Anda di halaman 1dari 5

Asuhan Keperawatan Komunitas Sekolah

Pelajar Yogyakarta hamil di luar nikah


A. Pengkajian
Dimensi fisik:
-

Usia: rata-rata 10-18 tahun. Merupakan umur remaja usia sekolah.


Berdasarkan Dinas Kesehatan DIY sepanjang 2015,terdapat 976 remaja usia sekolah
hamil di luar nikah dan 1.078 remaja usia sekolah di Yogyakarta melakukan
persalinan. Angka kehamilan di luar nikah ini juga merata di lima kabupaten/kota di

Yogyakarta.
Rata-rata remaja yang meminta dispensasi menikah (karena dibawah umur ) berusia
14 tahun.

Dimensi psikologis:
-

Belum adanya materi mengenai pendidikan kesehatan reproduksi di jenjang SD

hingga SMA.
Orang tua kurang mengedukasi anak-anaknya tentang kesehatan reproduksi karena
masih menganggap tabu.

Dimensi sistem kesehatan:


-

Belum efektifnya Usaha Kesehatan Sekolah di Yogyakarta. Padahal menurut


Depdiknas tahun 2006, tiga program pokok UKS (trias UKS) antara lain pendidikan
kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat.

B. Analisis Masalah
No
1

Masalah
DO:
Kurang pengetahuan
-976 pelajar di Yogyakarta mengenai kesehatan
hamil di luar nikah
reproduksi
- 1.078 remaja usia sekolah di
Yogyakarta
melakukan
persalinan
- Umur rata-rata 10-18 tahun
DS:
-Tidak
adanya
materi
Kesehatan Reproduksi di
sekolah baik SD hingga SMA

Tindo Esa Sari


220110120044

Data

Penyebab
Kurangnya informasi
mengenai kesehatan
reproduksi bagi remaja

-Menurut
Koordinator
Penelitian dan Diseminasi
Data Perkumpulan Keluarga
Berencana
di
Indonesia
(PKBI),
DIY,
tingginya
tingkat kehamilan pelajar
dipengaruhi
kurangnya
informasi reproduksi bagi
remaja.
- Kurangnya inisiatif orang
tua mengedukasi anak-anak
tentang kesehatan reproduksi
DS:
Tidak berfungsinya UKS
-Menurut PKBI, pengenalan
Kespro kepada siswa sekolah
dapat
dijadikan
upaya
pencegahan
sejak
dini.
Namun baru Kulonprogo
yang memasukan materi
Kespro untuk siswa SD
hingga SMA
- Belum efektifnya Usaha
Kesehatan
Sekolah
di
Yogyakarta

Kurangnya pembinaan dan


pelatihan Usaha Kesehatan
Sekolah

C. Diagnosa Keperawatan
1. Kurang pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi berhubungan dengan kurangnya
informasi mengenai kesehatan reproduksi.
2. Tidak berfungsinya UKS berhubungan dengan kurangnya pembinaan dan pelatihan
mengenai UKS

Tindo Esa Sari


220110120044

Materi:
a. Kesehatan reproduksi remaja
Kesehatan reproduksi pada remaja adalah kondisi kesehatan pada remaja khususnya
menyangkut masalah kesehatan reproduksi manusia yang kesiapanya sudah dimulai sejak
masa remaja ditandai dengan haid pertama pada remaja perempuan dan mimpi basah untuk
laki-laki.
Masa remaja merupakan masa transisi yang unik dan ditandai oleh berbagai
perubahan fisik, emosi, psikis. Masa remaja, yaitu usia 10-19 tahun, merupakan masa yang
khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia, dan
sering disebut masa pubertas. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke
masa dewasa.
b. Alat reproduksi pada laki-laki dan perempuan
1. Alat reproduksi pada perempuan
a. Struktur eksterna (vulva), terdiri dari : mons pubis, labia mayora, labia minora, klitoris,
vestibulum (muara uretra, kelenjar parauretra, vagina, kelenjar paravagina), fourchette,
perineum.
b. Struktur interna, terdiri dari : ovarium, tuba uterus (fallopi) ; infundibulum, ampula,
istmus, interstisial, uterus ; fundus, korpus, istmus, serviks, vagina
2. Tanda berfungsinya alat reproduksi pada perempuan
a. Ditandai dengan datangnya haid pertama
b. Bila sudah terjadi menarche berarti sudah menghasilkan sel telur yang dapat dibuahi
oleh sperma melalui hubungan seksual
3. Alat reproduksi pad laki-laki
a. Struktur eksterna, terdiri dari :mons pubis, penis, skrotum
b. Struktur interna, terdiri dari : Testis, duktus/kanal testis (tubulus seminiferus, epididimis,
vas deferens, duktus ejakulatorius, uretra), kelenjar sal. reproduksi aksesoris.
4. Tanda berfungsinya alat reproduksi pada pria
a. Mimpi basah
b. Ereksi

Tindo Esa Sari


220110120044

c. Perubahan psikologis pada remaja


Proses perubahan psikologisberlangsung lebih lambat dibandingkan perubahan fisik,
yang meliputi :
1. Perubahan emosi, sehingga remaja menjadi :
a. Sensitive (mudah menangis, cemas, frustasi dan tertawa)
b. Agresif dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang berpengaruh, sehingga
misalnya mudah berkelahi.
2. Perkembangan intelegensia, sehingga remaja menjadi :
a. Mampu berpikir abstrak, senang memberikan kritik
b. Ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba.
Perilaku ingin mencoba hal-hal yang baru ini jika didorong oleh rangsangan seksual
dapat membawa remaja masuk pada hubungan seks pranikah dengan segala akibatnya, antara
lain akibat kematangan organ seks maka dapat terjadi kehamilan remaja puteri di luar nikah,
upaya abortus, dan penularan penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS.

d. Pengaruh seks pra nikah


Kematangan organ seks dapat berpengaruh buruk bila remaja tak mampu
mengendalikan ragsangan seksualnya, sehingga tergoda untuk melakukan hubungan seks
pranikah. Hal ini akan menimbulkan akibat yang dapat dirasakan bukan saja oleh pasangan,
khususnya remaja puteri, tetapi juga orang tua, keluarga, bahkan masyarakat.
Akibat hubungan seks pranikah :
a. Menambah risiko tertular penyakit menular seksual (PMS), seperti : gonore (GO),
sifilis, herpes simpleks (genitalis), clamidia, kondiloma akuminata, HIV/AIDS
b. Remaja puteri terancam kehamilan yang tidak diinginkan, pengguguran
kandungan yang tidak aman, infeksi organ-organ reproduksi, anemia, kemandulan
dan kematian karena perdarahan atau keracunan kehamilan
c. Trauma kejiwaan (depresi, rendah diri, rasa berdosa, hilang harapan masa depan)
d. Melahirkan bayi yang kurang atau tidak sehat
e. Masalah pendidikan, yang meliputi antara lain :
- Buta huruf, yang mengakibatkan remaja tidak mempunyai akses terhadap
informasi yang dibutuhkannya, serta mungkin kurang mampu mengambil
keputusan yang terbaik untuk kesehatan dirinya

Tindo Esa Sari


220110120044

- Pendidikan rendah dapat mengakibatkan remaja kurang mampu memenuhi


kebutuhan fisik dasar ketika berkeluarga, dan hal ini akan berpengaruh buruk
terhadap derajat kesehatan diri dan keluarganya

Diagnosa
Kurang
pengetahuan
mengenai
kesehatan
reproduksi
berhubungan
dengan
kurangnya
informasi
mengenai
kesehatan
reproduksi

Tindo Esa Sari


220110120044

Tujuan
Umum
Setelah dilakukan
pendidikan
kesehatan, klien
mampu
mengetahui
mengenai
kesehatan
reproduksi remaja

Khusus
Kriteria
Klien mengenal
Verbal
kesehatan reproduksi
remaja dengan
kriteria : setelah 1 x
pertemuan (30
menit).
a. Kesehatan
reproduksi remaja
b. Alat reproduksi
laki-laki dan
perempuan
c. Perubahan
psikologis pada
remaja
e. Pengaruh seks pra
nikah
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Evaluasi
Standar
Klien dapat menjelaskan
mengenai:
1. Pengertian kesehatan
reproduksi
pada
remaja
2. Alat reproduksi lakilaki dan perempuan
3. Perubahan-psikologis
pada remaja
4. Pengaruh seks pra
nikah