Anda di halaman 1dari 16

MENGEMBANGKAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

MELALUI PEMBERDAYAAN PERAN PEMERINTAH DAERAH


SEBAGAI KATALISATOR

Tugas Akhir Semester

Bahasa Indonesia

oleh
I Gede Putu Anggara Diva
1071001054

Bakrie School of Management


2009
1. Pengantar

1.1 Latar Belakang Masalah

Great Depression merupakan salah satu catatan hitam perekonomian dunia.


Great Depression terjadi karena kesalahan politisi yang terlalu menitikberatkan
kebijakan pada penyeimbangan anggaran daripada mempertahankan produksi dan
kesempatan kerja pada tingkat alamiah, pengurangan anggaran belanja secara besar-
besaran dan dilakukan dalam waktu cepat, ditambah meningkatkan pajak di tengah-
tengah pengangguran yang tinggi, merupakan kesalahan manajemen makro yang
paling mendasar (Dahlan, 2007:1). Jika dilihat terhadap kejadian krisis ekonomi
beberapa waktu lalu yang terjadi di Indonesia tampaknya memiliki kesamaan
penyebab. Hal inilah yang menjadikan peristiwa Great Depression penting untuk
ditinjau saat ini.

Salah satu hal penting untuk ditinjau adalah penyelesaian masalah Great
Depression, yaitu teori aliran discretion (diskreasi) yang disampaikan oleh John M.
Keyness. Dalam teorinya John M. Keyness (Dahlan, 2007:1) melihat dengan
membangun infrastruktur dalam skala besar, kreasi ekonomi kecil menengah tercipta
dan pengangguran dengan sendirinya terkurangi. Dari teori aliran discretion
(diskreasi) tersebut kita dapat menganalogikan bahwa “ekonomi kecil menengah”
yang dimaksudkan pada teori tersebut adalah Usaha Kecil dan Menengah.

Berdasarkan hal di atas maka dapat dilihat pentingnya UKM dalam


perekonomian dalam mengatasi masalah krisis yang terjadi karena UKM adalah salah
satu pelaku bisnis dalam domain dunia usaha. Menurut Halomoan Tamba (2002:1),
agar UKM menjadi pelaku bisnis yang unggul (market leader) baik di pasar domestik
(domestic market) maupun di pasar intemasional (international market), peranan
aparatur pemerintah dalam membuat kebijakan publik yang kondusif adalah sangat
besar sehingga dapat meningkatkan daya saing UKM. Pengertian daya saing di sini
adalah kemampuan UKM melakukan kompetisi dengan pelaku ekonomi lain di pasar
domestik maupun internasional. Daya saing berhubungan dengan bargaining potition
dan bargaining potition terkait erat dengan peluang yang kita miliki. Dalam hal ini,
peranan pemerintah sangat nyata untuk membuka dan memperbesar peluang pasar
produk UKM.

Menurut Purnama (2004:1), dalam pengembangan UKM peranan pemerintah


yang efektif dan optimal diwujudkan sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator.
Sebagai fasilitator, pemerintah memiliki peran dalam memfasilitasi UKM untuk
mencapai tujuan pengembangan usaha yang dimiliki oleh UKM. Jika UKM
mempunyai kelemahan di bidang produksi, tugas fasilitator adalah memberikan
kemampuan UKM dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan pelatihan.
Demikian pula jika UKM lemah dalam hal pendanaan, tugas fasilitator adalah
membantu mencari jalan keluar agar UKM mampu mendapat pendanaan yang
dibutuhkan, tetapi harus dilakukan secara hati–hati agar posisi UKM menjadi
tergantung.

Fungsi pemerintah sebagai regulator adalah membuat kebijakan-kebijakan


sehingga mempermudah usaha UKM dalam mengembangkan usahanya. Sebagai
regulator, pemerintah berfungsi untuk menjaga kondisi lingkungan usaha tetap
kondusif untuk melakukan investasi yang dilakukan dengan mengatur Suku Bunga
Bank Indonesia (SBI) dan membuat kebijakan tentang aturan-aturan persaingan
usaha. Fungsi terakhir dari pemerintah adalah sebagai katalisator yaitu mempercepat
terjadinya pertumbuhan perkembangan dari UKM. Menurut Choeryanto (2007:13),
fungsi sebagai katalisator ini merupakan fungsi yang kurang dikembangkan oleh
pemerintah sampai saat ini. Jika pemerintah tidak menjalankan ketiga fungsinya
secara maksimal, peran pemerintah dalam pegembangan UKM akan menjadi kurang
efektif dan optimal.
Pengembangan UKM merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan mulai
sektor wilayah khusus bukan umum secara nasional karena sebagian besar UKM di
Indonesia bergerak di pasar wilayah belum mencapai nasional. Hal ini
mengakibatkan untuk dapat mengembangkan UKM secara efisien. Oleh karena itu,
pemerintah daerah yang seharusnnya berperan karena mampu mengembangkan
melalui keunikan wilayahnya dan tempat UKM tersebut melakukan kegiatan. Selain
itu, dengan adanya Pelaksanaan Otonomi Daerah (OTODA), tugas pengembangan
daerah, melalui peningkatan peran UKM, merupakan peran pemerintah daerah.

1.2 Rumusan Masalah

Bersarakan hal-hal di atas terdapat masalah yang menarik untuk dibahas.


Untuk menjadi efektif dan optimal dalam pengembangan UKM, pemerintah daerah
sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator harus menjalankan tugasnya secara
maksimal. Namun, hal tersebut belum terjadi karena kurang optimalnya peran
pemerintah sebagai katalisator dalam pengembangan UKM. Hal tersebutlah yang
mendasari mengapa penulis melihat perlu meninjau hal-hal yang harus dilakukan oleh
pemerintah daerah agar mampu berperan sebagai katalisator dalam pengembangan
UKM.

Selain itu penulis melihat perlunya dilakukan pembahasan terhadap hasil yang
yang akan dicapai ketika peran pemerintah daerah telah menjalankan perannya
sebagai katalisator dalam pengembangan UKM. Hal ini penting dilakukan agar kita
lebih melihat seberapa pentingnya peran katalisator. Untuk itu, perlu dibahas dampak
yang terjadi apabila pemerintah daerah telah menjalankan fungsinya sebagai
katalisator.

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh
pemerintah agar mampu berperan sebagai katalisator dalam pengembangan UKM.
Dengan demikian dapat menjadi bahan tinjauan bagi pemerintah daerah sehingga
mampu mengembangkan UKM dengan efektif dan optimal. Dengan kata lain,
pemerintah daerah akan mampu menjalankan fungsi sebagai fasilitator, regulator, dan
katalisator secara optimal. Dengan adanya kesadaran akan pentingnya peran
katalisator pemerintah, akan tumbuh pemikiran-pemikiran baru dalam pengembangan
peran pemerintah daerah sebagai katalisator.

2. Pemerintah Daerah Berperan sebagai Katalisator dalam


Pengembangan Ukm Di Indonesia

Pelaksanaan Otonomi Daerah (OTODA) merupakan wacana pada era


reformasi karena mempunyai bobot stratejik dan menjadi titik fokus perhatian penting
dalam rangka memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Jika dilihat berdasarkan teori
aliran discretion (diskreasi) Keyness, kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan
menciptakan kreasi ekonomi kecil menengah (pengembangan UKM).
Pengembangannya sendiri disesuaikan dengan potensi dan kekhasan daerah masing-
masing. Untuk itu diperlukan pelaksnaan fungsi katalisator pemerintah daerah.

2.1 Peranan pemerintah daerah sebagai katalisator UKM

Secara harfiah katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi
dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi. Berdasarkan hal tersebut, peran
pemerintah daerah sebagai kalatisator pengembangan UKM adalah mempercepat
proses berkembangnya UKM menjadi Fast Moving Enterprise. Fast Moving
Enterprise (Rahmana, 2008:1) merupakan UKM yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar. Untuk
mencapai perkembangan Fast Moving Enterprise, seperti halnya sebuah katalis
pemerintah daerah terkadang ikut terlibat dalam dalam proses tersebut namun tidak
terlibat dalam mengatur proses keseluruhan proses perubahannya. Keterlibatan
pemerintah daerah dalam keseluruhan proses tidak boleh dilakukan karena
keterlibatan peran pemerintah terlalu banyak dalam kegiatan perekonomian akan
menyebabkan perekonomian menjadi tidak efisien lagi sebab pasar tidak dapat
bergerak secara alami.

Menurut Simatupang (2008:31) untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai


katalisator, pemerintah daerah seharusnya melalui pemberdayaan komunitas kreatif
untuk produktif bukan hanya konsumtif, penghargaan terhadap UKM, prasarana
intelektual bagi UKM (perlindungan hak kekayaan intelektual dan internet cepat),
dan permodalan termasuk modal ventura atau modal bergulir (revolving capital) atau
inkubator.

2.1.1 Memberdayaan Komunitas Kreatif

Komunitas kreatif adalah kelompok yang memiliki kreativitas, imajinasi dan


inovasi di dalam menciptakan dan menghasilkan produk-produk kreatif seperti musik,
gambar, video maupun konten kreatif multimedia lainnya. Menurut Simatupang
(2008:31), sampai saat ini sebagian komunitas kreatif belum dikembangkan bahkan
keberadaannya hanyalah sebagai konsumen barang-barang kreatif. Jika pun
melakukan kegiatan produksi biasanya hanya dilakukan untuk diri sendiri sehingga
tidak memiliki nilai ekonomis.

Untuk memberdayakan komunitas kreatif ini dapat dilakukan dengan


membuat sebuah wadah tempat berkumpulnya komunitas kreatif. Dengan adanya
wadah ini komunitas kreatif diharapkan dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman
di antara komunitas seniman-pencinta seni-masyarakat umum dan mampu menjadi
tempat untuk saling memicu para pekerja kreatif untuk terus berkarya. Yang
terpenting dengan adanya wadah ini, hasil karya yang dihasilkan komunitas kreatif
dapat memiliki nilai ekonomis sehingga mampu menciptakan bibit-bibit UKM.

Wadah seperti ini sebenarnya telah ada di daerah Lombok. Wadah tersebut
diberinama Rumah Senaru. Rumah Senaru ini dibuat oleh Sugi Lanus dan Mantra
Ardhana. Dengan adanya Rumah Senaru perkembangan UKM kerajinan di daerah
Lombok berkembang dengan pesat. Menurut Popo Danes (2009:1) dengan
perkembangan sebesar ini tiap tahunnya, dalam waktu kurang dari 15 tahun ke depan
keberadaan UKM kerajinan di Lombok akan mampu bersaing dengan UKM
kerajinan Bali. Berdasarkan hal tersebut, terlihat pentingnya dilakukan pemberdayaan
komunitas kreatif oleh setiap pemerintah daerah di seluruh Indonesia seperti yang
dialami oleh UKM kerajinan di Lombok.

2.1.2 Memberikan Pengahargaan

Menurut Ahmad Kurnia (2009:1) mulai dari adanya manusia di muka bumi,
motivasi tersebut sudah ada bertumbuh secara beriringan dengan pertumbuhannya
(selama manusia hidup). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa motivasi
merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Pada masa sekarang ini motivasi
tersebut sudah menjadi suatu hal yang sudah tidak asing lagi, dan karenanya menjadi
perhatian dari para manajer dalam hal mengelola sumber daya manusia yang
dijadikan aset penting bagi organisasi.

Seperti halnya dalam sebuah organisasi, pemerintah daerah dalam


mengembangkan daerahnya perlu melakukan pengelolaan terhadap sumber daya
manusia yang ada didaerah tersebut. Salah satunya dapat dilakukan dengan
melakukan pengelolaan terhadap UKM yang berada di daerah tersebut. Salah satu
faktor yang dirasakan sangat penting di dalam penentuan keberhasilan pembangunan
daerah adalah tingkat kemampuan dan keterampilan dari masyarakatnya (UKM).
Untuk memaksimalkan kemampuan dari UKM yang ada di daerah ini perlu dilakukan
motivasi terhadap setiap UKM.

Motivasi tersebut dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan terhadap


UKM yang berprestasi. Hal ini penting untuk dilakukan. Eric Berne (Mulyana,
2009:1) dalam Teori Analisis Transaksional Eric Berne Manusia Bermental Transaksi
menyatakan bahwa:

Salah satu motivator paling mendasar dan paling kuat bagi manusia adalah
dihargai secara positif; menerima pengakuan pribadi dari orang lain. Seseorang
membutuhkan "rangsangan" dari orang lain agar merasa puas secara emosional
dan psikologis. Jika rangsangan positif tidak diberikan, mereka yang haus akan
rangsangan ini akan semakin sulit diatur dan mengganggu hanya untuk mencari
perhatian. Bahkan rangsangan negatif lebih baik dari pada diabaikan atau tidak
menerima rangsangan sama sekali.

Pemberian penghargaan dari pemerintah tersebut akan memberikan


“rangsangan” positif kepada keseluruhan UKM, baik yang mendapat penghargaan
maupun yang tidak. UKM yang menerima penghargaan akan merasa puas secara
emosional dan psikologis sebab adanya penghargaan terhadap hasil kerja yang telah
dilakukan. Bagi UKM lainnya, penghargaan dapat menjadi goal UKM tersebut, dapat
menjadi dorongan untuk berinovasi lebih baik. Dengan demikian inovasi akan
bertambah secara signifikan baik dari segi kuantitas maupun kualitas akibat adanya
persaingan. Inovasi yang semakin berkembang menyebabkan UKM di daerah
tersebut secara keseluruhan akan berkembang.

2.1.3 Memberi Prasarana Intelektual


Menurut Srie Agustina (2009:1) HKI UKM dinilai sangat penting untuk
mendorong daya saing dengan produk lain yang sejenis, selain sebagai akses
perlindungan hukum atas produk yang dimilikinya dan upaya mengembangkan asset
finansial perusahaan dari UKM mitra usaha dan mitra binaan PDKM lainnya. Sebagai
contoh, awalnya, Korea dan Cina tidak bisa memproduksi mobil maupun alat
elektronik sendiri. Namun, dengan memanfaatkan rezim HKI, mereka
mengembangkan teknologi mereka sehingga akhirnya produk-produknya terkenal.
Dari hal tersebut terlihat pentingnya HKI bagi industri tidak terkecuali UKM. Hal ini
menjadi sesesuatu yang sangat penting dilakukan mengingat semakin dekatnya saat-
saat dilaksanakannya pasar bebas. Ketika terjadi pasar bebas, barang-barang produksi
dari seluruh belahan dunia akan mudah masuk ke Indonesia. Hal ini akan
mempermudah terjadinya peniruan sebuah produk.

Menurut Sommeng (2009:1), saat ini sebagian besar UKM di Indonesia tidak
memiliki kesadaran pentingnya mendaftarkan produk hasil produksinya ke
Depkumham. Oleh sebab itu kekayaan intelektual UKM di Indonesia sangat terancam
dengan diberlakukannya pasar bebas. Ketika pasar bebas diberlakukan, kemungkinan
produk-produk UKM di Indonesia akan ditiru semakin besar. Bukan tidak mungkin
peniru produk tersebut nantinya akan mendaftarkan produk tersebut atas namanya
sehingga yang mendapatkan keuntungan maksimal atas produk tersebut adalah si
peniru.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu meberikan prasarana intelektual kepada


UKM. Salah satu bentuk prasarana intelektual yang dapat dilakukan adalah dengan
memberikan HKI terhadap seluruh produk-produk hasil produksi UKM. Untuk
melakukan hal tersebut, pemerintah daerah harus melakukan sosialisasi tentang
pentingnya kepemilikan atas HKI kepada UKM dan mempermudah birokrasi
kepemilikan atas HKI bagi UKM. Sebab dengan memiliki HKI produk UKM akan
lebih berpeluang memasuki persaingan global dan tidak dibajak lagi karena sudah
memiliki perlindungan hukum tetap. Dengan demikian akan tercipta rasa aman dalam
berusaha dan memasuki pasar global, perusahaan akan dapat fokus dalam
pengembangan dan pemasaran produk. Hal tersebut akan membuat UKM akan
mampu berkembang lebih besar.

Selain masalah HKI, pemerintah daerah dapat pula memberikan prasarana


intelektual dengan menyediakan akses internet yang cepat kepada UKM. Mungkin
penyediakan akses internet yang cepat kepada UKM saat ini masih sulit dilakukan.
Namun, hal tersebut merupakan sebuah rencana stratejik dalam pengembangan
sebuah usaha pada masa saat ini. Dengan melakukan pemasaran melalu dunia maya
akan menyebabkan produk lebih dikenal oleh masyarakat luas dan citra perusahaan
akan lebih baik.

2.1.4 Memberi Bantuan Permodalan

Permodalan merupakan salah satu faktor utama dalam mengembangkan suatu


unit usaha. Namun, menurut A.S. Wan (1977:8) permodalan merupakan masalah
yang paling sering terjadi dalam perjalanan usaha sebuah UKM. Hal ini terjadi sebab
pada umumnya UKM merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya
tertutup, yang mengandalkan pada modal dari pemilik yang jumlahnya sangat
terbatas. Selain masalah kepemilikan tersebut terdapat masalah lain dalam
permodalan UKM yaitu modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya
sulit diperoleh, karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh
bank tidak dapat dipenuhi.

Untuk itu menurut Abdul Rosid (2007:7), pembiayaan untuk UKM sebaiknya
menggunakan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang ada dan lembaga nonbank.
Lembaga Keuangan Mikro (LKM) bank antara lain BRI unit Desa dan Bank
Perkreditan Rakyat (BPR). LKM merupakan sebuah alternatif penyelesaian masalah
agar UKM tidak memiki ketergantungan pada bank dalam masalah permodalan
karena sampai saat ini BRI memiliki sekitar 4.000 unit yang tersebar di seluruh
Indonesia. Dari kedua LKM ini sudah tercatat sebanyak 8.500 unit yang melayani
UKM. Namun, LKM non koperasi memilki kesulitan dalam legitimasi operasional.
Untuk mengatasi hal tersebut yang memiliki peran penting adalah pemerintah daerah
karena yang dapat mengatasi masalah legitimasi operasional. Dengan melakukan hal
tersebut maka pemerintah daerah secara tidak langsung akan membantu masalah
permodalan UKM.

Selain itu, pemerintah daerah juga dapat memberikan bantuan secara langsung
pada masalah permodalan bagi UKM. Bantuan permodalan bagi UKM dapat
dilakukan dengan memperluas skim kredit khusus dengan syarat-syarat yang tidak
memberatkan bagi UKM, untuk membantu peningkatan permodalannya, baik itu
melalui sektor jasa finansial formal, sektor jasa finansial informal, skema
penjaminan, leasing dan dana modal ventura.

2.2 Dampak peranan pemerintah daerah sebagai katalisator dalam


perkembangan UKM

Untuk melihat dampak peranan pemerintah daerah sebagai katalisator, seperti


yang telah dibahas sebelumnya, dalam perekembangan UKM dapat dilakukan dengan
menganalisisnya terhadap teori Michael E.Porter. Dengan mengadopsi teori Michael
E.Porter (Kartasapoetra, 2007:45), indikator yang dapat dijadikan untuk mengukur
berkembangnya UKM adalah keunikan (diffrentiation), yaitu kemampuan UKM
memproduksi barang atau jasa yang unik atau memiliki citra tersendiri bagi
konsumennya dan biaya rendah (lower cost), yaitu kemampuan UKM memproduksi
barang atau jasa dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan barang dan
kualitas serta pelayanan sejenis di pasar yang sama tanpa mengorbankan kualitas.
Pemberdayaan komunitas kreatif dapat memfasilitasi para pengrajin UKM
dalam melakukan brain storming terhadap ide-ide baru. Hal tersebut dapat terjadi
karena komunitas kreatif memberikan kesempatan pengrajin UKM untuk melakukan
tukar pikiran terhadap perkembangan inovasi yang akan dilakukan kedepannya.
Dengan demikian, telah terjadi peningkatan dalam keunikan (diffrentiation).

Pemberian penghargaan, seperti yang telah dibahas sebelumnya, dapat


membuat UKM lebih termotivasi untuk melakukan inovasi. Selain itu dengan adanya
penghargaan, dapat membuat membuat citra tersendiri bagi yang medapatkannya bagi
konsumen. Dengan demikian, telah terjadi peningkatan dalam keunikan
(diffrentiation).

Pemeberian sarana intelektual, perlindungan HKI, akan menciptakan sebuah


rasa aman bagi UKM dalam kejahatan peniruan. Dengan ada perlindungan tersebut,
akan tercipta produk-produk unik baru sebab HKI secara langsung dapat memberikan
keuntungan ekonomi bagi UKM. Dengan adanya keuntungan ekonomi tersebut, dapat
melakukan tekanan ekonomi kepada usaha yang membuat barang serupa, yaitu
memaksa mereka untuk memproduksi barang dengan biaya yang lebih tinggi. Hal ini
terjadi sebab mereka harus membayar HKI kepada untuk melakukan produksi
sehingga biaya produksi yang diakukan akan lebih kecil dari pada usaha yang
membuat barang serupa. Pemeberian sarana intelektual, memberikan akses internet
cepat dan murah, akan megurangi biaya pemasaran produk. Dengan demikian, telah
terjadi peningkatan dalam keunikan (diffrentiation) dan biaya rendah (lower cost).

Pemberian bantuan permodalan akan memberikan kesempatan bagi UKM


untuk melakukan pembelian terhadap sarana-sarana produksi yang dapat
mengefisienkan kegiatan produksi. Efisiensi dalam kegiatan produksi akan
menyebabkan biaya produksi akan berkurang. Bantuan permodalan juga memberikan
kesempatan bagi UKM untuk melakukan kegiatan pengembangan produk sehingga
inovasi akan tercipta. Dengan demikian, telah terjadi peningkatan dalam keunikan
(diffrentiation) dan biaya rendah (lower cost).

Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat bahwa dengan berperan sebagai


katalisator, yaitu dengan melakukan pemberdayaan komunitas kreatif, penghargaan
terhadap UKM, prasarana intelektual bagi UKM (perlindungan hak kekayaan
intelektual dan internet cepat), dan permodalan termasuk modal ventura atau modal
bergulir (revolving capital) atau inkubator, telah dapat mengembangkan UKM sebab
telah mampu menciptakan keunikan (diffrentiation) dan biaya rendah (lower cost)
dalam produknya.

3. Penutup

Peran pemerintah daerah sebagai kalatisator pengembangan UKM adalah


mempercepat proses berkembangnya UKM menjadi Fast Moving Enterprise. Untuk
menjadi Fast Moving Enterprise, menjalankan perannya sebagai katalisator,
pemerintah daerah seharusnya melalui pemberdayaan komunitas kreatif untuk
produktif bukan hanya konsumtif, penghargaan terhadap UKM, prasarana intelektual
bagi UKM (perlindungan hak kekayaan intelektual dan internet cepat), dan
permodalan termasuk modal ventura atau modal bergulir (revolving capital) atau
inkubator.

Dengan menggunakan indikator perkembangan UKM yang berasal dari teori


Michael E.Porter, pelaksanaan peran pemerintah daerah sebagai katalisator mampu
untuk mengembangkan UKM. Perkembangan UKM tersebut terjadi karena dengan
melaksanakan peran sebangai katalisator mampu menciptakan keunikan
(diffrentiation) dan biaya rendah (lower cost) dalam produk dari UKM.
Daftar Pustaka

Agustina, Srie. “Sekjen Depdag: Produk UKM Harus Memiliki HaKI Supaya Tidak
Dibajak”, dalam http://beritasore.com/2009/04/01/sekjen-depdag-
%E2%80%9Cproduk-ukm-harus-memiliki-haki-supaya-tidak-dibajak
%E2%80%9D/, diunduh pada 6 April 2009.

Ahmadi, Abu, et al. Psikologi Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002.

Choeryanto, Syaifoel. Ketidakseimbangan Ekonomi. Jakarta: Lembaga Penerbit


Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2007.

Dahlan, Muhamad. “Aliran Diskreasi Dan Peran Penting UKM”, dalam


http://greatdepression.wordpress.com/2007/10/21/aliran-diskreasi-dan-peran-
penting-ukm/ , diunduh pada 1 Mei, 2009.

Danes, Popo. “Rumah Senaru hadirkan Popo Danes”, dalam


http://lomboknow.org/2009/05/03/rumah-senaru-hadirkan-popo-danes/,
diunduh pada 5 April 2009.

Kaloh , J. Mencari bentuk otnomi daerah “Suatu solusi dalam menjawab kebutuhan
lokal dan tantangan global”. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007.

Kartasapoetra, G. Perencanaan Pembangunan “Dasar-dasar Kebijakan Ekonomi”.


Jakarta: PT Rineka Cipta , 2007.

Kurnia, Ahmad. “Teori Motivasi dalam Manajemen SDM”, dalam


http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-
sdm/, diunduh pada 5 April 2009.
Mulyana, Slamet. “Analisis Transaksional (Eric Berne)”, dalam
http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/19/analisis-transaksional-eric-
berne/, diunduh pada 4 April 2009.

Purnama, Rauf. “Nilai Tambah SDA untuk Kesejahteraan Rakyat”, dalam


http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/r/rauf-purnama/sda.shtml, diunduh
pada 1 Mei 2009.

Rahmana, Arief. “Klasifikasi UKM”, dalam


http://infoukm.wordpress.com/2008/08/29/klasifikasi-ukm/, diunduh pada 28
April 2009.

Rosid, Abdul. Manajemen Usaha Kecil, Menengah, dan Koprasi. Jakarta: Pusat
Pengembangan Bahan Ajar – UMB, 2007.

Simatupang, Togar M. Industri Kreatif Indonesia. Bandung: Institut Teknologi


Bandung Sekolah Bisnis dan Manajemen, 2008.

Sommeng, Andy N. “UKM Jangan Abaikan HKI” dalam


http://www.kaltimpost.web.id/index.php?mib=berita.detail&id=20958,
diunduh pada 6 April 2009.

Tamba, Halomoan. “Paradigma Peningkatan Daya Saing UKM Dalam Koridor


Otonomi Daerah”, dalam
http://www.smecda.com/deputi7/file_Infokop/halomoan.htm, diunduh pada
28 April 2009.

Wan, A.S. Pembangunan Ditinjau Kembali. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press, 1977.