan sumbatan parsial pada faring atau laring.
Penderita yang melawan dan berkata-kata kasar (gaduh gelisah) mungkin
mengalami hipoksia dan tidak boleh dianggap karena keracunan/mabuk.
3) Rasakan (feel). Lokasi trakea dan dengan cepat menentukan apakah trakea
ada ditengah. Juga merasakan adanya atau tidaknya hembusan nafas
penderita.
Pengelolaan airway bila terdapat obstruksi
1) OBSTRUKSI PARSIAL

Suara mendengkur (snoring)


Tanpa alat secara manual
Sumbatan jalan nafas karena pangkal lidah jatuh kebelakang,
terdengar suara snooring atau mendengkur. Lakukan pertolongan
dengan cara :
Head-tilt/chin lift
Bila tidak ada cedera kepala dengan cara head tilt atau chin lift
Cara melakukan:
-

Letakkan satu tangan pada dahi

tekan perlahan ke

posterior, sehingga kemiringan kepala menjadi normal atau


sedikit ekstensi (hindari hiperekstensi karena dapat
menyumbat jalan napas).
-

Letakkan jari (bukan ibu jari) tangan yang lain pada tulang
rahang bawah tepat di ujung dagu dan dorong ke luar atas,
sambil mempertahankan cara 1.

Jaw thrust
Bila tidak sadar dan ada cedera kepala dengan cara jaw thrust.
Cara melakukannya:
-

Posisi penolong di sisi atau di arah kepala

Letakkan 2-3 jari (tangan kiri dan kanan) pada masingmasing sudut posterior bawah kemudian angkat dan dorong
keluar.

Bila posisi penolong diatas kepala. Kedua siku penolong


diletakkan pada lantai atau alas dimana korban diletakkan.

Bila upaya ini belum membuka jalan napas, kombinasi


dengan head tilt dan membuka mulut (metode gerak triple)

Untuk cedera kepala/ leher lakukan jaw thrust dengan


immobilisasi leher.

(A)
(B)
Gambar 1. (A) Head-tilt dan Chin-lift. (B) Jaw thrust
Dengan menggunakan alat
Pipa orofaring
Cara pemasangan :
- Pakai sarung tangan
- Buka mulut pasien dengan cara chin lift atau gunakan ibu
-

jari dan telunjuk


Siapkan pipa orofaring yang tepat ukurannya
Bersihkan dan basahi pipa orofaring agar licin dan mudah

dimasukkan
Arahkan lengkungan menghadap ke langit-langit (ke

palatal)
Masukkan separuh, putar lengkungan mengarah ke bawah

lidah.
Dorong pelan-pelan sampai posisi tepat.
Yakinkan lidah sudah tertopang dengan pipa orofaring
dengan melihat pola napas, rasakan dan dengarkan suara

napas pasca pemasangan.


Berkumur (gurgling)
Sapuan jari (finger sweep)
Cara :
- Pasang sarung tangan
- Buka mulut pasien dengan jaw thrust dan tekan dagu ke bawah
- Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah yang bersih atau
dibungkus dengan sarung tangan /kassa untuk membersihkan

dan mengorek semua benda asing dalam mulut.


Cross finger
Dengan suction

2) OBSTRUKSI TOTAL

Tanpa alat secara manual


Back blows (kalau pasien sadar)
Pukulan punggung dilakukan 5 kali dengan pangkal tangan diatas
tulang belakang diantara kedua tulang belikat.Jika memungkinkan
rendahkan kepala di bawah dada.
Heimlich maneuver (pasien sadar)
Penolong berdiri di belakang korban, lingkarkan kedua lengan
mengitari pinggang, peganglah satu sama lain pergelangan atau
kepalan tangan (penolong).
Abdominal thrust(kalau pasien tidak sadar)
Letakkkan kedua tangan (penolong) pada perut antara pusat dan
prosessus sifoideus, tekanlah ke arah abdomen atas dengan
hentakan cepat 3-5 kali

Dengan menggunakan alat


ETT (Endotrakhea tube)

Permasalahan
Adanya suara nafas tambahan (noisy breathing) menunjukkan suatu sumbatan
airway parsial yang mendadak dapat berubah menjadi total. Tidak adannya
pernafasan menunjukkan bahwa sumbatan total telah terjadi. Apabila tingkat
kesadaran menurun, deteksi sumbatan airway menjadi lebih sulit. Adanya dispnea
mungkin hanya satu-satunya bukti adanya sumbatan airway atau cedera
trakheobronkhial.
Obstruksi

jalan

nafas

merupakan

pembunuh

tercepat,

lebih

cepat

dibandingkan gangguan breathing dan circulation. Lagipula perbaikan breathing


tidak mungkin dilakukan bila tidak ada airway yang paten. Obstruksi jalan nafas
dapat berupa obstruksi total atau parsial.
Pada obstruksi total mungkin ditemukan penderita masih sadar atau dalam
keadaan tidak sadar. Pada obstruksi total yang akut, biasanya disebabkan
tertelannya benda asing yang lalu menyangkut dan menyumbat di pangkal laring.

Bila obstruksi total timbul perlahan maka akan berawal dari obstruksi parsial
yang kemudian menjadi total.
1) Bila Penderita masih Sadar
Penderita akan memegang leher dalam keadaan sangat gelisah. Sianosis
mungkin ditemukan dan mungkin ada kesan masih bernafas (walaupun tidak
ada ventilasi). Penenganannya adalah chest thrust atau abdominal thrust
menggunakan Heimlich Manouvere. Tindakan Heimlich dapat dilakukan
dengan merangkul korban dari belakang dan meletakkan kepalan tinju pada
ulu hati korban (abdominal thrust) atau pada dada (chest thrust), kemudian
dengan tangan lainnya menekan tinju tersebut kearah superior dan posterior.
Kontraindikasi abdominal thrust adalah kehamilan tua dan bayi serta dewasa
gemuk.jika penderita adalah bayi /dewasa gemuk maka untuk mengeluarkan
benda asing tersebut dilakukan chest thrust, back slaps, atau back blow. Pada
ibu hamil sebaiknya menggunakan back blow atau back slap yaitu dengan
menepuk atau memukul punggung pada pertengahan daerah diantara kedua
scapula.
2) Bila Penderita ditemukan Tidak Sadar
Tidak ada gejala apa-apa mungkin hanya sianosis saja. Pada saat
melakukan pernapasan buatan mungkin ditemukan resistensi (tahanan)
terhadap ventilasi. Dalam keadaan ini harus ditentukan dengan cepat adanya
obstruksi total dengan sapuan jari ke dalam faring sampai di belakang
epiglottis. Apabila tidak berhasil mengeluarkan dengan Finger Sweep dan
tidak ada perlengkapan sesuai maka terpaksa dilakukan Abdominal Thrust
atau chest thrust dalam keadaan penderita berbaring. Tindakannya berupa
menekan diafragma atau dada kea rah superior dan posterior secara berulangulang sehingga menghasilkan batuk buatan/ sumbatan keluar.
Pada obstruksi parsial dapat disebabkan berbagai hal. Biasanya
penderitanya masih bisa bernafas sehingga timbul berbagai macam suara,
tergantung penyebabnya.
a.

Cairan (Darah, secret, aspirasi lambung dsb.)


8

Timbul suara gurgling, suara bernafas bercampur suara cairan.


Dalam keadaan ini harus dilakukan penghisapan. Atau bisa melakukan
finger sweep yaitu menyapu cairan dalam rongga mulut menggunakan jari
tangan yang dilapisi dengan bahan yang dapat menyerap (contoh: kain,
kasa), tapi tidak boleh menggunakan bahan yang mudah hancur bila basah
dan dapat mnyebabkan sumbatan baru (contoh: tissue, kapas)
b. Lidah yang jatuh ke belakang
Keadaan ini bisa terjadi karena keadaan tidak sadar atau patahnya
rahang bilateral. Timbul suara mengorok (Snoring) yang harus diatasi
dengan perbaikan Airway, secara manual bisa dengan head tilt dan chin
lift, atau bisa dengan menggunakan alat seperti orofaringeal tube (guedel)
c. Penyempitan di Laring atau Trachea
Dapat disebabkan udema karena berbagai hal (luka bakar, radang,
dsb.) ataupun desakan neoplasma. Timbul suara crowing atau stridor
respiratori. Keadaan ini hanya dapat diatasi dengan perbaikan Airway
distal dari sumbatan, misalnya dengan Trakheostomi.
Penanganan
1) Penanganan tanpa Alat
Bila tidak sadar, pasien dibaringkan dengan dalam posisi terlentang dan
horizontal, kecuali pada pembersihan jalan napas dimana bahu dan kepala
pasien harus direndahkan dengan posisi semilateral untuk memudahkan
drainase lendir, cairan muntah atau benda asing.
Keluarkan semua benda asing yang terlihat atau muntahan dari mulut,
keluarkan cairan dari mulut dengan memakai jari-jari yang dibungkus dengan
sarung tangan atau dibungkus selembar kain.

Finger sweep
Ada 3 manuver yang dianjurkan untuk dilakukan jika didapatkan benda
asing pada jalan napas tersebut, yaitu:
a) Tepuk pada punggung (back blows)
Untuk mengeluarkan benda asing pada bayi/dewasa gemuk maka
dilakukan chest thrust, back slaps, atau back blow. Pada ibu hamil
sebaiknya menggunakan back blow atau back slap yaitu dengan menepuk
atau memukul punggung pada pertengahan daerah diantara kedua scapula.

Back blows
b) Tekanan pada dada (chest thrust)
Untuk mengeluarkan benda asing pada bayi/dewasa gemuk maka
dilakukan chest thrust, back slaps, atau back blow. Tindakan Heimlich
dapat dilakukan dengan merangkul korban dari belakang dan meletakkan
kepalan tinju pada dada (chest thrust), kemudian dengan tangan lainnya
menekan tinju tersebut kearah superior dan posterior.

10

Chest thurst
c) Tekanan pada abdomen (abdominal thrust)
Tindakan Heimlich dapat dilakukan dengan merangkul korban dari
belakang dan meletakkan kepalan tinju pada dada (chest thrust), kemudian
dengan tangan lainnya menekan tinju tersebut kearah superior dan
posterior. Kontraindikasi abdominal thrust adalah kehamilan tua dan bayi
serta dewasa gemuk.

Abdominal thurst
2) Penanganan dengan Menggunakan Alat
Pipa nasofaringeal
Alat ini berfungsi untuk menjaga jalan napas agar tetap bebas dari
sumbatan. Alat ini lebih baik daripada oropharingeal airway pada penderita
sadar karena tidak akan menyebabkan muntah dan lebih ditolerir penderita.

11

Bila pada pemasangan ditemui hambatan, berhenti dan pindah ke lubang


hidung yang lain.

Pipa orofaringeal
Alat ini berfungsi untuk menjaga jalan napas agar tetap bebas dari
sumbatan. Alat ini tidak boleh mendorong lidah ke belakang karena akan
menyumbat faring. Alat ini juga tidak boleh dipakai pada penderita sadar
karena akan menyebabkan muntah dan kemudian aspirasi.

Pipa Orofaringeal
Pipa Endotracheal

12

Pipa Endotracheal
Cricothyroidotomy
Jika seluruh cara pembebasan jalan napas sudah dilakukan tetapi tidak
menunjukkan keberhasilan (masih ada obstruksi airway), maka dilakukan
Cricothyroidotomi, yaitu dengan melakukan insisi pada membran cricothyroid
yang terletak di antara cartilago thyroid dan cricoids lalu memasukkan benda
yang berongga.
b. Breathing
Breathing artinya pernapasan atau proses pertukaran oksigen dan karbon
dioksida. Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi
yang baik menggambarkan fungsi baik dari paru, dinding thoraks dan
diafragma. Pada saat pemeriksaan breathing dada korban harus dibuka untuk
melihat pernapasan yang baik. Dalam pemeriksaan breathing berpedoman
pada :
1) Inspeksi
Inspeksi breathing berupa observasi dada, yang dinilai :
Keadaan umum pasien tampak sesak dengan tangan menopang pada
tempat tidur dengan maksud supaya otot-otot bantu pernapasan dapat
membantu ekspirasi, pernapasan cuping hidung, tachypneu dan sianosis.
Selain itu juga mungkin dapat didengar wheezing (ekspirasi yang
memanjang) dan bentuk dada barrel chest (terjadi pemanjangan diameter
antero-posterior disertai sela iga yang melebar dan sudut epigastrium yang
tumpul). Keadaan ini bisa dijumpai pada keadaan saluran napas yang
menyempit seperti asma. Yang dapat dilakukan memposisikan pasien pada
posisi senyaman mungkin, biasanya posisi setengah duduk dan diberi
oksigen pada asma ringan. Sedangkan pada asma berat diberi
bronkhodilator. Pada kasus trauma stabilisasi penderita dilakukan pada
posisi stabil dengan menggunakan bantuan oksigen baik itu dengan
endotracheal tube ataupun dengan ventilator.

13

Pergerakan dada apakah simetris antara dinding thoraks kiri dan kanan
pada saat inspirasi dan ekspirasi. Ketidaksimetrisan ini salah satunya
disebabkan oleh trauma pada thoraks sehingga terdapat udara dan darah
dalam cavum pleura. Terdapatnya udara dalam cavum pleura disebut
pneumothorax dan gejalanya disertai dengan nyeri dada, sesak napas dan
dugaan diperkuat lagi jika terdapat luka terbuka di daerah dada (dx :
Pneumothorax terbuka). Jika terdapat darah pada cavum pleura disebut
hemothorax dan gejalanya pun disertai sesak napas dan nyeri dada. Pada
kedua kasus tersebut kadang dijumpai deviasi trachea dan pergeseran
mediastinum pada stadium yang berat. Untuk pneumothorax terbuka bisa
memasang kasa tiga sisi. Frekwensi napas dan iramanya.
2) Palpasi
Palpasi dilakukan untuk memperlihatkan kelainan dinding dada yang
mungkin mengganggu ventilasi berupa adanya ekspansi dada dan posisi
apex jantung. Apex jantung berubah dapat disebabkan dorongan oleh
kelainan mediastinum, efusi pleura dan lain-lain. Yang dinilai pada palpasi
:

Nyeri Tekan dan Krepitasi


Hal ini mungkin mengarah pada fraktur kosta. Nyeri timbul akibat
penekanan kosta ke pleura parietalis sedang krepitasi adalah bunyi

tulang kosta yang patah.


Vocal Fremitus atau Tctil Fremitus
Hal ini dilakukan untuk mengetahui perambatan suara ke dinding dada
yang dirasakan oleh kedua tangan yang dirapatkan, tepatnya di sela-

sela kosta.
3) Perkusi
Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam
rongga pleura. Suara perkusi yang normal adalah sonor. Suara perkusi
redup, pekak, hipersonor atau timpani menandakan adanya kelainan pleura
atau paru.
4) Auskultasi

14

Auskulatasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam


paru. Pada keadaan normal didapatkan napas bronchial pada trachea,
napas bronchovesikuler di daerah intraclaviculer, suprasternal dan
interscapular. Sedangkan suara napas vesikuler di luar lokasi diatas. Bila
didapatkan suara napas bronchial/ bronchovesikuler pada lokasi yang
seharusnya vesikuler, menandakan adanya suatu kelainan pada tempat
tersebut.
Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas. Ini meliputi
pemeriksaan adanya sumbatan jalan napas yang dapat disebabkan benda
asing, adanya fraktur mandibula atau kerusakan trakea/larings. Harus
diperhatikan pula secara cermat mengenai kelainan yang mungkin terdapat
pada vertebra servikalis dan apabila ditemukan kelainan, harus dicegah
gerakan yang berlebihan pada tempat ini dan diberikan alat bantu. Pada
penderita yang dapat berbicara, dapat dianggap jalan napas bersih,
walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway harus tetap
dilakukan.
c. Circulation
Didapatkan tanda bradikardi sedangkan tekanan darah meningkat. Hal ini
dapat menunjukkan bahwa terjadi syok hipovolemik pada pasien. Syok
hipovolemik bisa saja terjadi pada perdarahan akibat trauma pada ekstremitas
yang terluka. Sehingga perlu untuk dilakukan pemeriksaan terhadap syok
hipovolemik yang terjadi pada pasien.
Pemeriksaan pada circulation adalah :
1. Dapat mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal
Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada luka.
2. Mengetahui sumber perdarahan internal
Sumber perdarahan internal (tidak terlihat) adalah perdarahan rongga
toraks, abdomen, sekitar fraktur tulang, retro-peritoneal atau fraktur
pelvis.
3. Tingkat kesadaran

15

Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang, yang akan
mengakibatkan penurunan kesadaran (jangan dibalik; pasien yang sadar
belum tentu normo-volemik)
4. Nadi
Pemeriksaan sistem sirkulasi darah (Circulation) dilakukan dengan
menilai adanya pulsasi arteri femoralis atau arteri karotis (kiri-kanan).
pemeriksaan ini maksimal dilakukan selama 5 detik. Tidak ditemukannya
pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda dipelukannya resusitasi
segera untuk memperbaiki volume dan cardiac output.
5. Warna kulit
Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemia. Pasien trauma yang
kulitnya kemerahan, terutama pada wajah dan ekstremitas, jarang yang
dalam keadaan hipovolemia. Sebaliknya wajah pucat keabu-abuan dan
kulit ekstremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemia.
d. Disabiliti
Evaluasi dengan menggunakan metode AVPU, yaitu :
1) A : Alert, sadar
2) V : Vocal, adanya respon terhadap rangsangan vokal
3) P : Painful, adanya respon hanya pada rangsang nyeri
4) U: Unresponsive, tidak ada respon sama sekali.
Evaluasi dengan Skala Koma Glasgow (GCS)
Membuka Mata (eye)

Nilai

Spontan

Terhadap bicara (suruh pasien membuka mata)

Dengan rangsang nyeri (tekan pada saraf supraorbita atau kuku jari)

Tidak ada reaksi (dengan rangsang nyeri pasien tidak membuka mata)
Respon Bicara (verbal)
Baik dan tidak disorientasi (dapat menjawab dengan kalimat yang tidak baik

1
5

dan tahu dimana ia berada, tahu waktu, hari, bulan)

16

Kacau (confused) (dapat bicara dalam kalimat, namun ada disorientasi

waktu dan tempat)


Tidak tepat (dapat mengucapkan kata-kata, namun tidak berupa kalimat dan

tidak tepat)
Mengerang (tidak menggunakan kata, hanya suara mengerang)
Tidak ada jawaban
Respon Gerakan (motoric)

2
1

Menurut perintah

(misalnya, suruh: angkat tangan!)


Mengetahui lokasi nyeri (berikan rangsang nyeri, misalnya menekan dengan
jari pada supraorbita. Bila oleh rasa nyeri pasien mengangkat tangannya

sampai melewati dagu untuk maksud menapis rangsangan tersebut berarti ia


dapat mengetahui lokasi nyeri)
Reaksi menghindar

Reaksi flexi (dekortikasi)

(berikan rangsang nyeri, misalkan menekan dengan objek keras, seperti


ballpoint, pada jari kuku. Bila sebagai jawaban siku flexi terhadap nyeri
(flexi pada pergelangan tangan mungkin ada atau tidak )
Reaksi ekstensi (deserbrasi)

(dengan rangsang nyeri tersebut di atas terjadi ekstensi pada siku. Ini selalu
disertai flexi spastik pada pergelangan tangan)
Tidak ada reaksi

(sebelum memutuskan bahwa rangsang nyeri memang cukup adekuat


diberikan)
Interpretasi :
Nilai tertinggi

: E + M + V = 13 - 15 (responsiveness)

Nilai sedang

: E + M + V = 9 - 12

Nilai terendah

: E + M + V = 3 - 8 (coma)

17

e. Exposure
Mencegah hipotermia
f. Tindakan Tambahan (Adjuncts) pada Primary Survey
Imobilisasi Fraktur bertujuan untuk meluruskan ekstremitas yang cedera
dalam posisi seanatomis mungkin dan mencegah gerak yang berlebihan pada
daerah fraktur. Hal ini akan tercapai dengan melakukan traksi untuk
enolongmeluruskan ekstremitas dan dengan alat mobilisasi. Pemakaian bidai
secara benar akan membantu menghentikan perdarahan, mengurangi nyeri dan
mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut.
Pemasangan bidai harus dilakukan namun tidak boleh mengganggu
resusitasi yang merupakan prioritas utama. Pemakaian bidai akan sangat
menolong untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi nyeri.
2.

Bagaimana penilaian sekunder pada penderita diatas ?


Setelah selesai dilakukan primary survey, maka kita melangkah ke secondary
survei. Survei sekunder tidak dimulai sebelum survei primer (ABCDE)
diselesaikan, resusitasi dilakukan, dan pasien menunjukkan pulihnya fungsi vital.
Di sini kita melakukan pemeriksaan dari kepala sampai kaki (head to toe
examination) disertai reevaluasi pemeriksaan tanda vital.
a. Anamnesis
Setiap pemeriksaan yang lengkap membutuhkan anamnesis mengenai riwayat
perlukaan. Penilaian medik yang lengkap, selalu menyertakan riwayat tentang
mekanisme trauma.

Sering anamnesis ini tidak dapat diperoleh dari

pasiennya. Petugas penolong prarumahsakit dan keluarga pasien mungkin


dapat memberi informasi yang menjelaskan bagaimana perubahan fisiologi
pasien trauma dapat terjadi. Informasi yang diperlukan dapat diingat dengan
Riwayat AMPLE terdiri atas :

18

A : Alergi
M : Medication
P : Past illness ( penyakit penyerta ) / pregnancy
L : Last meal
E : Event/environment (lingkungan) yang berhubungan dengan riwayat
perlukaan/ cedera.
b. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi, sesuai dengan regio yang
diperiksa (bisa disederhanakan menjadi look, listen, feel misalnya pada wajah;
atau look, feel, move misalnya pada ekstremitas). Diperiksa secara lembut
(gentle), mencari kelainan dengan mnemonik DCAP-BTLS (deformities,
contusions,

abrasions,

penetrations,

burns,

tenderness,

lacerations,

swellings).Meliputi pemeriksaan lengkap dari kepala sampai kaki, urtan


pemeriksaannya terdiri atas :
1

Kepala

Maksilofasial

Vertebra servikalis dan leher

Toraks

Abdomen

Perineum/rektum/vagina

Muskuloskeletal

Neurologi

c. Foto Rontgen
Umumnya pemeriksaan ronsen pada trauma skeletal merupakan bagian dari
secondary survey. Jenis dan saat pemeriksaan ronsen dilakukan, ditentukan
oleh hasil pemeriksaan tanda klinis, keadaan hemodinamik serta mekanisme
trauma.
Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, terdiri dari :

19

2 gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral


Memuat dua sendi di proksimaldan distal fraktur
Memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera dan
yang tidak terkena cedera (pada anak); dan dua kali, yaitu sebelum
tindakan dan sesudah tindakan

3.

Patomekanisme Fraktur
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan metabolic,
patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang terbuka ataupun
tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan, maka
volume darah menurun. COP menurun maka terjadi peubahan perfusi jaringan.
Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka
penumpukan di dalam tubuh. Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut
saraf yang dapat menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri.
Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang
menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggau. Disamping itu
fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi
infeksi dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas
kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka
atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan
rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi
neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik
terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang
kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. Pada
umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan
immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah
dihubungkan tetap pada tempatnya.

20

4.

Perbedaan Fraktur dan Dislokasi


Pada fraktur terdapat dua tanda, yaitu tanda pasti fraktur dan tanda curiga fraktur.
Tanda pasti fraktur :
False movement (untuk fraktur tulang panjang)
Deformitas
Fat globule (tanda fraktur terbuka)
Tanda curiga fraktur :

Luka (harus ada pada fraktur terbuka)


Edema

Sedangkan tanda pada dislokasi, yaitu

5.

Deformitas pada persendiaanKalau sebuah tulang diraba secara sering akan

terdapat suatu celah.


Gangguan gerakan otot
Edema
Rasa nyeri

Diagnosis
a. Fraktur Femur
Fraktur Femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang
dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot , kondisi-kondisi
tertentu seperti degenerasi tulang/osteoporosis. Batang Femur dapat
mengalami fraktur akibat trauma langsung, puntiran, atau pukulan pada
bagian depan yang berada dalam posisi fleksi ketika kecelakaan lalu lintas.
1) Etiologi
Penyebab fraktur adalah trauma yang mengenai tulang, dimana trauma
tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, dan mayoritas fraktur
akibat kecelakaan lalu lintas. Trauma-trauma lain adalah jatuh dari
ketinggian, kecelakaan kerja, cidera olah raga. Trauma bisa terjadi secara
langsung dan tidak langsung. Dikatakan langsung apabila terjadi benturan
21

pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, dan secara tidak
langsung apabila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan.

2) Patofisiologi
Tulang yang mengalami fraktur biasanya diikuti kerusakan jaringan
disekitarnya, seperti di ligamen, otot tendon, persyarafan dan pembuluh
darah, oleh karena itu pada kasus fraktur harus ditangani cepat, dan perlu
dilakukan tindakan operasi.
Tanda dan Gejala :

Nyeri hebat ditempat fraktur

Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah

Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah,


bengkak, sepsis pada fraktur terbuka dan deformitas

3) Diagnosis

Anamnesis
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus
diperinci kapan terjadinya, di mana terjadinya, jenisnya, berat-ringan
trauma, arah trauma, dan posisi pasien atau ekstremitas yang
bersangkutan (mekanisme trauma). Jangan lupa untuk meneliti
22

kembali trauma di tempat lain secara sistematik dari kepala, muka,


leher, dada, dan perut.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk fraktur adalah:
Look (inspeksi): bengkak, deformitas, kelainan bentuk.
Feel/palpasi: nyeri tekan, lokal pada tempat fraktur.
Movement/gerakan: gerakan aktif sakit, gerakan pasif sakit
krepitasi.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk dilakukan adalah
pencitraan menggunakan sinar Rontgen (X-ray) untuk mendapatkan
gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang, oleh karena itu
minimal diperlukan 2 proyeksi yaitu antero posterior (AP) atau AP
lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan
(khusus) atau indikasi untuk memperlihatkan patologi yang dicari,
karena adanya superposisi. Untuk fraktur baru indikasi X-ray adalah
untuk melihat jenis dan kedudukan fraktur dan karenanya perlu
tampak seluruh bagian tulang (kedua ujung persendian).
Dari hasil pemeriksaan X-ray, ada beberapa jenis fraktur femur, yaitu :

Fraktur intertrochanter femur

Fraktur sub trochanter femur

23

Fraktur batang femur

Fraktur supracondyler

Fraktur intracondyler

Fraktur condyler femur

4) Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan fraktur adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari
patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan, selain itu menjaga
agar tulang tetap menempel sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan
memerlukan waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya
memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah sembuh, tulang biasanya kuat
dan kembali berfungsi.
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk
melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan
(breathing), dan sirkulasi (circulating), apakah terjadi syok atau tidak. Bila
sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi , baru lakukan amnesis dan
pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu terjadinya kecelakaan penting
ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat
golden period 1-6 jam , bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin
besar. Lakukan amnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat , singkat dan
lengkap. Kemudian, lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan
untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang

24

lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan


foto.
Penatalaksanaan fraktur telah banyak mengalami perubahan dalam waktu
sepuluh tahun terakhir ini. Traksi dan spica casting atau cast bracing
mempunyai banyak kerugian karena waktu berbaring lebih lama, meski
pun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak.
Oleh karena itu tindakan ini banyak dilakukan pada orang dewasa.
Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat
dimobilisasi dengan salah satu cara dibawah ini:

Traksi
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk
menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan
traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot
dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat
penyembuhan. Traksi menggunakan beban untuk menahan anggota
gerak pada tempatnya. Tapi sekarang sudah jarang digunakan. Traksi
longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi
spasme otot dan mencegah pemendekan, dan fragmen harus ditopang
di posterior untuk mencegah pelengkungan. Traksi pada anak-anak
dengan fraktur femur harus kurang dari 12 kg, jika penderita yang
gemuk memerlukan beban yang lebih besar.

Fiksasi interna
Fiksasi interna dilakukan dengan pembedahan untuk menempatkan
piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Fiksasi

25

interna merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan


patah tulang disertai komplikasi.

Pembidaian
Pembidaian adalah suatu cara pertolongan pertama pada cedera/
trauma sistem muskuloskeletal untuk mengistirahatkan (immobilisasi)
bagian tubuh kita yang mengalami cedera dengan menggunakan suatu
alat yaitu benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.

Pemasangan Gips atau Operasi Dengan Orif


Gips

adalah

suatu

bubuk campuran

yang

digunakan

untuk

membungkus secara keras daerah yang mengalami patah tulang.


Pemasangan gips bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang
yang patah agar tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya
pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang yang patah tersebut.

Penyembuhan Fraktur
Penyembuhan fraktur dibantu oleh pembebanan fisiologis pada tulang,
sehingga dianjurkan untuk melakukan aktifitas otot dan penahanan
beban secara lebih awal. Tujuan ini tercakup dalam tiga keputusan
yang sederhana : reduksi, mempertahankan dan lakukan latihan.

5) Komplikasi
Komplikasi awal fraktur antara lain: syok, sindrom emboli lemak, sindrom
kompartement, kerusakan arteri, infeksi, avaskuler nekrosis.

26

Syok
Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (banyak
kehilangan darah eksternal maupun yang tidak kelihatan yang bias
menyebabkan penurunan oksigenasi) dan kehilangan cairan ekstra sel
ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas, thoraks,
pelvis dan vertebra.

Sindrom emboli lemak


Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam
pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari
tekanan kapiler atau karena katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi
stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan
terjasinya globula lemak pada aliran darah.

Sindroma Kompartement
Sindroma kompartemen adalah suatu kondisi dimana terjadi
peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni
kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga mengakibatkan
berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan.
Kompartemen osteofasial merupakan ruangan yang berisi otot, saraf,
dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otototot individual yang dibungkus oleh epimisium. Ini bisa disebabkan
karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang
membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gibs atau balutan yang
menjerat ataupun peningkatan isi kompatement otot karena edema atau
perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misalnya :
iskemi,dan cidera remuk).

Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bias ditandai denagan tidak ada nadi,
CRT menurun, syanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan

27

dingin pada ekstrimitas yang disbabkan oleh tindakan emergensi


splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.

Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk
ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bias juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.

Avaskuler nekrosis Avaskuler nekrosis (AVN)


(AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang
bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali dengan adanya
Volkmans Ischemia.

Komplikasi dalam waktu lama atau lanjut fraktur antara lain: mal union,
delayed union, dan non union.
1) Malunion
Malunion dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah telah
sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. Malunion merupaka
penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan
dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan
pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
2) Delayed Union
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Delayed union
merupakankegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena
penurunan suplai darah ke tulang.
3) Nonunion

28

Nonunion

merupakan

kegagalan

fraktur

berkonsolidasi

dan

memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9


bulan. Nonunion di tandai dengan adanya pergerakan yang berlebih
pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseuardoarthrosis.
Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
b. Dislokasi Hip Joint
Dengan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, dislokasi pinggul
semakin sering ditemukan. Fragmen tulang yang kecil sering menonjol karena
sendi berdislokasi; kalau terdapat fragmen besar, atau kominusi, ini dianggap
sebagai fraktur-dislokasi.
Cedera digolongkan menurut arah dislokasi: posterior (sejauh ini tipe ini
yang paling sering ditemukan), anterior dan pusat (fraktur kominutif atau
fraktur pergeseran pada asetabulum).
1) Dislokasi posterior

Mekanisme cedera
Empat dari lima dislokasi pinggul traumatic adalah posterior. Biasanya
fraktur ini terjadi dalam kecelakaan lalu lintas bila seseorang yang
duduk dalam truk atau mobil terlempar ke depan, sehingga lutut
terbentur pada dashboard. Femur terdorong ke atas dan kaput femoris
keluar dari mangkuknya; sering sepotong tulang pada punggung
asetabulum terpotong (fraktur dislokasi).

Gambaran klinik
Pada kasus yang jelas, diagnosis mudah dilakukan: kaki pendek dan
beadduksi, berotasi internal dan sedikit berfleksi. Tetapi, kalau salah
satu tulang panjang mengalami fraktur biasanya femur cedera pinggul
dengan mudah dapat terlewat. Pedoman yang terbaik adalah memotret
pelvis dengan sinar-X pada tiap kasus cedera yang berat, dan paha

29

fraktur femur, pemriksaan sinar-X harus mencakup pinggul. Tungkai


bawah harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda cedera
saraf skiatikus.

Sinar X
Pada foto anteroposterior kaput femoris terlihat diluar mangkuknya
dan di atas asetabulum. Segmen atap asetabular atau kaput
femorismungkin telah patah dan bergeser; foto oblik berguna untuk
menunjukkan ukuran fragmen itu. Kalau fraktur ditemukan, fragmen
tulang yang lain (yang mungkin perlu dibuang) harus dicurigai. CT
Scan adalah cara terbaik untuk menunjukkan fraktur asetabulum atau
setiap fragmen tulang. Epstein (1973) menganjurkan suatu klasifikasi
yang akan membantu perencanaan terapi. Tipe I adalah dislokasi yang
tak lebih dari fraktur serpihan kecil. Tipe II adalah dislokasi dengan
fraktur besar pada bibir posterior asetabulum. Pada tipe III terdapat
kominusi pada bibir asetabulum. Tipe IV disertai dengan fraktur lantai
asetabulum, dan tipe V adalah fraktur pada kaput femoris.

Terapi
Dislokasi harus direduksi secepat mungkin dibawah anastesi umum.
Pada sebagian besar kasus dilakukan reduksi tertutup. Seorang asisten
menahan pelvis, ahli bedah memfleksikan pinggul dan lutut pasien
sampai 90 derajat dan menarik paha keatas secara vertical. Sinar X
sangat diperlukan untuk memastikan reduksi dan untuk menyingkirkan
fraktur. Bila terdapat sedikit kecurigaan saja bahwa fragmen tulang
telah terperangkap ke dalam sendi, diperlukan pemeriksaan CT-Scan.
Reduksi biasanya stabil, tetapi pinggul telah mengalami cedera berat
dan perlu diistirahatkan. Cara yang paling sederhana adalah memasang
traksi dan mempertahakannya selama 3 minggu. Gerakan dan latihan

30

dimulai segera setelah nyeri mereda. Pada akhir minggu ketiga pasien
diperbolekan berjalan dengan kruk penopang.
Kalau

pemeriksaan

sinar

atau

CT

scan

pasca

reduksi

memperlihatkan adanya fragmen intra-artikular, fragmen itu harus


dibuang dan sendi dibilas melalui pendekatan posterior. Hal ini
biasanya ditunda hingga keadaan pasien stabil.
Fraktur-dislokasi tipe II Epstein sering diterapi dengan reduksi terbuka
segera dan fiksasi anatomis pada fragemen yang terlepas. Tetapi, kalau
keadaan umum pasien dicurigai, atau tidak tersedia ahli bedah yang
terampil dalam bidang ini, pinggul direduksi secara tertutup, seperti
diuraikan diatas. Kecuali kalau sandi tak stabil, atau fragmen yang
besar tetap tak tereduksi, reduksi terbuka dan fiksasi internal
diperlukan. Pada kasus tipe II, traksi dipertahankan selama 6 minggu.
Cedera tipe III diterapi secara tertutup, tetapi mungkin terdapa
fragmen yang bertahan dan fragmen-fragmen ini harus dibuang
dengan operasi terbuka, traksi dipertahankan selama 6 minggu.
Cedera tipe IV dan V pada awalnya diterapi dengan reduksi tertutup
Fragmen kaput femoris dapat secara otomatis berada pada tempatnya,
dan ini dapat dipastikan dengan CT pasca reduksi. Kalau fragmen
tetap tak tereduksi, tetapi operasi diindikasikan: fragmen yang kecil
dapat dibuang saja, tetapi fragmen yang besar harus diganti; sendi itu
dibuka, kaput femoris didislokasikan dan fragmen diikat pada
posisinya

dengan

sekrup

countersunk.

Pasca

operasi,

traksi

dipertahankan selama 4 minggu dan pembebanan penuh ditunda


selama 12 minggu.
2) Dislokasi Anterior
Dislokasi anterior jarang dibandingkan dengan posterior. Penyebab yang
lazim adalah kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan penerbangan.
Dislokasi pada salah satu atau bahkan kedua pinggul dapat terjadi bila
31

buruh tambang atau bangunan kejatuhan benda berat pada punggungnya


saat mereka sedang bekerja denagn posisi kaki merentang, lutut lurus dan
punggung memebungkuk kedepan.

Gambaran klinik
Kaki berada pada rotasi luar, abduksi dan sedikit fleksi. Kaki tidak
memendek, karena perlekatan, karena perlekatan rektus femoris
mencegah kaput bergeser ke atas. Bila dilihat dari samping, tonjolan
anterior pada kaput yang berdislokasi tampak jelas. Kadangkadangkaki berabduksi hampir mencapai sudut siku-siku. Caput yang
menonjol mudah diraba. Gerakan pinggul tidak dapat dilakukan.

Sinar X
Pada foto anteroposterior dislokasi biasanya jelas, tetapi kadangkadang kaput hamper berada di depan posisi normalnya; setiap keraguraguan dipecahkan dengan pengambilan foto lateral.

Terapi
Maneuver yang digunakan hamper sama dengan yang digunakan
untuk mereduksi dislokasi posterior, kecuali bahwa, sewaktu paha
yang berfleksi itu ditarik ke atas, paha harus diadduksi. Terapi
berikutnya mirip dengan terapi pada dislokasi posterior.

3) Dislokasi pusat
Jatuh pada sisi atau pukulan pada trokanter mayor, dapat terdorong kaput
femoris ke lantai asetabulum dan menyebabkan fraktur pelvis.

Gambaran klinik
Paha lecet-lecet atau memar tetapi kaki terletak pada posisi normal.
Trokanter dan daerah pinggul terasa nyeri. Sedikit gerakan dapat
dilakukan. Pasien harus diperiksa dengan cermat untuk mencari ada
tidaknya cedera pelvis dan perut.

32

Sinar X
Kaput femoris bergeser ke medial, dan lantai asetabulum mengalami
fraktur.

Terapi
Harus selalu dicoba untuk melakukan reduksi terhadap dislokasi dan
memulihkan bentuk lazim pinggul.
Dislokasi pusat yang disertai kominusi pada lantai asetabulum kadangkadang dapat direduksi dengan manipulasi dibawah anastesi umum.
Ahli bedah menarik paha dengan kuat dan kemudian mencoba
mengungkit keluar kaput dengan mengadduksi paha, menggunakan
bantalan yang keras sebagai titik tumpu. Kalau cara ini berhasil, traksi
kerangka longitudinal dipertahankan selama 4-6 minggu, dengan
pemeriksaan sinar X untuk memastikan bahwa kaput femoris tetap
berada dibawah bagian asetabulum yang menahan beban.
Kalau manipulasi gagal, kombinasi traksi kerangka longitudinal dan
lateral dapat mereduksi dislokasi selama 2-3 minggu. Jika cara ini
tidak berhasil sebaiknya kita cukup puas dengan reduksi yang tak
sempurna.

33

DAFTAR ISI

1. American College of Surgeons, Committee on Trauma: Advanced trauma life


support for doctors, Faculty Manual, 7th Ed. Chicago 2004: 53-151
2. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Keterampilan Prosedural Terapi
Cairan dan Elektrolit. [online]. 2011 [cited 2013 Maret 18]; Available
from:URL:http://repository.unand.ac.id/15473/4/Penuntun_Skills_Lab_29071
1_OK.pdf
3. Symposium Update on Fluid Resuscitation by Anesthesiology Departement,
Makassar, 31 Agustus 2008, dibawakan oleh dr. Ramli.
4. Ewingsa 2009. Efusi Pleura . diakses dari
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/efusipleura.pdf pada tanggal 16
Desember 2013
5. Halim, Hadi. Penyakit Penyakit Pleura. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
II. 2007. Balai Penerbit FK UI Jakarta
6. American college of surgeons. 2004. Advance Trauma Life Support Program
for Doctors, 7th edition. USA (Diterjemahan dan dicetak oleh komisi trauma
IKABI)
7. Tambunan, Karmel L, dkk. 2003. Buku Panduan Penatalaksanaan Gawat
Darurat, Jilid 1. Jakarta. FKUI
8. Robbins. Patologi Vol.2, Edisi 7. ECG

34

9. Eugene C. Toy, dkk. 2011. Case Files: Kedaruratan Medik, Edisi 2. Karisma
Publishing Group.

35