Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tahun 2008 telah berlalu dan berganti dengan tahun 2009, tahun
dimana kita akan melakukan Pemilihan Umum secara langsung untuk
kedua kalinya. Sebagai bangsa yang besar kita patut melakukan refleksi
nasional, tentang apa yang sudah kita capai dan tidak kita secara kolektif
selama setahun ini, serta apakah selama 11 tahun masa transisi kita jalani
terdapat perubahan yang berarti dari berbagai aspek kehidupan bangsa
politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Pertanyaan tersebutlah kiranya yang
menggelayuti benak mahasiswa yang mendorong reformasi dan
masyarakat awam yang kondisinya belum beranjak lebih sejahtera untuk
melakukan aksi demonsterasi hingga saat ini. Seharusnya pertanyaan
tersebut mestinya muncul lebih dulu dari kalangan elite pemimpin
nasional.

Kepemimpinan nasional di masa transisi memperlihatkan tidak


mudah untuk mengkonsolidasikan sumber daya dan potensi bangsa untuk
mencapai cita-cita baru yang diimpikan bersama. Pergantian
pemerintahan begitu kerap dalam waktu yang relatif singkat. Setelah
Soeharto lengser dari kekuasaannya, maka Habibie memegang tampuk
pemerintahan hanya selama 17 bulan, dengan sejumlah terobosan dalam
keterbukaan politik dan pemulihan ekonomi. Abdurrahman Wahid
memerintah sedikit lebih lama dari Habibie, yakni 21 bulan, namun
memunculkan berbagai kontroversi akibat sikap pribadi dan kebijakan
yang diambilnya. Megawati berusaha menyelamatkan pemerintahan yang
diwarisi Wahid, namun sampai batas Pemilihan Umum 2004, kepercayaan
yang diberikan rakyat sudah beralih. Kini bangsa Indonesia dipimpin oleh

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 1


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bergaya flamboyan, walau
substansi kebijakan dan realisasi kepemimpinannya terus diuji dengan
berbagai tantangan. Namun berdasarkan hasil survey yang dilakukaan
oleh CESDA-LP3ES, tentang kelayakan para pemimpin nasional untuk
memimpin negara ini, diperoleh hasil bahwa masyarakat yang merasa
kepemimpinan yang telah ada selama ini layak atau sudah ideal adalah
kurang dari 10 persen. Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa hingga
saat masyarakat masih merasa belum mendapatkan pemimpin yang ideal.
Sebagi seorang pemimpin yang ideal seharusnya mampu untuk
memenuhi tanggung jawab yang diembankan kepadanya.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan membawa bangsa


ini menuju kesejahtraan tidaklah dapat dilakukan oleh pemimpin itu
sendiri, namun perlu adanya peran serta masyarakat. Sehingga bangsa ini
akan maju oleh dan untuk masyarakatnya sendiri.

1.2 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang mendasari dibuatnya makalah ini adalah untuk


mengetahui kewajiban yang dimiliki oleh seorang pemimpin nasional
sehingga mampu menjadi seorang pemimpin yang ideal. Selain itu tulisan
ini juga bertujuan mengetahui peran serta terbaik yang dapat dilakukan
oleh masyarakat dalam membantu pemimpinnya mewujudkan tujuan
bersama, sehingga sukses yang berasal dari dan untuk masyarakat
sendiri dapat dicapai.

1.3 Pembatasan Masalah

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 2


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
Dalam makalah ini, pembahasan yang dilakukan adalah hanya
melihat pemimpin nasional sudah dapat dikatakan ideal ketika sudah
mampu memenuhi tanggung jawabnya kepada masyarakat umum.
Sehingga yang akan dibahas dalam makalah ini hanya melihat tanggung
jawab yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin nasional yang ideal,
mengetahui keterkaitan antara kepemimpinan nasional dan birokrasi, dan
peran serta masyarakat dalam melakukan reformasi birokrasi yang
dilakukan dengan new public sevice.

1.4 Pengertian – Pengertian

1.4.1 Kepemimpinan Nasional

Kepemimpinan nasional bukan semata-mata menjadi


tanggung jawab tokoh-tokoh tertentu. Makna kepemimpinan nasional
adalah pemimpin di semua tingkat kekuasaan dari bawah ke atas
yang mampu memobilisasi dan meningkatkan nilai tambah
keterlibatan masyarakat menuju bangsa yang sejahtera dan
bermartabat. Kepemimpinan di tingkat bawah, dari desa sampai
distrik (kabupaten/kota) maupun di tingkat atas tidak bisa
mengandalkan segelintir tokoh yang pada gilirannya akan bermain
atau dipermainkan oleh kekuasaan yang tidak selalu benevolent.

Charles Handy dalam The Age of Paradox (1994)


menggambarkan ciri kepemimpinan masa depan yang baik berpijak
pada subsidiarity (tanggung jawab kepemimpinan di tingkat yang
lebih rendah jangan dirampas oleh kepemimpinan yang lebih tinggi,
karena akan mematikan kemampuan memecahkan masalah dan
mengembangkan diri), earned authority (kepemimpinan berdasarkan
pengakuan rakyat, bukan pada kepentingan kelompok elite tertentu),

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 3


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
dan virtuality (kepemimpinan yang didasarkan pada jaringan luas,
tidak mengandalkan birokrasi yang gemuk dan lamban).

Peter Senge melalui pemikiran-pemikirannya tentang


organisasi belajar (learning organization) mempertanyakan
bagaimana kita bisa memberdayakan kepemimpinan di garis depan
jika masih mengandalkan pola kepemimpinan yang terstruktur secara
hierarki dan pimpinan puncak masih menentukan segalanya.
Tantangan perubahan sistemik yang kita hadapi tidak bisa
dipecahkan melalui pemimpin-pemimpin heroik tanpa bekerja sama
dengan banyak orang dalam posisi berbeda dan memberikan
kontribusi kepemimpinan yang berlainan pula.

Rosabeth Moss Kanter yang terobsesi oleh konsep


kepemimpinan kelas dunia menawarkan ciri-ciri pemimpin masa
depan sebagai integrator (yang dapat melihat kesamaan di balik
perbedaan-perbedaan nyata di antara sektor, disiplin, fungsi dan
budaya), diplomat (mampu mengajak orang untuk bekerja sama
didorong oleh kepentingan bersama), cross-fertilizer (dapat
membawa yang terbaik dari satu tempat ke tempat lain sesuai
kebutuhan), dan pemikir yang bijak (dapat menemukan
kemungkinan-kemungkinan baru dan membulatkannya secara
konseptual).

1.4.2 Birokrasi

Istilah atau kata birokrasi mempunyai arti sesuatu yang positif.


Kata itu bermakna sebagai suatu metode organisasi yang rasional
dan efisien – metode untuk menggantikan pelaksanaan kekuasaan
yang sewenang-wenang oleh rajim otoriter. Logika dari birokrasi
dalam kerja pemerintah sama dengan jalur perakitan dalam pabrik.
Model birokrasi pemerintahan seperti ini dapat diterapkan; jika
lingkungan stabil, tugas-tugas relatif sederhana, setiap pelanggan
menginginkan layanan yang sama, serta kualitas kinerja tidak

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 4


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
mengkhawatirkan, dan masih mampu berjalan sampai tingkat
tertentu (Osborn dan Gaebler, 1995).
Max Weber ahli sosiologi Jerman mengembangkan sebuah
model struktural yang ia katakan sebagai alat yang paling efisien bagi
organisasi-organisasi untuk mencapai tujuannya. Ia menyebut
struktur ideal ini sebagai birokrasi. Struktur tersebut dicirikan dengan
adanya pembagian kerja, hirarki wewenang yang jelas, prosedur
seleksi yang formal, peraturan yang rinci, serta hubungan yang tidak
didasarkan pribadi atau impersonal (Robbins, 1994). Konsep Max
Weber tentang birokrasi berkaitan dengan organisasi rasional, in
efisiensi organizational, kekuasaan yang dijalankan oleh pejabat,
administrasi negara, administrasi yang dijalankan oleh pejabat,
sebuah organisasi, dan masyarakat modern.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka birokrasi dapat
dibedakan atas dua tipe, yaitu; tipe patrimoni dan tipe rasional.
Birokrasi patrimoni adalah adanya sekelompok pejabat. Konsep
pejabat (beamter) adalah fundamental bagi birokrasi. Weber
menggunakan istilah Beamtentum (officialdom = kepejabatan)
sebagai alternatif bagi istilah birokrasi. Weber memandang birokrasi
sebagai suatu istilah kolektif bagi suatu badan yang terdiri atas
pejabat-pejabat, suatu kelompok yang pasti dan jelas pekerjaan serta
pengaruhnya dapat dilihat pada semua macam organisasi. Konsep
ini sejalan dengan pendapat Thoha (2003) yang mengatakan bahwa
konsep birokrasi Max Weber yang dianut dalam organisasi
pemerintahan (government) banyak memperlihatkan cara-cara
officialdom (kerajaan pejabat). Pejabat birokrasi pemerintah adalah
sentra dari penyelesaian urusan masyarakat. Rakyat sangat
tergantung pada pejabat, bukannya pejabat tergantung pada rakyat.
Adapun birokrasi rasional Weber menurut Blau dan Meyer
(1987), dan Beetham (1996) dicirikan oleh tipe ideal birokrasi,
seperti; (1) pejabat melakukan tugas-tugas secara impersonal, (2)
Terdapat hirarki jabatan yang jelas, (3) fungsi-fungsi jabatan-jabatan

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 5


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
itu dirinci dengan jelas, (4) para pejabat diangkat atas dasar kontrak,
(5) mereka diseleksi atas dasar kualifikasi profesional, (6) gaji
disusun sesuai kedudukan dalam hirarki, (7) pekerjaan pejabat ialah
satu-satunya dan utama, (8) terdapat suatu struktur karier, dan
kenaikan pangkat, (9) kedudukan pejabat tidak boleh dianggap milik
pribadainya, dan (10) pejabat tunduk kepada pengendalian dan
sistem disipliner.

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 6


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
BAB II

PERMASALAHAN

Kepemimpinan nasional mengalami disfungsi dan pembusukan.


Hal ini terlihat dari berbagai kasus penyimpangan yang dilakukan oleh
pejabat publik telah merata di seluruh lembaga negara, baik di legislatif,
eksekutif, maupun yudikatif. Itu membuktikan bahwa pembusukan
kepemimpinan nasional telah, sedang, dan akan terus terjadi. Pejabat
publik yang seharusnya memberi contoh kepada masyarakat untuk keluar
dari krisis nasional, telah keluar dari nurani kebangsaannya. Kepekaan
terhadap pertanggungjawaban publik sudah hilang. Para pejabat tinggi
pada instansi-instansi strategis bukannya memberi keteladanan,
melainkan mempertontonkan perilaku buruk dalam mengelola otoritas
publik.

Kecenderungan ini dapat mengarah pada makin suburnya budaya


kekuasaan, serta mengancam efektivitas kepemimpinan nasional. Esensi
kepemimpinan yang seharusnya berada pada akseptabilitas dan kekuatan
moral kini semakin bergeser pada upaya mempertahankan kekuasaan
dengan segala cara, termasuk memutarbalikkan interpretasi tentang
tindakan dan putusan hukum. Kondisi ini, disebabkan kepemimpinan
nasional mengalami disfungsi. Presiden maupun lembaga tinggi negara
yang semestinya mengambil tindakan untuk menunjukkan keseriusan
menangani masalah korupsi hanya diam tanpa kata-kata, dan tidak
menunjukkan sikap yang jelas. Jika kecenderungan seperti ini terus
berlanjut, maka akan meruntuhkan seluruh sistem penegakan hukum,
tidak berfungsinya sistem ketatanegaraan dan hilangnya kepercayaan
publik kepada para pemimpinnya. Meskipun tampak di permukaan,
mayoritas masyarakat cenderung apatis, bukan berarti tidak ada
keresahan sosial yang berpotensi memicu ledakan sosial.

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 7


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
Kesenjangan yang makin lebar antara rakyat kebanyakan yang
sangat menderita akibat krisis ekonomi yang belum pulih, dengan perilaku
kepemimpinan yang korup dan bermewah-mewah secara tidak sah, dapat
memicu munculnya keresahan dan anarki sosial. Selain itu terdapat pula
gejala terjadinya imunitas media massa. Para pemimpin negeri ini sudah
tidak mempan terhadap kritikan atau keresahan yang disuarakan
masyarakat melalui media massa. Bahkan, dalam banyak kasus,
pemerintah cenderung mereduksi keberadaan masyarakat. Dengan
terseduksinya keberadaan masyarakat maka birokrasi negara ini telah
melanggar UUD 1945. Jika kejadian ini terus berlangsung maka negara ini
tidak akan pernah menemukan seorang pemimpin yang ideal.

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 8


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pemimpin Nasional Ideal Indonesia

Ketika kita mencoba menguraikan landasan kepemimpinan dalam


konteks Indonesia maka kita akan menjelaskan fondasi kepemimpinan
berfungsi sebagai parameter dalam menilainya, konteks memberikan
acuan kemana kepemimpinan itu diterapkan. Ketika rejim Order Baru
lengser di tahun 1998 dan semangat reformasi bangkit secara luar biasa,
terkuak beberapa idealisme yang sebelumnya cenderung mimpi yang
mustahil menjadi kenyataan. Idealisme tersebut adalah kemenangan
moral atas kekuasaan, kejayaan reformasi atas status quo, kegemilangan
masa depan atas masa lalu, serta kemenangan hati nurani rakyat atas
kekecewaan terhadap berbagai penyelewengan oleh pemerintahan
sebelumnya. Namun hingga saat ini hal-hal ideal tersebut masih jauh dari
harapan. Karenanya keempat hal ideal di atas masih tetap sebagai
tantangan terhadap kepemimpinan nasional di masa kini, sehingga
siapapun yang mengklaim diri menjadi pemimpin bangsa harus
memperhatikan keempat keadaan ideal di atas. Dia harus mampu menjadi
inspirator, motivator dan organisator dalam mengembangkan embrio-
embrio tersebut menjadi kenyataan. Dalam kaitan ini, sedikitnya ada
empat tanggung jawab yang diemban oleh pemimpin nasional.

3.1.1 Meneruskan komitmen terhadap perjuangan moral

Umum diketahui bahwa praktik KKN yang merajalela dalam


pemerintahan-pemerintahan sebelumnya adalah disebabkan rendahnya
moralitas birokrat, pengusaha dan berbagai kalangan masyarakat. Adalah
tugas berat pemimpin nasional untuk memulihkan dan membangun
moralitas birokrat, sektor swasta dan masyarakat yang sudah berkarat
BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 9
Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
dengan praktik negatif tersebut selama kurang lebih 30 tahun, dan yang
terus berlangsung sampai sekarang.

Salah satu upaya pemulihan yang mungkin adalah dengan


memulai dari dirinya sendiri, menciptakan keterbukaan dan kejujuran
dalam dirinya sendiri. Tanpa itu mustahil pemimpin nasional berhasil
memulihkannya. Ini tidak lain disebabkan juga budaya kita yang
paternalistik, sehingga seorang pemimpin luas dianggap sebagai
tauladan. Karenanya, dia harus menjadi figur pertama yang akan
konsisten menegakkan prinsip moral dalam kehidupan berbangsa,
bernegara dan pemerintahan. Di sini fondasi kepemimpinan yang ketiga,
optimisme, menjadi sentral. Diperlukan adanya self-restrocpection,
humility dan ketauladanan. Dengan demikian pemimpin dapat
memerankan peranannya sebagai model dalam masyarakat.

3.1.2 Melanjutkan dan meningkatkan kualitas reformasi

Selama lima tahun terakhir, pengertian reformasi sudah mengalami


berbagai penyimpangan. Seorang pemimpin nasional diharapkan dapat
memberi makna lebih berbobot dan merevitalisasi reformasi yang sedang
diperjuangkan. Reformasi bukan hanya menyangkut pergantian
pemerintahan dan anggota badan legilastif. Jauh lebih penting, itu meliputi
mentalitas, cara berpikir, cara mengelola sumberdaya nasional, dan cara
bersosialisasi masyarakat. Reformasi menyangkut pembaruan sikap
masyarakat dan penerimaan secara dewasa perbedaan-perbedaan baik
ras, agama, suku dan etnis, yang merupakan isu sangat sensitif selama
ini, serta penempatan kepentingan bangsa secara utuh di atas
kepentingan golongan. Karenanya seorang pemimpin nasional juga
diharapkan dapat memimpin pembaruan terhadap kesenjangan pemikiran,
pendapat dan sikap antar golongan, agama dan suku terhadap reformasi.
Dapat kita liahat dimasyarakat, tidak semua kalangan menyambut
reformasi secara positif. Beberapa pengamat mungkin akan mencoba
membalik atau memanfaatkan situasi demi kepentingan golongannya.
BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 10
Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
Adalah tugas pemimpin nasional untuk menyatukan bangsa dalam satu
visi dan misi: kesatuan nasional, keadilan dan kemakmuran bagi seluruh
rakyat. Dengan kata lain, dia menjadi inspirator dan motivator.

3.1.3 Mewujudkan kegemilangan masa depan atas masa lalu

Masa lalu bangsa ditandai dengan mismanagement sumberdaya


alam dan manusia nasional. Pemanfaatan sumberdaya alam tidak
dioptimalkan untuk kemakmuran seluruh rakyat. Sebaliknya, tingkat
kesenjangan ekonomi dan kemiskinan secara absolut terus meningkat.
Sama halnya, sumberdaya manusia belum dimanfaatkan secara optimal
karena dua hal, yakni pembangunan lebih diarahkan pada pembangunan
fisik dan individu-individu kapabel justru berada di luar sistem. Kondisi
sekarang, khususnya dari segi ekonomi, sangatlah serius ditandai dengan
tingkat pengangguran relatif tinggi yang diperkirakan mencapai 30%,
sekitar 50 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, lunturnya
kepercayaan investor asing dan domestik, masih tingginya tingkat harga-
harga, serta ketersediaan bahan kebutuhan pokok. Masalah berat lain
adalah restrukturusisasi perbankan dan utang luar negeri. Ringkasnya,
tantangan dalam mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat sangat berat.
Karenanya, seorang pemimpin nasional diharapkan dapat merumuskan
dan menjalankan kebijakan yang tidak hanya bertujuan mengatasi
masalah ekonomi sekarang, tetapi juga kebijakan masa depan yang
konsisten dengan misi dan visi bangsa.

Dalam jangka menengah, pemimpin harus mampu mengambil


keputusan agar dapat memajukan ekonomi pertanian dan industri kecil
dan menengah. Dari data BPS (2002), sekitar 50 % atau 40 juta tenaga
kerja masih terpusat di sektor pertanian dan hanya 12.5 % di sektor
industri. Apa yang terjadi selama pemerintahan Orde Baru adalah,
strategi kebijakan ekonomi yang berfokus pada industri ternyata gagal
menyerap surplus ternaga kerja di pertanian, sementara ironisnya,
sumberdaya modal lebih terpusat pada sektor industri.
BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 11
Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
Dalam jangka panjang, apa yang harus dilakukan untuk
membangun manusia Indonesia. Mencerdaskan kehidupan bangsa
tanpaknya satu-satunya pilihan. Data BPS (2007) menunjukkan sekitar
67% atau 140 juta penduduk masih berpendidikan SD ke bawah. Di
tengah revolusi teknologi dan pengetahuan, tidak ada jalan lain selain
membina dan memperlengkapi penduduk yang tertinggal dengan sarana
dan prasarana pengetahuan. Suatu contoh mengagumkan yang diberikan
Andrew Carnegie, konglomerat baja AS yang membangun lebih kurang
1.800 perpustakaan di seluruh AS. Juga, pendiri MacDonald yang
memberikan sumbangan sebesar 1.6 milyar dolar untuk pengembangan
pusat kemasyarakatan di AS. Karenanya, seorang pemimpin nasional
diharapkan mampu menggalang sumberdaya pemerintah dan swasta
untuk misalnya mendirikan dan mengembangkan pusat-pusat
pengetahuan dan pendidikan kemasyarakat di setiap ibukota kabupaten.
Hanya dengan memperlengkapi rakyat dengan pengetahuan, bangsa
Indonesia akan mampu mengikuti kemajuan peradaban manusia. Seorang
pemimpin nasional, tidak hanya mampu menjadi inspirator, juga sebagai
penggerak dalam membangun kesatuan nasional, baik melalui ide,
pikiran-pikiran dan pendekatan-pendekatan kebijakan yang inspiratif dan
yang semangatnya merangkul semua lapisan masyarakat dan golongan.
Karena pemimpin nasional merupakan seorang organisator.

3.1.4 Mewujudkan kemenangan nurani rakyat

Selama beberapa dekade, rakyat telah menyaksikan banyak


individu yang melakukan penyimpangan baik di bidang ekonomi, politik
dan hukum, tetapi hukum dikebiri sehingga tidak mampu menjangkau
individu-individu tersebut. Adalah tugas pemimpin nasional untuk
menyelenggarakan amanat konstitusi bahwa Republik Indonesia adalah
negara yang berlandaskan hukum dengan membangun dan menciptakan
hukum bagi semuanya tanpa pandang bulu. Disituasi tersebut seorang
pemimpin nasional harus mampu menjadi seorang leader.

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 12


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
3.2 Kepemimpinan Nasional Dan Birokrasi

Pemimpin nasional yang ideal, seperti yang telah disampaikan


sebelumnya, adalah pemimpin yang bertanggung jawab. Kunci menuju
keunggulan bersaing pada tahun 1990-an dan sesudahnya menurut
Bennis (1998) adalah kemampuan kepemimpinan dalam menciptakan
arsitektur sosial yang bisa menghasilkan modal intelektual. Modal
intelektual berarti gagasan, cara melakukan, inovasi, pengetahuan, dan
keahlian. Itulah apa yang akan membuat perbedaan. Melakukan
restrukturisasi dan rekayasa ulang hanya akan menghasilkan sesuatu
yang terbatas; kita tidak bisa melakukan restrukturisasi atau rekayasa
ulang atas perusahaan kita untuk memasuki kemakmuran. Itu
memerlukan gagasan dan penciptaan kembali. Penciptaan kembali
memerlukan otak, gagasan, dan pengetahuan. Kita tidak akan bisa
menarik atau mempertahankan angkatan kerja yang seperti itu dibawah
bentuk kepemimpinan komando dan pengawasan birokratis yang ada saat
ini.

Kepemimpinan birokrasi selama ini cenderung bersikap top-down


atau memerintah, dan mendahulukan pekerjaan administratif ketimbang
urusan sumberdaya manusia. Bersikap top-down dan mendahulukan
pekerjaan administratif, dipandang oleh Hans dan Finsel (2002) sebagai
suatu kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin. Bahkan, dalam
organisasi hirarkis tradisional seperti birokrasi, visi berasal dari puncak
atau visi selalu digaungkan dari “atas” atau datang dari proses
perencanaan yang sudah dilembagakan suatu organisasi (Sange, 1996).
Manajemen puncak menuliskan “pernyataan visi” mereka, seringkali
dengan bantuan konsultan. Orang-orang dalam organisasi tidak perlu
memahami visi, tetapi cukup tahu apa yang diharapkan dari mereka. Visi
seperti ini seringkali mengecewakan hasilnya, karena tidak dibangun
berdasarkan visi pribadi, atau visi pribadi seringkali diabaikan dalam visi

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 13


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
strategik. Pembangunan visi yang sesuai, yang diwujudkan dalam bentuk
kebijakan yang sesuai untuk masyarakat tersebut, haruslah terdapat andil
masyarakat umum (citizen) dalam pembuatannya. Untuk mewujudkan hal
tersebut maka perlu dilakukan sebuah reformasi dalam kinerja birokrasi
yang ada saat ini. Reformasi tersebut dapat dilakukan dengan melakukan
New Public Service.

3.3 New Public Service

New public service merupakan pola terbaru era ini dalam


mereformasi kinerja birokrasi. New public service adalah salah satu sistem
yang berusaha memperbaiki kinerja birokrasi dengan melibatkan
masyarakat secara aktif dalam memperbaiki kinerja birokrasi. Dalam
sistem new public service, ditawarkan sebuah perubahan yang sangat
signifikan dalam proses memformulasikan dan mengimplemantasikan
kebijakan pemerintah berkaitan dengan pelayanan terhadap publik. Jika
dalam sistem-sistem lain proses perumusan kebijakan hanya melibatkan
pemerintah dan swasta maka dalam new public service sebaliknya. Dalam
new public service dominasi pemerintah yang sangat besar dalam
penentuan sebuah kebijakan dilepaskan dan pemerintah mulai terbuka
terhadap partisipasi banyak individu, kelompok dan berbagai institusi yang
berada di luar pemerintah.

Kerangka new public service sendiri terdiri dari tiga komponen


utama (good governance) yakni negara (pemerintah), market (pasar) dan
masyarakat yang sering disebut sebagai citizen. Dalam kerangka ini,
ketiga komponen ini memainkan peran yang sama penting dalam
menentukan berbagai kebijakan. Suatu hal yang baru dalam hal ini adalah
keterlibatan masyarakat sebagai citizen, di mana masyarakat memainkan
peran yang penting sebagai pemberi mandat kepada pemerintah untuk
melaksanakan berbagai kebijakan publik (dengan diimbangi kewajiban
untuk membayar pajak). Dengan sebuah sistem demoratic governance,
new public service memantapkan dirinya untuk mereformasi birokrasi

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 14


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
dengan membuka ruang yang sebesar-besarnya terhadap partisipasi
masyarakat untuk terlibat dalam berbagai kebijakan publik.

Proses kebijakan yang terbuka dan partisipatif sendiri adalah salah


satu ciri penting dari tata pemerintahan (birokrasi) yang baik. Dengan
kebijakan yang membuka ruang bagi keterlibatan masyarakat, setiap
stakeholder akan dengan mudah memahami alasan sebuah tindakan
perlu dilakukan oleh pemerintah. Mereka juga dapat dengan mudah
mengetahui keinginan yang sebenarnya dari pemerintah ketika
pemerintah melaksanakan kebijakan tertentu. Sehingga dengan demikian
stakeholders dapat dengan mudah untuk mengambil sikap untuk
mendukung atau menolak kebijakan-kebijakan yang diambil dan dibuat
oleh pemerintah. Oleh karena itu proses kebijakan ini kemudian harus
didukung oleh berbagai hal berupa akuntabilitas, transparansi, keadilan,
responsifitas, kesamaan dan kepastian hukum. Karena kinerja birokrasi
akan menjadi baik ketika para aktor-aktor yang terlibat dalam pengambilan
dan pelaksanaan menggunakan kekuasaan yang berdasarkan prinsip-
prinsip tadi. Dalam konteks Indonesia, keterlibatan masyarakat untuk
memperbaiki kinerja dan kultur birokrasi Indonesia seperti yang
ditawarkan oleh new public service tentunya harus dilihat dalam kerangka
permasalahan utama yang menyebabkan rendahnya mutu kinerja
birokrasi. Dalam hal ini keterlibatan masyarakat tidak hanya dilihat
sebagai bagian dari keterlibatan dalam menentukan berbagai kebijakan.
Birokrasi lahir dan berkembang dalam sejarah manusia, karena itu
birokrasi senantiasa dibentuk, dijalankan dan diarahkan oleh manusia.
Bahkan walaupun hadir sebagai institusi yang objektif namun secara
mendasar pelaksanaan birokrasi tetap bersumber pada aktivitas
manusiawi dan tidak dapat terlepas dari tingkah polah manusia.

Masyarakat sebagai agen kebudayaan tentunya memiliki pengaruh


yang signifikan terhadap perubahan dalam kultur yang tercipta dalam
kehidupan birokrasi. Yang kemudian akan berkorelasi secara langsung
maupun tidak langsung dalam membentuk kultur-kultur positif dalam diri

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 15


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
birokrasi. Salah satu hal paling konkret berkaitan dengan hal ini dapat
dilihat dalam kultur kebudayaan jawa yang membentuk sebuah kultur
feodalisme dalam birokrasi di jawa dan Indonesia pada umumnya. Di
daerah jawa, terbentuk dari kelompok elite birokrasi berawal dari dipilihnya
para raja dan bangsawan untuk membantu Belanda mengatur kehidupan
masyarakat. Dengan kekuasaan yang dimiliki para raja serta bangsawan,
Belanda percaya bahwa masyarakat akan patuh terhadap apa yang
diperintahkan dan segala hal yang telah diatur oleh Belanda.

Akar pembentukkan birokrasi ini kemudian membawa konsekuensi


hubungan politik, sosial dan kultural di antara birokrat dan masyarakat.
Persepsi-persepsi budaya yang telah tercipta dalam masyarakat jawa,
menjadikan masyarakat jawa sangat menghormati para birokrat dan tidak
berani melawan serta menuntut pelayanan yang layak dari para birokrat.
Lalu di lain sisi, persepsi sosial tersebut menjadikan para birokrat
memposisikan diri lebih tinggi daripada masyarakat kebanyakan. Hal ini
dapat dilihat dalam mentalitas sebagian besar birokrat yang tidak
mencerminkan adanya budaya persamaan kedudukan diantara birokrasi
dan masyarakat yang harus dilayani. Karena itu implikasi yang sering
terjadi, tipe pelayanan yang terjadi sangat bercorak feodal, di mana
budaya melayani sangat jauh dari yang diharapkan karena para birokrat
masih melihat diri mereka sebagai bangsawan yang jauh dari masyarakat.
Selain itu, sering juga terjadi bahwa kultur-kultur negatif yang tercipta
dalam sistem kerja birokrasi punya kaitan erat dengan dengan cara
pandang masyarakat terhadap birokrasi dan bagaimana masyarakat
memperlakukan birokrasi. Di mana dalam hal ini, masyarakat secara
sadar maupun tidak sadar terlibat dalam menanam dan mempertahankan
kultur korupsi pada diri birokrat (selain karena budaya korupsi dan kolusi
yang telah tertanam sejak orde baru). Hal ini secara konkret dapat terjadi
ketika masyarakat meminta dan menuntut sebuah pelayanan dari
birokrasi. Tidak jarang yang terjadi bahwa masyarakat sering melihat
bahwa pelayanan birokrasi tidak lebih dari sebuah produk yang dapat

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 16


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
diperjualbelikan. Di mana untuk mendapatkan sebuah produk yang
maksimal dan lancar, masyarakat harus mengeluarkan sejumlah uang dan
menyogok sana sini agar tidak menghambat pekerjaan mereka.

Ironisnya hal ini justru membudaya dalam kinerja birokrasi. Karena


dalam kenyataan, masyarakat kadang tidak merasa keberatan saat harus
mengeluarkan biaya atau bayaran tambahan dalam menikmati pelayanan
publik. Sebagian masyarakat bahkan melihat bahwa pungutan liar ini
sebagai suatu hal yang biasa dan wajar. Maka bertolak dari hal ini,
terdapat sebuah indikasi yang jelas bahwa praktik korupsi sudah menjadi
budaya dalam birokrasi dan dapat diterima dalam kehidupan masyarakat.
Berangkat dari hal ini, dapat dikatakan bahwa secara mendasar cara
pandang masyarakat terhadap birokrasi punya implikasi yang erat dalam
membentuk kultur kinerja birokrasi. Ketika masyarakat tetap
mempertahankan cara pandangnya dan tetap memperlakukan birokrasi
sedemikian rupa maka sistem dan kinerja birokrasi tidak akan berubah.
Akibatnya sampai kapanpun bangsa ini tidak akan memiliki pemimpin
yang ideal.

Oleh karena itu, bertolak dari kedua hal sederhana di atas, dapat
dijelaskan bahwa budaya, kultur, cara pandang masyarakat terhadap
birokrasi serta prilaku masyarakat dalam memperlakukan birokrasi,
mempunyai implikasi yang besar terhadap kinerja birokrasi. Dan
perubahan dalam cara pandang masyarakat tentunya pula akan
mengubah kinerja birokrasi secara langsung maupun tidak langsung.
Namun sejauh manakah akses masyarakat untuk terlibat mengubah
kinerja dan kultur negatif yang telah lama tertanam dalam birokrasi adalah
suatu pertanyaan real yang perlu dijawab.

Munculnya sistem new public service dalam pergulatan birokrasi


Indonesia menuju pelayanan yang efektif dan efesien adalah salah satu
sistem yang menawarkan ruang bagi keaktifan dan partisipasi masyarakat
dalam mereformasi kinerja birokrasi. Akan tetapi dalam konteks Indonesia,

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 17


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
keterlibatan masyarakat seperti yang ditawarkan oleh new public service
harus dilihat dalam konsep interaksi dan keterlibatan masyarakat dalam
merubah kebudayaan dan pola pikir negatif yang telah membentuk kultur
negatif dalam kinerja birokrasi. Masyarakat sebagai agen dan pelaku nilai-
nilai kebudayaan dalam hal ini tentunya memiliki yang peran sangat
signifikan untuk turut serta merubah kultur serta kinerja buruk birokrasi
saat ini. Salah satu hal yang paling sederhana yang dapat dimulai oleh
masyarakat ialah dengan mengubah cara pandang (mindset) yang salah
mereka terhadap birokrasi. Salah satu hal yang sering diabaikan oleh
masyarakat ialah birokrasi jarang dilihat sebagai organisasi masyarakat
yang bertugas untuk melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat, di mana
pelayanan tersebut adalah hak yang harus mereka terima sebagai warga
negara. Sebaliknya yang sering terjadi ialah masyarakat memandang
pelayanan sebagai produk yang diperjualbelikan dan mengeluarkan biaya
tambahan adalah suatu hal yang lumrah dalam memperoleh sebuah
pelayanan yang berkualitas. Hal-hal sederhana inilah yang harus dirubah
masyarakat. Walaupun sederhana, inilah wujut keterlibatan paling nyata
yang dapat dilaksanakan dalam mereformasi kinerja birokrasi. Karena
walaupun bertolak dari hal yang paling sederhana, secara esensial hal ini
merupakan suatu hal yang sangat mendasar dalam memperbaiki kinerja
birokrasi. Dalam pelayanan publik, masyarakat adalah subyek dan obyek
dari pelayanan tersebut dan mengubah mindset masyarakat dalam
menuntut memperbaiki kinerja pelayanan publik adalah salah satu hal
paling utama.

Ketika masyarakat telah mencapai kepuasan atas kebijakan yang


diambil pemerintah, itu mengindikasikan bahwa pemimpin nasional telah
mampu menjalankan tanggung jawabnya. Dengan telah terjalankannya
tanggung jawab yang dimiliki seorang pemimpin nasional maka dia akan
menjadi seorang pemimpin yang ideal.

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 18


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.1.1 Kemimpin nasional yang ideal terjadi ketika telah


pemimpin telah mampu melakukan tanggung jawabnya yaitu
memberikan kemenangan moral atas kekuasaan, kejayaan
reformasi atas status quo, kegemilangan masa depan atas
masa lalu, serta kemenangan hati nurani rakyat atas
kekecewaan terhadap berbagai penyelewengan oleh
pemerintahan sebelumnya kepada masyarakat.

4.1.2 Kepemimpinan nasional yang ideal, tidak dapat


dilepaskan kaitannya dengan birokrasi pemerintahan.

4.1.3 New public service adalah salah satu sistem yang


berusaha memperbaiki kinerja birokrasi dengan melibatkan
masyarakat secara aktif dalam memperbaiki kinerja birokrasi

4.2 Saran

4.2.1 Pemerintah harus melakukan langkah nyata untuk


merealisasikan New Public Service yaitu dengan
memberikan transparansi dan penyampaian informasi
secara luas kepada semua masyarakat terutama pihak yang
berkepantingan.

4.2.2 Ketikan New Public Sevice telah direalisasikan


masyarakat harus berperan secara aktif terhadap peran
yang dimilikinya sehingga New Public Service dapat berjalan
sesuai yang diharapkan

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 19


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
4.2.3 Pemerintah harus dapat memberikan pendidikan
tentang politik kepada masyarakat serta memberi contoh
yang baik tentang kegiatan politik yang sehat.

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 20


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal
DAFTAR PUSTAKA

Adela, Fernanda Putra, Peran Serta Masyarakat Dalam Mereformasi


Kinerja Birokrasi Indonesia. Yogyakarta: UGM-Press, 2008.
CESDA-LP3ES, Laporan Survai Persepsi Publik Tentang Krisis Legitimasi
Kepemimpinan Nasional. Jakarta: CESDA-LP3ES, 2002
Denhardt, Janet V. dan Robert B. Dendhart. 2003. New Public Service.
New York & London: M. E. Sharpe.
Dwiyanto, Agus. dkk. 2002. Reformasi Birokrasi Publik Di Indonesia.
Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas
Gajah Mada.
Manan, Bagir. Lembaga Kepresidenan. Yogyakarta: Gama Media, 1999.
Said, M. Mas’ud. 2007. Birokrasi Di Negara Birokratis. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Santoso, Priyo Budi. 1993. Birokrasi Pemerintahan Orde Baru Perspektif
Kultural dan Struktural. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sutherland, Heather. 1983. Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi.
Jakarta: Sinar Harapan.
http://www.lp3es.or.id/program/polling4

http://ppsdms.org/evaluasi-kepemimpinan-nasional.htm

http://www.tokohindonesia.com/berita/berita/2002/berita-
05s0902/pembusukan.shtml

http://www.theindonesianinstitute.org/tpfeb2604.htm

http://fp3su.blogspot.com/2008_11_01_archive.html

http://qisai-indo.blogspot.com/2008/01/partai-politik-dan-kaderisasi-
pemimpin.html

http://adeimagination.blogspot.com/2008/07/membangun-kepemimpinan-
nasional-yang.html

http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi3/3berita_4.html

BSM | New Public Service: Alternatif Reformasi Sitem Birokrasi 21


Indonesia Guna Menciptakan Pemimpin Nasional Ideal