Anda di halaman 1dari 20

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP (II)

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR (ESTETIKA)


LOGIKA, ETIKA DAN ESTETIKA DALAM FILSAFAT ILMU

Disusun oleh :
NAMA: YAHYA NUR MARFUAD
NIM
: 24010115130079
JURUSAN : MATEMATIKA

MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayahNya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini tentang LOGIKA, ETIKA DAN ESTETIKA DALAM
FILSAFAT ILMU
Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita
Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-quran
dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas Ujian Akhir Semester Ilmu Sosial
Budaya Dasar. Kami mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua
kami yang selalu memberi nasehat serta dukungan dalam menjalankan
tugas-tugas serta kewajiban yang harus ditaati di dalam kampus. Dan
kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pengampu
mata kuliah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karenanya kritik dan saran dari pembaca dan teman-teman semua demi
kesempurnaan tugas ini. Semoga apa yang terdapat dan tertera dalam
makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan serta
wawasan bagi para pembaca, teman-teman dan khususnya bagi penulis.
Amin..

Daftar Isi
KATA PENGANTAR
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
1.2Rumusan Masalah
1.3Tujuan Penulisan
BAB II PERMASALAHAN..........................................................................7

BAB III PEMBAHASAN


2.1 FILSAFAT
2.1.1 Pengertian Filsafat
2.1.2 Objek Filsafat Ilmu
2.1.3 Fungsi Filsafat Ilmu
2.1.4. Tujuan dari Filsafat Ilmu
3.1 Logika
3.1.1 Pengertian Logika
3.1.2 Logika Sebagai Cabang Filsafat
3.1.3 Kegunaan Logika
3.2 Etika
3.2.1 Pengertian Etika
3.2.2 Hubungan Etika dengan Ilmu Filsafat
2

3.2.3 Etika Sebagai Ciri Khas Filsafat


3.2.4 Hakikat Etika Filsafat.....................................................12
3.3 Estetika
3.3.1 Pengertian Estetika
3.3.2 Fungsi Estetika
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA........................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan
mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan
sejarah filsafat di Yunani, philosophia meliputi hampir seluruh pemikiran
teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari,
ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani
Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi
terpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan
munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah
terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian
dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu
pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan
dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa
dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu
bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999),
filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan
menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh mekar3

bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari


batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti
metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama
semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya
memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu
pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh
karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985),
bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalinmenjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat
benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam
ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan
semboyannya Knowledge Is Power, kita dapat mensinyalir bahwa
peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual
maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang
timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu
sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin
kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu
terapan atau praktis.
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya,
dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi
perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang
mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat
Immanuel kant (dalam kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan
bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batasbatas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab
itu Francis bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai
ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena
pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan a higher level of knowledge,
maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat
pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek
sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama
diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi
eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini
didukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang
berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang
ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.
4

Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa
ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak
dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip
ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997),
bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena
terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu
dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati
sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya
argumentasinya tidak salah.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas serta dikaitkan dengan
permasalahan yang penulis akan jelajahi, maka penulisan ini akan
difokuskan pada pembahasan tentang: Filsafat Ilmu Sebagai Landasan
Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam, dengan pertimbangan bahwa
latar belakang pendidikan penulis adalah ilmu pengetahuan alam (MIPA
Kimia).

Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil
pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan
dalam bahasa, Logika adalah salah satu cabang filsafat.

Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica


scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari
kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan
kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan
pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut
bisa juga diartikan dengan masuk akal.
Posisi estetika tak berbeda dari atau tak perlu dibeda-bedakan dengan
wilayah-wilayah studi filsafat yang lainnya, entah itu epistemology, etika
dan sebagainya. Demikian juga dengan cabang-cabang keilmuan yang
lain. Ia tidak lebih utama, tidak lebih superior dari yang lain, biasa-biasa
saja. Masalahnya adalah tidak ada satu ilmu pun, termasuk estetika pada
khususnya dan filsafat pada umumnya, yang mampu menjadi ilmu
dengan posisi tersendiri, seberapa tinggi atau rendah pun status yang
diberikan oleh komunitas akademik terhadap keberadaan ilmu tersebut.
Tidak ada satu ilmu yang tersendiri, yang posisinya terisolasi dari ilmuilmu yang lainnya. Apalagi untuk masa tiga dasawarsa terakhir ini sekatsekat ketat yang memberi batas yang tegas antara satu ilmu dengan ilmu
yang lain sudah runtuh, atau sudah waktunya untuk diruntuhkan. Inilah
yang disebut oleh Clifford Geertz sebagai gejala Blurred Genre, yakni
5

ketika kita dengan background keilmuan apapun mengadopsi sebuah


lingua franca yang sama. Karya-karya Sigmund Freud atau Jacques Lacan,
untuk sekedar contoh, tidak lagi dibaca oleh psikoanalisis semata, tetapi
oleh kita semua. Juga Roland Barthes, karyanya tidak cuma dibaca oleh
kalangan kritikus sastra, tapi oleh lebih banyak lagi orang. Merembes
keluar dari sekat-sekat disipliner yang kaku. Ahli ilmu politik, filsuf, linguis,
kritikus seni, arsitek, psikolog, atau sosiolog tidak lagi peduli pada sekatsekat tersebut, lalu sama-sama membaca Jacques Derrida atau Pierre
Bourdieu. Ini yang disebut tadi sebagai lingua franca. Begitu pula halnya
dengan estetika, ia telah kehilangan sekat-sekatnya, batas-batas yang
dahulu telah membuatnya menjadi sebuah ruang yang esoterik. Ia
menyebar, membaur dengan disiplin-disiplin yang lain. Kalau ia sudah
menyebar seperti itu, berarti ia bisa ada dimana saja dan kapan saja,
seperti coca cola. Itu juga sekaligus berarti bahwa estetika tidak lagi
punya posisi yang penting, apalagi yanng tersendiri. Tetntu saja estetika
pernah dan, pada ruang lingkup tertentu, masih memiliki prestise
tertentu. Itu kalau kita pahami estetika bukan melulu sebagai bidang
filsafat, melainkan lebih sebagai seperangkat prinsip normatif yang
meminjam istilah Pierre Bourdieu, mendisposisikan praktik-praktik
berkesenian. Jadi, secara lebih restricted, pengertian estetika yang
terakhir ini adalah estetika sebagai sesuatu yang dijadikan landasan
normatif untuk menilai karya seni. Karena dalam pergaulan
keseni(man)an, yang dimaksud dengan estetika cenderung seperti itu.
Bukan filsafat estetika, melainkan hanya sebagai alat untuk
mengevaluasi, membuat hierarki, dan semacamnya. Misalnya dengan
dalih estetika, seorang seniman bisa berbuat apa saja dan produknya
tetap disebut sebagai karya seni. Seorang perupa meletakkan beberapa
keranjang sampah disebuah galeri, dan itu disebut karya seni instalasi
oleh kritikus. Seorang penyair menuliskan sebaris kalimat, Bulan di atas
kuburan, dan itu disebut sebagai puisi, yang bahkan pernah
menimbulkan perdebatan tafsir yang prestisius di tingkat elit kritikus
sastra. Di sini estetika tidak lebih sebagai modal simbolik yang
diinfestasikan sebagai pemarkah kelas sosial seniman atau kritikus seni.
Dalam hubungannya dengan praktik kritik seni, sampai sejauh ini estetika
pun lebih cenderung diperlakukan oleh para kritikus sebagai prinsipprinsip normatif yang meregulasi apa dan bagaimana (berke)seni(an),
dengan standarisasi-standarisasi atau semacamnya. Seorang kritikus
membuat penilaian atas sebuah karya seni dengan legitimaasi pahampaham estetis tertentu, misalnya. Maka tidak heran kalau keranjangkeranjang sampah yang dicontohkan di atas disebut sebagai karya seni
hanya lantaran ia menjadi bagian dari komunitas wacana tertentu,
sementara perabot dapur ibu-ibu petani jawa tidak pernah sekalipun
dihargai seperti itu, lalu karya seni X dinilai lebih baik, lebih sublim, lebih
6

menukik, lebih indah, lebih menyentuh, dan sebagainya, dibandingkan


dengan yang lain. Oleh karena itu, andai kata ada orang berbicara perkara
estetika, kita perlu segera menegaskan posisi pemahamannya : estetika
dalam pengertian yang bagaimana ?

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang diatas maka penulis merumuskan beberapa
permasalahan diantaranya :
1.
Apa yang dimaksud dengan logika?
2.
Apa yang dimaksud dengan etika?
3.
Apa yang dimaksud dengan estetika?
1.3 Tujuan Penulisan

1.
2.
3.
4.

Tujuan dari penulisan ini adalah :


Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan logika.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan etika.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan estetika.
Memenuhi tugas Ilmu Sosial Budaya Dasar pembuatan makalah tentang
estetika.

BAB II
PERMASALAHAN
Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan (philosophy of beauty),
yang berasal dari kata aisthetika atau aisthesis (Yunani) yang artinya halhal yang dapat dicerap dengan indera atau cerapan indera. Estetika
membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritis terhadap nilai-nilai
atas sesuatu yang disebut indah atau tidak indah

Problem estetis yang menyangkut ilmu pada dasawarsa terakhir ini mulai
menjadi topic perbincangan oleh sebgaian filsuf dan ilmuwan. Dalam
tahun 1980 didakan sebuah konferensi para ahli yang membahas dimensi
estetis dari ilmu. Antara lain dalam pertemuan itu disajikanuraian yang
berjudul science the search for the hidden beauty of the world (ilmu
sebagai pencarian terhadap keindahan yang tersembunyi dari dunia) oleh
seorang filsuf terkemuka Charles Hartshorne.

Salah satu cabang ilmu yang dipelajari estetikanya adalah matematika.


Tidak jarang matematika dipandang sebagai seni. Karena merupakan
karya seni, matematika pada dirinya mengandung
keindahan
Menurut ahli matematika Morris Kline, matematika yang baik harus
memnuhi salah satu dari tiga ukuran. Yaitu kegunaan langsungnya,
kegunaan
potensial
dan
keindahan.
Contoh problem mengenai sifat estetis suatu ilmu antara lain:

Dimana letak keindahan suatu ilmu Filsafat?

Apakah ukuran keindahan suatu ilmu Filsafat?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 FILSAFAT
2.1.1 Pengertian Filsafat
Secara Etimologi Filsafat berasal dari kata Yunani philosophia yang lazim
diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia,
cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari
zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Filsafat adalah studi
tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara
kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak di dalami
dengan melakukan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-percobaan,
tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk
itu, memberikan argumentasi, dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu.
Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses
dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir, dan logika
bahasa.
2.1.2

Objek Filsafat Ilmu

No problem, no science . Ungkapan Archi J Bahm ini seolah


sederhana namun padat akan makna. Dari ungkapan ini kita bisa
9

mengetahui bahwasanya Filsafat Ilmu muncul dari adanya permasalahan


tertentu. Filsafat Ilmu, menurut Bahm, diperoleh dari pemecahan suatu
masalah keilmuan. Tidak ada masalah, berarti tidak ada solusi. Tidak ada
solusi berarti tidak memperoleh metode yang tepat dalam memecahkan
masalah. Ada metode berarti ada sistematika ilmiah.

Objek dari Filsafat Ilmu terbagi kedalam dua bagian, yaitu objek
material dan objek formal :
1.

Objek Material filsafat


Yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau
pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di pandang
atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik
hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
2.
Objek Formal filsafat
Obyek formal adalah pendekatan-pendekatan secara cermat
dan bertahap menurut segi-segi yang dimiliki obyek materi dan
menurut kemampuan seseorang. Obyek formal diartikan juga
sebagai sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian
atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut pandang darimana
obyek material itu disorot.
Misalnya, obyek materialnya adalah manusia, kemudian,
manusia ini ditinjau dari sudut pandang yang berbeda-beda
sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia,
diantaranya : psikologi, antropologi, sosiologi dan sebagainya.

2.1.3 Fungsi Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena
itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat
secara keseluruhan, yakni :

Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.

Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral


terhadap pandangan filsafat lainnya.

Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup


dan pandangan dunia.

Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam


kehidupan

10


Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam
berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan
sebagainya.
2.1.4. Tujuan dari Filsafat Ilmu
Tujuan filsafat ilmu adalah :
1. Mendalami unsure-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita
dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di
berbagai bidang, sehingga kita dapat gambaran tentang proses ilmu
kontemporer secara histories.
3. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami
studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang
alamia dan non-alamia.
4. Mendorong pada calon ilmuan dan iluman untuk konsisten dalam
mendalami ilmu dan mengembangkanya.
5. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan
agama tidak ada pertentangan.
3.1 Logika
3.1.1 Pengertian Logika
Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti
hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan
dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Logika
merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika
dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada
sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu
spekulasi, keraguan, rasa penasaran, dan ketertarikan. Filsafat juga bisa
berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang
biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang
mempertanyakan segala hal.
3.1.2 Logika Sebagai Cabang Filsafat
Filsafat adalah kegiatan / hasil pemikiran /permenungan yang
menyelidiki sekaligus mendasari segala sesuatu yang berfokus pasa
makna dibalik kenyataan atau teori yang ada untuk disusun dalam sebuah
system pengetahuan rasional.

11

Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini


berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika lahir
bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk
memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf
Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan
menunjukkan kesesatan penalarannya.Logika digunakan untuk melakukan
pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan
yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi,
tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.
Logika sebagai cabang filsafat adalah cabang filsafat tentang
berpikir. Logika membicarakan tentang aturan-aturan berpikir agar
dengan aturan-aturan tersebut dapat mengambil kesimpulan yang benar.
Dengan
mengetahui
cara
atau
aturan-aturan
tersebut
dapat
menghindarkan diri dari kesalahan dalam mengambil keputusan. Menurut
Louis O. Kattsoff, logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh
kesimpulan dari suatu perangkat bahan tertentu dan kadang-kadang
logika didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang penarikan
kesimpulan.
Logika bisa menjadi suatu upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
seperti : Adakah metode yang dapat digunakan untuk meneliti kekeliruan
pendapat? Apakah yang dimaksud pendapat yang benar? Apa yang
membedakan antara alasan yang benar dengan alasan yang salah?
Filsafat logika ini merupakan cabang yang timbul dari persoalan tentang
penyimpulan.
3.1.3 Kegunaan Logika
Logika membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur
untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala
aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip
ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari berbagai
prasangka emosi dan keyakinan seseoranng, karena itu ia mendidik
manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang
dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat. Selain hubungannya erat
dengan filsafat dan matematik, logika dewasa ini juga telah
mengembangkan berbagai metode logis (logical methods) yang banyak
sekali pemakaiannya dalam ilmu-ilmu, sebagai misal metode yang
umumnya pertama dipakai oleh suatu ilmu.
Selain itu logika modern (terutama logika perlambang) dengan
berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak dan aturanaturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja
dapat menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu
bidang ilmu, melainkan ternyata juga mempunyai penerapan. Misalnya
12

dalam penyusunan program komputer dan pengaturan arus listrik, yang


tidak bersangkutan dengan argumen.
3.2 Etika
3.2.1 Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti tempat tinggal
yang biasa, padang rumpt, kandang; kebiasaan, adat; watak; perasaan,
sikap, cara berpikir. dalam bentuk jamak ta etha artinya adat kebiasaan.
Dalam arti terakhir inilah terbentuknya istilah etika yang oleh Aristoteles
dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Etika berarti: ilmu tentang apa
yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.
3.2.2 Hubungan Etika dengan Ilmu Filsafat
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mengkaji segala
sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan pikiran.
Bagian-bagiannya meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Metafisika yaitu kajian dibalik alam yang nyata,


Kosmologia yaitu kajian tentang alam,
Logika yaitu pembahasa tentang cara berpikir cepat dan tepat,
Etika yaitu pembahasan tentang tingkah laku manusia,
Teologi yaitu pembahasan tentang ketuhanan,
Antropologi yaitu pembahasan tentang manusia.

Dengan demikian, jelaslah bahwa etika termasuk salah satu


komponen dalam filsafat. Banyak ilmu yang pada mulanya merupakan
bagian dari filsafat, tetapi karena ilmu tersebut kian meluas dan
berkambang, akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri dan terlepas
dari filsafat. Demikian juga etika, dalam proses perkembangannya
sekalipun masih diakui sebagai bagian dalam pembahasan filsafat, ia
merupakan ilmu yang mempunyai identitas sendiri. (Alfan: 2011)
3.2.3 Etika Sebagai Ciri Khas Filsafat
Etika filsafat merupakan ilmu penyelidikan bidang tingkah laku
manusia yaitu menganai kewajiban manusia, perbuatan baik buruk dan
merupakan ilmu filsafat tentang perbuatan manusia. Banyak perbuatan
manusia yang berkaitan dengan baik atau buruk, tetapi tidak semua
perbuatan yang netral dari segi etikanya. Contoh, bila di pagi hari saya
menganakan lebih dulu sepatu kanan dan kemudian sepatu kiri,
perbuatan itu tidak mempunyai hubungan baik atau buruk. Boleh saja
sebaliknya, sepatu kiri dulu baru kemudian sepatu kanan. Cara itu baik
dari sudut efisiensi atau lebih baik karena cocok dengan motorik saya,
13

tetapi cara pertama atau kedua tidak lebih baik atau lebih buruk dari
sudut etika. Perbuatan itu boleh disebut tidak mempunyai relevansi etika.

3.2.4 Hakikat Etika Filsafat


Etika filsafat sebagai cabang ilmu, melanjutkan kecenderungan
seseorang dalam hidup sehari-hari. Etika filsafat merefleksikan unsurunsur tingkah laku dalam pendapat-pendapat secara sepontan. Kebutuhan
refleksi itu dapat dirasakan antara lain karena pendapat etik tidak jarang
berbeda dengan pendapat orang lain.
Etika filsafat dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis, metodis dan
sistematis tentang tingkah laku manusia dari sudut norma-norma susila
atau dari sudut baik atau buruk. Dari sudut pandang normatif, etika
filsafat merupakan wacana yang khas bagi perilaku kehidupan manusia,
dibandingkan dengan ilmu lain yang juga membahas tingkah laku
manusia.
3.3 Estetika
3.3.1 Pengertian Estetika
Estetika atau yang sering didengar sebuah keindahan mempunyai
banyak makna dan arti, setiap orang mempunyai pengertian yang
berbeda antara satu dan yang lainnya mengenai arti dan makna estetika.
Sebab, setiap orang mempunyai penilaian dan kriteria keindahan yang
berbeda-beda. Berikut pengertian estetika dan lingkupnya dapat dicermati
di bawah ini :
1. Estetika merupakan suatu telaah yang berkaitan dengan
penciptaan, apresiasi, dan kritik terhadap karya seni dalam konteks
keterkaitan seni dengan kegiatan manusia dan peranan seni dalam
perubahan dunia (Van Mater Ames, Colliers Encyclopedia, Vol. 1).
2. Estetika merupakan kajian filsafat keindahan dan juga keburukan
(Jerome Stolnitz, Encylopedia of Philoshopy, Vol. 1).
Ukuran indah tidak dan indah sama dengan baik dan tidak
baik:membingungkan, bermacam-macam, subjektif, sering diperdebatkan.
Meskipun demikian, estetika berusaha menemukan ukuran yang dapat
berlaku umum. Akan tetapi sama dengan dalam etika, usaha itu tidak
berhasil. Memang ditemukan begitu banyak, pakarnya sendiri tidak
mampu bersepakat.

14

Teori lama tentang keindahan bersifar metafisis, teori modern berarti


psikologis. Menurut Plato, keindahan adalah realitas yang sungguhsungguh, suatu hakikat yang abadi, tidak berubah. Sekalipun ia
menyatakan bahwa harmoni, proposi dan simetri adalah yang membentuk
keindahan, ia tetap berpendapat bahwa unsur metafisik dalam keindahan.
Baginya keindahan suatu objek bukan berasal dari objek itu;keindahan itu
menyertai objek tersebut. Pandang ini benar-benar metafisis. Bagi
Plotinus, keindahan adalah pancaran akal Ilahi;bila Ilahi memancarkan
diri-Nya atau memancarkan sinar-Nya, tangkapnya yang dapat
menangkap sinar Ilahi. Di dalam Islam disebutkan bahwa Tuhan itu indah
dan mencintai keindahan.
Kant memulai studi psikologi tentang keindahan. Menurut pendapatnya,
jiwa kita memiliki indera ketiga diatas piker dan kemauan, yaitu indera
rasa. Ia mampu menikmati keindahan tanpa kepentingan, jadi bukan
seperti menilai manisnya gula karena ia mempunyai hubungan dengan
gula itu.
Persoalan tadi, apakah nilai indah-tidak indah itu sifat objek atau terletak
di luar objek (sebagaimana kata plato)? Kalau melekat pada objek,
mestinya semua orang akan memberikan nilai yang sama terhadap objek
itu; kalau nilai terletak pada subjek (yang menilai), berarti sifat objek tidak
menentu. Dalam hal ini Kant berpendapat bahwa indah itu sifat objek.
Aljisr berpendapat bahwa nilai berada pada objek. Memang perasaan kita
kadang-kadang mengubah nilai suatu objek, tetapi perasaan itu masih
tetap bersih pada objek itu. Oleh karena itu, anak dan orang dewasa,
orang pintar dan orang bodoh dapat mempunyai nilai yang sama terhadap
indahnya bunga, indahnya kicau burung dan sebagainya (Aljisr, 1970, II:
133). Mengenai unsure yang membangun keindahan ia mengatakan:
ketelitian, kelurusan, keseimbangan, keserasian dan koordinasi
(Aljisr,II:134).
3.3.2 Fungsi Estetika
Di zaman modern, perkembangan seni semakin tidak dapat di
pisahkan dari kehidupan manusia. Pada seni yang berdaya guna dalam
kehidupan mereka, bahkan seni menduduki fungsi-fungsi tertentu dalam
kehidupan manusia. Nilai dapat di bedakan atas dua macam yaitu nilai
ekstrinsik dan nilai intrinsik. Nilai ekstrinsik ialah nilai yang di kejar
manusia demi sesuatu tujuan yang ada di luar kegiatananya,
sedangakan nilai instrinsik yaitu nilai yang di kejar manusia dari nilai
itu sendiri karena keberhargaan, keunggualan atau kebaikan yang
terdapat pada seni itu sendiri.

1. Fungsi Kerohanian (Spiritual)


15

Seni di pandang memiliki fungsi kerohanian (spiritual) karena


banyak dimanfaatkan sebagai media bagi manusia untuk
mendekatkan diri denagn sang pencipta. Fungsi ini tampaknya yang
tertua dan pokok dari seni yang bercorak spiritual. Misalnya seperti
membaca Al-Quran, kaligrafi, nyanyian rohani, arsitektur Masjid dll.
Karl Barth berpendapat bahwa sumber keindahan adalah Tuhan.
Agama sering dijadikan juga sebagai salah satu sumber inspirasi
seni yang berfungsi untuk kepentingan keagamaan. Pengalamanpengalaman religi tersebut tergambarkan dalam bentuk nilai
estetika. Banyak media yang mereka pergunakan. Ada yang
memakai suara, gerak, visual dsb. Contoh: Kaligrafi arab, makam,
relief candi, gereja dsb.
2. Fungsi Kesenangan
Seni di pandang memiliki fungsi kesenangan hanya untuk
kesenangan yaitu hiburan (peluapan emosi yang menyenangakan).
Seorang seniaman akan akan terhibur ketika berkarya dan akan lebih
merasa terhibur jika karyanya dinyatakan berhasil. Demikian
seseorang akan merasa terhibur jika mendengarkan musik, film
yang bagus, lukisan yang menyentuh perasaan. Dan semuanya
kembali kepada sejaauh mana apresiasi seseorang terhadap karya
seni.
3. Funsi Pendidikan
Seni di pandang memiliki fungsi pendidikan karena dapat meningkat
potensialitas
manusia
seperti
keterampilan,
kreatifitas,
emosionalitas dan sensibilitas (kepekaan). Beberapa seni lukis
misalnya dapat meningkatkan keterampilan tangan ketajaman
penglihatan, daya khayal sehingga menjadi lebih kreatif.
Peningkatan karya seni dapat mengasah perasaan sesseorang
sehingga menjadi lebih sensitif, sensibilitasnya meningkat, serta
penyerapan panca inderanya lebih lengkap, upaya pendidikan yang
sudah umum di lakukan agar menyenangkan dalam seni contohnya
seperti drama yang di aplikasikan dalam pelajaran sejarah,
menyanyi dan bermain musik. Sedangakan pendidikan nonformal
dapat dilakukan oleh pemerintah melalui film, lagu, atau wayang.
Pendidikan dalam arti luas dimengerti sebagai suatu kondisi
tertentu yang memungkinkan terjadinya transformasi dan kegiatan
sehingga mengakibatkan seseorang mengalami suatu kondisi
tertentu yang lebih maju. Dalam sebuah pertunjukan seni orang
16

sering mendapatkan pendidikan secara tidak langsung karena di


dalam setiap karya seni pasti ada pesan/makna yang sampaikan.
Disadari atau tidak rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan oleh
seni merupakan alat pendidikan bagi seseorang. Seni bermanfaat
untuk membimbing dan mendidik mental dan tingkah laku
seseorang supaya berubah kepada kondisi yang lebih baik-maju dari
sebelumnya.
Disinilah
seni
harus
disadari
menumbukan
pengalaman estetika dan etika.
4. Fungsi Komunikatif
Seni di pandang memiliki fungsi komunikatif karena dapat
menghubungkan pikiran seseorang dengan orang lain. Orang usia
lanjut dan orang muda dapat bertemu melalui seni. Pria dan wanita
dapat berhubungan pada landasan yang sama berupa karya seni
bahkan orang-orang (seniman) yang hidup berabad-abad yang
lampau dan di tempat yang ribuan kilometerr jauhnya dapat
berkomunikasi dengan orang-orang sekarang melalui karya seni
yang di tinggalkan.

BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dalam skema besar filsafat berisi logika, etika dan estetika. Logika
adalah bagian ilmu filsafat yang mempelajari kesahihan premis-premis
secara benar dan tepat sesuai aturan-aturan logis matematis. Etika
merupakan bagian filsafat yang membicarakan problem nilai-nilai dalam
kaitanya dengan baik atau buruknya tindakan manusia secara individu
maupun dalam masyarakat. Sementara estetika sering diidentikkan
dengan filsafat seni yang dalam pengkajiannya diutamakan membahas
dimensi keindahan dan nilai rasa baik dalam karya seni, seni itu sendiri,
maupun pemikiran-pemikiran tentang seni dan karya seni.
17

Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil
pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan
dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat

Etika berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti tempat tinggal
yang biasa, padang rumpt, kandang, kebiasaan, adat, watak, perasaan,
sikap.

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika


adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk,
dan bagaimana seseorang bisa merasakannya.
4.2 Saran
Filsafat llmu yang terdiri dari kawasan- kawasan kajian seperti
logika, etika dan estetika dan diharapkan tetap digunakan dalam
kehidupan agar tetap menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Farhad,budi. Makalah: Filsafat Ilmu Sebagai Landasan
Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Alam.http://filsafat.kompasiana.com/2012/04/26/makalah-filsafatilmu-sebagai-landasan-pengembangan-ilmu-pengetahuan-alam/ (dia
kses tanggal 11 Juni 2016)
2. Ihsan, fuad. 2010. Filsafat ilmu. Jakarta: rineka cipta.
3. Hadiwijono, Harun. 1993. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Cet. IX;
Yogyakarta: Kanisius.
4. Hakim, Atang Abdul dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum
dari Metologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia
5. hida, taura. Dimensi aksiologi dalam filsafat
pendidikan.http://filsafat.kompasiana.com/2012/03/07/dimensiaksiologi-dalam-filsafat-pendidikan/ (diakses tanggal 11 Juni 2016)
6. kaharu, usman dan hamzah b. Uno. 2004 filsafat ilmu (suatu
pengantar pemikiran) gorontalo: BMT nurul jannah
7. Suryasumantri, Yuyun S. 2001. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
8. Annehira. pentinggnya etika dalam
kehidupan.http://www.anneahira.com/etika.html. (diakses tanggal
11 Juni 2016)
9. Alfan, Muhammad. 2011. Filsafat Etika Islam. Bandung. Pustaka

Setia.
10. Abdullah, M. Yatimin. 2006. Studi Etika. Jakarta. Rajawali Perss.
11. Esha, Muhammad Inam. 2010. Menuju Pemikiran Filsafat. Jakarta.
Maliki Perss.
12. Mufid, Muhamad. 2009. Etika Filsafat Komunikasi. Jakarta. Kencana.
13.
https://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat (diakses tanggal 11 Juni
2016)

19