Anda di halaman 1dari 4

Name : M.

Andi Ali
Ridho
NIM :
160341801398

23 Agustus
2016

Pengembangan Desain Pembelajaran (Jurnal 1)


Oleh: Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M. Pd
Tema Perkuliahan:
Gambaran umum perkuliahan pengembangan desain
pembelajaran selama satu semester kedepan, kontrak
perkuliahan, pembahasan tugas-tugas, syarat kelulusan,
plagiarism dan berbagai macam seluk-beluknya, dan pembagian
kelompok kerja.
Konsep Penting yang telah Dipahami:
Penulisan jurnal mingguan per-pertemuan sebenarnya
mengingatkan saya pada saat kuliah jenjang S1 dulu. Kalau boleh
saya sedikit menengok kebelakang, ada beberapa matakuliah
yang mensyaratkan kepenulisan jurnal belajar sebagai
pekerjaan rumah untuk mahasiswa. Matakuliah yang diampu
oleh Ibu Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M. Pd termasuk salah
satunya. Jurnal belajar mingguan yang kami tulis dahulu memang
memberikan hasil signifikan pada kemampuan menulis kami.
Belum pernah saya lakukan penelitian terkait jurnal belajar, tapi
setidaknya dari yang saya amati pada teman-teman offering BBB
2009 ada perubahan pada sikap mereka. Kemampuan menyusun
argumen dan keberanian berpendapat merupakan perubahan
yang menonjol, sangat mudah mengamati perubahan skill
mereka. Akankah perubahan yang sama terjadi pada temanteman baru saya, offering D 2016? Wallahua`lam bisshawaf
Bertemu dengan dosen saya membangkitkan kenangan
masa lalu yang cukup complicated. Tubuh saya berada di Bio
210, tetapi ingatan saya terbang melanglangbuana melintasi
ruang dan waktu. Semester tiga kala itu, sekitar tahun 2010,
enam tahun yang lalu saya dan teman-teman mengikuti

matakuliah zoologi avertebrata. Mahasiswa baru seumur jagung,


yang melangkahkan kakinya malu-malu memasuki ruang di
gedung O5 langsung ditempa dengan keras dan gigih oleh para
dosen dan asisten dosen. Kami semua matang, menjadi sosok
yang tegap berdiri sekarang karena mampu melewati
gemblengan itu. Benar memang kata Bapak Wakil Rektor Dua UM
saat penyambutan mahasiswa baru pascasarjana, mahasiswa
harus menyiapkan mental karena kuliah di UM ibarat digodhok
dalam kawah candradimuka.
Berlandaskan prinsip tholabul `ilmi, saya niatkan berproses
dalam kawah yang menggelegak itu, menahan panasnya,
menikmati setiap cucuran keringat, meneguhkan hati dikala
suasana terasa menyesakkan, bersahabat dengan cobaan dari
Tuhan, ikhlas dan tawakkal, insyaAllah akan membuahkan hasil
yang tidak mengecewakan.
Lamunan saya harus terhenti disitu, dihadapan saya
sekarang perkuliahan sedang berlangsung. Karakter dosen kami
yang interaktif membuat perkuliahan siang itu terasa mengalir
lembut. Perkuliahan dibuka dengan filosofi pendidikan di abad ke21, isu yang sudah cukup lama berdengung di telinga saya.
Paham terhadap isu pendidikan abad ke-21 saya rasa menjadi
kunci utama untuk bisa berdiri di stage yang sama dengan
negara-negara adidaya yang telah lama, mendalam, dan
komprehensif membahas isu tersebut.
Pendidikan abad ke-21 apabila ditilik berdasarkan waktu
start sebenarnya merujuk pada awal tahun 2001. Mengapa
bukan tahun 2100? Ya, karena sistem penanggalan Gregorian
tidak mengenal abad ke-0, sehingga semua sebutan abad
seharusnya memiliki selisih 100 tahun, misalnya abad ke-19
berarti dimulai pada tahun 1801 dan seterusnya. Tidak heran jika
negara-negara yang menempati posisi tinggi pada parameter

pendidikan sudah membahas isu ini lebih dari 10 tahun yang


lalu, respect!
Secara substansial, atau lebih membumi jika disebut isi,
apa sih yang menjadi bottom line dari isu pendidikan abad ke21? Ada tiga ranah yang menjadi perhatian utama, antara lain
life and career skills; learn and innovation skills; information,
media and technology skills. Terdengar sangat renyah di telinga
bukan?, nice, jujur saya mengagumi kemampuan asimilasi,
evaluasi, dan multi-perspektif dari pencetus pendidikan abad ke21 ini, sangat membumi pun berwawasan global. Bak kacang ora
ninggal lanjaran (ini menurut saya, sih).
Ijinkan saya membahas satu-persatu ranah yang menjadi
concern utama. Life and career skills keterampilan hidup dan
berkarya, dapat di breakdown menjadi beberapa item yang
menarik untuk diperbincangkan oleh kaum intelek. Kemampuan
ini meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas dari peserta didik;
inisiatif dan self-regulate; interaksi sosial dan multicultural;
produktivitas dan akuntabi-litas; kepemimpinan dan
tanggungjawab.
Ranah kedua, learning and innovation skills keterampilan
belajar dan berinovasi, menggawangi poin-poin kemampuan
berikut. Berpikir kritis dan mengatasi masalah; komunikasi dan
kolaborasi, kreativitas dan inovasi. Ranah ketiga, information,
media and technology skills keterampilan teknologi dan media
informasi, terdiri dari poin berikut: literasi informasi, lliterasi
media, dan literasi ICT.
Untuk mengawal dan memastikan peserta didik mampu
menguasai ketiga ranah tersebut, diperlukan standardisasi pada
beberapa bidang, antara lain: penilaian, kurikulum,
profesionalisme pendidik, dan pembelajaran inovatif.
Pembelajaran abad ke-21 adalah langkah besar yang memang
diperlukan oleh Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya.

Konsep yang Belum Dipahami:


Saya lebih memilih untuk meninjau filosofi pendidikan
sebagai langkah awal untuk memahami konsep pendidikan. Hal
ini saya lakukan karena landasan filosofi pendidikan berperan
sebagai alat keep-on-track pada berbagai konsep pendidikan.
Kutipan dari John Dewey berikut adalah hal yang menarik
perhatian saya, if we teach today`s student as we taught back
in the day, we rob them of tomorrow. Mindblown! Apabila kita
berkutat pada cara lama yang tidak efektif dan efisien dalam
mendidik peserta didik, sama halnya kita merampas, masa
depan mereka.
Pertanyaan yang Muncul:
Upaya Meningkatkan Pemahaman dan Keterampilan:

Reminder for my self:


Kaki menapak bumi
Tangan meraih langit
Sebanyak apapun harta yang dikumpulkan manusia,
Setinggi apapun derajat dan pangkatnya di dunia,
Sejatinya dia adalah hamba dari Tuhan-Nya