Anda di halaman 1dari 11

1.

Uraikan dengan jelas, apa yang sudah dan akan saudara lakukan untuk
mempersiapkan diri agar menjadi dokter yang berkarakter dan profesional?
Sebagai calon dokter masa depan, saya berharap bisa menjadi 7 Stars Doctor. 7 stars
doctor merupakan impian semua mahasiswa kedokteran. Hal ini berkaitan dengan 7 sikap dan
perilaku yang mewujudkan seorang dokter yang madani. Masyarakat menjadi makin maju
dan pintar, sehingga keinginan dan harapannya pun menjadi makin tinggi. Hal ini membuat
dokter harus lebih memperbanyak kemampuan yang ia miliki agar dapat melayani keinginan
pasien dalam pengobatan demi kesembuhannya.
1. Kemampuan Perawatan pasien
2. Dokter pengambil keputusan
3. Dokter komunikator
4. Dokter pemimpin masyarakat
5. Dokter manajer
6. Dokter berjiwa peneliti
7.Beriman dan taqwa
Yang telah saya lakukan adalah berusaha belajar dengan baik selama masa perkuliahan
dan pada masa praktik saat menjadi co-asisten di rumah sakit saat selesai di masa
perkuliahan. Melakukan persiapan yang matang, semoga saya bisa menjadi dokter yang lebih
baik dari dokter yang ada sekarang. Bukan bermaksud mengatakan bahwa dokter saat
sekarang kurang, namun bukankah kita selalu berharap agar generasi masa depan menjadi
lebih baik? Semoga saya bisa menjadi dokter 7 stars.

2. Apa saja hak dan kewajiban, yang sudah saudara dapatkan sebagai mahasiswa?
Apa saja hak dan kewajiban yang belum saudara dapatkan? Analisislah berdasarkan
materi hak dan kewajiban warga Negara?
Menurut pasal 109 hak dan kewajiban mahasiswa adalah:
a. Hak
1. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan
mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam lingkungan akademik;
2. Memperoleh pengajaran sebaik-baiknya dan layanan bidang akademika sesuai dengan
minat, bakat, kegemaran dan kemampuan
3. Memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi dalam rangka kelancaran proses belajar
4. Mendapat bimbingan dari dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang
diikutinya dalam penyelesaian studinya;
5. Memperoleh layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
6. Memanfaatkan sumber daya perguruan tinggi melalui perwakilan/organisasi
kemahasiswaan untuk mengurus dan mengatur kesejahteraan, minat dan tata kehidupan
bermasyarakat;
7. Pindah keperguruan tinggi lain atau program studi lain, bilamana memenuhi persyaratan
penerimaan mahasiswa pada perguruan tinggi atau program studi yang berhak dimasuki, dan
bilamana daya tamping perguruan tinggi atau program studi yang bersangkutan
memungkinkan.
8. Ikut serta dalam kegiatan organisasi mahasiswa pada perguruan tinggi yang
bersangkutan;
9.

Memperoleh pelayanan khusus bilamana menyandang cacat.

10. Menjadi anggota perpustakaan setelah memenuhi ketentuan khusus tentang


keanggotaan perpustakaan

Menurut pasal 110, kewajiban mahasiswa adalah


b. Kewajiban
1. Mematuhi semua peraturan/ketentuan yang berlaku pada perguruan tinggi yang
bersangkutan;
2. Ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan
perguruan tinggi yang bersangkutan;
3. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan kecuali bagi mahasiswa yang
dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku;
4. Menghargai ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian;
5. Menjaga kewibawaan dan nama baik perguruan tinggi yang bersangkutan;
6. Menjunjung tinggi kebudayaan nasional.
7. Tidak mencemarkan nama pimpinan , dosen, karyawan, dan seluruh akademika
8. Menyiapkan diri untuk secara terus menerus mengikuti kegiatan
9. Bertingkah laku, berdisiplin dan bertanggung jawab sehingga suasana belajar mengajar
tidak terganggu
10.Memelihara

penampilan

sesuai

dengan

statusnya

sebagai

mahaiswa

yang

berkepribadian

3. Carilah satu opini tentang kesehatan, yang berkaitan dengn materi Negara hukum
dan HAM, berikan pendapatmu tentang opini tersebut (lampirkan opininya)!
Jaminan Kesehatan Nasional: Solusi Atau Masalah Baru ?
OPINI | 12 November 2013 | 06:28 Dibaca: 2662

Komentar: 2

Assalamualaikum.. Salam sehat Indonesia. Selamat menyambut Hari Kesehatan


Nasional [HKN] ke-49, 12 November 2013. Pada tulisan ini saya akan membahas
tentang Jaminan Kesehatan Nasional [JKN] yang akan diberlakukan secara bertahap
per 1 Januari 2014, solusi atau masalah baru?. Ada beberapa aturan konstitusi yang

sangat penting kita ketahui terlebih dahulu. JKN adalah jaminan perlindungan
kesehatan yang layak sebagai salah satu hak atas kebutuhan hidup dasar setiap orang
di Indonesia. JKN adalah amanah konstitusi yang memberikan hak kepada setiap
orang untuk memperoleh pelayanan kesehatan [yankes] (Pasal 28H UUD 1945).
JKN harus berdasarkan asas kemanusiaan, manfaat, dan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia (UU SJSN dan UU BPJS). JKN sebagai salah satu wujud
SJSN merupakan kewajiban negara untuk menyelenggarakannya (Pasal 34 ayat 2 UUD
1945). Di samping menyelenggarakan JKN, negara juga bertanggung jawab atas
penyediaan fasilitas yankes yang layak (Pasal 34 ayat 3 UUD 1945). Jadi
penyelenggaraan JKN dan penyediaan yankes beserta fasilitasnya adalah dua tanggung
jawab pemerintah yang kedudukan hukumnya SAMA.
Pemerintah menerapkan JKN yang sama di seluruh Indonesia, tapi fasilitas yankes
tidak merata dan tidak adil adalah pelanggaran konstitusi. Jaminan kesehatan
dilaksanakan secara sentralistik tapi fasilitas yankes dibangun secara desentralistik
sesuai kebijakan otonomi daerah. Pemerintah pusat memperbaiki sistem jaminan
kesehatan, tapi fasilitas yankes diatur oleh pemerintah daerah. Adanya kebijakan
perbantuan juga masih belum adil. Padahal hak setiap orang memperoleh yankes
sesuai Pasal 28H UUD 1945, harus memperoleh akses yang sama atas sumber daya
kesehatan [SDK]. Padahal hak setiap orang memperoleh yankes sesuai Pasal 28H UUD
1945, harus adil, aman, bermutu, dan terjangkau (Pasal 5 UU No.36/2009).
Hak setiap orang memperoleh yankes memberikan hak untuk menentukan sendiri
yankes yang diperlukan bagi dirinya (Pasal 5 ayat 3 UU No.36/2009). Di samping hak,
setiap orang mempunyai kewajiban turut serta dalam jaminan kesehatan sosial yang
diatur UU (Pasal 13 UU No. 36/2009). Kewajiban negara untuk menyelenggarakan JKN
sebagaimana pasal 34 ayat 2 UUD 1945, merupakan tanggung jawab pemerintah
melalui SJSN. Pemerintah juga bertanggung jawab atas segala upaya kesehatan,
ketersediaan SDK, dan fasyankes yang layak untuk mendukung SJSN tersebut. Segala
upaya kesehatan, ketersediaan SDK, dan fasyankes, harus aman, bermutu, terjangkau,
juga adil dan efisien (UU No.36/2009).
Sesuai amanah UU No.40/2004 dan UU No.24/2011, JKN diselenggarakan oleh Badan
Penyelenggaran Jaminan Sosial [BPJS] Kesehatan. BPJS Kesehatan merupakan unsur

BPJS berbadan hukum yang fungsi, tugas, wewenang, hak, dan kewajibannya diatur di
dalam UU No. 24/2011. JKN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, bertugas
untuk mengumpulkan, menerima, dan mengelola dana dan data peserta BPJS. Peserta
BPJS adalah setiap orang (termasuk WNA) yang wajib membayar iuran. Bagi orang
miskin/tidak mampu, iuran dibayar pemerintah.
Menurut Pemerintah, JKN diharapkan sebagai jawaban untuk menyelesaikan
masalah jaminan kesehatan yang selama ini masih terfragmentasi. JKN yang akan
diimplementasikan per 1 Januari 2014 juga diharapkan mampu mengendalikan biaya
kesehatan dan mutu yankes. Benarkah?. Sejarah implementasi JKN di Indonesia cukup
panjang. Untuk masyarakat tidak mampu, berbagai program JKN telah gonta-ganti
dilaksanakan. Kita dulu mengenal JPK, PKPS-BBM Bidang Kesehatan, Askeskin,
Jamkesmas, dan dampak otonomi daerah, pemda-pemda berlakukan Jamkesda.
Kendala implementasinya masih sama, biaya kesehatan boros, rakyat miskin belum
tercakup seluruhnya, yankes belum adil dan merata.
Semua pakar berbicara tentang bentuk ideal sistem jaminan kesehatan di Indonesia,
namun selalu dijumpai kelebihan dan kelemahannya. Kebanyakan pakar kesehatan di
Indonesia cenderung untuk mendorong liberalisasi pelayanan kesehatan. Ini
bertentangan dengan UUD 1945. JKN yang akan diberlakukan dipastikan tetap akan
mengalami kendala, karena yankes belum adil, merata, dan terjangkau di seluruh
Indonesia. Pemerintah seakan menutup mata dengan data kondisi yankes di Indonesia
yang masih jauh dari keadilan, kemerataan, dan keterjangkauan. Pemerintah sudah
tahu, ada masalah rasio tenaga kesehatan dan penduduk, fasyankes belum terstandar,
dan sistem rujukan yankes semrawut.
Masalah tersebut tidak bisa diselesaikan oleh BPJS Kesehatan, karena itu tugas,
kewajiban, dan wewenang Kementerian Kesehatan dan Pemerintah daerah. Rasio
tenaga kesehatan dan penduduk sesuai target tidak akan mungkin tercapai per 1
Januari 2014 disebabkan kurangnya kemauan pemerintah. Pemerintah berkewajiban
untuk melakukan regulasi dan pemetaan tenaga kesehatan sesuai kompetensi dan
ketersediaan fasilitas yankes. Tenaga kesehatan terampil (seperti dokter spesialis) tak
bisa bekerja optimal sesuai standar jika ketersediaan fasilitas yankes tak mendukung.
Tenaga kesehatan bisa adil, merata, dan terjangkau jika pemerintah mampu dan mau
memberikan jaminan kesejahteraan berkeadilan

Berdasarkan UU No.36/2009, tenaga kesehatan berhak atas perlindungan hukum.


Namun Peraturan Pemerintah tentang itu masih tak jelas. Perlindungan hukum yang
bagaimana bisa didapatkan tenaga kesehatan atas yankes yang diberikan jika ada
tuntutan/aduan masyarakat?. Jika dokter melakukan tindak pidana atau terbukti
melakukan malapraktik, saya setuju untuk diberi hukuman sesuai vonis pengadilan.
Tapi bagaimana jika dokter tidak terbukti bersalah, tapi media telah menghukumnya
habis-habisan, dimana keadilan?
Untuk masalah jasa tenaga kesehatan, pemerintah tidak mau mendengarkan
masukan dari organisasi profesi, alasan APBN belum sanggup. Hitung-hitungan
pemerintah telah menempatkan upah tenaga kesehatan akan jauh di bawah upah
minimum buruh. Sangat tidak manusiawi. Dokter yang baru tamat,dipekerjakan
sebagai dokter magang (internship), digaji 1,2 juta. Walaupun sudah naik tapi masih
tetap belum manusiawi. Dalam perdebatan tentang BPJS ini, tenaga medis (terutama
dokter) terjebak oleh masalah hitung-hitungan kapitasi pemerintah tersebut. Sebagian
kalangan menganggap dokter terlalu memikirkan kesejahteraannya di atas nasib
masyarakat kecil lainnya. Padahal itu hal yang wajar.
Saya tak ingin terjebak membahas itu, karena masalah kapitasi hanyalah persoalan
kecil dari implementasi JKN yang akan diterapkan. Masalah besarnya adalah JKN
memberikan peluang sangat besar bagi liberalisasi pelayanan kesehatan yang
bertentangan dengan UUD 1945. Fasyankes dasar (puskesmas, klinik, dokter keluarga)
juga belum terstandar. Jumlah/rasio dan kompetensi masih sangat bervariasi.
Fasyankes dasar bekerja atas dasar kapitasi. Hal yang lumrah jika mengharapkan
tidak banyak orang sakit. Kalau ada yang sakit, lebih berpikir dirujuk. Hal itu terjadi
karena pemerintah belum membuat standar mutu fasyankes dasar sebagai bagian dari
standar pelayanan kesehatan [SPK]. Akibatnya, yankes yang diberikan juga tidak
terstandar. BPJS akan banyak terima aduan atas fasyankes dasar yang tidak
memuaskan.
Fasyankes rujukan (RSUD tipe C, B, dan A) akan banyak menerima pasien dari
fasyankes dasar karena sistem rujukan yang semrawut. Contoh kesemrawutan bisa kita
lihat dari miniatur JKN di Jakarta. Pemberlakuan Kartu Jakarta Sehat [KJS]
membuat yankes kacau. Masyarakat harus mengantri mulai jam 5 pagi untuk
mendapatkan yankes di rumah sakit. Pasien harus diopname di lorong-lorong rumah

sakit. Kata pemprov DKI, ini disebabkan jumlah tempat tidur rawat inap sangat
kurang. Ini contoh pemerintah tak mau evaluasi komprehensif. Media pun
dininabobokkan dengan persoalan ini. Jokowi dan Ahok disanjung-sangjung karena
membuat program KJS demi pencitraan.
Sampai saat ini, belum ada Panduan Nasional Pelayanan Kesehatan [PNPK] yang
diharapkan mampu selesaikan masalah yankes di Indonesia. PNPK (jika ada) menjadi
dasar membuat sistem rujukan yang baik/terencana bagi tenaga kesehatan sesuai
kompetensinya di seluruh fasyankes. PNPK (jika ada) menjadi dasar membuat
panduan praktis klinis[PPK], standar pelayanan medis[SPM], dan standar operasional
prosedur[SOP]. Atas kompleksitas masalah yankes tersebut, pemerintah sedang
bermimpi yankes akan lebih baik dan bermutu dengan pemberlakuan JKN.
Pemerintah tak sadar, pemberlakuan JKN per 1 Januari 2014 menjadi bom bagi
penyelesaian masalah yankes di Indonesia, kita tunggu ledakannya.
BPJS akan banyak terima aduan ketidakpuasan masyarakat, jika mediasi gagal
maka tenaga kesehatan dan fasyankes akan dipidanakan. BPJS juga tidak mau
dirugikan. Atas kesepihakannya, BPJS dapat memutuskan kontrak kerja dengan
tenaga kesehatan dan fasyankes. BPJS akan lebih mengutamakan kepentingan peserta
karena itu tugasnya. Sementara pemerintah tidak optimal dalam kewajibannya yang
lain. JKN dengan fasyankes/SDK tidak terstandar, akan memberikan pelayanan
kesehatan yang buruk, tidak manusiawi, dan diskriminatif.
Implementasi JKN dengan situasi kondisi yankes di Indonesia saat ini justru
membuka peluang besar liberalisasi pelayanan kesehatan. Sekali lagi saya tegaskan,
liberalisasi pelayanan kesehatan ini bertentangan dengan semangat/komitmen JKN
yang termaktub di dalam UUD 1945. Kebanyakan fasyankes swasta kurang berminat
untuk melayani peserta BPJS jika dibayar rendah sedangkan tuntutan tinggi. Dokter
lebih berkeinginan untuk membuka praktek mandiri atau bekerja di fasyankes swasta
yang lebih bermutu, aman, dan nyaman. Masyarakat ekonomi menengah atas akan
mencari fasyankes yang lebih memuaskan. Mereka tetap menggunakan asuransi
kesehatan swasta. Masyarakat ekonomi menengah bawah akan terpaksa memperoleh
yankes di bawah standar dan tidak manusiawi, karena tidak ada pilihan lain.

Lalu bagaimana solusinya? Sementara JKN adalah amanah UUD 1945. UU SJSN
dan BPJS pun memaksa agar JKN diterapkan per 1 Januari 2014. Pertama,
pemerintah harus segera merealisasikan anggaran minimal 10% dari APBN 2014 untuk
pembangunan kesehatan di Indonesia. Pembangunan kesehatan diprioritaskan untuk
peningkatan mutu fasyankes, SDK, dan pemerataan tenaga kesehatan ke seluruh
pelosok negeri. Anggaran minimal 10% untuk kesehatan belum ada apa-apanya jika
dibandingkan dengan negara tetangga yang mampu berikan di atas 15%.
Peningkatan mutu fasyankes dan tenaga kesehatan harus berjalan sinergis dengan
program JKN agar yankes adil, merata, efisien, terjangkau, berkeadilan. Tidak
mungkin menjalankan JKN dengan sukses jika fasyankes tidak standar dan tenaga
kesehatan belum merata. Dampaknya yankes tidak adil dan tidak merata. Untuk
melaksanakan JKN, fasyankes dasar seperti klinik, dokter keluarga, praktek dokter
bersama, dan puskesmas harus terstandar, merata, dan terjangkau. Untuk
melaksanakan JKN, rumah sakit harus terakreditasi sesuai tingkat rujukan. Jangan
akreditasi abal-abal yang penuh dengan praktek mafia.
Kedua, pemerintah bisa melibatkan organisasi profesi seperti IDI, PDGI, PERSI,
ASKLIN, dan organisasi sosial masyarakat jika JKN ingin sukses. Organisasi profesi
mempunyai sumber daya dan perangkat organisasi yang memadai untuk menyusun
PNPK, asal ada dukungan pemerintah. Keterlibatan organisasi profesi juga bisa
memberikan pemahaman tentang besarnya kapitasi dan jasa medis yang layak bagi
tenaga kesehatan. Organisasi profesi harus berjuang untuk kepentingan hak-hak
rakyat untuk kesehatan. Jangan berjuang parsial yang hanya pikirkan kelompok.
Pemerintah dan organisasi profesi harus bekerjasama secara terbuka untuk kesehatan
rakyat. Bagi rakyat, JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA.
Ketiga, pemerintah harus membuat rencana strategis yang terarah dan terukur
dalam pencapaian Universal Health Coverage pada tahun 2019. Untuk menyusun
rencana strategis ini, pemerintah harus melibatkan pakar-pakar yang memiliki
komitmen kebangsaan, bukan mafia kesehatan atau antek-antek asing. Pelayanan
kesehatan adalah bagian dari ketahanan bangsa. Jangan kita biarkan liberalisasi
pelayanan kesehatan menyusup dalam sistem kesehatan nasional RI.

Bangsa ini sudah merdeka secara fisik. Tapi dijajah secara nonfisik di berbagai
bidang, termasuk kesehatan. Bangsa ini bisa merdeka secara nonfisik, jika pakarpakarnya beserta pemimpin negara memiliki semangat dan komitmen pejuang rakyat.
Bangsa ini bisa merdeka secara kesehatan, jika pakar-pakar kesehatan beserta
pengambil kebijakan adalah pejuang kesehatan rakyat. Jangan berbicara nasib rakyat
di depan rakyat kecil saja. Tapi mampu memperjuangkan nasib rakyat kecil jika
berhadapan dengan siapa saja. Sungguh tega jika ada yang menyalahkan rakyat sakit
dihadapan pengusaha-pengusaha yang bangun rumah sakit berbasis bisnis. Sungguh
tega hanya menyalahkan situasi masyarakat dan negara yang menjadi penyebab
masalah kesehatan dihadapan pemimpin negara lain.
Ayolah para pengambil kebijakan kesehatan. Ubahlah sikap dan perilakumu. Jujur,
semangat dan berkomitmenlah pada tujuan negara ini. Ayolah pemimpin bangsaku.
Berdirilah sama tinggi dalam setiap hubungan antar pemimpin negara. Jangan jadi
pemimpin yang inferior. Belum ada kata terlambat. Jika Indonesia benar-benar cinta
kesehatan, bukan hanya terapkan JKN, tapi perbaiki mutu fasyankes/SDK. Jika
Indonesia benar-benar cinta kesehatan, buatlah kebijakan kesehatan yang merdeka,
pro rakyat, dan perjuangkan nasib bangsa. Indonesia bisa MERDEKA dalam bidang
kesehatan, jika pengambil kebijakannya adalah PEJUANG KESEHATAN RAKYAT,
bukan mafia atau antek-antek asing. Sekian dulu yang bisa saya sampaikan. Semoga
bermanfaat bagi kita semua. Sehat Rakyatku, Jaya Indonesiaku..!!! Wassalam
My Twitter: @DrRizkyAdrians
Secara umum, permasalahan yang akan muncul di lapangan adalah terkait sasaran
atau kategori penerima yang nanti bisa terjadi kerancuan. Sumber data base dari manakah
yang akan digunakan oleh masing-masing pihak untuk menentukan siapa yang layak dan
siapa yang tidak. Apakah dari BPS, lembaga survey independen yang ditunjuk pemerintah
atau mengambil data langsung ke pemerintah desa/kelurahan di daerah?
Secara finansial, bagi-bagi kartu sakti ini bukan masalah yang besar bagi pemerintahan
Jokowi-JK, sebab dengan menaikkan harga BBM, permasalahan keuangan sudah bisa
teratasi. Justru yang mugkin timbul dari acara bagi-bagi kartu ini adalaah permasalahan sosial
yang cukup pelik, sebab pembagian kartu ini bisa menimbulkan polemik di tingkat bawah,
mulai dari kecemburuan sosial antar warga hingga chaos di tingkat warga dengan

menyalahkan para ketua RT/RW, kepala desa / kepala kelurahan dan perangkatnya seperti
yang pernah terjadi saat SBY membagi-bagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Semoga pemerintah pusat nantinya lebih memikirkan mekanisme terbaik yang paling
aman dan minim permasalahan sekaligus memperhatikan nasib parangkat di tingkat paling
bawah, seperti kepala desa / kepala kelurahan, perangkat desa dan para ketua RT/RW yang
langsung bersinggungan dengan warganya, utamanya yang berkaitan dengan jaminan
keamanan saat terjadi permsalahan yang diakibatkan dari adanya bagi-bagi kartu sakti.

4. Geopolitik Indonesia dan Geostrategi Indonesia adalah 2 konsep yang esensinya


berbeda. Berilah satu kasus yang bisa di analisi dengan 2 konsep tersebut.

Warga Timor Leste Diduga Serobot Wilayah Indonesia


TEMPO.CO, Kupang - Warga Distrik Oeccuse, Timor Leste, yang berbatasan
dengan Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga menyerobot wilayah
Indonesia

untuk

melakukan

aktivitas

pertanian.

"Mereka (warga Oeccuse) sudah serobot lahan Indonesia hingga kurang lebih 200
meter," kata Camat Bikomi Nailulat Ludovikus Lake yang menghubungi Tempo, Rabu,
22 Oktober 2014.

Menurut Ludovikus, penyerobotan lahan itu dilakukan warga Oeccuse untuk bertani di
Desa Sunkaen, Kecamatan Bikomi Nailulat. Penyerobotan ini berpotensi memicu
bentrok antarwarga, seperti yang terjadi di Desa Haumeni Ana beberapa waktu lalu.
Bahkan, Ludovokus memperkirakan masalah tersebut bakal lebih besar ketimbang di
Haumeni Ana.

Pada Juli 2012, warga Desa Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Nailulat, Kabupaten
Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, bentrok dengan warga Pasabe,
Distrik Oeccuse, Timor Leste. Konflik tersebut terjadi lantaran penggusuran tanah.
(Baca

juga: Warga

Perbatasan

dan

Timor

Leste

Terlibat

Bentrok)

Ludovikus telah melaporkan penyerobotan lahan ini ke pemerintah Indonesia dan


membuat dokumentasi aktivitas pertanian warga Timor Leste yang telah melewati
batas negara itu. Dia khawatir warga NTT marah dengan aksi warga Timor Leste
tersebut.
Konsulat Timor Leste untuk Nusa Tenggara Timur, Felixiano da Costa, yang
dikonfirmasi terkait penyerobotan itu mengaku belum menerima laporannya. "Saya
belum laporannya sehingga saya belum bisa berkomentar," katanya.
Analisis
Permasalahan ini merupakan permasalahn perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste ini
merupakan kesalahpahaman dari adsnya pembangunan jalan yang dibuat pihak Timor Leste.
Berdasarkan nota kesepahaman antara kedua negara pada 2005, masih terdapat 4%
perbatasan darat yang masih belum disepakati. Indonesia sudah melakukan berbagai tindakan
untuk menyelesaikan permasalahan ini, baik tindakan yang bersifat jangka pendek
(penyelesaian konflik yang terjadi) maupun tindakan yang bersifat jangka panjang
(penyelesaian sumber konflik). Dengan itu dilakukan penyelesaian jangka panjang yaitu
Indonesia melakukan diplomasi dalam rangka menyelesaikan delimitasi terhadap segmensegmen yang masih belum disepakati. Upaya diplomasi ini tidak hanya berfokus pada
penyelesaian garis demarkasi terhadap tiga segmen batas yang belum disepakati, tetapi juga
pengenalan pengaturan di kawasan perbatasan yang memungkinkan warga Timor Leste dan
warga Indonesia yang berada di sisi perbatasan masing-masing untuk bisa melanjutkan
hubungan sosial dan kekeluargaannya yang selama ini telah terjalin di antara mereka. Dalam
upaya diplomasi untuk menyelesaikan sisa segmen yang belum disepakati, hambatan yang
perlu diantisipasi adalah perbedaan pola pendekatan penyelesaian yang digunakan oleh
masing-masing pihak. Semoga dengan ini tidak terjadi lagi kesalahpahaman.