Anda di halaman 1dari 18

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DI

INDONESIA
Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak
pemerintahan Belanda pada abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu
itu dimulai dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera yang sangat ditakuti
masyarakat pada waktu itu.
Kolera masuk di Indonesia tahun 1927 dan tahun 1937 terjadi wabah kolera
eltor di Indonesia kemudian pada tahun 1948 cacar masuk ke Indonesia melalui
Singapura dan mulai berkembang di Indonesia. Sehingga berawal dari wabah kolera
tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya kesehatan
masyarakat.
Namun demikian di bidang kesehatan masyarakat yang lain pada tahun 1807
pada waktu pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, telah dilakukan pelatihan dukun
bayi dalam praktek persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka penurunan angka
kematian bayi yang tinggi pada waktu itu.
Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung lama karena langkanya tenaga pelatih
kebidanan kemudian pada tahun 1930 dimulai lagi dengan didaftarnya para dukun bayi
sebagai penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada
zaman kemerdekaan pelatihan secara cermat dukun bayi tersebut dilaksanakan lagi.
Pada tahun 1851 sekolah dokter Jawa didirikan oleh dr. Bosch, kepala
pelayanan kesehatan sipil dan militer dan dr. Bleeker di Indonesia. Kemudian sekolah ini
terkenal dengan nama STOVIA (School Tot Oplelding Van Indiche Arsten) atau sekolah
untuk pendidikan dokter pribumi. Setelah itu pada tahun 1913 didirikan sekolah dokter
yang kedua di Surabaya dengan nama NIAS (Nederland Indische Arsten School).
Pada tahun 1927, STOVIA berubah menjadi sekolah kedokteran dan akhirnya
sejak berdirinya Universitas Indonesia tahun 1947 berubah menjadi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Kedua sekolah tersebut mempunyai andil yang sangat besar dalam
menghasilkan tenaga-tenaga (dokter-dokter) yang mengembangkan kesehatan
masyarakat Indonesia.
Tidak kalah pentingnya dalam mengembangkan kesehatan masyarakat di
Indonesia adalah berdirinya Pusat Laboratorium Kedokteran di Bandung pada tahun
1888. Kemudian pada tahun 1938, pusat laboratorium ini berubah menjadi Lembaga
Eykman dan selanjutnya disusul didirikan laboratorium lain di Medan, Semarang,
Makassar, Surabaya dan Yogyakarta.
Laboratorium-laboratorium ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam
rangka menunjang pemberantasan penyakit seperti malaria, lepra, cacar dan sebagainya
bahkan untuk bidang kesehatan masyarakat yang lain seperti gizi dan sanitasi.

Pada tahun 1922 pes masuk Indonesia dan pada tahun 1933, 1934 dan 1935
terjadi epidemi di beberapa tempat, terutama di pulau Jawa. Kemudian mulai tahun 1935
dilakukan program pemberantasan pes ini dengan melakukan penyemprotan DDT
terhadap rumah-rumah penduduk dan juga vaksinasi massal. Tercatat pada tahun 1941,
15.000.000 orang telah memperoleh suntikan vaksinasi.
Pada tahun 1925, Hydrich, seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda
melakukan pengamatan terhadap masalah tingginya angka kematian dan kesakitan di
Banyumas-Purwokerto pada waktu itu. Dari hasil pengamatan dan analisisnya tersebut
ini menyimpulkan bahwa penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan ini adalah
karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan.
Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang tempat, di
kebun, selokan, kali bahkan di pinggir jalan padahal mereka mengambil air minum juga
dari kali. Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan
karena perilaku penduduk.
Oleh sebab itu, untuk memulai upaya kesehatan masyarakat, Hydrich
mengembangkan daerah percontohan dengan melakukan propaganda (pendidikan)
penyuluhan kesehatan. Sampai sekarang usaha Hydrich ini dianggap sebagai awal
kesehatan masyarakat di Indonesia.
Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak penting perkembangan
kesehatan masyarakat di Indonesia adalah diperkenalkannya Konsep Bandung (Bandung
Plan) pada tahun 1951 oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah, yang selanjutnya dikenal
dengan Patah-Leimena.
Dalam konsep ini mulai diperkenalkan bahwa dalam pelayanan kesehatan
masyarakat, aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti dalam
mengembangkan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia kedua aspek ini tidak boleh
dipisahkan, baik di rumah sakit maupun di puskesmas.
Selanjutnya pada tahun 1956 dimulai kegiatan pengembangan kesehatan sebagai
bagian dari upaya pengembangan kesehatan masyarakat. Pada tahun 1956 ini oleh dr. Y.
Sulianti didirikan Proyek Bekasi (tepatnya Lemah Abang) sebagai proyek percontohan
atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat pedesaan di Indonesia
dan sebagai pusat pelatihan tenaga kesehatan.
Proyek ini disamping sebagai model atau konsep keterpaduan antara pelayanan
kesehatan pedesaan dan pelayanan medis, juga menekankan pada pendekatan tim dalam
pengelolaan program kesehatan.
Untuk melancarkan penerapan konsep pelayanan terpadu ini terpilih 8 desa
wilayah pengembangan masyarakat yaitu Inderapura (Sumatera Utara), Lampung,
Bojong Loa (Jawa Barat), Sleman (Jawa Tengah), Godean (Yogyakarta), Mojosari (Jawa

Timur), Kesiman (Bali) dan Barabai (Kalimantan Selatan). Kedelapan wilayah tersebut
merupakan cikal bakal sistem puskesmas sekarang ini.
Pada bulan November 1967, dilakukan seminar yang membahas dan
merumuskan program kesehatan masyarakat terpadu sesuai dengan kondisi dan
kemampuan rakyat Indonesia. Pada waktu itu dibahas konsep puskesmas yang
dibawakan oleh dr. Achmad Dipodilogo yang mengacu kepada konsep Bandung dan
Proyek Bekasi. Kesimpulan seminar ini adalah disepakatinya sistem puskesmas yang
terdiri dari tipe A, B, dan C.
Dengan menggunakan hasil-hasil seminar tersebut, Departemen Kesehatan
menyiapkan rencana induk pelayanan kesehatan terpadu di Indonesia. Akhirnya pada
tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa puskesmas adalah
merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu yang kemudian dikembangkan oleh
pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas).
Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan
pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau dalam
wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan, di kotamadya atau kabupaten.

Kegiatan pokok puskesmas mencakup :


1. Kesehatan ibu dan anak
2. Keluarga berencana
3. Gizi
4. Kesehatan lingkungan
5. Pencegahan penyakit menular
6. Penyuluhan kesehatan masyarakat
7. Pengobatan
8. Perawatan kesehatan masyarakat
9. Usaha kesehatan gizi
10 Usaha kesehatan sekolah
11 Usaha kesehatan jiwa
12 Laboratorium
13 Pencatatan dan pelaporan
Pada tahun 1969, sistem puskesmas hanya disepakati 2 saja, yakni tipe A dan B
dimana tipe A dikelola oleh dokter sedangkan tipe B hanya dikelola oleh paramedis.
Dengan adanya perkembangan tenaga medis maka akhirnya pada tahun 1979 tidak
diadakan perbedaan puskesmas tipe A atau tipe B, hanya ada satu tipe puskesmas yang
dikepalai oleh seorang dokter.
Pada tahun 1979 juga dikembangkan 1 piranti manajerial guna penilaian
puskesmas yakni stratifikasi puskesmas sehingga dibedakan adanya :
1. Strata 1 : puskesmas dengan prestasi sangat baik

2. Strata 2 : puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar


3. Strata 3 : puskesmas dengan prestasi dibawah rata-rata
Selanjutnya puskesmas juga dilengkapi dengan 2 piranti manajerial yang lain,
yakni micro planning untuk perencanaan dan lokakarya mini (Lokmin) untuk
pengorganisasian kegiatan dan pengembangan kerjasama tim. Akhirnya pada tahun 1984
tanggung jawab puskesmas ditingkatkan lagi dengan berkembangnya program paket
terpadu kesehatan dan keluarga berencana (Posyandu).
Program ini mencakup :
1. Kesehatan ibu dan anak
2. Keluarga berencana
3. Gizi
4. Penanggulangan penyakit diare
5. Imunisasi
Puskesmas mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan Posyandu
di wilayah kerjanya masing-masing.
Update : 29 Juni 2006
Sumber :
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet.
ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 20
Peran Teknologi Informasi dalam Ilmu
Kedokteran
Friday, 07 April 2006

Peran teknologi informasi kini telah mencakup hampir di semua bidang ilmu, tidak
terkecuali di bidang ilmu kedokteran. Diharapkan dengan berkembangnya teknologi di
bidang kedokteran dan kesehatan serta semakin majunya teknologi informasi dan
komunikasi (ICT), akses untuk masyarakat umum mendapatkan informasi menjadi
sangat terbuka luas.
Masyarakat juga harus mendapatkan sumber informasi secara benar, sehingga
masyarakat umum akan terlindungi dari informasi-informasi yang tidak benar dan
kurang akurat, terutama informasi dibidang kesehatan dan kedokteran.
Dengan dasar pemikiran seperti itulah beberapa institusi berkumpul dan mendirikan
Perhimpunan Informatika Kedokteran/Kesehatan Indonesia (PIKIN) yang pelantikannya
dilakukan pada tanggal 7 April 2005 bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Perhimpunan ini mempunyai visi dan tujuan untuk memberikan pendidikan

kepada masyarakat luas secara optimal yang nantinya dapat meningkatkan partisipasi
masyarakat tersebut dalam pelaksanaan kebijakan pada bidang kesehatan/kedokteran.
PIKIN memiliki beberapa perencanaan kedepan yang memadukan peran teknologi dalam
ilmu kedokteran, seperti membangun sebuah pusat data dan informasi dibidang
kesehatan/kedokteran dengan melibatkan beberapa pakar dibidangnya, seperti akademisi
kedokteran, kedokteran gigi, kesehatan masyarakat, keperawatan, industri farmasi,
psikologi, dan tentunya para ahli teknologi informasi serta bidang lain yang terkait.
Harapannya semua data yang terkumpul akan dapat digunakan oleh seluruh masyarkat
secara mudah, misalnya dapat diakses melalui website ataupun rencana dalam bentuk
lain seperti penulisan artikel pada media cetak, talk show, serta penyelenggaraan
simposium maupun seminar.

Sistem dan aplikasi yang akan diterapkan oleh PIKIN rencananya menggunakan aplikasiaplikasi berbasiskan Open Source dan hal ini telah mendapat dukungan yang kuat dari
Kementrian Komunikasi dan Teknologi Informasi Republik Indonesia.
Dalam acara pelantikan badan pengurus PIKIN, juga diselenggarakan acara diskusi dan
kajian yang bertema Informatika Dalam Pengembangan Bidang Kesehatan yang
dibawakan oleh Romi Satrio Wahono, Chief Executive Officer PT. Brainmatics Cipta
Informatika.

03. Kedokteran
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tongkat Aesculapius, simbol umum yang melambangkan kedokteran.


Kedokteran (Inggris: medicine) adalah suatu ilmu dan seni yang mempelajari tentang
penyakit dan cara-cara penyembuhannya. Ilmu kedokteran adalah cabang ilmu kesehatan
yang mempelajari tentang cara mempertahankan kesehatan manusia dan mengembalikan
manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera.
Ilmu ini meliputi pengetahuan tentang sistem tubuh manusia dan penyakit serta
pengobatannya, dan penerapan dari pengetahuan tersebut.

Praktek kedokteran dilakukan oleh para profesional kedokteranlazimnya dokter dan


kelompok profesi kedokteran lainnya yang meliputi perawat atau ahli farmasi.
Berdasarkan sejarah, hanya dokterlah yang dianggap mempraktekkan ilmu kedokteran
secara harfiah, dibandingkan dengan profesi-profesi perawatan kesehatan terkait. Profesi
kedokteran adalah struktur sosial dan pekerjaan dari sekelompok orang yang dididik
secara formal dan diberikan wewenang untuk menerapkan ilmu kedokteran. Di berbagai
negara dan wilayah hukum, terdapat batasan hukum atas siapa yang berhak
mempraktekkan ilmu kedokteran atau bidang kesehatan terkait.
Ilmu kedokteran umumnya dianggap memiliki berbagai cabang spesialis, dari pediatri
(ilmu kesehatan anak), ginekologi (ilmu penyakit pada wanita), neurologi (ilmu penyakit
saraf), hingga melingkupi bidang lainnya seperti kedokteran olahraga, dan kesehatan
masyarakat.
Sistem kedokteran dan praktek perawatan kesehatan telah berkembang dalam berbagai
masyarakat manusia sedikitnya sejak awal sejarah tercatatnya manusia. Sistem-sistem ini
telah berkembang dalam berbagai cara dan berbagai budaya serta daerah yang berbeda.
Yang dimaksud dengan ilmu kedokteran modern pada umumnya adalah tradisi
kedokteran yang berkembang di dunia Barat sejak awal zaman modern. Berbagai
tindakan pengobatan dan kesehatan tradisional masih dipraktekkan di seluruh dunia, di
mana sebagian besar dianggap terpisah dan berbeda dari kedokteran Barat, yang juga
disebut biomedis atau tradisi Hippokrates. Sistem ilmu kedokteran yang paling
berkembang selain sistem Barat adalah tradisi Ayurveda dari India dan pengobatan
tradisional Tionghoa. Berbagai tradisi perawatan kesehatan non konvensional juga
dikembangkan di dunia Barat yang berbeda dari ilmu kedokteran pada umumnya. Di

berbagai tempat, sistem kedokteran Barat seringkali dipraktekkan bersama-sama dengan


sistem kedokteran tradisional setempat atau sistem kedokteran lainnya, meskipun juga
dianggap saling bersaing atau bahkan bertentangan.
Kedokteran veteriner atau yang lazim disebut kedokteran hewan adalah praktek
kesehatan yang dikhususkan untuk spesies hewan lainnya.

[sunting] Sejarah kedokteran

Seorang dokter sedang merawat pasiennya. Museum Louvre, Paris, Perancis.

Ampul obat
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah kedokteran
Pada awalnya, sebagian besar kebudayaan dalam masyarakat awal menggunakan
tumbuh-tumbuhan herbal dan hewan untuk tindakan pengobatan. Ini sesuai dengan
kepercayaan magis mereka yakni animisme, sihir, dan dewa-dewi. Masyarakat animisme
percaya bahwa benda mati pun memiliki roh atau mempunyai hubungan dengan roh
leluhur.

Ilmu kedokteran berangsur-angsur berkembang di berbagai tempat terpisah yakni Mesir


kuno, Tiongkok kuno, India kuno, Yunani kuno, Persia, dan lainnya. Sekitar tahun 1400an terjadi sebuah perubahan besar yakni pendekatan ilmu kedokteran terhadap sains. Hal
ini mulai timbul dengan penolakankarena tidak sesuai dengan fakta yang adaterhadap
berbagai hal yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh pada masa lalu (bandingkan dengan
penolakan Copernicus pada teori astronomi Ptolomeus. Beberapa tokoh baru seperti
Vesalius (seorang ahli anatomi) membuka jalan penolakan terhadap teori-teori besar
kedokteran kuno seperti teori Galen, Hippokrates, dan Avicenna. Diperkirakan hal ini
terjadi akibat semakin lemahnya kekuatan gereja dalam masyarakat pada masa itu.
Ilmu kedokteran yang seperti dipraktekkan pada masa kini berkembang pada akhir abad
ke-18 dan awal abad ke-19 di Inggris (oleh William Harvey, abad ke-17), Jerman
(Rudolf Virchow) dan Perancis (Jean-Martin Charcot, Claude Bernard). Ilmu kedokteran
modern, kedokteran "ilmiah" (di mana semua hasil-hasilnya telah diujicobakan)
menggantikan tradisi awal kedokteran Barat, herbalisme, humorlasime Yunani dan semua
teori pra-modern. Pusat perkembangan ilmu kedokteran berganti ke Britania Raya dan
Amerika Serikat pada awal tahun 1900-an (oleh William Osler, Harvey Cushing).
Kedokteran berdasarkan bukti (evidence-based medicine) adalah tindakan yang kini
dilakukan untuk memberikan cara kerja yang efektif dan menggunakan metode ilmiah
serta informasi sains global yang modern.
Kini, ilmu genetika telah mempengaruhi ilmu kedokteran. Hal ini dimulai dengan
ditemukannya gen penyebab berbagai penyakit akibat kelainan genetik, dan
perkembangan teknik biologi molekuler.
Ilmu herbalisme berkembang menjadi farmakologi. Masa modern benar-benar dimulai
dengan penemuan Heinrich Hermann Robert Koch bahwa penyakit disebarkan melalui
bakteria (sekitar tahun 1880), yang kemudian disusul penemuan antibiotik (sekitar tahun
1900-an). Antibiotik yang pertama kali ditemukan adalah obat Sulfa, yang diturunkan
dari anilina. Penanganan terhadap penyakit infeksi berhasil menurunkan tingkat infeksi
pada masyarakat Barat. Oleh karena itu dimulailah industri obat.

Praktek kedokteran
Praktek kedokteran mengombinasikan sains dan seni. Sains dan teknologi adalah bukti
dasar atas berbagai masalah klinis dalam masyarakat. Seni kedokteran adalah penerapan
gabungan antara ilmu kedokteran, intuisi, dan keputusan medis untuk menentukan
diagnosis yang tepat dan perencanaan perawatan untuk masing-masing pasien serta
merawat pasien sesuai dengan apa yang diperlukan olehnya.
Pusat dari praktek kedokteran adalah hubungan relasi antara pasien dan dokter yang
dibangun ketika seseorang mencari dokter untuk mengatasi masalah kesehatan yang
dideritanya.
Dalam praktek, seorang dokter harus:

membangun relasi dengan pasien


mengumpulkan data (riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik dengan hasil
laboratorium atau citra medis)
menganalisa data
membuat rencana perawatan (tes yang harus dijalani berikutnya, terapi, rujukan)
merawat pasien
memantau dan menilai jalannya perawatan dan dapat mengubah perawatan bila
diperlukan.

Semua yang dilakukan dokter tercatat dalam sebuah rekam medis, yang merupakan
dokumen yang berkedudukan dalam hukum. [1]

Relasi pasien-dokter

Hubungan relasi antara dokter dan pasien yang timbul pada ruangan praktik
Relasi pasien dan dokter adalah proses utama dari praktek kedokteran. Terdapat banyak
pandangan mengenai hubungan relasi ini.
Pandangan yang ideal, seperti yang diajarkan di fakultas kedokteran, mengambil sisi dari
proses seorang dokter mempelajari tanda-tanda, masalah, dan nilai-nilai dari pasien;
maka dari itu dokter memeriksa pasien, menginterpretasi tanda-tanda klinis, dan
membuat sebuah diagnosis yang kemudian digunakan sebagai penjelasan kepada pasien
dan merencanakan perawatan atau pengobatan. Pada dasarnya, tugas seorang dokter
adalah berperan sebagai ahli biologi manusia. Oleh karena itu, seorang dokter harus
paham benar bagaimana keadaan normal dari manusia sehingga ia dapat menentukan
sejauh mana kondisi kesehatan pasien. Proses inilah yang dikenal sebagai diagnosis.
Empat kata kunci dari diagnosis dalam dunia kedokteran adalah anatomi (struktur: apa
yang ada di sana), fisiologi atau faal (bagaimana struktur tersebut bekerja), patologi (apa
kelainan dari sisi anatomi dan faalnya), dan psikologi (pikiran dan perilaku). Seorang
dokter juga harus menyadari arti 'sehat' dari pandangan pasien. Artinya, konteks sosial
politik dari pasien (keluarga, pekerjaan, tingkat stres, kepercayaan) harus turut
dipertimbangkan dan terkadang dapat menjadi petunjuk dalam kepentingan membangun
diagnosis dan perawatan berikutnya.

Ketika bertemu dengan dokter, pasien akan memaparkan komplainnya (tanda-tanda)


kepada dokter, yang nantinya akan memberikan berbagai informasi tentang tanda-tanda
klinis tersebut. Kemudian dokter akan memeriksa, mencatat segala yang ditemukannya
pada diri pasien dan memperkirakan berbagai kemungkinan diagnosis. Bersama pasien,
dokter akan menyusun perawatan berikutnya atau tes laboratorium berikutnya bila
diagnosis belum dapat dipastikan. Bila diagnosis telah disusun, maka dokter akan
memberikan ("mengajarkan") nasihat medis. Relasi pengajaran ini menempatkan dokter
sebagai guru (Physician dalam Bahasa Inggris; berasal dari bahasa Latin yang berarti
guru).
Relasi dokter dan pasien dapat dianalisa dari pandangan masalah etika. Banyak nilai dan
masalah etika yang dapat ditambahkan ke relasi ini. Tentunya, masalah etika amat
dipengaruhi oleh tingkat masyarakat, masa, budaya, dan pemahan terhadap nilai moral.
Sebagai contoh, dalam 30 tahun terakhir, penegasan dan tuntutan terhadap hak otonomi
pasien kian meningkat di dalam dunia kedokteran Barat.
Relasi dan proses praktek juga dapat dilihat dari sisi relasi kekuatan sosial (seperti yang
dikemukakan Michel Foucault atau transaksi ekonomi. Profesi dokter memiliki status
yang lebih tinggi pada abad lalu, dan mereka dipercaya untuk melakukan tindakan dalam
kesehatan masyarakat. Hal ini membawa suatu kekuatan tersendiri dan membawa
keuntungan serta kerugian bagi pasien.
Pada 25 tahun terakhir ini, kebebasan dokter dipersempit. Terutama dengan kehadiran
perusahaan asuransi seiiring naiknya biaya perawatan kesehatan. Di berbagai negara
(seperti Jepang) pihak asuransi juga mempunyai pengaruh dalam penentuan keputusan
medis.
Kualitas relasi pasien dan dokter sangat penting bagi kedua pihak. Saling menghormati,
kepercayaan, pertukaran pendapat mengenai penyakit dan kehidupan, ketersediaan waktu
yang cukup, mempertajam ketepatan diagnosis, dan memperkaya wawasan pasien
tentang penyakit yang dideritanya; semua ini dilakukan agar relasi kian baik.
Relasi kian kompleks di luar ruang praktek pribadi dokter, seperti pada bangsal rumah
sakit. Dalam rumah sakit, relasi tak hanya antara dokter dan pasien, namun juga dengan
pasien lainnya, perawat, pekerja dari lembaga sosial, dan lainnya.

Kecakapan klinis
Sebuah evaluasi medis yang lengkap terdiri dari sebuah riwayat kesehatan, pemeriksaan
fisik, hasil laboratorium atau citra medis, analisa data, dan penentuan diagnosis, dan
perencanaan perawatan atau pengobatan.[2]
Hal-hal yang termasuk dalam riwayat kesehatan:

Keluhan utama (KU): alasan pasien datang kepada dokter. Hal ini disebut tanda
atau gejala. Dituliskan sesuai dengan yang diungkapkan oleh pasien dan sejak
kapan hal tersebut di keluhkan pasien.
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)(HPI: History of present illness): urutan
kronologis dari tanda-tanda dan klasifikasi dari setiap tanda.
Aktivitas kini: hal-hal yang berkaitan aktivitas pasien sekarang seperti pekerjaan,
hobi, dan lainnya.
Riwayat Pengobatan: obat apa yang digunakan pasien sebelum menemui dokter,
termasuk alergi.
Riwayat Penyakit Dahulu/RPD(PMH: Past medical history): perawatan yang
pernah dijalani pasien sebelumnya, cedera, penyakit infeksi yang pernah diderita,
vaksinasi, alergi yang pernah diderita.
Riwayat Sistemik (ROS: Review of systems): menanyakan pasien mengenai
kondisi sistem organ utamanya seperti jantung, paru-paru, sistem pencernaan
(traktus digestivus), dan lainnya.
Riwayat sosial Ekonomi(SH: Social history): tempat lahir, tempat tinggal, status
perkawinan, status sosial ekonomi, kebiasaan (termasuk diet), penggunaan obat,
tembakau, dan alkohol.
Riwayat keluarga (FH: Family history): membuat daftar penyakit apa saja yang
pernah diderita oleh keluarga pasien yang dapat diturunkan (penyakit genetik).
Biasanya dibuat dalam silsilah keluarga atau pohon keluarga.

Dalam pemeriksaan fisik, dokter berusaha mencari tanda yang dapat mendukung proses
pembuatan diagnosisnya. Dokter menggunakan indera penglihatan, pendengaran,
sentuhan, dan terkadang juga dengan penciuman. Empat metode utama untuk
pemeriksaan fisik: melihat (inspeksi), merasakan/menyentuh (palpasi), mengetuk untuk
membedakan karakteristik resonansi (perkusi), mendengar (auskultasi); mencium
terkadang diperlukan seperti untuk membaui urea pada penyakit uremia.
Pemeriksaan fisik mencakup:

Tanda vital termasuk tinggi, berat badan, suhu tubuh, tekanan darah, denyut,
kecepatan bernapas, tingkat hemoglobin darah,
Tampakan umum pasien dan penunjuk spesifik dari penyakit.
Kulit, kepala, mata, telinga, hidung, tenggorok, dan kerongkongan.
Kardiovaskular jantung dan pembuluh darah
Saluran pernapasan (termasuk paru-paru)
Tubuh (abdomen) dan rektum
Organ genitalia (kelamin)
Otot rangka (anggota gerak tubuh)
Kondisi persarafan (kesadaran, orak, saraf kranial, saraf perifer)
Psikiatrik atau kejiwaan (orientasi, mental)

Hasil laboratorium dan pencitraan medis dapat digunakan bila diperlukan.

Pemeriksaan ini dapat berlangsung hanya dalam beberapa menit bila masalahnya
sederhana maupun hingga berminggu-minggu bila pasien mengalami masalah pada
beberapa sistem tubuhnya sehingga diperlukan rujukan ke beberapa dokter spesialis.
Cabang ilmu kedokteran
Profesi kedokteran dituntut untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik,
apalagi kini cakupan ilmu telah berkembang luas. Ilmu kedokteran gigi dan psikologi,
walaupun sering dipisahkan dari kedokteran umum, tetap menjadi bagian satu kesatuan
ilmu kedokteran.
Seorang dokter dapat memiliki kemampuan spesialisasi(sudah menjalani pendidikan
lanjut pasca sarjana) dan subspesialisasi yang disebut sebagai dokter spesialis. Penentuan
spesialiasi dan gelarnya beragam di tiap negara.

Spesialiasi diagnostik

Laboratorium klinik adalah layanan diagnostik klinis yang mengaplikasikan


teknik laboratorium untuk membuat diagnosis dan manajemen pasien. Di
Amerika Serikat, layanan ini berada di bawah pengawasan seorang patologis (ahli
patologi). Orang yang dapat bekerja di bidang ini adalah staf yang paham akan
teknologi kedokteran, di Indonesia Laboratorium patologi ini ada 2 :

1. Patologi klinik
2. Patologi anatomi

Radiologi berkonsentrasi pada pemcitraan atau penggambaran tubuh manusia,


misalnya dengan sinar-X, CT-scan, USG (ultrasonografi), tomografi resonansi
magnetik nuklir.

Disiplin ilmu pre-klinis

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan organisasi tubuh manusia
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi berbagai organ dan sistem organ
serta interaksinya dalam tubuh manusia
Biokimia adalah ilmu yang mempelajari proses-proses kimia yang terjadi dalam
tubuh manusia
Histologi adalah ilmu yang mempelajari struktur mikroskopik dan fungsi jaringan
pembentuk dan penyusun organ dan sistem organ dalam tubuh manusia
Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari obat-obatan, interaksi dan efeknya
terhadap tubuh manusia
Patologi anatomi adalah ilmu yang mempelajari kelainan struktur mikroskopik
dan makroskopik berbagai organ dan jaringan yang disebabkan penyakit atau
proses lainnya
Patologi klinik adalah ilmu yang mempelajari kelainan yang terjadi pada berbagai
fungsi organ atau sistem organ

Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit-penyakit yang disebabkan


parasit
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit-penyakit yang disebabkan
mikroba

Disiplin ilmu klinis

Anestesiologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari penggunaan anestesi.


Dermatologi adalah ilmu yang mempelajari kulit dan penyakitnya. Di Inggris,
dermatologi adalah subspesialis dari kedokteran umum. Di Indonesia, spesialisasi
ini digabungkan dengan ilmu penyakit kelamin. Dokter dengan spesialisasi ini
diberi gelar SpKK (Spesialisasi Kulit dan Kelamin).
Kedaruratan medis adalah ilmu yang memusatkan pada diagnosis dan perawatan
dari penyakit akut seperti trauma. Ilmu ini juga berhubungan dengan ilmu bedah,
pediatri, dan lainnya.
Kedokteran umum atau kedokteran keluarga menangani pertolongan pertama
untuk pasien dengan masalah darurat, memantau dan membina pasien dengan
masalah kronis. Dokter keluarga biasanya dapat menangani 90% dari masalah
kesehatan keluarga (anak, dewasa, manula baik pria maupun wanita) tanpa harus
merujuk ke dokter spesialis, baik masalah acute dan kronis( penyakit luar(kulit ,
THT, mata dll),dan penyakit dalam(jantung, paru dll)). Di U.S.A dokter yang
tergolong generalist meliputi, pediatri: masalah anak, internis(ahli Penyakit
dalam): dewasa, Family physician(Dokter keluarga): untuk segala golongan
umur.
Ilmu penyakit dalam berpusat pada masalah penyakit sistemik terutama pada
pasien dewasa seperti masalah penyakit yang dapat merusak seluruh tubuh. Ilmu
ini banyak menurunkan subspesialis: (Tidak semua spesialisasi ini ada di Indonesia, lihat
artikel dokter spesialis)
o Endokrinologi
o Gastroenterologi
o Hematologi
o Kardiologi
o Kedokteran perawatan
o Nefrologi
o Onkologi
o Penyakit infeksi
o Pulmonologi
o Rheumatologi

intensif

Neurologi adalah ilmu yang memepelajari tentang penyakit saraf. Di Inggris,


spesialisasi ini berada di bawah kedokteran umum.
Obstetrik dan ginekologi (di kalangan dokter sering disingkat obgin). Dalam
bahasa Indonesia disebut ilmu kebidanan dan penyakit kandungan. Masalah obat
reproduksi dan obat kesuburan secara umum ditangani oleh spesialis ginekologi.
Perawatan penenangan pasien adalah cabang baru dari ilmu kedokteran yang
menangani perawatan dan pemberian dukungan emosional pasien dengan
penyakit yang parah seperti kanker dan gagal jantung.

Pediatri adalah ilmu yang mempelajari masalah penyakit pada bayi dan anak.
Seperti pada ilmu penyakit dalam, disiplin ini memiliki banyak subspesialis
seperti untuk bidang kardiologi, endokrinologi, gastroenterologi, hematologi,
onkologi, oftalmologi, dan neonatologi.
Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL): ilmu kedokteran yang
mempelajari kesehatan telinga, pendengaran, keseimbangan, hidung, pernafasan,
tenggorok, kelaianan suara, gangguan menelan, dan adanya tumor di daerah leher
dan wajah.
Kedokteran rehabilitasi medis atau disebut juga fisiatri mempelajari perbaikan
fungsional tubuh dari cedera atau kelainan kongenital.
Kedokteran preventif adalah cabang dari ilmu kedokteran yang memusatkan pada
pencegahan penyakit.
Psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa.
Terapi radiasi memusatkan pada penggunaan radiasi untuk terapi.
Radiologi mempelajari interpretasi dari pencitraan medis dari berbagai media
seperti sinar X. Di Indonesia, dokter dengan spesialiasi radiologi diberi gelar
SpRad.
Spesialisasi bedah mempelejarai ilmu bedah. Ilmu ini memiliki cabang
spesialisasi seperti bedah ortopedik, bedah urologi, bedah saraf dan lainnya.
Ilmu kedokteran berdasarkan gender, mempelajari sisi perbedaan biologi dan
fisiologi dari jenis kelamin dan bagaimana pengaruhnya pada penyakit.

Cakupan antardisipliner
Ilmu kedokteran pun meluas ke bidang lainnya. Beberapa bidang belum dikenal di
Indonesia.

Bioetika adalah sebuah ilmu yang mempelajari hubungan biologi, sains,


kesehatan, etika, filsafat, dan teologi.
Farmakologi klinis mempelajari hubungan interaksi antara obat dan tubuh pasien.
Informatika kedokteran mengubungkan dunia kedokteran dengan dunia teknologi
informasi.
Kedokteran dirgantara mempelajari perihal kesehatan yang berhubunga dengan
penerbangan dan perjalanan udara.
Kedokteran evolusioner adalah ilmu kedokteran yang dikaitkan dengan teori
evolusioner.
Kedokteran forensik mempelajari ilmu kedokteran yang berkaitan dengan
masalah hukum seperti penentuan waktu dan penyebab kematian seseorang pada
sebuah kasus kriminal.
Kedokteran konservasi adalah ilmu yang berkaitan dengan kesehatan manusia
dan hewan serta kondisi lingkungan. Disebut juga sebagai kedokteran ekologis
atau kedokteran lingkungan.
Kedokteran olahraga menangani kesehatan para olahragawan.
Kedokteran selam membahas hal yang berhubungan masalah kesehatan pada
penyelaman.
Nosologi adalah bagian pengelompokan penyakit untuk tujuan tertentu.

Teknik biomedis mempelajari aplikasi prinsip teknis untuk praktek kedokteran.

Pendidikan dan profesi kedokteran di Indonesia

Pendidikan kedokteran pada tahun 1901.


Pendidikan kedokteran adalah proses pendidikan dokter untuk diterapkan di masyarakat.
Pendidikan dan pelatihan ilmu kedokteran bervariasi di setiap negara, namun di hampir
semuanya pendidikan ini dibuka mulai dari sekolah kedokteran atau fakultas kedokteran
di tingkat universitas selama waktu yang ditentukan.
Di Indonesia, pendidikan kedokteran dibuka di tingkat fakultas kedokteran universitas.
Mahasiswa harus menempuh pendidikan strata-1 selama sekitar 3,5 tahun untuk
mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (SKed). Setelah itu untuk menjadi seorang
dokter, mahasiswa harus mengikuti pendidikan profesi dokter selama 1,5 tahun. Ketika
telah diambil sumpah, seorang dokter dianjurkan menjadi pegawai tidak tetap (PTT)
pemerintah untuk disebar ke daerah selama waktu yang telah ditentukan. Seorang dokter
umum dapat mengambil pendidikan spesialisasi sesuai pilihannya.Saat ini kurikulum
pendidikan kedokteran di Indonesia menganut sistem pembelajaran berdasarkan masalah
atau Problem based Learning (PBL).

Konsil Kedokteran Indonesia


Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) berdasarkan UU no. 29 Tahun 2004 tentang praktik
Kedokteran, telah dibentuk untuk melindungi masyarakat penerima jasa pelayanan
kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dari dokter dan dokter gigi, yang
terdiri atas Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi. KKI bertanggung jawab
kepada Presiden dan berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.
KKI mempunyai fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan
dokter gigi yang menjalankan prakterk kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu
pelayanan medis. KKI mempunyai tugas meregistrasi dokter dan dokter gigi,
mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi dan melakukan
pembinaan terhadap penyelenggaraan praktek kedokteran yang dilaksanakan bersama
lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-masing. Standar pendidikan profesi dokter
dan dokter gigi yang disahkan Konsil ditetapkan bersama oleh Konsil Kedokteran

Indonesia dengan kolegium kedokteran, kolegium kedokteran gigi, asosiasi institusi


pendidikan kedokteran, asosiasi institusi pendidikan kedokteran gigi, dan asosiasi rumah
sakit pendidikan.
KKI mempunyai wewenang:

menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan dokter gigi,


menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi dokter dan dokter gigi,
mengesahkan standar kompetensi dokter dan dokter gigi,
melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi dokter dan dokter gigi,
mengesahkan penerapan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi,
melakukan pembinaan bersama terhadap dokter dan dokter gigi mengenai
pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh Organisasi Profesi,
melakukan pencatatan terhadap dokter dan dokter gigi yang dikenakan sanksi
oleh organisasi profesi, atau perangkatnya karena melanggar ketentuan etika
profesi.

Susunan organisasi Konsil Kedokteran Indonesia terdiri atas:

Konsil Kedokteran
Konsil Kedokteran Gigi.

Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi masing-masing terdiri atas 3 divisi yaitu:

divisi registrasi,
divisi standar pendidikan profesi,
divisi pembinaan.

Jumlah anggota Konsil Kedokteran Indonesia berjumlah 17 orang yang terdiri dari
unsur-unsur yang berasal dari :

Organisasi Profesi Kedokteran 2 orang,


Organisasi Profesi Kedokteran Gigi 2 orang,
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran 1 orang,
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedoktan Gigi 1 orang,
Kolegium Kedokteran 1 orang,
Kolegium Kedokteran Gigi 1 orang,
Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan 2 orang,
Tokoh Masyarakat 3 orang,
Departemen Kesehatan 2 orang,
Departemen Pendidikan Nasional 2 orang.

Keanggotaan KKI untuk pertama kali ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri
Kesehatan (pasal 84 Undang Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran).

Sertifikat Kompetensi bagi Dokter


Sertifikat Kompetensi perlu dibuat bagi Dokter lulusan sebelum 29 April 2007 dan
belum mengajukan pembuatan Surat Tanda Registrasi (STR) ke Konsil Kedokteran
Indonesia (KKI). Proses pembuatan Sertifikat Kompetensi ini hanya berlaku sampai
dengan tanggal 29 Oktober 2007 (batas terakhir pengajuan STR ke KKI berdasarkan
surat KKI No. KK. 01.03/KKI/Reg/IV/301). Sertifikat Kompetensi akan dikirim ke
alamat korespondensi yang tercantum dalam formulir pendaftaran dengan Pos Tercatat.

Surat Tanda Registrasi (STR)


Surat Tanda Registrasi adalah pencatatan resmi dokter dan dokter gigi yang telah
memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu, serta diakui
secara hukum untuk melakukan tindakan sesuai kompetensinya. Registrasi yang
memenuhi persyaratan dan melewati proses verifikasi, konfirmasi, validasi dan
penandatanganan oleh Registar maka terbitlah Surat Tanda Registrasi (STR). Surat Tanda
Registrasi tersebut menjadi bukti tertulis yang diberikan oleh KKI bagi dokter dan dokter
gigi.

Referensi
1. ^ AHIMA e-HIM Work Group on the Legal Health Record. (2005). "Update:
Guidelines for Defining the Legal Health Record for Disclosure Purposes.".
Journal of AHIMA 78 (8): 64AG.
2. ^ Coulehan JL, Block MR (2005). The Medical Interview: Mastering Skills for
Clinical Practice, 5th ed., F. A. Davis. ISBN 0-8036-1246-X.

[sunting] Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki galeri mengenai:


Kedokteran
(id) Departemen Kesehatan RI
(id) Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
(id) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) (baru) dr Anis Sundari 19:56, 30 Agustus
2007 (UTC)
(id) Konsil Kedokteran Indonesia / The Indonesian Medical Council dr Anis
Sundari 19:56, 30 Agustus 2007 (UTC)
(en) NLM (Situs Perpustakaan Nasional Departemen Kesehatan AS, berisi
sumber referensi untuk dokter dan pasien)

(en) Kamus Online Kedokteran


(en) eMedicine Situs Artikel Kedokteran
(en) New Media Medicine Forum diskusi untuk para dokter
(en) PLoS Medicine Situs jurnal kedokteran
[sembunyikan]

lds

Kedokteran
Anestesiologi Bedah Dermatologi Ginekologi Kedaruratan medis
Cabang
Kedokteran rehabilitasi medis Kedokteran umum Kesehatan kerja
ilmu
Kesehatan masyarakat Neurologi Obstetri Penyakit dalam Patologi
kesehatan
Pediatri Psikiatri Radiologi THT-KL
Cabang
Endokrinologi Gastroenterologi Hematologi Kardiologi Kedokteran
ilmu
perawatan intensif Nefrologi Onkologi Penyakit infeksi Pulmonologi
penyakit
Rheumatologi
dalam
Bedah umum Bedah anak Bedah kulit Bedah ginekologi Bedah jantung
Cabang
dan pembuluh darah Bedah mata Bedah mulut dan maksilofasial Bedah
ilmu
ortopedi Bedah plastik Bedah saraf Bedah trauma Bedah urologi Bedah
bedah
pembuluh darah Bedah tumor Otolaringologi Transplantasi organ
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Kedokteran"
Kategori: Kedokteran | Artikel pilihan bertopik biologi
Kategori tersembunyi: Artikel yang tidak memiliki catatan kaki