Anda di halaman 1dari 4

Nama : Aditya Yanuar Ramadhan

Kelas : MN15B
NIM

: 15080574131

Wewenang Lini, Wewenang Staf, dan Wewenang Fungsional


Wewenang Lini
Wewenang lini, adalah wewenang dimana atasan melakukannya atas bawahannya
langsung. Yaitu atasan langsung memberi wewenang kepada bawahannya, wujudnya dalam
wewenang perintah dan tercermin sebagai rantai perintah yang diturunkan ke bawahan
melalui tingkatan organisasi.
Berikut merupakan contoh wewenang lini dalam bagan:

Bagan di atas merupakan contoh bentuk organisasi yang menghubungkan langsung


secara vertical antara atasan dengan bawahan, sejak dari pimpinan tertinggi sampai dengan
jabatan-jabatan yang terendah yang dihubungkan dengan garis wewenang atau komando.
Organisasi ini sering disebut dengan organisasi militer. Organisasi Lini hanya tepat dipakai
dalam organisasi kecil. Contohnya; Perbengkelan, Kedai Nasi, Warteg, Rukun tetangga.
Wewenang Staf
Wewenang staf, adalah hak yang dipunyai oleh satuan-satuan staf atau para spesialis
untuk menyarankan, memberi rekomendasi, atau konsultasi kepada personalia ini. Kualifikasi
yang harus dipenuhi oleh orang yang duduk sebagai staf yaitu dengan menganalisa melalui
metode kuisioner, metode observasi, metode wawancara atau dengan menggabungkan
ketiganya. Baishline mengajukan enam pokok kualifikasi yang harus dipengaruhi oleh
seorang staf yaitu :
1.

Pengetahuan yang luas tempat diamana dia bekerja.

2. Punya sifat kesetiaan tenaga yang besar, kesehatan yang baik, inisiatif, pertimbangan
yang baik dan kepandaian yang ramah.

3.

Punya semangat kerja sama yang ramah.

4.

Kestabilan emosi dan tingkat laku yang sopan.

5.

Kesederhanaan.

6.

Kemauan baik dan optimis

Kualifikasi utama yaitu memiliki keahlian pada bidangnya dan punya loyalitas yang
tinggi. Konsekkuensi organisasi yang menggunakan staf yaitu menambah biaya administrasi
struktur orgasisasi menjadi komplek dan kekuasaan, tanggung jawab serta akuntabilitas. yaitu
memiliki keahlian pada bidangnya dan punya loyalitas yang tinggi. Wewenang staf Yaitu hak
para staf atau spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi konsultasi pada personalia
yang tinggi. Hal yang perlu diperintahkan dalam mendelegasikan suatu kegiatan kepada
orang yang ditujuk yaitu:
1.

Menetapkan dan memberikan tujuan serta kegiatan yang akan dilakukan

2.

Melimpahkan sebagian wewenangnya kepada orang yang di tunjuk

3. Orang yang ditunjuk mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus
dilaksanakan agar tercapainya tujuan.
4.

Menerima hasil pertanggung jawaban bawahan atas kegiatan yang dilimpahkan.

Berikut merupakan contoh wewenang staf dalam bagan:

Bagan di atas merupakan kombinasi dari wewenang lini, akan tetapi yang
membedakan adalah dalam kelancaran tugas pemimpin dibantu oleh para staff, dimana staff
berperan memberi masukan, bantuan pikiranm saran-saran, data informasi yang dibutuhkan
Wewenang Fungsional
wewenang staf fungsional, adalah hubungan terkuat yang dapat dimiliki staf dengan
satuan-satuan lini. Chester Bamard mengatakan bahwa seseorang bersedia menerima
komunikasi yang bersifat kewenangan bila memenuhi:
1.

Memahami komunikasi tersebut.

2.

tidak menyimpang dari tujuan organisasi.

3.

tidak bertentangan dengan kepeningan pribadi.

4.

Mampu secara mental dan fisik untuk mengikutinya.

Semua anggota organisasi mempunyai peraturan, kode etik, atau batasan-atasan


tertentu pada wewenang, seprti yang ditunjukan dibawah ini:
Batasan-batasan internal dan eksternal untuk wewenang dan kekuasaan:
Internal:
1. Anggaran (Budget)
2.

kebijaksanaan, peraturan, dan prosedur

3.

Deskripsi jabatan

4. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi


Ekstern:
1. Udangan dan peraturan-peraturan pemerintah
2. Perjanjian kerja kolektif

Berikut merupakan contoh wewenang fungsional dalam bagan:

Dari bagan di atas dapat di jelaskan bahwa pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada
kepala bagian yang mempunyai jabatan fungsional untuk dikerjakan kepada para pelaksana
yang mempunyai keahlian khusus. Untuk Struktur organisasi fungsional sendiri diciptakan
oleh F.W.Taylor. Struktur ini berawal dari konsep adanya pimpinan yang tidak mempunyai
bawahan yang jelas dan setiap atasan mempunyai wewenang memberi perintah kepada setiap
bawahan, sepanjang ada hubunganya dengan fungsi atasan tersebut. Setiap pegawai
mempunyai pengawas lebih dari satu orang atasan yang berberda-beda.

Didalam lembaga pendidikan khususnya di Indonesia, pada umumnya menggunakan


struktur organisasi fungsional Struktur organisasi ini sangat cocok diterapkan karena dapat
memudahkan melakukan pengawasan.