Seorang laki-laki berusia 45 tahun, datang ke RS dengan keluhan tidak bisa BAK
sejak 12 jam yang lalu. Setelah dilakukan anamnesa pasien pernah dirawat di RS karena
patah tulang dan terdapat riwayat pemakaian kateter. Pasien mengatakan keluhan dirasakan
sejak 2 bulan yang lalu tetapi semakin parah sekitar 1 minggu yang lalu. Pasien mengatakan
pancaran urin sewaktu miksi berkurang sejak 1 minggu yang lalu. Pasien datang ke RS
karena sejak 12 jam yang lalu mengatakan mempunyai perasaan ingin berkemih tetapi tidak
keluar urin. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan TD + 140/90 mmHg; HR= 98x/menit, RR
25x/menit, suhu 37,5 C. Pasien tampak gelisah, tampak berkeringat di daerah dahi, saat
dipalpasi teraba tegang dan keras di area suprapubik (area vesika urinaria), uji colok dubur
negative. Hasil lab: hematologi darah rutin: Hb: 14g/dl, Hematokrit: 42%, leukosit:
12.100/mm3, trombosit 224.000/mm3. Kimia klinik: ureum: 37 mg/dL, kreatinin: 0,8 mg/dl,
natrium: 125 mEq/l, imunologi; PSA: 2 nanogram/ml. Ketika akan dipasang kateter hanya
dapat masuk 2,5 cm. Pasien direncanakan untuk sitostomi. Dan dalam jangka waktu <7 hari
dilakukan businasi. Pasien tidak paham dengan prosedur tindakan, ketakutan dan cemas
menunggu tindakan dilakukan.
DEFINISI
Striktur Uretra adalah penyempitan atau pengerutan lumen uretra karena adanya
jaringan parut dan kontriksi. (Suharyanto, 2009)
Striktur uretra terjadi akibat berkurangnya diameter atau elastisitas saluran kencing,
dalam hal ini uretra, akibat terbentuknya jaringan parut (sikatriks) yang menyumbat saluran
kencing sehingga aliran kencing menjadi tidak lancar.
Striktur uretra adalah berkurangnya diameter atau elastisitas uretra yang disebabkan
oleh jaringan uretra diganti jaringan ikat yang kemudian mengerut menyebabkan jaringan
lumen uretra mengecil.
Striktur dapat terjadi pada semua bagian uretra, namun kejadian yang paling sering
pada orang dewasa adalah bagian pars bulbosa-membranasea, sementara pada pars prostatika
lebih sering mengenai anak-anak.
Jadi, dapat disimpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwa striktur uretra adalah
penyempitan atau berkurangnya diameter uretra yang disebabkan adanya jaringan parut dan
konstriksi. Hal ini menyebabkan obstruksi saluran kencing yang akhirnya membuat aliran
kencing menjadi tidak lancar.
ETIOLOGI
Obstruksi pada saluran kemih bawah dapat terjadi akibat faktor intrinsik, atau faktor
ekstrinsik. Faktor intrinsik berasal dari sistem saluran kemih dan bagian yang
mengelilinginya seperti pembesaran prostat jinak, tumor buli-buli, striktur uretra, phimosis,
paraphimosis, dan lainnya. Sedangkan faktor ekstrinsik, sumbatan berasal dari sistem organ
lain, contohnya jika terdapat massa di saluran cerna yang menekan leher buli-buli, sehingga
membuat retensi urine.
Penyebab striktur uretra umumnya adalah cedera ureteral, seperti:
- Insersi peralatan bedah selama operasi transurethral, pemasangan kateter atau
prosedur sistoskopi
- Straddle injury (trauma tumpul pada selangkangan)
- Trauma daerah panggul dan selangkangan
FAKTOR RESIKO
- Pria lebih beresiko daripada wanita karena perbedaan panjang uretra. Uretra pria
dewasa berkisar antara 23-25 cm, sedangkan uretra wanita sekitar 3-5 cm. Oleh
karena itu, ureter pria lebih rentan terkena infeksi ataupun trauma.
- Pernah terpapar penyakit menular seksual
- Berusia diatas 55 tahun (mukosa dalam uretra mulai kering)
- Ras orang Afrika
- Tinggal di daerah perkotaan
MANIFESTASI KLINIS
1.
Voiding symptom; yaitu gejala yang muncul sebagai akibat kegagalan buli untuk
mengeluarkan sebagian atau seluruh isi kandung kemih, antara lain: weakness of stream
(pancaran kencing melemah), abdominal straining (mengejan), hesitancy (menunggu saat
akan kencing, seringkali disertai dengan mengejan), intermittency (kencing terputus-putus),
disuria (nyeri saat kencing), incomplete emptying (kencing tidak tuntas), terminal dribble
( kencing menetes).
2. Retensi urin (penumpukan urine di kandung kemih dan tidak mempunyai kemampuan
untuk mengosongkannya secara sempurna). Akibat sumbatan dapat mengakibatkan aliran
kencing mencari jalan keluar lain dan terkumpul di rongga periuretra.
3. Kandung kemih teraba (dapat diperkusi)
4. Inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol waktu buang air kecil atau buang air
besar) (Smeltzer, 2002)
DERAJAT
Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra dibagi menjadi 3:
Ringan: Oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra
Sedang: Oklusi mencapai lumen uretra
Berat: Oklusi lebih dari diameter lumen uretra. Kadang kala pada keadaan striktura berat
teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
Penyebab striktur berdasarkan lokasi yang terkena:
Pars membranosa: Biasanya disebabkan oleh trauma pelvis atau kesalahan saat kateterisasi.
Pars bulbosa : Cedera pada selakangan, pasca uretritis
Pars bulbo membranosa: fiksasi kateter yang salah
Meatus uretra: pasca meatitis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemeriksaan pancaran urin menggunakan uroflowetri. Kecepatan pancaran normal
adalah 20 ml/detik. Jika kecepatan pancaran kurang dari 10 ml/detik menandakan
adanya obstruksi.
- Urianalisis : untuk mengetahui adanya infeksi
- Ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
- Pemeriksaan darah lengkap
- Pemeriksaan radiologi, diantaranya menggunakan:
Retrograde uretrogram dikombinasikan dengan Voiding Cystoutrogram:
Merupakan standar pemeriksaan untuk menegakan diagnosis. Radiografi ini
menentukan panjang dan lokasi dari striktur.
USG: mengevaluasi striktur pada pars bulbosa. Dengan alat ini kita juga bisa
mengevaluasi panjang striktur dan derajat luas jaringan parut, contohnya
spongiofibrosis.
Uretroskopi dan sistoskopi: penggunaan kamera fiberoptik masuk ke dalam
uretra sampai ke buli-buli. Dengan alat ini kita dapat melihat penyebab, letak,
dan karakter striktur secara langsung.
MRI: dapat mengukur secara pasti panjang striktur, derajat fibrosis, dan
pembesaran prostat.
- Instrumentasi
Percobaan dengan memasukkan kateter Foley ukuran 24 ch, apabila ada hambatan
dicoba dengan kateter dengan ukuran yang lebih kecil sampai dapat masuk ke bulibuli. Apabila dengan kateter ukuran kecil dapat masuk menandakan adanya
penyempitan lumen uretra
PENATALAKSANAAN
Pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada lokasi striktur, panjang/pendek
striktur, dan kedaruratannya.
1. Dilatasi
Dilatasi dilakukan dengan menggunakan balon kateter atau busi logam dimasukan
hatihati ke dalam uretra untuk membuka daerah yang menyempit. Jika striktur
menghambat pasase, ahli urologi menggunakan beberapa filiform bougies untuk
membuka jalan. Ketika salah satu bougie mampu mencapai kandung kemih, maka
dilakukan fiksasi, dan urin akan didrainase dari kandung kemih. Jalan yang sudah
terbuka tersebut kemudian didilatasi dengan memasukan alat pendilatasi yang
mengikuti filiform sebagai petunjuk. Setelah dilatasi, rendam duduk menggunakan air
panas dan analgesic non narkotik diberikan untuk mengendalikan nyeri. Medikasi
antimicrobial diresepkan untuk beberapa hari setelah dilatasi untuk mencegah infeksi.
2. Uretrotomi Interna
Dilakukan tindakan insisi pada jaringan radang untuk membuka striktur. Tujuan
uretrotomi interna adalah membuat jaringan epitel uretra yang tumbuh kembali di
tempat yang sbelumnya terdapat jaringan parut. Jika tejadi proses epitelisasi sebelum
kontraksi luka menyempitkan lumen, uretrotomi interna dikatakan berhasil. Namun
jika kontraksi luka lebih dulu terjadi dari epitelisasi jaringan, maka striktur akan
muncul kembali.
3. Pemasangan stent
Stent adalah benda kecil, elastis yang dimasukan pada daerah striktur. Stent biasanya
dipasang setelah dilatasi atau uretrotomi interna.
4. Uretroplasti
Pengobatan dini striktur uretra dapat menghindari komplikasi seperti infeksi dan gagal
ginjal
KOMPLIKASI
1. Trabekulasi, sakulasi dan divertikel
Pada striktur uretra otot buli-buli mula-mula akan menebal terjadi trabekulasi pada
fase kompensasi, setelah itu pada fase dekompensasi timbul sakulasi dan divertikel.
Perbedaan antara sakulasi dan divertikel adalah penonjolan mukosa buli pada sakulasi
masih di dalam otot buli sedangkan divertikel menonjol di luar buli-buli, jadi
divertikel buli-buli adalah tonjolan mukosa keluar buli-buli tanpa dinding otot.
2. Residu urine
Pada fase kompensasi dimana otot buli-buli berkontraksi makin kuat tidak timbul
residu. Pada fase dekompensasi maka akan timbul residu. Residu adalah keadaan
dimana setelah kencing masih ada urine dalam kandung kencing. Dalam keadaan
normal residu ini tidak ada.
3. Refluks vesiko ureteral
Dalam keadaan normal pada waktu buang air kecil urine dikeluarkan buli-buli melalui
uretra. Pada striktur uretra dimana terdapat tekanan intravesika yang meninggi maka
akan terjadi refluks, yaitu keadaan dimana urine dari buli-buli akan masuk kembali ke
ureter bahkan sampai ginjal.
4. Infeksi saluran kemih dan gagal ginjal
Dalam keadaan normal, buli-buli dalam keadaan steril. Salah satu cara tubuh
mempertahankan buli-buli dalam keadaan steril adalah dengan jalan setiap saat
mengosongkan buli-buli waktu buang air kecil. Dalam keadaan dekompensasi maka
akan timbul residu, akibatnya maka buli-buli mudah terkena infeksi. Adanya kuman
yang berkembang biak di buli-buli dan timbul refluks, maka akan timbul pyelonefritis
akut maupun kronik yang akhirnya timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya.
5. Infiltrat urine, abses dan fistulasi
Adanya sumbatan pada uretra, tekanan intravesika yang meninggi maka bisa timbul
inhibisi urine keluar buli-buli atau uretra proksimal dari striktur. Urine yang terinfeksi
keluar dari buli-buli atau uretra menyebabkan timbulnya infiltrat urine, kalau tidak
diobati infiltrat urine akan timbul abses, abses pecah timbul fistula di supra pubis atau
uretra proksimal dari striktur.
PROGNOSIS
Striktur uretra kerap kali kambuh, sehingga pasien harus sering menjalani
pemeriksaan yang teratur oleh dokter. Penyakit ini dikatakan sembuh jika setelah dilakukan
observasi selama satu tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kekambuhan.2
Setiap kontrol dilakukan pemeriksaan pancaran urine yang langsung dilihat oleh
dokter atau menggunakan rekaman uroflowmetri. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan
tiap control adalah sebagai berikut.
1. Dilatasi berkala dengan menggunakan busi
2. CIC (clean intermitten catheterization) atau kateterisasi bersih mandiri berkala yaitu pasien
dianjurkan untuk melakukan kateterisasi secara periodik pada waktu tertentu dengan kateter
yang bersih( tidak perlu steril) guna mencegah kekambuhan striktura.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Data Subjektif :
a. Identitas pasien :
1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Status
5) Pendidikan
6) Agama
7) Pekerjaan
8) No Med. Rec
9) Diagnosa Medis
10) Alamat
11) Tanggal Masuk : -
: Tn.
: 45 tahun
: Laki-laki
:::::: Striktur Uretra
:-
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Klien mengeluh ingin berkemih namun tidak bisa dikeluarkan sejak 12 jam lalu.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengeluh ingin berkemih namun tidak bisa dikeluarkan sejak 12 jam lalu.
Keluhan dirasakan sejak 2 bulan yang lalu dan semakin parah sejak 1 minggu
yang lalu. Pancaran urin berkurang sejak 1 minggu yang lalu.
3) Riwayat kesehatan dahulu
Klien pernah mengalami patah tulang dan ada riwayat pemakaian kateter.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Tidak Terkaji
c. Data Biologis
1) Pola Kehidupan Sehari-hari
a) Nutrisi (Tidak Terkaji)
b) Cairan dan elektrolit (Tidak Terkaji)
c) Eliminasi (Tidak Terkaji)
d) Istirahatdan Tidur (Tidak Terkaji)
e) Personal Hygiene (Tidak Terkaji)
2) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan Umum
Kesadaran : Compos mentis, namun tampak gelisah
b) Vital sign
TD
: 140/90 mmHg
Nadi
: 98 x/ menit
Suhu
: 37,50 C
RR
: 25 x/ menit
c) Pemeriksaan menyeluruh
(1) Kepala dan Leher
(a) Inspeksi
: terlihat berkeringat
(b) Palpasi
: keringat di dahi
(2) Dada (Tidak Terkaji)
(3) Abdomen
(a) Palpasi
: teraba tegang dan keras di area suprapubik (vesika
urinaria)
(4) Genitalia
(a) Palpasi
: uji colok dubur (-)
(5) Eksteremitas (Tidak Terkaji)
d. Data Psikologis
Pasien mengaku tidak paham dengan prosedur tindakan, sehingga merasa ketakutan
dan cemas menunggu tidakan dilakukan.
e. Data Sosial, Budaya dan Spiritual (Tidak Terkaji)
f. Data Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
(a) Hematologi : Uji darah rutin
(1) Hb
: 14 g/dL (Nilai normal : 13-18 g/dL)
(2) Hematokrit
: 42% (Nilai normal : 40-50 %)
(3) Leukosit
: 12.100 /mm3 (Nilai normal : 3.200 10.000/mm3)
(4) Trombosit
: 224.000 /mm3 (Nilai normal : 150.000 - 450.000l)
(b) Kimia Klinik
(1) Ureum
: 37 mg/dL (Nilai normal : 15-40 mg/dL)
(2) Kreatinin
: 0,8 mg/dL (Nilai normal : 0,6 1,30 mg/dL)
(3) Natrium
: 125 mEq (135 153 mEq)
(c) Imunologi
(1) PSA
(2)
2. Analisa Data
No
1
Data
Etiologi
Riwayat pemasangan kateter
DO :
- Pancaran urin saat miksi
berkurang
- Saat
Masalah Keperawatan
Gangguan pola eliminasi
Cedera uretral
dipasang
kateter
Proses radang
DS :
Klien mengatakan
mempunyai perasaan
ingin berkemih tetapi
tidak keluar urin.
Sulit berkemih
DS : Klien mengaku
tidak
paham
dengan
prosedur
tindakan,
sehingga
merasa
businasi
cemas
tidakan
ketakutan
menunggu
dan
dilakukan.
DO : terlihat cemas
Kurang pengetahuan
Kurang pengetahuan
Diagnosa Keperawatan
1. Retensi Urin berhubungan dengan
Intervensi:
- Kolaborasi dengan dokter untuk melakukan sitostomi untuk mengeluarkan urine dari
vesika urinaria