Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN RESMI

TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN

Oleh

Kelompok/ Trip : 1/ I
Ardiansyah Wirananda (K2B 007 009)
Bagus Prabu Danianto (K2B 007 010)
Bayu Ilham (K2B 007 011)
Isabella Arista (K2B 007 024)
Jumanto (K2B 007 025)
M. Sugihartoyo (K2B 007 028)
Nestin Evrina W. N (K2B 007 029)
Ratna Puspita Sari (K2B 007 036)
Rita Fitria (K2B 007 039)
Wisnu Triyugo (K2B 007 043)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009
KATA PENGANTAR

Atas berkat rahmat Allah SWT, kami panjatkan puji dan syukur atas
kehadirat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Teknologi
Pembenihan Ikan ini dengan baik. Maksud dari pembuatan laporan ini
adalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Teknologi Pembenihan
Ikan.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari bimbingan,
pengarahan, bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Untuk itu kami
selaku penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Dr. Ir. Fajar Basuki MS, selaku koordinator praktikum Teknologi
Pembenihan Ikan;
2. Para Dosen yang telah mendampingi dan mengarahkan kami selama
praktikum;
3. Semua pihak yang telah membantu sehingga laporan ini dapat
diselesaikan dengan baik.
Akhirnya penulis mohon maaf apabila ada kekurangan dalam
penyusunan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna dan bermanfaat
dalam menambah pengetahuan bagi penyusun pada khususnya dan pembaca
pada umumnya.

Semarang, Desember 2009

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i

KATA PENGANTAR..................................................................................ii

DAFTAR ISI .............................................................................................iii

BAB 1. PENDAHULUAN………………………………………………. 1
1.1. Latar Belakang........................................................................ 1
1.2. Tujuan Praktikum.................................................................... 2
1.3. Waktu dan Tempat………………………………………….. 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................3


2.1. Biologi dan Reproduksi Lele Dumbo (Clarias gariepinus)......3
2.2. Teknologi Pembenihan dan Pengembangbiakan Lele Dumbo
(Clarias gariepinus)..................................................................5
2.3. Kualitas Air Media Pembenihan……………………………..10

BAB 3. MATERI DAN METODE............................................................11


3.1. Materi dan Metode...................................................................11
3.1.1. Materi............................................................................11
3.1.2. Metode...........................................................................12

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN.....................................................15


4.1. Hasil ........................................................................................15
4.1.1. Kondisi Induk.................................................................15
4.1.2. Kondisi Lingkungan.......................................................16
4.1.3. GSI, HR dan SR Hasil Perlakuan ..................................17
4.1.4. Perkembangan Panjang-Berat Larva I............................18
4.2. Pembahasan..............................................................................19
4.2.1. Analisa Korelasi GSI, HR dan SR Terhadap Kondisi
Induk, Lingkungan dan Teknik Pemijahan....................19
4.2.2. Analisa Perkembangan Panjang dan Berat Larva Lele
Dumbo............................................................................21

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................23


5.1. Kesimpulan..............................................................................23
5.2. Saran........................................................................................23

Daftar Pustaka..............................................................................................25

Lampiran……..............................................................................................21
DAFTAR TABEL
No. Judul Tabel Halaman
1. Alat yang digunakan dalam praktikum Teknologi Pembenihan

Ikan…………………………………………………………………..10

2. Bahan yang digunakan pada Teknologi Pembenihan Ikan……..........11

3. Perbandingan deskripsi antara indukan betina dan pejantan………...13

4. Perkembangan Panjang Larva I……………………………………...15

5. Perkembangan Berat Larva I………………………………………...15

6. Perkembangan Panjang Larva II…………………………………….15

7. Perkembangan Berat Larva II……………………………………….16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.

Target produksi dapat berupa jumlah ikan yang dihasilkan

(menghitung tingkat kelangsungan hidupnya) khususnya untuk sekuen

kegiatan pembenihan dan dapat pula berupa bobot yang dihasilkan

(menghitung biomassa). Penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah

cukup dan kontinyu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan

budidaya ikan konsumsi.

Teknologi Pemijahan ikan dapat dilakukan dengan memanipulasi

yaitu dengan cara induced breeding, yaitu dengan pembuahan buatan setelah

sebelumnya diberikan suntikan hormon perangsang pada induk jantan dan

betina. Perlakuaannya adalah dengan dosis penyuntikan induk jantan

diberikan setengah dari dosis betina, yang dilakukan satu kali bersamaan

penyuntikan kedua induk betina. Setelah disuntik, kedua induk dimasukan

ke dalam bak pemijahan.

Mencapai hal tersebut, perlu dilakukan usaha-usaha yang mampu

menghasilkan benih ikan unggul, seperti cara yang di atas. Salah satu cara

lain yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang kultivan dengan

menggunakan hormone sehingga lebih cepat melakukan pemijahan dengan

hasil yang baik dan berkualitas.

1.2. Tujuan

Tujuan praktikum Teknologi Pembenihan Ikan ini, antara lain :


a. Memberikan pemahaman dan pengalaman kepada Praktikan

mengenai aspek-aspek yang berperan dalam teknologi pembenihan ikan,

terutama aspek manipulasi hormon hipofisa Mahasiswa dapat

mengetahui perkembangan larva lele dumbo dengan baik

b. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran panjang dan berat

larva dengan benar.

c. Mahasiswa dapat mengetahui perkembangan larva lele dumbo

dengan baik

1.3. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum Teknologi Pembenihan Ikan dilaksanakan pada hari

kamis tanggal 17 Desember 2009 di Laboratorium Budidaya Perairan,

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jalan

Hayam Wuruk No 4 A, Semarang. Hari Jum’at pada tanggal 18 Desember

2009 dilaksanakan di Meteseh, Semarang. Hari Minggu pada tanggal 20

Desember 2009 dilaksanakan pengamatan panjang di Meteseh, Semarang.

Hari Minggu tanggal 27 Desember 2009 dilaksanakan pengamatan panjang-

berat larva di Meteseh, Semarang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi dan Reproduksi Lele Dumbo (Clarias gariepinus var.)

Menurut Saanin dalam Djatmika et al (1986), klasifikasi ikan lele

adalah sebagai berikut:

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Subkelas : Teleostei

Ordo : Ostariophysi

Subordo : Siluroidea

Famili : Clariidae

Genus : Clarias

Spesies : Clarias gariepinus var.

Gambar 1. Clarias gariepinus var.

Ikan lele secara umum memiliki tubuh yang licin, berlendir, tidak

bersisik, dan bersungut atau berkumis. Ikan lele memiliki kepala yang

panjang hampir seperempat dari panjang tubuhnya. Kepala lele pipih ke

bawah (depressed). Bagian atas dan bawah kepalanya tertutup oleh tulang

pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang, diruangan

inilah terdapat alat pernafasan tambahan lele berupa labirin. Mulut lele
terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dihiasi 4 sungut (kumis).

Mulut lele dilengkapi gigi, gigi nyata, atau hanya berupa permukaan kasar

di mulut bagian depan. Ikan lele mempunyai bentuk badan yang berbeda

dengan jenis ikan lainnya, seperti tawes, mas, ataupun gurami. Ikan lele

mempunyai bentuk tubuh memanjang, agak bulat, dan tidak bersisik. Warna

tubuhnya kelabu sampai hitam. Badan lele pada bagian tengahnya

mempunyai potongan membulat, sedangkan bagian belakang tubuhnya

berbentuk pipih ke samping (compressed). Ada tiga bentuk potongan

melintang pada ikan lele, yaitu pipih ke bawah, bulat dan pipih ke samping

(Najiyati, 1992).

Sirip ekor lele membulat dan tidak bergabung dengan sirip

punggung maupun sirip anal. Sirip ekor berfungsi untuk bergerak maju.

Sementara itu, sirip perut membulat dan panjangnya mencapai sirip anal.

Sirip dada lele dilengkapi sepasang duri tajam yang umumnya disebut patil.

Selain untuk membela diri dari pengaruh luar yang mengganggunya, patil

ini juga digunakan ikan lele untuk melompat keluar dari air dan melarikan

diri (Simanjutak, 1996).


Ciri-ciri Gambar
spesifik2.alat reproduksi
Perbedaan Alatlele jantan, yaitu
Reproduksi Lele alat kelamin lele
Jantan dan Betina
jantan yang berbentuk runcing dan memanjang. Kantong spermanya (testis)

berjumlah 2 buah yang berbentuk pipih memanjang serta berwarna putih.

Sementara itu, ciri spesifik alat reproduksi induk lele betina, yaitu alat

kelaminnya berbentuk bulat (oval) dan mempunyai kantong telur (ovarium)

sebanyak 2 buah. Lele berkembang biak secara ovipar (eksternal), yaitu

pembuahan terjadi di luar tubuh. Artinya, spermatozoa harus bergerak.

Spermatozoa pada induk jantan tersebut bersifat immotile dalam cairan


plasmanya dan akan bergerak apabila bercampur dengan air. Pertemuan

gamet jantan dan betina ini akan membentuk zigot sebagai cikal bakal

menjadi generasi baru. Perkembangan gamet jantan (sperma) maupun betina

diatur oleh hormone sejenis gonadotropin (Simanjutak, 1996).

2.2. Teknologi Pembenihan dan Pengembangbiakan Lele Dumbo

(Clarias gariepinus var.)

Menurut Mahyuddin (2008), ada beberapa cara atau teknik

pemijahan ikan lele adalah sebagai berikut:

1. Pemijahan Secara Alami (tradisional)

Lele sudah dapat dipijahkan secara alami asalkan induk yang akan

dipijahkan telah memenuhi persyaratan dan kondisi induk telah matang

gonad. Langkah pertama pemijahan secara alami adalah memilih pejantan

dan induk betina yang telah matang gonad. Usahakan bobot lele yang akan

dipijahkan seimbang, keseimbangan bobot sangat berpengaruh terhadap

keberhasilan pemijahan lele tersebut.

Induk dipastikan telah siap memijah, pada sore hari (kira-kira pukul

16.00) pejantan dan induk betina dimasukkan ke dalam bak atau wadah

pemijahan yang dilengkapi kakaban dan dibiarkan memijah sendiri. Pagi

harinya sekitar pukul 07.00 biasanya proses pemijahan telah selesai dan

telur yang sudah dibuahi telah menempel pada kakaban.

2. Pemijahan Secara Semiintensif (induce spawning)

Pemijahan secara semiintensif (induce spawning) yaitu baik pejantan

dan induk betina lele disuntik dengan menggunakan hormon perangsang


untuk pematangan dan ovulasi sel telur. Induk lele yang sudah disuntik

dimasukkan ke dalam bak atau wadah pemijahan yang dilengkapi kakaban

dan dibiarkan memijah sendiri. Adapun perangsang pemijahan lele yaitu:

a. Penyuntikan Menggunakan Hormon

Penyuntikan induk lele dengan hormon seperti ovaprim, hCG, dan

Chorulon. Induk yang akan disuntik hormon baik jantan maupun betina

harus sudah matang gonad. Dosis hormon yang digunakan sekitar 0,2–0,3

ml/kg, tergantung tingkat kematangan gonad induk yang akan disuntik.

Induk lele yang akan disuntik diambil kemudian ditutup kepalanya

dengan kain handuk kecil basah. Penyuntikan dilakukan pada bagian

punggung dengan kemiringan lebih kurang 300 sedalam 2–2,5 cm kearah

kepala. Secara perlahan dimasukkan larutan ovaprim pada jarum suntik ke

tubuh lele, setelah larutan ovaprim habis alat suntik ditarik, selanjunya

daerah bekas suntik digosok-gosok dengan jari agar suspense menyebar ke

seluruh tubuh.

b. Penyuntikan Menggunakan Kelenjar Hipofisa

Kelenjar hipofisa bias diperoleh dari ikan donor yaitu ikan mas atau

lele yang telah dewasa (remaja) dan dalam kondisi yang sehat. Dosis

penyuntikan dengan menggunakan kelenjar hipofisa adalah 1 dosis. Artinya

berat ikan donor yang akan diambil kelenjar hipofisanya sama dengan induk

lele yang akan disuntik. Tahap-tahap pengmbilan kelenjar hipofisa jika

menggunakan donor yang berasal dari lele adalah sebagai berikut:

1) Potong kepala lele donor hingga putus;


2) Letakkan potongan kepala tersebut dengan mulut menghadap ke

atas, lalu belah kepala lele dari arah bukaan mulut, selanjutnya ambil

bagian atasnya dan bersihkan dari bercak darah dan lendir;

3) Buang tulang penutup hipofisa dengan tang penjepit, lalu angkat

kelenjar hipofisa (berupa butiran kecil berwarna putih) dengan

menggunakan pinset.

4) Gerus kelenjar hipofisa tersebut dengan gelas pengerus. Masukkan

pelarut aguabidest sebanyak 2 ml, kenudian gerus lebih lanjut hingga

lumat;

5) Pindahkan larutan ekstrak hipofisa ke dalam tabung menggunakan

spuit jarum suntik, selanjutnya gelas tabung di-sentrifuse (putar) selama

kurang lebih 2–5 menit. Biarkan larutan ekstrak hipofisa selama 5 menit

agar mengendap terlebih dahulu. Larutan yang mengendap akan tampak

dua lapis. Lapisan atas tampak jernih, sedangkan lapisan bawah sebagai

endapan. Cairan jernih tersebut diambil dengan menggunakan spuit

jarum suntik dan siap untuk disuntikkan.

3. Pemijahan Secara Intensif/ Buatan (induce breeding)

Pemijahan secara intensif/ buatan dilakukan dengan bantuan tangan

manusia, setelah induk lele disuntik telur dan sperma dikeluarkan dari induk

dengan di-streeping atau diurut. Telur dan sperma tersebut ditampung dan

dicampurkan dalam satu wadah (mangkuk) sehingga terjadi pemuahan.

Alat dan bahan untuk pembuahan secara buatan yang harus

dipersiapkan adalah mangkuk yang bersih dan kering, bulu ayam yang
bersih dan kering, kertas tisu,pisau, spuit, serta sodium klorida 0,90 %.

Langkah pemijahan ikan lele secara intensif/ buatan adalah sebagai berikut:

a) Langkah pertama adalah menyiapkan sperma lele jantan. Kantong

sperma dari pejantan diambil dengan cara perutnya dibedah. Kantong

sperma tersebut berbentuk pipih memanjang dan berwarna putih.

Kantong sperma diangkat dengan pinset, kemudian dipotong dengan

gunting hingga cairan sperma keluar. Cairan sperma dikeluarkan dan

ditampung dalam mangkuk plastic yang bersih dan kering. Untuk

memperpanjang umur sperma ditambahkan cairan infus atau sodium

klorida, lalu diaduk hingga rata. Terlalu pekat ditambahkan sodium

klorida sampai larutan berwarna putih susu agak encer;

b) Langkah kedua adalah menyiapkan sel telur lele betina. Caranya

kepala induk betina ditutup dengan kain/ handuk basah, selanjutnya

induk lele diurut dengan ibu jari dari perut ke arah lubang kelamin agar

telurnya keluar dan ditampung dalam mangkuk plastic yang bersih dan

kering;

c) Langkah ketiga adalah mencampurkan sel telur dengan sperma.

Caranya sel telur dicampur dengan larutan sperma sedikit demi sedikit,

selanjutnya campuran diaduk dengan bulu ayam dengan hati-hati hingga

merata. Agar terjadi pembuahan ditambahkan air bersih lalu aduk

merata;

d) Langkah keempat adalah memasukkan campuran sperma dan sel

telur ke wadah penetasan. Caranya campuran sel telur dan sperma

diambil dengan bulu ayam, lalu disebarkan ke seluruh permukaan


wadah/ bak penetasan sampai merata. Wadah tersebut dapat berupa

akuarium, fibreglass, maupun bak plastik (terpal plastik).

Koordinasi hormonal bertanggung jawab terhadap kondisi

lingkungan internal. Penjagaan yang konstan dari lingkungan internal

diperlukan untuk fungsi-fungsi normal dari bermacam-macam komponen

seluler jaringan. Untuk melaksanakan tugas yang sangat kompleks ini

kelenjar-kelenjar endokrin yang terdapat dalam tubuh menghasilkan

bermacam-macam hormon yang masing-masing memiliki fungsi khusus.

Dalam melaksanakan tugasnya untuk selalu menjaga keseimbangan

substansi-substansi yang terkandung dalam darah dilakukan dengan sistem

"umpan balik". Secara umum hormon-hormon ini dibedakan dalam

kelompok yang dapat disesuaikan dengan dasar struktur kimianya atau atas

dasar fungsinya. Atas dasar struktur dibedakan hormon-hormon kelompok:

Amin, Peptida dan Protein, Hormon Steroid, Prostaglandin, dan Pheromon.

Sedangkan berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi hormon-hormon

kelompok: Kinetik, Metabolik, Morfogenetik, dan Perilaku. Sekresi hormon

dipengaruhi oleh faktor saraf dan faktor kimia, sedangkan besarnya sekresi

ditentukan oleh kebutuhan tubuh terhadap hormon tersebut. Dalam

mekanisme kerjanya dapat dibedakan sesuai dengan letak reseptor yang

terdapat pada sel target. Hormon-hormon peptida mempunyai reseptor

hormon spesifik pada membran plasma, sedangkan hormon-hormon steroid

memiliki reseptor dalam sitosol (Goenarso, 2005).

2.3. Kualitas Air Media Pembenihan


Air merupakan media tempat hidup budidaya ikan. Kondisi air harus

disesuaikan dengan kebutuhan optimal bagi pertumbuhan ikan yang akan

dipelihara. Keberhasilan budidaya perairan banyak ditentukan oleh keadaan

kuantitas dan kualitas air. Kuantitas air merupakan jumlah air yang tersedia

yang berasal dari sumber air, seperti sungai, saluran irigasi dan sumur bor

untuk mengaliri kolam budidaya. Kualitas air berupa sifat fisika, kimia dan

biologi air. Sifat fisika meliputi suhu, kecerahan air, kekeruhan dan warna

air. Sifat kimia air meliputi derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (O 2),

karbon dioksida (CO2), ammonia dan alkalinitas. Sifat biologi air meliputi

plankton, benthos dan tanaman air (Arifin, 1991).

Kualitas air pada media pembenihan harus sesuai dengan

persyaratan ikan yang akan dipijahkan. Air harus bersih dan tidak

mengandung bahan-bahan yang beracun. Secara umum parameter kualitas

air yang baik adalah air dengan nilai suhu antara 25–300 C, pH air 6,5–8,5

dan oksigen terlarut (O2) minimal 3 ppm air (Mahyuddin, 2008).

BAB III

MATERI DAN METODE

3.1. Materi dan Metode

3.1.1. Materi
Materi yang digunakan dalam percobaan praktikum Teknologi

Pembenihan Ikan adalah sebagai berikut:

3.1.1.1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum Teknologi Pembenihan Ikan

berikut:

Tabel 1. Alat yang digunakan dalam praktikum Teknologi Pembenihan


Ikan
No Nama Alat Kegunaan
1. Gunting/pisau yang Untuk memotong dan membedah
tajam
2. Tang pemotong kawat Untuk memotong tulang/bagian
yang keras
3. Kapas (tissue) Untuk membersihkan darah yang
menempel
4. Serbet yang bersih Untuk mengelap
5. Timbangan elektrik Untuk menimbang larva
6. Cotton bath Untuk mengambil kelenjar hipofisa
dalam otak
7. Sentrifuge Untuk memisahkan antara padatan
dan cairan
8. Spuit suntik Untuk mengambil filtrate dan
menyuntikan ekstrak hormon
9. Tabung reaksi Untuk wadah larutan hipofisa

3.1.1.2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum Teknologi Pembenihan

Ikan adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Bahan yang digunakan pada Teknologi Pembenihan Ikan


No Nama Bahan Kegunaan
1 Hipofisa Lele Untuk disuntikan ke induk
donor
2 Larutan fisiologis Untuk menetralkan pH
3 Ovaprim Untuk merangsang pemijahan

3.1.2. Metode

Metode yang digunakan dalam percobaan praktikum Teknologi

Pembenihan Ikan adalah sebagai berikut:

3.1.2.1. Pengambilan Ekstrak Hipofisa

Metode yang digunakan dalam Teknologi Pembenihan Ikan pada

proses pengambilan ekstrak hipofisa adalah sebagai berikut :

1. Ikan reseptor dan ikan donor ditimbang, untuk menentukan dosisnya;

2. Ikan donor dimatikan;

3. Potong kepala ikan (pisahkan antara badan dan kepala);

4. Kepala ikan ditegakkan (posisi caput ke arah atas);

5. Gunting atau pisau dimasukkan kedalam mulut, kemudian dipotong ke

arah cranial, rahang atas dan rahang bawah dipisahkan;

6. Pisahkan langit-langit dengan rahang atasnya dengan gunting yang

tajam;

7. Bersihkan noda darah dengan kapas sehingga kelihatan tulang

pembungkus otaknya;

8. Ambil gunting pemotong tulang untuk memotong sellatursica

kemudian buka tulang tadi hingga kelihatan hipofisanya;

9. Ambil hopofisa tersebut dengan cotton bath kapas.

3.1.2.2. Isolasi Ekstrak Hipofisa

Metode yang digunakan dalam Teknologi Pembenihan Ikan pada

proses isolasi ekstrak hipofisa adalah sebagai berikut :


1. Hipofisa digerus, dengan penggerus hipofisa;

2. Tambahkan larutan fisiologis ± 1,5 ml dan gerus lagi hingga merata;

3. Tuangkan larutan kedalam tabung reaksi dan kemudian

disentrifugasi hingga terjadi endapan;

4. Filtratnya diambil dengan spuit suntik, hati-hati jangan sampai

endapan ikut. Hilangkan gelembung udara pada spuit suntik.

3.1.2.3. Pelaksanaan Penyuntikan Hipofisa

1. Ambil indukan ikan lele yang akan disuntik;

2. Timbang berat indukan jantan dan betina;

3. Suntikan larutan ovaprim dengan dosis 0,46 ml/cc berat indukan

jantan dan 0,202 ml/cc barat indukan betina;

4. Posisikan suntikan kearah cranial dengan kemiringan 450 . Cara

penyuntikan kedua yaitu dilakukan dengan teknik intramuscular

(penyuntikan ke dalam otot) . cara ini merupakan cara yang umum dan

mudah dilakukan karena tidak merusak bagian organ yang penting pada

ikan.

5. Lakukan proses perkawinan secara semi buatan (induce +

perkawinan alami).

3.1.2.4. Pelaksanaan Pengukuran dan Pengamatan Panjang-Berat

1. Ambil beberapa larva lele yang akan diamati

2. Taruh larva lele pada wadah

3. Ambil 1 ekor larva lele yang akan diamati menggunakan cotton bath

secara berhati-hati.
4. Letakkan larva lele tersebut diatas plastik yang sebelumnya telah

ditimbang beratnya, kemudian timbang lele tersebut.

5. Setelah melakukan pengukuran berat, ambil larva yang telah ditimbang

tersebut perlahan menggunakan cotton bath, kemudian letakkan diatas

millimetre blok yang tersedia.

6. Amati berapa panjang larva lele tersebut.

7. Lakukan hal yang sama pada pengamatan larva lele berikutnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Kondisi Induk

Tabel 3. Perbandingan deskripsi antara indukan betina dan pejantan.


Deskripsi Indukan Betina Pejantan
Asal indukan Phyton Lokal Semarang
Berat sebelum memijah 2,02 kg 2,20 kg
Berat setelah memijah 1,80 kg 2,103 kg
Morfologi e) Tubuh liat, mulut i) Tubuh kekar,

membulat, perut lebar. ukuran kepala

f) Lubang urogenital lebih kecil dari

berwarna kemerahan betina dan

dan membengkak, saat gerakannya lebih

distripping keluar lincah.

cairan kuning. j) Lubang

g) Bergerak lambat urogenital

saat dimasukkan ke berwarna

kolam pemijahan. kemerahan dan

h) Ada luka di bagian saat distripping

perut. keluar cairan

berwarna bening.

k) Lubang

urogenital

menonjol ke arah

anus.

4.1.2. Kondisi Lingkungan

Kondisi lingkungan pada kolam pemijahan antara lain:

(1) Kolam pemijahan yang digunakan berukuran 2 x 3 m dengan

ketinggian air 50 cm.


(2) Media yang digunakan dalam kolam pemijahan beralaskan plastik

dan bagian atasnya ditutup waring agar terlindungi dari kotoran.

(3) Cuaca saat indukan dimasukkan dalam kolam pemijahan cerah dan

sekitar pukul 16.00 WIB.

(4) Pada kolam pemijahan diberi aerasi untuk mensuplai oksigen bagi

induk.

4.1.3. GSI, HR dan SR Hasil Perlakuan Indukan betina

Beratgonad
GSI = Beratinduk setelahmem ijah x100 %

0,22 kg
= 1,80 kg x100 %

= 12,22 %

Indukan jantan :

Beratgonad
GSI = Beratinduk setelahmem ijah x100 %

0,097 g
= 2,103 kg x100 %

= 4,61 %

ikanhidup
SR = x100 %
ikanawal

125000
= x100 % = 83,3 %
150000
4.1.4. Perkembangan Panjang-Berat Larva I

Tabel 4. Perkembangan Panjang (cm) Larva I (Larva ikan Lele Phyton)

Tabel 5. Perkembangan Berat (mg) Larva I (Larva ikan Lele Phyton)

Tabel 6. Perkembangan Panjang (cm) Larva II (hasil perkawinan antara Lele


Lokal Semarang dan Lele Phyton)
Tabel 7. Perkembangan Berat (mg) Larva II (hasil perkawinan antara Lele
Lokal Semarang dan Lele Phyton)

4.2. Pembahasan

4.2.1. Korelasi GSI dan SR terhadap kondisi induk, Lingkungan dan

Teknik Perlakuan

Umur induk betina lele siap dipijahkan berumur > 1 tahun dengan

panjang standar (25 – 30) cm, sedangkan induk jantan antara lain yaitu

berumur > 1 tahun, dengan panjang standar (30 – 35) cm. Induk betina yang

sudah matang gonad, secara fisik ditandai dengan perut yang membesar dan

lembek, tonjolan alat kelamin membulat dengan warna merah keungu-

unguan dan tampak membesar, bila dilihat secara kasat mata warna telur

terlihat hijau tua bening atau coklat kehijau-hijauan, tulang kepala agak

meruncing, gerakannya lamban. Sedangkan induk jantan ditandai dengan

warna tubuh yang lebih mencolok dari betina yaitu terlihat kemerah-

merahan pada bagian sirip punggung (dorsal), dengan bentuk genital yang

meruncing dan memanjang melebihi ujung sirip anal yang letaknya

berdekatan dengan anus, tulang kepala lebih mendatar (pipih) dibanding


induk betina, perut tetap ramping dan gerakannya yang lincah. Alat kelamin

tampak jelas meruncing (Gusrina, 2008).

Menurut Rianto (2008), lele mulai dapat dijadikan induk pada umur

(8 – 9) bulan dengan massa minimal 500 gram. Telur akan menetas dalam

tempo 24 jam setelah memijah dengan kemampuan memijah sepanjang

tahun tanpa mengenal musim. Tanda-tanda induk jantan yang telah siap

memijah diantaranya alat kelamin tampak jelas (meruncing), perutnya

tampak ramping, jika perut diurut akan keluar spermanya, tulang kepala

agak mendatar dibanding dengan betinanya, jika warna dasar badannya

hitam (gelap), warna itu menjadi lebih gelap lagi dari biasanya. Sedangkan

untuk induk betina alat kelaminnya bentuknya bulat dan kemerahan,

lubangnya agak membesar, tulang kepala agak cembung, gerakannya

lamban, warna badannya lebih cerah dari biasanya.

Induk lele betina yang digunakan dalam praktikum, telah memenuhi

kriteria sebagai induk yang telah matang gonad dengan ciri-ciri seperti

diatas. Akan tetapi, lele jantan yang digunakan dalam praktikum belum

memenuhi semua kriteria induk yang layak untuk dipijahkan. Terbukti, saat

dilakukan stripping pada induk jantan, tidak keluar cairan sperma, yang

keluar hanya cairan bening yang agak lengket. Sehingga, untuk

mempercepat kematangan sperma dari induk jantan, diakukan penyuntikan

hormon ovaprin sebanyak 0,46 ml. Agar gonad induk betina juga matang

bersamaan dengan induk jantan, induk betina juga disuntik hormon ovaprin

sebanyak 0,202 ml. Penyuntikan hormon ovaprin ini bertujuan untuk

mempercepat kematangan gonad kedua indukan.


Indukan betina yang diambil berasal dari jenis phyton dan pejantan

dari jenis lokal Semarang. Sesaat sebelum disuntik hormon ovaprim dengan

dosis masing-masing adalah induk betina 0,202 mL dan pejantan sekitar

0,46 mL. Saat penyuntikan berlangsung, induk dari lele ini bagian kepala

harus ditutup dengan kain basah serta dlakukan dengan cepat dikarenakan

supaya lele tidak berontak dan tidak mengalami stress. Setelah dilakuakan

penyuntikan, indukan langsung diletakkan dalam kolam pemijahan dan

ditunggu kira-kira 24 jam. Keesokan harinya banyak telur telah ada dalam

kolam pemijahan dan menggumpal. Ada beberapa faktor yang

menyebabkan telur-telur ini menggumpal, diantaranya adalah tidak adanya

aerasi pada kolam pemijahan menyebabkan sirkulasi air tidak berjalan dan

menyebabkan telur-telur ini berkumpul di pojokan atau dasar kolam,

pemberian diet pakan yang tinggi lemak dan protein, sehingga saat

menghasilkan telur, telur-telur ini dilapisi lemak yang tinggi yang memicu

menempelnya telur satu dengan yang lain.

Dilihat dari GSI pada masing-masing indukan ternyata dapat

menghasilkan telur sebanyak 200.000 ekor tetapi yang dapat berhasil hidup

hanya sekitar 150.000 saja. Dengan SR 83,33 % dapat dikatakan bahwa

kelulushidupan larva ini tinggi, bila faktor lingkungan juga mendukung

maka larva lele tersebut dapat dipertahankan.

4.2.2. Analisa perkembangan panjang dan berat lele dumbo

Dari hari pertama menetas maka panjang dan beratnya lebih kecil

dari panjang dan berat hari ke-3 dan ke-9. Pada hari ke-2 panjang dan berat

larva lebih berat dan lebih panjang dari sebelumnya. Biasanya pada hari ke-
2 pakan yang diberikan berasal dari kuning telur sehingga belum ada pakan

tambahan. Pemeliharaan larva pasca penetasan telur dilakukan dengan

dialiri air dan dilengkapi dengan aerasi yang tidak terlalu kencang agar larva

tidak teraduk. Pemeliharaan larva dalam happa dilakukan selama (4-5) hari

tanpa diberi pakan, karena larva pada saat itu masih memanfaatkan kuning

telur yang ada dalam tubuh larva itu sendiri. Setelah hari ke-9 ternyata larva

lele ini diberi makan kuning telur sebagai makanan tambahan.

Menurut Mahyuddin (2008), dalam kegiatan pengontrolan kualitas

air meliputi pergantian air dengan pengaturan volume air dan penyiponan.

Pengelolaan kualitas air selama PKL, dilakukan dengan melakukan

penyifonan bak pemeliharaan larva setiap pagi hari sebelum pemberian

pakan dan penggantian air sebanyak 50%. Penyifonan dilakukan untuk

membersihkan sisa-sisa pakan dan kotoran yang terdapat di dasar bak

pemeliharaan larva. Selama pemeliharaan larva bila tidak memperlihatkan

gejala-gejala bahwa ikan terserang hama penyakit. Jika dilihat dari

gerakannya yang normal dan nafsu makan yang relatif tinggi menandakan

kondisi ikan sehat dan normal.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan dan Saran

5. 1. 1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktikum Teknologi

Pembenihan Ikan adalah sebagai berikut :

1. Faktor-faktor yang berperan dalam teknologi pembenihan lele, khususnya

dengan menggunakan manipulasi hormon hipofisa adalah kondisi induk

lele, tingkat kematangan gonad, cara penyuntikan, dan lingkungan.

2. Perkembangan larva lele dumbo dalam hal panjang adalah semakin

dewasa umur larva, maka semakin panjang pula perkembangan

tubuhnya. Perkembangan larva lele dumbo dalam hal berat adalah

semakin dewasa uumur larva, maka semakin berat pula perkembanagn

tubuhnya. Hal ini dikarenakan organ-organ tubuh larva dan

pertumbuhan tulang semakin mengalami perkembangan seperti lele

dewasa.

3. Perkembangan larva lele dumbo semakin hari semakin bertambah besar

ukuran dan menyerupai induknya.

5. 1. 2. Saran

Saran yang dapat diberikan dari Praktikum Teknologi Pembenihan Ikan

adalah sebagai berikut :


1. Upaya perbaikan kualitas lele yang telah dilakuakan adalah adanya

seleksi induk, hibridisasi, dan induced (penyuntikan).

2. Untuk mempercepat kematangan gonad induk lele, sebaiknya

dirangsang dengan penyuntikkan hipofisa maupun hormone ovaprim.

3. Untuk mendapatkan benih yang berkualitas sebaiknya dilakukan dengan

meningkatkan kualitas induk.

4. Sebaiknya ketika melakukan penimbangan induk lele menggunakan

timbangan yang sesuai dan teliti sehingga dalam menentukan berat dan

dosis penyuntikan dapat dilakukan dengan tepat.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.

Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele.


C.V. Simplex. Jakarta.

Goenarso, D. 2005. Fisiologi Hewan. Jakarta: Universitas Terbuka

Gusrina, 2008. Budidaya Ikan. United Stage Agency For International


Development. Jakarta

Mahyuddin, K. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Jakarta :Penebar


Swadaya

Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit


Swadaya. Jakarta.

Rianto. 2008. http://lestarimandiri.org/id/perikanan/pembibitan-ikan-/121-


pembibitan-ikan/267-pembenihan-ikan-lele-dumbo.html diakses
pada 28 Desember 2009.

Simanjutak, R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo.


Bhratara. Jakarta.