Anda di halaman 1dari 14

GASTROENTERITIS AKUT (GEA)

A. DEFINISI
Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang
memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
Gastroenteritis adalah keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada
bayi dan lebih 3 kali pada anak-anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna
hijau

atau

dapat

pula

bercampur

lendir

dan

darah/lendir

saja

(Sudaryat

Suraatmaja.2005).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan
oleh bakteri, virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wongs,1995).
Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang
disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Gastroentritis merupakan peradangan
yang terjadi pada lambung, usus besar, dan usus halus disebabkan oleh infeksi
makanan yang mengandung bakteri atau virus yang memberikan gejala diare dengan
frekuensi BAB lebih dari 3 kali dalam satu hari dengan konsistensi encer dan kadangkadang disertai dengan muntah yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus dan
parasit patogen.
B. ETIOLOGI
Penyebab dari diare akut antara lain :
1. Faktor Infeksi
a. Infeksi Virus
i.
Retavirus
Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahului atau
disertai dengan muntah.
Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.
Dapat ditemukan demam atau muntah.
ii.
Enterovirus
Biasanya timbul pada musim panas.
iii.
Adenovirus
Timbul sepanjang tahun.
Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan / pernafasan.
iv.
Norwalk virus
Epidemik
Dapat sembuh sendiri ( dalam 24 - 48 jam ).
b. Infeksi Bakteri
i.
Stigella
Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September
Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun

ii.

Dapat dihubungkan dengan kejang demam.


Kadang disertai muntah
Sel polos dalam feses
Sel batang dalam darah
Salmonella
Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun.
Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid.
Peningkatan temperatur
Muntah tidak menonjol
Sel polos dalam feses
Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.
Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-

iii.

bulan.
Escherichia coli

Baik yang menembus mukosa ( feses berdarah ) atau yang

iv.

menghasilkan entenoksin.
Campylobacter
Feses yang berdarah dan bercampur lender, pada bayi dapat

menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain.


Kram abdomen yang hebat.
Muntah / dehidrasi jarang terjadi
v.
Yersinia Enterecolitica
Sering didapatkan sel polos pada feses.
Kadang disertai nyeri abdomen yang berat
Diare selama 1-2 minggu.
Sering menyerupai apendiksitis.
2. Faktor Non Infeksi
a. Malabsorbsi
i.
Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan
sukrosa ), non sakarida ( intoleransi glukosa, fruktusa, dan galaktosa ).
Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi

laktosa.
ii.
Malabsorbsi lemak: long chain triglyceride.
iii.
Malabsorbsi protein: asam amino, B-laktoglobulin.
b. Faktor Makanan
Keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam.
Alergi terhadap makanan (alergi jenis makanan tertentu, alergi susu, Cow's Milk

Protein Sensitive Enteropathy/CMPSE).


c. Faktor Psikologis
Diantara faktor psikologis yang mempengaruhi terjadinya diare antara lain rasa takut,
stress, cemas, gugup.
C. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare :
1) Gangguan osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang
usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare (Ngastiah, 1997 : hlm. 144).
2) Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu misalnya toksin pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul
diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus (Ngastiyah, 1997 : hlm. 144).
3) Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerapkan makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare
(Ngastiyah, 1997 : hlm. 144).
Pada orang dewasa normal masukkan cairan (makanan dan minuman) melalui mulut
sekitar 1,5-2 liter sehari, produksi ludah sekitar 1 liter sehari, sekresi cairan lambung
sekitar 2 liter, pankreas 2 liter, empedu 1 liter dan jejenum 1 liter, sehingga seluruhnya
kurang lebih berjumlah 9 liter sehari. Cairan sebanyak ini sebagian besar akan diserap
oleh jejenum sekitar 3-5 liter sehari, ileum 2-4 liter dan usus besar 1-2 liter. Dengan
demikian jumlah cairan yang keluar bersama tinja hanya 100-200 ml sehari (A.H.
Markum, 1991, hlm. : 453).
Penyerapan cairan di usus halus : dalam keadaan normal usus halus mampu
menyerap cairan sebanyak 7-8 liter sehari, sedangkan usus besar 1-2 liter sehari.
Penyerapan air oleh usus halus ditentukan oleh perbedaan antara tekanan osmotik di
lumen usus dan di dalam sel, terutama yang dipengaruhi oleh konsentrasi natrium.
Penyerapan natrium ke dalam enterosit dapat melalui 3 cara yaitu :
1). Berpasangan dengan ion klorida (CI), atau bahan non-elektrolit seperti glukosa,
asam amino, peptide dan lain-lain.
2). Pertukaran dengan ion H.
3). Pasif melalui ruang intramuskuler (tight junction) yang dengan cara ini

hanya

sebagian kecil saja yang dapat diserap (A.H Markum, 1991 : hlm. 454).
Setelah masuk kedalam eritrosit, Na ini akan dikeluarkan melalui enzim Na-K-ATP-ase
(terdapat di membran basolateral) ke dalam ruang intramuskuler dan selanjutnya
diteruskan kedalam pembuluh darah. Sekresi CI di dalam sel kripta dapat pula

ditingkatkan dengan adanya intraseluler mesengger (berupa cyclic nucleotide,


misalnya : C-AMP, C-GMP) yang dapat menyebabkan peninggian permeabilitas sel
kripta sehingga CI dengan mudah keluar lumen usus (A.H. Markum, 1991 )
Dalam keadaan normal usus besar dapat meningkatkan kemampuan penyerapannya
sampai 4400 ml liter sehari. Bila terjadi sekresi cairan yang berlebihan dari usus halus.
Bila sekresi cairan melebihi 4400 ml maka usus besar tidak mampu menyerap
seluruhnya lagi, selebihnya akan dikeluarkan bersama tinja dan terjadilah diare. Diare
dapat juga terjadi karena terbatasnya kemampuan penyerapan usus besar pada
keadaan sakit misalnya kolitis atau terdapat penambahan ekskresi cairan pada
penyakit usus besar, misalnya karena virus disentri basiler, ulkus, tumor, dan
sebagainya. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa setiap perubahan mekanisme
normal absorbsi dan sekresi di dalam usus halus ataupun usus besar (kolon) dapat
menyebabkan diare, kehilangan cairan, elektrolit dan akhirnya dehidrasi (A.H Markum,
1991 : hlm. 453-454).

PATOFLOW
Masuk melalui makanan yang
tercemar/ terkontaminasi

Faktor infeksi

Faktor malabsorbsi, karbohidrat, lemak, gula


Berkembang dalam usus
Melepaskan toksin
Inflamasi

Akumulasi monosit,
makrofag, sel T
Helper dan fibroblas

Faktor
psikologis

Mengiritasi lapisan mukosa


interstinum

Perpindahan air dan elektrolit ke ron


berlebihan

Merangsang pembentukan
adenosine monofosfat
berlebihan

Peningkatan volume fe

Pelepasan pirogen
endogen (Sitokin)

Stress,
cemas rasa
takut

Cl mengalir dari sel ke kripta


usus

Merangsang saraf
vagus

Merangsang
saraf
parasimpatis

Mengaktifkan pompa Na ke
dalam kripta usus
Mempercepat
peristaltik usus

Stimulus mencapai

Meningkatkan tekanan osmo

NaCl yang berlebihan

Sistem Saraf Pusat

menyebabkan Osmosis air


yang berlebihan dari darah
Hiperperistaltik

Pembentukan
Prostaglandin otak

Hipersekresi air, elektrolit dan


lender

Merangsang
hipotalamus
meningkatkan titik
patokan suhu (Set
Point)

Meningkatkan isi rongga usus

Menggigil,
meningkatkan suhu
basal

Frekuensi BAB
meningkat

HIPERTERMI

KERUSAKAN
INTEGRITAS KULIT

Menurunnya penyerapan
makanan oleh usus
Peristaltik usus
berlebihan

Peningkatan
kehilangan cairan dan
elektrolit

Iritasi kulit sekitar


perianal

Pengeluaran NaHCO3
KEKURANGAN
VOLUME
CAIRAN

Pelepasan mediator
nyeri (histamine,
bradikinin,
prostaglandin,
serotonin dll)

Kehilangan bikarbonat

Dehidrasi

otak

Aisdosis metabolik

Gangguan
keseimbangan
cairan dan
elektrolit

Persepsi nyeri

Kematian

Syok hipovolemik

Nutrisi tiddak terserap d

PERUBAHAN NUTRISI KU
KEBUTHAN TUB

Metabolisme men
Ketidaknyamanan
abdomen
Keletihan

NYERI

D. MANIFESTASI KLINIS
Beberapa tanda dan gejala yang sering muncul antara lain:
1. Sering buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi feses cair atau
encer.
2. Gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang.
3. Warna feses berubah menjadi kehijauan.
4. Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya defekasi dan feses
menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
5. Timbul tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elastitas kulit menurun),
fontanel (bagian lunak di antara pelat tengkorak kepala pada bagian atas dan

INTOLERANSI AKTI

belakang kepala) dan mata cekung, membran mukosa kering dan disertai
penurunan berat badan.
6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat, tekan darah menurun,
denyut jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan kesadaran
menurun. Ini adalah tanda diare yang telah kronis.
7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
E. DERAJAT DEHIDRASI
Menurut Roymond dan Cheal (1999) berdasarkan gejala klinis, derajat
dehidrasi dibagi atas 3 tingkatan diantaranya adalah :
1. Dehidrasi ringan (kehilangan BB 4-5%) gejala : tugor kulit menurun, mulut kering,
mata sedikit cekung, haus, sadar, cubitan kulit perut kembalinya segera,
penurunan tekanan intraokuler dan kadang-kadang anak mengalami perubahan
perilaku.
2. Dehidrasi sedang (kehilangan BB 6-9%) gejala : sangat haus, gelisah,
rewel/mudah marah (apatis), kulit kering, mata sangat cowong, fontanella anterior
cekung, minum dengan lahap, kulit tampak keriput dan cubitan kulit kembalinya
lambat yaitu < 2 detik.
3. Dehidrasi berat (kehilangan BB 10% atau lebih) gejala : letargis atau tidak sadar,
kolaps sirkulasi, sianotik dan lembab, nadi cepat dan dangkal, mata cekung, tidak
bisa minum atau malas minum, vasokontriksi perifer, Hipotensi, Hiperpireksia, tugor
kulit buruk, kulit tampak keriput, cubitan kulit kembalinya sangat lambat > 2 detik,
letargis berat atau koma dan syndrome renjatan (syok syndrome).
Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara obyektif
yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare dan
subyektif dengan menggunakan kriteria WHO, Skor Maurice King, kriteria MMWR,
dan lainnya
Tabel 1 Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR (Morbidity and Mortality Weekly
Report) 2003

Simptom

Minimal

atau

Dehidrasi

Ringan Dehidrasi Berat,

Kesadaran

tanpa dehidrasi,

Sedang,

Kehilangan

Kehilangan BB <

Kehilangan BB 3-

9%

3%

9%

Baik

Normal,

lelah, Apatis,

gelisah, irritable
Denyut Jantung

Kualitas nadi

Normal

Normal

BB >

Normal

letargi,

tidak sadar
- Takikardi,

meningkat

bradikardia
kasus
berat

pada

Normal melemah

Lemah, kecil, tidak


teraba

Pernafasan

Normal

Normal cepat

Dalam

Mata

Normal

Sedikit cowong

Sangat cowong

Air mata

Ada

Berkurang

Tidak ada

Mulut dan lidah

Basah

Kering

Sangat kering

Cubitan kulit

Segera kembali

Kembali < 2 detik

Kembali > 2 detik

Capillary refill

Normal

Memanjang

Memanjang,
minimal

Ekstremitas

Normal

Dingin

Dingin,

mottled,

sianotik
Kencing

Normal

Berkurang

Minimal

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaaan feses
Makroskopis: bau, warna, lendir, darah , konsistensi
Mikroskopis: eritrosit, lekosit, bakteri, parasit
Kimia : PH, clinitest, elektrolit (Na, K, HCO3)
Biakan dan uji sensitivitas
b. Pemeriksaan darah: Darah lengkap, analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na,
K, Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang), kadar ureum dan kreatinin
darah.
c. Pemeriksaan urin: urin rutin (Aswitha, dkk, 2001)
G. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Riwayat diare sekarang :
-

Sudah berapa lama diare berlangsung

Total diare dalam 24 jam, diperkirakan dari frekuensi diare dan jumlah tinja

Keadaan klinis tinja (warna, konsistensi, ada lendir atau darah tidak)

Muntah (frekuensi dan jumlah)

Demam

Buang air kecil terakhir

Anak lemah, rewel, rasa haus, kesadaran menurun

Jumlah cairan yang masuk selama diare

Tindakan yang telah diambil (diberi cairan, ASI, makanan, obat, oralit)

Apakah ada yang menderita diare di sekitarnya (IDAI, 2004).

Riwayat bepergian ke daerah yang sedang terkena wabah diare

Kontak dengan orang yang sakit

Penggunaan antibiotik (Prescilla,2006)

b. Riwayat diare sebelumnya : kapan, berapa lama


c.

Riwayat penyakit penyerta saat ini

d. Riwayat imunisasi : lengkap atau tidak.


e. Riwayat makanan sebelum diare : ASI, susu formula, makan makanan yang
tidak biasa (Subagyo, 2004).
2.

Pemeriksaan fisik
Harus diperhatikan tanda utama yaitu, kesadaran, rasa haus, turgor kulit abdomen.
Perhatikan juga tanda tambahan, yaitu ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata
cekung atau tidak, ada atau tidaknya air mata, kering atau tidaknya mukosa mulut,
bibir dan lidah. Berat badan jangan lupa ditimbang. Perhatikan pula ada tidaknya

pernafasan cuping hidung, retraksi interkostal, akral dingin, perfusi jaringan serta
derajat dehidrasinya.
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut :
a. Tanpa dehidrasi (kehilangan caiaran < 5% berat badan)
-

Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan

Keadaan umum baik dan sadar

Tanda vital dalam batas normal (denyut jantung, kualitas nadi dan pernapasan
normal)

Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada, mukosa mulut
dan bibir basah

Turgor abdomen baik, bising usus normal

- Capillary refill normal


- Kencing normal
-

Akral hangat

b. Dehidarasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)


-

Apabila di dapatkan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda tambahan

Keadaan umum gelisah dan cengeng

- Denyut jantung meningkat, kualitas nadi melemah, pernapasan cepat


-

Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata kurang, mukosa
mulut dan bibir sedikit kering

Turgor kurang

- Capillary refill memanjang


- Kencing berkurang
-

Akral hangat

c. Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)

Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda tambahan

Keadaan umum lemah, letargi atau koma

- Takikardi, bradikardi pada kasus berat


- Kualitas nadi lemah, kecil, tidak teraba
- Pernapasan dalam
-

Ubun-ubun besar sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada,
mukosa mulut dan bibir sangat kering

Turgor buruk (cubitan pada kulit abdomen kembali > 2 detik)

- Capillary refill memanjang, minimal


- Kencing sangat kurang
-

Akral dingin

4. Diagnosa Keperawatan
Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan

sekunder terhadap diare.


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau

output berlebihan dan intake yang kurang.


Nyeri abdomen berhubungan dengan hiperperistaltik,
Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi di area rectum
Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan
5. Rencana Intervensi Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan
skunder terhadap diare
Tupan: Setelah dilakukan

tindakan

keperawatan

selama

24

jam

keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal


Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam intake dan
output seimbang , tidak ada tanda dehidrasi.
Kriteria hasil: Tanda vital dalam batas normal, turgor kulit baik , membran mukosa
bibir lembab, ubun-ubun tidak cekung, frekwensi BAB < 3x perhari.
Intervensi :

Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit


R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan mukosa kering dan
urin pekat. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera

untuk memperbaiki defisit


Pantau intake dan output
R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran

tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.


Timbang berat badan setiap hari
R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan

kehilangan cairan 1 lt
Anjurkan keluarga untuk memberi banyak minum pada pasien
R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
Kolaborasi :
Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui fungsi
ginjal (kompensasi).
Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar
simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai

anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.


b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
tidak adekuat, malabsorbsi nutrisi.
Tupan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan
nutrisi terpenuhi
Tupen: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam tidak ada tanda
malnutrisi
Kriteria hasil: Nafsu makan meningkat, BB meningkat atau normal sesuai usia
Intervensi :
Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering
R/ Memberi kesempatan lambung mencerna makanan.
Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat
tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin).
R/ Serat tinggi, lemak, air terlalu panas / dingin dapat merangsang

mengiritasi lambung dan saluran usus.


Ciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman jauh dari bau yang tak
sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat.
R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan.
R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan

c.

Monitor intake dan out put dalam 24 jam.


R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
Terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu.
Obat-obatan atau vitamin ( A)
R/ Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan
nyeri berhubungan dengan hiperperistaltik, iritasi kulit atau jaringan.
Tupan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di rumah sakit nyeri
hilang atau terkontrol
Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 jam nyeri berkurang atau
terkontrol
Kriteria hasil : tampak rileks dan dapat istirahat / tidur dengan nyaman.
Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
R/ Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri
Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti
masase punggung dan kompres hangat abdomen
R/ Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian klien dan

meningkatkan kemampuan koping


Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan

berikan perawatan kulit


R/ Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi
Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan
karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal
R/ Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi

selanjutnya
Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai
indikasi
R/ Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan
spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis

d. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak


sekunder dari diare.
Tupan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi
peningkatan suhu tubuh
Kriteria hasil: Suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5 o C)
Intervensi:

Monitor suhu tubuh setiap 2 jam

R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh (adanya

infeksi)
Berikan kompres hangat
R/ merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas

tubuh
Kolaborasi pemberian antipirektik
R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak
e. Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan
frekwensi BAB (diare).
Tupan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di rumah sakit integritas
kulit tidak terganggu.
Kriteria hasil: tidak terjadi iritasi, kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
Intervensi
Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur yang bersih dan

rapi
R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah
dan mengganti pakaian bawah serta alasnya).
R/ Mencegah terjadinya iritasi kulit yang tak diharapkan oleh karena

kelebaban dan keasaman feces


Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
R/ Melancarkan vaskularisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga
tak terjadi iskemi dan iritasi.

DAFTAR PUSTAKA

Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku KeperawatanPediatik, Jakarta, EGC
Doenges, M. E. , Moore House, M. F. , Geister, A. C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan
Edisi 3. Alih Bahasa I Made Kariasa, S.Kp, Buku Kedokteran. Jakarta: EGC
Hasan, R. 1997. Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 2. Jakarta: Aesculapius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.