Anda di halaman 1dari 17

PEMBAHASAN

Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari


kelenjar, dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan infiltrasi limfosit
pada endometrium. Pertumbuhan ini dapat mengenai sebagian atau seluruh
lapisan endometrium. Angka kejadian hiperplasia endometrium ini sangat
bervariasi. Umumnya hiperplasia endometrium dikaitkan dengan perdarahan
uterus disfungsi yang seringkali terjadi pada masa perimenopause, walaupun
dapat terjadi pada masa reproduktif, pascamenars ataupun pascamenopause.
Hiperplasia endometrium merupakan prekursor terjadinya kanker
endometrium yang terkait dengan stimulasi estrogen yang tidak terlawan
(unopposed estrogen) pada endometrium uterus. Stimulasi estrogen yang
tidak terlawan dari siklus anovulatory dan penggunaan dari bahan eksogen
pada wanita postmenopause menunjukkan peningkatan kasus

hiperplasia

endometrium dan karsinoma endometrium. Kelainan ini biasanya muncul


dengan perdarahan uterus abnormal. Resiko terjadinya progresifitas sangat
terkait dengan ada atau tidak adanya sel atipik.
The American Cancer Society (ACS) memperkirakan ada 40.100
kasus baru dari kanker rahim yang didiagnosis pada tahun 2003, dimana 95 %
berasal dari endometrium. Sistem klasifikasi dari hiperplasia endometrium
sudah dibuat berdasarkan kompleksitas dari kalenjar endometrium dan sel-sel
atipik pada pemeriksaan sitologi. Hiperplasia atipikal sangat terkait dengan
progresifitas menjadi karsinoma endometrium. Progresifitas dari hiperplasia
endometrium, menjadi kondisi patologis yang lebih agresif sangat terkait
dengan diagnosis awal pada endometrium.3
Hiperplasia sederhana (simple hyperplasia) lebih sering mengalami
regresi jika sumber estrogen eksogen dihilangkan. Bagaimanapun, hiperplasia
atipikal seringkali berkembang menjadi adenokarsinoma kecuali diintervensi
dengan terapi medis. Terapi dengan penggantian hormon sedang dalam
penelitian untuk menentukan dosis dan tipe dari progestin untuk melawan efek
stimulasi berlebihan estrogen pada endometrium. Hiperplasia endometrium

biasanya didiagnosis dengan biopsy endometrium atau kuretase endometrium


setelah seorang wanita menemui dokter kandungan dengan perdarahan uterus
abnormal.
Modalitas terapi tergantung dengan usia pasien, keinginan untuk
memiliki anak, dan keberadaan dari sel atipik pada bahan endometrium.
Progestin

telah

sukses

digunakan

pada

wanita

dengan

hiperplasia

endometrium yang memilih untuk tidak dilakukan pembedahan.


1.1 Definisi
Hiperplasia

endometrium

adalah

kondisi

abnormal

berupa

pertumbuhan berlebih (overgrowth) pada endometrium (Ronald S. Gibbs MD,


2008). Hiperplasia endometrium mewakili rangkaian kesatuan histopatologi
yang sulit dibedakan dengan karakteristik standar. Lesi ini berkisar antara
endometrium anovulasi sampai pre kanker monoklonal (John O. Schorge,
2008). Hiperplasia endometrium diketahui sebagai prekursor langsung dari
penyakit

invasif.

Kebanyakan

kanker

endometrium

timbul

setelah

perkembangan histologis lesi hiperplastik dibedakan.

A Anatomi dan Fisiologi Endometrium


Uterus adalah organ muscular yang berbentuk buah pir yang terletak
di dalam pelvis dengan kandung kemih di anterior dan rectum di posterior.
Uterus biasanya terbagi menjadi korpus dan serviks. Korpus dilapisi oleh
endometrium dengan ketebalan bervariasi sesuai usia dan tahap siklus

menstruasi. Endometrium tersusun oleh kelenjar-kelenjar endometrium dan


sel-sel stroma mesenkim, yang keduanya sangat sensitive terhadap kerja
hormone seks wanita. Hormon yang ada di tubuh wanita yaitu estrogen dan
progesteron mengatur perubahan endometrium, dimana estrogen merangsang
pertumbuhan dan progesterone mempertahankannya.

Pada ostium uteri internum, endometrium bersambungan dengan


kanalis endoserviks, menjadi epitel skuamosa berlapis Endometrium adalah
lapisan terdalam pada rahim dan tempat menempelnya ovum yang telah
dibuahi. Di dalam lapisan Endometrium terdapat pembuluh darah yang
berguna untuk menyalurkan zat makanan ke lapisan ini. Saat ovum yang telah
dibuahi (yang biasa disebut fertilisasi) menempel di lapisan endometrium
(implantasi), maka ovum akan terhubung dengan badan induk dengan plasenta
yang berhubung dengan tali pusat pada bayi.
Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka
mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan,agar hasil konsepsi bisa
tertanam.Pada

suatu

fase

dimana ovum

tidak

dibuahi

oleh sperma, maka korpus luteum akan berhenti memproduksi hormon


progesteron dan berubah menjadi korpus albikan yang menghasilkan sedikit
hormon diikuti meluruhnya lapisan endometrium yang telah menebal, karena
hormon estrogen dan progesteron telah berhenti diproduksi. Pada fase ini,
biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding rahim.
1. Siklus endometrium normal

Pada masa reproduksi dan dalam keadaan tidak hamil, epitel mukosa
pada endometrium mengalami siklus perubahan yang berkaitan dengan
aktivitas ovarium. Perubahan ini dapat dibagi menjadi 4 fase endometrium,
yakni
a Fase Menstruasi (Deskuamasi) Fase ini berlangsung 3-4 hari. Pada fase
ini terjadi pelepasan endometrium dari dinding uterus yakni sel-sel
epitel dan stroma yang mengalami disintergrasi dan otolisis dengan
stratum basale yang masih utuh disertai darah dari vena dan arteri yang
mengalami aglutinasi dan hemolisis serta sekret dari uterus, serviks dan
b

kalenjar-kalenjar vulva.
Fase Pasca Haid (Regenerasi) Fase ini berlangsung 4 hari (hari 1-4
siklus haid). Terjadi regenerasi epitel mengganti sel epitel endometrium
yang luruh. Regenerasi ini membuat lapisan endometrium setebal 0,5

mm.
Fase Intermenstrum (Proliferasi) Pada fase ini endometrium menebal
hingga 3,5 mm. berlangsung selama 10 hari (hari ke 5-14 siklus
haid)
1 Fase proliferasi dini (early proliferation phase) Fase ini berlangsung
selama 3 hari (hari ke 5-7). Pada fase ini terdapat regenerasi
kelenjar dari mulut kelenjar dengan epitel permukaan yang tipis.
Bentuk kelenjar khas fase proliferasi yakni lurus, pendek dan sempit
2

dan mengalami mitosis.


Fase proliferasi madya (midproliferation phase) Fase ini berlangsung
selama 3 hari (hari ke 8-10). Fase ini merupakan bentuk transisi
dan dapat dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak dan
tinggi. Kelenjar berlekuk-lekuk dan bervariasi. Sejumlah stroma
mengalami edema. Tampak banyak mitosis dengan inti berbentuk

telanjang (nake nucleus).


Fase proliferasi akhir (late proliferation phase) Fase ini berlangsung
selama 4 hari. Fase ini dapat dikenali dari permukaan kelenjar
yang tidak rata dengan banyak mitosis. Inti epitel kelenjar

membentuk pseudostratifikasi. Stroma semakin tumbuh aktif dan


d

padat.
Fase Pra Haid (Sekresi) Fase ini berlangsung sejak hari setelah ovulasi
yakni hari ke 14 sampai hari ke 28. Pada fase ini ketebalan
endometrium masih sama, namun yang berbeda adalah bentuk
kelenjar yang berubah menjadi berlekuk-lekuk,

panjang dan

mengeluarkan getah yang semakin nyata. Dalam endometrium telah


tersimpan glikogen dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan
untuk telur yang dibuahi. Memang, tujuan perubahan ini adalah untuk
mempersiapkan endometrium untuk menerima telur yang dibuahi.
Fase ini terbagi menjadi dua, yakni
Fase sekresi dini, dalam fase ini endometrium lebih tipis dari

sebelumnya karena kehilangan cairan. Pada saat ini, endometrium


dapat dibedakan menjadi beberapa lapisan yakni
a Stratum basale yakni lapisan endometrium bagian dalam yang
berbatasan dengan miometrium. Lapisan ini tidak aktif, kecuali
b

mitosis pada kelenjar


Stratum spongiosum, yaitu lapisan tengah berbentuk anyaman
seperti spons. Ini disebabkan oleh banyaknya kelenjar yang

melebar, berkelok-kelok dan hanya sedikit stroma di antaranya


Stratum kompaktum, yaitu lapisan atas yang padat. Saluransaluran kelenjar sempit, lumennya berisi sekret dan stromanya

edema
Sekresi lanjut endometrium pada fase ini tebalnya 5-6 mm. dalam
fase ini terdapat peningkatan dari fase sekresi dini, dengan
endometrium sangat banyak mengandung pembuluh darah yang
berkelok-kelok dan kaya akan glikogen. Fase ini sangat ideal untuk
nutrisi dan perkembangan ovum. Sitoplasma sel-sel stroma
bertambah. Sel stroma ini akan berubah menjadi sel desidua jika
terjadi pembuahan.

1.2 Etiologi

Hiperplasia endometrium adalah hasil dari stimulasi estrogen secara


kontinyu tanpa dihambat oleh progesteron. Sumber estrogen dapat berasal dari
endogen maupun eksogen. Estrogen endogen dapat menyebabkan anovulasi
kronik yang berhubungan dengan polycystic ovary syndrome (PCOS) atau
perimenopause. Obesitas juga tidak menghambat paparan estrogen berkaitan
dengan kadar estradiol yang tinggi secara kronis, hasil dari aromatisasi
androgen dalam jaringan lemak dan konversi androstenedione ke estrone.
Hiperplasia endometrium dan kanker endometrium juga dapat berasal dari
tumor ovarium yang mensekresikan estradiol seperti tumor sel granulosa.
Eksogen estrogen tanpa progesteron juga berhubungan dengan
peningkatan resiko hiperplasia endometrium dan adenocarcinoma. Tamoxifen
dengan efek estrogeniknya pada endometrium, meningkatan resiko hiperplasia
endometrium dan kanker endometrium. resiko progresi ke arah kanker
berhubungan dengan peningkatan durasi pemakaian. Mekanisme pasti
bagaimana peran estrogen dalam transformasi dari endometrium normal ke
hiperplasia dan kanker tidak diketahui. Perubahan genetik diketahui
berhubungan dengan hiperplasia dan tipe I kanker endometrium. Lesi dengan
hiperplasia berhubungan dengan instabilitas mikrosatelit dan defek pada gen
DNA perbaikan. Mutasi PTEN tumor suppressor gene juga ditemukan pada
55% kasus hiperplasia dan 83% kasus hiperplasia yang berprogresi ke arah
kanker endometrium. (Jing Wang Chiang & Warner K Huh, 2013)
1.3 Klasifikasi
Sistem klasifikasi untuk hiperplasia endometrium dikembangkan
berdasarkan karakteristik histologi dan potensi onkogenik. Klasifikasi
Hiperplasia endometrium berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
Tahun 1994 berdasarkan pada kedua kompleksitas arsitektur kelenjar dan
adanya nukleus atypia. terdiri dari empat kategori: hiperplasia simpel,

hiperplasia kompleks, hiperplasia simpel dengan atipia, hiperplasia kompleks


dengan atypia.
Asosiasi

sitologi

atypia

dengan

peningkatan

risiko

kanker

endometrium sudah dikenal sejak 1.985, Klasifikasi Intraepithelial Neoplasia


Endometrium (EIN) adalah sistem alternatif nonmenklatur yang diusulkan di
tahun 2003, tujuannya adalah untuk meningkatkan prediksi hasil klinis ,
meningkatkan inter-observer reproduktifitas dan mengurangi bias subjektif
yang melekat pada klasifikasi WHO 1994. Skema EIN diagnostik terdiri dari
tiga kategori, Benign (hiperplasia endometrium), premalignant (diagnosis EIN
berdasarkan lima kriteria subjektif histologis) dan malignant (kanker
endometrium), tetapi klasifikasi ini tidak banyak digunakan di Inggris.
Berdasarkan Revisi terbaru Tahun 2014 klasifikasi WHO. Hiperplasia
endometrium dibedakan menjadi dua kelompok didasarkan pada ada atau
tidak adanya sitologi atypia , yaitu hiperplasia tanpa atypia dan hiperplasia
atipikal ; kompleksitas arsitektur tidak lagi merupakan bagian dari klasifikasi .
Diagnosis dari EIN dalam klasifikasi WHO baru dianggap digantikan dengan
hiperplasia atipikal .Tujuan pembaruan klasifikasi hiperplasia endometrium
berdasarkan WHO 2014

menjadi dasar rekomendasi meskipun WHO

Nomenklatur mengkategorikan morfologi hiperplasia yang sederhana atau


kompleks.
Hiperplasia endometrium terbagi menjadi 3 jenis berdasarkan
morfologi pada pemeriksaan patologi anatomi, yakni :
1 Hiperplasia non-atipikal sederhana, disebut sebagai hiperplasia kistik atau
ringan. Terdapat proliferasi jinak dari kalenjar endometrium yang
berbentuk ireguler dan juga berdilatasi tetapi tidak menggambarkan
2

adanya tumpukan sel yang saling tumpang tindih atau sel yang atipik.
Hiperplasia atipikal kompleks (neoplasia intraepitelial endometrium,
terdapat proliferasi dari kalenjar endometrium dengan tepi yang ireguler,
arsitektur yang kompleks dan sel yang tumpang tindih tetapi tidak terdapat
sel yang atipik. Terjadi peningkatan jumlah dan ukuran endometrium
sehingga kelenjar menjadi berdesak-desakan, membesar dan berbentuk

irreguler. Bentuk irreguler ini adalah manifestasi utama meninkatnya


stratifikasi sel dan pembesaran nukleus serta mungkin meperlihatkan
kompleksitas epitel permukaan yang permukaannya menjadi berlekuklekuk atau bertumpuk-tumpuk. Gambaran mitotik sering ditemukan, pada
bentuk yang paling parah, atipia sitologik dan arsitekturnya dapat sangat
mirip dengan adenokarsinoma, dan untuk membedakan hiperplasia
3

atipikal dengan kanker secara pasti harus dilakukan histerektomi.


Atipikal : Terdapat derajat yang berbeda dari nukleus yang atipik dan
kehilangan polaritassnya

1.4 Faktor Risiko


Faktor resiko Hiperplasia endometrium sama seperti pada kasus
kanker endometrium, yang paling penting diantaranya adalah peningkatan
Body Mass Index (BMI) dan nulipara. Faktor resiko yang lain yaitu anovulasi
yang bersifat kronik, late onset of menopouse dan diabetes. Secara teoritis
kebanyakan dari kondisi tersebut dihubungkan dengan peningkatan sirkulasi
estrogen yang relatif dari progesteron. Dukungan yang lebih kuat
dihubungakan dengan unopposed terapi estrogen dalam perkembangan
hiperplasia endometrium dan karsinoma endometrium. Beberapa faktor resiko
dari Hiperplasia endomtrium adalah sebagai berikut:
1
2
3
4
5
6
7

Obesitas
Chonik anovulatin dan PCOS
Nulipara dan infertil
Terapi estrogen
Selektif Estrogen-Receptor Modulator (SERMs)
Hereditary Nonpolyposis Colorectal Cancer (HNPCC)
Diabetes

Hiperplasia endometrium paling sering didiagnosa pada wanita post


menopause tetapi wanita dengan umur berapapun dapat menjadi faktor resiko
bila terpapar estrogen yang tidak terhambat. Hiperplasia endometrium sering
pada wanita muda dengan anovulasi kronik karena PCOS atau obesitas.

1.5 Patogenesis
Siklus menstruasi normal ditandai dengan meningkatnya ekspresi dari
onkogen bcl-2 sepanjang fase proliferasi. Bcl-2 merupakan onkogen yang
terletak pada kromosom 18 yang pertama kali dikenali pada limfoma folikuler,
tetapi telah dilaporkan juga terdapat pada neoplasma lainnya. Apoptosis
seluler secara parsial dihambat oleh ekspresi gen bcl-2 yang menyebabkan sel
bertahan lebih lama. Ekspresi dari gen bcl-2 tampaknya sebagian diregulasi
oleh faktor hormonal dan ekspresinya menurun dengan signifikan pada fase
sekresi siklus menstruasi.
Kemunduran ekspresi dari gen bcl-2 berkorelasi dengan gambaran sel
apoptosis pada endometrium yang dilihat dengan mikroskop elektron selama
fase sekresi siklus menstruasi. Identifikasi dari gen bcl-2 pada proliferasi
normal endometrium sedang dalam penelitian tentang bagaimana perannya
dalam terjadinya hiperplasia endometrium. Ekpresi gen bcl-2 meningkat pada
hiperplasia endometrium tetapi terbatas hanya pada tipe simpleks. Secara
mengejutkan, ekspresi gen ini justru menurun pada hiperplasia atipikal dan
karsinoma endometrium.
Peran dari gen Fas/Fas L juga telah diteliti akhit-akhir ini tentang
kaitannya denga pembentukan hiperplasia endometrium. Fas merupakan anggota dari
keluarga tumor necrosis factor (TNF)/ Nerve Growth Factor (NGF) yang

berikatan dengan Fas L (Fas Ligand ) dan menginisisasi apoptosis. Ekpresi


gen Fas dan Fas L meningkat pada sampel endometrium setelah terapi
progesteron. Interaksi antara ekspresi Fas dan bcl-2 dapat dari hiperplasia

endometrium. Ekspresi gen bcl-2 menurun saat terdapat progesteron


intrauterin sedangkan ekspresi gen Fas justru meningkat.
Studi diatas telah memberikan tambahan wawasan tentang perubahan
molekuler yang kemudian berkembang secara klinis menjadi hiperplasia
endometrium. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengklarifikasi peran

bcl 2 dan Fas/FasL pada patogenesis molekular terbentuknya hiperplasia


endometrium dan karsinoma endometrium.
Hiperplasia endometrium ini diakibatkan oleh hiperestrinisme atau
adanya

stimulasi

unoppesd

estrogen

(estrogen

tanpa

pendamping

progesteron / estrogen tanpa hambatan). Kadar estrogen yang tinggi ini


menghambat produksi Gonadotrpin

(feedback mechanism). Akibatnya

rangsangan terhadap pertumbuhan folikel berkurang, kemudian terjadi regresi


dan diikuti perdarahan.
Pada wanita perimenopause sering terjadi siklus yang anovulatoar
sehingga terjadi penurunan produksi progesteron oleh korpus luteum sehingga
estrogen tidak diimbangi oleh progesteron. Akibat dari keadaan ini adalah
terjadinya stimulasi hormon estrogen terhadap kelenjar maupun stroma
endometrium tanpa ada hambatan dari progesteron yang menyebabkan
proliferasi berlebih dan terjadinya hiperplasia pada endometrium. Juga terjadi
pada wanita usia menopause dimana sering kali mendapatkan terapi hormon
penganti yaitu progesteron dan estrogen, maupun estrogen saja. Estrogen
tanpa pendamping progesterone (unopposed estrogen) akan menyebabkan
penebalan endometrium. Peningkatan estrogen juga dipicu oleh adanya kista
ovarium serta pada wanita dengan berat badan berlebih.
1.6 Manifestasi Klinis
Perdarahan uterus abnormal merupakan gejala yang paling sering
muncul pada hiperplasia endometrium. Efek estrogen yang tidak terlawan dari
penggunaan eksogen atau siklus anovulatori menghasilkan hiperplasia
endometrium dengan perdarahan yang banyak. Pasien yang lebih muda pada
usia produktif biasanya muncul hiperplasia endometrium sekunder akibat
Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS). PCOS menghasilkan stimulasi
estrogen yaang tidak terlawan secara sekunder ke siklus anovulatori.
Pada pasien yang lebih muda dapat juga terdapat peningkatan estrogen
secara sekunder dari konversi perifer dari androstenedione pada jaringan

adiposa (pasien yang obesitas) atau tumor ovarium yang mensekresikan


estrogen (pada granulosa cell tumors dan ovarian thecomas). Konversi perifer
dari androgen menjadi estrogen pada tumor yang mensekresikan androgen
pada cortex adrenalis merupakan etiologi yang jarang dari hiperplasia
endometrium. Pada pasien menopause dengan hiperplasia endometrium
hampir selalu datang dengan perdarahan pervaginam.
Meskipun karsinoma harus dipertimbangkan pada usia ini, atropi
endometrium merupakan penyebab yang sering dari perdarahan pada wanita
menopause. Dalam penelitian dengan 226 wanita dengan perdarahan post
menopause, 7 % ditemukan dengan karsinoma, 56 % dengan atrofi dan 15 %
dengan beberapa bentuk hiperplasia. Hiperplasia dan karsinoma secara khusus
memiliki gejala perdarahan pervaginam yang berat sedangkan pasien dengan
atrofi biasanya hanya muncul bercak-bercak perdarahan. Pap Smear yang
spesifik menemukan peningkatan kemungkinan deteksi kelainan pada
endometrium. Resiko dari karsinoma endometrium pada wanita post
menopause dengan perdarahan uterus abnormal meningkat 3-4 lipat saat Pap
Smear menunjukkan histiosit yang mengandung sel inflamasi akut yang
difagosit atau sel endometrium yang normal. Biarpun begitu, penemuan yang
tidak sengaja dari histiosit pada wanita postmenopause tanpa gejala
tidak memiliki kaitan dengan peningkatan resiko hiperplasia endometrium
ataupun karsinoma endometrium.9,10
Usia memiliki efek yang signifikan untuk menindak lanjuti kelainan
pada AGC pap smear. Pada studi retrospektif pada 281 wanita dengan AGC
papsmear, 90 wanita (32%) memiliki kelainan signifikan yang membutuhkan
intervensi. Pada pasien dengan usia < 50 tahun, hanya 7 pasien (5%) memiliki
lesi non skuamosa sedangkan 19 pasien (15%) yang berusia > 50 tahun
memiliki lesi non skuamosa. Pasien diatas 50 tahun dengan AGC pap smear
memiliki kemungkinan 13 kali lipat menderita kanker rahim dibandingkan
wanita yang berusia kurang dari 50 tahun.
1.7 Diagnosis

Perdarahan uterus abnormal merupakan gejala yang paling sering


dikeluhkan oleh wanita dengan hiperplasia endometrium. Wanita dengan
perdarahan

postmenopause,

15%

persen

ditemukan

hiperplasia

endometriumdan 10% ditemukan karsinoma endometrium. Penemuan


penebalan dinding uterus secara tidak sengaja dengan USG harus diperiksa
lebih lanjut untuk mendiagnosis hiperplasia endometrium. Pada sebuah
penelitian dengan 460 wanita usia 40 tahun dengan perdarahan uterus
abnormal, didapatkan hanya 6 wanita (1,3%) yang mengalami hiperplasia
endometrium. Tidak ada kasus hipeplasia atipikal yang ditemukan pada
kelompok wanita ini. Walaupun begitu, wanita dibawah usia 40 tahun yang
memiliki faktor predisposisi seperti obesitas dan PCOS harus dievaluasi
secara menyeluruh, biasanya dengan USG dan terkadang dengan biopsi
endometrium.
Pada penelitian 36 wanita dengan PCOS, ketebalan endometrium
kurang dari 7 mm dan interval antar menstruasi kurang dari 3 bulan hanya
terkait dengan proliferasi endometrium dan tidak ditemukan adanya
hiperplasia endometrium. Banyak modalitas diagnostik yang telah diteliti
untuk mendiagnosis secara optimal penyebab terjadinya perdarahan uterus
abnormal dan untuk mengidentifikasi apakah pada pasien tersebut memiliki
resiko untuk terjadinya hiperplasia atau karsinoma.
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa
hyperplasia endometrium dengan cara USG, Dilatasi dan Kuretase, lakukan
pemeriksaan Hysteroscopy dan dilakukan juga pengambilan sampel untuk
pemeriksaan PA. Secara mikroskopis sering disebut Swiss cheese patterns.
Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
USG menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan gambaran
dari lapisan rahim. Hal ini membantu untuk menentukan ketebalan rahim.
USG transvaginal merupakan prosedur diagnosis yang non invasif dan relatif
murah untuk mendeteksi kelainan pada endometrium. Walaupun begitu, pada
wanita postmenopause, efikasi alat ini sebagai pendeteksi hiperplasia

endometrium ataupun karsinoma tidak diketahui. Pada percobaan PEPI


(Postmenopausal Estrogen/Progestin Intervensions), dengan batas ketebalan
endometrium 5 mm didaptkan positive predictive value (PPV), negative
predictive value (NPV),sensitifitas, dan spesifisitas untuk hiperplasia
endometrium atau karsinoma adalah 9%, 99%, 90%, 48%.
USG dapat digunakan sebagai panduan untuk menentukan jika wanita
mengalami perdarahan post menopause (PMB) membutuhkan tes diagnostik
yang lebih spesifik lagi (seperti pipelle EMB atau kuret) untuk menentukan
adanya hiperplasia atau karsinoma endometrium. Pada 339 wanita dengan
PMB, tidak ada wanita dengan ketebalan endometrium 4 mm yang
berkembang menjadi karsinoma endometrium selama 10 tahun. Pada wanita
pasca menopause ketebalan endometrium pada pemeriksaan ultrasonografi
transvaginal kira kira < 4 mm. Untuk dapat melihat keadaan dinding cavum
uteri secara lebih baik maka dapat dilakukan pemeriksaan hysterosonografi
dengan memasukkan cairan kedalam uterus.
Pipelle endometrial biopsy
Pengambilan sampel endometrium dengan pipelle merupakan cara yang
ektif dan relatif tidak mahal untuk mengambil jaringan untuk diagnosis
histologi pada wanita dengan perdarahan uterus abnormal. Pada penelitian
prospektif, acak untuk membandingkan antara pipelle (n = 149) dan kuret(n =
126) pada wanita dengan perdarahan uterus abnormal, sampel jaringan yang
kurang hanya 12,8% dan 9,5%. Perbedaan ini tidak 30 signifikan (P<0,05).
Pada kedua kelompok pasien, memiliki kesamaan diagnosis dengan diagnosis
histerektomi sebesar 96%. Studi sebelumnya menjelaskan wanita dengan
banyak penyebab perdarahan uterus abnormal, bagaimanapun sangat penting
untuk dilakukan pemeriksaan pipelle EMB untuk membuat diagnosis yang
benar. Pada penelitian meta analisis pada 7914 pasien, pipelle memiliki
sensitifitas 99% untuk mendeteksi kanker endometrium pada wanita post

menopause, tetapi pada wanita dengan hiperplasia endometrium, sensitivitas


menurun hingga 75%.9,10
Histeroskopi dan/atau Dilatasi dan Kuretase
Histeroskopi secara umum telah disepakati sebagai gold standard
untuk mengevaluasi kavitas uterus. Polip endometrium dan mioma submukosa
dapat

dideteksi

dengan

histeroskopi

dengan

sensitivitas

92%

dan

82%.Walaupun begitu, histeroskopi sendiri untuk mendeteksi hiperplasia dan


atau karsinoma endometrium meghasilkan angka false-positive yang tinggi dan
membutuhkan penggunaan dilatasi dan kuret untuk diagnosis. Pemeriksaan ini
memiliki sensitivitas 98%, spesifisitas 95%, PPV 96%dan NPV 98% bila
dibandingkan

dengan

diagnosis

hasil

pemeriksaan jaringaan

setelah

histerektomi.9,10
Sonohisterografi
Sonohisterografi

merupakan

pendekatan

yang

relatif

baru

untuk mendiagnosis penyebab dari perdarahan uterus abnormal. Keuntungan


dari sonohisterografi yang melebihi dari USG transvaginal adalah
kemampuannya yang lebih baik untuk mengevaluasi kelainan intrauterin
seperti polip dan mioma submukosa. Walaupun begitu, sonohisterografi
sendiri memiliki nilai terbatas untuk mendiagnosis hiperplasia dan karsinoma
endometrium.
EMB dengan pipelle merupakan pembuktian yang efektif untuk
mendiagnosis hiperplasia dan karsinoma namun memiliki sensitifitas yang
rendah untuk mendiagnosa lesi yang jinak didalam uterus. Beberapa penelitian
telah mengkombinasikan transvaginal,sonohisterografi dan EMB dengan
pipelle untuk mengidentifikasi penyebab dari perdarahan uterus abnormal dan
secara spesifik perdarahan post menopause. Bila dibandingkan dengan DChisteroskopi sebagai standar utama, transvaginal, sonohisterografi, dan EMB
dengan pipelle memiliki sensitivitas lebih dari 94%.Wanita dengan perdarahan

post menopause harus menjalani pemeriksaan fisik yang menyeluruh untuk


menentukan sumber perdarahan. Jika pemeriksaan fisik tidak dapat
menjelaskan penyebab perdarahan, USG transvaginal dapat digunakan sebagai
panduan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Wanita post menopause dengan
penebalan dinding uterus (>5mm) atau wanita dengan perdarahan persisten
yang tidak bisa dijelaskan membutuhkan biopsi endometrium. Diagnosis
hiperplasia

atau

karsinoma

endometrium

pada

pemeriksaan

biopsi

enometrium harus dievaluasi dengan DC untuk memperoleh spesimen yang


lebih luas
Pada sebagian besar kasus , terapi hiperplasia endometrium
atipik dilakukan dengan memberikan hormon progesteron. Dengan pemberian
progesteron, endometrium dapat luruh dan mencegah pertumbuhan kembali.
Kadang kadang disertai dengan perdarahan per vaginam. Besarnya dosis dan
lamanya pemberian progesteron ditentukan secara individual. Setelah terapi
,dilakukan biopsi ulang untuk melihat efek terapi. Umumnya jenis progesteron
yang diberikan adalah Medroxyprogetseron acetate (MPA) 10 mg per hari
selama 10 hari setiap bulannya dan diberikana selama 3 bulan berturut
turut.Pada pasien hiperplasia komplek harus dilakukan evaluasi dengan D &
Cfraksional dan terapi diberikan dengan progestin setiap hari selama 6 bulan.
Pada pasien hiperplasia komplek dan atipik sebaiknya dilakukan
histerektomi kecuali bila pasien masih menghendaki anak. Pada pasien dengan
tumor penghasil estrogen harus dilakukan ekstirpasi
1.8 Diagnosis Banding
karsinoma endometrium
abortus inkomplit
leiomyoma
polip endometrium
1.9 Penatalaksanaan

Terapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia, antara lain sebagai berikut:
1 Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai
2

terapi untuk menghentikan perdarahan


Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar
hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek
samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan
sebagainya. Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan,
gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi. Terapi progestin
sangat efektif dalam mengobati hiperplasia endometrial tanpa atipik, akan
tetapi kurang efektif untuk hiperplasia dengan atipi. Terapi cyclical
progestin (medroxyprogesterone asetat 10-20 mg/hari untuk 14 hari setiap
bulan) atau terapi continuous progestin (megestrol asetat 20-40 mg/hari)
merupakan terapi yang efektif untuk pasien dengan hiperplasia
endometrial tanpa atipik. Terapi continuous progestin dengan megestrol
asetat (40 mg/hari) kemungkinan merupakan terapi yang paling dapat
diandalkan untuk pasien dengan hiperplasia atipikal atau kompleks Terapi
dilanjutkan selama 2-3 bulan dan dilakukan biopsi endometrial 3-4

minggu setelah terapi selesai untuk mengevaluasi respon pengobatan


Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan,
biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain. Tanda kesembuhan
penyakit hiperplasia endometrium yaitu siklus haid kembali normal. Jika
sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa mempersiapkan diri untuk
kembali menjalani kehamilan. Namun alangkah baiknya jika terlebih
dahulu memeriksakan diri pada dokter. Terutama pemeriksaan bagaimana
fungsi endometrium, apakah salurannya baik, apakah memiliki sel telur

dan sebagainya.
Histerektomi Metode ini merupakan solusi permanen untuk terapi
perdarahan uterus abnormal. Khusus bagi penderita hiperplasia kategori
atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya adalah
menjalani operasi pengangkatan Rahim dan ini terkait dengan angka
kepuasan pasien dengan terapi ini. untuk wanita yang cukup memiliki

anak dan sudah mencoba terapi konservatif dengan hasil yang tidak
memuaskan, histerektomi merupakan pilihan yang terbaik. Penyakit
hiperplasia endometrium cukup merupakan momok bagi kaum perempuan
dan kasus seperti ini cukup dibilang kasus yang sering terjadi, maka dari
itu akan lebih baik jika bisa dilakukan pencegahan yang efektif.

1.9 Pencegahan
Langkah-langkah yang dapat disarankan untuk pencegahan seperti :
1. Melakukan pemeriksaan USG dan atau pemeriksaan secara rutin untuk
deteksi dini ada kista yang bisa menyebabkan terjadinya penebalan
dinding rahim.
2. Penggunaan esterogen pada masa pasca menopause harus disertai dengan
pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium.
1.10 Prognosis
Umumnya lesi pada hyperplasia atipikal akan mengalami regresi
dengan terapi progestin, akan tetapi memiliki tingkat kekambuhan yang lebih
tinggi ketika terapi dihentikan dibandingkan dengan lesi pada hyperplasia
tanpa atipi. Penelitian terbaru menemukan bahwa pada saat histerektomi
62,5% pasien dengan hyperplasia endometrium atipikal yang tidak diterapi
ternyata juga mengalami karsinoma endometrial pada saat bersamaan.
Sedangkan pasien dengan hyperplasia endometrial tanpa atipi yang di
histerektomi hanya 5% diantaranya yang juga memiliki karsinoma
endometrial. (Wildemeersch & Dhont)

Anda mungkin juga menyukai