Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH MATA KULIAH TANAMAN KARBOHIDRAT NON BIJI DAN

PEMANIS (AGH 344)


PERMUKAAN TANAH GAMBUT

Disusun Oleh :

Galvan Yudistira (A24070040)

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
201
Gambut

Kata gambut diambil dari nama suatu desa, yaitu desa Gambut (kini
kecamatan Gambut), yang terletak sekitar 10 km di sebelah timur kota Banjarmasin,
Kalimantan Selatan, dimana untuk pertama kalinya padi telah berhasil dibudidayakan
pada pesawahan tanah gambut (Subagjo, 2002 dalam Wahyunto, 2006). Tanah
Gambut adalah tanah-tanah jenuh air, terbentuk dari endapan yang berasal dari
penumpukan sisa-sisa jaringan tumbuhan masa lampau yang melapuk dengan
ketebalan lebih dari 50 cm.

Tanah gambut kurang subur, sehingga hasil tanaman rendah. Di samping


tanahnya asam, air tanahnya juga asam. Jika pirit dalam lapisan tanah mineral
dibawah gambut terkena udara, aka air dapat dengan menjadi asam lagi.

Air bisa mengalir dengan mudah di dalam gambut, bahkan bisa bocor ke luar
melalui tanggul sehingga petakan sawah cepat menjadi kering bila tidak terairi secara
teratur. Sulit membuat lapisan olah untuk menahan air di dalam petak sawah.

Gambut yang selalu basah biasanya masih “mentah” sehingga zat-zat yang
dibutuhkan tanaman tidak tersedia. Untuk itu gambut ini perlu dimatangkan agar
lebih bermanfaat untuk tanaman (Adhi, W. et al, 1997)

Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik
(C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik penyusun
tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna karena
kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh karena itu lahan gambut banyak
dijumpai di daerah rawa belakang atau daerah sekungan yang drainasenya buruk
(Agus, 2008).

Pakar pertanian di Indonesia menggunakan batasan minimal ketebalan 50 cm,


dan kandungan bahan organik > 18% sebagai batas antara tanah gambut dan tanah
mineral.

Beberapa ahli memperkirakan bahwa hutan gambut mulai berkembang pada


saat kenaikan permukaan air laut eustatik, yang terjadi pada pasca zaman glacial telah
stabil. Ketika itu sungai-sungai banyak mengendapkan lapisan berliat/berlumpur
sehingga terbentuk tanggul-tanggul dan dataran banjir. Rawa-rawa kemudian
berkembang di belakang tanggul. Semakin tinggi deposit bahan debu dan liat yang
terjadi, semakin berkurang pula kadar garam pada rawa-rawa itu, sehingga vegetasi
bakau yang ada tergantikan oleh tumbuhan daratan. Karena kondisi lingkungan yang
relatif masih payaum kandunga sulfida tinggi, dan selalu tergenang air, maka proses
dekomposisi terhambat. Sebagai akibatnya, terjadi penumpukan serasah yang
semakin tebal sehingga membentuk tanah gambut. Ambut yang terbentuk dengan
proses ini disebut gambut ombrogen. Tanah gambut yang terbentuk tidak lagi
dipengaruhi oleh air pasang surut dan tidak mendapat pasokan air sungai biasanya
miskin unsur hara (oligotrofik) dan bersifat masam.

Gambut dapat pula terbentuk pad daerah cekungan yang drainasenya buruk
atau jelek. Karena akumulasi gambut berjalan relatif lambat, maka lapisan yang
terbentuk relatif tipis (kurang dari satu meter). Tipe ini disebut gambut topogen dan
umumnya terbentuk di bagian pedalaman dataran pantai, namun dapat juga terbentuk
di daerah yang terkena pengeruh pasang surut. Rawa gambut topogen biasanya masih
mendapat pasokan air dari aliran permukaan, sehingga memiliki unsur hara yang
relatif tinggi dibanding gambut ombrogen. (Wahyunto, 2006)

Lahan Rawa gambut di Indonesia cukup luas, sekitar 20,6 juta ha, atau sekitar
10,8 % dari luas daratan Indonesia. Lahan rawa tersebut sebagaian besar terdapat di
empat pulau besar yaitu Sumatera 35 %, Kalimantan 32 %, Sulawesi 3% dan Papua
30% (Wibowo dan Suranto, 1998 dalam Asril, 2009).

Sifat dan karateristik fisik lahan gambut ditentukan oleh dekomposisi bahan
itu sendiri. Kerapatan lindak atau bobot isi (bulk density : BD) gambut umumnya
berkisar antara 0.05 sampai 0.4 gram/cm3 . Nilai kerapatan lindak ini sangat
ditentukan oleh tingkat pelapukan/dekomposisi bahan organik, dan kandungan
mineralnya (Kyuma, 1987 dalam Asril, 2009). Hasil kajian Kyuma (1987) dalam
Asril (2009) tentang porositas gambut yag dihitung berdasarkan kerapatan induk
damn bobot jenis adalah berkisar antara 75-95%. Dalam taksonomi Tanah (Soil
Survei Staff, 1999 dalam Asril , 2009), tanah gambut atau Histosol diklasifikasikan
kedalam 4 (empat) subordo berdasarkan tingkat dekomposisinya yaitu : Folits-bahan
organik belum terdekomposisi di atas batu-batuan, Fibritis- bahan organik fibrik
dengan BD < 0,1-0,2 gram/cm3 dan Saprists – Baan organik saprik dengan BD > 0,2
gram/cm3.

Lahan Gambut

Lahan gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang die tuk oleh
adanya penimbunan/akumulasi bahan organik di lantai hutan yang berasal dari
reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu lama. Akumulasi ini terjadi karena
lambatnyalaju dekomposisi dibandingkan dengan laju penimbunan bahan organik di
lantai hutan yang basah/tergenang tersebut (Najiyati et al, 2005 dalam Asril, 2009).

Di Indonesia, lahan gambut terdapat di daerah pantai rendah Kalimantan,


Sumatra dan Papua Barat. Sebagian besar berada pada daerah rendah dan tempat
yang masih terpengaruhi dengn kondisinya, berada di daratan sampai jarak 100 km
sepanjang aliran sungai dan daerah tergenang. Lahan gambut menutupi lebih dari 26
juta hektar (69 % dari seluruh lahan gambut tropis) pada ketinggian sekitar 50 mdpl
(Rieley, 2007 dalam Asril, 2009).

Sebagai catatan, hingga kini luas lahan gambut di Indonesia belum dibakukan,
kaena itu data luasan yang dapat digunakan masih dalam kisaran 13,5-26,5 juta ha
(rata-rata 20 juta ha). Dari berbagai laporan, Indonesia merupakan negara yang
memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia atau setengah dari luas lahan gambut
tropis dunia berada di Indonesia (Najiyati et al, 2005 dalam Asril, 2009).
Daftar Pustaka

Adhi IPGW, NPS Ratmini IW Swastika. 1997. Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan
Pasang Surut. Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu -
ISDP. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Agus, F dan IG Made Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan
Aspek Lingkungan. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.Bogor.

Asril. 2009. Pendugaan Cadangan Karbon di Atas Permukaan Tanah Rawa Gambut
di Stasiun Penelitian Suaq Balimbing Kabupaten Aceh Selatan Propinsi
Nangroe Aceh Darussalam. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana, Universitas
Sumatra Utara. Medan. 90 hal.

Wahyunto, Suprapto, Bambang H., dan Hasyim Bhekti. 2006. Sebaran Lahan
Gambut, Luas dan Cadangan Karbon Bawah Permukaan di Papua. Proyek
Climate Change, Forest and Petlands in Indonesia. Wetland International
- Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor.